Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da’iyah Saudi Arabia

Kajian Fi qh Muslimah Wahdah Jakarta

Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta

(Depok)-Wahdahjakarta.com – Awal tahun ini Muslimah Wahdah Jakarta kedatangan tamu istimewa dari Saudi Arabia, ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy. Beliau adalah seorang daiyah dan belajar khusus di bidang Adab dan Manajemen Amal. Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, keberadaan ustadzah Maha Humaymid al-Mamumy digunakan oleh Muslimah Wahdah Jakarta untuk memberikan acara spesial bagi para muslimah di wilayah Jakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Muslimah Wahdah Jakarta sejak dua bulan yang lalu secara rutin mengadakan kajian fiqh muslimah setiap hari jum’at di masjid pesantren Al Hijaz, Kompleks Pondok Laras Jl Komjen Pol. M. Yasin (Jl Akses UI) No 2E kelapa Dua Depok. Acara ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan pencerahan kepada muslimah terhadap agamanya.

Dan pada hari Jum’at tanggal 12 Januari 2018, acara taklim muslimah terasa begitu istimewa dengan kehadiran ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy sebagai pemateri. Taklim yang biasanya dilaksanakan dari jam 13.00 – 15.00 ini digeser pada jam 15.30 – 17.30 karena menyesuaikan jadwal pemateri. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah, “Izinkan Aku Mengenal-Mu”, satu tema bahasan fikih Asmaul Husna yang sangat menarik.

Ustadzah Maha menjelaskan tentang nama-nama Allah yang indah di antaranya Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudus, dan As Salam. Dengan mengenal dan memahami nama-nama Allah kita akan menjadi hamba yang bebas dan merdeka. Hati kita akan menjadi tenang dan bahagia karena yakin dan percaya bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya.

Penerjemah yang merupakan alumni LIPIA dan salah satu dosen di pesantren Al Wafa Bogor, Ustadzah Asiyah, Lc., turut andil dalam menciptakan suasana taklim sehingga terasa makin hidup. Beliau menerjemahkan materi dari ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy  dengan alur kalimat yang mudah dipahami peserta dan penyampaiannya begitu antusias.

“Alhamdulillah materinya bagus, menambah keimanan saya. Membuat saya semakin yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Jujur, Maha Benar, dan janji-Nya pasti. Kajian tentang Asmaul Husna tadi membuat saya harus bertahan dalam kesabaran karena semua yang diberikan Allah itu baik”, kata bu Tarti, salah satu peserta dari Depok.

Kajian muslimah yang dihadiri 58 peserta ini semakin meriah dengan banyaknya hadiah yang dibagikan kepada peserta yang aktif bertanya ataupun dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain memberikan ilmu tentang Asmaul Husna, ustadzah Maha juga sempat memberikan taujih kepada para da’iyah Muslimah Wahdah Jakarta di sesi selanjutnya setelah shalat maghrib. Beliau menyampaikan bahwa da’iyah harus selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal baik berupa tsaqofah, keterampilan (skill) maupun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’iyah. Dengan bekal ini diharapkan da’iyah mampu berdakwah di tengah masyarakat dengan baik. Seorang da’iyah juga harus selalu mampu membuat strategi dakwah yang kreatif namun tetap berlandaskan al Qur’an dan sunnah. Hal ini akan sangat mendukung keberhasilan dakwahnya.

Di akhir pertemuan dengan Muslimah Wahdah Jakarta, ustadzah Maha menyampaikan kesan beliau terhadap sambutan yang beliau dapatkan dari para muslimah. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa bersama para da’iyah yang menyambut saya seperti sedang bersama dengan keluarga sendiri. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kali. Insya Allah kita akan bertemu kembali bi idznillah”, tutur beliau.

#ummusanti

Izinkan Aku Mengenal-Mu (Fiqh Asmaul Husna)

Izinkan Aku Mengenal-Mu

Kajian Fiqh Asmaul Husna

Izinkan Aku Mengenal-Mu (Fiqih Asmaul Husna) Majelis Ilmu Muslimah Wahdah DKI Jakarta

Majelis Ilmu Muslimah Spectakuler Awal Tahun

Menghadirkan Pembahasan;

“Izinkan Aku Mengenal-Mu”,

Yang akan mengulas Fiqh Asmaul Husna

Bersama:

  1. Ustadzah Maha Humaymid Al-Mazmumy (Da’iyah dari Jeddah Saudi Arabia)

  2. Ustadzah Asiyah, Lc (Da’iyah Muslimah Wahdah)

Hari/Tanggal : Jum’at/ 12 Januari 2018
Waktu              : 15.30-17.30 WIB
Tempat            : Pesantren Al-Hijaz,Komp.RM Lesehan Pondok Laras, Jln. Komjen M. Jassin (eks. Jln. Akses UI), No. 2E, Kelapa Dua Depok

Pelaksana:

Muslimah Wahdah Wilayah DKI Jakarta

Pesantren Al-Hijaz Al-Khairiyyah Depok

Poligami Solusi yang Disalahpahami

Poligami solusi yang disalahpahami, baik oleh sebagian pelaku yang mempraktikannya maupun oleh para pembenci dan pencelanya. Ada yang menolak dan mencela secara mutlak. Ada pula yang mempraktikannya tanpa mengindahkan adab dan etika syar’i. 

