Asal Usul Sejarah Valentine's Day

Asal Muasal Valentine’s Day

(wahdahjakarta.com) – Valentine’s Day konon berasal dari kisah hidup seorang Santo (orang suci dalam Katolik) yang rela menyerahkan nyawanya demi cinta orang lain. Dia adalah Santo Valentinus. Namun sejarah Gereja sendiri tidak menemukan kata sepakat tentang siapa sesungguhnya sosok Santo Valentinus sendiri.

Bahkan banyak yang kemudian mengakui bahwa kisah mengenai Santo Valentinus sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat dan diyakini sekedar mitos belaka. Sebab itu, Gereja telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.

Ada banyak cerita tentang Santo Valentinus. Sekurangnya ada 2 nama Valentine yang diyakini meninggal pada 14 Februari.

Versi Pertama, menceritakan bahwa Santo Valentinus merupakan seorang Katolik yang berani mengatakan di hadapan Kaisar Cladius II penguasa Roma bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan menolak menyembah dewa dewi orang Romawi. Kaisar sangat marah dan memerintahkan agar Valentinus dimasukkan ke dalam penjara. Orang-orang yang bersimpati pada Valentinus diam-diam menulis surat dukungan dan meletakkannya di depan jeruji penjara. Tidak ada kisah tentang cinta dan kasih sayang.

Versi kedua, Kaisar Cladius II berkeyakinan bahwa, agar Kerajaan Romawi terus jaya membutuhkan tentara yang kuat. Super tentara ini menurut Kaisar hanya bisa dipenuhi oleh pemuda yang suci, yang tidak pernah menyentuh wanita. Maka Kaisar pun mengeluarkan surat larangan kepada semua pemuda di Roma untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita. Bagi yang melanggar nyawa taruhannya.

Diam-diam 2 tokoh Gereja yaitu Santo Valentinus dan Santo Marius menentang keputusan Kaisar. Secara diam-diam kedua tokoh Gereja ini tetap menikahkan pasangan muda yang ingin menikah dan menjadi konselor bagi kaum muda yang mengalami kendala dalam berhubungan dengan pasangannya.

Suatu waktu Kaisar Cladius II mendengar berita tersebut dan langsung memerintahkan penangkapan atas keduanya. Mereka langsung dimasukkan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Dalam versi ini, di dalam penjara Santo Valentinus jatuh hati pada anak seorang sipir, dan gadis ini juga jatuh pada Valentinus. Sang gadis sering mengunjungi Valentinus hingga kekasihnya itu dihukum mati.

Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga pada 14 Februari 496 M, Paus Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus. Hari Valentine ini kemudian dimasukkan dalam kalender perayaan Gereja. Namun pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal-muasal yang jelas. Sebab itu Gereja melarang Valentine’s Day dirayakan oleh umatnya. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan V-Day masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.

Nah, bagi kamu yang muslim, masih mau memperingati Valentine’s Day?
Tri Afrianti

Sumber:
The Dark Valentine, Era Muslm Digest
Edisi Edisi 5: The Dark Valentines, Ritual Setan yang Kini Dipuja

 

Kata terkait: valentine day, sejarah valentine, asal usul valentine, valentine dalam Islam

Saat Si Kecil Hadir ke Dunia

Saat Si Kecil Lahir ke Dunia

Ilustrasi : Si Kecil Lahir ke Dunia

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34)

Hal-hal ghaib, hanya diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, termasuk diantaranya apa yang ada di dalam rahim. Mengenai janin dalam rahim, ada beberapa hal yanga hanya diketahui oleh Allah. Antara lain, berapa lama janin akan berada dalam rahim ibu? Bagaimana kehidupan janin tersebut setelah lahir ke dunia? Akan seperti apakah amaliyah hidupnya? Bagaimana rizqinya? Apakah dia bahagia atau sengsara?Dan juga, apa jenis kelamin dari janin tersebut sebelum terbentuk?

