Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

Oleh: Achmad Firdaus

Suatu saat dikemudian hari ketika semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara para pejuang sejati yang bercerita tentang perjuangan yang indah. (AF)

Ada kalanya waktu ibarat dimensi yang terlihat, layaknya orang yang bisa menatap gedung-gedung yang tinggi, pepohonan dan puncak gunung dikejauhan sana. Setiap orang bisa menatap waktu ke arah yang berlawanan dan tampaklah kejadian penting masa lalu, kelahiran, pernikahan dan kematian terlihat sebagai pertanda adanya dimensi waktu. Begitupun dengan rentetan kejadian di masa yang akan datang, merentang penuh hayal dan tanya di masa depan yang jauh. Kita semua akan berpindah tempat, namun setiap orang bisa memilih gerak pada poros waktu. Mungkin banyak diantara kita yang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan, ada memilih berlambat-lambat berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian, sementara yang lain berpacu menuju masa depan dengan berjuta harapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas.

Setiap insan ditakdirkan bersama rentetan peristiwa yang telah dan (akan) menemani hari-harinya. Tak terkecuali dengan petualangan hidupku yang telah menyisakan beragam goresan kisah yang indah. Terlebih lagi disaat aku mencoba memainkan memori dalam ingatanku yang melayang jauh ke masa lalu, belasan tahun silam, saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Merah, kampus yang dikenal sebagai perguruan tinggi terfavorit di Kawasan Timur Indonesia. Sedikit bangga dan bersyukur bisa mengenyam pendidikan di kampus ternama itu, terlebih lagi saat mengingat masa-masa indah datangnya cahaya hidayah. Iya, kampus itulah yang menjadi saksi bisunya.

Aku merasa rindu sekali berada pada masa itu, rindu pada sosok yang ketika itu, tujuh, delapan, atau sembilan tahun yang lalu merombak kotak-kotak ‘nafsu duniawi’ dalam hidupku. Beliau adalah seorang guru yang sangat sederhana, ramah dengan senyum khas dan sapaan lembutnya saat menjumpai kami murid-muridnya. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan penampilannya sebagai seorang guru, mungkin berbeda dengan professor-doktor dengan perawakan angkuh dan gaya modis masa kini yang sering aku jumpai dikampus. Beliau selalu ceria bersama kami, meskipun terkadang matanya nampak sayu pertanda beliau dalam kondisi lelah dengan beragam aktivitas dakwahnya, apalagi beliau adalah ‘orang penting’ di Wahdah Islamiyah kala itu.

Iya, Wahdah Islamiyah. Beliaulah yang memperkenalkan kepadaku lebih jauh tentang ormas ahlussunnah tersebut, meskipun sebenarnya organisasi dakwah itu sudah tidak asing lagi bagiku, karena kebetulan disaat awal menjadi mahasiswa, aku beberapa kali ‘terjebak’ ikut dalam ta’lim pekanan di masjid milik Wahdah Islamiyah yang terletak dikawasan pondokan mahasiswa. Beliau selalu mengajari kami dengan tutur kata yang lembut dan santun, sehingga nasehat yang beliau sampaikan lebih mudah ‘nyantol’ dihati murid-muridnya. Beliau juga yang tak pernah bosan mengingatkan kami untuk selalu menghadiri majelis ilmu di masjid-masjid binaan Wahdah Islamiyah di Kota Makassar.

Masih tercatat begitu jelas, hari itu Kamis 8 November 2007, ketika beliau memaparkan dengan gamblang di hadapan aku dan teman-temanku, bagaimana pentingnya menjaga keikhlasan untuk menjadi seorang aktivis dakwah yang baik. Hari itu memang bukan kali pertama aku bermajelis dengan beliau, namun nasehat-nasehat yang disampaikan kepada kami sangat bermakna buatku, karena kebetulan di tahun itu aku dipercayakan untuk menempati posisi ‘penting’ dalam  mengemban amanah dakwah. Suasana hangat dalam majelis ilmu bersama beliau pun terus berlanjut dalam episode-episode yang panjang.

Setiap Kamis ba’da Ashar, dengan ditemani lampu yang tak terlalu terang, beliau selalu sabar dan setia menanti kami (murid-muridnya) di pojok masjid kampus lantai dua. Terkadang beliau juga yang ‘membangunkan’ ketika kami bermalas-malasan atau keasyikan nongkrong sehingga lupa akan jadwal tarbiyah. Sekali lagi, dengan sabarnya menanti kami yang sementara antri untuk mandi, sikat gigi, berwudhu, atau mempersiapkan segala sesuatunya. Lalu setelah satu demi satu hadir, dimulailah pembelajaran itu, sebuah lingkaran kecil dengan lima, enam, tujuh, sampai sepuluh orang lebih (tak menentu) peserta dan seorang guru. Dengan sabar dan tekun ia sampaikan materi demi materi setiap pekannya.

Ah, aku rindu dengan orang ini, aku rindu dengan sentuhan lembutnya ketika membangunkan kami saat tertidur disela-sela materi yang disampaikan. Aku rindu suara khasnya yang selalu mengingatkan kami “Akhi, jangan lupa hari ini jadwal tarbiyah ya, ingatkan ikhwa yang lain, kumpul di masjid kampus Unhas.” Ujarnya lembut. Aku benar-benar rindu bermajelis dengannya, walaupun mungkin seringkali kami membuat beliau kecewa, dengan datang telat, sering ‘ngantuk’ saat belajar, dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, beliau tidak pernah marah dan selalu sabar mengajari kami tentang Islam yang sesungguhnya.

Menurut aku, beliau adalah guru paling sabar yang pernah aku temui, dengan telaten menasehati kami yang masih berlumur dosa kemaksiatan dan kegelapan jahiliyah, untuk kemudian membimbing menuju cahaya hidayah Allah. Beliau tak pernah bosan mengarahkan kami agar menjadi seorang Muslim sejati yang senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah. Sehingga saat itu aku benar-benar yakin bahwa disinilah aku menemukan jalan kebenaran yang akan menuntun hidupku menuju negeri keabadian kelak.