Poligami, sebuah kata yang memiliki daya magis. Betapa banyak kata-kata yang akan muncul saat kata ‘poligami’ ini didengar. Ada ungkapan antusias dengan berbagai macam jenisnya. Ada yang mengecam, mencibir, dan menolak mentah-mentah. Sebaliknya, ada yang menanggapinya dengan penuh gairah.

Dalil tentang hal ini sudah sangat ma’ruf:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [QS. An-Nisa’: 3].

Banyak kisah yang menceritakan suka-duka poligami. Ada yang berakhir dengan kisah tragis, rumah tangga hancur, daftar janda semakin bertambah, terlebih lagi anak-anak yang menjadi korban perceraian atau kurang kasih sayang. Namun banyak pula kisah poligami yang berakhir dengan happy ending. Ia menjadi payung keindahan dalam kehidupan berumah tangga.

Dari sini dapat diambil pelajaran, bahwa seharusnya setiap Muslim adil dalam memandang masalah poligami. Islam menempatkan poligami sebagai salah satu solusi dalam kehidupan berrumah tangga. Asal hukum dari poligami adalah mubah, dengan syarat bisa berlaku adil. Dan hukum tersebut bisa berubah-ubah tergantung urgensinya bagi setiap rumah tangga, dengan melihat plus-minusnya yang berhubungan dengan situasi dan kondisi yang ada dalam rumah tangga masing-masing.

Jika dirasa dengan poligami, bisa semakin mengokohkan rumah tangganya kelak, maka poligami bisa menjadi solusi. Namun jika dirasa sebaliknya, maka sebaiknya menghindari. Mempertahankan rumah tangga yang sudah lama berjalan wajib hukumnya daripada mengambil jalan sunnah yang pada akhirnya bisa menghancurkan tanggyng jawab yang wajib.
Ibarat sebuah perusahaan, yang ingin membuka cabang baru, maka perlu mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan manajemennya. Jika perusahaan induk saja belum beres, maka bisa dipastikan perusahaan cabang ikut tidak beres.

Jika poligami itu perlu dilakukan, hendaknya dengan cara yang tepat, memperhatikan mudharat dan mashlahat ke depan secara kompleks. Dan yang paling penting mengindahkan hukum-hukum serta norma-norma yang diajarkan dalam Islam. Banyak kisah poligami gagal dikarenakan sejak awal dimulai dengan pelanggaran terhadap aturan Agama.

Semua itu menunjukan, bahwa poligami bukanlah hal yang sederhana, dan tidak layak untuk disederhanakan sedemikian rupa. Bukan juga dianggap sebagai permainan, hal yang remeh, dan menjadi media pemuas nafsu belaka.

Syari’at poligami haruslah dipandang sebagai salah satu solusi, namun bukan satu-satunya solusi. Sebagai sebuah solusi, maka ia tak harus menjadi bingkai atau hukum yang sama. Bagi sebagian orang poligami bisa menjadi solusi untuk kebahagiaan rumah tangganya. Namun belum tentu menjadi solusi bagi rumah tangga yang lain. Bahkan bagi sebagian orang bisa menjadi petaka kehancuran rumah tangganya.

Jadi, mari letakkan poligami secara proporsional dalam kehidupan kita. Tak usah memandang buruk pada orang yang mengamalkannya. Namun sebaliknya jangan sekali-kali membanggakan diri karena telah menjalankannya kalau ternyata beragam kemungkaran dilakukan demi poligami yang seolah-olah menjadi cita-cita.

Segala yang dilakukan tanpa meneladani Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan dilakukan dengan serampangan pasti akan berakhir buruk. Namun segala sesuatu yang dilakukan dengan mengikuti i petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pasti akan berbuah kebaikan. [Tri .A/ed:sym].
Jakarta, 3 Januari 2018

Cinta dan Makna Kerinduan

Cinta dan Makna Kerinduan
Ada saatnya aku harus pulang
Karena rindu karena hasrat menggebu
Buat menjengukmu dan anak-anak kita
Sebuah muara tempat gelombang beradu.
[Suminto A. Sayuti; Pada Saatnya Aku Harus Pulang]

RINDU. la adalah kata yang mengekspresikan gejolak jiwa untuk menghargai makna kehadiran dan kebersamaan. Jiwa yang diluluri cinta tidak akan tahan untuk berlama-lama dalam keterpisahan. Ada batas waktu tertentu yang dapat ditoleransi, tetapi lamban dan pasti ia akan diserang dahaga kerinduan. Saat itulah ia membutuhkan air yang menyejukkan: pertemuan.