Adapun setelah janin diciptakan, maka jenis kelamin yang dimiliki oleh janin itu bukan lagi bagian dari ilmu ghaib, karena dapat diketahui dengan panca indra dengan alat deteksi yang akurat. Deteksi ini dibolehkan dan tidak berarti ‘mendahului’ ketentuan Allah, akan tetapi hanya mengetahui apa yang telah Allah ciptakan. Adapun sebelum semuanya diciptakan oleh Allah, maka hal tersebut merupakan hal ghaib, dimana hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Yang terpenting, apapun jenis kelaminnya, hendaklah kita tetap ridha atas anugerah-Nya. Bukan hak kita untuk menentukannya. Jika jenis kelamin anak yang kita lahirkan tidak sesuai dengan harapan kita, maka tetaplah bersyukur, karena banyak orang yang tidak Allah berikan keturunan.

Lalu, hal-hal apa saja yang harus kita lakukan saat si kecil hadir dalam kehidupan kita?

  1. Mohon perlindungan untuk si kecil
    Mohonlah perlindungan agar syaithan tidak menggoda anak kita. Sorang bayi yang lemah tak berdaya, dia belum bisa memohon perlindungan untuk dirinya sendiri kepada Allah Maka kitalah sebagai orangtua yang harus memintakan perlindungan kepada pencipta-Nya. Istri ‘Imran saat melahirkan Maryam beliau berdoa:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.” (QS Al ‘Imran: 36)

  1. Hukum Adzan dan Iqomat di telinga bayi

Adapun membaca adzan dan iqomat di telinga bayi, sebaiknya ditinggalkan karena diperselisihkan oleh para ulama. Hendaklah kita merasa cukup dengan mengamalkan bimbingan Al Qur’an dan sunnah nabi yang shahih, yang tidak diperselisihkan oleh para ulama.

  1. Mentahnik bayi dan mendoakan keberkahan baginya

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ.

Artinya: “Sesungungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah didatangkan kepadanya bayi-bayi, maka beliau mendoakan keberkahan dan mentahnik mereka” (HR.Muslim no.2147)
Tahnik ialah mengunyah kurma kemudian meletakkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut bayi.
Hanya saja, berhati-hatilah terhadap orang yang tidak kita ketahui keshalihannya. Jangan sampai orang yang merokok melakukan tahnik bagi anak kita, karena bisa saja di mulut dan ludahnya terdapat racun yang berbahaya bagi bayi.

  1. Aqiqah

Aqiqah ialah menyembelih kambing di hari ketujuh, atau ke empat belas,atau ke duapuluh satu setelah kelahiran bayi.
Untuk bayi laki-laki 2 ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing.
Di hari ketujuh ini selain ‘aqiqah, disunnahkan pula mencukur rambut, menamai (jika belum ada), dan mengkhitannya.

Setiap yang disyariatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bermanfaat dan tidak selayaknya ditinggalkan.
Wallaahu a’lam.

[Tri Afrianti]

Sumber: Tuntunan Praktis dan Padat Bagi Ibu Hamil dari “A” sampai “Z” Menurut Al Qur’an dan As Sunnah yang Shahih

Kebutuhan Atau Keinginan?

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan Atau Keinginan?

Suatu hari penduduk Hims mengadukan beberapa permasalahan gubernur mereka, Said bin Amir kepada khalifah Umar bin Khaththab. Mereka adukan 4 hal: pertama, beliau tidak pernah menemui mereka hingga siang hari. Kedua, beliau tidak menerima tamu di malam hari. Ketiga, ada satu hari dalam sebulan dimana beliau tidak menemui atau menerima tamu sama sekali. Dan yang keempat, beliau terkadang pingsan tiba-tiba.

Setelah permasalahan tersebut ditanyakan Amiirul Mu’minin kepada sang gubernur, beliau menjawab, “Demi Allah, aku malu mengatakan ini. Aku tidak mempunyai pembantu, di pagi hari aku mengaduk kue untuk keluargaku, setelah siang baru menemui masyarakat. Sedangkan malam hari aku ingin memberikan waktuku hanya untuk Allah. Aku tidak bisa menerima tamu pada salah satu hari dalam sebulan karena aku harus mencuci satu-satunya baju yang sedang aku pakai ini dan menunggunya hingga kering, baru bisa keluar rumah. Dan aku sering pingsan karena takut dengan do’a sahabatku Khabab bin Adi tatkala ia dibunuh.”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini, betapa Sa’id bin Amir sang gubernur Hims sangat berhati-hati dengan harta. Beliau bisa saja mengambil haknya, yaitu harta sebagai gubernur namun beliau lebih memilih untuk menghindari dunia.