Tak terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi (bukan terkesan lebay) tatkala aku mengingat setiap rentetan peristiwa penuh makna itu. Ya, kebersamaan yang begitu indah dengan saudara tercinta dalam satu halaqah tarbiyah, meskipun tak bisa dipungkiri dalam sepekannya terkadang peserta tarbiyah berganti-ganti dan kadang ada juga ‘bintang tamu’ sebagai peserta baru yang bergabung bersama kami. Tapi itulah kekuatan kebersamaan dalam majelis ilmu yang dengannya dapat mempersatukan kami dalam ikatan ukhuwah meskipun dari beragam karakter yang berbeda. (Bersambung insya Allah)

Si Kecil yang Payah

Sikecil yang Payah

 

Sungguh, kitalah si kecil yang payah itu. Si kecil yang payaht api selalu melawan Sang Mahabesar.Si kecil yang payah tapi merasa lebih tahu tentang hidupnya, . .

 

SI KECIL YANG PAYAH…

Oleh: Ustadz. Muhammad Ihsan Zainuddin

Lihatlah si kecil dalam gambar itu!

Si kecil bernama manusia.

Konon,

itulah ia saat berusia 6 minggu

dalam kelam janin ibunya.

Betapa lemahnya ia.

Betapa tiada dayanya ia.

Dan di sepanjang hidupnya,

akan selalu begitu:

selalu lemah, selalu tanpa daya.

***

Tapi lihatlah si kecil yang payah itu:

saat ia mulai besar.

Saat di tangannya,

ada sedikit kuasa.

Ketika di genggamnya,

ada secuil harta.

Saat di dirinya,

ada sedikit kepintaran.

Saat di tangannya,

ada setetes kekuatan…

Saat ia mendapatkan semua yang sedikit itu,

ia lupa bahwa dialah si kecil yang payah itu!

Meski ia didaulat jadi penguasa dunia,

ia tetap saja kecil dan payah!

Meski ia didaulat sebagai paling bijak-bestari,

ia tetap saja kecil dan payah!

Meski ia didaulat sebagai hartawan termulia,

ia tetap saja kecil dan payah!

Tentu saja kecil dan payah:

Siapalah kita ini dibanding Dia,

Sang Mahabesar dan sepenuh kuasa pada segalanya.

Maka…

agar kita –si kecil yang payah ini-

selalu terendam dalam rasa kecil

dan payah sepenuh diri…

Allah hembuskan hujan-hujan kecil

bernama musibah dan bencana:

agar runtuh semua rasa hebat,

agar luruh semua rasa digdaya.

Agar kita –si kecil yang payah ini-

tertunduk tanpa daya, dan bergumam:

“Duhai Rabbi…

aku sungguh faqir pada-Mu.

Duhai Rabbi…

aku tiada daya, tiada kuasa,

tanpaMu…”

***

Hingga di ujung gumam itu,

hati kita penuh sakinah berikrar:

“Inna lillahi wa inna ilahi raaji’uun”,

Sungguh kami milik Allah,

dan sungguh pasti kami

hanya akan kembali pada-Nya…

Sungguh,

kitalah si kecil yang payah itu.

Si kecil yang payah

tapi selalu melawan Sang Mahabesar.

Si kecil yang payah

tapi merasa lebih tahu tentang hidupnya,

hingga lupa jika hidupnya hanya bahagia

saat berpijak langkah di jalan Syariat-Nya!

Sungguh,

yang paling bahagia di penjara dunia ini:

adalah dia yang selalu merasa kecil,

dan selalu merasa lemah

di hadapanNya:

Allah nan Mahabesar.

(Teriring doa penuh harap rahmat untuk para korban LION AIR JT-610 yang menutup hayatnya dalam kalimat “La ilaha illaLlah”…

Terima mereka sebagai syuhada, ya Rabbi…)

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

NB:

Sudah gabung di Telegram:

t.me/ihsanzainuddin ?

Sudah donlot e-book “Bahasa Arab itu Gampang” di:

http://ihsanzainuddin.com

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Amukan Tsunami

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Tsunami

Mobil Fidya, korban selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami Palu, Jum’at (29/09/2018) lalu. Photo:Fidya/hidcom.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

 

Mobilnya rusak parah habis diamuk tsunami. Sekujur bodinya tergores parah dan tersayat-sayat. Bodinya penyok dan bampernya copot. Lampu , ban,  dan spion lepas tak berbekas.

Tapi ajaib. Pengemudi mobil itu selamat. Jangankan luka parah, yang ada hanya goresan kecil di kakinya.

“Sampai sekarang saya seperti mimpi (masih) hidup,” ujar Fidyawati, sang pengemudi dan pemilik mobil itu.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

Sore itu sebelum kejadian, Fidya sedang dalam perjalanan pulang dari kampusnya, Stikes Widya Nusantara (Stikes WNP) di Jl Universitas Tadulako, Palu.

Roda empat yang dikendarainya bergerak dari arah Tondo menuju rumahnya di Jl Cemara, Kecamatan Palu Barat. Sendirian di dalam mobil, ia melewati jalan raya menyisir Pantai Talise, rute yang memang biasa ia lewati bolak balik rumah-kampus.

Sambil melantunkan shalawat atas Nabi, mengikuti irama senada dari tape mobilnya, Fidya fokus berkendara. Ia ingin cepat sampai di rumah untuk menunaikan shalat maghrib.

Tiba-tiba, saat posisinya berada tidak jauh dari pertigaan Jl Talise dan Cut Mutia, ia terkejut, laju mobil dihentikan. Disaksikannya pemandangan mengagetkan. Berbagai jenis sepeda motor dan penumpangnya terjatuh, mobil-mobil saling bertabrakan di depannya. Orang-orang pada berlarian meninggalkan kendaraannya sambil berteriak-teriak.

“Gempaaaaa… Aiiiiiirrrrr… Tsunamiiiiiii…!!!

Bersamaan dengan teriakan itu mobil terasa diayun-ayunkan sangat keras. Saya menengok ke arah kanan jendela dari dalam mobil. Saya melihat air itu berdiri di dekat saya dan sangat tinggi berwarna hitam, seakan marah,” tutur Fidya di Palu kepada hidayatullah.com, Sabtu pertengahan Oktober 2018.

