relakan perpisahan ini

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai akhi, Allah mempertemukan kita dalam keadaanku sebagai muslimah yang sedang mencari cahaya kebenaran. Dan kehadiranmu selaksa tetes air di tengah gersangnya padang pasir. Seumpama sinar bulan purnama di pekatnya malam. Hari demi hari pun mulai terisi dengan perjumpaan demi perjumpaan. Sikapmu yang santun dan kata-katamu yang begitu sopan membuatku tertawan. Hampir setiap hari engkau mengirimkan untaian nasehat agar aku menjadi muslimah yang baik. Untaian nasehat yang memotivasiku untuk semangat belajar mengenal dien ini. Nasehat yang memotivasiku untuk ikut andil dalam gerak dakwah.

Jujur akhi, aku suka dengan rangkaian kata yang engkau tuliskan untukku. Bait-bait kata yang tak jarang membius hatiku, melambungkan anganku melintasi awan-awan impian. Tapi akhi …, kurasa cukup sudah semua itu, jangan engkau lanjutkan lagi. Karena aku sadar, hatiku mulai tercabik, mulai ternoda. Noda yang semakin bertambah ketika kubiarkan diriku hanyut dalam kebersamaan ini.

Wahai akhi, sungguh aku mendapat kebaikan dengan mengenalmu. Tapi aku sadar bahwa kedekatan kita bukan sesuatu yang halal. Jadi, demi cintaku padamu, biarkan aku berlalu. Usah lagi kata-kata pujian itu engkau kirimkan padaku. Usah lagi dering teleponmu memecah keheningan sepertiga malamku. Aku takut membuat Allah cemburu. Aku takut justru itu membuat sujud dan rukuk kita tak bemakna apa-apa di mata-Nya.

Duhai akhi, ikhlaskan aku berlalu darimu. Terima kasih atas beragam nasehat yang engkau maksudkan untuk menguatkan pijakanku di jalan keimanan ini. Terima kasih atas buku yang engkau pinjamkan dan hadiahkan padaku, yang telah turut andil mencerahkan hatiku dalam mengenal dien ini. Tapi aku tak menginginkannya lagi, akhi. Biarlah aku mengembara sendiri menyusuri taklim-taklim muslimah, bergabung dengan saudari-saudariku dalam majelis tarbiyah untuk menambah pemahaman keislamanku. Kurasa pilihan ini lebih menentramkan dan menjaga hatiku dari desiran-desiran aneh yang sulit kutepis.

Duhai akhi, relakan perpisahan ini terjadi. Usah lagi engkau menghubungiku untuk bertanya kabar ataupun menguatkan semangatku. Usah lagi engkau memintaku untuk membantu dakwahmu. Ajaklah para ikhwan agar engkau dapat membina dan mengkader mereka. Dan biarlah aku berta’awun dengan saudari-saudariku dalam mengusung dakwah ini. Bukankah hal itu lebih menjaga hati kita dari hujaman panah setan yang menyakitkan? Panah yang ketika sudah terlanjur menancap, sakitnya tak terdefinisikan, dan saat dicabut pun sakitnya begitu menyiksa.

Wahai akhi, biarkan aku berlalu. Usah lagi engkau sihir aku dengan kata manismu, bahwa aku begitu berarti bagimu. Jika memang engkau ingin, pinanglah aku, akhi, agar halal rayuanmu untukku. Tapi jika tidak, biarlah perpisahan ini menjadi penjaga hati kita.
Wahai akhi, relakan kepergianku. Jangan berati langkahku yang berusaha menjauh darimu. Justru karena cintaku padamu perpisahan ini kupinta, agar hati kita tetap terjaga untuk selalu dalam ketaatan pada-Nya. Meski terlalu halus setan memoles hubungan yang tak wajar di antara kita, tapi hatiku selalu menjerit dan tersiksa. Meski engkau berkata bahwa semua baik-baik saja, tapi hatiku tak bisa menerima jalinan yang terasa janggal ini. Jalinan yang kurasa seperti membangun istana pada salah satu sisinya, tetapi merobohkan pada sisi lainnya. Biarlah semua ini berakhir akhi, karena begitulah yang seharusnya. Biarlah kutitipkan rasa ini pada-Nya, agar noda-noda di hatiku dapat terkikis. Agar ketenangan hati dapat kurengkuh kembali.

Selamat tinggal akhi. Semoga senantiasa berderap di jalan dakwah dengan kelurusan niat dan kebersihan hati. Semoga tidak ada lagi hati yang ternodai.

[ummisanti/sym]

