“Da’i Tangguh” dan “Pejuang Tauhid” Ustadz Ismail Syahril dalam Kenangan (1)

Ustadz Ismail Syahril

Sejak Ahad (20/01/2019) sore akun facebook anggota dan kader Wahdah Islamiyah didominasi postingan testimony tentang Ustadz Ismail Syahril rahimahullah. Da’i tangguh dan pejuang tauhid yang meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Jakarta, Ahad sore pukul 15.30 WIB.

Ungkapan belasungkawa disertai testimony juga mewarnai percakapan di berbagai grup kader Wahdah, semenjak kabar kematian beliau tersebar hingga catatan siangkat ini ditulis.

Ungkapan duka disertai kesan mendalam tentang sang pejuang juga memenuhi dinding facebook beliau. Pantauan wahdahjakarta.com, sejak berita kepergian beliau menyebar Ahad sore kemarin hingga saat tulisan ini diturunkan berbagai status berupa ungkapan ta’ziah dan persaksian tentang dedikasi beliau terus muncul di beranda facebook https://www.facebook.com/ismail.syahril.9.

Sepanjang hidupnya ia dikenal sebagai aktivis dakwah yang gigih berdakwah dan membimbing umat. Kiprah dakwah dan perjuangannya menyebar di penjuru Kabupaten Luwuk Banggai Sulawesi Tengah.

Kader Dakwah Terbaik Wahdah Islamiyah

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyebut beliau sebagai salah satu kader terbaik Wahdah Islamiyah.

“Keluarga besar Wahdah Islamiyah hari ini kembali berduka. Kami kehilangan salah satu kader terbaik. Da’i tangguh yang telah menjadi wasilah tersampaikannya hidayah. Aktif berdakwah dan membina hingga pelosok-pelosok pedalaman. Tidak terkenal di muka bumi, tapi bisa jadi namanya masyhur di kalangan penghuni langit. Yaa Allah, rahmatilah saudara kami Ust. Ismail Syahril. Ampuni kesalahannya dan tempatkanlah di surga yang paling tinggi di sisi-Mu”. Ujar Ustadz Zaitun melalui Fan Page resmi @Zaitunrasmin, Ahad (20/01/2019) malam.

Para murid, guru, temah kuliah al marhum juga menyampaikan testimony serupa.

“Sejak saya kuliah Ustadz Ismail Syahril & beberapa Ustad dari Luwuk di STIBA sudah menjadi pejuang & mengawal dakwah bagi pemuda Kab. Banggai termasuk kami. Banyak perjuangan beliau yang patut kita teladani”, tulis Alkap Ijo disertai emoji sangat sedih.

Pejuang Dakwah Pedalaman

Ustadz Ismail dikenal sebagai pegiat dakwah pedalaman. Ratusan suku terasing di pedalaman Batui dan Moroali Utara telah beliau Islamkan. Hutan ia susuri, sungai ia sebrangi, bahkan  pernah terjebak arus deras sampai hamper tenggelam. Kesaksian tentang dakwah beliau ke pedalaman disampaikan para murid dan sahabat beliau. Diantaranya seperti yang dituliskan oleh Muhammad Mua’dz.

Ustadz Ismail Syahril

 “Akhi….!! antum berdakwah tak kenal lelah….. dari tanah leluhur antum batui hingga ke pedalaman morowali.

Kadang saya lelah melihat postingan antum yg selalu berpindah dan berubah tempat sbg tanda antum tak pernah istirahat berdakwah.

Saya bersaksi bahwa antum orang baik akhi.

semga Allah menempatkanmu di tempat terbaik disisinya.

Banyak yg mau saya tulis hati ini tak mampu akhi.

ana cinta antum karena Allah”. (Muhammad Muadz II)

Pencetak Kader Bertangan Dingin

Diantara jejak warisan sang pejuang juga kader penuntut ilmu, calon da’i dan da’iyah yang beliau utus belajar ke berbagai pesantren dan perguruan tinggi Islam di Makassar, Surabaya, Bekasi, dan Jakarta. Beliau tidak hanya mengutus mereka belajar, tapi berperan sebagai donator dan fundriser untuk biaya studi mereka. Ratusan murid dan binaan beliau sedang belajar di STIBA Makassar, Ma’had Al-Birr UNISMUH Makassar, Tadribud Da’iyah Wahdah Islamiyah, LIPIA Surabaya, LIPIA Jakarta, bahkan sampai Universitas Islam Madinah.