Itulah detik-detik “alam mengamuk” dan mulai meluluhlantakkan ibukota Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan 7,4 skala richter terjadi pada pukul 18.02 WIB atau pukul lima sore waktu Palu, disusul tsunami sekitar 6 menit kemudian.

Detik-detik itu pula kepanikan melanda. Di dalam mobil, Fidya mengencangkan shalawat yang diputar dan diucapkannya. Rumahnya sudah berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari tempatnya saat itu. Tapi, tiada lagi kesempatan untuk melarikan diri apalagi pulang. Ia memilih menunduk, memegang erat setir, mematikan mesin mobil, dan menutup kedua matanya. Dipasrahkan segalanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ia merasa dunia seperti sudah kiamat. Berbaris-baris doa ia panjatkan.

“La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil adzim….

La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntumminadzalimin.

(Saya) memohon perlindungan dan pertolongan Allah dari ‘kiamat’ itu,” ungkapnya.

Beruntung. Saat gelombang tsunami menghantam dan menyeretnya, mobil Fidya tidak langsung terbalik dan terbentur. Hanya terseret. “Seakan saya naik perahu yang didorong dari belakang mobil dengan ombak.”

Hitungan detik, ia membuka matanya, ternyata mobil yang ditumpangi sudah terseret sejauh 30-an meter dari jalan raya tadi, terdampar di halaman rumah penduduk setempat. Tapi bencana belum berakhir.

“Saya tengok lagi ke arah kanan saya dari jendela mobil, air laut berdiri lagi lebih tinggi dari yang pertama, dan membawa, mengisap reruntuhan bangunan, mobil, motor, serta semua orang-orang yang berada di pinggir pantai.”

Melihat semua itu, badan dan bibirnya gemetar. “Saya menutup mata lagi dan berdoa sambil berderai air mata. Seakan hari itu adalah hari terakhir saya hidup di dunia ini.”

Hempasan tsunami yang kedua ini sangat keras dan deras. Mobil yang Fidya kendarai pun terbentur bangunan yang runtuh, lalu tersangkut di atap rumah. Benturan itu keras, tapi keajaiban kembali terjadi.

“Di sini saya sempat kaget karena lihat balok seperti besar tiang rumah mengarah pas mukaku. Tapi tidak masuk dalam mobil sama sekali. Hanya memecahkan kaca mobil. Kaca mobil berhamburan di mukaku tapi sama sekali tidak luka di mukaku. Mukaku tidak luka sama sekali. Benar-benar kuasa Allah Yang Maha Melindungi dan Menolong,” tuturnya begitu terkesan.

Lewat lubang kaca depan yang pecah itulah, Fidya keluar sambil membawa tasnya. “Saya keluar mobil dalam keadaan bersih dan goresan luka kecil di kaki. Alhamdulillah air setetes pun tidak ada (masuk ke) dalam mobil.”

Langit sudah gelap, saat kedua kaki Fidya melangkah hati-hati di atas reruntuhan rumah. Ia amati sekelilingnya, disaksikannya suasana sangat mencekam. Suara tangisan terdengar dimana-mana. Orang-orang pada berteriak minta tolong. Mayat-mayat bergelimpangan di depan matanya.

Ia menengok ke belakang, tampak seorang ibu dan anak serta seorang kakek paruh baya yang juga selamat dari tsunami. Fidya bergegas mencari jalan turun dari atap rumah. Ia pun memegang ujung pohon bambu yang berada di belakang tembok atap rumah itu. Tak lupa ditolongnya ibu dan anak tadi untuk turun juga.

“Kami pun berlari-lari sekuat-kuatnya sambil berpegang tangan dan melafadzkan ‘La ilaha illallah’. Di perjalanan saya banyak melihat orang berlarian tak menentu dan penuh kegelisahan. Seakan kiamat itu telah tiba. Ya memang hari itu kiamat sughra. Tak terasa saya berjalan tanpa alas kaki dan tidak tahu posisi saya dimana, karena semua jalan gelap. Saya sangat kehausan. Tidak lama kemudian saya mendapatkan air dan roti yang berhamburan di jalan, lalu saya ambil dan makan.”

Bersyukur

“Allahu Akbar, Allahu Akbar… La ilaha illallah!”

Adzan isya terdengar dikumandangkan dari masjid sekitar Fidya, entah dimana. Ia segera menunaikan shalat di atas trotoar. Usai bersimpuh kepada Allah, ia berjalan ke arah atas, kawasan pemukiman yang lebih tinggi, ia mengenalinya kawasan Jl Cik Ditiro. “Di situlah saya diberikan sendal oleh bapak yang saya tidak kenal.”

Ia melanjutkan perjalanan ke arah atas dan berhenti di depan toko baju yang berantakan karena gempa. Di sini, Fidya mengganti pakaian dengan gamis yang diberikan oleh pemilik toko tersebut. Awalnya ia berniat ngutang, tapi karena tidak mau meninggalkan utang dalam keadaan seperti itu, ia memilih membeli baju pemberian tersebut.

“Karena saya takut meninggalkan utang jikalau hari itu adalah kesempatan terakhir saya hidup. Saya pun membayarnya.”

Perjalanan dilanjutkan, tapi mengarah ke bawah. Satu tujuan yang hendak dicapai, kediaman Pimpinan Pusat Al Khairat Sulawesi Tengah, Habib Saggaf bin Muhammad Al-Jufri. “Karena saya mengingat mertua dan keluarga suami saya semua di sana.”

Hanya sekitar 5 meter berjalan kaki, tiba-tiba ada seseorang naik sepeda motor, memakai baju putih, yang menawarkan diri mengantar Fidya ke kediaman Habib Saggaf. Ia pun turut.

“Laki-laki yang baju putih bawa motor saya tidak kenal, tapi dia bilang kalau dia juga korban yang selamat dari tsunami pas dia lagi di Palu Grand Mall. Saya lupa tanya namanya.”

Sekitar pukul 22.00 WITA, Fidya pun tiba di kediaman Habib Saggaf. Artinya, sekitar 6 jam ia melewati suasana mencekam sejak kejadian sore itu. “Alhamdulillah saya sampai dan berkumpul dengan keluarga suami.” Saat peristiwa itu, suaminya sedang dinas di Jakarta, sedangkan anak semata wayangnya tengah berada di Kabupaten Toli-Toli Sulteng.

