Ada Apa Dengan PELAKOR?

Ada Apa Dengan PELAKOR

Ada Apa Dengan PELAKOR

_Bismillaahirrahmaanirrahiim_
*Kajian Parenting Nabawi*
*”Ada Apa Dengan PELAKOR❓”*
(Mengupas hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga)
🔺🔺🔺🔺🔺

📝 Pemateri :
Al Ustadz Bendri Jaisyurrahman Hafidzahullah

Hari/ Tanggal :
jumat 30 Maret 2018
Pkl 08.30 s/d 11.30 WIB

🏫 Tempat : Saung Arafah Pondok Laras
Jl komjen yasin 2e kelapa dua ciamnggis Depok
💌 Investasi :
– Infaq terbaik untuk anak2 yatim penghafal Al Quran

🍹 Fasilitas :
– Snack
– Soft File Materi
– DoorPrize
– Buletin Al Hijaz

📱 Informasi dan Pendaftaran :
Ketik, REG_Kp_NamaLengkap_Nomer WA
Kirim ke No. Hp. 08111110948 (call/wa)

🌐 Event by :
– Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia
– DPD Wahdah Islamiyah Depok

🚩 Supported by :
– Ponpes Tahfidz Al ihsan Kelapa Dua
– Ponpes Tahfidz Raudhatul Huffadz Pondok cabe
– Paud IBQ Al ihsan
– Rumah quran As-Sakinah.

🔴 TERTARIK?, Segera daftar ya. Ingat-ingat! :
– Peserta terbatas Bagi 200 orang
– Pendaftaran Maksimal sampai dengan tgl 29 Maret 2018 pkl 15.00 WIB.

#YuukBantuSebar
#RaihPahala

FMDKI Gelar Temu Aktivis Dakwah Kampus Nasional

Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) menggelar Temu Aktivis Dakwah Kampus Nasional (TADKN)

Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) menggelar Temu Aktivis Dakwah Kampus Nasional (TADKN)

BANDUNG (Wahdahjakarta.com) – Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) menggelar Temu Aktivis Dakwah Kampus Nasional (TADKN). Kegiatan ini akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Jalan Geger Kalong No 67 Geger Kalong kota Bandung, (17–18 Maret 2018).

Kegiatan ini mengusung tema “Karya Cinta untuk Negeri” dengan menghadirkan pembicara utama, ibu Nurdianti Hakma (anggota DPR RI) dan Ustadzah Harisatipa Abidin (Muslimah Wahdah Islamiyah Pusat).

Ketua FMDKI Pusat, Fauziah Ramdani mengatakan, TADKN kali ini merupakan yang pertama diselenggarakan secara nasional sejak FMDKI terbentuk tahun 2004. Ia berharap hasil pertemuan tersebut dapat memperluas jaringan dakwah FMDKI ke berbagai kampus di Indonesia.

“Kami berharap dengan diundangnya perwakilan seluruh pulau di indonesia, itu bisa menyadarkan mereka bahwa kampus adalah miniatur peradaban yang siap diolah dan siap di nomor satukan untuk pengembangan dakwah ke depan,” pungkasnya.(fm/rh/sym).

Ratusan Muslimah Siap Banjiri GMMI III di Gedung Convention Hall Bandung

 

BANDUNG  (wahdahjakarta.com)- Ratusan Muslimah dari berbagai daerah di Indonesia siap membanjiri gedung Convention Hall Mandalawangi kota Bandung, Ahad (18/3) mendatang.

Sederet pemateri dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda akan menghiasi keseruan jalannya Seminar Kemuslimahan bertajuk “Kado Cinta Muslimah Perindu Syurga” nanti yang merupakan rangkaian dari Gebyar Mahasiswa Muslimah Indonesia (GMMI) jilid 3.

