GUNAKAN KECERDASANMU..!

Perang Khandaq adalah perang antara ‘negara’ Madinah melawan konspirasi regional jazirah Arab. Pasukan gabungan lintas klan, lintas etnis, lintas agama. Bukan lagi sekedar Madinah dengan Makkah.

Di tengah ketegangan itu, Rasulullah kumpulkan sebagian shahabat. Dalam Mustadraknya, Imam Al Hakim menyebutkan bahwa yang tinggal hanya 12 orang. Akan ada penugasan, “amaliyyah”, misi khusus. Spionase ke jantung musuh.

Awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penawaran. Siapa diantara mereka yang siap berangkat? Rasulullah bahkan mengulangnya sampai 3 kali. Jaminannya, “Dia bersamaku kelak di hari kiamat..” kata beliau.

Semua diam. Ini berbeda dengan Perang Uhud dulu, ketika para shahabat ditawari pedangnya Rasulullah, mereka berlomba menjulurkan tangan. Meskipun akhirnya mereka tarik kembali setelah tahu konsekuensinya tidak ringan. Hanya Abu Dujanah yang siap waktu itu.

Di Perang Khandaq ini sedikit lain. Tidak ada sama sekali yang mengajukan diri. Bukan berarti mereka tidak mau ber-‘mubadarah’. Bukan. Bukan mereka takut terhadap dingin yang menusuk, angin badai, medan berat, atau takut mati, bukan.

Mereka tahu bahwa konsekuensinya sangat-sangat berat: harus pulang membawa informasi dalam keadaan HIDUP. Kalau sekedar menyusup kemudian ‘boleh’ mati syahid, semua juga siap. Tapi kalau harus kembali hidup-hidup, itu yang tidak ringan.

Setelah tiga kali penawaran tidak ada respon, tidak ada jalan lain kecuali harus “instruksional”, penunjukan. Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memberikan instruksi, maka tidak ada pilihan lain kecuali “sam’an wa tha’atan”, siap laksanakan!

Kalau sudah penunjukan, tentu berbeda dengan tawaran yang membuka peluang ‘mubadarah’ bagi suka relawan. Itupun sang pemimpin harus tahu betul kapabilitas anggotanya. Di sisi lain, jika sang anggota sudah dipandang mampu oleh pimpinannya maka dia harus siap dan memantaskan diri. Laksanakan sampai tuntas.

Disinilah terlihat betul bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat faham terhadap ‘binaan’-nya. Beliau tahu persis, siapa yang harus ditunjuk untuk persoalan ini. Salah orang, bisa fatal.

Tugas spionase dan “covering” seperti ini butuh orang yang betul-betul menguasai medan, faham informasi dan data apa yang harus dikumpulkan, serta mampu menjaga kerahasiaan. Senyap, cepat, tepat. Maka, Hudzaifah lah orangnya, ‘shaahibu sirri Rasulillah”_shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah percaya penuh. Beliau tidak bertanya lagi, “Antum siap atau tidak?” Rasulullah juga tidak memberikan arahan teknis secara detil. Seorang Hudzaifah tidak perlu diberi tahu harus lewat lembah mana, bukit apa, masuk dari mana, siapa yang didekati, apa yang dibawa, dst. Seolah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengatakan, “Gunakan kecerdasanmu!”

Memang ada tipe orang yang suka diberikan instruksi detil, ada yang justru tidak suka dan malah efektif kalau instruksinya tidak didetilkan. Ada tipe orang yang harus “dituntun” baru bisa sampai tujuan, ada yang “dilepas” saja juga bakal sampai.

Seorang pemimpin dituntut untuk bisa mengenali karakter masing-masing personilnya. Dari mana? Tentu tidak cukup hanya mengandalkan psiko tes. Kemampuan ‘membaca’ seperti ini hanya bisa didapat dari interaksi yang panjang dan intens.

Hasilnya? Efektif. Misi terlaksana dengan sempurna.

Pantas saja, seorang Umar pernah berandai tentangnya.

Suatu hari Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada beberapa orang di sekelilingnya.

“Beranganlah kalian!”

“Aku berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi dengan emas, kemudian kuinfakkan seluruhnya di jalan Allah”, kata salah seorang. Yang lain pun berandai dengan angannya masing-masing.

“Adapun aku” kata Umar, “Aku berangan seandainya rumah ini dipenuhi dengan orang-orang sekelas Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim Maula Abu Hudzaifah, serta Hudzaifah bin Yaman”

“Aku akan ajak mereka untuk meninggikan kalimat Allah,” kata Umar.
Radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Ditulis oleh : Ust. Murtadha Ibawi (Ketua Departemen Dakwah DPW Wahdah DKI Jakarta

Posted in Artikel and tagged , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.