Asal Usul Sejarah Valentine's Day

Asal Muasal Valentine’s Day

(wahdahjakarta.com) – Valentine’s Day konon berasal dari kisah hidup seorang Santo (orang suci dalam Katolik) yang rela menyerahkan nyawanya demi cinta orang lain. Dia adalah Santo Valentinus. Namun sejarah Gereja sendiri tidak menemukan kata sepakat tentang siapa sesungguhnya sosok Santo Valentinus sendiri.

Bahkan banyak yang kemudian mengakui bahwa kisah mengenai Santo Valentinus sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat dan diyakini sekedar mitos belaka. Sebab itu, Gereja telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.

Ada banyak cerita tentang Santo Valentinus. Sekurangnya ada 2 nama Valentine yang diyakini meninggal pada 14 Februari.

Versi Pertama, menceritakan bahwa Santo Valentinus merupakan seorang Katolik yang berani mengatakan di hadapan Kaisar Cladius II penguasa Roma bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan menolak menyembah dewa dewi orang Romawi. Kaisar sangat marah dan memerintahkan agar Valentinus dimasukkan ke dalam penjara. Orang-orang yang bersimpati pada Valentinus diam-diam menulis surat dukungan dan meletakkannya di depan jeruji penjara. Tidak ada kisah tentang cinta dan kasih sayang.

Versi kedua, Kaisar Cladius II berkeyakinan bahwa, agar Kerajaan Romawi terus jaya membutuhkan tentara yang kuat. Super tentara ini menurut Kaisar hanya bisa dipenuhi oleh pemuda yang suci, yang tidak pernah menyentuh wanita. Maka Kaisar pun mengeluarkan surat larangan kepada semua pemuda di Roma untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita. Bagi yang melanggar nyawa taruhannya.

Diam-diam 2 tokoh Gereja yaitu Santo Valentinus dan Santo Marius menentang keputusan Kaisar. Secara diam-diam kedua tokoh Gereja ini tetap menikahkan pasangan muda yang ingin menikah dan menjadi konselor bagi kaum muda yang mengalami kendala dalam berhubungan dengan pasangannya.

Suatu waktu Kaisar Cladius II mendengar berita tersebut dan langsung memerintahkan penangkapan atas keduanya. Mereka langsung dimasukkan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Dalam versi ini, di dalam penjara Santo Valentinus jatuh hati pada anak seorang sipir, dan gadis ini juga jatuh pada Valentinus. Sang gadis sering mengunjungi Valentinus hingga kekasihnya itu dihukum mati.

Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga pada 14 Februari 496 M, Paus Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus. Hari Valentine ini kemudian dimasukkan dalam kalender perayaan Gereja. Namun pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal-muasal yang jelas. Sebab itu Gereja melarang Valentine’s Day dirayakan oleh umatnya. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan V-Day masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.

Nah, bagi kamu yang muslim, masih mau memperingati Valentine’s Day?
Tri Afrianti

Sumber:
The Dark Valentine, Era Muslm Digest
Edisi Edisi 5: The Dark Valentines, Ritual Setan yang Kini Dipuja

 

Kata terkait: valentine day, sejarah valentine, asal usul valentine, valentine dalam Islam

Urgensi Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Islam [2]: Kriteria Ummat Terbaik

Ummat Terbaik

Urgensi dan Kedudukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Islam [2]: Kriteria Ummat Terbaik

Amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu syi’ar yang sangat agung dalam Islam sekaligus bagian dari pilar-pilar Islam yang kokoh. Ia juga merupakan salah satu instrumen Masyarakat Rabbani yang diberkahi oleh Allah Ta’ala, sebagaimana ditunjukan oleh beberapa dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi serta sejarah perjalanan hidup ummat Islam. Oleh karenia itu Amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam ajaran Islam.

Kriteria Ummat Terbaik
Kaum Muslimin adalah ummat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Mereka adalah ummat terbaik diantara ummat yang lain. Tetapi tidak semua kaum Muslimin menyadari, status dan predikat sebagai ummat terbaik hanya akan terwujud bila ummat ini benar-benar merealisasikan sifat ummat terbaik yang disebutkan oleh Allah di dalam al Qur’an. Dalam surah al Baqarah ayat 110 Allah Ta’ala menjelaskan;

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿١١٠

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS ali Imran:110).

Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang ingin dengan senang hati menjadi bagian dari umat ini maka hendaklah dia memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh Allah padanya”.

Imam Qurthubi berkata; “Ayat ini menunjukkan sebuah pujian bagi umat ini selama mereka menegakkan perintah yang disebutkan dalam ayat tersebut dan mereka bersifat seperti itu, namun jika mereka meninggalkan usaha untuk merubah kemunkaran bahkan bersekongkol dengan kekejian tersebut maka hilanglah pujian tersebut, dan mereka akan menoreh celaan dan hal itu sebagai sebab kehancuran mereka”.

Dalam ayat di atas Allah Ta’ala menyebutkan dua sifat mulia yang melekat pada Ummat terbaik, yakni Iman kepada Allah dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Bahkan yang lebih menarik, Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai sifat dan ciri Ummat terbaik didahulukan daripada iman kepada Allah. Hal ini tentu menunjukkan pentingnya Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam kehidupan ummat Islam. wallahu a’lam bis shawab. Bersambung insya Allah. [sym].

Baca Juga: Urgensi dan Kedudukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Islam [1]: Sifat dan Karakter Orang Beriman

Fungsi dan Peran Ulama dalam Kehidupan Ummat dan Bangsa

Oleh: Syamsuddin, M.Pd.I
Laulal ‘Ulama Lasharan Naas Kal Bahaaim; Andai bukan karena Ulama, manusia bagaikan binatang” (Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah (w.110 H)).

Pernyataan Ulama Tabi’in asal Bashrah tersebut menunjukan vitalnya keberadaan Ulama dalam kehidupan ummat manusia. Ulama ibarat suluh di tengah kegelapan. Mereka adalah pemandu jalan di tengah belantara kehidupan dunia ini. Mereka merupakan mursyid (pembimbing) bagi manusia dalam menjalankan kewajiban beribadah kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hajat ummat manusia terhadap ulama dan du’at merupakan kebutuhan vital, seperti kebutuhan suatu masyarakat terhadap petani, nelayan, dokter dan profesi-profesi penentu sarana kehidupan, bahkan lebih. Karena kebutuhan ummat manusia terhadap ilmu serta arahan para ulama dan du’at melebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan kesehatan. Makanan dan minuman hanya dibutuhkan 2-3 kali dalam sehari. Sedangkan ilmu dan bimbingan wahyu melalui ulama dan du’at dibutuhkan sepanjang tarikan nafas.

Fungsi dan Peran Ulama
Syekh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Haji Isa al-Jazairiy hafidzahullah menyebutkan dalam salah satu khutbahnya lima fungsi dan peran Ulama dalam kehidupan Ummat, yakni;

Pertama, Ulama Sebagai Mursyid (pemandu) ke Jalan Allah
Karena mereka merupakan rangkaian transmisi penyambung kepada sang pemilik syariat, Allah Ta’ala. Sebab melalui mereka syariat Allah sampai kepada kita. Mereka adalah pelanjut dan pewaris risalah kenabian sebagaimana dinyatakan dalam hadits, “Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi, dan Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham melainkan mewariskan ilmu. . . . “ (Terj. HR. Tirmidziy, Abu Daud, & Ibn Majah) Dengan ilmunya Ulama bagaikan pelita yang menerangi perjalanan dalam kegelapan.

Kedua, Ulama Sebagai Pilar Kehidupan Dunia
Karena kebutuhan ummat terhadap ulama bukan hanya dalam soal urusan Dien yang menyangkut ibadah mahdhah. Karena Islam tidak mengenal dikotomi antara agama dan dunia seperti dipahami oleh kalangan sekular. Tetapi Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Sehingga arahan dan bimbingan para ulama juga dibutuhkan dalam persoalan duniawi menyangkut muamalat sehari-hari.