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan seorang muslimah terletak pada aqidahnya yang tertancap kuat, menghujam ke dalam hati. Prinsip keimanan yang tak mudah goyang oleh gerusan zaman. Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dan diibadahi. Yang dengannya dia menjadi Muslimah merdeka dan terbebas dari penghambaan kepada makhluk. Yang dengannya dia teguh di atas kebenaran dan menjadi pribadi yang penuh percaya diri.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada visi misi hidupnya yang jauh ke depan. Dia menyadari bahwa kehadirannya di dunia tidak sekedar bersinggah ataupun untuk tinggal selamanya. Dia paham bahwa dia diciptakan untuk beribadah kepada Rabb-nya. Ibadah yang tentu saja bukan hasil karya dirinya, tapi sesuai dengan risalah langit yang disampaikan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di paham betul bahwa suatu ibadah yang dia pandang baik belum tentu diterima oleh Allah jika tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Karenanya dia tidak pernah kreatif dalam hal ibadah. Dia sangat memahami bahwa bacaan tasbih, tahlil, dan kalimat thayyibah lainnya adalah sesuatu yang baik dan dicintai Allah. Akan tetapi, dia pun paham ketika bacaan thayyibah itu dibaca dengan waktu tertentu dan jumlah tertentu, maka harus adalah landasan syari’at yang mendasarinya. Sebab jika tidak, berarti menjadi suatu amalan yang sia-sia, bahkan bisa mendatangkan kemurkaan Allah. Betapa dia melihat kenyataan bahwa orang yang membuat wiridan dengan menentukan sendiri jumlah dan waktunya, telah membuka celah jin untuk masuk ke dalam diri mereka.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kekokohannya menjaga kehormatan diri dan menjunjung tinggi rasa malu. Dia menyadari bahwa dirinya adalah perhiasan dunia, sehingga berusaha menutupi diri agar tidak menjadi penyebab fitnah. Dia paham bahwa syariat berhijab adalah untuk memuliakannya, untuk menyembunyikan dirinya dari pandangan ajnabi. Agar keberadaannya tidak mengguncang hati lawan jenis. Karenanya dia memilih busana muslimah yang longgar, tebal, dan tidak menarik perhatian. Berbagai model busana muslimah yang sekarang nge-trend dengan berbagai model dan aksesorisnya, sama sekali tidak menarik minatnya meskipun untuk sekedar melirik. Dia tenggelam dalam kesahajaan, mencukupkan diri dengan kesederhanaan.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepahamannya menjaga batasan interaksi dengan lawan jenis. Sebisa mungkin dia menghindari interaksi yang dapat menjadi celah fitnah. Dia tegas dan lugas dalam berbicara kepada kaum adam. Dia tidak membuka celah fitnah dengan meminta nasehat kepada lawan jenis atas persoalan pribadinya baik melalui WA, SMS, ataupun inbox FB. Sekalipun kepada seorang yang bergelar ustadz, dia sangat menjaga interaksi pribadi karena dia paham ustadz juga manusia. Dia memahami bahwa interaksi japri (jalur pribadi) melalui media sosial merupakan salah satu bentuk khalwat.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kedekatannya kepada Al Qur’an. Betapa Al Qur’an adalah kitab suci yang mulia, sehingga apapun atau siapapun yang bersinggungan dengannya, maka ia menjadi mulia. Bukankah malam di mana diturunkan Al Qur’an adalah malam yang paling mulia? Bukankah kota di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi kota termulia di muka bumi ini? Bukankah generasi di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi generasi paling mulia di bumi ini? Dia sangat memahami itu, sehingga dia berusaha berakrab-akrab dengan Al Qur’an yang merupakan kalam dari Rabb-nya. Dia belajar memperbaiki bacaan Al Qur’an, merutinkan tilawah harian, melakukan tadabbur dan menghafal Al Qur’an, serta berusaha mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupannya. Dia paham, bahwa umat ini akan tegak dan berjaya dengan Al Qur’an.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepeduliannya akan kondisi umat saat ini. Jauhnya umat dari syari’at dan tersebarnya maksiat membuat hatinya cemburu. Membuat jiwanya gelisah dan berduka. Dia menyadari bahwa menyebarnya maksiat dan tidak adanya pelaku amar ma’ruf nahi mungkar dapat menjadi asbab turunnya laknat Allah atas suatu kaum. Karenanya dia tidak mau berpangku tangan. Dia bergabung dengan barisan pejuang yang berusaha menegakkan dien ini. Dia menjadi satu di antara muslimah lainnya yang berjuang di atas jalan dakwah. Baginya dakwah adalah kebutuhan dan jalan hidup. Dan dia berharap, dakwah yang dijalaninya bisa menjadi hujjah baginya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala kelak.

[ummisanti/sym]

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (2)

Pada artikel seri kedua ini kita akan melanjutkan bahasan tentang beberapa peran istri yang bisa mendorong tercapainya rumah tangga bahagia. Sebelumnya, kita sudah membahas peran istri sebagai kekasih bagi suami.
Peran Istri sebagai Ibu bagi Anak-anak
Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran anak merupakan sebuah kemestian. Meskipun tidak setiap pasangan dikarunia keturunan, akan tetapi secara umum bahwa tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk melestarikan keturunan. Maka kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangga merupakan bagian yang tak terpisahkan.
Berbicara tentang anak tentu tidak lepas dari sosok seorang ibu. Dan dalam Islam, sosok ibu ini mendapat tempat atau kedudukan yang mulia. Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ؕ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” [QS. Luqman: Ayat 14]
Betapa payahnya seorang ibu mengandung anaknya selama 9 bulan kemudian melahirkannya dengan taruhan nyawa. Perjuangan masih dilanjutkan dengan mengasuh dan merawatnya. Masya Allah, ladang pahala yang sangat subur sehingga Allah pun menyandingkan rasa syukur kepada ibu bapak sejajar dengan rasa syukur kepada-Nya. Ayat di atas tentunya menjadi pendorong tersendiri bagi seorang istri untuk bisa memposisikan dirinya sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Sosok laki-laki sebagai suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya memiliki waktu yang terbatas untuk berlama-lama di rumah karena tuntutan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka di sinilah peran istri untuk berbagi tugas dengan suami, menjadi ibu untuk mengasuh dan mendidik anak-anak mereka.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu memiliki waktu lebih banyak untuk bersama anak-anak dibandingkan sang ayah. Ibu memegang tanggung jawab atas pembinaan masa depan anak-anak. Keberadaan dan peran seorang ibu menjadi sangat vital bagi pendidikan anak di awal pertumbuhan mereka. Dan inilah yang menjadi kunci awal pembentukan kepribadian mereka di masa depan.
Ibu adalah model bagi anak-anaknya di mana setiap gerak dan tingkah lakunya akan dicontoh dan ditiru. Istri yang bisa memainkan peran sebagai ibu yang baik tentunya akan membuat suami tenang dan memberi kepercayaan penuh untuk mengurus anak-anak. Tentunya peran yang satu ini bukan peran yang mudah dilakukan meski secara alami atau fitrahnya seorang perempuan memiliki jiwa keibuan. Maka penting bagi seorang istri untuk terus mengasah keilmuan dan ketrampilannya dalam mengasuh dan mendidik anak agar peran sebagai ibu dapat dilakoni dengan baik.
Peran Istri sebagai Sahabat Suami
Siapakah sahabat? Dia adalah orang yang dekat di hati kita. Orang yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan kita. Persahabatan menunjukkan hubungan kedekatan perasaan dan emosi. Sahabat adalah orang yang paling mudah kita ajak bicara tentang banyak hal. Seorang sahabat siap menjadi pendengar yang baik, menjadi sandaran saat sahabatnya rapuh, tempat berbagi tawa dan air mata. Hampir tidak ada rahasia di antara dua orang yang bersahabat. Dukaku dukamu, bahagiamu bahagiaku. Aku nyaman bersamamu,engkau pun nyaman bersamaku. Begitulah, seseorang akan merasa nyaman bersama sahabatnya. Mereka bisa saling menerima kekurangan satu sama lain. Mengatasi persoalan yang timbul di antara keduanya dengan semangat persahabatan sehingga kerenggangan hubungan mudah teratasi.
Seorang sahabat siap sedia saat dibutuhkan. Rela menyisihkan waktu dan mengorbankan kepentingannya untuk sahabatnya. Saat dekat hati merasa bahagia. Saat jauh pun banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan dan ada kerinduan untuk bersama. Saling menghargai dan saling percaya. Seperti itulah sosok seorang sahabat. Persahabatan menjadikan seseorang begitu istimewa dan sangat dibutuhkan kehadirannya.
Bagaimana jika sosok sahabat ini hadir dalam kehidupan rumah tangga? Itulah peran yang perlu dimainkan oleh istri, menjalin persahabatan dengan suami. Dengan begitu, istri menjadi begitu istimewa di hati suami dan sebaliknya pula suami menjadi begitu istimewa di hati istri.
Persahabatan yang terjalin antara suami istri membuat saat-saat perjumpaan menjadi hal yang dirindukan. Suami bisa dengan leluasa mencurahkan suka dukanya, mengisahkan rahasia hidupnya, serta merasa aman dan nyaman bersamanya. Mereka saling memahami, saling mengerti, saling memberi dan menerima, penuh kehangatan dan begitu akrab.
Yang sering kali terjadi saat ini, banyak pasangan suami istri yang jarang atau bahkan tidak sempat meluangkan waktu bersama. Mereka kurang menyadari betapa berharganya detik-detik kebersamaan bersama pasangan. Benarkah demikian?
Kesibukan seorang suami mencari nafkah di luar rumah seringkali menyita waktu. Begitupun rutinitas seorang istri di rumah dengan seabreg pekerjaan rumah tangga. Apalagi jika istri juga berperan sebagai wanita karir, tentu waktu untuk membersamai keluarga menjadi sangat berkurang. Jika masing-masing pasangan tidak menyadari pentingnya membangun kedekatan hati satu sama lain, tidak memperhatikan kualitas kebersamaan mereka, hubungan suami istri dengan pola semacam ini akan menjadi hambar seiring berjalannya waktu. Ketika suami istri berkesempatan bersama di rumah, keduanya sibuk dengan gadget masing-masing. Sibuk berasyik ria dengan orang yang jauh di luar sana dan lupa dengan keberadaan orang terdekatnya. Mereka asyik dengan pertemanan di dunia maya sampai lupa membangun ikatan hati dengan pasangannya. Atau jika tidak, saat sedang bersama justru mereka sering disibukkan dengan pembicaraan tagihan listrik, pembelanjaan dapur, ataupun segala tetek bengek kebutuhan rumah tangga yang tak kunjung habis untuk dibicarakan. Meskipun hal-hal seperti ini memang perlu dibicarakan dan didiskusikan, akan tetapi jangan sampai porsinya mengabaikan kebutuhan hati.
Istri yang memahami perannya tentu tidak akan membiarkan kondisi seperti ini berlaku dalam rumah tangganya. Bagaimana pun kebersamaan dengan pasangan adalah momen berharga yang tidak boleh dilewatkan dengan hal-hal yang kurang berarti. Ia sangat memperhatikan kualitas hubungannya dengan suami. Selalu siap saat suami membutuhkan bantuan. Dia berusaha memberikan perhatian-perhatian kecil sehingga suami menyadari betapa istimewanya dia.
-selesai-

