ghibah

Ghibah yang Dibolehkan, Emang Ada?

Setiap Muslim hendaknya menjaga dan memelihara lisannya dari perkataan dosa dan tercela. Karena setiap perkataan yang terucap akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya mengucapkan yang baik, atau (jika tidak) hendaknya ia diam” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Diantara dosa lisan yang sangat buruk dan tercela adalah ghibah (menggunjing). Saking tercelanya, dalam Al-Qur’an diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12. “Dan janganlah sebagian diantara kamu meng-ghibah-i (menggunjing) sebagian yang lain, sukakalah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian tidak suka”. (terj. Qs. Al-Hujurat: 12).
Ghibah artinya membicarakan orang lain ketika ia tidak ada dengan pembicaraan yang tidak ia sukai. Sebagaimana pengertian ghibah yang didefinisikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu, “dzikruka akhaka bima yakrahu (kamu membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya”. (terj. HR. Muslim).

Namun demikian ada pembicaraan tentang orang lain yang dibolehkan. Bahkan ulama menyebutnya sebagai ghibah yang dibolehkan. Imam An-Nawawi rahimahullah menempatkan masalah ini dalam satu Bab khusus (bab 265) dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin yang beliau beri judul, Bab Ma Yubahu Min al-Ghibah, Bab Ghibah yang Dibolehkan.
Ketahuilah bahwa, sesungguhnya ghibah itu dibolehkan untuk tujuan yang benar sesuai syariat, yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan ghibah, hal itu ada dalam enam perkara”, terang An-Nawawi mengawali Bab ke 265 dalam kitabnya tersebut.
Jadi ghibah yang boleh menurut An-Nawawi hanya (1) untuk maksud dan tujuan yang benar secara syar’i, dan (2) tujuan yang benar tersebut hanya dapat dicapai dengan membicarakan orang lain alias ghibah. Keenam Jenis ghibah tersebut adalah:

Baca Juga  Dahsyatnya Bismillah

Pertama, Mengadukan Kezaliman
Bagi orang yang terzalimi boleh menyebutkan nama orang yang menzaliminya ketika mengadukan kezaliman yang dialaminya kepada penguasa atau hakim dan atau lainnya yang berwenang, atau boleh melaporkan kepada orang yang mampu menengahi dengan orang yg menzaliminya. Misalnya ia berkata: “Si fulan telah menzalimi saya”.

Kedua; Dalam rangka Meminta Tolong untuk Menghilangkan Kemungkaran dan Mengembalikan Pelaku Maksiat ke Jalan yang Benar
Misalnya ia berkata kepada orang yang diharapkan bisa menghilangkan kemungkaran tersebut: “Fulan telah berbuat (maksiat) demikian, maka hendaknya engkau mencegahnya”, atau kalimat yang semisal itu. Maksud dan tujuannya adalah mencari sarana atau perantara untuk menghilangkan kemungkaran tersebut. Jika ia tidak bermaksud seperti itu, maka hukumnya haram.
Artinya jika sekadar membicarakan bahwa si fulan berbuat maksiat ini dan itu tanpa ada sama sekali maksud dan tujuan untuk merubah kemunkaran yang dikerjakannya atau mengembalikannya ke jalan yang benar, maka hal itu termasuk ghibah yang diharamkan.

Ketiga; Meminta Fatwa
Misalnya seorang mustafti (peminta fatwa) mengatakan kepada mufti: Ayahku/saudaraku/ suamiku/fulan telah menzalimiku demikian. Apakah hal itu boleh baginya? Dan saya tidak memiliki jalan untuk terlepas dari orang ini dan mengambil hak saya serta melawan kezalimannya (kecuali dengan itu)?. Hal ini boleh kalau ada hajat.
Akan tetapi yang afdhal dan lebih hati-hati hendaknya ia mengatakan; “ Apa pendapat anda, tentang seorang atau seorang suami yang keadaannya demikian?” Maka jika sudah tercapai tujuannya tanpa menyebut nama individunya (itu lebih baik). Walaupun jika menyebut namanya itu boleh juga, sebagaimana dalam hadits Hindun radhiallahu’anha.