Seminar ini diselenggarakan atas kerjasama Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Muslim Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Menurut Fitria Ningsih selaku Ketua Panitia Gebyar Mahasiswa Muslimah Indonesia (GMMI) jilid 3, kegiatan ini diperuntukkan bagi para muslimah yang ingin menumbuhkan nilai-nilai Islam di kehidupannya, di tengah problematika yang terjadi di kalangan muslimah.

Selain itu, lanjutnya, seminar ini hadir sebagai solusi bagi seluruh muslimah yang ingin berbenah diri dan peduli atas segala macam problematika yang terjadi di negeri ini.

”Insya Allah, seminar kita akan dihadiri oleh beberapa pemateri Nasional, salah satunya adalah mbak Peggy Melati Sukma, seorang inspirator hijrah dan penulis buku yang sangat dikenal oleh muslimah Indonesia. Di ujung acara kami juga akan mengadakan penggalangan donasi Alquran dan hijab untuk para muslimah yang membutuhkan,” ujarnya.

Fitria menembahkan, hadirnya ratusan muslimah dalam kegiatan ini sebagai bukti bahwa FMDKI adalah lembaga yang mampu merangkul semua kampus di Indonesia dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Sebagaimana diketahui, FMDKI sejauh ini telah memiliki jaringan daerah lebih dari 30 cabang di seluruh Indonesia yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Salah satu fokus kerja lembaga ini adalah pembinaan Alquran mahasiswi di kampus-kampus serta pembinaan lainnya yang bergerak dalam wilayah kemuslimahan. []

Batasan Aurat Wanita dan Laki-Laki

Batasan Aurat Wanita dan Laki-Laki

Ayat-ayat al-Qur’an memberikan petunjuk tentang anjuran menutup aurat. Para ulama sepakat tentang keharaman menampakkan aurat. Namun mereka berbeda pendapat mengenai batasan-batasan aurat itu.
Batasan aurat ditinjau dari keharaman orang yang melihatnya terbagi empat, yaitu:

(1) Aurat laki-laki di hadapan laki-laki.
(2) Aurat laki-laki di hadapan wanita.
(3) Aurat wanita di hadapan wanita.
(4) Aurat wanita di hadapan laki-laki

Berikut uraian dan penjelasannya;

Aurat laki-laki di Ladapan Laki-Laki

Para ulama menyebutkan bahwa batasan aurat laki-laki dihadapan laki-laki lainnya adalah mulai dari pusat hingga lutut.
Karena itu tidak boleh bagi seorang laki-laki melihat aurat saudaranya mulai dari pusat hingga lututnya (berlaku hukum seseorang tidak boleh menampakkan aurat ini dihadapan laki-laki-pent). Adapun melihat yang lainnya, maka itu dibolehkan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;

لا ينظر الرجل إلى عورة الرجل ولا تنظر المرأة إلى عورة المرأة

Tidak boleh bagi seorang laki-laki melihat aurat seorang laki-laki, dan tidak boleh seorang perempuan melihat aurat perempuan.” (HR. Muslim)

Aurat Wanita di Hadapan Wanita

Aurat wanita di hadapan wanita sama dengan aurat laki-laki di hadapan laki-laki, yaitu mulai dari pusat hingga lutut.
Maka boleh bagi wanita lainnya melihat anggota tubuh wanita lainnya, selain batas-batas aurat tersebut, kecuali pada wanita kafir dzimmiyah (wanita kafir yang tinggal di daerah kaum muslimin yang membayar jizyah) atau wanita kafir secara umum.

Aurat laki-laki di hadapan wanita,

Aurat laki-laki di hadapan wanita adalah mulai dari pusat hingga lutut. Ini perkataan yang lebih kuat dari ikhtilaf ulama.

Bersambung.

Asal Usul Sejarah Valentine's Day

Asal Muasal Valentine’s Day

(wahdahjakarta.com) – Valentine’s Day konon berasal dari kisah hidup seorang Santo (orang suci dalam Katolik) yang rela menyerahkan nyawanya demi cinta orang lain. Dia adalah Santo Valentinus. Namun sejarah Gereja sendiri tidak menemukan kata sepakat tentang siapa sesungguhnya sosok Santo Valentinus sendiri.