Berbeda sekali dengan orang-orang zaman sekarang yang justru berlomba-lomba memperbanyak harta, memperbanyak koleksi perhiasan dunia. Seringkali orang merasa gembira dengan segala tumpukan hartanya, dan merasa sempit dada ketika melihat barang lain lagi yang belum bisa terbeli.

Apakah haram memperbanyak harta? Tentu saja tidak, jika semua diniatkan untuk dibelanjakan fii sabiilillah. Jika semua harta yang dimiliki, ditujukan untuk ketaatan kepada Allah. Yang jadi masalah adalah saat barang-barang yang kita miliki hanya sekedar untuk koleksi saja. Padahal kelak semua harta yang kita miliki akan dihisab oleh Allah subhanahu wata’ala.

Berhati-hati dalam membelanjakan harta dan tidak berlebih-lebihan tentulah lebih diutamakan bagi seorang mukmin. Hidup adalah sekedar apa yang bisa dirasakan oleh panca indra. Hidup adalah sarana sekaligus perjalanan untuk menjemput kehidupan di akherat. Layaknya sebuah perjalanan, tentulah banyak tantangan dan cobaan yang dihadapi. Tantangan dan cobaan itu, bukan hanya menghindari perkara-perkara yang terang haramnya, namun juga perkara-perkara mubah yang berlebih-lebihan. Perkara mubah yang tidak dimanage dengan baik, akan melupakan kita dari tujuan hidup.

Sekali lagi, coba tengok berapa koleksi barang-barang di rumah kita, yang bahkan barang-barang tersebut sudah tidak kita pakai. Apa jawaban kita kelak saat ditanya di akherat?

Saat masuk ke tempat perbelanjaan, coba kita bertanya pada hati kita saat akan membeli, apakah benar-benar membutuhkan ataukah hanya sekedar keinginang saja? Semua akan ditanya di akhirat kelak. Semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, tentang hartanya, darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR at Tirmidzi no.2417 dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Albani dalam Ash Shahihah no.946).

Idealnya, seorang mukmin hatinya senantiasa terikat pada akhirat dan surga. Karena segala kenikmatan yang ada di dunia ini tidak lebih baik dan kekal daripada kenikmatan di akherat.

Tentu saja ini membutuhkan tekad yang kuat dan pembiasaan. Mari kita belajar dari pada generasi salafush shalih, karena merekalah generasi yang telah menimba dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

[Tri Afrianti]

Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid dapat masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].

Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da’iyah Saudi Arabia

Kajian Fi qh Muslimah Wahdah Jakarta

Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta

(Depok)-Wahdahjakarta.com – Awal tahun ini Muslimah Wahdah Jakarta kedatangan tamu istimewa dari Saudi Arabia, ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy. Beliau adalah seorang daiyah dan belajar khusus di bidang Adab dan Manajemen Amal. Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, keberadaan ustadzah Maha Humaymid al-Mamumy digunakan oleh Muslimah Wahdah Jakarta untuk memberikan acara spesial bagi para muslimah di wilayah Jakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Muslimah Wahdah Jakarta sejak dua bulan yang lalu secara rutin mengadakan kajian fiqh muslimah setiap hari jum’at di masjid pesantren Al Hijaz, Kompleks Pondok Laras Jl Komjen Pol. M. Yasin (Jl Akses UI) No 2E kelapa Dua Depok. Acara ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan pencerahan kepada muslimah terhadap agamanya.

Dan pada hari Jum’at tanggal 12 Januari 2018, acara taklim muslimah terasa begitu istimewa dengan kehadiran ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy sebagai pemateri. Taklim yang biasanya dilaksanakan dari jam 13.00 – 15.00 ini digeser pada jam 15.30 – 17.30 karena menyesuaikan jadwal pemateri. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah, “Izinkan Aku Mengenal-Mu”, satu tema bahasan fikih Asmaul Husna yang sangat menarik.

