Kaidah Pengambilan Ilmu dan Dalil Menurut Ahlussunnah Wajama’ah

Kaidah Pengambilan Ilmu dan Dalil Menurut Ahlussunnah Waljama’ah

Salah satu aspek penting yang membedakan Ahlussunnah wal jama’ah dengan yang lain adalah konsep pengambilan ilmu dan dalil (manhaj talaqqi dan istidlal). Konsep ini mencakup sumber ilmu dan dalil beserta metode pendalilan tentang suatu masalah.

Syekh Prof. DR. Nashir bin Abdul Karim al-‘Aql hafidzahullah menyebutkan dua belas poin sebagai landasan dan kaidah pokok dalam metode talaqqi dan istidlal Ahlussunnah waljama’aah dalam kitabnya Mujmal Ushul Ahlissunnati Wal Jama’ati fil ‘Aqidah. Kedua belas kaidah tersebut adalah:

  1. Sumber aqidah adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih serta ijma’ salafus Shalih. 1
  2. Setiap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib untuk diterima walaupun ia tergolong hadits ahad2 baik dalam masalah aqidah maupun yang lainnya.
  3. Rujukan dalam memahami al-Kitab (al-Qur’an) dan As-Sunnah adalah nash-nash yang menjelaskannya, dan pemahaman Salafus Shaleh serta (pemahaman)orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka dari para imam. Dan apa yang telah tsabit (tetap) dari hal itu tidak boleh disangkal dengan kemungkinan-kemungkinan (tinjauan) bahasa.
  4. Pokok-pokok Agama (Ushulud Dien) seluruhnya telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak boleh bagi siapapun mengada-adakan sesuatu yang baru lalu mengklaimnya sebagai bagian dari Agama.
  5. Taslim (berserah diri) kepada Allah dan Rasul-Nya secara lahir dan batin, maka tidak menentang sesuatupun dari al-Qur’an atau as-Sunnah yang shahih dengan qiyas (analogi), dzauq (perasaan), kasyaf, atau perkataan Syekh serta imam dan sebagainya.
  6. Akal sehat selalu sejaln dengan dalil naqli yang shahih, dan hal (akal dan naqli) yang qath’iy (pasti) tidak akan pernah bertentangan sama sekali. (Namun) jika terjadi wahm (dugaan) bahwa keduanya bertentangan maka didahulukan dalil naqli.
  7. Wajib iltizam (komitmen) dengan lafadz-lafadz syar’i dalam masalah aqidah dan wajib menjauhi lafadz-lafadz bid’ah yang diada-adakan oleh manusia. Sedangkan lafadz-lafadz yang memiliki kemungkinan (makna) salah dan benar, maka diperjelas akan maknanya. Yang benar ditetapkan dengan lafadznya yang syar’i, sedangkan yang batil ditolak,
  8. ‘Ishmah (terjaga dari kesalahan) bersifat tetap pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ummat secara kolektif ma’shum dari bersepakat dalam kesesatan. Adapun secara personal tidak satupun yang ma’shum diantara mereka. Oleh karena itu apa yang diikhtilafkan oleh para Imam dan yang lainnya maka rujukannya adalah al-Kitab dan As-Sunnah. Apa yang sesuai dalil diterima, dengan tetap memberi udzur kepada mujtahid ummat yang salah (dalam ijtihadnya).
  9. Pada ummat ini ada orang-orang yang muhaddatsun dan mulhamun, seperti Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Dan mimpi yang shalih itu benar, ia merupakan bagian dari Nubuwwah. Firasat yang benar juga haq. Dalam mimpi dan firasat tersebut terdapat karamah dan kabar gembira (mubasyirat) dengan syarat sesuai dengan aqidah. Tetapi tidak merupakan sumber aqidah dan tasyri’.
  10. Mira (debat kusir) dalam agama adalah tercela, dan debat dengan cara yang baik (mujadalah bilhusna) disyariatkan. Jika ada dalil shahih yang melarang membicarakan sesuatu, maka wajib mengamalkan dalil tersebut. Dan seorang Muslim wajib menahan diri dari membicarakan sesuatu yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya, dan dia wajib mengembalikan hal tersebut kepada yang maha mengetahuinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  11. Wajib untuk ilitizam pada manhaj wahyu dalam membantah, sebagaimana hal tersebut juga wajib dalam masalah i’tiqad dan taqrir. Maka bid’ah tidak dibantah dengan bid’ah. Sikap meremehkan tidak dihadapi dengan ghuluw (berlebihan), dan tidak pula sebaliknya.
  12. Setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di neraka. wallahu a’lam. (sym)
Baca Juga  Kaedah Menyikapi Ikhtilaf  (Perbedaan) Antar Umat Islam

Sumber: Mujmal Ushul Ahlissunnah Wal Jama’ah Fil ‘Aqidah, Syekh. Prof. DR. Nashir bin Abdul Karim al-‘Aql.

1 As-Salaf as-Shalih artinya para pendahulu yang shalih. Dalam Kamus-kamus bahasa Arab disebutkan, “salaf adalah orang yang mendahuluimi dari kalangan kakek buyutmu dan kerabatmu yang melampauimu dari sisi usia dan keutamaan. Oleh karena itu generasi awal Islam dari kalangan Tabi’in disebut as-Salaf as-Shalih”. (Tajul ‘Arus, Lisanul ‘Arab, dan al-Qamusul Muhith).

2 Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh jumlah yang tidak mencapai derajat mutawatir. Sedangkan hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh jumlah banyak yang mustahil bersekongkol untuk berdusta. Menurut kalangan ahli bid’ah, hadits ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah karena menurut mereka hadits ahad tidak mendatangkan ilmu, tapi hanya mendatangkan keraguan. Pandangan ini tidak tepat karena yang rajih bahwa hadits ahad yang shahih mendatangkan ilmu/yakin sehingga dapat dijadikan dalil dalam masalah aqidah.

Tahfidz Weekend
Posted in Manhaj and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.