Bahkan banyak yang kemudian mengakui bahwa kisah mengenai Santo Valentinus sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat dan diyakini sekedar mitos belaka. Sebab itu, Gereja telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.

Ada banyak cerita tentang Santo Valentinus. Sekurangnya ada 2 nama Valentine yang diyakini meninggal pada 14 Februari.

Versi Pertama, menceritakan bahwa Santo Valentinus merupakan seorang Katolik yang berani mengatakan di hadapan Kaisar Cladius II penguasa Roma bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan menolak menyembah dewa dewi orang Romawi. Kaisar sangat marah dan memerintahkan agar Valentinus dimasukkan ke dalam penjara. Orang-orang yang bersimpati pada Valentinus diam-diam menulis surat dukungan dan meletakkannya di depan jeruji penjara. Tidak ada kisah tentang cinta dan kasih sayang.

Versi kedua, Kaisar Cladius II berkeyakinan bahwa, agar Kerajaan Romawi terus jaya membutuhkan tentara yang kuat. Super tentara ini menurut Kaisar hanya bisa dipenuhi oleh pemuda yang suci, yang tidak pernah menyentuh wanita. Maka Kaisar pun mengeluarkan surat larangan kepada semua pemuda di Roma untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita. Bagi yang melanggar nyawa taruhannya.

Diam-diam 2 tokoh Gereja yaitu Santo Valentinus dan Santo Marius menentang keputusan Kaisar. Secara diam-diam kedua tokoh Gereja ini tetap menikahkan pasangan muda yang ingin menikah dan menjadi konselor bagi kaum muda yang mengalami kendala dalam berhubungan dengan pasangannya.

Suatu waktu Kaisar Cladius II mendengar berita tersebut dan langsung memerintahkan penangkapan atas keduanya. Mereka langsung dimasukkan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Dalam versi ini, di dalam penjara Santo Valentinus jatuh hati pada anak seorang sipir, dan gadis ini juga jatuh pada Valentinus. Sang gadis sering mengunjungi Valentinus hingga kekasihnya itu dihukum mati.

Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga pada 14 Februari 496 M, Paus Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus. Hari Valentine ini kemudian dimasukkan dalam kalender perayaan Gereja. Namun pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal-muasal yang jelas. Sebab itu Gereja melarang Valentine’s Day dirayakan oleh umatnya. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan V-Day masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.

Nah, bagi kamu yang muslim, masih mau memperingati Valentine’s Day?
Tri Afrianti

Sumber:
The Dark Valentine, Era Muslm Digest
Edisi Edisi 5: The Dark Valentines, Ritual Setan yang Kini Dipuja

 

Kata terkait: valentine day, sejarah valentine, asal usul valentine, valentine dalam Islam

Saat Si Kecil Hadir ke Dunia

Saat Si Kecil Lahir ke Dunia

Ilustrasi : Si Kecil Lahir ke Dunia

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34)

Hal-hal ghaib, hanya diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, termasuk diantaranya apa yang ada di dalam rahim. Mengenai janin dalam rahim, ada beberapa hal yanga hanya diketahui oleh Allah. Antara lain, berapa lama janin akan berada dalam rahim ibu? Bagaimana kehidupan janin tersebut setelah lahir ke dunia? Akan seperti apakah amaliyah hidupnya? Bagaimana rizqinya? Apakah dia bahagia atau sengsara?Dan juga, apa jenis kelamin dari janin tersebut sebelum terbentuk?