Keempat: Memperingatkan dan Menasehati Kaum Muslimin dari Suatu Keburukan
Hal ini dari beberapa sisi;
• Diantaranya: Jarh (kritikan) terhadap orang yang dikritik dari para rawi dan saksi yang layak dikritik. Yang demikian itu boleh berdasarkan ijma’ (konsensus) kaum muslimin, bahkan (menyebut nama orang yang dikritik) wajib untuk tujuan ini.
• Diantaranya juga: meminta pendapat (saran) ketika hendak menikah dengan seorang, atau kerja sama dengannya, menitipkan sesuatu, bermuamalah dan selain itu, atau berdialog dengannya. Wajib bagi orang yang dimintai saran untuk tidak menyembunyikan keadaan orang tersebut. Bahkan dia mesti menyebutkan kejelekkan-kejelekkan yang ada padanya dengan niat menasihati.
• Dan diantaranya : Jika melihat seorang pelajar yang bolak-balik menemui ahli bidah, atau orang fasiq untuk mengambil ilmu darinya, dan dikawatirkan pelajar tadi akan mengalami mudharat dengan itu. Maka wajib menasihatinya dan menjelaskan keadaannya (ahli bidah). Dengan syarat untuk tujuan menasihatinya.
Akan tetapi kadang terjadi kesalahan dalam hal ini. Terkadang yang mengkritik itu terbawa sifat hasad (dalam menjarh). Syaitan membuat pengkaburan dalam hal itu, digambarkan seolah-olah itu adalah nasihat. Maka berlaku cermatlah dalam mengkritik.
•Diantaranya: Orang yang mempunyai amanah tanggung jawab, tapi tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya: Baik karena memang ia tidak pantas untuk itu, ataupun karena ia adalah seorang fasiq atau teledor dan semisalnya. Maka wajib untuk menyebutkan (kekurangan orang itu) kepada pihak yang memiliki kewenangan umum untuk menyingkirkannya dan menggantikannya dengan orang yang pantas. Atau mengabarkan hal itu agar ia ditindak sesuai keadaannya, tidak tertipu dengannya, dan berupaya untuk mendorongnya agar istiqamah atau membimbingnya.

Kelima Orang yang Menampakkan Kefasikan atau Kebid’ahannya

Boleh “menghibahi” orang yang secara terang-terangan menampakkan perbuatan fasik dan atau bid’ahnya. Semisal orang terang-terangan menampakkan minum khamer, merampok manusia, minta pajak dan pungutan uang secara zalim (pungli), melakukan perkara-perkara yang batil.
Maka boleh menyebutkan perbuatan buruk yang dia tampakkan. Namun diharamkan menyebutkan aib-aib selainnya (yang tidak dia tampakkan), kecuali disebutkan kejelekannya karena suatu sebab lain.

Baca Juga  Anjuran Melihat Kepada yang Lebih Rendah dalam Masalah Nikmat

Keenam; Dalam Rangka Mengenalkan
Boleh menyebutkan suatu aib secara fisik untuk maksud dan tujuan mengenalkan. Hal ini berlaku bagi orang yang popular dengan gelar yang dikaitkan dengan ciri atau aib fisiknya.
Jika seseorang dikenal dengan gelar si Buta (A’masy), si Pincang (A’raj), si Tuli (asham), si Picek (a’ma), si Juling (ahwal) dan lain-lain, maka Boleh saja mengenalkan mereka dengan hal itu. Tapi diharamkan menyebutkannya dengan maksud menghina atau merendahkan. Seandainya memungkinkan menyebutkannya dengan selain itu, tentu lebih utama.
Maka ini adalah enam sebab yang disebutkan para ulama dan kebanyakannya adalah perkara yang telah disepakati.

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa ada ghibah yang dibolehkan karena hajat dan kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat. Namun perlu diperhatikan, hal ini hanya berlaku untuk keenam hal tersebut dengan maksud dan tujuan yang benar ssuai syariat. Jika bukan untuk maksu yang dibenarkan secara syar’i, maka pembicaraan tentang keenam hal tersebut termasuk ghibah yang diharamkan. [sym].
Sumber: Riyadhus Shalihin karya Abu Zakaria Yahya bin Syarf An-Nawawi, Kitab Al-Umur Al-Manhiy ‘anha, Bab Ma Yubahu Min Al-Ghibah, Dar as-Salam Lin Nasyr Wat Tauzi’, hlm. 407-408.

Tahfidz Weekend
Posted in Akhlaq, Artikel and tagged , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.