Etika Menghadiri Shalat Jum’at

Ada beberapa Sunnah, adab, dan etika yang hendaknya diperhatikan ketika menghadiri shalat Jumat.

Etika Menghadiri Shalat Jum'at
Masjid Anas bin Malik kampus STIBA Makassar

Jum’at merupakan hari  paling mulia dalam sepekan hari yang disebut sebagai sayyidul ayyam. Sehingga hendaknya malam dan harinya diisi dengan berbagai ibadah kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada beberapa Sunnah, adab, dan etika yang hendaknya diperhatikan ketika menghadiri shalat Jumat.

Mandi

Dianjurkan  mandi pada hari Jumat, bahkan Sebagian ulama memandang bahwa hukumnya wajib. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih mereka dari sahabat Abu Sa’id Al khudri radhiyallahu anhu;

“Mandi pada hari Jumat wajib bagi setiap muslim yang telah baligh,”. (HR. Bukhari, No.880 dan Muslim, No. 846).

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau juga bersabda;

“Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat Jum’at maka hendaknya dia mandi”. (Muttafaq ‘alaihi).

Imam Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Jumu’ah Bab Fadhl al-Ghusl yaum al-Jumu’ah (Bab Keutamaan Mandi Pada Hari Jum’at).

Hal ini menunjukan bahwa hukum mandi Jum’at adalah Sunnah. Adapun makna wajib dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri di atas adalah wujub ikhiyar (pilihan) karena sifatnya afdhal (lebih uatama) sebagaimana diperjelas oleh hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu, “  . . . Siapa yang mandi (pada hari Jum’at) maka mandi lebih afdhal”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Bersiwak

Dianjurkan bersiwak atau membersihkan gigi saat hendak mendatangi shalat Jum’at. Hal ini berdasarkan hadits umum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang motivasi bersiwak setiap akan shalat.

“Andaikan tidak khawatir aku menyulitkan ummatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap akan (menunaikan) shalat”. (HR. Bukhari, no.887).

Hadits di atas berlaku umum pada semua shalat, dan pada shalat Jum’at tentu lebih ditekankan untuk bersiwak karena merupakan hari istimewa. Dan penekanan anjuran bersiwak pada hari Jum’at juga ditunjukan oleh hadits lain yang secara khusus menganjurkan untuk bersiwak, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Mandi Jum’at wajib bagi setiap Muslim dan (dianjurkan) bersiwak serta memakai parfum sesuai kemampuan”. (HR. Muslim,7/846).

Memakai Parfum

Dianjurkan memakai parfum dan wewangian dan Mengenakan Pakaian Terbaik. Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari Abu Sa’id Al khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat serta bersiwak dan memakai parfum Jika dia memiliki serta mengenakan pakaian terbaiknya kemudian keluar menuju masjid dan setelah sampai di masjid dia tidak melangkahi punggung-punggung manusia lalu Shalat sebanyak yang dia kehendaki kemudian dia diam saat Imam keluar menyampaikan khutbah serta tidak berkata-kata sampai selesai dari shalatnya maka itu menjadi kafarat baginya penghapus dosa baginya antara jihad setelahnya dengan Jumat sebelumnya”. (HR. Ahmad, no.11768)

Bersegera Menuju Masjid

Dianjurkan  bersegera menuju masjid untuk menunaikan shalat Jumat.  Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Aus bin Abil Aus radhiyallahu ‘anhu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 “Jika pada hari Jumat salah seorang diantara kalian membasuh kepalanya (keramas) dan mandi kemudian dia bersegera berangkat menuju masjid kemudian mendekat kepa Imam lalu diam menyimak khutbah maka baginya pahala setiap langkah yang diayunkannya seperti puasa dan shalat setahun’’. (HR. Ahmad, No.16161).

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari  Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat seperti mandi junub kemudian dia pergi menuju masjid pada saat yang pertama maka dia seperti berkurban Onta. Barangsiapa  yang pergi ke masjid pada saat yang kedua maka seperti berkurban Sapi. Barangsiapa  yang pergi pada saat yang ketiga akan akan berkurban seekor Kambing yang bertanduk.  Barangsiapa  yang pergi pada saat yang keempat maka seperti berkurban Ayam. Dan barangsiapa yang pergi pada saat yang kelima maka seakan-akan dia berkurban sebutir telur. Dan  jika Imam telah keluar naik mimbar maka para Malaikat (pencatat) mendengarkan Khutbah”. (HR. Bukhari, No. 881 dan Muslim No. 850)

Mengerjakan Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid

Shalat Sunnah tahiyatul masjid dianjurkan setiap masuk masjid. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

“Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama sepakat tentang dianjurkannya shalat  dua rakaat bagi siapa saja yang masuk masjid dan mau duduk di dalamnya. Namun mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat, shalat Tahiyatul Masjid hukumnya Sunnah, dan sebagian berpendapat wajib.

Anjuran shalat Sunnah dua raka’at sebelum duduk saat masuk masjid berlaku umum, termasuk pada hari Jum’at. Bahkan saat khatib telah naik mimbar pun, shalat Sunnah dua raka’at tetap dianjurkan.  Sebagaimana dalam Shahih Bukhari disebutkan, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata

Seseorang datang dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum’at, maka Nabi berkata kepada orang tersebut, ”Apakah engkau telah shalat?” Ia menjawab, ”Belum.” Nabi berkata, ”Bangkit dan shalatlah!” (HR. Bukhari).