Ustadzah Maha menjelaskan tentang nama-nama Allah yang indah di antaranya Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudus, dan As Salam. Dengan mengenal dan memahami nama-nama Allah kita akan menjadi hamba yang bebas dan merdeka. Hati kita akan menjadi tenang dan bahagia karena yakin dan percaya bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya.

Penerjemah yang merupakan alumni LIPIA dan salah satu dosen di pesantren Al Wafa Bogor, Ustadzah Asiyah, Lc., turut andil dalam menciptakan suasana taklim sehingga terasa makin hidup. Beliau menerjemahkan materi dari ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy  dengan alur kalimat yang mudah dipahami peserta dan penyampaiannya begitu antusias.

“Alhamdulillah materinya bagus, menambah keimanan saya. Membuat saya semakin yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Jujur, Maha Benar, dan janji-Nya pasti. Kajian tentang Asmaul Husna tadi membuat saya harus bertahan dalam kesabaran karena semua yang diberikan Allah itu baik”, kata bu Tarti, salah satu peserta dari Depok.

Kajian muslimah yang dihadiri 58 peserta ini semakin meriah dengan banyaknya hadiah yang dibagikan kepada peserta yang aktif bertanya ataupun dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain memberikan ilmu tentang Asmaul Husna, ustadzah Maha juga sempat memberikan taujih kepada para da’iyah Muslimah Wahdah Jakarta di sesi selanjutnya setelah shalat maghrib. Beliau menyampaikan bahwa da’iyah harus selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal baik berupa tsaqofah, keterampilan (skill) maupun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’iyah. Dengan bekal ini diharapkan da’iyah mampu berdakwah di tengah masyarakat dengan baik. Seorang da’iyah juga harus selalu mampu membuat strategi dakwah yang kreatif namun tetap berlandaskan al Qur’an dan sunnah. Hal ini akan sangat mendukung keberhasilan dakwahnya.

Di akhir pertemuan dengan Muslimah Wahdah Jakarta, ustadzah Maha menyampaikan kesan beliau terhadap sambutan yang beliau dapatkan dari para muslimah. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa bersama para da’iyah yang menyambut saya seperti sedang bersama dengan keluarga sendiri. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kali. Insya Allah kita akan bertemu kembali bi idznillah”, tutur beliau.

#ummusanti

Izinkan Aku Mengenal-Mu (Fiqh Asmaul Husna)

Izinkan Aku Mengenal-Mu

Kajian Fiqh Asmaul Husna

Majelis Ilmu Muslimah Wahdah DKI Jakarta

Majelis Ilmu Muslimah Spectakuler Awal Tahun

Menghadirkan Pembahasan;

“Izinkan Aku Mengenal-Mu”,

Yang akan mengulas Fiqh Asmaul Husna

Bersama:

  1. Ustadzah Maha Humaymid Al-Mazmumy (Da’iyah dari Jeddah Saudi Arabia)

  2. Ustadzah Asiyah, Lc (Da’iyah Muslimah Wahdah)

Hari/Tanggal : Jum’at/ 12 Januari 2018
Waktu              : 15.30-17.30 WIB
Tempat            : Pesantren Al-Hijaz,Komp.RM Lesehan Pondok Laras, Jln. Komjen M. Jassin (eks. Jln. Akses UI), No. 2E, Kelapa Dua Depok

Pelaksana:

Muslimah Wahdah Wilayah DKI Jakarta

Pesantren Al-Hijaz Al-Khairiyyah Depok

Poligami Solusi yang Disalahpahami

Poligami solusi yang disalahpahami, baik oleh sebagian pelaku yang mempraktikannya maupun oleh para pembenci dan pencelanya. Ada yang menolak dan mencela secara mutlak. Ada pula yang mempraktikannya tanpa mengindahkan adab dan etika syar’i. 

Poligami, sebuah kata yang memiliki daya magis. Betapa banyak kata-kata yang akan muncul saat kata ‘poligami’ ini didengar. Ada ungkapan antusias dengan berbagai macam jenisnya. Ada yang mengecam, mencibir, dan menolak mentah-mentah. Sebaliknya, ada yang menanggapinya dengan penuh gairah.