Kerinduan bagi pasangan kekasih, suami istri, merupakan tanda cinta di antara keduanya. Ia memang jauh lebih berharga dari segala bentuk oleh-oleh dan hadiah yang dibawa saat kepulangan. Kerinduan memiliki dua wajah yang sangat menawan hati suami istri yang saling mencintai: Perhatian dan tanggung jawab. Perhatian merupakan wujud nyata untuk mengetahui keadaan sang kekasih; dalam kondisi apa saat ini, saat ia bersama kesunyian dan kesendirian. Sementara itu, tanggung jawab adalah keadaan jiwa untuk berbuat yang terbaik bagi sang kekasih sebagai ganti dan garansi atas perpisahan itu.

Dua wajah itu ada pada para suami yang merindukan istrinya. Saat berjauhan adalah saat yang paling membebani mereka. Ada ruang kosong tempat hati harus ditambatkan secara halal. Selama tidak ada kekasih yang hadir secara nyata di dekat kita, maka hanya kenangan¬-kenangan yang hadir menggantikannya. Namun, ia hanya mengobati untuk sementara. Sebait sajak yang ditulis Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah berikut merekam kerinduannya yang dalam pada Ramlah binti Az-Zubair bin AI-Awwam.

Setiap malam kerinduan tiada mereda
Setiap hari kuingin berdekatan dengannya
Tiada sesaat pun ingatanku beralih kepadanya
Setiap waktu aku harus menepis derita

Begitulah, ketika kerinduan itu sedang bergejolak, maka ruang kosong itu harus segera diisi. Selama belum terisi maka iman kitalah yang kita jadikan benteng pertahanan diri. Iman menjadi benteng agar kita tidak mengisi ruang kosong kerinduan itu dengan kemaksiatan. Jika sebagai suami kita merasakan kerinduan yang luar biasa, maka hal yang sama dapat terjadi pada istri kita. Ia lebih membutuhkan kehadiran kita. Ia jauh lebih tersiksa ketika merindukan suaminya.

Kisah berikut mungkin telah akrab dalam ingatan kita. Namun, saya akan menghadirkan kembali sebagai gambaran nyata tentang adanya tarikan banyak kutub, selama kerinduan tidak kunjung menemui obatnya. Gejolak cinta, tarikan iman, dan dorongan untuk berbuat kemaksiatan menjadi fragmen yang mengkhawatirkan.

Jarir bin Hazim berkata dari Ya’la bin Hakim, dari Sa’id bin Jubair, dia berkata: Sudah menjadi kebiasaan Umar bin Khathab untuk keliling kota Madinah. Suatu malam ia berkeliling kota. Dia menjumpai seorang wanita di dalam rumahnya menggumamkan sajak.

Malam ini terasa panjang dan gelap gulita
hatiku pilu karena tiada kekasih di sampingku
andaibukan karena Allah yang tiada Rabb selain-Nya
tentu masih ada kehidupan di atas ranjang ini
tapi aku dihinggapi takut kepada-Nya ada rasa malu menghantui
maka akan kujaga kehormatan suami semoga dirinya lekas kembali

Setelah itu wanita tersebut menghela nafas dalam¬-dalam. Ada sesak di dada. Lalu ia berkata, “Mestinya apa yang kualami pada malam ini merupakan masalah yang amat remeh bagi khalifah Umar bin Khathab.

Rindu akan terobati oleh kehadiran kekasih yang dinantikan. la menghajatkan keberadaan fisik sang kekasih untuk bersua. Saat itulah rasa rindu menemukan jawabannya. Akan tetapi, jika keadaan itu terasa susah terpenuhi, maka menjalin komunikasi yang intens dengan istri, di mana pun kita berada, merupakan obat penawar segala kerinduan itu. Istri juga memiliki hak untuk memiliki kita dan mengharapkan kehadiran kita di sisinya. “Dan, para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (terj. QS. Al-Baqarah: 228).

Itulah sebabnya, ketika kita akan bepergian, pesan dari istri yang mengiringi pesan berhati-hati adalah, “Segera kirim kabar kalau sudah sampai.” Kerinduan untuk bersama menghadirkan kekhawatiran akan keselamatan suaminya. Oleh karena itu, kesadaran yang harus muncul ketika seorang suami dalam bepergian, dan saat itu tugas telah terselesaikan adalah keputusan nyata untuk segera bertemu dengan istri dan keluarga. Seperti sajak Suminto A. Sayuti di atas; ada saatnya aku harus pulang/ karena rindu karena hasrat menggebu/ buat menjengukmu dan anak-anak kita.
(Sumber: Buku “Segenggam Rindu Untuk Istriku”.

Adab Menguap Dalam Islam

Adab Menguap

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Islam adalah agama yang telah Allah sempurnakan bagi ummat manusia. Begitu pula dengan ajarannya, di dalamnya telah dijelaskan dengan sangat detail, di antaranya adalah adab ketika menguap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan adab tersebut. Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin tidak memperhatikan adab tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka malah mengikuti cara-cara tidak Islami ketika menguap. Mulut mereka dibuka lebar-lebar dan tidak ditutup, bahkan terkadang di iringi dengan suara yang keras.