Ummat butuh kepada ulama bukan hanya dalam urusan hubungan dengan Allah, tetapi dalam urusan dengan sesama manusia pun perlu panduan wahyu melalui penjelasan para ulama dan da’i. Bimbingan ulama juga dibutuhkan urusan jual beli, pernikahan, etika bergaul dan berinteraksi dengan karib kerabat, tetangga, orang tua, mendidik anak, dan urusan muamalat lainnya. Ketidak hadiran peran ulama dalam masyarakat tidak hanya berdampak urusan Agama mereka, tapi berdampak pula pada urusan keehidupan dunia mereka.

Ketiga, Ulama Sebagai Penjaga Kemurnian dan Kesucian Aqidah Islam
Para ulama juga merupakan benteng yang berfungsi melindungi kemurnian dan kesucian Agama Islam. Dalam hal ini peran konkrit yang dapat dimainkan para ulama dan da’i adalah menolak dan membantah berbagai syubhat yang dilemparkan kalangan yang hendak merusak Islam melalui penyebaran paham menyimpang. Peran ini memiliki kedudukan yang sama dengan jihad (perang) dengan senjata. Karena pada hakikatnya jihad memperjuangan Islam dapat ditempuh dengan dua hal, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. Yaitu bis saifi was Sinan (jihad dengan pedang) dan bi hujjati wal bayan (argumen dan penjelasan). Yang disebut pertama dijalankan oleh tentara (askariyyun), dan yang kedua dijalankan oleh para Ulama dan Du’at. Bahkan sebelum disyariatkannya jihad bersenjata, jihad dengan hujjah dan bayan disebut oleh Allah sebagai jihad yang besar (jihadan kabiran), sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam surah Al-Furqan ayat 52.

Keempat, Penjaga Masyarakat dari Berbagai Penyakit Sosial
Banyaknya ulama yang menyebarkan ilmu, nasehat, dan tadzkirah di tengah-tengah masyarakat dapat mengurangi penyebaran berbagai penyakit sosial dan kerusakan akhlaq di tengah-tengah masyarakat tersebut. Karena ilmu menghilangkan kejahilan, sementara kejahilan merupakan sumber berbagai penyimpangan. Dengan kehadiran mereka Dien benar-benar hadir sebagai pembimbing dan suluh bagi jiwa-jiwa yang buta terhadap bashirah dan hidayah Allah.

Jika ulama dan du’at memainkan peran strategis ini maka insya Allah berbagai penyakit ssosial yang mewabah di tengah masyarakat dapat diatasi. Berbagai kerusakan yang muncul akibat perilaku menyimpang semisal miras, narkoba, zina, sogok menyogok, dan sebagainya dapat dihilangkan atau diminimalisir. Sungguh benar dan tepat ungkapan Ulama Tabi’in Hasan al-Bashri rahimahullah (w.110 H), “Laulal ‘Ulamaa a’ Lashaaran Naas Kal Bahaa im; Andai bukan karena adanya para Ulama manusia akan Berperilaku seperti binatang”. (Mukhtasshar Minhajil Qashidin, Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Beirut, 2001, hlm.19)

Kelima, Ulama Sebagai Pemersatu Ummat
Persatuan ummat takkan terwujud melainkan dengan iltizam (komitmen) dan berpegang teguh pada al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surah Ali-Imran ayat 103;“Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah serta jangan bercerai berai” (Terj. QS. Ali Imran [3]:103). Menurut sebagian Mufassir, makna tali Allah (hablullah) dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan pihak yang paling otoritatif dalam menjelaskan kedua sumber Islam tersebut adalah para Ulama.

Dalam konteks ini pula, ulama dan lembaga keulamaan sangat dibutuhkan perannya dalam membina dan menuntun pengikut aliran sesat kembali ke jalan benar, memediasi islah (perdamaian) diantara pihak-pihak yang berkonflik dan berselisih di kalangan ummat. Jika reputasi dan otoritas ulama terpatri di hati setiap elemen ummat dan mereka nampak kompak, bersatu, dan saling sinergi satu sama lain maka dengan sendirinya ummat akan bersatu dibawah arahan mereka, sehingga perselisihan dan perpecahan dapat dihindari atau diminimalisir.[sym]