Gerai Sosial Muslimah Wahdah Jakarta, Bersama Berbagi Manfaat

Gerai Sosial Muslimah Wahdah Jakarta, Bersama Berbagi Manfaat

(Depok) wahdahjakarta.om—Muslimah Wahdah Jakarta mengadakan kegiatan sosial yang dinamakan dengan “gerai sosial”, Jumat (14/9) yang bertempat di Kompleks Mekarsari Permai, Depok. Kegiatan yang didukung sepenuhnya oleh LAZIS Wahdah ini berlangsung dari pukul 15.00 WIB s/d 17.15 WIB.

Adanya kegiatan gerai sosial ini sangat berarti sekali bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah terutama yang berkerja sebagai pemulung dan IRT yang begitu sulit membeli baju karena kesulitan ekonomi. Ummi santi selaku koordinator gerai berharap dengan adanya kegiatan ini bisa membantu warga menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan sandang mereka dengan harga terjangkau.

“Harapannya bisa membantu warga menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan sandang dengan harga terjangkau. Kedepan harapannya bisa lebih beragam lagi layanan yang diberikan kepada warga, tidak hanya pakaian”, ujarnya.

“Tadi lepas maghrib ada ibu-ibu dari Kampung Tipar yang jumlahnya 2 orang terlambat datangnya lalu sedikit memaksa untuk belanja di gerai sosial. Padahal sudah tutup dan barang sudah dirapikan. Alasannya karena telat dapat info. Berhubung jarak rumahnya cukup jauh dari lokasi gerai, maka kami kasih kesempatan membuka satu kantong pakaian dan memilih-milih yang diinginkan. Sebenarnya ingin membongkar semua tetapi kendalanya kami sudah kelelahan menunggui”, tambahnya.

Kegiatan yang berlangsung selama 2 jam lebih ini dihadiri oleh warga yang tinggal di sekitar kompleks dan warga yang datang dari kampung sebelah yang jumlahnya mencapai 50 an, semuanya ibu-ibu. Warga yang hadir sangat antusias membeli pakaian yang disukainya karena kualitasnya bagus dan dibandrol dengan harga yang murah.

“Bagus-bagus dan harganya murah”, kata Mama Puput yang berasal dari Kampung Tipar saat melihat tetangganya yang sudah pulang dari gerai. Senada dengan Mama Puput, Ibu Sari yang berasal dari Kampung Bulak mengaku bersyukur dan senang dengan kegiatan ini. “Terima kasih atas acara yang diselenggarakan, kami sangat senang”, ujarnya. [san/rsp]

Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

10 hari pertama bulan dzulhijah

Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

Ukhti, kita masih di sini. Di detik-detik 10 hari pertama bulan Dzulhijah. Hari-hari di mana para pendahulu kita hampir tidak mematikan lampu penerangan di malam hari. Hari-hari di mana para pendahulu kita menghindari membahas hadits dhaif demi menjaga supaya tidak terjatuh pada perkataan yang tidak disukai oleh Allah. Hari-hari yang keutamaannya mengalahkan keutamaan berjihad kecuali orang tersebut berjihad dengan seluruh harta dan jiwanya dan dia kembali tanpa membawa sesuatu pun. Masya Allah buknkah sangat menggiurkan wahai ukhti, sayang jika dilewatkan begitu saja.

Ibarat musim, hari-hari ini adalah musim tanam yang paling bagus. Musim tanam yang perlu kita optimalkan untuk menebar benih kebaikan dan amal shalih supaya kelak kita bisa memperoleh hasil panen yang memuaskan dan menggembirakan.

Meski hari-hari ini tidak terkondisikan sebagaimana 10 hari terakhir bulan Ramadhan, mari kita ingat-ingat keutamaannya. Supaya hal ini menjadi cambuk bagi kita untuk berjuang keras dan berusaha meraihnya dengan berbagai amal kebaikan. Mari bergegas. Masih ada ribuan detik yang tersisa untuk kita berkesempatan meraih keutamaannya. Mari berpacu dan berlomba. Memaksa diri untuk tunduk pada ketaatan dan mengibaskan kemalasan. Agar kelak kita tidak menyesal wahai ukhti.

Ukhti, jangan sampai datangnya masa haidmu menjadikan dirimu kendor untuk berupaya meraih keutamaan yang dijanjikan. Masih banyak amal kebaikan di luar puasa dan shalat yang bisa engkau tegakkan. Perbanyak takbir mutlak  yang bisa kita lantunkan sejak awal 1 Dzuhijah hingga nanti menjelang berakhirnya hari tasyrik. Perbanyak dzikir dan shalawat. Sisihkan harta untuk bersedekah di jalan Allah. Perbanyak doa. Sediakan makanan berbuka bagi saudara kita yang menjalankan puasa. Banyak ukhti, masih banyak celah dan jalan yang bisa kita ambil. Ayo bergegas, selagi waktu dan kesempatan berpihak pada kita. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang meraih kemenangan. (ummisanti/aha)

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

(Depok) wahdahjakarta.com-, Bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia (1/08/2018), Muslimah Wahdah Wilayah (MWW) Jakarta dan Depok menggelar acara Semarak Dzulhijah di Kompleks Pesantren Al Hijaz Kelapa Dua Depok.  Acara ini dihadiri oleh 80 peserta dari beberapa daerah di Jakarta dan Depok.

Menurut Ketua Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta Ustadzah Rahmah Thamrin kegiatan ini digelar sebagai sarana silaturrahmi menambah pemahaman tentang keutamaan bulan Dzulhijjah. “Kami berharap acara ini dapat menjadi sarana silaturahmi muslimah dan sarana menambah pemahaman kita terhadap keutamaan bulan Dzulhijah. Juga sebagai sarana memupuk semangat pengorbanan”, ungkapnya.