#ummisanti

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (1)

Pernikahan mempertemukan dua hati dan dua kepribadian dalam satu ikatan suci, dalam satu bahtera rumah tangga. Bahtera yang melaju melintasi lembaran-lembaran masa dan mengukir beragam kisah dengan segala keunikannya. Pernikahan merupakan tim sukses dari pasangan suami istri yang saling bahu membahu menghalau badai agar bahtera rumah tangga tetap kokoh. Satu sama lain berusaha mengimbangi rasa dan irama agar tercipta harmoni indah, sehingga hempasan persoalan yang datang menerpa tidak menjadikan bahtera rumah tangga karam dan runyam. Masalah yang hadir dalam kehidupan rumah tangga justru menjadi bumbu penyedap yang makin mempererat ikatan hati.
Siapa pun tentu menginginkan kondisi rumah tangga seperti itu. Rumah tangga yang hangat penuh cinta, bertabur kebahagiaan dan kemesraan. Hanya saja, yang menginginkan belum tentu bisa meraihnya. Karena untuk mewujudkannya tentulah butuh kesungguhan, kerja sama, dan kekompakan.
Salah satu faktor utama untuk meraih rumah tangga serasa surga adalah keberadaan seorang istri. Ia punya peran dan andil besar dalam mengarahkan bahtera rumah tangga menuju pantai kebahagiaan, untuk mencapai rumah tangga yang bernilai dan berbobot, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Allah berfirman,
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ؕ اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: Ayat 21)
Dari ayat tersebut dapat kita tangkap sebuah makna bahwa kehadiran istri dapat memberikan rasa tenteram serta perasaan cinta dan kasih sayang bagi suaminya. Pertanyaannya, apakah semua istri dapat memainkan peran tersebut? Tentunya, pemeran terbaik adalah istri yang paham akan kedudukannya di mata suami dan memaknai hakikat pernikahan yang dijalaninya semata untuk meraih ridha Allah.
Sebagaimana kita ketahui, pada umumnya masa awal pernikahan semua terasa begitu manis. Istri begitu mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada suami. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia pernikahan, kekuatan cinta pun teruji oleh berbagai situasi dan kondisi. Ada yang menguat, tak sedikit pula yang kian memudar. Ada istri yang mengeluhkan suaminya menjadi begitu kaku dan cuek setelah masa yang panjang dari pernikahannya, tanpa dia sendiri menengok ke dalam diri bahwa bisa jadi dialah penyebab perubahan itu.
Seorang istri semestinya punya kepekaan tinggi terhadap fluktuasi ruhiyah rumah tangganya. Karena bagaimana pun, dia memegang peran strategis yang menentukan nasib bahtera rumah tangganya, menuju kepada kebahagiaan atau justru kehancuran. Istri yang pandai memainkan peran dan paham terhadap hak dan kewajibannya, akan punya energi lebih untuk mengayuh bahtera rumah tangganya menuju maghligai kebahagiaan yang hakiki.
Ada banyak peran yang bisa dimainkan oleh seorang istri dalam menjaga keutuhan rumah tangganya. Peran-peran tersebut dapat menjadi pupuk cinta dan keharmonisan rumah tangga. Kemampuan istri mengolah peran dan memberikan suguhan rasa yang berbeda sangat dibutuhkan oleh seorang suami,suguhan dengan menu yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan suami. Istri yang cerdas akan mampu menempatkan diri dan memainkan peran sesuai dengan situasi dan keadaan.
Peran Istri sebagai Kekasih
Peran ini punya arti sangat vital bagi kehidupan rumah tangga. Betapa banyak orang yang menikah tapi tidak saling menjadi kekasih. Pernikahan hanya menjadi simbol sosial dan masing-masing disibukkan oleh rutinitas yang makin lama kian menjemukan. Hingga datang masanya titik kulminasi kebosanan dalam rutinitas pernikahan yang menyebabkan pertengkaran, perselingkuhan, bahkan perceraian.
Karenanya, penting bagi seorang istri untuk bisa menyuguhkan rasa seorang kekasih bagi sang suami. Dengan begitu rumah tangga yang dijalani memiliki ruh kemesraan, ada ikatan batin kuat yang mengokohkan bahtera rumah tangga. Ada cinta yang tersemai dan terjaga dengan baik. Ada pelangi bahagia yang membuat satu sama lain merasa saling membutuhkan dan enggan terpisahkan.
Jadilah kekasih bagi suami Anda. Kekasih yang mau memahami dan menerima kekurangannya serta lebih terfokus pada kelebihan yang dia miliki. Jadilah seorang kekasih yang selalu mensyukuri kehadirannya sebagai anugerah indah yang Allah berikan. Jadilah kekasih yang makna kehadiran Anda di dekat suami lebih dari sekedar “berada bersamanya”.
Seorang istri adalah kekasih hati bagi suaminya. Dia selalu ada saat suami membutuhkan. Selalu ada cara baginya untuk menggoda dan memikat hati suami. Dia mampu menjadi tempat berbagi kemesraan dan kasih sayang.
Sebagai kekasih, istri yang cerdas memahami kebutuhan biologis suaminya, mampu menangkap sinyal-sinyal yang terkadang tidak terungkapkan. Dia tidak lelah mencurahkan belaian cinta dan kasih sayang untuk belahan jiwanya. Ketika sang suami menginginkan dirinya, maka ia bersegera dengan sepenuh hati dan kesungguhan memenuhi hasrat suaminya. Ia menyadari wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya sehingga dia (suami) tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga subuh.” (HR Bukhari No. 5194 dan Muslim No. 1436)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya. Tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur lalu ia menolak ajakannya melainkan Rabb yang di langit dalam keadaan murka terhadapnya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR Muslim No. 1436)
Seorang istri tentu tidak rela dirinya dilaknat oleh penduduk langit dan Rabb yang menciptakannya. Baginya, membahagiakan suami adalah kebahagiaan juga untuknya. Ia menyadari bahwa keinginan suami yang tertunda dapat menjadi celah yang menggerogoti keharmonisan rumah tangga. Betapa mereka yang tidak memperhatikan kebutuhan primer suami yang satu ini akan menemukan rumah tangganya berada dalam titik rawan. Ketika seorang istri seringkali mengabaikan kebutuhan ranjang suaminya, hal ini bisa memicu terjadinya perselingkuhan bahkan perceraian.
[bersambung …]