Dalil tentang hal ini sudah sangat ma’ruf:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [QS. An-Nisa’: 3].

Banyak kisah yang menceritakan suka-duka poligami. Ada yang berakhir dengan kisah tragis, rumah tangga hancur, daftar janda semakin bertambah, terlebih lagi anak-anak yang menjadi korban perceraian atau kurang kasih sayang. Namun banyak pula kisah poligami yang berakhir dengan happy ending. Ia menjadi payung keindahan dalam kehidupan berumah tangga.

Dari sini dapat diambil pelajaran, bahwa seharusnya setiap Muslim adil dalam memandang masalah poligami. Islam menempatkan poligami sebagai salah satu solusi dalam kehidupan berrumah tangga. Asal hukum dari poligami adalah mubah, dengan syarat bisa berlaku adil. Dan hukum tersebut bisa berubah-ubah tergantung urgensinya bagi setiap rumah tangga, dengan melihat plus-minusnya yang berhubungan dengan situasi dan kondisi yang ada dalam rumah tangga masing-masing.

Jika dirasa dengan poligami, bisa semakin mengokohkan rumah tangganya kelak, maka poligami bisa menjadi solusi. Namun jika dirasa sebaliknya, maka sebaiknya menghindari. Mempertahankan rumah tangga yang sudah lama berjalan wajib hukumnya daripada mengambil jalan sunnah yang pada akhirnya bisa menghancurkan tanggyng jawab yang wajib.
Ibarat sebuah perusahaan, yang ingin membuka cabang baru, maka perlu mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan manajemennya. Jika perusahaan induk saja belum beres, maka bisa dipastikan perusahaan cabang ikut tidak beres.

Jika poligami itu perlu dilakukan, hendaknya dengan cara yang tepat, memperhatikan mudharat dan mashlahat ke depan secara kompleks. Dan yang paling penting mengindahkan hukum-hukum serta norma-norma yang diajarkan dalam Islam. Banyak kisah poligami gagal dikarenakan sejak awal dimulai dengan pelanggaran terhadap aturan Agama.

Semua itu menunjukan, bahwa poligami bukanlah hal yang sederhana, dan tidak layak untuk disederhanakan sedemikian rupa. Bukan juga dianggap sebagai permainan, hal yang remeh, dan menjadi media pemuas nafsu belaka.

Syari’at poligami haruslah dipandang sebagai salah satu solusi, namun bukan satu-satunya solusi. Sebagai sebuah solusi, maka ia tak harus menjadi bingkai atau hukum yang sama. Bagi sebagian orang poligami bisa menjadi solusi untuk kebahagiaan rumah tangganya. Namun belum tentu menjadi solusi bagi rumah tangga yang lain. Bahkan bagi sebagian orang bisa menjadi petaka kehancuran rumah tangganya.

Jadi, mari letakkan poligami secara proporsional dalam kehidupan kita. Tak usah memandang buruk pada orang yang mengamalkannya. Namun sebaliknya jangan sekali-kali membanggakan diri karena telah menjalankannya kalau ternyata beragam kemungkaran dilakukan demi poligami yang seolah-olah menjadi cita-cita.

Segala yang dilakukan tanpa meneladani Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan dilakukan dengan serampangan pasti akan berakhir buruk. Namun segala sesuatu yang dilakukan dengan mengikuti i petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pasti akan berbuah kebaikan. [Tri .A/ed:sym].
Jakarta, 3 Januari 2018

Cinta dan Makna Kerinduan

Cinta dan Makna Kerinduan
Ada saatnya aku harus pulang
Karena rindu karena hasrat menggebu
Buat menjengukmu dan anak-anak kita
Sebuah muara tempat gelombang beradu.
[Suminto A. Sayuti; Pada Saatnya Aku Harus Pulang]

RINDU. la adalah kata yang mengekspresikan gejolak jiwa untuk menghargai makna kehadiran dan kebersamaan. Jiwa yang diluluri cinta tidak akan tahan untuk berlama-lama dalam keterpisahan. Ada batas waktu tertentu yang dapat ditoleransi, tetapi lamban dan pasti ia akan diserang dahaga kerinduan. Saat itulah ia membutuhkan air yang menyejukkan: pertemuan.