Acara semarak Dzulhijah dibuka mulai pukul 8.30 dengan sesi game ta’aruf dan game cerdas tangkas sebagai acara pembuka. Acara selanjutnya merupakan materi inti yang disampaikan oleh Ustadzah Rahmawati Basarang dengan tema “Menggapai Indahnya Islam bersama Bulan Dzulhijah”.

Pada sesi terakhir sebelum penutupan, panitia melakukan orasi penggalangan donasi Qurban dan donasi dakwah.  Alhamdulillah pada sesi ini diperoleh donasi hewan Qurban 4 ekor kambing dan 5 bagian sapi. [yd/ed:sym].

7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

Pernikahan adalah satu fase perjalanan kehidupan. Karenanya, penting bagi seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan untuk menyiapkan perbekalan. Tentunya bekal yang tepat. Karena salah membawa bekal sangat beresiko dalam suatu perjalanan. Bagaimana jadinya orang yang hendak mendaki gunung justru berbekal pelampung?

Begitu pula dalam pernikahan. Ketika gaya hidup masyarakat barat menjadi kiblat dan masih jauhnya mayoritas masyarakat dari konsep Islam dalam kehidupan berumah tangga, hal ini sangat rentan memicu timbulnya berbagai konflik dalam rumah tangga, bahkan sampai kepada perceraian.

Apalagi pernikahan tidak sekedar tentang hidup berdua. Tidak semata antara “aku dan kamu” tapi lebih luas adalah membangun peradaban. Lantas bagaimana suatu peradaban dapat dibangun tanpa bekal yang memadai?

Lalu, bekal apa yang mesti disiapkan oleh orang yang hendak menikah? Bekal apa saja yang bakal berguna dalam perjalanan pernikahan itu? Tulisan ini akan menyaikan tujuh beka utama menuju pernikaha sukses dan bahagia.

  1. Kelurusan Niat

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amal itu tergantung niatnya,dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR Bukhari Muslim)

Hadits ini menjadi dalil pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Bahwa niat merupakan pondasi awal suatu amal perbuatan. Bahkan suatu amal perbuatan yang dilandasi oleh beberapa niat dapat memberikan imbas pahala yang berlipat.

Begitu juga dalam pernikahan. Penting bagi orang yang hendak menikah untuk meluruskan niat dan menjaga kelurusan niat pernikahannya agar rumah tangga yang dibangun menuai keberkahan. Seseorang yang meniatkan pernikahannya agar dapat menjaga dirinya dari godaan syetan, untuk menyempurnakan setengah dien nya, agar dapat melakukan amalan-amalan yang hanya bisa dilakukan dalam pernikahan, insya Allah dia akan sampai kepada niatnya. Sebagaimana kaidah yang penulis pegangi, bahwa niat baik insya Allah ketemu jalannya. Dan tentunya niat ini perlu senantiasa dijaga kelurusannya sepanjang masa pernikahan yang panjang. Dan hanya Allah sebaik-baik Penolong.

  1. Bertakwa kepada Allah

Di dalam surat Ath thalaq  ayat 2-3 Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (٣)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak tidak disangka-sangka” (QS Ath Thalaq 2-3)

Allah berjanji mencukupi kebutuhan dan mengatasi urusan hamba-Nya yang bertakwa. Sementara kita pahami bersama bahwa kehidupan rumah tangga adalah misteri yang hanya akan terungkap setelah kita menjalaninya. Kita tidak tahu seperti apa hari-hari ke depan dalam pernikahan yang kita bangun kecuali setelah hari itu kita lewati. Karenanya, menyiapkan diri dengan membangun ketakwaan kepada Allah merupakan bekal yang tepat agar lapis-lapis misteri yang terkuak dapat dijalani dengan kemanisan iman.

  1. Mencanangkan Visi Misi Pernikahan

Dalam organisasi dakwah saja kita mengenal visi misi dan rencana kerja. Maka tak kalah penting pula hal ini diterapkan dalam pernikahan. Bahkan kesamaan visi misi bagi dua calon pasangan yang akan menikah merupakan salah satu barometer kesuksesan urusan yang akan mereka tempuh. Kesamaan visi misi akan membuat biduk rumah tangga mudah diarahkan dan tidak mudah oleng oleh terpaan angin persoalan.

  1. Bekal ilmu

Kaidah “ilmu sebelum amal” berlaku dalam semua lini amaliyah termasuk pernikahan. Hendaknya seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan, berbekal ilmu seputar kerumahtanggaan berbasis syari’at. Jangan sampai seseorang menempuh pernikahan tanpa modal pemahaman karena bisa terjebak dalam berbagai jerat-jerat kesalahan dan kemaksiatan.

  1. Bekal Mental Psikologis

Tragedi piring terbang, ringan tangan kepada pasangan, bisa jadi merupakan rapuhnya mental pasutri. Mentalnya belum tangguh untuk mengarungi lembah-lembah pernikahan yang penuh dengan lekuk dan liku.

Dalam pernikahan ada banyak hal yang tidak terduga. Kejutan-kejutan bahagia ataupun hal-hal yang bisa membuat air mata berurai, semua itu butuh kesiapan mental, butuh sikap dewasa dalam menghadapainya. Kesabaran, kemampuan mengolah rasa, sangat dibutuhkan demi utuhnya kapal penikahan dari hempasan badai. Dan bekal ini akan terus bertambah seiring berjalannya usia pernikahan dan dinamika yang terjadi di dalamnya

  1. Bekal Finansial

Poin ini bukan menjadi kaidah bahwa menikah harus kaya. Bahwa orang miskin dilarang menikah. Bukan. Tapi lebih kepada kesiapan untuk menghadapi realita bahwa kebutuhan hidup berumah tangga tentu akan jauh lebih besar daripada menanggung diri sendiri.