Menguap dibenci oleh Allah Jalla wa A’laa, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap, maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan Alahamdulillah). Dan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengar untuk mendoakannya. Adapun menguap berasal dari syaitan, hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin. Dan bila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu syaitan menertawakannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itu selayaknya seorang muslim benci menguap sebagaimana Allah membencinya. Dan yang menyebabkan dimakruhkannya menguap adalah karena hal ini berasal dari syaitan, dan syaitan tidak akan menghinggapi sesuatu kecuali pada hal-hal yang jelek dan yang dibenci. Lagi pula, menguap membuat seseorang banyak makan yang pada akhirnya membawa kemalasan dalam beribadah.

Terlebih pada saat shalat, seorang muslim disunahkan untuk menahannnya sekuat mungkin karena itu dari syaithan, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa hendaklah seorang muslim jika menguap berusaha untuk menahannya sedapat mungkin. Jika ia tidak dapat menahan mulutnya tetap dalam keadaan tertutup, maka hendaklah ia menutupinya dengan tangannya. Dan lebih utama menutup mulut dengan tangan kiri karena menguap merupakan perbuatan yang buruk.

Wallahu a’lam
Tri Afrianti

Sumber:
Buku Adab Menguap dan Bersin (Adaabut Tatsaa’ub wal ‘Uthaas) Syaikh Isma’il bin Marsyud Ar Rumaih

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Tahfidz Holiday

Bagi anda para muslimah yang sedang bingung mengisi liburan akhir tahun kali ini ..
Yuks jangan sampai terlewatkan kesempatan berlibur penuh makna bersama Alquran
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Daftarkn diri anda segera dan dapatkan diskon 10% bagi 3 orang pendaftar pertama
ONLY MUSLIMAH
📶 Kuota Terbatas
📝 PERSYARATAN:
1. Muslimah usia 17-25, tahun
2. Mampu membaca Al Qur’an
4. Sehat jasmani & rohani
5. Tidak membawa anak kecil
🎯 TARGET :
3 JUZ 🎁 *FASILITAS
– Asrama – Makan 3x sehari – Pembimbingan hafalan dengan waktu yang intensif
– Mesin Cuci
📌 PENDAFTARAN :
1 – 15 Januari 2018
📩 Cara Daftar

  1. DAFTAR ONLINE
    Ketik NamaPeserta#Kampus#Alamat#
    Kirim ke 085331273578(SMS/WA)
    Ex: Maryam#UI#Cimanggis,Depok#
  2. DAFTAR LANGSUNG DI LOKASI

    📆 *MULAI PROGRAM*
    15-22 Januari 2018 🎀 INFAK PESERTA : Rp 300.000 ☎ *HUBUNGI* 085331273578 / 0217751254

📍LOKASI
RUMAH TAHFIDZ ASSAKINAH
jl. Fatimah bawah No 26 Rt 02 Rw 14 Kel.Kemiri Muka Kec. Beji Depok Jawa Barat
🏢Presented By
Rumah Tahfidz Assakinah
Yayasan Al Hijaz Al khaeriyah indonesia

relakan perpisahan ini

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai Akhi, Relakan Perpisahan Ini!

Wahai akhi, Allah mempertemukan kita dalam keadaanku sebagai muslimah yang sedang mencari cahaya kebenaran. Dan kehadiranmu selaksa tetes air di tengah gersangnya padang pasir. Seumpama sinar bulan purnama di pekatnya malam. Hari demi hari pun mulai terisi dengan perjumpaan demi perjumpaan. Sikapmu yang santun dan kata-katamu yang begitu sopan membuatku tertawan. Hampir setiap hari engkau mengirimkan untaian nasehat agar aku menjadi muslimah yang baik. Untaian nasehat yang memotivasiku untuk semangat belajar mengenal dien ini. Nasehat yang memotivasiku untuk ikut andil dalam gerak dakwah.

Jujur akhi, aku suka dengan rangkaian kata yang engkau tuliskan untukku. Bait-bait kata yang tak jarang membius hatiku, melambungkan anganku melintasi awan-awan impian. Tapi akhi …, kurasa cukup sudah semua itu, jangan engkau lanjutkan lagi. Karena aku sadar, hatiku mulai tercabik, mulai ternoda. Noda yang semakin bertambah ketika kubiarkan diriku hanyut dalam kebersamaan ini.

Wahai akhi, sungguh aku mendapat kebaikan dengan mengenalmu. Tapi aku sadar bahwa kedekatan kita bukan sesuatu yang halal. Jadi, demi cintaku padamu, biarkan aku berlalu. Usah lagi kata-kata pujian itu engkau kirimkan padaku. Usah lagi dering teleponmu memecah keheningan sepertiga malamku. Aku takut membuat Allah cemburu. Aku takut justru itu membuat sujud dan rukuk kita tak bemakna apa-apa di mata-Nya.

Duhai akhi, ikhlaskan aku berlalu darimu. Terima kasih atas beragam nasehat yang engkau maksudkan untuk menguatkan pijakanku di jalan keimanan ini. Terima kasih atas buku yang engkau pinjamkan dan hadiahkan padaku, yang telah turut andil mencerahkan hatiku dalam mengenal dien ini. Tapi aku tak menginginkannya lagi, akhi. Biarlah aku mengembara sendiri menyusuri taklim-taklim muslimah, bergabung dengan saudari-saudariku dalam majelis tarbiyah untuk menambah pemahaman keislamanku. Kurasa pilihan ini lebih menentramkan dan menjaga hatiku dari desiran-desiran aneh yang sulit kutepis.