#ummisanti

Rasa yang Tergadaikan

Rasa yang Tergadaikan

menggadaikan rasa malu

Duhai, bisanya engkau membela diri bahwa itu untuk dakwah.  Bahwa foto selfimu itu untuk memotivasi muslimah lain agar berhijab  syar’i seperti dirimu.

Agar bisa berbusana muslimah dan bercadar seperti foto yang engkau unggah. Agar menginspirasi muslimah lainnya. 

Oh, benarkah demikian, wahai saudariku? Seperti itukah para  pendahulu mengajarkan pada kita? Berdakwah dengan  menggadaikan rasa malu, benarkah itu yang diajarkan??

Betapa cantiknya paras itu. Mata yang bening dan terlihat begitu menawan. Berdesir hati melihatnya.  Meski selembar cadar menutup wajahnya, tapi binar kedua matanya menggambarkan kecantikan yang tersimpan di sebaliknya.
Duhai, menatap matanya berlama-lama makin membuat hati berasa tak menentu.  Binar matanya seakan melukiskan senyum manis yang tersembunyi. Ah, andai selembar cadar itu bisa disibak ….

Berdesir dada sang pemuda memandangnya. Sekilas saja. Tiba-tiba tergoda untuk terus memperhatikannya.  Terus dan terus. Menatap wajah itu sepuasnya. Tanpa takut tertangkap mata dari pemiliknya. Karena wajah itu ada pada selembar gambar yang berhasil diambil dari medsos.

Duhai, hati yang berasa tertusuk-tusuk. Ada rindu yang tak terungkap. Ada angan-angan yang seringkali mengelayut di pikiran. Andai bisa berkenalan dengan muslimah bermata indah itu.  Andai bisa bersanding dengannya yang tampak menawan itu. Andai bisa memikat hatinya ….

Rabb …, fitnah itu benar-benar menancap kuat. Anak panahnya tepat menusuk jantung hati.  Ditarik terasa sakit, dibiarkan pun begitu menyiksa.

Duhai pesona muslimah bermata indah. Betapa hati selalu tergoda menatap sepasang matamu yang indah menawan.  Dalam diam selalu terbayang dan terselip kerinduan yang membuncah.  Bagaimana rasa ini bisa ditepis?

Duhai, salahkah hati yang terpaut? Bukankah sang muslimah yang memulai? Bukankah dia yang menebar foto dirinya sehingga sang pemuda pun terjebak dalam umpannya. Bukankah asap itu timbul dari percikan api?

Duhai muslimah bermata jeli. Tidakkah engkau menyadari bahaya yang mengintaimu? Sekiranya pemuda itu timbul hasrat dan niat jahatnya padamu, siapa yang menjadi asbabnya? Tanyalah pada hatimu!

Sekiranya pemuda itu terfitnah hatinya karena lembar foto yang melukiskan keindahan matamu, siapa yang menjadi asbabnya? Tanyalah hatimu, wahai muslimah!

Duhai, di manakah rasa itu, wahai muslimah? Sudahkah rasa itu benar-benar tergadaikan?  Rasa malu yang semestinya menjadi perhiasan bagi muslimah shalihah seperti dirimu.  Lalu apa yang tersisa jika rasa itu sudah engkau campakkan dari hatimu?!

Duhai, bisanya engkau membela diri bahwa itu untuk dakwah.  Bahwa foto selfimu itu untuk memotivasi muslimah lain agar berhijab syar’i seperti dirimu. Agar bisa berbusana muslimah dan bercadar seperti foto yang engkau unggah ….  Agar menginspirasi muslimah lainnya. Oh, benarkah demikian, wahai saudariku? Seperti itukah para pendahulu mengajarkan pada kita? Berdakwah dengan menggadaikan rasa malu, benarkah itu yang diajarkan??