Bukankah Allah akan memampukan orang yang menikah dengan rejeki-Nya? Tentu, ini dalil yang tidak bisa disangkal. Hanya saja, apakah kemudian rejeki itu hanya ditunggu saja sambil berpangku tangan? Tentunya saja perlu ada sebab-sebab untuk mendatangkannya. Ada ikhtiar utnuk meraihnya.

Karena terkadang poin ini menjadi syarat bagi sebagian orang bahwa calon pasangannya harus punya pekerjaan tetap, harus mapan, harus berpenghasilan sekian. Di sisi lain pun seorang pria menjadi gamang menikah karena belum memiliki pekerjaan tetap, penghasilannya masih minimalis. Hmmm …. kalau boleh penulis koreksi, pemikiran itu perlu diluruskan. Sah-sah saja sih syarat itu diajukan. Tapi jangan sampai gara-gara syarat itu Anda kemudian memutuskan untuk tidak menikah. Bagi penulis, masalah sebenarnya bukan pada pekerjaannya, tapi tetap bekerja dan mempunyai semangat kerja. Karena rejeki itu sudah ada yang mengatur. Dan sebagaimana janji Allah, bahwa Allah akan memampukan mereka dengan rejeki-Nya.

  1. Bekal Fisik

Menjalani kehidupan berumah tangga tentu saja berbeda kondisinya dengan kehidupan membujang. Banyak hal yang membutuhkan kesiapan dan kesigapan fisik kita. Seorang suami tentu perlu menyiapkan fisiknya supaya bisa mencari penghidupan tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk istri dan anaknya.

Seorang istri pun perlu sigap menciptakan keadaan rumah yang nyaman demi nyamannya suami di sisinya dan lebih betah menghabiskan waktu di rumah. Mengurus anak-anak pun butuh kesiapan fisik. Bahkan dalam melakoni hubungan suami istri pun butuh kesiapan fisik yang prima. Karenanya hal ini perlu disiapkan pra nikah dengan menjaga kesehatan dan menjalani pola hidup sehat.  (ummisanti).

200 Da’iyah Hadiri Pertemuan Internasional Ulama dan Da’i di Jakarta

Muslimah Wahdah

Syeikhah Ahlam Najii (Ketua lLembaga Tahfidzul Quran ), dan Ustadzah KarimatunNisa, Lc (Mulimah Wahdah Jakarta)

200 Da’iyah Hadiri Pertemuan Internasional Ulama dan Da’i di Jakarta

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Pada Rabu (04/07/2018) yang merupakan hari kedua Pertemuan (Multaqa) Internasional ke-5 Ulama dan Da’i,  panitia menggelar pertemuan Da’iyah dan Pimpinan Pesantren seindonesia yang kedua.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta ustadzah dan daiyah dari berbagai ormas Islam, seperti ‘Aisyiyah, Muslimat Nahdatul Ulama, Muslimah Al Irsyad, Muslimah Wahdah Islamiyah (Muslimah Wahdah), BKMM, FKMT  SE-DKI Jakarta.

Muslimah Wahdah Islamiyah diwakili oleh Ketuanya Ustadzah Harisa Tipa Abidin  bersama beberapa pengurus Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara, Syeikh Abdullah Kamil, Syeikhah Ahlam Najii (ketua lembaga tahfidzul quran ), dan Prof. DR. Masyitah Chusnan, (Pimpinan Pusat Aisyiyah), Ustadzah Munirah Al-Muhaibi (sambutan), dan Ustadzah KarimatunNisa, Lc (Mulimah Wahdah Jakarta) selagai translator ceramah Syeikhah Ahlam.

Syeikh Abdullah menyampaikan materi Peran Wanita Islam dalam Melahirkan Generasi dan Mengukir Sejarah. Sementara Syeikhah Ahlam Najii berbicara tentang Al-Quran dalam kehidupan.  Prof. Masyitah yang juga rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyampaikan topik tentang Peranan Wanita Muslimah di Indonesia.

Pertemuan (Multaqa) ini digelar setiap tahun sejak tahun 2014 yang dirangkaikan dengan Deklarasi Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara. Selanjutnya Multaqa Ulama dan Da’i ini menjadi agenda tahunan lembaga yang dipimpin Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin ini.  pertama yang digelar di Depok Tahun 2014 sebagai tahun pembentukan Rabithah.

 Multaqa yang kedua tahun 2015 diselenggarakan di Lembang Jawa Barat dengan tema “Waman Ahsanu Qaulan..”. Multaqa yang ketiga diselenggarakan di Sentul-Bogor dengan tema Ummatan Wasatha. Multaqa ke empat tahun 2017 diselenggarakan di Kota padang dengan Tema “Wihdatul Ummah”.

Sejak Multaqa ke.4 yang digelar di Padang (2017) lalu diagendakan pula pertemuan Ulama Wanita, Da’iyah, dan Ustadzah serta pimpinan Pesantren dan aktivis dakwah Muslimah. (U2/ed:sym).

Jilbab dan Cadar di Indonesia

cadar-rimpu mbojo

cadar perempuan Bima
(rimpu mbojo)

Jilbab dan Cadar di Indonesia

Pengantar

Setiap diskusi tentang polemik masalah cadar, salah satu pertanyataan yang muncul adalah, “cadar bukan budaya Indonesia”. Atau “cadar budaya Arab”.