Keesokan harinya, Sabtu (29/09/2018), Fidya kembali mendatangi lokasi kejadian dimana mobilnya terdampar. Kendaraan yang setia menemaninya kemana-mana ini kondisinya sangat mengenaskan. Terperosok dan tertindih puing-puing bangunan.

Mobil yang rusak parah itu tentu menelan kerugian ratusan juta rupiah bagi Fidya sekeluarga. Ia masih belum tahu mau diapakan. Tapi itu bukan masalah.

“Saya tidak pernah menghitung apa yang telah Allah titipkan buat saya apalagi harta benda (mobil) rusak ataupun hilang, mau ratusan juta atau berapa lah harga mobil,” tuturnya.

“Saya sama suami tidak pusing atau memikirkan masalah kerugian. Karena itu bukanlah milik saya, hanya Allah menitipkan harta pada saya. Kalau rusak berarti sudah waktunya Allah mengambil titipan itu dari saya. Nyawa atau keselamatan lebih berharga dibandingkan harta benda yang rusak.

Tapi saya sangat bersyukur, harta benda (mobil) yang Allah titipkan kepada saya bisa (menjadi wasilah) melindungi saya dari ‘kiamat’ itu,” ungkap mahasiswi berjilbab ini dengan mantap.

Yang membuatnya juga semakin bersyukur sekaligus takjub, ada korban selamat lainnya yang terjebak dalam mobil saat tsunami, tapi keluar dari mobil dalam keadaan luka parah. “Yang saya heran juga, tidak trauma sama sekali yang saya rasa, padahal orang-orang semua trauma.”

Beberapa bulan lalu, Fidya masih bekerja sebagai perawat di RSUD Anutapura Palu. Saat gempa magnitudo 7,4, Jumat (28/09/2018) itu, gedung berlantai 4 ini ambruk. Bangunannya terpisah jadi 2 bagian, yang satu sisinya tenggelam bersama seluruh pasien dan perawat yang bertugas.

Kalau boleh berandai-andai, sekiranya saat kejadian itu Fidya sedang bertugas di RS tersebut, tentu kisahnya akan berbeda. Itulah hikmah tersendiri atas keputusannya berhenti bekerja (resign) dari RS itu. “Resign (karena) pas lanjut kuliah 5 bulan lalu,” tuturnya.

Wanita kelahiran Toli-Toli, Jumat, 12 Oktober 1990 ini, betul-betul meresapi dan mengambil pelajaran dari serentetan kejadian serta keajaiban yang dialaminya itu.

“Semoga saya yang diberikan kesempatan hidup ini dapat merasakan nikmatnya iman setelah ‘kiamat’ itu terjadi. Di tengah penderitaan luka dan duka, semoga kita dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’la,” pungkasnya berpesan. (MAS)

Sumber: Hidayatullah.com

UZR: Indonesia Pelopor Kebangkitan

Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) : Indonesia Pelopor Kebangkitan

Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) : Indonesia Pelopor Kebangkitan

Indonesia Pelopor Kebangkitan. Banyak para ulama dari dunia Islam yang telah menyampaikan, harapan kebangkitan umat itu bisa dimulai dari Indonesia. Singkatnya, Indonesia Pelopor Kebangkitan.

Ini pernah saya dengar sendiri dari para ulama Saudi, Sudan, dan Mesir, dll.
Ini bukan tanpa dasar, kita memang dikenal sebagai bangsa yang mempunyai sejarah perjuangan panjang. Bangsa kita telah ratusan tahun memerangi penjajah hingga mereka terusir.

Berbeda dengan banyak bangsa lainnya, bangsa Indonesia benar-benar mendapatkan kemerdekaan dengan PERJUANGAN, DARAH, dan AIR MATA. Kemerdekaan kita bukan hadiah dari penjajah.
Mari, terus berjuang dengan kesantunan. In syaa Allah kita sedang berjalan menuju kebangkitan yang lebih besar ke depan. Namun perlu diingat, ini tidak bisa lepas dari ruh perjuangan, ukhuwah, dan persatuan. [UZR]

Versi Video dapat disimak pada link berikut

Abu Umar, Korban Gempa Palu yang Bergabung Jadi  Relawan

Abu Umar korban gempa Palu yang bergabung jadi re;lawan SAR Wahdah Islamiyah

Abu Umar Al-Qassam, Korban gempa Palu yang bergabung dengan Tim SAR Wahdah Islamiyah sebagai relawan

Namanya Abu Umar Al-Qassam, korban gempa Palu yang bergabung menjadi relawan Search and Rescue (SAR) Wahdah Islamiyah.

Hari itu adalah hari Jumat (29/9), ketika seluruh kaum Muslimin menjadikannya sebagai hari raya. Tepat pukul 15.00, Abu Umar yang tinggal di Jalan Labu, sebelah perumahan Balaroa, Palu,  merasakan gempa bumi berskala 4,5 SR, bersama warga Palu lainnya. Saat itu ia menceritakan, bersama keluarga sedang bersantai karena mengira hanya gempa biasa.

Menjelang waktu Maghrib, Dia menyebutkan, ketika adzan berkumandang, Dia telah bersiap menunaikan shalat Maghrib di Masjid terdekat, tiba-tiba terjadi guncangan yang sangat dahsyat, BMKG menyebutnya 7,7 SR. Kala itu, ia tengah berada dalam kamar bersama empat anaknya. “Istri saya saat itu sedang privat di luar bersama dua anak saya. Ketika tanah berguncang hebat, saya keluar menyelamatkan anak saya, sulit sekali, ketika hendak berdiri malah tubuh terjatuh kembali,” ungkapnya.

Abu Umar menambahkan, tubuhnya sempat terhantam pintu kamar saat hendak keluar menyelamatkan anak-anaknya, hingga berusaha keras dan akhirnya berhasil keluar. Barang-barang rumah dijumpainya dalam posisi berantakan, namun beliau hanya berfokus pada anak-anaknya. Ia pun mendekap erat anaknya hingga keluar rumah saat guncangan semakin hebat. “Dinding sebelah kanan rumah saya rubuh, yang menyebabkan tidak bisa lagi untuk ditinggali,” ujarnya.

