Kebutuhan Atau Keinginan?

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan Atau Keinginan?

Suatu hari penduduk Hims mengadukan beberapa permasalahan gubernur mereka, Said bin Amir kepada khalifah Umar bin Khaththab. Mereka adukan 4 hal: pertama, beliau tidak pernah menemui mereka hingga siang hari. Kedua, beliau tidak menerima tamu di malam hari. Ketiga, ada satu hari dalam sebulan dimana beliau tidak menemui atau menerima tamu sama sekali. Dan yang keempat, beliau terkadang pingsan tiba-tiba.

Setelah permasalahan tersebut ditanyakan Amiirul Mu’minin kepada sang gubernur, beliau menjawab, “Demi Allah, aku malu mengatakan ini. Aku tidak mempunyai pembantu, di pagi hari aku mengaduk kue untuk keluargaku, setelah siang baru menemui masyarakat. Sedangkan malam hari aku ingin memberikan waktuku hanya untuk Allah. Aku tidak bisa menerima tamu pada salah satu hari dalam sebulan karena aku harus mencuci satu-satunya baju yang sedang aku pakai ini dan menunggunya hingga kering, baru bisa keluar rumah. Dan aku sering pingsan karena takut dengan do’a sahabatku Khabab bin Adi tatkala ia dibunuh.”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini, betapa Sa’id bin Amir sang gubernur Hims sangat berhati-hati dengan harta. Beliau bisa saja mengambil haknya, yaitu harta sebagai gubernur namun beliau lebih memilih untuk menghindari dunia.

Berbeda sekali dengan orang-orang zaman sekarang yang justru berlomba-lomba memperbanyak harta, memperbanyak koleksi perhiasan dunia. Seringkali orang merasa gembira dengan segala tumpukan hartanya, dan merasa sempit dada ketika melihat barang lain lagi yang belum bisa terbeli.

Apakah haram memperbanyak harta? Tentu saja tidak, jika semua diniatkan untuk dibelanjakan fii sabiilillah. Jika semua harta yang dimiliki, ditujukan untuk ketaatan kepada Allah. Yang jadi masalah adalah saat barang-barang yang kita miliki hanya sekedar untuk koleksi saja. Padahal kelak semua harta yang kita miliki akan dihisab oleh Allah subhanahu wata’ala.

Baca Juga  Etika Menghadiri Shalat Idul Adha

Berhati-hati dalam membelanjakan harta dan tidak berlebih-lebihan tentulah lebih diutamakan bagi seorang mukmin. Hidup adalah sekedar apa yang bisa dirasakan oleh panca indra. Hidup adalah sarana sekaligus perjalanan untuk menjemput kehidupan di akherat. Layaknya sebuah perjalanan, tentulah banyak tantangan dan cobaan yang dihadapi. Tantangan dan cobaan itu, bukan hanya menghindari perkara-perkara yang terang haramnya, namun juga perkara-perkara mubah yang berlebih-lebihan. Perkara mubah yang tidak dimanage dengan baik, akan melupakan kita dari tujuan hidup.

Sekali lagi, coba tengok berapa koleksi barang-barang di rumah kita, yang bahkan barang-barang tersebut sudah tidak kita pakai. Apa jawaban kita kelak saat ditanya di akherat?

Saat masuk ke tempat perbelanjaan, coba kita bertanya pada hati kita saat akan membeli, apakah benar-benar membutuhkan ataukah hanya sekedar keinginang saja? Semua akan ditanya di akhirat kelak. Semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, tentang hartanya, darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR at Tirmidzi no.2417 dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Albani dalam Ash Shahihah no.946).

Idealnya, seorang mukmin hatinya senantiasa terikat pada akhirat dan surga. Karena segala kenikmatan yang ada di dunia ini tidak lebih baik dan kekal daripada kenikmatan di akherat.

Tentu saja ini membutuhkan tekad yang kuat dan pembiasaan. Mari kita belajar dari pada generasi salafush shalih, karena merekalah generasi yang telah menimba dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

[Tri Afrianti]

Posted in Artikel, Muslimah, Tajuk and tagged , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan