Suami Meninggal Setelah Akad Nikah,  Istri Berhak Mewarisi Hartanya?

Pertanyaan: 

Jika seorang laki-laki telah melakukan akad nikah dengan wanita dan belum berhubungan suami istri, lalu salah satu dari keduanya meninggal dunia, maka apakah mereka berdua sudah bisa saling mewarisi hartanya ?

Jawaban

Jika akad nikah sudah dilaksanakan dengan syarat dan rukunnya yang lengkap, kemudian salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri, maka akad nikahnya tetap ada dan masing-masing saling mewarisi hartanya berdasarkan keumuman firman Allah –Ta’ala-:

 وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّهُنَّ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ  سورة النساء /12

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu”. (QS. An Nisa’: 12)

Ayat ini umum bagi siapa saja yang meninggal dunia meninggalkan istri, baik sebelum berhubungan suami istri maupun sudah melakukannya. Jika akad nikah sudah sempurna lalu salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum melakukan hubungan suami istri, maka hukum pernikahan tetap ada dan masing-masing dari keduanya sudah bisa saling mewarisi sesuai dengan keumuman ayat yang mulia di atas.

Demikian pula jika mahar belum diserahkan maka istri berhak memperoleh mahar yang telah disepakati dan disebutkan dalam akad nikah.

Abu Daud meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– pernah ditanya tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri antar keduanya dan belum dipastikan pembayaran maharnya. Beliau menjawab:

  لَهَا الصَّدَاقُ كَامِلًا ، كصداق نسائها ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ وَلَهَا الْمِيرَاثُ

Ia berhak menerima mahar sepenuhnya, seperti mahar para wanita sekitarnya, ia juga mempunyai masa iddah dan berhak menerima warisan juga”.

Ma’qil bin Sanan –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memutuskan Birwa’ binti Wasyiq seorang wanita di daerah kami, sama dengan apa yang engkau putuskan”. (Dishahihkan oleh Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 1939).

Sumber: Islamqa.info.id

Istri Mengambil Harta Suami Untuk Putranya Tanpa Sepengetahuannya

Bolehkah Istri Mengambil Harta Suami

Bolehkah Istri Mengambil Harta Suami ?

Pertanyaan: 

saya telah melangsungkan pernikahan putra saya setahun yang lalu, dan biaya yang dihabiskan untuk acara itu amatlah banyak, sungguh saya telah membelanjakan banyak uang padahal suami saya bersumpah bahwa dia tidak akan membayarkan sisa uang yang telah dipakai. Saya sendiri belum melunasi semua tanggungan yang dibutuhkan saat pernikahan, padahal sayalah yang menyimpan uang suami akan tetapi saya tidak mempunyai uang yang khusus milik saya. Maka saya terpaksa mengambil sejumlah uang suami yang saya simpan tanpa sepengetahuannya, dan saya tidak bisa mengungkapkannya kepada suami. Akan tetapi demi Allah semua yang saya ambil untuk kebutuhan beban biaya pernikahan, dan sekarang saya tidak tahu apa yang akan saya perbuat? Apakah saya telah berdosa?

Jawaban:

Pertama:

Wajib atas seorang ayah menjaga kehormatan putranya dengan pernikahan, khususnya apabila hal tersebut diminta olehnya dan dia memang sangat menginginkan pernikahan  sebagai benteng dari segala macam fitnah dan untuk menjaga kemaluannya. Lihat jawaban soal no. 83191, dan no. 87983.

Kedua:

Sudah selayaknya berhemat dalam pembiayaan pernikahan, dan tidak sampai melampaui batas-batas kesederhanaan. Jangan sampai membelanjakan sesuatu yang berlebihan dan sia-sia atau mubazir sebagaimana yang saat ini dilakukan oleh kebanyakan orang.

Ulama Al Lajnah Ad Daaimah berargumen: “Pembiayaan dan dana yang anda belanjakan untuk pernikahan putra anda yang mencapai setengah juta real termasuk pemborosan yang dilarang. Dikhawatirkan karena anda melakukan hal demikian anda akan mendapatkan  siksa. Kecuali apabila anda bertaubat kepada Allah Ta’ala dan anda tidak lagi melakukan perbuatan tersebut, karena sesungguhnya harta tersebut adalah harta Allah Ta’ala, dan makhluk ini hanya diberikan wewenang untuk mengelolanya, syariat islam yang suci telah menegaskan tentang bagaimana mestinya kita mengelola harta benda ini, maka syariat melarang pemborosan  dan mubadzir, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما (سورة الفرقان: 67)

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian ”. (QS Al Furqan: 67)

Maksudnya adalah: Mereka tidak berlebih-lebihan dengan melampaui batas dalam kedermawanan dan membelanjakan harta dalam kemaksiatan, dan mereka juga tidak kikir dengan sangat membatasi pembelanjaan sebagaimana prilaku orang-orang yang pelit. Akan tetapi sifatnya antara yang demikian, yaitu; tidak berlebih-lebihan dan tidak pelit. Maksud dari tengah-tengah ialah; Seimbang dan bijaksana.” (Diringkas dari: Fatawa Al Lajnah Ad Daaimah  secara ringkas, 16/220-221).

Ketiga:

Seorang istri tidak boleh membelanjakan harta suaminya melainkan dengan persetujuannya, kecuali bila suami sangat kikir terhadap istri dan anak-anaknya serta tidak menunaikan kewajiban terhadap Allah dengan membelanjakan dan memberikan nafkah yang wajib atas mereka. Pada kondisi seperti itu barulah sang istri boleh mengambil dari harta suami secara wajar dan sebatas untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Adapun apabila suami tidak berlaku bakhil terhadap putranya dan membelanjakan dalam pernikahannya  secara wajar dan tidak kikir, bahkan ia membelanjakan untuk keperluannya sesuai dengan kelapangan kondisinya, maka tidak diperkenankan bagi anda mengambil sesuatu pun dari harta bendanya meskipun hal itu untuk pembiayaan keperluan pernikahan putra anda. Anda telah menyebutkan bahwa kalian telah membelanjakan dan mengeluarkan biaya yang banyak dalam pernikahan ini. Maka jika pembiayaannya telah lunas dari apa yang dianggap cukup menurut kebiasaannya sebagaimana kasus putra anda ini, dan tidak ada lagi biaya yang dibutuhkan lebih banyak dari itu. Maka apa yang telah anda ambil dari harta benda suami anda termasuk melampaui batas atas harta suami anda.

Apabila memang beban pembiayaan ini sudah menjadi suatu yang lumrah untuk sebuah pernikahan di negara kalian, dan siapa saja yang kondisinya  sama dengan kondisi kalian ; maka hendaklah anda melunasi beban pembiayaan atas pernikahan putra anda dengan sesuatu yang tidak merugikan harta ayahnya dan membebaninya.

Seharusnya anda memelihara dan menjaga hak Allah dalam harta benda ini dan menjaga hak-hak suami sebagai pemilik harta. Serta menjaga kemuliaan sumpah yang telah diucapkan serta menjaga kemashlahatan putra-putra anda yang lain. Maka hendaknya anda bertaubat dan beristighfar. Wajib atas anda meminta kehalalan dari suami dengan memberitahukannya tentang apa yang telah anda perbuat. Anda juga harus memita maaf kepadanya serta meminta kerelaannya.

Keempat:

Akan tetapi apabila anda menganggap jika berterus terang kepada suami akan berdampak negatif bagi hubungan di antara kalian. Jika hal tersebut membuat suami anda akan murka kepada anda, dan memperburuk kehidupan rumah tangga antara kalian berdua. Maka tidak wajib bagi anda memberitahukannya apa yang telah terjadi berupa apa yang telah anda belanjakan dari kekurangan biaya pernikahan. Jika anda telah memiliki uang dari gaji bulanan anda atau dari harta warisan atau semacamnya. Maka kembalikanlah harta suami anda sebagai ganti dari hartanya yang telah anda ambil tanpa sepengetahuannya. Akan tetapi jika anda tidak memiliki harta benda apapun. Maka bertaubatlah kepada Allah dan memohon ampunan-Nya dari apa yang telah anda perbuat. Tetaplah berusaha untuk senantiasa berbuat baik kepada suami anda semampu apa yang bisa anda lakukan serta jagalah hak-haknya. Semoga Allah mengampuni anda dan memperbaiki hubungan kalian berdua.

Wallahu A’lam.

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Amukan Tsunami

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Tsunami

Mobil Fidya, korban selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami Palu, Jum’at (29/09/2018) lalu. Photo:Fidya/hidcom.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

 

Mobilnya rusak parah habis diamuk tsunami. Sekujur bodinya tergores parah dan tersayat-sayat. Bodinya penyok dan bampernya copot. Lampu , ban,  dan spion lepas tak berbekas.

Tapi ajaib. Pengemudi mobil itu selamat. Jangankan luka parah, yang ada hanya goresan kecil di kakinya.

“Sampai sekarang saya seperti mimpi (masih) hidup,” ujar Fidyawati, sang pengemudi dan pemilik mobil itu.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

Sore itu sebelum kejadian, Fidya sedang dalam perjalanan pulang dari kampusnya, Stikes Widya Nusantara (Stikes WNP) di Jl Universitas Tadulako, Palu.

Roda empat yang dikendarainya bergerak dari arah Tondo menuju rumahnya di Jl Cemara, Kecamatan Palu Barat. Sendirian di dalam mobil, ia melewati jalan raya menyisir Pantai Talise, rute yang memang biasa ia lewati bolak balik rumah-kampus.

Sambil melantunkan shalawat atas Nabi, mengikuti irama senada dari tape mobilnya, Fidya fokus berkendara. Ia ingin cepat sampai di rumah untuk menunaikan shalat maghrib.

Tiba-tiba, saat posisinya berada tidak jauh dari pertigaan Jl Talise dan Cut Mutia, ia terkejut, laju mobil dihentikan. Disaksikannya pemandangan mengagetkan. Berbagai jenis sepeda motor dan penumpangnya terjatuh, mobil-mobil saling bertabrakan di depannya. Orang-orang pada berlarian meninggalkan kendaraannya sambil berteriak-teriak.

“Gempaaaaa… Aiiiiiirrrrr… Tsunamiiiiiii…!!!

Bersamaan dengan teriakan itu mobil terasa diayun-ayunkan sangat keras. Saya menengok ke arah kanan jendela dari dalam mobil. Saya melihat air itu berdiri di dekat saya dan sangat tinggi berwarna hitam, seakan marah,” tutur Fidya di Palu kepada hidayatullah.com, Sabtu pertengahan Oktober 2018.

Itulah detik-detik “alam mengamuk” dan mulai meluluhlantakkan ibukota Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan 7,4 skala richter terjadi pada pukul 18.02 WIB atau pukul lima sore waktu Palu, disusul tsunami sekitar 6 menit kemudian.

Detik-detik itu pula kepanikan melanda. Di dalam mobil, Fidya mengencangkan shalawat yang diputar dan diucapkannya. Rumahnya sudah berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari tempatnya saat itu. Tapi, tiada lagi kesempatan untuk melarikan diri apalagi pulang. Ia memilih menunduk, memegang erat setir, mematikan mesin mobil, dan menutup kedua matanya. Dipasrahkan segalanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ia merasa dunia seperti sudah kiamat. Berbaris-baris doa ia panjatkan.

“La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil adzim….

La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntumminadzalimin.

(Saya) memohon perlindungan dan pertolongan Allah dari ‘kiamat’ itu,” ungkapnya.

Beruntung. Saat gelombang tsunami menghantam dan menyeretnya, mobil Fidya tidak langsung terbalik dan terbentur. Hanya terseret. “Seakan saya naik perahu yang didorong dari belakang mobil dengan ombak.”

Hitungan detik, ia membuka matanya, ternyata mobil yang ditumpangi sudah terseret sejauh 30-an meter dari jalan raya tadi, terdampar di halaman rumah penduduk setempat. Tapi bencana belum berakhir.

“Saya tengok lagi ke arah kanan saya dari jendela mobil, air laut berdiri lagi lebih tinggi dari yang pertama, dan membawa, mengisap reruntuhan bangunan, mobil, motor, serta semua orang-orang yang berada di pinggir pantai.”

Melihat semua itu, badan dan bibirnya gemetar. “Saya menutup mata lagi dan berdoa sambil berderai air mata. Seakan hari itu adalah hari terakhir saya hidup di dunia ini.”

Hempasan tsunami yang kedua ini sangat keras dan deras. Mobil yang Fidya kendarai pun terbentur bangunan yang runtuh, lalu tersangkut di atap rumah. Benturan itu keras, tapi keajaiban kembali terjadi.

“Di sini saya sempat kaget karena lihat balok seperti besar tiang rumah mengarah pas mukaku. Tapi tidak masuk dalam mobil sama sekali. Hanya memecahkan kaca mobil. Kaca mobil berhamburan di mukaku tapi sama sekali tidak luka di mukaku. Mukaku tidak luka sama sekali. Benar-benar kuasa Allah Yang Maha Melindungi dan Menolong,” tuturnya begitu terkesan.

Lewat lubang kaca depan yang pecah itulah, Fidya keluar sambil membawa tasnya. “Saya keluar mobil dalam keadaan bersih dan goresan luka kecil di kaki. Alhamdulillah air setetes pun tidak ada (masuk ke) dalam mobil.”

Langit sudah gelap, saat kedua kaki Fidya melangkah hati-hati di atas reruntuhan rumah. Ia amati sekelilingnya, disaksikannya suasana sangat mencekam. Suara tangisan terdengar dimana-mana. Orang-orang pada berteriak minta tolong. Mayat-mayat bergelimpangan di depan matanya.

Ia menengok ke belakang, tampak seorang ibu dan anak serta seorang kakek paruh baya yang juga selamat dari tsunami. Fidya bergegas mencari jalan turun dari atap rumah. Ia pun memegang ujung pohon bambu yang berada di belakang tembok atap rumah itu. Tak lupa ditolongnya ibu dan anak tadi untuk turun juga.

“Kami pun berlari-lari sekuat-kuatnya sambil berpegang tangan dan melafadzkan ‘La ilaha illallah’. Di perjalanan saya banyak melihat orang berlarian tak menentu dan penuh kegelisahan. Seakan kiamat itu telah tiba. Ya memang hari itu kiamat sughra. Tak terasa saya berjalan tanpa alas kaki dan tidak tahu posisi saya dimana, karena semua jalan gelap. Saya sangat kehausan. Tidak lama kemudian saya mendapatkan air dan roti yang berhamburan di jalan, lalu saya ambil dan makan.”

Bersyukur

“Allahu Akbar, Allahu Akbar… La ilaha illallah!”

Adzan isya terdengar dikumandangkan dari masjid sekitar Fidya, entah dimana. Ia segera menunaikan shalat di atas trotoar. Usai bersimpuh kepada Allah, ia berjalan ke arah atas, kawasan pemukiman yang lebih tinggi, ia mengenalinya kawasan Jl Cik Ditiro. “Di situlah saya diberikan sendal oleh bapak yang saya tidak kenal.”

Ia melanjutkan perjalanan ke arah atas dan berhenti di depan toko baju yang berantakan karena gempa. Di sini, Fidya mengganti pakaian dengan gamis yang diberikan oleh pemilik toko tersebut. Awalnya ia berniat ngutang, tapi karena tidak mau meninggalkan utang dalam keadaan seperti itu, ia memilih membeli baju pemberian tersebut.

“Karena saya takut meninggalkan utang jikalau hari itu adalah kesempatan terakhir saya hidup. Saya pun membayarnya.”

Perjalanan dilanjutkan, tapi mengarah ke bawah. Satu tujuan yang hendak dicapai, kediaman Pimpinan Pusat Al Khairat Sulawesi Tengah, Habib Saggaf bin Muhammad Al-Jufri. “Karena saya mengingat mertua dan keluarga suami saya semua di sana.”

Hanya sekitar 5 meter berjalan kaki, tiba-tiba ada seseorang naik sepeda motor, memakai baju putih, yang menawarkan diri mengantar Fidya ke kediaman Habib Saggaf. Ia pun turut.

“Laki-laki yang baju putih bawa motor saya tidak kenal, tapi dia bilang kalau dia juga korban yang selamat dari tsunami pas dia lagi di Palu Grand Mall. Saya lupa tanya namanya.”

Sekitar pukul 22.00 WITA, Fidya pun tiba di kediaman Habib Saggaf. Artinya, sekitar 6 jam ia melewati suasana mencekam sejak kejadian sore itu. “Alhamdulillah saya sampai dan berkumpul dengan keluarga suami.” Saat peristiwa itu, suaminya sedang dinas di Jakarta, sedangkan anak semata wayangnya tengah berada di Kabupaten Toli-Toli Sulteng.

Keesokan harinya, Sabtu (29/09/2018), Fidya kembali mendatangi lokasi kejadian dimana mobilnya terdampar. Kendaraan yang setia menemaninya kemana-mana ini kondisinya sangat mengenaskan. Terperosok dan tertindih puing-puing bangunan.

Mobil yang rusak parah itu tentu menelan kerugian ratusan juta rupiah bagi Fidya sekeluarga. Ia masih belum tahu mau diapakan. Tapi itu bukan masalah.

“Saya tidak pernah menghitung apa yang telah Allah titipkan buat saya apalagi harta benda (mobil) rusak ataupun hilang, mau ratusan juta atau berapa lah harga mobil,” tuturnya.

“Saya sama suami tidak pusing atau memikirkan masalah kerugian. Karena itu bukanlah milik saya, hanya Allah menitipkan harta pada saya. Kalau rusak berarti sudah waktunya Allah mengambil titipan itu dari saya. Nyawa atau keselamatan lebih berharga dibandingkan harta benda yang rusak.

Tapi saya sangat bersyukur, harta benda (mobil) yang Allah titipkan kepada saya bisa (menjadi wasilah) melindungi saya dari ‘kiamat’ itu,” ungkap mahasiswi berjilbab ini dengan mantap.

Yang membuatnya juga semakin bersyukur sekaligus takjub, ada korban selamat lainnya yang terjebak dalam mobil saat tsunami, tapi keluar dari mobil dalam keadaan luka parah. “Yang saya heran juga, tidak trauma sama sekali yang saya rasa, padahal orang-orang semua trauma.”

Beberapa bulan lalu, Fidya masih bekerja sebagai perawat di RSUD Anutapura Palu. Saat gempa magnitudo 7,4, Jumat (28/09/2018) itu, gedung berlantai 4 ini ambruk. Bangunannya terpisah jadi 2 bagian, yang satu sisinya tenggelam bersama seluruh pasien dan perawat yang bertugas.

Kalau boleh berandai-andai, sekiranya saat kejadian itu Fidya sedang bertugas di RS tersebut, tentu kisahnya akan berbeda. Itulah hikmah tersendiri atas keputusannya berhenti bekerja (resign) dari RS itu. “Resign (karena) pas lanjut kuliah 5 bulan lalu,” tuturnya.

Wanita kelahiran Toli-Toli, Jumat, 12 Oktober 1990 ini, betul-betul meresapi dan mengambil pelajaran dari serentetan kejadian serta keajaiban yang dialaminya itu.

“Semoga saya yang diberikan kesempatan hidup ini dapat merasakan nikmatnya iman setelah ‘kiamat’ itu terjadi. Di tengah penderitaan luka dan duka, semoga kita dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’la,” pungkasnya berpesan. (MAS)

Sumber: Hidayatullah.com

Kisah Haru Ibu Jamila Lari Kencang Saat Hamil Tua

Kisah Haru Ibu Jamila Lari Kencang Saat Hamil Tua

Ibu Jamila (tengah) di Posko Pengungsian Muslimah Wahdah Islamiyah Makassar

Kisah Haru Ibu Jamila Lari Kencang Saat Hamil Tua

(Makassar) wahdahjakarta.com– Rasa syukur tak henti-hentinya terucap. Karena ia dapat melahirkan anak ke empatnya dalam keadaan selamat. Merasa terharu perjuangannya dari kota Palu ke kota Makassar tidaklah mudah, meninggalkan tempat tinggal dan rumahnya yang hancur di Perumnas Baraloa Palu.

Seakan tak percaya bahwa atas kuasa Allah, ia dan keluarganya dapat selamat dari musibah itu. Masih teringat di benaknya saat gempa yang terjadi saat itu. ia bersama suami dan anak ketiganya tidak ada di rumah. Mereka berada di Swalayan. Sedangkan kedua anaknya ada di rumah.  Saat detik-detik kejadian,  ia masih di dalam Swalayan, karena lupa masih ada kebutuhan yang belum dibeli. Sementara suami dan anaknya di luar.

Saat mulai terjadi goncangan. Ia berusaha menyelamatkan diri bersama  suami dan anaknya tercinta. Saat masih tergoncang mereka masih berada di dalam swalayan. Sampai-sampai pengunjung yang juga terjebak di dalam saling memeluk satu sama lain, yang jumlah mereka sepuluh orang. Ia meyaksikan kejadian yang mencekam. Bangunan yang di atas menjadi ke bawah dan tanah yang berada di bawah naik ke atas. Tak lama kebakaran juga terjadi karena dari bawah tanah tersebut menimbulkan api. Untung saja dinding Swalayan itu terbuat dari kaca bukan tembok. Sehingga dinding kaca itu dihancurkan.

Terlalu panik,  mereka berlari menyelamatkan diri. bahkan ibu Jamila yang sementara hamil tua ternyata lebih kencang dibandingkan suaminya.  Bahkan ia juga tak sadar bahwa kondisinya sedang hamil.

Perjuangan tak sia-sia, mereka sekeluarga selamat. Kedua anaknya di rumah juga diselamatkan oleh salah satu saudaranya yang menginap di rumahnya.

Situasi yang tidak mendukung,  mereka memutuskan untuk ke Makassar dengan tumpangan Pesawat Hercules. Awalnya mereka mengungsi di posko pengungsian Asrama Haji. Tetapi kondisi tak kondusif akhirnya memutuskan untuk pindah ke posko pengungsian Muslimah Wahdah Islamiyah DPC Makassar yang berlokasi di jalan Abu Bakar Lambogo nomor 111, kota Makassar.

Atas idzin Allah Ta’ala Jamila melahirkan bayi perempuan dengan normal di Puskesmas Batua kota Makassar pada Selasa (10/10/2018) lalu. Selasa (16/10/2018) bayi ini diaqiqah di Posko Pengungsian  Muslimah Wahdah Peduli, dan diberi nama “Muslimah Wahdah”. (sym).

Lap: Infokom Muslimah Wahdah

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum Ustadz,

Saya seorang santriwati pesantren tahfidz, mau bertanya tentang hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haid. Mengingat dalam proses menghafal Al-Qur’an kami dianjurkan mengulangi halafalan setiap hari. Mohon pencerahannya.

Jawaban:

“Tidak masalah bagi wanita yang sedang haid dan nifas membaca Al Qur’an menurut pendapat yang shahih. karena tidak ada nash yang shahih melarang wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an.  Akan tetapi membacanya melalui hafalannya dan tanpa menyentuh mushaf Al Qur’an,

Sebab haid  dan nifas  berlangsung beberapa hari demikian juga dengan nifas. Sehingga wanita haid nifas  diperbolehkan membaca Al Qur’an melalui hafalan atau aplikasi smatr phone agar keduanya tidak sampai lupa hafalan Al-Qur’an  dan tidak ketinggalan wirid membaca Al Qur’an.

Selain itu dibolehkan pula bagi wanita haid membaca buku-buku yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur’an serta membaca do’a dan zikir, seperti doa zikir makan-minum, bangun tidur, masuk-keluar rumah, berkendaraan, zikir pagi petang dan sebagainya. Wallahu a’lam.

 

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Pertanyaan: “Assalamu Alaikum, ust saya seorang mahasiswi, sampai sekarang saya masih belum terlalu mengerti terkait tanda bersihnya seorang wanita dari haid. Mohon penjelasannya. Syukran”.

Jawaban: Wa’alaikum salam. Perlu diketahui, tanda seorang wanita itu telah bersih (suci) dari haid ada pada satu dari dua keadaan.

Pertama: “Al-Qasshah Al-Baidha’”, atau keluarnya cairan putih sebagai tanda berhentinya haid.

Kedua: “Al-Jufuf”, atau terhentinya darah keluar, di mana jika diusap dengan kapas, kain putih, atau sejenisnya ia tetap kering dan tidak meninggalkan bekas apapun.

Umumnya, tanda wanita bersih dari haid adalah keluarnya cairan putih (Al-Qasshah Al-Baidha’). Dan ini merupakan tanda paling meyakinkan. Sebab, setelah keluarnya cairan putih, dipastikan tidak akan keluar darah lagi, berbeda dengan tanda Al-Jufuf. Kecuali jika kebiasaannya tidak keluar cairan putih. Maka yang menjadi acuan adalah Al-Jufuf (kering).

Ini berdasarkan riwayat dari Aisyah Radhiallahu Anha, tatkala beberapa wanita datang kepada beliau bertanya tentang bersihnya wanita dari haid dengan membawa tas kecil berisi kapas yang ada padanya Ash-Shufrah (cairan kekuningan). Maka beliau berkata:

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ

Jangan kalian terburu-buru, hingga kalian melihat Al-Qasshah Al-Baidha’”. Imam Bukhari mengomentari: “Maksud Aisyah, (jangan buru-buru) merasa suci dari haid.” (Riwayat Imam Bukhari).

Sebagian ulama ada yang memberi perincian terkait masalah ini, yakni:

Pertama: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu sampai keluar cairan putih. Masa menunggu itu sampai satu hari, dan ini merupakan pendapat Ibnu Qudamah dan Syaikh Al-Utsaimin.

Kedua: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan Al-Jufuf lalu mendapati cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf. Tapi jika pertama kali yang dilihat olehnya tanda Al-Jufuf, maka tidak perlu menunggu cairan putih.

Ketiga: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan kedua tanda ini, lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu cairan putih sampai batas waktu sehari, sebagaimana pada poin pertama. Namun jika yang nampak pertama kali tanda cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf.

Ketahuilah, cairan kekuningan (Ash-Shufrah) itu biasanya keluar sebelum adanya tanda bersihnya wanita dari haid sebagaimana telah dijelaskan. Makanya Aisyah memerintahkan untuk tidak tergesa-gesa menganggap diri telah suci semata dengan melihat cairan kekuningan tersebut.

Terakhir, cairan kekuningan (Ash-Shufrah), atau cairan berwarna keruh (Al-Kudrah), jika keluar sebelum ada tanda suci (masih dalam keadaan haid atau bersambung dengan haid), maka ia dianggap sebagai bagian dari haid. Adapun jika keduanya keluar saat setelah bersih (melalui tanda-tanda suci), maka ia tidak dianggap sebagai bagian dari haid. Hingga atas wanita tersebut kewajiban mendirikan shalat, berpuasa, dan selainnya.

Dalilnya, keterangan dari Ummu Athiyah Radhiallahu Anha, beliau mengatakan:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ، وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

Kami tidak menganggap cairan keruh (Al-Kudrah) atau kekuningan (Ash-Shufrah) setelah suci sebagai bagian dari haid”. (HR. Abu Daud, Shahih). Wallahu A’lam.

Sumber: Akun facebook Ustadz Rapung Samuddin, Lc, MA

Keajaiban Dzikir dan Do’a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Keajaiban Dzikir dan Do'a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Keajaiban Dzikir dan Do’a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Berbagai Fenomena dan Kisah Yang Memilukan Sejak terjadinya Gelombang Tsunami dan Gempa Tektonik yang berkekuatan 7,7 SR, di kota Palu, Donggala, Sigi dan Sekitarnya. Mulai dari keluarga yang kehilangan rumahnya, kehilangan sanak Familinya (anak, Istri, Suami dan orang tua) tercinta mereka sampai kepada mereka yang berhasil berjuang melawan derasnya arus gelombang Tsunami, tapi kemudian bisa selamat dan bertahan hidup sampai saat ini.

Sebut saja Ibu Rani seorang Ibu rumah tangga yang berusia sekitar 30-an Tahun, Warga kota Palu yang selamat dari amukan Tsunami beserta putra semata wayangnya. Sebagaimana yang dituturkan berikut :

Sore itu (Jumat, 28 Septi’ 2018), Rani bersama beberapa Ibu-ibu lainnya lagi ngumpul di rumah salah seorang temannya. Entah  mengapa tiba-tiba Rani merasa nggak enak perasaannya, baru saja beberapa menit dia beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba warga sudah berteriak tsunami….tsunami….tsunami….. .

Tak pelak lagi, Rani dan teman-temannya secara spontan berlarian untuk menyelamatkan diri. Namun  apa daya gerakan gelombang tsunami telah menelan dan membolak-balikkan tubuh Rani dan teman-temannya hingga pakaian yang melekat di badan sudah habis terlepas semua, diantara mereka ada nyangkut diatap rumah, pohon-pohon, bahkan ada yang ditarik oleh gelombang tsunami ke tengah-tengah laut.

Subhanallah…. Allah Maha kuasa, Rani masih bisa selamat, walau dengan susah payah Ia memeluk erat disebuah pohon kayu yang berdiameter satu setengah meter. Hari semakin malam, Rani masih bertahan diatas pohon, karena khawatir masih datang tsunami susulan. Benar  saja sekitar beberapa saat kemudian datang lagi tsunami susulan, walau tidak sedahsyat yang pertama, namun tetap saja merusak beberapa rumah saat itu.

Rani baru tersadar ketika waktu sudah menjelang shubuh, rasa paniknya sedikit mulai hilang, dan mulai mengingat buah hatinya Rahmat yang baru berumur 6 thn. Secara  pelan-pelan Rani menuruni pohon. Sesaat kemudian tidak jauh dari pohon itu Rani menemukan sepenggal kain spanduk lalu kemudian menutupi badannya dengan seadanya.

Subhanallah…. Lagi-lagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya. Ketika  menjelang waktu shubuh tiba dengan suasana yang masih gelap gulita, sesosok wanita bercadar tiba-tiba muncul dihadapan Rani dengan membawa pakaian Busana Muslim yang lengkap. Masih dengan suara tangis yang terisak-isak, Rani memohon kepada wanita tersebut agar dipinjamkan busana itu kepadanya. Tanpa  pikir panjang lagi wanita itu langsung menyerahkan busana tersebut kepada Rani.

Masih dengan sisa tenaga yang tertatih-tatih Rani melangkah menuju ke jalan raya. Ia mulai merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya akibat adanya beberapa goresan dan benturan benda keras sewaktu dihempaskan oleh tsunami. Bisa dibayangkan…. mulai dari waktu maghrib sampai kemudian terhempas oleh tsunami, lalu nyangkut dipohon, nyaris nggak tidur semalaman, ditambah dengan rasa sedih yang sangat dalam. Syukur alhamdulillah ketika waktu menjelang pagi seseorang yang berbaik hati mengantar Rani ketempat keluarganya.

Rupanya dibalik keselamatan Rani dari amukan tsunami, ada sosok yang paling berperan, yaitu Rahmat Putra Kesayangannya. Menurut  penuturan Paman Rani, bahwa begitu mengetahui Ibunya terperangkap tsunami, semalaman bahkan sampai shubuh Rahmat berdzikir dan berdoa memohon perlindungan dan keselamatan Ibunya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika Rani tiba dirumah dan berjumpa putra kesayangannya, suasana haru yang diiringin dengan rasa tangispun tak bisa dihindari, Semua yang hadir pada saat itu ikut sedih oleh karena menyaksikan Rani dipertemukan oleh Allah dengan putra kesayangannya.

Seperti yang tuturkan oleh Rani bersama Pamannya Kepada  Relawan Tim Peduli Bencana Hidayatullah: #ImranBaharuddinAbdulQadir.

Sumber: Akun Facebook Yusuf Attamimi II.

Keajaiban Al-Qur’an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Keajaiban Al-Qur'an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Keajaiban Al-Qur’an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Keajaiban Al-Qur’an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Jum’at (28/09/2019) sore jelang Maghrib

Jelang maghrib Jum’at sore itu. Ia (Shahibatul Qishah)  berada di dalam rumahnya, di kompleks perumahan polisi. Sambil menunggu adzan maghrib, rekaman murattal dari ponselnya mengalun merdu. Memang orangnya dikenal akrab dengan Al-Quran.

Hingga tetiba bumi berguncang dahsyat. Gempa!

Kepanikan merajalela seketika. Termasuk dirinya, tak sempat lagi berpikir mengambil cadarnya. Yang ada, segera berlari berhamburan ke luar jalan, khawatir tertimpa reruntuhan bangunan. Sembari menarik kain gorden di jendela, lalu ditutupinya wajah dan bagian kepalanya.

Kesadarannya agar tetap taat kepada Allah meski di tengah musibah, tanda utama hidup dan bersemainya iman di dalam hatinya.

ولا تجعل مصيبتنا فى ديننا…

Allahumma, jangan Engkau timpakan musibah pada agama kami…”

Musibah itu ‘hanya’ menimpa dunianya. Tidak agamanya.

Ia berlari sekencang mungkin ke tempat yang lebih tinggi.

Teriakan tsunami juga terdengar bersahut-sahutan di langit palu.

Hingga terjadilah semua ketetapan Allah.

Palu berduka. Di tengah luka dan bencana. Yang tersisa hanya air mata: “aku melihat ribuan orang terbaring pasrah, kaku tak bernyawa, pada hitungan menit saja.”

Setelah air surut, sepertinya sudah tenang dan tak ada lagi tanda amarah, ia bergegas kembali menuju rumahnya. Tanda-tanda pasca tsunami di mana-mana.

Semakin dekat. Dan semakin dekat.

Pandangannya merasa janggal menangkap fenomena.

Jejak tsunami tampak jelas di rumah tetangga kiri dan kanannya. Tapi tidak dengan rumahnya. Seakan tak ada yang berubah pra dan pasca tsunami. Bersih!

Ternyata Allah telah memerintahkan airNya agar tak sampai masuk ke dalam rumah ibu shalihah ini. Kaget bukan kepalang, bahkan murattal dari ponselnya pun yang ketinggalan dalam rumah persis ketika gempa, masih juga mengalun merdu.

Mendengar penuturan ibu shalihah yang juga aktif tarbiyah di Muslimah Wahdah Palu ini, saya menggumam kagum, “Allah menolong dan memanjangkan usia ibu, untuk menceritakan pada orang-orang, betapa beruntung bagi setiap hamba, yang selalu jujur dalam bermuamalah dengan Rabbnya.”

Ketika tiba kemarin, ia datang berbekal pakaian di badan. Tak ada yang lain. Palu – Jeneponto. Dan sekarang, bersama dengan keluarga besarnya di rumah adiknya.

Saat ditanya layak tidaknya diberi bantuan, saya tersenyum manis, “Kita akan selalu bersama, meringankan duka dan air mata mereka. Yang di sini. Dan juga yang di sana.”