Di mana engkau tanggalkan rasa malumu, waha muslimah? Bukankah busana muslimah itu untuk menutup dirimu. Untuk menjagamu dari pandangan ajnabi. Lalu mengapa engkau justru sengaja membuat orang lain memandang dan menikmati yang semestinya disembunyikan? Tidak sadarkah engkau telah membuka pintu fitnah pada hati-hati pemuda yang sudah berusaha menjaga diri mereka?  Tidak takutkah engkau pada ajnabi yang berniat jahat padamu, yang bisa saja menyalah-gunakan fotomu untuk kesenangan nasfunya? Tidak takutkah engkau akan bahaya ‘ain yang mengintaimu?

Duhai, mari sejenak melihat ke dalam diri, wahai muslimah. Jalan dakwah ini tidak bisa diusung dengan cara-cara murahan. Dakwah ini butuh strategi dan metode yang mulia. Karena kita mendakwahkan kebaikan, bukan kemungkaran.

Sadarlah wahai muslimah! Ambil rasa malu yang sempat engkau campakkan. Sematkan kembali dalam hatimu.  Berjalanlah sesuai fitrahmu sebagai muslimah yang tersembunyi. Dan itu pun tak akan menghalangimu untuk menebar dakwah dan kebaikan kepada sesamamu.  Yakinlah bahwa banyak cara mulia yang bisa engkau tempuh untuk mendakwahkan keyakinanmu. Rangkullah hati-hati muslimah yang masih berserakan di luar sana dengan keanggunan akhlakmu,  bukan dengan keindahan foto selfimu.

Wahai muslimah! Mari tetap kokoh berpijak pada syariat ini meski arus kehidupan berusaha menghanyutkan keimanan. Selalulah bergantung pada Sang Pemilik Hati agar diri terjaga dari kerusakan moral yang makin carut marut.  Agar keimanan tetap tertancap kuat menghujam di hati kita. Agar diri tidak terjebak dalam kemaksiatan yang terbungkus ketaatan.

Semoga Allah menjaga hati-hati kita dalam ketaatan dan keikhlasan.

Catatan hati di sudut kamar

#ummisanti

Muslimah Wahdah Siapkan

Muslimah Wahdah Donasikan Ribuan Paket Makanan di Aksi Bela Palestina 1712

Muslimah Wahdah Donasikan Ribuan Paket Makanan di Aksi Bela Palestina 1712

(Jakarta, wahdahjakarta.com) Keberadaan muslimah yang terkadang mempunyai keterbatasan, tidak menghalangi perannya di dalam mendukung Aksi Bela Palestina 1712.

Diantara peran yang mencoba diambil oleh Muslimah Wahdah yang merupakan sayap perjuangan Ormas Wahdah Islamiyah untuk kaum hawa ini, adalah berdonasi dengan makanan berupa nasi, snack, dan air minum untuk para relawan.

Paket makanan yang disalurkan melalui Posko Wahdah Peduli ini, sangat bermanfaat bagi para pejuang aksi yang telah hadir di lokasi sejak semalam menginap di lapangan monas. Bahkan paket ini juga kemudian menjadi menu pembuka bagi Tim Pengawal VIP Aksi Bela Palestina 1712.(ayd).

Tips Memilih Pasangan Yang Tepat

Rambu Pernikahan: Memilih Pasangan yang Tepat

Rambu Pernikahan: Memilih Pasangan yang Tepat

Pernikahan mempertemukan sepasang insan dalam ikatan suci. Menjatuhkan pilihan pada calon pasangan merupakan keputusan besar bagi seseorang yang hendak menikah. Bagaimana tidak? Pernikahan merupakan satu langkah awal yang mengubah hidupnya. Kehidupan yang semula dijalani serba sendiri, kemudian hadir sosok lain dalam siang dan malamnya, dengan karakter dan kepribadian yang tentu tidak sama dengan dirinya. Karenanya, sebelum menempuh jenjang ini, seseorang tentu telah melalui tahapan memilih pasangan dan proses ta’aruf (perkenalan) dengan segala liku-likunya.

Kehidupan rumah tangga dapat berjalan harmonis dimulai dari tahap ini, pemilihan calon pasangan yang tepat. Tidak hanya kriteria dunia saja yang masuk dalam poin seleksi, justru keshalihan calon pasangan menjadi syarat utama untuk terwujudnya rumah tangga bahagia.

Terkait hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: harta, nasab, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah karena agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Bukhari No. 5090)

Landasan agama merupakan prioritas utama dalam pemilihan pasangan jika menginginkan rumah tangga yang bahagia. Karena orang shalih, orang yang paham agama, maka dia akan berusaha menjaga hak-hak Allah dalam pernikahannya. Dan itu artinya, dia akan selalu berusaha menjaga hak dan kewajibannya dalam pernikahan.

Yang seringkali terjadi, seseorang menjatuhkan pilihannya lebih mengutamakan rasa cintanya, kecantikan atau kegantengan, daripada agama pasangannya. Padahal, rasa cinta yang sejati tumbuh setelah memasuki gerbang pernikahan. Cinta yang hadir dari penerjemahan ketertarikan satu sama lain karena interaksi yang begitu intens dalam kehidupan rumah tangga. Cinta yang hadir dari rasa saling mengerti, peduli, dan berbagi. Cinta yang tumbuh untuk mengokohkan ikrar suci pernikahan. Bukan cinta semu, yang dibangun karena nafsu semata.

Itulah mengapa, kita melihat fenomena banyaknya keretakan rumah tangga. Kasus perceraian seperti hal yang wajar-wajar saja, menjamur. Sungguh ironi! Dalam kondisi perkembangan keilmuan dan kehidupan masyarakat yang dibilang moderen ini, kasus kerumahtanggaan justru mencuat tinggi karena salah dalam memilih pasangan. Meningkatnya kasus perceraian menjadi masalah yang cukup memprihatinkan. Padahal Allah dan Rasul-Nya membenci perceraian sekalipun itu hal yang tidak dilarang.

Karenanya, penting untuk diperhatikan dalam memilih calon pasangan, bahwa mengedepankan kebaikan agama merupakan modal besar untuk membangun rumah tangga bahagia. Jangan sampai rumah tangga dibangun dengan calon pasangan yang hanya mengedepankan kriteria dunia semata.

Sejenak mari kita menengok sejarah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Julaibib radhiyallahu anhu. Julaibib adalah seorang sahabat dari kalangan anshar dan termasuk pemuda yang tidak memiliki harta. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai Julaibib karena ketakwaannya. Suatu hari terbesitlah keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menikahkan Julaibib dengan salah seorang putri sahabat anshar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menemui sahabat tersebut dan menyampaikan keinginannya, “Wahai Fulan, aku ingin meminang putrimu.”

