DPW DKI Jakarta dan Depok

Ilham Muhammad Al-Farisi, Anak Yatim yang Bercita-Cita Jadi Ulama

Ilham Muhammad Al-Farisi (kopiah hitam) sedang menyetorkan hafalan Al-Qur'an
153
Ilham Muhammad Al-Farisi (kopiah hitam) sedang menyetorkan hafalan Al-Qur’an

Ilham Muhammad Al-Farisi merupakan anak kedua dari tiga bersaudara  dari pasangan Dadan Suherlan (alm) dan Dede Atikah.

Remaja asal Malangbong Garut ini telah menjadi yatim sejak kecil. Namun ia tetap bersyukur karena ibundanya mendidiknya dengan displin berbasis Agama dan Al-Qur’an.

“Sejak kecil kami dididik keras oleh ibu kami karna dia menginginkan semua anaknya menjadi anak yang berguna bagi orang-orang yang ada di sekitarnya”, kisahnya.

Abangnya Ihsan Ramadhan sebagai anak sulung telah dikirim ke Pesantren sejak tamat Sekolah Dasar.

“Kakak saya meninggalkan kami semenjak lulus SD untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, dan hampir semua anak dari keluarga kami dilepaskan semenjak lulus SD”, ungkapnya.

Baca Juga: 8 Prinisp Utama dalam Menghafal Al-Qur’an

Mungkin itu berat untuk ibu kami, kata Ilham. Karena jangankan melepaskan anak untuk pergi jauh dari pelukannya, melepas pergi untuk pergi berkemah saja khawatirnya luar biasa tapi dia berusaha untuk tidak menangis di depan anak-anak nya. Karena dia tau sekarang dia bukan hanya menjadi ibu rumah tangga biasa sekarang dia menjadi kepala keluarga yang mana dia bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak-anak nya.

Ilham mulai menghafal Al-Qur’an sejak SMP Kelas I. Ketika menamatkan SMP ia melanjutkan pendidikan daan meghafal AL-Qur’an di Pesantren tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor tanpa biaya. Karena pesantren ini memberi subsidi kepada anak yatim yang memiliki kemampuan dan kesungguhan dalam menghafal Al-Qur’an. Dan saat ini ia menerima beasiswa dari Baitul Mal Muamalat.

Ia bersyukur dan makin bersemangat menuntaskan hafalannya.

 “Alhamdulillah memang Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambanya yang ingin mendekat kepadanya”, ujarnya .

Ketika pertama kali masuk SMA Al-Qur’an Wahdah Islamiyah  Cibinong-Bogor ia baru menghafal 3,5 Juz. Awalnya ia merasa berat.

Seminggu berlalu di Pesantren Tahfidz Cibinong saya masih belum bisa menyesuaikan dengan keadaan lingkungan di pondok tahfidz yang mana tiap harinya hampir di habiskan untuk menghafal al-Qur’an,” terangnya.

Baca Juga: Penerimaan Siswa Baru SMP-SMA Al-Qur’an Wahdah Islamiyah TA 2020/2021

“Pada saat itu saya berfikir bagaimana dengan masa depan saya kalau setiap harinya dihabiskan dengan menghafal qur’an, saya juga ingin hidup berkecukupan dan bisa menghilangkan beban orang tau saya”, imbuhnya.

Tapi semua pikiran itu hilang setelah ia  berbincang-bincang dengan pamannya. Sang paman menasehatkan, Allah tidak akan meniya-nyiakan para penghafal qur’an, dan para penghafal qur’an itu adalah keluarga Allah di dunia” .

Setelah saya berbincang-bincang dengan paman Ilham kembali bersemangat. Ia ngin memberikan jubah dan mahkota kemuliaan kepada orang tuanya di akhirat kelak.

Pekan pertama memang  ia merasakan kesulitan untuk menghafalkan qur’an tapi setelah 1 bulan berlalu ia merasakan kemudahan dalam menghafal. Biasanya ia membutuhkan waktu 1 jam atau lebih  untuk bisa menyelesaikan menghafal 1 halaman. Tapi setelah 1 bulan berlalu 1 halaman dapat dihafalkannya dalam.

Kini ia telah menyelesaikan 16 juz dan merencanakan akan menyelesaikan hafalan sebelum  tamat dari Pesantren Wahdah.

“Dan insya Allah sya menargetkan bisa menyelesaikan hafalan saya di Pondok Tahfidz Wahdah Islamiyah Cbinong dan setelah lulus saya berkeinginan untuk melanjutkan study saya ke Universitas Islam Madinah”, tandasnya penuh optimisme. []

 

 

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.