Duhai akhi, relakan perpisahan ini terjadi. Usah lagi engkau menghubungiku untuk bertanya kabar ataupun menguatkan semangatku. Usah lagi engkau memintaku untuk membantu dakwahmu. Ajaklah para ikhwan agar engkau dapat membina dan mengkader mereka. Dan biarlah aku berta’awun dengan saudari-saudariku dalam mengusung dakwah ini. Bukankah hal itu lebih menjaga hati kita dari hujaman panah setan yang menyakitkan? Panah yang ketika sudah terlanjur menancap, sakitnya tak terdefinisikan, dan saat dicabut pun sakitnya begitu menyiksa.

Wahai akhi, biarkan aku berlalu. Usah lagi engkau sihir aku dengan kata manismu, bahwa aku begitu berarti bagimu. Jika memang engkau ingin, pinanglah aku, akhi, agar halal rayuanmu untukku. Tapi jika tidak, biarlah perpisahan ini menjadi penjaga hati kita.
Wahai akhi, relakan kepergianku. Jangan berati langkahku yang berusaha menjauh darimu. Justru karena cintaku padamu perpisahan ini kupinta, agar hati kita tetap terjaga untuk selalu dalam ketaatan pada-Nya. Meski terlalu halus setan memoles hubungan yang tak wajar di antara kita, tapi hatiku selalu menjerit dan tersiksa. Meski engkau berkata bahwa semua baik-baik saja, tapi hatiku tak bisa menerima jalinan yang terasa janggal ini. Jalinan yang kurasa seperti membangun istana pada salah satu sisinya, tetapi merobohkan pada sisi lainnya. Biarlah semua ini berakhir akhi, karena begitulah yang seharusnya. Biarlah kutitipkan rasa ini pada-Nya, agar noda-noda di hatiku dapat terkikis. Agar ketenangan hati dapat kurengkuh kembali.

Selamat tinggal akhi. Semoga senantiasa berderap di jalan dakwah dengan kelurusan niat dan kebersihan hati. Semoga tidak ada lagi hati yang ternodai.

[ummisanti/sym]

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan seorang muslimah terletak pada aqidahnya yang tertancap kuat, menghujam ke dalam hati. Prinsip keimanan yang tak mudah goyang oleh gerusan zaman. Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dan diibadahi. Yang dengannya dia menjadi Muslimah merdeka dan terbebas dari penghambaan kepada makhluk. Yang dengannya dia teguh di atas kebenaran dan menjadi pribadi yang penuh percaya diri.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada visi misi hidupnya yang jauh ke depan. Dia menyadari bahwa kehadirannya di dunia tidak sekedar bersinggah ataupun untuk tinggal selamanya. Dia paham bahwa dia diciptakan untuk beribadah kepada Rabb-nya. Ibadah yang tentu saja bukan hasil karya dirinya, tapi sesuai dengan risalah langit yang disampaikan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di paham betul bahwa suatu ibadah yang dia pandang baik belum tentu diterima oleh Allah jika tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Karenanya dia tidak pernah kreatif dalam hal ibadah. Dia sangat memahami bahwa bacaan tasbih, tahlil, dan kalimat thayyibah lainnya adalah sesuatu yang baik dan dicintai Allah. Akan tetapi, dia pun paham ketika bacaan thayyibah itu dibaca dengan waktu tertentu dan jumlah tertentu, maka harus adalah landasan syari’at yang mendasarinya. Sebab jika tidak, berarti menjadi suatu amalan yang sia-sia, bahkan bisa mendatangkan kemurkaan Allah. Betapa dia melihat kenyataan bahwa orang yang membuat wiridan dengan menentukan sendiri jumlah dan waktunya, telah membuka celah jin untuk masuk ke dalam diri mereka.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kekokohannya menjaga kehormatan diri dan menjunjung tinggi rasa malu. Dia menyadari bahwa dirinya adalah perhiasan dunia, sehingga berusaha menutupi diri agar tidak menjadi penyebab fitnah. Dia paham bahwa syariat berhijab adalah untuk memuliakannya, untuk menyembunyikan dirinya dari pandangan ajnabi. Agar keberadaannya tidak mengguncang hati lawan jenis. Karenanya dia memilih busana muslimah yang longgar, tebal, dan tidak menarik perhatian. Berbagai model busana muslimah yang sekarang nge-trend dengan berbagai model dan aksesorisnya, sama sekali tidak menarik minatnya meskipun untuk sekedar melirik. Dia tenggelam dalam kesahajaan, mencukupkan diri dengan kesederhanaan.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepahamannya menjaga batasan interaksi dengan lawan jenis. Sebisa mungkin dia menghindari interaksi yang dapat menjadi celah fitnah. Dia tegas dan lugas dalam berbicara kepada kaum adam. Dia tidak membuka celah fitnah dengan meminta nasehat kepada lawan jenis atas persoalan pribadinya baik melalui WA, SMS, ataupun inbox FB. Sekalipun kepada seorang yang bergelar ustadz, dia sangat menjaga interaksi pribadi karena dia paham ustadz juga manusia. Dia memahami bahwa interaksi japri (jalur pribadi) melalui media sosial merupakan salah satu bentuk khalwat.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kedekatannya kepada Al Qur’an. Betapa Al Qur’an adalah kitab suci yang mulia, sehingga apapun atau siapapun yang bersinggungan dengannya, maka ia menjadi mulia. Bukankah malam di mana diturunkan Al Qur’an adalah malam yang paling mulia? Bukankah kota di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi kota termulia di muka bumi ini? Bukankah generasi di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi generasi paling mulia di bumi ini? Dia sangat memahami itu, sehingga dia berusaha berakrab-akrab dengan Al Qur’an yang merupakan kalam dari Rabb-nya. Dia belajar memperbaiki bacaan Al Qur’an, merutinkan tilawah harian, melakukan tadabbur dan menghafal Al Qur’an, serta berusaha mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupannya. Dia paham, bahwa umat ini akan tegak dan berjaya dengan Al Qur’an.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepeduliannya akan kondisi umat saat ini. Jauhnya umat dari syari’at dan tersebarnya maksiat membuat hatinya cemburu. Membuat jiwanya gelisah dan berduka. Dia menyadari bahwa menyebarnya maksiat dan tidak adanya pelaku amar ma’ruf nahi mungkar dapat menjadi asbab turunnya laknat Allah atas suatu kaum. Karenanya dia tidak mau berpangku tangan. Dia bergabung dengan barisan pejuang yang berusaha menegakkan dien ini. Dia menjadi satu di antara muslimah lainnya yang berjuang di atas jalan dakwah. Baginya dakwah adalah kebutuhan dan jalan hidup. Dan dia berharap, dakwah yang dijalaninya bisa menjadi hujjah baginya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala kelak.