Benarkah cadar bukan bagian dari syariat Islam? Benarkah cadar merupakan sesuatu yang baru di Indonesia? Dalam catatan Buya Hamka, cadar atau jilbab dengan penutup wajah sudah dikenal di sebagian daerah di Indonesia sejak tahun 1920an. Buya menuliskan temuannya dalam Tasfsir Al-Azharnya ketika menafisrkan Surat Al-Ahzab ayat 59. Berikut selengkapnya.

***

Ketika  penulis (Buya Hamka) datang ke Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan dalam tahun 1926 penulis masih mendapati kaum perempuan di sana memakai jilbab. Yaitu  kain sarung ditutupkan ke seluruh badan hanya separuh muka saja yang kelihatan. Asal saja  mereka keluar dari rumah hendak menemui keluarga di rumah lain mereka tetap menutup seluruh badan dengan memasukkan badan itu ke dalam kain sarung dan salah satu dari kedua belah tangan yang memegang kain di muka sehingga hanya separuh yang terbuka bahkan hanya matanya saja.

Seketika penulis datang ke Makassar pada tahun 1971 pada tahun 1931 sampai meninggalkannya pada tahun 1934 perempuan perempuan yang berasal dari Selayar berbondong-bondong pergi ke tempat mereka jadi buruh harian memilih kopi di gudang-gudang di pelabuhan Makassar, semuanya memakai jilbab persis seperti di Langkat itu pula.

Seketika  penulis pergi ke Bima pada tahun 1956 penulis masih mendapati perempuan di Bima jika keluar dari rumah berselimutkan kain sarung sebagai diangkat 1927 dan di Makassar 1931 itu pula.

Seketika  penulis pergi ke Gorontalo pada tahun 1967 (40 tahun sudah berangkat) penulis dapati perempuan-perempuan Gorontalo memakai jilbab di luar bajunya meskipun pakaian yang di dalam memakai rok modern.

Pergerakan  perempuan Islam di bawah pimpinan ulama-ulama pun membuat pakaian perempuan yang memegang kesopanan Islam yang tidak memperagakan badan.

Gerakan  Aisyiyah di tanah Jawa atas anjuran K. H. Ahmad Dahlan selak selain memakai Semar (selendang) yang dililitkan ke dada agar dada jangan kelihatan, di bawah pula untuk menutupi kepala. Ketika saya mulai datang ke Yogyakarta pada tahun 1924 (tiga tahun sebelum ke Tanjung Pura Langkat) kelihatan di samping khimar penutup kepala dan dada itu, Aisyah pun memakai jilbab di luarnya. Pakaian  secara begini menjalar ke seluruh tanah air dalam pergerakan Islam. Almarhum Rangkayo Rahmah El-Yunusiyah mempertahankan khimaar dengan dililitkan pada muka dan kepala dengan kemas sekali; muka tidak ditutup. Seorang  perempuan pergerakan yang sama pengguruannya dengan Rangkayo Rahmah El yunusiyyah yaitu Rangkayo Rasuna Said tidak pernah lepas khimar (selendang) itu dari kepala beliau.

menjadi adat istiadat perempuan  Indonesia jika telah kembali dari Haji Lalu memakai khimar selendang yang dililitkan di kepala dengan dibawahnya di pasar dengan sanggul bergulung sehingga rambut lemas tidak kelihatan.

Tetapi  di zaman akhir-akhir ini perempuan perempuan modern yang mulai tertarik kembali kepada agama lalu pergi naik haji di Jakarta 1974 pernah mengadakan suatu mode show pergerakan peragaan pakaian peragaan pakaian di Bali room hotel Indonesia memperagakan pakaian modern yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak menghilangkan rasa keindahan estetika.

Dalam  ayat yang kita tafsirkan ini (QS.Al-Ahzab:59) jelaslah bahwa bentuk pakaian atau modelnya tidaklah ditentukan oleh Alquran yang menjadi pokok yang dikehendaki Alquran ialah pakaian yang menunjukkan iman kepada Tuhan pakaian yang menunjukkan kesopanan bukan yang memperagakan badan untuk jadi tontonan laki-laki.

Sumber: Tafsir Al-Azhar, jilid 8, hlm. 5783-5784.

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Sahkah Jika Jama'ah Wanita Shalat disamping Jama'ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Shalat Jama’ah Wanita disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Pertanyaan:

Di negara kami ada masjid, wanitanya shalat di samping laki-laki tapi diantara keduanya ada pembatas tembok. Apakah prilaku ini sah ataukah wanita shalatnya harus dibelakang laki-laki?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama, kalau jama’ah wanita shalat sejajar (disamping) laki-laki dan diantara keduanya ada pembatas baik dinding atau tempat kosong memungkinkan untuk shalat, maka shalatnya sah menurut kebanyakan ahli ilmu dari Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyyah dan Hanabilah. Adanya perbedaan diantara mereka manakala shalat di sampingnya tanpa ada pembatas. Pendapat Hanafiyah (mengatakan), bahwa batal shalatnya tiga orang laki-laki. Satu disamping kanan, yang lain samping kiri dan ketiga dibelakangnya. Dengan syarat-syarat yang telah mereka sebutkan. Hasilnya adalah wanita itu sudah ‘Musytaha’ yaitu telah berumur tujuh tahun atau yang sudah layak untuk digauli, menurut perbedaan dalam madzhab. Dan ikut dengan laki-laki dalam shalat mutlak yaitu yang ada ruku’ dan sujud. Sama-sama dalam larangan dan pelaksanaan. Dan hendaklah imam telah berniat untuk mengimami (wanita) atau menjadi imam kalangan wanita secara umum. Dengan perincian lainnya, dapat diketahui dengan merujuk ke kitab-kitab mereka. Silahkan melihat kitab AL-Mabsut, 1/183. Badai’ sonai’, 1/239. Tabyinul Haqaiq, 1/ 136-139.

