Keajaiban Dzikir Pagi dan Petang (Testimoni Sandiaga Uno)

Keajaiban Dzikir Pagi dan Petang (Testimoni Sandiaga Uno)

 “Sungguh, saya duduk bersama suatu kaum yang berdzikir setelah Shalat subuh sampai terbit mata hari lebih saya sukai daripada memerdekakan hamba sahaya dari anak keturunan Nabi Isma’il. Dan sungguh saya duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah sampai terbenam matahari lebih saya sukai daripada memerdekakan empat hamba sahaya”. (HR. Abu Daud, No.3667).

Hadits di atas menunjukkan tentang keagungan dan keutamaan dzikir pagi dan petang. Dalam hadits itu Nabi mengisyaratkan bahwa dzikir pagi dan petang lebih utama dari membebaskan empat orang budak/hamba sahaya dari anak keturunan nabi Ismail. Padahal memerdekakan budak juga merupakan amalan yang utama dan mulia.

Selain hadits di atas, keutamaan dzikir pagi dan petang juga ditunjukan oleh keutamaan masing-masing dzikir, seperti Hasbiyallahu…

حسبي الله لا إله إلا هو، عليه توكلت وهو رب العرش العظيم

Barangsiapa yang membacanya  tujuh kali (7x) pada waktu pagi dan tujuh kali pada waktu petang, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya di dunia dan di akhirat.

Atau dzikir;

بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم

Barangsiapa yang membacanya tiga kali di pagi hari dan tiga kali di sore hari maka tidak sesuatu apapun yang membahayakannya.

Dzikir memang ajaib dan mengandung khasiat yang luar biasa, termasuk dzikir pagi dan dzikir petang.

Tulisan ini akan menyajikan kisah nyata atau testimony tentang Keajaiban Dzikir Pagi dan Petang yang disampaikan oleh Bang Sandiaga Shalahuddin Uno (Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta). Testimony ini disampaikan Bang Sandi saat menghadiri acara dialog bersama warga dan kampanye Pilpres 2019 di Vila Nusa Indah 3, Bojongkulur Kab.Bogor, pada Rabu (26/09/2018).

Cerita Bang Sandiaga Uno tentang keajaiban Dzikir Pagi dan Petang ini dituliskan oleh salah seorang tim yang memandu acara kampanye dan dialog bersama warga. Aslinya berjudul Bang Sandi Menangis. Kami karena hanya bermaksud menonjolkan keajaiban dzikir pagi-petangngnya. Kami juga berusaha meringkas dan langsung pada kisah yang disampaikan Bang Sandi tentang keajaiban dzikir pagi petang.

Bang Sandi pun membuka orasinya dengan menyapa tokoh-tokoh yang hadir, dan memohon maaf karena harus mengatur formasi kursi agar lebih tampak seperti kampanye jaman now. Seluruh audiens pun setuju dengan gagasan tersebut.

Sandi melanjutkan, dia gak akan orasi atau kampanye karena menurutnya yang hadir di acara ini sudah pasti akan memilih pasangan Capres dan Cawapres no 02.

Beliau pun mulai bercerita, “Saya begitu sampai lokasi ini dihampiri ibu-ibu yang menyerahkan buku kecil berjudul Dzikir Pagi dan Petang

Sandi menunjukkan buku itu ke hadapan audiens. Lantas beliau menanyakan mana ibu yang tadi, salah seorang ibu berjilbab lebar pun mengacungkan tangan.

