Dimensi Dakwah di Balik Poligami Rasulullah

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Kepala Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia, DR. Ahmad Sastra mengatakan, ada dimensi dakwah dan politik dalam praktik poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Secara khusus setidaknya ada tiga dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah”. Ujar Ahmad kepada wahdahjakarta.com, Selasa (18/12/2018).

Pertama,  kata Ahmad dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah adalah  dimana seluruh perilaku Rasulullah, baik dalam aspek khusus (pribadi) maupun aspek umum semuanya merupakan teladan yang mesti diikuti oleh seluruh umatnya, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Ahzab ayat 21 (QS 33 : 21).

“Dalam keteladanan aspek pribadi inilah para istri Rasulullah berperan sebagai penerjemah dan penyampai atas kehidupan Rasulullah yang sifatnya khusus kepada manusia serta sebagai pengontrol peraturan dakwah diantara barisan wanita”, jelasnya.

Dimensi  dakwah dan politik yang kedua dibalik poligami Rasulullah lanjut Ahmad adalah pelaran tentang bagaimana bergaul secara sukses dengan manusia yang memiliki tiplogi yang berbeda-beda.

“Seluruh  istri Rasulullah masing-masing memiliki keistimewaan yang unik. Mulai dari yang masih berusia muda, berusia tua dan bahkan ada yang merupakan wanita,  anak dari musuh Rasulullah. Ada pula dari istri Rasulullah merupakan anak wanita orang yang sangat mengaguminya, ada pula yang berjiwa penyayang terhadap anak yatim”, terang Ahmad.

Ia menjelaskan, dengan ragam tipologi istri-istri Rasulullah inilah cara Rasulullah mengajarkan sekaligus mendakwahkan kepada para sahabatnya dan kaum muslimin atas undang-undang (peraturan) yang indah sebagai pengajaran kepada mereka bagaimana cara bergaul yang sukses dengan tiap-tiap tipologi manusia.

Yang ketiga, lanjut alumni Pasca sarjana UIKA Bogor ini, poligami Rasulullah berfungsi sebagai jembatan perdamaian di antara suku-suku yang memusuhi Rasulullah. Sebab pasca berdirinya Daulah Islam Madinah, banyak suku kemudian memusuhi Rasulullah.

“Poligami Rasulullah dapat menghentikan permusuhan, sebab tradisi di Arab ada kewajiban menjaga dan melindungi siapa saja yang menikah dengan wanita dari kalangan mereka. Orang Arab biasa menamakan dirinya sebagai al Ahma` (para pelindung)”, ujarnya.

“Dengan tradisi inilah, poligami Rasulullah dapat meringankan kadar permusuhan mereka terhadap Rasulullah”, ungkap Ahmad yang juga pengajar di Pesantren Darul Muttaqin Parung, Kabupaten Bogor Jawa Barat. []

Posted in Berita and tagged , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.