Beberapa detik setelah gempa terjadi, Abu Umar melanjutkan, tiba-tiba tanah naik ke atas, jatuh, dan keluar air dari dalam Bumi. Awalnya berupa lumpur dan banjir, satu jam kemudian berganti menjadi air jernih yang menggenang daratan. Ketika itu, ia berpikir harus ke mana. Sebab rumah sudah tidak dapat ditinggali lagi. Ia pun di malam itu tidur di teras rumah milik orang lain, hingga pagi menjelang. “Malam itu saya tidak bisa tidur nyenyak karena gempa susulan yang terus menderu menggetarkan tanah,” serunya.

“Besok paginya saya berinisiatif untuk mencari tempat mengungsi, dan Alhamdulillah bertemu salah seorang teman, yang kemudian mengajak saya menuju Posko Induk Wahdah Islamiyah (WI) di Kabupaten Sigi, tepatnya di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) Qurrota A’yun.

Relawan Memanggil

Pagi itu, Sabtu (30/9), ia berinisiatif untuk tinggal di Posko Pengungsian WI karena rumahnya yang sudah hancur lebur. Ketika itu, ada teman yang mengajaknya mengangkat jenazah untuk dikebumikan. Jenazah itu adalah Ibu dari sang teman yang mengajaknya tersebut, meninggal dunia akibat terseret gelombang tsunami.

“Setelah menguburkan, saya mencoba untuk berjalan menuju Perumahan di Balaroa. Sesampai di sana, ternyata belum ada seorang pun yang berani naik ke lokasi. Saya memberanikan diri jalan hingga ke pertengahan dan merasakan tanah masih terus bergerak, sedikit menggunung. Ketika saya berjalan menyusuri puing-puing rumah yang hancur, tanah juga terus bergerak,” ungkapnya.

Jelang sore, ia menuju ke bawah untuk kembali ke Posko pengungsian. Di bawah tumpukan perumahan, warga telah ramai memandangi perumahan yang hancur lebur, menatapnya sendiri berdiri di tengah puing-puing. Warga yang hadir salah satunya dari tim relawan Wahdah Islamiyah, memintanya untuk menuntun menyusur lokasi.

“Sesampai di atas, saya menunjukkan bagaimana kondisi rumah-rumah dan jalanan. Bersama kami menyaksikan jenazah bergelimpangan,” katanya.

Saat itu, lanjut Abu Umar, belum ada kegiatan evakuasi, karena semua yang menyaksikan hanya datang menangis dan belum mampu berbuat apa-apa.

“Dan saat itulah teman-teman mengajak saya bergabung di Tim Relawan Wahdah Peduli, dan mempercayakan saya menjadi Koordinator lapangan sementara untuk saat itu,” pungkasnya.

Jiwa Sosial Memanggil

Ketika Abu Umar ditanya mengenai alasannya bergabung di Tim SAR, sedang ia adalah Korban. Ia menjawab, bergabung menjadi relawan adalah cara untuk menghilangkan trauma atas hilangnya rumah dan semua pernak-pernik kehidupannya.

“Sampai saat ini, saya masih terfokuskan untuk menyelesaikan amanah yang diberikan oleh Lembaga Dakwah ini, yakni sebagai Koordinator lapangan relawan,” ungkapnya.

Adapun Keluarga, difokuskan untuk tertampung di Posko Pengungsian WI. Setidaknya di posko pengungsian, menurutnya, kebutuhan keluarganya terpenuhi.

Hikmah Menjadi Relawan

Pria kelahiran Palu 39 tahun yang lalu ini mengisahkan, ketika mengevakuasi mayat pertama, terbesit dalam hatinya kesyukuran yang sangat besar kepada Allah ta’ala, sebab keluarganya diberikan keselamatan.

“Ketika saya melihat mayat-mayat bergelimpangan, saya bersyukur karena keluarga saya selamat semuanya. Sedang mereka, rumah hancur, keluarga hilang, bahkan ada tetangga saya yang mengalami gangguan jiwa saat ini karena kehilangan anak dan istri,” ungkapnya penuh haru, Ahad (7/10).

Rahasia Ketegaran Abu Umar

Bergabung menjadi relawan SAR memang menjadi pilihan jiwa Abu Umar. Ia mengakui, jiwa Sosial itu telah tumbuh sejak lama, sebagaimana yang terbetik dalam hatinya sesaat setelah gempa, adalah satu, ingin membantu sesama Muslim.

Beliau terus memotivasi keluarga untuk merelakannya karena tidak bisa tinggal lebih lama bersama istri dan anak di Posko Pengungsian. “Saya katakan kepada istri, ‘Umi, yang penting Umi selamat, anak-anak selamat, kebutuhan terjamin di Posko Pengungsian, saya fokus dari pagi sampai malam untuk membantu orang lain,” tukasnya.

Padatnya waktu menjadi relawan, membuat Abu Umar hanya memiliki waktu yang sedikit untuk berkumpul bersama keluarga. Aktifitas sebagai relawan dijalaninya hingga malam menghampiri. Waktu berkumpul bersama anak dan istri hanya mampu ia sisihkan setelah jam istrahat malam tiba hingga Subuh hari.

Ayah dari enam orang anak ini berkata, Istrinya pernah mengajaknya untuk pulang kampung, menyelamatkan diri menuju daerah yang lebih  aman. Ketika itu ia berpikir dan jiwa sosialnya muncul. Ia pun menjelaskan kepada istri bahwa ia tidak akan pulang selama saudara-saudaranya di lokasi terdampak Gempa belum terbantu dan terpenuhi kebutuhannya.

“Bahkan saya tegaskan ke istri, saya tidak akan berhenti menjadi relawan sampai pengungsi terakhir adalah keluarga kita,” ucapnya.

Pahlawan SAR Lintas Medan

Sudah berhari-hari Abu Umar menjalankan aktivitasnya sebagai relawan SAR. Telah banyak mayat yang diangkutnya bersama Tim. Tumpukan puing-puing bangunan dan terjalnya longsoran tanah telah didakinya.