Adapun setelah janin diciptakan, maka jenis kelamin yang dimiliki oleh janin itu bukan lagi bagian dari ilmu ghaib, karena dapat diketahui dengan panca indra dengan alat deteksi yang akurat. Deteksi ini dibolehkan dan tidak berarti ‘mendahului’ ketentuan Allah, akan tetapi hanya mengetahui apa yang telah Allah ciptakan. Adapun sebelum semuanya diciptakan oleh Allah, maka hal tersebut merupakan hal ghaib, dimana hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Yang terpenting, apapun jenis kelaminnya, hendaklah kita tetap ridha atas anugerah-Nya. Bukan hak kita untuk menentukannya. Jika jenis kelamin anak yang kita lahirkan tidak sesuai dengan harapan kita, maka tetaplah bersyukur, karena banyak orang yang tidak Allah berikan keturunan.

Lalu, hal-hal apa saja yang harus kita lakukan saat si kecil hadir dalam kehidupan kita?

  1. Mohon perlindungan untuk si kecil
    Mohonlah perlindungan agar syaithan tidak menggoda anak kita. Sorang bayi yang lemah tak berdaya, dia belum bisa memohon perlindungan untuk dirinya sendiri kepada Allah Maka kitalah sebagai orangtua yang harus memintakan perlindungan kepada pencipta-Nya. Istri ‘Imran saat melahirkan Maryam beliau berdoa:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.” (QS Al ‘Imran: 36)

  1. Hukum Adzan dan Iqomat di telinga bayi

Adapun membaca adzan dan iqomat di telinga bayi, sebaiknya ditinggalkan karena diperselisihkan oleh para ulama. Hendaklah kita merasa cukup dengan mengamalkan bimbingan Al Qur’an dan sunnah nabi yang shahih, yang tidak diperselisihkan oleh para ulama.

  1. Mentahnik bayi dan mendoakan keberkahan baginya

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ.

Artinya: “Sesungungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah didatangkan kepadanya bayi-bayi, maka beliau mendoakan keberkahan dan mentahnik mereka” (HR.Muslim no.2147)
Tahnik ialah mengunyah kurma kemudian meletakkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut bayi.
Hanya saja, berhati-hatilah terhadap orang yang tidak kita ketahui keshalihannya. Jangan sampai orang yang merokok melakukan tahnik bagi anak kita, karena bisa saja di mulut dan ludahnya terdapat racun yang berbahaya bagi bayi.

  1. Aqiqah

Aqiqah ialah menyembelih kambing di hari ketujuh, atau ke empat belas,atau ke duapuluh satu setelah kelahiran bayi.
Untuk bayi laki-laki 2 ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing.
Di hari ketujuh ini selain ‘aqiqah, disunnahkan pula mencukur rambut, menamai (jika belum ada), dan mengkhitannya.

Setiap yang disyariatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bermanfaat dan tidak selayaknya ditinggalkan.
Wallaahu a’lam.

[Tri Afrianti]

Sumber: Tuntunan Praktis dan Padat Bagi Ibu Hamil dari “A” sampai “Z” Menurut Al Qur’an dan As Sunnah yang Shahih

Kebutuhan Atau Keinginan?

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan Atau Keinginan?

Suatu hari penduduk Hims mengadukan beberapa permasalahan gubernur mereka, Said bin Amir kepada khalifah Umar bin Khaththab. Mereka adukan 4 hal: pertama, beliau tidak pernah menemui mereka hingga siang hari. Kedua, beliau tidak menerima tamu di malam hari. Ketiga, ada satu hari dalam sebulan dimana beliau tidak menemui atau menerima tamu sama sekali. Dan yang keempat, beliau terkadang pingsan tiba-tiba.

Setelah permasalahan tersebut ditanyakan Amiirul Mu’minin kepada sang gubernur, beliau menjawab, “Demi Allah, aku malu mengatakan ini. Aku tidak mempunyai pembantu, di pagi hari aku mengaduk kue untuk keluargaku, setelah siang baru menemui masyarakat. Sedangkan malam hari aku ingin memberikan waktuku hanya untuk Allah. Aku tidak bisa menerima tamu pada salah satu hari dalam sebulan karena aku harus mencuci satu-satunya baju yang sedang aku pakai ini dan menunggunya hingga kering, baru bisa keluar rumah. Dan aku sering pingsan karena takut dengan do’a sahabatku Khabab bin Adi tatkala ia dibunuh.”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini, betapa Sa’id bin Amir sang gubernur Hims sangat berhati-hati dengan harta. Beliau bisa saja mengambil haknya, yaitu harta sebagai gubernur namun beliau lebih memilih untuk menghindari dunia.

