Hidayah, Sumber Kebahagiaan Hakiki

 

Hidayah, Sumber Kebahagiaan Hakiki

(Tadabbur Surat Saba’ (34):  Ayat 50)

 

قُلْ اِنْ ضَلَلْتُ فَاِنَّمَاۤ اَضِلُّ عَلٰى نَـفْسِيْ  ۚ  وَاِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوْحِيْۤ اِلَيَّ رَبِّيْ   ۗ  اِنَّهٗ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

Katakanlah, Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Dekat.” (QS. Saba’ 34: Ayat 50)

PELAJARAN & HIKMAH AYAT:

  1. Dalam ayat ini dijelaskan tentang hidayah. Jika Allah menghendaki hidayah (petunjuk) kpada seseorang maka tidak ada yang dpt menghalanginya, dan jika Allah membiarkan sesat seseorang maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah (petunjuk). Hidayah dalam Islam adalah jalan yang lurus yang membawa kebahagiaan dan keselamatan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهٰذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيْمًا   ۗ  قَدْ فَصَّلْنَا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّذَّكَّرُوْنَ

Dan inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang menerima peringatan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 126)

لَهُمْ دَارُ السَّلٰمِ عِنْدَ رَبِّهِمْ  وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai (surga) di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan.”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 127)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ   ۚ  وَلَا تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ   ۗ  ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Baca Juga  Mengejek Adzan Merupakan Ciri Orang tidak Berakal dan Sifat Pengikut Setan

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 153)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰٮنِيْ رَبِّيْۤ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۚ     دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا  ۚ  وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 161)

Oleh karna  itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa: _”Allahumma inni as àlukal hudaa wattuqaa wak ‘afaafa wal ghinaa”.

  1. Petunjuk jalan yang lurus itu meliputi beberap hal penting dalam segala aspek kehidupan seperti yang difirmankan oleh Allah di Surah Al-An’am ayat 151-152:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَ لَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْئًـــا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا  ۚ  وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍ ۗ  نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ  ۚ  وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ  ۚ  وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَـقِّ   ۗ  ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 151)

Baca Juga  Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗ   ۚ  وَاَوْفُوْا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِ  ۚ  لَا نُـكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا   ۚ  وَاِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰى   ۚ  وَبِعَهْدِ اللّٰهِ اَوْفُوْا   ۗ  ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat(mu) dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 152)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ ۚ  وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ  كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Jadi siapa saja yg membenci Islam dan segala aspek ajaran atau syariat yg diajarkan dlm Islam, baik dia orang biasa, atau bahkan yg bergelar Profesor, Doktor, Kyai Haji sekalipun, maka dia (orang itu) terindikasi menjadi orang yg sesat.

Baca Juga  Wantim MUI: Ukhuwah Akan Mengantar Umat Menjadi “Khaira Ummah”

Karena itu maka marilah kita selalu bermohon kepada Allah agar tidak digelincirkan setan menjadi orang yang sesat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً   ۚ  اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“(Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)

Maka, sebagai muslim yang beriman kita harus istiqomah, sabar dan bersatu dalam dakwah ini, dan melaksanakan dakwah dengan hikmah santun dan jelas. Agar ajaran Tauhid menjadi solusi terhadap segala permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Bogor, 16 September 2018

Sumber: Transkrip Kajian Tafsir Al Hijri 1 Air Mancur Bogor, Oleh:  Buya Dr. Ibdalsyah, MA, Transkrip oleh Ustadz Willyuddin A.R. Dhani

Tahfidz Weekend

Posted in Al-Qur'an, Artikel and tagged , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.