Bau menyengat mayat tak membuatnya mundur. Serusak apapun mayat yang terjumpa tak menyurutkan semangatnya sebagai relawan SAR

Nama  : Abu Umar Al-Qassam

Istri      : Zaitun,

Anak    : Zaiturrahmah, Mujahid Al-Hafizh, Muhammad Mursyid Arif, Umar Al-Qassam, Umar Abdul Aziz, dan Hafizhah Humairah. ()

Keajaiban Dzikir dan Do’a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Keajaiban Dzikir dan Do'a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Keajaiban Dzikir dan Do’a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Berbagai Fenomena dan Kisah Yang Memilukan Sejak terjadinya Gelombang Tsunami dan Gempa Tektonik yang berkekuatan 7,7 SR, di kota Palu, Donggala, Sigi dan Sekitarnya. Mulai dari keluarga yang kehilangan rumahnya, kehilangan sanak Familinya (anak, Istri, Suami dan orang tua) tercinta mereka sampai kepada mereka yang berhasil berjuang melawan derasnya arus gelombang Tsunami, tapi kemudian bisa selamat dan bertahan hidup sampai saat ini.

Sebut saja Ibu Rani seorang Ibu rumah tangga yang berusia sekitar 30-an Tahun, Warga kota Palu yang selamat dari amukan Tsunami beserta putra semata wayangnya. Sebagaimana yang dituturkan berikut :

Sore itu (Jumat, 28 Septi’ 2018), Rani bersama beberapa Ibu-ibu lainnya lagi ngumpul di rumah salah seorang temannya. Entah  mengapa tiba-tiba Rani merasa nggak enak perasaannya, baru saja beberapa menit dia beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba warga sudah berteriak tsunami….tsunami….tsunami….. .

Tak pelak lagi, Rani dan teman-temannya secara spontan berlarian untuk menyelamatkan diri. Namun  apa daya gerakan gelombang tsunami telah menelan dan membolak-balikkan tubuh Rani dan teman-temannya hingga pakaian yang melekat di badan sudah habis terlepas semua, diantara mereka ada nyangkut diatap rumah, pohon-pohon, bahkan ada yang ditarik oleh gelombang tsunami ke tengah-tengah laut.

Subhanallah…. Allah Maha kuasa, Rani masih bisa selamat, walau dengan susah payah Ia memeluk erat disebuah pohon kayu yang berdiameter satu setengah meter. Hari semakin malam, Rani masih bertahan diatas pohon, karena khawatir masih datang tsunami susulan. Benar  saja sekitar beberapa saat kemudian datang lagi tsunami susulan, walau tidak sedahsyat yang pertama, namun tetap saja merusak beberapa rumah saat itu.

Rani baru tersadar ketika waktu sudah menjelang shubuh, rasa paniknya sedikit mulai hilang, dan mulai mengingat buah hatinya Rahmat yang baru berumur 6 thn. Secara  pelan-pelan Rani menuruni pohon. Sesaat kemudian tidak jauh dari pohon itu Rani menemukan sepenggal kain spanduk lalu kemudian menutupi badannya dengan seadanya.

Subhanallah…. Lagi-lagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya. Ketika  menjelang waktu shubuh tiba dengan suasana yang masih gelap gulita, sesosok wanita bercadar tiba-tiba muncul dihadapan Rani dengan membawa pakaian Busana Muslim yang lengkap. Masih dengan suara tangis yang terisak-isak, Rani memohon kepada wanita tersebut agar dipinjamkan busana itu kepadanya. Tanpa  pikir panjang lagi wanita itu langsung menyerahkan busana tersebut kepada Rani.

Masih dengan sisa tenaga yang tertatih-tatih Rani melangkah menuju ke jalan raya. Ia mulai merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya akibat adanya beberapa goresan dan benturan benda keras sewaktu dihempaskan oleh tsunami. Bisa dibayangkan…. mulai dari waktu maghrib sampai kemudian terhempas oleh tsunami, lalu nyangkut dipohon, nyaris nggak tidur semalaman, ditambah dengan rasa sedih yang sangat dalam. Syukur alhamdulillah ketika waktu menjelang pagi seseorang yang berbaik hati mengantar Rani ketempat keluarganya.

Rupanya dibalik keselamatan Rani dari amukan tsunami, ada sosok yang paling berperan, yaitu Rahmat Putra Kesayangannya. Menurut  penuturan Paman Rani, bahwa begitu mengetahui Ibunya terperangkap tsunami, semalaman bahkan sampai shubuh Rahmat berdzikir dan berdoa memohon perlindungan dan keselamatan Ibunya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika Rani tiba dirumah dan berjumpa putra kesayangannya, suasana haru yang diiringin dengan rasa tangispun tak bisa dihindari, Semua yang hadir pada saat itu ikut sedih oleh karena menyaksikan Rani dipertemukan oleh Allah dengan putra kesayangannya.

Seperti yang tuturkan oleh Rani bersama Pamannya Kepada  Relawan Tim Peduli Bencana Hidayatullah: #ImranBaharuddinAbdulQadir.

Sumber: Akun Facebook Yusuf Attamimi II.

Keajaiban Al-Qur’an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Keajaiban Al-Qur'an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Keajaiban Al-Qur’an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Keajaiban Al-Qur’an (Kisah dan Kesaksian Korban Gempa Selamat)

Jum’at (28/09/2019) sore jelang Maghrib

Jelang maghrib Jum’at sore itu. Ia (Shahibatul Qishah)  berada di dalam rumahnya, di kompleks perumahan polisi. Sambil menunggu adzan maghrib, rekaman murattal dari ponselnya mengalun merdu. Memang orangnya dikenal akrab dengan Al-Quran.

Hingga tetiba bumi berguncang dahsyat. Gempa!

Kepanikan merajalela seketika. Termasuk dirinya, tak sempat lagi berpikir mengambil cadarnya. Yang ada, segera berlari berhamburan ke luar jalan, khawatir tertimpa reruntuhan bangunan. Sembari menarik kain gorden di jendela, lalu ditutupinya wajah dan bagian kepalanya.

Kesadarannya agar tetap taat kepada Allah meski di tengah musibah, tanda utama hidup dan bersemainya iman di dalam hatinya.