Berbeda sekali dengan orang-orang zaman sekarang yang justru berlomba-lomba memperbanyak harta, memperbanyak koleksi perhiasan dunia. Seringkali orang merasa gembira dengan segala tumpukan hartanya, dan merasa sempit dada ketika melihat barang lain lagi yang belum bisa terbeli.

Apakah haram memperbanyak harta? Tentu saja tidak, jika semua diniatkan untuk dibelanjakan fii sabiilillah. Jika semua harta yang dimiliki, ditujukan untuk ketaatan kepada Allah. Yang jadi masalah adalah saat barang-barang yang kita miliki hanya sekedar untuk koleksi saja. Padahal kelak semua harta yang kita miliki akan dihisab oleh Allah subhanahu wata’ala.

Berhati-hati dalam membelanjakan harta dan tidak berlebih-lebihan tentulah lebih diutamakan bagi seorang mukmin. Hidup adalah sekedar apa yang bisa dirasakan oleh panca indra. Hidup adalah sarana sekaligus perjalanan untuk menjemput kehidupan di akherat. Layaknya sebuah perjalanan, tentulah banyak tantangan dan cobaan yang dihadapi. Tantangan dan cobaan itu, bukan hanya menghindari perkara-perkara yang terang haramnya, namun juga perkara-perkara mubah yang berlebih-lebihan. Perkara mubah yang tidak dimanage dengan baik, akan melupakan kita dari tujuan hidup.

Sekali lagi, coba tengok berapa koleksi barang-barang di rumah kita, yang bahkan barang-barang tersebut sudah tidak kita pakai. Apa jawaban kita kelak saat ditanya di akherat?

Saat masuk ke tempat perbelanjaan, coba kita bertanya pada hati kita saat akan membeli, apakah benar-benar membutuhkan ataukah hanya sekedar keinginang saja? Semua akan ditanya di akhirat kelak. Semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, tentang hartanya, darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR at Tirmidzi no.2417 dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Albani dalam Ash Shahihah no.946).

Idealnya, seorang mukmin hatinya senantiasa terikat pada akhirat dan surga. Karena segala kenikmatan yang ada di dunia ini tidak lebih baik dan kekal daripada kenikmatan di akherat.

Tentu saja ini membutuhkan tekad yang kuat dan pembiasaan. Mari kita belajar dari pada generasi salafush shalih, karena merekalah generasi yang telah menimba dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

[Tri Afrianti]

Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].

Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da’iyah Saudi Arabia

Kajian Fi qh Muslimah Wahdah Jakarta

Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta

(Depok)-Wahdahjakarta.com – Awal tahun ini Muslimah Wahdah Jakarta kedatangan tamu istimewa dari Saudi Arabia, ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy. Beliau adalah seorang daiyah dan belajar khusus di bidang Adab dan Manajemen Amal. Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, keberadaan ustadzah Maha Humaymid al-Mamumy digunakan oleh Muslimah Wahdah Jakarta untuk memberikan acara spesial bagi para muslimah di wilayah Jakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Muslimah Wahdah Jakarta sejak dua bulan yang lalu secara rutin mengadakan kajian fiqh muslimah setiap hari jum’at di masjid pesantren Al Hijaz, Kompleks Pondok Laras Jl Komjen Pol. M. Yasin (Jl Akses UI) No 2E kelapa Dua Depok. Acara ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan pencerahan kepada muslimah terhadap agamanya.