Kerinduan bagi pasangan kekasih, suami istri, merupakan tanda cinta di antara keduanya. Ia memang jauh lebih berharga dari segala bentuk oleh-oleh dan hadiah yang dibawa saat kepulangan. Kerinduan memiliki dua wajah yang sangat menawan hati suami istri yang saling mencintai: Perhatian dan tanggung jawab. Perhatian merupakan wujud nyata untuk mengetahui keadaan sang kekasih; dalam kondisi apa saat ini, saat ia bersama kesunyian dan kesendirian. Sementara itu, tanggung jawab adalah keadaan jiwa untuk berbuat yang terbaik bagi sang kekasih sebagai ganti dan garansi atas perpisahan itu.

Dua wajah itu ada pada para suami yang merindukan istrinya. Saat berjauhan adalah saat yang paling membebani mereka. Ada ruang kosong tempat hati harus ditambatkan secara halal. Selama tidak ada kekasih yang hadir secara nyata di dekat kita, maka hanya kenangan¬-kenangan yang hadir menggantikannya. Namun, ia hanya mengobati untuk sementara. Sebait sajak yang ditulis Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah berikut merekam kerinduannya yang dalam pada Ramlah binti Az-Zubair bin AI-Awwam.

Setiap malam kerinduan tiada mereda
Setiap hari kuingin berdekatan dengannya
Tiada sesaat pun ingatanku beralih kepadanya
Setiap waktu aku harus menepis derita

Begitulah, ketika kerinduan itu sedang bergejolak, maka ruang kosong itu harus segera diisi. Selama belum terisi maka iman kitalah yang kita jadikan benteng pertahanan diri. Iman menjadi benteng agar kita tidak mengisi ruang kosong kerinduan itu dengan kemaksiatan. Jika sebagai suami kita merasakan kerinduan yang luar biasa, maka hal yang sama dapat terjadi pada istri kita. Ia lebih membutuhkan kehadiran kita. Ia jauh lebih tersiksa ketika merindukan suaminya.

Kisah berikut mungkin telah akrab dalam ingatan kita. Namun, saya akan menghadirkan kembali sebagai gambaran nyata tentang adanya tarikan banyak kutub, selama kerinduan tidak kunjung menemui obatnya. Gejolak cinta, tarikan iman, dan dorongan untuk berbuat kemaksiatan menjadi fragmen yang mengkhawatirkan.

Jarir bin Hazim berkata dari Ya’la bin Hakim, dari Sa’id bin Jubair, dia berkata: Sudah menjadi kebiasaan Umar bin Khathab untuk keliling kota Madinah. Suatu malam ia berkeliling kota. Dia menjumpai seorang wanita di dalam rumahnya menggumamkan sajak.

Malam ini terasa panjang dan gelap gulita
hatiku pilu karena tiada kekasih di sampingku
andaibukan karena Allah yang tiada Rabb selain-Nya
tentu masih ada kehidupan di atas ranjang ini
tapi aku dihinggapi takut kepada-Nya ada rasa malu menghantui
maka akan kujaga kehormatan suami semoga dirinya lekas kembali

Setelah itu wanita tersebut menghela nafas dalam¬-dalam. Ada sesak di dada. Lalu ia berkata, “Mestinya apa yang kualami pada malam ini merupakan masalah yang amat remeh bagi khalifah Umar bin Khathab.

Rindu akan terobati oleh kehadiran kekasih yang dinantikan. la menghajatkan keberadaan fisik sang kekasih untuk bersua. Saat itulah rasa rindu menemukan jawabannya. Akan tetapi, jika keadaan itu terasa susah terpenuhi, maka menjalin komunikasi yang intens dengan istri, di mana pun kita berada, merupakan obat penawar segala kerinduan itu. Istri juga memiliki hak untuk memiliki kita dan mengharapkan kehadiran kita di sisinya. “Dan, para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (terj. QS. Al-Baqarah: 228).