Tanpa berpikir panjang, sahabat anshar tersebut langsung menerima lamaran Rasulullah. Siapa yang tidak mau menjalin hubungan kekerabatan dengan Rasulullah,tentu saja lamaran itu merupakan tawaran yang sangat berharga.”Silahkan wahai Rasulullah,dengan senang hati.”

“Tapi aku meminangnya bukan untuk diriku”, lanjut Rasulullah.

Sahabat anshar pun terkejut mendengar perkataan Rasulullah.”Lantas pinangan ini untuk siapa, wahai Rasulullah?”

“Aku meminang putrimu untuk Julaibib.”

Dengan penuh kebingungan sahabat itu menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah! Tetapi aku harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan ibunya.”

Pergilah sahabat ini menemui istrinya dan menceritakan pinangan Rasulullah. “Wahai, istriku. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang putrimu,”

Dengan girang hati istrinya menjawab, “Aku sangat setuju.”

Akan tetapi Rasulullah tidak meminang untuk dirinya, ” jelas sang suami.

Lantas untuk siapa pinangan itu,” istrinya bertanya dengan keheranan.

Rasulullah meminangnya untuk Julaibib.”

Untuk Julaibib? Tidak! Aku tidak setuju. Jangan engkau nikahkan putri kita dengannya!”

Sahabat anshar ini ternyata enggan memiliki menantu seperti Julaibib yang miskin dan tidak rupawan. Inilah kenyataan yang sering kita temui, sebagian orang tua terkadang lebih mengutamakan dunia daripada agama calon menantunya.

Qadarullah, percakapan suami istri tersebut terdengar oleh putrinya. Dan ketika sang ayah hendak beranjak untuk memberikan jawaban penolakan atas pinangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putrinya bertanya, “Siapakah yang telah meminangku, wahai ayah?”

Sang ibu kemudian menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meminangnya untuk Jualaibib. Apa jawaban putrinya?

“Wahai ayah dan ibuku, apakah kalian menolak perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tidakkah kalian mendengar firman Allah

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. – al-Ahzâb/33 ayat 36- Terimalah pinangan itu, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku. Ketahuilah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib !”

Mendengar penuturan putrinya, sahabat anshar pergilah menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai, Rasulullah! Aku menerima pinanganmu. Nikahkanlah putriku dengan Julaibib.”

Lihatlah bagaimana sikap wanita shalihah ini menanggapi pinangan yang datang kepadanya. Tidaklah dia melihat peminangnya kecuali dengan pandangan agama. Pemahamannya terhadap agama membuatnya menyadari bahwa rumah tangga yang akan dibinanya hanya bisa tegak kokoh jika dibangun di atas landasan agama dan ketakwaan.

Satu hal yang perlu diperhatikan,pemilihan calon pasangan yang tepat tidak bisa ditempuh dengan jalan pacaran. Apapun ‘casingnya’, tidak ada kamus pacaran sebelum nikah dalam Islam. Islam agama yang mulia dan menjunjung tinggi kehormatan pemeluknya. Pacaran hanya merupakan media syetan untuk menyesatkan para pemuda dan pemudi agar terjerumus dalam kemaksiatan dan mengantar mereka pada maqam yang hina. Bahkan pacaran ini banyak menjadi sebab pemudi telat menikah.

Beberapa kasus yang penulis temui, tidak sedikit pemudi yang mengeluhkan pacarnya tidak siap ketika diajak menikah. Selalu ada alasan untuk mengulur-ulur waktu. Belum mapanlah, masih ingin melanjutkan studi, kakak ada yang belum nikah, begini dan begitu. Penulis katakan kepada para pemudi itu, “Tinggalkan pacarmu yang pengecut itu.” Yah,bagaimana tidak pengecut? Membuat carut marut hati anak orang dan tidak bertanggung jawab. Dan herannya,kalimat inipun tidak serta merta mematahkan semangat para pemudi untuk tetap setia kepada pacarnya. Kenangan-kenangan manis selalu hadir ketika ingin berpaling, bahkan ketika seorang salih datang melamar pun,mereka masih gamang. Takut tidak bisa mencintai, ragu jangan-jangan pacarnya akhirnya melamar. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Begitulah syetan akan terus memperdaya dan menjerat manusia dalam kesemuan yang jika mereka tidak segera tersadar,mereka akan berhadapan dengan penyesalan yang tiada berakhir.

Karenanya penulis sangat menekankan untuk menghindari pacaran yang jauh lebih banyak madharatnya ketimbang manfaatnya. Memilih pasangan yang tepat dapat dilakukan dengan perantaraan wasilah atau penghubung yang amanah. Dan tentunya selalu menjaga kelurusan niat serta memohon petunjuk Allah. Dari fenomena yang penulis temui, banyak mereka yang menikah tanpa sebelumnya mengenal pasangannya. Mereka menempuh cara-cara syar’i untuk mendapatkan pasangan, tanpa melalui pacaran, dan alhamdulillah tahun-tahun pernikahan berlalu dengan rumah tangga yang tetap utuh. Di sisi lain, penulis pun menyaksikan mereka yang membangun rumah tangganya dengan pacaran,toh tidak menjamin mereka bebas konflik berat dalam rumah tangga bahkan sampai kepada kasus perselingkuhan. Hanya kepada Allah kita bertawakal.

#ummisanti

Komunikasi Efektif Pasutri

Urgensi Komunikasi Positif Pasutri

Urgensi Komunikasi Positif Pasutri

Kehidupan berumah tangga merupakan tema yang tak akan kunjung habis dikupas dan dibahas. Kehidupan yang dibangun oleh dua insan dengan segala keunikannya ini, mempunyai seni dan rasa yang tidak selalu sama dari setiap keluarga yang ada. Bahkan bisa jadi, setiap rumah tangga mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri.

Kehidupan berumah tangga merupakan satu nikmat yang tidak ternilai dari Allah kepada hamba-Nya. Betapa tidak semua orang dapat merasakan nikmat yang satu ini. Ada saja di antara kita yang barangkali masih harus sabar menunggu seseorang yang bisa diajaknya mengarungi bahtera rumah tangga. Karenanya, pantaslah bagi Anda yang sudah dianugrahi kehidupan berumah tangga untuk melantunkan syukur dalam bait kata dan sikap. Supaya dengan ungkapan syukur itu limpahan nikmat dan keberkahan semakin melingkupi kehidupan rumah tangga yang sedang Anda jalani bersama pasangan.