An-Nawawi rahimahullah berkata dalam menjelaskan perbedaan dalam masalah, kesimpulan madzhab Hanafiyah adalah kalau laki-laki shalat sementara disampingnya ada wanita. Shalatnya tidak batal (baik) laki-laki maupun wanita. Baik dia sebagai imam atau makmum. Ini adalah madzhab kami (Syafiiyyah), dan juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan (ulama’). Abu Hanifah mengatakan, kalau wanita (dalam kondisi) tidak shalat atau dalam kondisi shalat tapi tidak bersama shalat dengan dia. Maka shalatnya sah baik laki-laki maupun wanita. Kalau (wanita) dalam kondisi shalat ikut bersama dengan (laki-laki) –tidak dikatakan kebersamaan menurut Abu Hanifah kecuali kalau imamnya berniat menjadi imam para wanita- kalau wanita ikut bersamanya, jika ada laki-laki berdiri disampingnya. Maka shalatnya batal orang yang (berdiri) disamping wanita. Sementara shalat wanita tersebut tidak batal. Bagitu juga (tidak batal) orang yang shalat disela setelah selanya. Karena antara (wanita) dengan laki-laki ada penghalang. Kalau wanita di shaf diantara yakni imamnya, maka shalat orang yang sejajar dibelakangnya batal, dan tidak batal orang yang shalat sejajar dengan jajaran wanita. Karena ada penghalang. Kalau para wanita membuat shaf dibelakang imam, sementara dibelakang mereka ada shaf laki-laki. Maka shalat yang ada dishaf setelah (shaf para wanita) batal. Berkata, sebenarnya qiyas (analoginya) tidak batal shalat yang ada dibelakang shaf diantara shaf-shaf karena ada penghalang. Akan tetapi kami katakan, shaf para laki-laki dibelakangnya batal meskipun ada seratus shaf karena istihsan. Kalau wanita berdiri di samping imam, maka shalat imam batal karena wanita ada di sampingnya. Dan madzhabnya, kalau shalat imam batal, maka shalat para makmum juga batal. Dan shalat (wanita) itu juga batal karena dia termasuk bagian dari makmum.

Madzhab ini lemah hujjahnya. Nampak berpegang teguh dengan perincian yang tidak ada asalnya. Pegangan kami bahwa shalatnya sah sampai ada dalil shoheh syar’i yang menjelaskan batalnya (shalat) padahal mereka tidak punya (dalil). Teman-teman kami (semadzhab) mengkiyaskan berdirinya (wanita) dengan berdirinya dalam shalat jenazah, (maka shalatnya) tidak batal menurut mereka. (Al-Majmu’, 3/331 Dengan sedikit ringkasan).

Sementara kalau ada penghalang, madzhab Hanafi dan mayoritas ulama’ bersepakat bahwa shalatnya tidak ada yang batal salah satu diantara keduanya, sebagaimana di kitab ‘Tabyinul Haqoiq, 1/138.

Kedua, tidak diragukan bahwa yang sesuai sunnah adalah shaf para wanita dibelakang para lelaki. Sebagaimana kondisi zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, 380 dan Muslim, 658. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa neneknya Mulaikah mengundang Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam untuk makan-makan yang telah dibuatnya. Kemudian (beliau) mengatakan, berdirilah kamu semua untuk menunaikan shalat bersama kami. Anas berkata: ”Saya berdiri ke tikar yang kami punya sudah menghitam dikarenakan lama dipakai, dan kami percikkan air. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berdiri sementara saya dan anak yatim membuat shaf dibelakangnya. Dan orang tua (nenek) dibelakang kami. Maka Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam shalat bersama kami dua rakaat kemudian pulang.

Al-Hafidz (Ibnu Hajar) mengomentari dalam kitab Fath, ‘’dalam hadits ini banyak  faedahnya… (Shaf) wanita berada di belakang shaf para lelaki. Dan berdirinya wanita sendirian dalam shaf dikala tidak ada wanita lainnya”.

Akan tetapi kalau terjadi seperti apa yang anda sebutkan bahwa para wanita sejajar dengan para lelaki, maka shalatnya sah wal hamdulillah.

Wallahu’alam . [islamqa.info.id].

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

oleh : Samsul Basri

Para Ulama berbeda dalam menetapkan hukumnya apakah boleh atau tidaknya telapak tangan tersingkap di dalam Shalat.

Kedua Tangan Wajib ditutup Ketika shalat

Imam Asy-Syaukani rahimahullahu  menyebutkan dalam kitab “Nailu al-Authaar” juz 3 hlm.330 bahwa al-Imam al-Muhaddits, Imam Abu Daud dan Imam Ahmad berkata,

أنه لا يجوز للمرأة الحرة أن تكشف كفيها وقدميها في الصلاة. ويجب عليها ستر جميع بدنها إلا الوجه

“Mengenai hal ini tidak boleh bagi seorang wanita merdeka menampakkan kedua telapak tangan demikian pula kedua kakinya ketika shalat.  wajib baginya menutup semua badannya kecuali wajah.”

Kedua Tangan Tidak Wajib ditutup dan  Boleh Terlihat

Pendapat  ini dipilih oleh Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qashim bin al-Jilaabi al-Bashriy al-Maalikiy dalam kitab “at-Tafrii’u” juz 1 hlm.239.

والمرأة الحرة كلها عورة إلا وجهها ويديها وعليها أن تستر في الصلاة سائر جسدها ولا تبدي منه شيئا الا الوجه واليدين

Dan seorang wanita merdeka, seluruh tubuhnya adalah aurat, kecuali wajah dan kedua tangannya, maka wajib baginya menutup seluruh tubuhnya dalam shalat, dan tidak menampakkan bagian dari tubuhnya sedikitpun ketika shalat kecuali wajah dan kedua tangannya.