[ummisanti/sym]

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (2)

Pada artikel seri kedua ini kita akan melanjutkan bahasan tentang beberapa peran istri yang bisa mendorong tercapainya rumah tangga bahagia. Sebelumnya, kita sudah membahas peran istri sebagai kekasih bagi suami.
Peran Istri sebagai Ibu bagi Anak-anak
Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran anak merupakan sebuah kemestian. Meskipun tidak setiap pasangan dikarunia keturunan, akan tetapi secara umum bahwa tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk melestarikan keturunan. Maka kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangga merupakan bagian yang tak terpisahkan.
Berbicara tentang anak tentu tidak lepas dari sosok seorang ibu. Dan dalam Islam, sosok ibu ini mendapat tempat atau kedudukan yang mulia. Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ؕ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” [QS. Luqman: Ayat 14]
Betapa payahnya seorang ibu mengandung anaknya selama 9 bulan kemudian melahirkannya dengan taruhan nyawa. Perjuangan masih dilanjutkan dengan mengasuh dan merawatnya. Masya Allah, ladang pahala yang sangat subur sehingga Allah pun menyandingkan rasa syukur kepada ibu bapak sejajar dengan rasa syukur kepada-Nya. Ayat di atas tentunya menjadi pendorong tersendiri bagi seorang istri untuk bisa memposisikan dirinya sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Sosok laki-laki sebagai suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya memiliki waktu yang terbatas untuk berlama-lama di rumah karena tuntutan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka di sinilah peran istri untuk berbagi tugas dengan suami, menjadi ibu untuk mengasuh dan mendidik anak-anak mereka.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu memiliki waktu lebih banyak untuk bersama anak-anak dibandingkan sang ayah. Ibu memegang tanggung jawab atas pembinaan masa depan anak-anak. Keberadaan dan peran seorang ibu menjadi sangat vital bagi pendidikan anak di awal pertumbuhan mereka. Dan inilah yang menjadi kunci awal pembentukan kepribadian mereka di masa depan.
Ibu adalah model bagi anak-anaknya di mana setiap gerak dan tingkah lakunya akan dicontoh dan ditiru. Istri yang bisa memainkan peran sebagai ibu yang baik tentunya akan membuat suami tenang dan memberi kepercayaan penuh untuk mengurus anak-anak. Tentunya peran yang satu ini bukan peran yang mudah dilakukan meski secara alami atau fitrahnya seorang perempuan memiliki jiwa keibuan. Maka penting bagi seorang istri untuk terus mengasah keilmuan dan ketrampilannya dalam mengasuh dan mendidik anak agar peran sebagai ibu dapat dilakoni dengan baik.
Peran Istri sebagai Sahabat Suami
Siapakah sahabat? Dia adalah orang yang dekat di hati kita. Orang yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan kita. Persahabatan menunjukkan hubungan kedekatan perasaan dan emosi. Sahabat adalah orang yang paling mudah kita ajak bicara tentang banyak hal. Seorang sahabat siap menjadi pendengar yang baik, menjadi sandaran saat sahabatnya rapuh, tempat berbagi tawa dan air mata. Hampir tidak ada rahasia di antara dua orang yang bersahabat. Dukaku dukamu, bahagiamu bahagiaku. Aku nyaman bersamamu,engkau pun nyaman bersamaku. Begitulah, seseorang akan merasa nyaman bersama sahabatnya. Mereka bisa saling menerima kekurangan satu sama lain. Mengatasi persoalan yang timbul di antara keduanya dengan semangat persahabatan sehingga kerenggangan hubungan mudah teratasi.