Setiap kita tentunya mengharapkan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh kemesraan dengan pasangan. Hanya saja adakalanya kita melakukan hal yang tidak sejalan dengan apa yang menjadi keinginan kita. Kita menginginkan rumah tangga yang harminis tapi justru waktu dan pikiran kita banyak tersita untuk orang lain. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi yang ada saat ini seringkali membuat orang terlena dan hubungannya dengan orang terdekat menjadi garing tanpa disadari.

Satu hal yang acapkali luput dari perhatian pasutri adalah pentingnya membangun komunikask positif dengan pasangan. Sebagai terapis, tidak jarang, bahkan bisa dibilang sering, saya bertemu dengan mitra terapi dengan berbagai macam keluhan, yang ujung-ujungnya disebabkan karena hubungan yang kurang baik dengan pasangan. Penyebab utamanya adalah tidak terbangunnya komunikasi sehat di antara pasutri tersebut.

Terkadang kita menginginkan pasangan kita begini dan begitu, jangan ini dan itu. Tetapi, itu hanya terungkap dalam hati. Lalu, bagaimana mungkin pasangan kita bisa mendengar dan memahaminya? Atau juga, ada yang sudah berusaha menyampaikan keluhan dan masukannya tapi dengan bahasa kritikan, menggurui, atau tidak dalam situasi yang pas. Yah, tentu saja cara seperti ini bisa membuat persoalan menjadi makin runyam.

Karenanya, cobalah untuk membuka komunikasi positif dengan pasangan. Jangan setiap kekesalan dipendam sendiri, pun jangan diluapkan asal-asalan kepada pasangan. Belajarlah memahami karakter pasangan Anda, dan cari cara supaya Anda dan pasangan bisa bercengkrama serta berbincang asyik tentang banyak hal.

Anda sibuk? Ya, saya memaklumi itu. Akan tetapi, jangan sampai kesibukan itu membuat hambar hubungan Anda dengan pasangan. Jangan sampai kesibukan Anda dan pasangan menjadi alasan untuk membiarkan kondisi rumah tangga berjalan apa adanya tanpa perbaikan hubungan. Jangan sampai kesibukan Anda membuat magnet di hati Anda memudar energinya untuk tarik menarik dengan hati pasangan.

Banyak kesempatan kecil di sela kesibukan yang bisa Anda gunakan untuk menjalin komunikasi dan kemesraan dengan pasangan. Jangan biarkan detik-detik berharga bersama pasangan tenggelam begitu saja dalam kelelahan Anda setelah seharian berjibaku dengan padatnya pekerjaan.

Selepas santan malam, menjelang tidur, di sepertiga malam, bangun tidur, di meja makan, di waktu-waktu senggang, akhir pekan. Banyak kesempatan. Jadikan akhir pekan Anda sebagai sarana untuk bernagi rasa dengan pasangan. Enyahkan sejenak gadget dari tangan Anda. Biarkan tidak ada jarak antara aku dan kamu. Biarkan kebersamaan itu tidak tersemukan oleh aktivitas medsos. Hadirlah sepenuhnya dengan jiwa dan raga Anda. Jangan sampai Anda sedang bersama pasangan tapi justru selalu sibuk menundukkan kepala menekan tuts android Anda.Terasa ada tapi tiada. Bersama tapi hampa. Garing. Hal seperti ini yang seringkali luput dari perhatian pasangan pasutri.

Ajaklah pasangan Anda bicara dari hati ke hati. Bicaralah tentang banyak hal. Tentang aku dan kamu. Tentang hati dan rasa cinta. Beri perhatian kecil kepada pasangan meski terkesan sepele. Jangan menganggap enteng sebuah perhatian kecil karena energinya sungguh luar biasa.

“Pasangan saya bukan tipe romantis.” So what? Lalu apa masalahnya? Justru itu tantangan bagi Anda untuk menaklukkan hatinya. Yang seringkali terjadi, ketika mendapati pasangan tidak merespon keromantisan yang Anda lemparkan, Anda langsung surut mundur ke belakang. Enggan berinovasi untuk membuat pasangan merespon umpan Anda. Anda lebih sering bermain dengan pikiran sendiri. “Malu lah sudah merajuk, sudah berkata-kata mesra responnya datar-datar saja. Gengsi ah.” Anda lama-lama akan menyesal ketika mendapati kehidupan rumah tangga Anda semakin senyap dari canda tawa dan bujuk rayu. Yakinlah, pasangan bisa menjadi romantis dengan Anda terus melempar umpan. Membangun sinyal-sinyal cinta dengan bahasa tubuh dan ungkapan kata. Ini termasuk seni berkomunikasi yang efektif untuk menguatkan bangunan cinta Anda dengan pasangan.

Ketika ada perselisihan, adakalanya pasutri tidak saling membuka diri, menggerutu di belakang, memendam rasa, mencari pelarian. Bukannya mengajak pasangan berdiskusi justru mengeluhkan persoalan ke orang lain. Ini bukan solusi, bahkan bisa jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Kenapa Anda berpikir bahwa pasangan Anda tidak bisa diberi masukan dan saran? Nda perlu sejenak untuk introspeksi. Sudah tepatkah cara yang Anda lakukan? Adakalanya kebaikan itu tertolak bukan karena kebaikannya, tapi cara penyampaian yang kurang tepat. Karenanya, mari lebih dekat dengan pasangan kita. Pahami betul karakternya dan lakukan cara-cara untuk membangun komunikasi dua arah yang hangat, tidak menghakimi, tidak menggurui, penuh cinta dan kemesraan. Dan jangan lupa bangun komunikasi yang kuat dengan pemilik hati pasangan Anda. Agar keberkahan dari langit mewarnai jalinan cinta Anda dan dimudahkan bagi Anda membangun komunikasi dengan pasangan. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam rumah tangga Anda.

#ummisanti

Etika Menghadiri Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha

Etika Menghadiri Shalat Idul Adha

Ied merupakan hari istimewa, sehingga sudah seyogyanya setiap Muslim menghadirinya dengan memperhatikan adab dan etika yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wa sallam. Tulisan singkat ini akan menguraikan secara sederhana beberapa adab yang hendaknya diperhatikan ketika menghadiri shalat Idul Adha.

  1. Mandi sebelum keluar ke tempat shalat ied.

  2. Dianjurkan tidak makan terlebih dahulu, tetapi makan setelah kembali dari pelaksanaan shalat ‘ied, dan lebih dianjurkan jika makan daging hewan qurban.