Sandi melanjutkan lagi ceritanya, “Jadi gini bapak ibu, tahun 2015 saya menderita radang tenggorokan yang kadang sakit sekali. Saya coba cek ke dokter di Pondok Indah, katanya ada tumor kecil tapi ga berbahaya. Lantas saya kurang puas, saya cek ke dokter di Singapore, bilang kurang lebih sama. Masih gak puas saya ke Boston, dan di sana justru saya disarankan untuk puasa bicara alias jangan terlalu banyak ngomong, pidato, orasi, nyanyi-nyanyi atau apa saja yang bisa mengeluarkan suara selama setahun. Bayangkan bapak ibu, saya pada waktu itu udah diminta Pak Prabowo maju sebagai pemimpin DKI yang harus banyak bicara, ketemu orang sana-sini tapi disuruh puasa bicara sama dokter supaya penyakit saya bisa sembuh! Pak Prabowo karena orang yang tertib, beliau menyarankan saya untuk istirahat dulu saja dari kegiatan partai. Saya galau waktu itu. ” mata Bang Sandi mulai berkaca-kaca.

Di tengah kegalauan itu, istri saya datang membawakan buku kecil persis seperti yang baru saja saya terima dari ibu yang tadi, judulnya juga sama Zikir Pagi dan Petang“, bibir Bang Sandi mulai bergemeretak, seperti ada sesuatu yang tertahan keluar dari mulutnya.

 “Saya disarankan istri saya untuk mencoba ikhtiar melafazkan zikir pagi dan petang ini…” air mata bang Sandi mulai menetes, “tiap hari bu, istri saya terus melantunkan zikir pagi dan petang sambil terus menggenggam tangan saya. Kami melakoninya dengan sabar dan ikhlas bersama”, lanjut Bang Sandi lagi,

“Subhanallah selama setahun itu sebelum akhirnya saya diputuskan maju sebagai cawagub penyakit radang tenggorokan itupun sembuh. Dokter yang di Boston dan Singapura pun sempat heran, sampai bertanya, apakah saya mengonsumsi herbal tertentu? Saya bilang tidak. Kesembuhan ini datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui zikir pagi dan petang yang saya lakoni bersama istri. ..”

Hampir sebagian besar audiens tertegun mendengar kisah bang Sandi, sebagian lagi tak jarang berujar subhanallah dengan mata berkaca-kaca.

Jam dinding terus berdetak, jarum jam telah menunjukkan pukul 14.00. Waktu terasa menjadi lebih cepat dari biasanya karena kami semua terpukau oleh kisahnya. Bang Sandi pun menutup kegiatan pada hari itu sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dengan mengucap hasbunnallah nikmal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir dan diikuti oleh seluruh audiens.

Jujur, sepanjang saya ikut kegiatan bareng Bang Sandi baru kali pertama kemarin saya melihatnya bicara sambil berurai air mata. Tidak seperti biasanya yang ekspresif dan ceria. Saya melihat ketulusan dari hatinya ketika mengucap di depan massa untuk didoakan agar dapat memikul amanah yang lebih besar lagi bersama Pak Prabowo. Pada saat itu bibirnya sempat terkatup lama dan hampir saja beliau tak sanggup lagi melanjutkan bicaranya. Saya lihat dari sorot matanya, sepertinya beliau merasa amat berat amanah ini bakal diembannya.

Acara kemarin seolah memberi pesan pada warga, bahwa tak ada janji satupun yang terlontar karena betapa beratnya mengemban sebuah janji. Acara kemarin yang saya hadiri seperti testimony kehidupan sarat makna dengan menghadirkan pelaku sebenarnya yang nyata di depan mata.

Kalau ada yang bilang kampanye itu harus adu program, toh kenyataannya  rakyat sudah muak dengan adu mengadu.

Sudah saatnya rakyat datang menghadiri pertemuan atau rapat umum, untuk memperoleh gizi dari narasi yang disampaikan para pemimpinnya.

(Ditulis di dalam perjalanan ke Bandung, mendampingi kegiatan mpok Nur Asia Uno, pagi ini jam 9.00 di Dago Tea House).

Sumber: Admin memperoleh tulisan ini melalui WAG dengan judul asli “Bang Sandi Menangis”, tanpa mencantumkan nama penulisnya, jazahullahu khairan.

Versi video dapat disimak di sini:

Posted in Artikel, Do'a, Tazkiyah and tagged , , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.