Seorang sahabat siap sedia saat dibutuhkan. Rela menyisihkan waktu dan mengorbankan kepentingannya untuk sahabatnya. Saat dekat hati merasa bahagia. Saat jauh pun banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan dan ada kerinduan untuk bersama. Saling menghargai dan saling percaya. Seperti itulah sosok seorang sahabat. Persahabatan menjadikan seseorang begitu istimewa dan sangat dibutuhkan kehadirannya.
Bagaimana jika sosok sahabat ini hadir dalam kehidupan rumah tangga? Itulah peran yang perlu dimainkan oleh istri, menjalin persahabatan dengan suami. Dengan begitu, istri menjadi begitu istimewa di hati suami dan sebaliknya pula suami menjadi begitu istimewa di hati istri.
Persahabatan yang terjalin antara suami istri membuat saat-saat perjumpaan menjadi hal yang dirindukan. Suami bisa dengan leluasa mencurahkan suka dukanya, mengisahkan rahasia hidupnya, serta merasa aman dan nyaman bersamanya. Mereka saling memahami, saling mengerti, saling memberi dan menerima, penuh kehangatan dan begitu akrab.
Yang sering kali terjadi saat ini, banyak pasangan suami istri yang jarang atau bahkan tidak sempat meluangkan waktu bersama. Mereka kurang menyadari betapa berharganya detik-detik kebersamaan bersama pasangan. Benarkah demikian?
Kesibukan seorang suami mencari nafkah di luar rumah seringkali menyita waktu. Begitupun rutinitas seorang istri di rumah dengan seabreg pekerjaan rumah tangga. Apalagi jika istri juga berperan sebagai wanita karir, tentu waktu untuk membersamai keluarga menjadi sangat berkurang. Jika masing-masing pasangan tidak menyadari pentingnya membangun kedekatan hati satu sama lain, tidak memperhatikan kualitas kebersamaan mereka, hubungan suami istri dengan pola semacam ini akan menjadi hambar seiring berjalannya waktu. Ketika suami istri berkesempatan bersama di rumah, keduanya sibuk dengan gadget masing-masing. Sibuk berasyik ria dengan orang yang jauh di luar sana dan lupa dengan keberadaan orang terdekatnya. Mereka asyik dengan pertemanan di dunia maya sampai lupa membangun ikatan hati dengan pasangannya. Atau jika tidak, saat sedang bersama justru mereka sering disibukkan dengan pembicaraan tagihan listrik, pembelanjaan dapur, ataupun segala tetek bengek kebutuhan rumah tangga yang tak kunjung habis untuk dibicarakan. Meskipun hal-hal seperti ini memang perlu dibicarakan dan didiskusikan, akan tetapi jangan sampai porsinya mengabaikan kebutuhan hati.
Istri yang memahami perannya tentu tidak akan membiarkan kondisi seperti ini berlaku dalam rumah tangganya. Bagaimana pun kebersamaan dengan pasangan adalah momen berharga yang tidak boleh dilewatkan dengan hal-hal yang kurang berarti. Ia sangat memperhatikan kualitas hubungannya dengan suami. Selalu siap saat suami membutuhkan bantuan. Dia berusaha memberikan perhatian-perhatian kecil sehingga suami menyadari betapa istimewanya dia.
-selesai-

#ummisanti

Peran Istri dalam keharmonisan rumah tangga

Istri dan Keharmonisan Rumah Tangga (1)