  3. Dianjurkan bertakbir. Takbir pada hari Idul Adha dianjurkan mulai setelah shalat subuh pada 9 dzulhijjah, dan berakahir pada hari terakhir hari Tasyriq (sore hari 13 Dzulhijjah).

  4. Berhias dan mengenakan pakaian terbaik.

  5. Melalui jalur jalan yang berbeda saat berangkat ke tempat shalat dan kembali,

  6. Boleh saling menyampaikan tahniah (ucapan selamat), seperti mengatakan TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKU. (Sym).

merasa cukup

Mendefinisikan Kecukupan

Suatu hari sebuah pesan masuk ke HP saya. “Mbak, kalau boleh tahu, gaji bersih suami mb berapa dalam sebulan? Suamiku mau keluar kerja dan ber-wirausaha. Galau ni mb.” Begitu kira-kira isi pesan tersebut. Saya langsung mesem-mesem (senyum-senyum). Yah, namanya kami ini wirausaha, gajinya ya kami sendiri yang mengatur. Kalau pas usaha lancar tentu gaji kami di atas rata-rata, tapi tidak jarang juga pas-pasan bahkan minus.

Sebenarnya, punya status sebagai pegawai ataupun wirausaha, itu adalah pilihan. Mana yang menjadi pilihan dan kemantapan hati, kita nyaman di dalamnya, itulah yang semestinya dijalani. Kalau masalah nominal, ah, saya pribadi tidak mau berkutat dengan angka-angka. Bagi saya, rejeki itu tidak bisa di-matematika-kan. Bahkan dalam nominal yang sedikit tapi mengandung keberkahan, justru itu lebih menenangkan hati dan kehidupan. Apalagi sudah lazim kita melihat fenomena di negeri ini, betapa banyak mereka yang berdasi tapi masih rakus dengan harta. Mereka yang diberi amanah mengurus rakyat malah menjadi maling. Kasihan sekali orang-orang seperti itu, seakan hidup hanya di dunia saja, seakan uang dan harta adalah segalanya. Padahal kaya atau miskin itu hanya bagian dari ujian hidup, jika saja mereka menyadarinya.

Kaya atau miskin pun bagi saya tidak bisa diukur dengan parameter fisik. Betapa banyak mereka yang hidup di rumah megah dengan kendaraan mewah tapi hatinya miskin. Miskin dari rasa syukur, miskin dari ketenangan hidup, miskin dari kebahagiaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terus saja merasa kurang dan kurang. Sedangkan banyak yang dipandang miskin, ternyata mereka menikmati hidup dalam ketenangan dan merasa baik-baik saja. Mengapa? Hati yang bersyukur dan merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Bukan saya mengajari untuk tidak kaya. Kaya itu suatu kebutuhan, karena banyak sekali amal kebaikan yang bisa dilakukan dengan kekayaan. Ibadah umrah dan haji, zakat maal, menyantuni fakir miskin, wakaf, dan masih banyak lagi amal kebaikan yang hanya bisa dilakukan dengan kelebihan harta. Hanya saja, tidak setiap hamba Allah di dunia ini mendapatkan kelebihan harta. Dan memang Allah memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Lantas, jika Allah menghendaki kita untuk tidak mendapatkannya, sehingga kita hidup dalam keuangan yang pas-pasan, bagaimana rasa hati kita?

Iri? Ah, itu bukan solusi. Sekali lagi saya katakan, bahkan kelapangan ataupun kesempitan dalam harta itu hanya bagian dari ujian hidup. Jika pada titik ini kita ternyata pada kondisi ‘pas-pasan’ secara materi, nikmati saja, syukuri. Itulah kondisi terbaik untuk kita menurut Allah. Bisa jadi ketika kita diberi kelapangan harta, kondisi kita malah menjadi orang yang kufur nikmat dan banyak melakukan kemaksiatan. Jadi, dilihat saja dari sisi positifnya. Belajar mensyukuri pemberian-Nya karena Dia memberi dengan kasih sayang dan semua demi kebaikan kita.

“Ah, mbak nggak ngerasain sih gimana rasanya ga pegang uang.” Hmmm, itulah tabiat kebanyakan manusia, seringkali memandang diri paling merana sementara orang lain paling bahagia dan tidak pernah kesusahan. Memang, seperti apa sih rasanya ga pegang uang menurutmu? Saya rasa, tinggal bagaimana kita menata hati dan berusaha bersyukur dalam setiap apa pun kondisi kita. Bukankah Allah sendiri yang menjanjikan, barangsiapa yang bersyukur kepada-Nya maka Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

“Tapi saya sudah berusaha bersyukur kok masih kurang aja nih mbak keuangannya?”

Hehe, mbaknya …, nikmat Allah itu sangat luas ……………….. Jangan membatasi nikmat hanya dari segi materi. Kita diberi kesehatan dan anggota tubuh yang sempurna itu nikmat. Kita memiliki suami yang shaleh dan mencintai kita itu nikmat. Kita memiliki mertua yang sayang dan perhatian itu nikmat. Kita bisa makan hari ini, itu juga nikmat. Kita bisa mengais rejeki dengan cara yang halal itu nikmat. Banyak sekali nikmat Allah yang senantiasa dicurahkan kepada kita, dan kita tidak akan mampu menghitungnya.

Jadi, ga perlu risau bin galau. Enjoy aja. Yang penting kita tidak menghilangkan sebab, yaitu dengan ikhtiar dan berdoa. Setelahnya, serahkan semua kepada Allah. Apalagi bagi mbak-mbak yang sudah nikah ni, jangan sampai membebani suami dengan banyak tuntutan. Jika suami masih memiliki penghasilan yang pas-pasan, jangan menyudutkannya dengan berbagai kritik dan tuntutan. Berilah motivasi dan semangat. Suami sudah berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi hak kita, jadi cobalah untuk menghargai hal itu. Jangan sampai berbagai tuntutan dan rengekan kita justru membuat suami mencari rejeki dengan cara yang tidak halal. Demi istri tercinta, tidak sedikit suami yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan harta. Supaya istrinya tidak ngomel-ngomel, supaya istrinya bisa tambah mencintainya. Ah, apakah mbak-mbak mau punya suami seperti itu? Kalau saya sih ga mau.

Yuk, belajar merasa cukup dan bersyukur dengan apa pun kondisi kita. InsyaAllah itu lebih menenangkan hati dan mendatangkan kecintaan Allah. Fase kehidupan kita masih panjang lho, jadi jangan begong saja meratapi nasib di fase ini, supaya di fase berikutnya kita ga nyesel.

#UmmiSanti