Namun dianjurkan untuk memperringan shalat Sunnah ketika khatib sudah memulai khutbahnya. Sebagaimana dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa pria tersebut bernama Sulaik Al-Ghathafani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Wahai Sulaik, berdirilah dan shalatlah dua raka’at serta ringankanlah (singkatkanlah) shalatmu”.

Oleh karena itu Imam Nawawi berkata;

“Jika seseorang masuk Masjid pada hari Jum’at dan Imam sedang berkhutbah, maka dianjurkan baginya mengerjakan shalat tahiyatul masjid dua raka’at dan makruh hukumnya duduk sebelum shalat dua raka’at dan dianjurkan pula meringankan shalatnya agar setelah shalat dapat mendengarkan khutbah”. (Syarh Shahih Muslim,6/164).

Memperbanyak Shalat Sunnah Sebelum Khutbah Dimulai

Diantara amalan yang utama sebelum shalat atau khutbah dimulai adalah memperbanyak shalat Sunnah mutlak.

Salmaan Al Faarisi radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jama’ah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikiutnya.” (HR. Bukhari)

Hadits yang senada juga terdapat dalam riwayat Imam Muslim, dengan tambahan ampunan tiga hari setelah Jum’at berikutnya.

Barangsiapa mandi kemudian dia menghadiri shalat Jum’at, lalu mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya dia diam sehingga imam selesai dari khutbahnya dan kemudian dia mengerjakan shalat bersamanya, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa antara satu jum’at itu dengan jum’at yang lain dan ditambah tiga hari” (HR Muslim).

Imam An-Nawawi mengatakan, “Dalam hadis ini terdapat pelajaran, bahwa shalat sunnah sebelum datangnya imam di hari Jumat adalah dianjurkan. Ini adalah (pendapat) madzhab kami (Syafi’iyah) dan madzhab mayoritas ulama. Dan bahwasanya shalat sunnah tersebut sifatnya mutlak, tidak ada batasan (jumlah rakaatnya), sebagaimana teks sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kemudian shalat sunnah sesuai dengan yang dia kehendaki.” (Syarh Shahih Muslim, 3/228).

Menyimak Khutbah dengan Khidmat dan Tenang

Dianjurkan menyimak khutbah dengan tengan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat serta bersuci semampunya, memakai minyak rambut,  memakai parfum kemudian keluar menuju masjid dan setelah sampai di masjid tidak memisahkan diantara dua orang (yang duduk berdampigan) lalu Shalat sebanyak yang dia kehendaki kemudian dia diam (tidak berkata-kata)  saat Imam (khatib) berkhutbah melainkan diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dengan Jumat sebelumnya”. (HR. Bukhari, no. 833).

Melakukan Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at

Setelah menunaikan shalat Jum’at dianjurkan melakukan shalat sunnah ba’diyah dua atau empat raka’at. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at, maka hendaknya dia melakukan shalat setelahnya empat raka’at.” (HR. Muslim no. 881).

Melalui hadits di atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah ba’diyah Jum’at empat raka’at. Adapun riwayat tentang dua raka’at ba’diyah jum’at diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits lain tentang Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma;

“Jika Ibnu ‘Umar melaksanakan shalat Jum’at, setelahnya ia melaksanakan shalat dua raka’at di rumahnya. Lalu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan seperti itu.” (HR. Muslim no. 882)

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

 “Hadits-hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat sunnah ba’diyah Jum’at dan anjuran untuk melakukannya, minimalnya adalah dua raka’at, sempurnanya adalah empat raka’at.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 169)

Memperbanyak Do’a

Salah satu keistimewaan hari Jum’at adalah, pada hari Jum’at terdapat satu waktu istijabah (terkabulnya do’a).  Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membicarakan mengenai hari Jum’at.  Beliau bersabda,

Di dalamnya terdapat suatu waktu. Jika seorang muslim berdoa saat itu, pasti diberikan apa yang dia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut. (HR. HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852).

Menurut pendapat terkuat diantara pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud adalah sejak Imam/khatib naik mimbar hingga shalat Jum’at selesai dan setelah shalat ashar hingga jelang maghrib.  Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim dan riwayat Abu Daud:

“Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai”. (HR. Muslim, No.853).

Dalam hadits riwayat Abu Daud berbunyi:

“Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar”. (HR. Abu Daud, No. 1048).

Namun Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari  menggabungkan kedua hadits tersebut. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”.

Memperbanyak Bershalawat Kepada Rasulullah

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan memperbanyak shalawat kepada beliau pada malam dan hari Jum’at.

Imam Baihaqi meriwayatkan dalam sunannya dari Anas bin Malik radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa setiap satu shalawat yang diucapkan akan dibalas oleh oleh Allah dengan rahmat-Nya sepuluh kali lipat. Beliau bersabda;

“Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat Karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah bershalawat kepada Nya sepuluh kali”. (HR. Baihaqi, No.5790 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Makna  shalawat Allah kepada makhluk adalah adalah rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Membaca Surat Al Kahfi

Diantara amalan yang dianjurkan pada malam dan hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat,

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka dia akan diterangi cahaya antara dua Jumat”.  Wallahu a’lam [sym].

Posted in Artikel.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.