Pernikahan mempertemukan dua hati dan dua kepribadian dalam satu ikatan suci, dalam satu bahtera rumah tangga. Bahtera yang melaju melintasi lembaran-lembaran masa dan mengukir beragam kisah dengan segala keunikannya. Pernikahan merupakan tim sukses dari pasangan suami istri yang saling bahu membahu menghalau badai agar bahtera rumah tangga tetap kokoh. Satu sama lain berusaha mengimbangi rasa dan irama agar tercipta harmoni indah, sehingga hempasan persoalan yang datang menerpa tidak menjadikan bahtera rumah tangga karam dan runyam. Masalah yang hadir dalam kehidupan rumah tangga justru menjadi bumbu penyedap yang makin mempererat ikatan hati.
Siapa pun tentu menginginkan kondisi rumah tangga seperti itu. Rumah tangga yang hangat penuh cinta, bertabur kebahagiaan dan kemesraan. Hanya saja, yang menginginkan belum tentu bisa meraihnya. Karena untuk mewujudkannya tentulah butuh kesungguhan, kerja sama, dan kekompakan.
Salah satu faktor utama untuk meraih rumah tangga serasa surga adalah keberadaan seorang istri. Ia punya peran dan andil besar dalam mengarahkan bahtera rumah tangga menuju pantai kebahagiaan, untuk mencapai rumah tangga yang bernilai dan berbobot, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Allah berfirman,
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ؕ اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: Ayat 21)
Dari ayat tersebut dapat kita tangkap sebuah makna bahwa kehadiran istri dapat memberikan rasa tenteram serta perasaan cinta dan kasih sayang bagi suaminya. Pertanyaannya, apakah semua istri dapat memainkan peran tersebut? Tentunya, pemeran terbaik adalah istri yang paham akan kedudukannya di mata suami dan memaknai hakikat pernikahan yang dijalaninya semata untuk meraih ridha Allah.
Sebagaimana kita ketahui, pada umumnya masa awal pernikahan semua terasa begitu manis. Istri begitu mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada suami. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia pernikahan, kekuatan cinta pun teruji oleh berbagai situasi dan kondisi. Ada yang menguat, tak sedikit pula yang kian memudar. Ada istri yang mengeluhkan suaminya menjadi begitu kaku dan cuek setelah masa yang panjang dari pernikahannya, tanpa dia sendiri menengok ke dalam diri bahwa bisa jadi dialah penyebab perubahan itu.
Seorang istri semestinya punya kepekaan tinggi terhadap fluktuasi ruhiyah rumah tangganya. Karena bagaimana pun, dia memegang peran strategis yang menentukan nasib bahtera rumah tangganya, menuju kepada kebahagiaan atau justru kehancuran. Istri yang pandai memainkan peran dan paham terhadap hak dan kewajibannya, akan punya energi lebih untuk mengayuh bahtera rumah tangganya menuju maghligai kebahagiaan yang hakiki.
Ada banyak peran yang bisa dimainkan oleh seorang istri dalam menjaga keutuhan rumah tangganya. Peran-peran tersebut dapat menjadi pupuk cinta dan keharmonisan rumah tangga. Kemampuan istri mengolah peran dan memberikan suguhan rasa yang berbeda sangat dibutuhkan oleh seorang suami,suguhan dengan menu yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan suami. Istri yang cerdas akan mampu menempatkan diri dan memainkan peran sesuai dengan situasi dan keadaan.
Peran Istri sebagai Kekasih
Peran ini punya arti sangat vital bagi kehidupan rumah tangga. Betapa banyak orang yang menikah tapi tidak saling menjadi kekasih. Pernikahan hanya menjadi simbol sosial dan masing-masing disibukkan oleh rutinitas yang makin lama kian menjemukan. Hingga datang masanya titik kulminasi kebosanan dalam rutinitas pernikahan yang menyebabkan pertengkaran, perselingkuhan, bahkan perceraian.
Karenanya, penting bagi seorang istri untuk bisa menyuguhkan rasa seorang kekasih bagi sang suami. Dengan begitu rumah tangga yang dijalani memiliki ruh kemesraan, ada ikatan batin kuat yang mengokohkan bahtera rumah tangga. Ada cinta yang tersemai dan terjaga dengan baik. Ada pelangi bahagia yang membuat satu sama lain merasa saling membutuhkan dan enggan terpisahkan.
Jadilah kekasih bagi suami Anda. Kekasih yang mau memahami dan menerima kekurangannya serta lebih terfokus pada kelebihan yang dia miliki. Jadilah seorang kekasih yang selalu mensyukuri kehadirannya sebagai anugerah indah yang Allah berikan. Jadilah kekasih yang makna kehadiran Anda di dekat suami lebih dari sekedar “berada bersamanya”.
Seorang istri adalah kekasih hati bagi suaminya. Dia selalu ada saat suami membutuhkan. Selalu ada cara baginya untuk menggoda dan memikat hati suami. Dia mampu menjadi tempat berbagi kemesraan dan kasih sayang.
Sebagai kekasih, istri yang cerdas memahami kebutuhan biologis suaminya, mampu menangkap sinyal-sinyal yang terkadang tidak terungkapkan. Dia tidak lelah mencurahkan belaian cinta dan kasih sayang untuk belahan jiwanya. Ketika sang suami menginginkan dirinya, maka ia bersegera dengan sepenuh hati dan kesungguhan memenuhi hasrat suaminya. Ia menyadari wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya sehingga dia (suami) tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga subuh.” (HR Bukhari No. 5194 dan Muslim No. 1436)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya. Tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur lalu ia menolak ajakannya melainkan Rabb yang di langit dalam keadaan murka terhadapnya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR Muslim No. 1436)
Seorang istri tentu tidak rela dirinya dilaknat oleh penduduk langit dan Rabb yang menciptakannya. Baginya, membahagiakan suami adalah kebahagiaan juga untuknya. Ia menyadari bahwa keinginan suami yang tertunda dapat menjadi celah yang menggerogoti keharmonisan rumah tangga. Betapa mereka yang tidak memperhatikan kebutuhan primer suami yang satu ini akan menemukan rumah tangganya berada dalam titik rawan. Ketika seorang istri seringkali mengabaikan kebutuhan ranjang suaminya, hal ini bisa memicu terjadinya perselingkuhan bahkan perceraian.
[bersambung …]

#ummisanti