Bagaimana sebaiknya???

Sebaiknya dengan menggabungkan dua pendapat,

Fatwa Majelis Ulama al-Mamlakah as-Su’udiyyah

إن غطتهما فأفضل ، وإلا فليس بلازم ، لا بأس بكشفهما ، والوجه يشرع كشفه في الصلاة ، المرأة تكشف وجهها في الصلاة ، إلا إذا كان عندها أجنبي تغطي وجهها ، أما إذا كان ما عندها إلا زوج أو نساء ، السنة أن يكون الوجه مكشوفا ، أما اليدان فإن شاءت كشفتهما على الصحيح ، وإن شاءت سترتهما وهو أفضل خروجا من خلاف من قال بوجوب سترهما ، أما القدمان فيستران .

Sekiranya muslimah menutup kedua tangan ketika shalat, maka hal itulah yang lebih utama. namun sekiranya tidak, maka bukan suatu keharusan. yaitu tidak mengapa tampak kedua tangan. adapun wajah, disyariatkan tersingkap ketika shalat, maksudnya seorang wanita menyingkap wajahnya dalam shalat, kecuali disekitarnya lelaki asing yang memungkinkan secara leluasa melihatnya, maka ia menutupnya. adapun jika yang memungkinkan melihatnya hanya suami atau wanita muslimah, maka yang sunnah adalah membiarkan wajah tersingkap. adapun kedua tangan jika ia mau, boleh menampakkan kedua tangan, dan jika mau ia menutup kedua tangannya dan tentu inilah yang lebih afdhal (lebih utama), lebih selamat, menghindari khilaf dari yang mengatakan bahwa menutup kedua tangan adalah wajib. adapun kedua kaki, maka keduanya wajib ditutup bagi wanita. (http://www.alifta.net/Fatawa).

 

Fatwa Syaikh Bin Baz rahimahulla

المرأة عورة كلها عورة، يجب أن تستر بدنها في الصلاة، ولو ما عندها أحد، إلا الوجه، فالسنة كشفه، أما بقية بدنها فالمشروع ستره، بل يجب ستره إلا الكفين بعض أهل العلم أجاز كشفهما، والأفضل سترهما والأحوط سترهما، فإذا صلَّت وقدماها مكشوفتان أو رأسها أو ذراعها، أو صدرها لم تصح صلاتها، فالواجب على المرأة أن تستتر إلا الوجه، وهكذا الكفان الأحوط سترهما؛ لأنها عورةٌ كلها ولو ما حضرها أجنبي.

Seorang wanita seluruh tubuhnya adalah aurat. wajib baginya menutup seluruh tubuhnya di dalam shalatnya, meski tak seorang pun melihatnya, kecuali wajahnya. karena sunnahnya wajah memang ditampakkan, adapun anggota tubuh yang lainnya disyariatkan untuk ditutup. bahkan wajib ditutup kecuali kedua telapak tangan, karena sebagian ulama membolehkan keduanya tersingkap. dan yang lebih utama adalah menutup keduanya, dan yang lebih berhati -hati  adalah menutupnya. jika seorang wanita shalat, sedang kedua kakinya tersingkap atau rambutnya, atau lengannya, atau dadanya maka shalatnya tidak sah. maka wajib bagi wanita menutup badannya kecuali wajahnya. demikian pula kedua tangan, yang lebih berhati-hati adalah dengan menutupnya. karena wanita adalah aurat seluruhnya meskipun tidak ada lelaki asing yang melihatnya. (http://www.binbaz.org.sa/node/14749).

 

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07]: Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut?

Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut

Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut ?

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07]: Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut?

Pertanyaan:

Jika seorang wanita suci dari haidh persis setelah terbit Fajar, apakah ia ber-imsak (menahan diri dari makan-minum) dan berpuasa pada hari tersebut, sehingga ia terhitung berpuasa pada hari itu? Ataukan ia wajib mengqadha puasanya hari itu?

Jawaban:

Jika seorang wanita suci dari haidh setelah terbit fajar, maka terkait masalah ber-imsak (menahan) atau tidak pada hari itu para ulama berbeda pendapat dalam dua pendapat.

Pertama;

Pendapat yang mengatakan, ia harus menahan diri dari makan dan minum (tidak boleh makan-minum) pada hari tersebut, tapi tidak terhitung berpuasa. Bahkan ia wajib meng-qadha. Ini pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad rahimahullah.

Kedua;

Pendapat yang mengatakan bahwa Ia tidak wajib menahan diri dari makan dan minum pada hari tersebut (artinya;ia boleh makan-minum). Karena tidak ada faidahnya ia menahan diri dari makan dan minum. Sebab ia diperintahkan untuk tetap makan dan minum sejak pagi. Bahkan haram baginya berpuasa pada hari itu. Sementara puasa secara syar’i adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dalam dengan niat ibadah kepada Allah sejak terbit Fajar sampai terbenam matahari.

Inilah pendapat yang kami pandang lebih rajih (kuat) tinimbang pendapat yang mengharuskan imsak (tidak makan-minum pada sisa waktu di hari itu). Selain itu, kedua pendapat tetap sepakat bahwa ia wajib meng-qadha hari tersebut. (sym).

Sumber: 52 Sualan ‘an Ahkamil Haidh (52 Soal-Jawab Seputar Hukum Haidh) Oleh Syekh al-‘Utsaimin, hal. 9-10)

Ternyata Isteri Saya Sudah Bukan Perawan Lagi, Haruskah Saya Menceraikannya?