Ustadz Ismail Syahril (tengah) bersama para murid yang beliau utus menuntut ilmu di Ma’had Al-Birr UNISMUH Makassar

“Sekitar 10 org akhwat di tadribud daiyah dari hasil binaan beliau, saat ini juga merasa kehilangan. Beliau tdk hanya mengutus kader2nya kuliah di stiba, tpi juga membantu mencarikan biaya bagi yg kurang mampu. Ini terungkap ketika ada mahasiswa yg bermasalah pembayaran spp nya, ketika ditanya, jawabannya, belum dapat kiriman dari ustadz ismail. Rahimahullah”. (Syahrul Qur’ani).

“Sekarang ada sekitar 100 orang anak Batui tersebar di LIPIA, STIBA, kampusnya Ustad Fadzlan Garamatan dan tahfidz Quran. Insya Allah 100 orang calon dai tersebut akan balik ke Batui”. (Ihsan Laidi).

Sosok yang Inspiratif

Ustadz Ismail juga dikenal sebagai sosok yang inspiratif. Beliau menginspirasi lewat sikap, kesungguhan di jalan dakwah dan perjuangan serta melalui kata-kata motivasi kepada para murid, mad’u, dan teman sesama aktivis dakwah.

Abdurrozzāq Bin Ichsan Bin Djafar Mo’o menulis pada status facebooknya, “Nasehat ust. Ismail Syahril kepada saya saat muktamar (Muktamar III Wahdah Islamiyah)  di Jakarta tahun 2016: “Orang kecil itu harus bercita-cita besar, Dan orang besar tidak boleh bercita-cita kecil”.

Dan yang paling berkesan bagi para murid beliau dan kader dakwah adalah kata-kata motivasi yang terus beliau sampaikan kepada murid-murid beliau dan kader dakwah binaan beliau, “Ar-Rahah fil Jannah; Istirahat itu di Surga”.

Ketika mengantar murid-murid beliau ke Makassar, Surabaya, Bogor, Bekasi, dan Jakarta beliau menuliskan kalimat-kalimat ini di status facebook beliau (22/12/2018);

“Makassar-Bekasi – Bogor-Surabaya-Jogja-Jakarta, Teruslah Belajar Para Mujahidku, Medan dakwah mennati kalian, Jangan Pernah berhenti karena lelah…Perpisahan kalian dengan keluarga hanya sesaat… InsyaAllah kebersamaan di Surga Kelak selamnya…”.

“Teringat kata2 andalanmu “arohafiljannah”istrahat nanti di surga..kala itu ketika kami mengelu cape mendaki gunung menelusuri hutan belantara membawa misi dakwah suku terasing mengajak saudara2 kita memeluk agama islam.. skarang kau telah istrahat di surga allah..kami merindukanmu ustadkuu..”. (R Afandy Kuadrat).

“Ini yg terakhir status ustad buat kami….In sya Allah kami akan berjuang..”, tulis Ari Agama, salah satu murid dekat beliau yang membersamai Ustadz sejak sakit hingga wafat.

Boleh jadi kalimat inilah yang menjadi salah satu prinsip beliau sehingga beliau rela berlelah-lelah di jalan dakwah dan perjuangan. Membina ummat, menebar dakwah tauhid, mendirikan sekolah, menyusuri pedalaman Bitui dan Moroali, mengarungi Sungai, menghantar hidayah kepada ummat.

“Sebuah Ungkapan yang sederhana, yang Sering Beliau Ungkapkan ” Arroha Fil Jannah ya Akhy Fillah.. Istirahat itu di Surga ya Akhy Fillah.

Dialah Sang Murabbi yang Tak Pernah Lelah dalam Perjuangan Dakwahnya, yang senantiasa bersikap santun saat diperlakukan kasar oleh masyarakatnya, cacian orang, Beliau balas dengan kecintaan. Subhanallah…

Di Akhir khidupanmu engkau Pergi membawa senyuman, sedang orang disekelilingmu menangis haru karena merasa kehilangan, yachhh kehilangan Sosok Murabbi yg sukses dalam membina Ummat.

Allahummagfirlahu Warhamhu Wa’afihi Wa’fu Anhu…

#Innalillahi Wainna Ilaihi Raaji’un.

#Doa Terbaik Untukmu. Ust. Ismail Syahril”.

(Abu Muhammad Abdillah)

Bahkan kalimat ini menjadi status terakhir beliau di akun Whatasapp beliau.

Semoga Allah merahatimu ya Ustadz, Sang pejuang tangguh. []

Bersambung Insya Allah.

Posted in Artikel.

One Comment

  1. Uwaisy alqorny, tdk terkenal dibumi, tapi terkenal di langit Allohu akbar, inspiratif sekali, tauladan yg baik

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.