Dan pada hari Jum’at tanggal 12 Januari 2018, acara taklim muslimah terasa begitu istimewa dengan kehadiran ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy sebagai pemateri. Taklim yang biasanya dilaksanakan dari jam 13.00 – 15.00 ini digeser pada jam 15.30 – 17.30 karena menyesuaikan jadwal pemateri. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah, “Izinkan Aku Mengenal-Mu”, satu tema bahasan fikih Asmaul Husna yang sangat menarik.

Ustadzah Maha menjelaskan tentang nama-nama Allah yang indah di antaranya Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudus, dan As Salam. Dengan mengenal dan memahami nama-nama Allah kita akan menjadi hamba yang bebas dan merdeka. Hati kita akan menjadi tenang dan bahagia karena yakin dan percaya bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya.

Penerjemah yang merupakan alumni LIPIA dan salah satu dosen di pesantren Al Wafa Bogor, Ustadzah Asiyah, Lc., turut andil dalam menciptakan suasana taklim sehingga terasa makin hidup. Beliau menerjemahkan materi dari ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy  dengan alur kalimat yang mudah dipahami peserta dan penyampaiannya begitu antusias.

“Alhamdulillah materinya bagus, menambah keimanan saya. Membuat saya semakin yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Jujur, Maha Benar, dan janji-Nya pasti. Kajian tentang Asmaul Husna tadi membuat saya harus bertahan dalam kesabaran karena semua yang diberikan Allah itu baik”, kata bu Tarti, salah satu peserta dari Depok.

Kajian muslimah yang dihadiri 58 peserta ini semakin meriah dengan banyaknya hadiah yang dibagikan kepada peserta yang aktif bertanya ataupun dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain memberikan ilmu tentang Asmaul Husna, ustadzah Maha juga sempat memberikan taujih kepada para da’iyah Muslimah Wahdah Jakarta di sesi selanjutnya setelah shalat maghrib. Beliau menyampaikan bahwa da’iyah harus selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal baik berupa tsaqofah, keterampilan (skill) maupun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’iyah. Dengan bekal ini diharapkan da’iyah mampu berdakwah di tengah masyarakat dengan baik. Seorang da’iyah juga harus selalu mampu membuat strategi dakwah yang kreatif namun tetap berlandaskan al Qur’an dan sunnah. Hal ini akan sangat mendukung keberhasilan dakwahnya.

Di akhir pertemuan dengan Muslimah Wahdah Jakarta, ustadzah Maha menyampaikan kesan beliau terhadap sambutan yang beliau dapatkan dari para muslimah. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa bersama para da’iyah yang menyambut saya seperti sedang bersama dengan keluarga sendiri. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kali. Insya Allah kita akan bertemu kembali bi idznillah”, tutur beliau.

#ummusanti

Izinkan Aku Mengenal-Mu (Fiqh Asmaul Husna)

Izinkan Aku Mengenal-Mu

Kajian Fiqh Asmaul Husna

Izinkan Aku Mengenal-Mu (Fiqih Asmaul Husna) Majelis Ilmu Muslimah Wahdah DKI Jakarta

Majelis Ilmu Muslimah Spectakuler Awal Tahun

Menghadirkan Pembahasan;

“Izinkan Aku Mengenal-Mu”,

Yang akan mengulas Fiqh Asmaul Husna

Bersama:

  1. Ustadzah Maha Humaymid Al-Mazmumy (Da’iyah dari Jeddah Saudi Arabia)

  2. Ustadzah Asiyah, Lc (Da’iyah Muslimah Wahdah)

Hari/Tanggal : Jum’at/ 12 Januari 2018
Waktu              : 15.30-17.30 WIB
Tempat            : Pesantren Al-Hijaz,Komp.RM Lesehan Pondok Laras, Jln. Komjen M. Jassin (eks. Jln. Akses UI), No. 2E, Kelapa Dua Depok

Pelaksana:

Muslimah Wahdah Wilayah DKI Jakarta

Pesantren Al-Hijaz Al-Khairiyyah Depok