Ustadz DR Syamsuddin Arif: Syiah Bukan Sekadar Mazhab

Doktor Syamsuddin Arif sedang memaparkan Makalah tentang Syi’ah pada Kajian Keislaman yang digelar Forpemi dan MIUMI Sulsel

Ustadz DR Syamsuddin Arif mengatakan,  Syiah bukan sekadar mazhab, Hal ini telah diulas secara lengkap  dalam bukunya “Bukan Sekadar Madzhb: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah.”, yang sekarang ini masih dalam proses cetak.

(Makassar) –Wahdahjakarta.com– Peneliti dan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Ustadz DR Syamsuddin Arif, menganggap Syiah bukan hanya sekadar mazhab. Menurut pria berdarah Betawi itu, persepsi yang menganggap Syiah tersebut sebagai mazhab kemungkinan lebih besar salahnya daripada benarnya.

“Ini pernyataan. Ini tesis namanya. Potition. Saya katakan begini, kalau mazhab itu seperti mazhab Syafi’i, mazhab Hanafi, mazhab Hambali, dan mazhab Maliki,” ujar Ustadz Syamsuddin di Aula Pusat Bahasa Arab dan Studi Islam Universitas Negeri Makassar, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, pada Jumat (12/1/2018) lalu.

Dalam acara Kajian Keislaman “Syiah Ditinjau dari Pelbagai Aspek”, yang digelar Forum Penggiat Media Islam (Forpemi) bekerjasama dengan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulawesi Selatan itu, dosen Universitas Darussalam Gontor tersebut menjelaskan bahwa ummat Islam dari Pakistan, India, dan Turki, umumnya mengikuti mazhab Hanafi.

Kemudian, kaum Muslimin dari Afrika Utara; Sudan, lalu Tunisia, Libya, Maroko, Al Jazair, mengikuti mazhab Maliki.

Adapun dari Saudi Arabia, dan sebagian di Suriah, mengikuti mazhab Hambali. Sedangkan di Indonesia, Malaysia, Brunei, Chechnya, rata-rata mengikuti mazhab Syafii.

“Kalau di Iran ini, itu bukan mazhab bagi saya. Kenapa? karena kita orang Indonesia berbeda dengan orang Turki. Berbeda dengan orang Sudan. Berbeda apanya, berbeda mazhab. Satu ikuti Syafii, Hanafi, Hambali, Maliki, tetapi tidak satu pun dari kita dan mereka yang mengkafirkan sahabat Rasulullah. Namun, coba tanya ke orang Iran. Kalau Syiah itu sekadar mazhab, dia tidak akan mengkafirkan sahabat,” terang Ustad Syamduddin.

Dia melanjutkan, sering muncul pernyataan bahwa Syiah bagian dari Islam.  “Memang jika mengacu kepada kitab para ulama, ada dua pendapat, seperti Imam Abu Hanifah, yang masih menganggap Syiah, seperti juga halnya kelompok Khawarij, Mu’tazilah, dan firqah Islamiyah lainnya, masih bagian ahlul qiblah”, jelasnya.

Baca Juga  Resolusi Umat Islam Surakarta

“Maka, posisi saya sendiri ketika ditanya, kesimpulan saya: Syiah dzahir-nya Islam. Bathinnya, saya tidak tahu. Walapun para ulama telah menunjukkan berbagai macam kekeliruan dan kesesatan dalam pandangan, keyakinan maupun amalan agama mereka. Namun, apabila orang Syiah mengkafirkan orang Islam, maka tuduhan tersebut akan berbalik kepada mereka sendiri. Jika mereka anggap Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar radiyallahu ‘anhuma itu kafir, lantas mereka anggap apa orang lain seperti kita ini semua?” tegas Ustadz  Syamsuddin.

Alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur itu menyebut Syiah itu kafir kondisional. Artinya manakala mereka mengkafirkan sahabat Rasulullah, maka dengan sendirinya mereka termasuk kafir.

“Jadi, tidak perlu kita mengkafirkan Syiah. Sama seperti kucing, tidak perlu dikucingkan, karena memang dia sudah kucing, dan tidak perlu dimanusiakan. Maksudnya, jangan memanusiakan kucing dan mengkucingkan manusia,” tukas Ustadz Syamsuddin.

Syiah bukan sekadar mazhab telah diulas secara lengkap DR Syamsuddin Arif dalam bukunya “Bukan Sekadar Madzhb: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah.”, yang sekarang ini masih dalam proses cetak.

Pembina Forpemi Sulawesi Selatan, Ustad Supriadi Yosuf Boni, Lc., yang memandu jalannya acara itu, menilai sangat tepat bagi seorang DR Syamsuddin Arif berbicara tentang Syiah dengan cukup komprehensif lantaran sebagai lulus doktor dari di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman. “Apalagi beliau ini menguasai banyak bahasa, seperti Arab, Inggris, sampai bahasa Ibrani,” pungkasnya.

Sementara Pengurus MIUMI Sulawesi Selatan, DR Ilham Kadir, yang hadir membuka acara itu, mengatakan penting untuk mendalami masalah Syiah, sebab ini menjadi ancaman bagi ummat Islam, sehingga butuh persiapan matang untuk melawan pergerakan kelompok Syiah.

“Dan kehadiran DR Syamsuddin Arif di tengah kita merupakan sebuah anugerah dikarenakan kapasitas keilmuan beliau yang sudah tidak dapat diragukan lagi ketika berbicara masalah Syiah,” tandasnya. (Forpemi Sulsel/ed:sym).

Posted in Agenda Ummat, Berita and tagged , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.