ولا تجعل مصيبتنا فى ديننا…

Allahumma, jangan Engkau timpakan musibah pada agama kami…”

Musibah itu ‘hanya’ menimpa dunianya. Tidak agamanya.

Ia berlari sekencang mungkin ke tempat yang lebih tinggi.

Teriakan tsunami juga terdengar bersahut-sahutan di langit palu.

Hingga terjadilah semua ketetapan Allah.

Palu berduka. Di tengah luka dan bencana. Yang tersisa hanya air mata: “aku melihat ribuan orang terbaring pasrah, kaku tak bernyawa, pada hitungan menit saja.”

Setelah air surut, sepertinya sudah tenang dan tak ada lagi tanda amarah, ia bergegas kembali menuju rumahnya. Tanda-tanda pasca tsunami di mana-mana.

Semakin dekat. Dan semakin dekat.

Pandangannya merasa janggal menangkap fenomena.

Jejak tsunami tampak jelas di rumah tetangga kiri dan kanannya. Tapi tidak dengan rumahnya. Seakan tak ada yang berubah pra dan pasca tsunami. Bersih!

Ternyata Allah telah memerintahkan airNya agar tak sampai masuk ke dalam rumah ibu shalihah ini. Kaget bukan kepalang, bahkan murattal dari ponselnya pun yang ketinggalan dalam rumah persis ketika gempa, masih juga mengalun merdu.

Mendengar penuturan ibu shalihah yang juga aktif tarbiyah di Muslimah Wahdah Palu ini, saya menggumam kagum, “Allah menolong dan memanjangkan usia ibu, untuk menceritakan pada orang-orang, betapa beruntung bagi setiap hamba, yang selalu jujur dalam bermuamalah dengan Rabbnya.”

Ketika tiba kemarin, ia datang berbekal pakaian di badan. Tak ada yang lain. Palu – Jeneponto. Dan sekarang, bersama dengan keluarga besarnya di rumah adiknya.

Saat ditanya layak tidaknya diberi bantuan, saya tersenyum manis, “Kita akan selalu bersama, meringankan duka dan air mata mereka. Yang di sini. Dan juga yang di sana.”

Jeneponto, 4 Oktober 2018

Sumber : Whatsapp grup Muslimah Wahdah.

Jangan Sepelekan Teguran Allah (Kesaksian dan Nasehat Korban Selamat Gempa Palu)

Jangan Sepelekan Teguran Allah (Kesaksian dan Nasehat Korban Selamat Gempa Palu)

Tolong, tolong jangan sepelekan teguran Allah. Jangan  anggap lelucon sebuah gempa. Dan  tolong doakan kami semoga selalu dalam lindungan-Nya. (Nurhaerani, dari bawah tenda darurat).

 

Hari itu, Jumat, 28 september 2018.

Pukul 18.02. Saya, suami dan anak-anak lagi kumpul untuk menikmati sepiring mie goreng, sambil bercerita dengan seru seperti biasanya. Lalu  akan dilanjut shalat Magrib berjamaah. Tapi, anak-anak yang tidak ikut makan malah saya kumpulkan lebih dekat dengan saya dan suami. Entah firasat apa.

Baru saja sendok kami naikkan, suara gemuruh serta getaran yang dahsyat membuyarkan keceriaan kami. Berganti teriakan kalimat tauhid dan takbir serta istighfar. Entah kekuatan darimana, kedua anakku ku kumpulkan dalam dekapan dengan doa agar kami baik-baik saja.

Suamipun merangkul kami bertiga, membuat benteng di atas kami seperti model tempurung. Anak-anak diam saja, mereka tidak menangis. Kulihat tembok sedikit runtuh, bau semen dan pasir yang menyengat dan berdebu. Lampu mulai padam lalu menyala lagi. Kulihat lemari tinggi besar yang kutakuti, jatuh kearah berlawanan dari kami. Jarak kami hanya 50cm dengan lemari itu.

 

Allahu Akbar… Sungguh pertolongan Allah, lemari tidak menimpa kami.

Setelah getarannya sedikit reda, kugendong anak keduaku dan berteriak ke suami untuk menggendong anak pertama kami. Pecahan piring dan gelaspun aku injak tanpa pikir panjang. Alhamdulillah, tak segores luka yang ada. Pintu kayu pertama yang kami lewati kandas karena pasir. Kupaksa buka… kemudian pintu besi kedua yang terhalang pipa pun mulai menyusahkan. Kudorong  dengan semua tenaga yang aku punya saat itu. Dibantu suami, pintu terbuka.

Kami memilih lari ke garasi. Sampai disana, getaran kembali terasa hingga membuat kami pusing. Kaki mulai goyah. Satu lagi pintu pagar garasi yang harus kami terobos. Entah  firasat apa juga, tanganku lincah mengambil kunci mobil kemudian berlari keluar. Gempa tetap mengguncang kota Palu dengan getaran yang dahsyat beberapa kali.

Kau tahu teman? Apa yang kami takutkan? Bukan kehilangan harta benda, tapi kehilangan keluarga dan tetangga.

Kau tau teman? Bagaimana trauma kami? Suara kendaraan dan getaran kendaraan berat saat lewat, membuat kami seketika bangun dari tidur. Bahkan jantung berdegup pun terasa seperti getaran gempa.

Dan sekarang pun kami tidak bisa bedakan gempa atau hanya perasaan kami. Berlebihan? Tidak… kami trauma…

Kau tahu teman? Istighfar, kalimat tauhid dan takbir tidak lepas dari mulut kami disertai tangisan.

Kau tahu teman? Kami yang selamat ini lantas tidak seketika bahagia karena disaat gelap mulai menyelimuti, lampu mulai padam, banyak orang berlari dengan darah di kepala dan badan mereka.

Apa yang membuat kami lari. Kau ingin tahu??? Trauma tsunami… dan memang benar, sebagian daerah pesisir teluk habisss rata oleh air. Tak usah kau tanyakan korbannya… ratusan orang meninggal dunia, ratusan orang terpisah dan kehilangan keluarganya..