Ternyata Isteri Saya Sudah Bukan Perawan Lagi, Haruskah Saya Menceraikannya

Ternyata Isteri Saya Sudah Bukan Perawan Lagi, Haruskah Saya Menceraikannya

Ternyata Isteri Saya Sudah Bukan Perawan Lagi, Haruskah Saya Menceraikannya?

Pertanyaan:

Saya telah menikah dengan seorang wanita yang saya meyakininya bahwa dia masih perawan, namun ketika saya telah berhubungan dengannya ternyata dia sudah tidak gadis lagi. Maka saya menceraikannya dan mengambil mahar yang telah saya berikan kepada keluarga mereka. Patut diketahui sesungguhnya wanita yang saya nikahi mengakui bahwa dia sudah tidak gadis lagi pada malam di mana saya berhubungan dengannya dan dia mengatakan bahwa kedua orang tuanya telah mengetahui akan hal tersebut dan mereka dengan sengaja ingin mengelabui saya. Perempuan ini juga mengaku bahwa yang merampas kehormatannya adalah suami dari bibinya (adik perempuan ibunya) padahal dialah yang memediasi antara saya dan keluarga mereka. Apa yang harus saya lakukan dalam hal ini?

Jawaban:

Bismillah,

Pertama;

Tidak diragukan lagi sesungguhnya perbuatan zina merupakan kekejian tebesar yang syariat Islam datang dan menganjurkan untuk menghindarinya. Sungguh syariat Allah Ta’ala telah menurunkan hukum-hukum yang tidak sedikit jumlahnya agar seseorang tidak sampai melakukan kekejian tersebut. Diantaranya adalah mengharamkan melihat wanita yang bukan mahram, menyentuh mereka, berkhalwat bersama mereka dan juga diharamkan bagi seorang wanita bepergian sendirian tanpa disertai mahramnya dan lain sebagainya, yang bertujuan memutuskan jalan bagi setan yang menggoda kaum muslimin agar mendekati kekejian tersebut. Kemudian Allah Ta’ala menetapkan syari’at yang agung bagi pelaku kekejian ini. Maka ditetapkanlah hukum seratus cambukan bagi seorang pezina laki-laki atau perempuan yang belum pernah menikah, dan hukuman rajam dengan batu sampai meninggal dunia bagi laki-laki maupun perempuan yang sudah menikah.

Kedua;

Adapun khusus bagi seorang istri dan keluarganya yang menutup-nutupi akan hilangnya keperawanannya, hal demikian tersebut tidak menyalahi syari’at, karena Allah Ta’ala lebih menyukai orang yang  merahasiakan aib dan akan memberikan balasan bagi siapa saja yang telah menutupi aib. Seorang istri tidak harus memberitahukan suaminya tentang hilangnya keperawanannya meskipun lenyapnya keperawanan tersebut karena terjatuh, atau karena haid yang berat atau karena perbuatan zina yang dia alami.  Syekh Bin Baaz Rahimahullah mengungkapkan tentang masalah ini. Di bawah ini sebagian fatwa Ulama Allajnah Ad-daaimah :

1-  Ulama Al-lajnah Ad-daaimah ditanya:

Seorang muslimah dimasa kecilnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya lapisan keperawanannya, dan dia telah melangsungkan akad nikah dengan suaminya akan tetapi belum melakukan hubungan suami-istri. Kejadian lain yang sama kasusnya sebagaimana di atas dan saat ini muslimah tersebut sedang dihadapkan pada pinangan beberapa ikhwah yang hanif lagi komitmen terhadap syariat dan mereka berkeinginan untuk menikahinya. Kedua muslimah tersebut saat ini sedang dirundung kegalauan dengan perkara yang sedang mereka hadapi. Manakah yang lebih utama dilakukan bagi muslimah yang sudah terlanjur melangsungkan akad nikah ini, apakah dia harus memberitahukan suaminya kejadian tersebut sebelum berhubungan intim ataukah lebih baik dia merahasiakannya? Dan bagi muslimah yang belum melangsungkan pernikahan, apakah dia tetap merahasiakan perkara tersebut karena khawatir tersebar keburukannya dan prasangka buruk orang-orang kepadanya meskipun hal ini terjadi pada masa kecilnya dimana pada saat itu dia belum akil balig, ataukah hal ini termasuk perbuatan curang dan berkhianat, apakah perlu memberitahukan kepada lelaki yang datang meminang dan bertujuan menikahinya?

Mereka para Ulama menjawab:

Secara syari’at bukanlah sebuah dosa apabila pihak wanita merahasiakan hal tersebut. Namun, ketika suaminya menanyakannya setelah berhubungan badan maka hendaklah dia menyampaikan yang sebenarnya. (Syekh Abdul Aziz Bin Baaz dan Syekh Abdur Razzaq ‘Afifi, Fatawa Allajnah Addaaimah, 5/19)

2- Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah mengungkapkan:

Jika dia mengakui bahwa kegadisannya telah lenyap dalam kejadian yang bukan merupakan perzinaan, maka tidak ada dosa baginya, atau bahkan meskipun hilangnya kegadisan tersebut karena perbuatan keji seperti pelecehan seksual atau diperkosa, maka sesungguhnya hal ini tidak merugikan pihak suami. Jika memang setelah kejadian tersebut dia telah kedapatan haid seperti sediakala, atau karena perzinaan dan dia telah menyesal serta bertaubat. Karena bisa jadi hal ini dia lakukan saat  belum paham tentang syari’at lalu setelah itu dia menyesal dan bertaubat. Maka sudah tentu hal inipun tidak merugikan pihak suami sama sekali, dan tidak seharusnya suami menyebarluaskan kejadian tersebut bahkan sepatutnya dia menutupi aib istrinya, jika menurut dugaannya sang istri jujur dalam mengutarakannya dengan penuh kejujuran dan menampakkan keistiqomahannya, maka dia (suami) berkewajiban mempertahankan pernikahannya. Namun jika sudah tidak ada lagi kecocokan maka pihak suami boleh menceraikannya dengan tetap menutupi aibnya dan tidak menyebarluaskan hal-hal yang menyebabkan fitnah dan keburukan.” (Fatawa Syekh Abdul Aziz bin Baaz, 286-187/20)