Itulah sebabnya, ketika kita akan bepergian, pesan dari istri yang mengiringi pesan berhati-hati adalah, “Segera kirim kabar kalau sudah sampai.” Kerinduan untuk bersama menghadirkan kekhawatiran akan keselamatan suaminya. Oleh karena itu, kesadaran yang harus muncul ketika seorang suami dalam bepergian, dan saat itu tugas telah terselesaikan adalah keputusan nyata untuk segera bertemu dengan istri dan keluarga. Seperti sajak Suminto A. Sayuti di atas; ada saatnya aku harus pulang/ karena rindu karena hasrat menggebu/ buat menjengukmu dan anak-anak kita.
(Sumber: Buku “Segenggam Rindu Untuk Istriku”.

Adab Menguap Dalam Islam

Adab Menguap

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Islam adalah agama yang telah Allah sempurnakan bagi ummat manusia. Begitu pula dengan ajarannya, di dalamnya telah dijelaskan dengan sangat detail, di antaranya adalah adab ketika menguap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan adab tersebut. Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin tidak memperhatikan adab tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka malah mengikuti cara-cara tidak Islami ketika menguap. Mulut mereka dibuka lebar-lebar dan tidak ditutup, bahkan terkadang di iringi dengan suara yang keras.

Menguap dibenci oleh Allah Jalla wa A’laa, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap, maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan Alahamdulillah). Dan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengar untuk mendoakannya. Adapun menguap berasal dari syaitan, hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin. Dan bila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu syaitan menertawakannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itu selayaknya seorang muslim benci menguap sebagaimana Allah membencinya. Dan yang menyebabkan dimakruhkannya menguap adalah karena hal ini berasal dari syaitan, dan syaitan tidak akan menghinggapi sesuatu kecuali pada hal-hal yang jelek dan yang dibenci. Lagi pula, menguap membuat seseorang banyak makan yang pada akhirnya membawa kemalasan dalam beribadah.

Terlebih pada saat shalat, seorang muslim disunahkan untuk menahannnya sekuat mungkin karena itu dari syaithan, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa hendaklah seorang muslim jika menguap berusaha untuk menahannya sedapat mungkin. Jika ia tidak dapat menahan mulutnya tetap dalam keadaan tertutup, maka hendaklah ia menutupinya dengan tangannya. Dan lebih utama menutup mulut dengan tangan kiri karena menguap merupakan perbuatan yang buruk.

Wallahu a’lam
Tri Afrianti

Sumber:
Buku Adab Menguap dan Bersin (Adaabut Tatsaa’ub wal ‘Uthaas) Syaikh Isma’il bin Marsyud Ar Rumaih

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Bagi anda para muslimah yang sedang bingung mengisi liburan akhir tahun kali ini ..
Yuks jangan sampai terlewatkan kesempatan berlibur penuh makna bersama Alquran
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Daftarkn diri anda segera dan dapatkan diskon 10% bagi 3 orang pendaftar pertama
ONLY MUSLIMAH
📶 Kuota Terbatas
📝 PERSYARATAN:
1. Muslimah usia 17-25, tahun
2. Mampu membaca Al Qur’an
4. Sehat jasmani & rohani
5. Tidak membawa anak kecil
🎯 TARGET :
3 JUZ 🎁 *FASILITAS
– Asrama – Makan 3x sehari – Pembimbingan hafalan dengan waktu yang intensif
– Mesin Cuci
📌 PENDAFTARAN :
1 – 15 Januari 2018
📩 Cara Daftar

  1. DAFTAR ONLINE
    Ketik NamaPeserta#Kampus#Alamat#
    Kirim ke 085331273578(SMS/WA)
    Ex: Maryam#UI#Cimanggis,Depok#
  2. DAFTAR LANGSUNG DI LOKASI

    📆 *MULAI PROGRAM*
    15-22 Januari 2018 🎀 INFAK PESERTA : Rp 300.000 ☎ *HUBUNGI* 085331273578 / 0217751254

📍LOKASI
RUMAH TAHFIDZ ASSAKINAH
jl. Fatimah bawah No 26 Rt 02 Rw 14 Kel.Kemiri Muka Kec. Beji Depok Jawa Barat
🏢Presented By
Rumah Tahfidz Assakinah
Yayasan Al Hijaz Al khaeriyah indonesia