Dalam tidurmu yang nyenyak pada malam Sabtu tanggal 28 september itu, kami tidak merasakannya. Terikan orang orang menyebut nama keluarganya yang hilang, getaran demi getaran yang terus kami rasakan. kami tidur beralaskan kardus dan selimut seadanya di pinggir jalan – di bawah langit, anak anak yang gelisah, terikan org minta bantuan, itu cukup membuat tidur kami tidak nyenyak. Kabar dari mereka yg selamat dari timbunan runtuhan rumah menjadi bahagia kami meski tidak saling kenal. Kematian mereka di pesisir teluk Palu dan runtuhan banguan menjadi sedih kami..

Sirine ambulans yang lalu lalang membawa korban menjadi tontonan kekhawatiran kami.

Dan… ketika rumah menjadi tempat ternyaman bagi orang orang, maka tidak buatku. Itu  malah menjadikan aku trauma saat memasukinya pasca gempa. Melihat dimana posisi kami duduk berempat, di situ pula terlihat lemari yang jatuh, batu dan pasir dari rumah, dan gelas piring berhamburan. Sisa makanan yang hendak kami santap masih ada di situ. Melihat  pintu pintu yang menghambat lari kami, melihat seisi rumah yang porak poranda, semua itu menjadi trauma buatku.

Tolong, tolong jangan sepelekan teguran Allah. Jangan  anggap lelucon sebuah gempa. Dan  tolong doakan kami semoga selalu dalam lindungan-Nya.

(Nurhaerani,Palu, 1 oktober 2018. Dari bawah Tenda darurat).

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

Dalam kunjungan itu beliau berpesan agar tidak meninggalkan kegiatan ta’lim sebagai bentuk syiar dakwah islam dalam materi yang berjudul “Pentingnya Mengikuti Majelis Ilmu”.

Materi tersebut diberikan supaya semangat para peserta tidak mudah kendor ketika mengikuti majelis ilmu karena kebanyakan orang yang mengikuti majelis ilmu hanya karena pemateri yang mengisi kajian merupakan pemateri yang terkenal, sedangkan untuk pemateri-pemateri yang kurang terkenal justru terabaikan.

Dalam materi tersebut, beliau juga menyebutkan bahwa pentingnya kegiatan Kelompok Belajar Islam Intensif (KKI) atau lebih dikenal dengan nama Tarbiyah. Menurut beliau, metode ini sangat cocok untuk kalangan awam yang baru ingin mendalami ilmu agama maupun pembinaan karakter islam sesuai tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah karena materi tarbiyah merupakan materi-materi dasar sekaligus pengenalan terhadap agama Islam secara ringan agar ummat tidak kaget akibat langsung diberi materi yang sangat dalam pembahasannya dalm proses awal hijrah.

“In syaa Allah dengan menghidupkan Tarbiyah, kita akan membangun pemahaman yang benar, dan kalau dasar-dasarnya sudah bagus kedepannya nanti akan jadi lebih mudah dalam memahami kitab-kitab sunnah yang ada. Dan jika dasar yang dimiliki sudah cukup kuat, tentu orang akan lebih mudah membaca maupun memahami sendiri apa saja ajaran islam yang ada dalam kitab tersebut.” Ujar beliau dalam kesempatan tersebut.

Merupakan tindakan yang kurang tepat apabila seseorang ingin mendapatkan ilmu dasar dari kitab dengan membacanya sendiri tanpa binaan langsung dari dasar oleh yang sudah punya ilmu tentang hal tersebut.

“Lebih mudah memahami dasar ilmu agama dari yang sudah menguasainya walaupun murabbi(pengajar) tersebut juga masih dalam proses belajar juga.” Ujar beliau.

Lagipula, apabila kita mempelajari dasar ilmu kepada ulama besar tentu tidak akan lebih intensif daripada kepada murabbi, karena waktu yang dimiliki oleh seorang ustadz besar akan lebih sedikit untuk pembinaan khusus dan karakter daripada seorang murabbi yang cenderung belum terlalu banyak kesibukan, namun hasil yang didapat akan sama saja. (fry)

Kesalahan-Kesalahan Suami (01): Mengabaikan Orang Tua Setelah Menikah

Kesalahan-Kesalahan Suami (01):  Mengabaikan Orang Tua Setelah Menikah

Fenomena  yang sering terjadi setelah menikah orang tua dan istri beradu cemburu. Suami  harus bersikap arif dan bijak mengharmoniskan, bukan menambah runyam.

Wahdahjakarta.com-, Tidak sedikit suami yang mengabaikan orang tuanya setelah menikah. Hak-hak   mereka dilalaikan. Penghargaan  dan penghormatan terhadap keduanya sirna tak bersisa. Istri  lebih ditaati daripada orang tua demi menyenangkan istri. Ayah Bunda pun terabaikan. Bahkan tak jarang mereka diusir dari rumah atau membiarkan sendirian di rumah, justru disaat mereka butuh uluran perawatan dari sang anak.

Jelas saja sikap seperti ini merupakan kedurhakaan pada orang tua. berlakunya begitu dekat pada azab yang dipercepat dan terjadi di dunia yang akan menurunkan sekaligus menenggelamkan kehidupannya. Apa  yang bisa diharapkan dari seseorang yang melalaikan orang paling dekatnya sekaligus paling utama untuk diberikan bakti dan kasih? Mudah  diduga ia akan lebih mengabaikan orang lain. Sebab orang yang tidak berbuat baik pada kedua orang tuanya takkan mungkin dapat berbuat baik kepada anak istrinya apalagi orang lain.

Anak yang sholeh selalu berusaha berbakti pada kedua orang tuanya dalam kondisi apapun. Ia  akan melakukan apapun untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya, bahkan setelah menikah. untuk itu seorang anak perlu melakukan sejumlah tips berikut:

  1. Berdoa
  2. Menjaga sikap yang dapat membuat orang tua merasa bahwa anaknya telah berubah
  3. Tingkatkan bakti pada orang tua baik secara materi maupun maknawi.
  4. Sebaiknya tinggal terpisah di rumah sendiri namun dengan tetap menjaga komunikasi setiap saat.
  5. Jauhkan orang tua dari kerumitan persoalan rumah tangga semaksimal mungkin.
  6. Berusaha untuk senantiasa mengharmoniskan hubungan antara orang tua dengan istri .

Sumber: Min Akhtha’i al-Azwaj, Syaikh Muhammad bin Ibarhim al-Hamd