Ketiga;

Jika seorang suami mensyaratkan agar istrinya masih gadis lalu dia mendapatinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, maka dia berhak menuntut Fasakh atau pembatalan pernikahan. Bila hal demikian diketahuinya sebelum melakukan hubungan suami-istri maka tidak ada sedikitpun mahar untuk istri. Namun jika dia mengetahuinya setelah melakukan hubungan suami-istri dan pihak istrilah yang mengelabuinya, maka dia berkewajiban mengembalikan semua maharnya. Apabila wali dari istrinya atau orang lain yang mengelabuinya, maka mahar wajib dibayarkan kepada sang suami.

 Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengungkapkan:

Jika salah seorang dari suami maupun istri mensyaratkan kepada pasangannya sifat-sifat tertentu, seperti kesempurnaan, kecantikan, ketampanan, kegadisan dan lain sebagainya maka yang demikian itu bisa dibenarkan. Dan yang memberikan syarat berhak membatalkan pernikahan apabila tidak sesuai dengan kriteria syarat yang diberikan. Ini merupakan salah satu riwayat yang paling benar dari Ahmad, dan salah satu pendapat yang paling benar dari As Syafi’i, dan pendapat dari mazhab Malik. Adapun pendapat yang lain menyebutkan, tidak berhak menuntut pembatalan pernikahan, kecuali jika syaratnya masalah  merdeka dan kesamaan dalam agama.” (Majmu’ Fatawa, 29/175)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Apabila mensyaratkan kesempurnaan fisik atau kecantikan, lalu ia mendapatinya buruk rupa, atau mensyaratkan masih muda belia, padahal kenyataannya sudah tua dan uban menyala di rambutnya, atau mensyaratkan berkulit putih, lalu kenyataannya berkulit hitam, atau mensyaratkan masih gadis, akan tetapi ia telah janda, maka dia (suami) boleh menuntut fasakh (pembatalan pernikahan) terhadap itu semua.

Jika suami belum berhubungan intim dengannya (apabila terjadi pembatalan pernikahan), maka tidak ada mahar bagi istri. Adapun jika sudah behubungan suami-istri maka istri berhak mendapat mahar yang telah ditentukan dan wali perempuan mendapat denda apabila memang walinya mengelabui sang suami. Jika istri itu sendiri yang mengelabuinya maka gugurlah kewajiban membayar mahar untuknya, atau suami bisa menuntut istrinya dari kedustaan yang telah dilakukannya. Imam Ahmad mengambil pendapat tersebut dalam salah satu riwayat dari beliau, karena riwayat tersebut lebih mendekati kias dan lebih sesuai dengan ushul mazhab beliau yaitu tentang jika suami yang memberikan syarat. (“Zaadul Ma’ad”,  5/184-185 )

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

Apabila kegadisan seorang perempuan hilang karena berhubungan yang halal atau tidak halal, maka bagaimana hukumnya dalam syari’at Islam jika seorang lelaki menikahinya dengan menyertakan dua kondisi :

  • Kondisi pertama: Apabila mensyaratkan kegadisan atau keperawanan.
  • Kondisi kedua: Apabila tidak mensyaratkan kegadisan atau keperawanan.

Apakah dia memiliki kewenangan untuk meminta fasakh ataukah tidak?

Beliau menjawab:

Yang sudah sama-sama dimaklumi di kalangan para ulama Fiqih adalah apabila seseorang menikahi seorang wanita dengan penuh keyakinan bahwa dia masih perawan, akan tetapi dia tidak menjadikan kegadisan sebagai syarat utama, maka tidak ada pilihan baginya (tidak memiliki hak membatalkan pernikahan). Di samping karena bisa jadi kegadisan itu hilang sebab kurangnya kepedulian seorang wanita terhadap dirinya sendiri, atau karena kecelakaan yang amat kuat sehingga merobek keperawanan, atau disebabkan perzinaan di bawah tekanan dan paksaan, maka selama kemungkinan-kemungkinan tersebut terjadi. Tidak ada alasan bagi seorang suami untuk menuntut fasakh dengan pernikahannya jika ia mendapati istrinya sudah tidak perawan lagi.

Adapun apabila suami mensyaratkan wajibnya kegadisan sang istri dalam akad nikahnya, dan ternyata dia mendapatinya sudah tidak perawan lagi, maka dia berhak memilih untuk menuntut fasakh atau melanjutkan pernikahannya. (Dikutip dari Kitab Liqoaat Albab Al Maftuh, 67/soal no. 13).

Berdasarkan hal tersebut, jika anda mensyaratkan pada saat akad nikah keharusan sebuah kegadisan atau keperawanan, bagi anda berhak menuntut kembali mahar yang telah diberikan, dan anda juga berhak menceraikannya jika memang anda berkehendak untuk itu dan anda merasa tidak nyaman lagi hidup bersama istri anda. Adapun jika anda tidak mensyaratkan kegadisan pada saat akad nikah, maka sama sekali anda tidak berhak untuk menuntut kembali mahar yang telah diberikan.

Nasehat yang diberikan dalam hal ini adalah hendaknya anda tetap hidup bersama istri anda dan menutupi aibnya. Jika memang dia telah bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya dan ada indikasi serta kemauan dia telah istiqomah dalam menjalankan syari’at agama.

Wallahu A’lam.. [sumber:Islamqa.info].