Jeneponto, 4 Oktober 2018

Sumber : Whatsapp grup Muslimah Wahdah.

Aktivis Muslimah Wahdah Islamiyah Raih Best Paper Award

Aktivis Muslimah Wahdah Islamiyah Raih Best Paper Award

(Bogor) wahdahjakarta.com-, Konferensi Internasional “The Second Bogor Internasional Conference on Social Science and Applied Science”, BICAS-BICSS, berlangsung dua hari 25-26 September 2018. Bertempat di Hotel Onih Bogor, dan sebagai penyelenggara Universitas Juanda Bogor.

Seminar yang sangat di nantikan oleh para dosen di Indonesia ini, selain bisa mengangkat  kompetensi sebagai dosen, juga berpengaruh terhadap akreditasi universitas itu sendiri.  Semakin banyak prestasi yang dihasilkan oleh dosen dalam bentuk prosiding atau sertifikat sebagai presenter akan meningkatkan nilai kinerja dosen yang dimasukkan dalam peningkatan perguruan tinggi.

BICAS tahun 2018 mengusung tema “Capacity Empowerment of Local Resources Based On Halal Certification For Global Market. Sedangkan BICASS bertema ” Capacity On Local Resources For Human Well Being Uniquness,Selling Point, Value Creation.

Menurut sumber dari panitia konferensi kali ini peserta berasal dari utusan berbagai Universitas se Indonesia. Untuk BICAS ada 66 orang yang mendaftar, namun diterima hanya 25 orang. Sedangkan untuk BICSS ada 246 orang yang mendaftar, tapi hanya 110 diterima dengan paper masing-masing yang wajib dipresentasikan.

Diakhir acara peserta diberikan penghargaan 3 orang dosen peraih Best Paper Award diantaranya Dr.Dewi Suriyani Djamdjuri, M.Pd dari Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Menurut ibu 6 putra putri ini, salahsatu kunci sukses hingga mendapat penghargaan adalah, ketepatan dalam memilih topik penelitian, ketelitian dalam penyusunan kalimat dan kesesuaian tulisan dengan aturan-aturan yang ditetapkan.

“Paper yang terpilih ini adalah hasil penelitian yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pengajaran bahasa Inggris”, ujar dosen yang juga aktivis Muslimah Wahdah Islamiyah Bogor ini. Hal tersebut sebagai wujud penerapan islamisasi dalam pendidikan bahasa Inggris.

Konferensi ini merupakan ajang bergengsi bagi para dosen di Indonesia, dimana paper terpilih akan dipublikasi dalam jurnal maupun prosiding internasional terindeks Scopus. [Anwar. A].

Gerai Sosial Muslimah Wahdah Jakarta, Bersama Berbagi Manfaat

Gerai Sosial Muslimah Wahdah Jakarta, Bersama Berbagi Manfaat

(Depok) wahdahjakarta.om—Muslimah Wahdah Jakarta mengadakan kegiatan sosial yang dinamakan dengan “gerai sosial”, Jumat (14/9) yang bertempat di Kompleks Mekarsari Permai, Depok. Kegiatan yang didukung sepenuhnya oleh LAZIS Wahdah ini berlangsung dari pukul 15.00 WIB s/d 17.15 WIB.

Adanya kegiatan gerai sosial ini sangat berarti sekali bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah terutama yang berkerja sebagai pemulung dan IRT yang begitu sulit membeli baju karena kesulitan ekonomi. Ummi santi selaku koordinator gerai berharap dengan adanya kegiatan ini bisa membantu warga menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan sandang mereka dengan harga terjangkau.

“Harapannya bisa membantu warga menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan sandang dengan harga terjangkau. Kedepan harapannya bisa lebih beragam lagi layanan yang diberikan kepada warga, tidak hanya pakaian”, ujarnya.

“Tadi lepas maghrib ada ibu-ibu dari Kampung Tipar yang jumlahnya 2 orang terlambat datangnya lalu sedikit memaksa untuk belanja di gerai sosial. Padahal sudah tutup dan barang sudah dirapikan. Alasannya karena telat dapat info. Berhubung jarak rumahnya cukup jauh dari lokasi gerai, maka kami kasih kesempatan membuka satu kantong pakaian dan memilih-milih yang diinginkan. Sebenarnya ingin membongkar semua tetapi kendalanya kami sudah kelelahan menunggui”, tambahnya.

Kegiatan yang berlangsung selama 2 jam lebih ini dihadiri oleh warga yang tinggal di sekitar kompleks dan warga yang datang dari kampung sebelah yang jumlahnya mencapai 50 an, semuanya ibu-ibu. Warga yang hadir sangat antusias membeli pakaian yang disukainya karena kualitasnya bagus dan dibandrol dengan harga yang murah.

“Bagus-bagus dan harganya murah”, kata Mama Puput yang berasal dari Kampung Tipar saat melihat tetangganya yang sudah pulang dari gerai. Senada dengan Mama Puput, Ibu Sari yang berasal dari Kampung Bulak mengaku bersyukur dan senang dengan kegiatan ini. “Terima kasih atas acara yang diselenggarakan, kami sangat senang”, ujarnya. [san/rsp]