Keistimewaan dan Keutamaan Tauhid

Keagungan Kalimat Tauhid

Keistimewaan dan  Keutamaan Tauhid

Oleh: Syeikh Dr. Abu Zeid Bin Muhammad Makki Asy Syarif Al Hasaniy Al Quraisyi (Dosen Universitas  Ummul Quro Makkah)

Saudaraku, perlu kita ketahui, tauhid memiliki keistimewaan dan keutamaan yang banyak. Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan tauhid dalam agama yang mulia ini. Berikut ini adalah keistimewaan dan keutamaan tauhid.

PERTAMA : tujuan penciptaan manusia

Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia. Artinya, Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk mewujudkan dan merealisasikan tauhid.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (terj. QS. Adz-Dzariyaat : 56)

Dalam ayat di atas, makna dari  “beribadah kepada-Ku” adalah: “mentauhidkan Aku.”

Berdasarkan ayat ini, tauhid adalah tujuan penciptaan kita di kehidupan ini. Allah Ta’ala tidaklah menciptakan kita sekedar main-main saja atau sia-sia, tidak ada tujuan, atau tidak ada perintah dan larangan. Akan tetapi, Allah Ta’ala menciptakan kita untuk satu tujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah dengan mentauhidkan Allah Ta’ala.

Cukuplah hal ini sebagai bukti yang menunjukkan tinggi dan mulianya kedudukan tauhid.

KEDUA : Poros dan Pokok Dakwah Seluruh Nabi dan Rasul

Sesungguhnya tauhid adalah poros atau pokok dakwah seluruh Nabi dan Rasul. Artinya, materi pokok dan inti dakwah para Nabi dan Rasul seluruhnya adalah tauhid.

Dalil tentang masalah ini sangat banyak sekali, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala :

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An-Nahl : 36)

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul kami yang telah kami utus sebelum kamu, “Adakah kami menjadikan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?”.” (QS. Az-Zukhruf : 45)

 “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar“.” (QS. Al-Ahqaf : 21)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menegaskan bahwa Rasul sebelum dan sesudah Nabi Hud ‘alaihis salaam semuanya sama dan bersepakat dalam materi dakwah, yaitu :

“Janganlah kamu menyembah selain Allah.”

Oleh karena itu, kalimat pertama kali yang didengar oleh kaum (masyarakat) yang didakwahi oleh para Nabi dan Rasul adalah kalimat ajakan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena tauhid adalah asas (pokok) bangunan agama. Permisalan agama ini adalah sebagaimana sebuah pohon. Kita ketahui bahwa pohon memiliki akar, batang dan cabang (ranting). Pohon itu tidaklah berdiri tegak kecuali dengan disokong oleh akar yang kokoh. Sama halnya dengan pohon, agama ini tidaklah berdiri tegak kecuali dengan ditopang dan disokong oleh asasnya, yaitu tauhid.

Allah Ta’ala berfirman :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (yaitu kalimat tauhid, pent.) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim : 24)

Sebagaimana pohon akan mati jika akarnya dicabut, maka demikianlah agama ini. Jika tauhid itu telah hilang, maka tidak ada manfaat dari amal kebaikan yang kita lakukan. Oleh karena itu, kedudukan tauhid dalam agama ini sebagaimana fungsi akar dalam menopang kehidupan sebuah pohon.

Di antara dalil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan inti dakwah mereka adalah :

“Para Nabi berasal dari satu ayah (Adam), ibu mereka berbeda-beda, namun agama mereka satu.“ (HR. Muslim no. 2365)

Maksud dari “agama mereka satu” adalah semua mereka mendakwahkan tauhid. Sedangkan yang dimaksud:

“Ibu mereka berbeda-beda” adalah syariat setiap Rasul itu berbeda-beda, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah : 48)

KETIGA : Kewajiban Pertama Setiap Mukallaf

 Tauhid adalah kewajiban pertama kali bagi seorang mukallaf (yang telah terkena kewajiban syariat). Jadi, kewajiban pertama kali bagi manusia yang masuk Islam adalah tauhid. Demikian juga, materi pertama kali yang harus disampaikan ketika berdakwah adalah tauhid.

Dalil-dalil tentang kedudukan tauhid yang satu ini sangatlah banyak, di antaranya hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 & Muslim no. 21)

Demikian juga wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya untuk berdakwah ke negeri Yaman :

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 1458 & Muslim no. 19)

Dalam riwayat yang lain berbunyi :

Maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 7372)

Dalam riwayat lain dengan redaksi berbeda :

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab. Jika engkau mendatangi mereka, dakwahkanlah kepada mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1496)

Oleh karena itu, tauhid adalah kewajiban pertama kali atas setiap mukallaf. Dan tauhid adalah perkara pertama kali yang memasukkan seseorang ke dalam Islam.

KEEMPAT , Sebab Memperoleh Hidayah dan kemanan

Tauhid adalah sebab mendapatkan keamanan dan hidayah. Tauhid adalah sebab mendapatkan keamanan dan mendapatkan hidayah di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am : 82)

Keamanan itu berada di tangan Allah Ta’ala dan tidak akan Allah Ta’ala berikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid (muwahhid) yang mengikhlaskan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala.

Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa berat sehingga mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun bertanya,

“Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?”

Maksudnya, semua orang pasti menzhalimi dirinya sendiri. Sedangkan dalam ayat di atas, keamanan dan hidayah itu hanya Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman. Sehingga mereka merasa berat karena menyangka bahwa mereka tidak akan mendapatkan keamanan dan hidayah sama sekali.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

 “Maksud ayat itu tidak seperti yang kalian sangka. Hanyalah yang dimaksud ayat itu adalah sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya (yang artinya), “Wahai anakku, janganlah berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)”.” (HR. Al-Bukhari no. 6937)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentafsirkan “zhalim” dalam ayat di atas dengan “syirik”. Artinya, siapa saja yang beriman kepada Allah Ta’ala dan tidak berbuat syirik, maka dia mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan di akhirat. Inilah di antara keutamaan tauhid, yaitu barangsiapa yang merealisasikan tauhid (muwahhid), maka Allah Ta’ala anugerahkan keamanan dan hidayah di dunia dan di akhirat.

KELIMA, Selamat dari Pertentangan (Kontradiksi)

Akidah tauhid itu selamat dari pertentangan. Inilah di antara keistimewaan akidah tauhid, berbeda dengan akidah-akidah bathil lainnya yang tidak selamat dari kegoncangan dan pertentangan (tidak konsisten). Allah Ta’ala berfirman :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ : 82)

Akidah yang berasal dari manusia dan dibuat-buat oleh manusia, pasti mengandung banyak pertentangan di dalamnya. Adapun iman yang shahih, akidah yang selamat, dan tauhid yang kokoh yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terselamatkan dari itu semua.

Inilah di antara keistimewaam tauhid yang lainnya. Bahwa akidah tauhid dibangun di atas dua sumber keselamatan, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berbicara karena menuruti hawa nafsunya. Apa yang beliau sabdakan dan ajarkan, hanyalah bersumber dari wahyu yang diwahyukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

KEENAM, Tauhid Sesuai Fitrah Manusia

Tauhid itu sesuai dengan fitrah yang selamat dan akal sehat. Tauhid adalah agama yang sesuai dengan fitrah. Seandainya manusia dibiarkan sesuai dengan fitrahnya, mereka tidak akan berpaling kepada selain tauhid. Hal ini karena tauhid itu sesuai dengan fitrah, bahkan fitrah itu sendiri.

Allah Ta’ala berfirman :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum : 30)

Adapun syirik adalah perkara yang mengeluarkan manusia dari fitrah dan menyimpangkan manusia dari fitrahnya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 “Sesungguhnya Tuhanku memerintahkanku untuk mengajari kalian apa-apa yang belum kalian ketahui. Di antara hal-hal yang diajarkan kepadaku hari ini adalah, “setiap harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku, maka (menjadi) halal baginya. Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (menjadi seorang muslim, pent.). Kemudian datanglah setan kepadanya yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka. Serta mengharamkan hal-hal yang Aku halalkan untuk mereka. Dan juga menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangan tentang itu … “.” (HR. Muslim no. 2865)

Yang dimaksud dengan, “Aku menciptakan hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif” adalah di atas fitrah, yaitu di atas tauhid. Lalu datanglah setan yang menyimpangkan dan mengeluarkan mereka dari tauhid tersebut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak ada satu pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Orangtuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti seekor hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat (sama persis dengan induknya), apakah engkau merasakan adanya cacat padanya?“ (HR. Bukhari no. 1358 & Muslim no. 2658)

Seekor hewan dilahirkan dari perut induknya dalam kondisi selamat, sama persis dengan induknya, sempurna bagian-bagian tubuhnya. Jika seseorang memotong kaki, tangan, atau telinga dan selainnya, maka hewan itu tidak lagi dalam kondisi asli sebagaimana yang Allah Ta’ala ciptakan. Hal ini hanyalah terjadi karena ulah tangan manusia.

Hal ini dijelaskan dalam riwayat yang lain :

Tidak ada satu pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Orangtuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti seekor hewan yang dilahirkan, apakah Engkau merasakan adanya cacat padanya? Sampai kalianlah yang membuat mereka cacat.“ (HR. Al-Bukhari no. 6599)

Demikian pula seorang anak dilahirkan di atas fitrah tauhid. Jika anak tersebut kemudian menjadi beragama Nasrani, Yahudi, Majusi, atau terjadi sesuatu pada anak tersebut sehingga dia menyimpang, terjerumus dalam ketergelinciran, kesesatan, kebatilan dan penyimpangan, maka hal ini karena pengaruh pengasuhan orang tuanya atau faktor luar lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan anak tersebut.

Oleh karena itu, dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

 “Orangtuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “yang menjadikannya sebagai Muslim”; karena dia pada asalnya dilahirkan dan tumbuh di atas fitrah tauhid.

Sehingga tauhid adalah agama fitrah. Adapun syirik dan penyimpangan lainnya berupa kesesatan, semua itu bertentangan dengan fitrah tauhid.

Adapun kesesuaian antara tauhid dengan akal sehat sangatlah jelas. Akal yang masih sehat, tidak sesat dan tidak menyimpang, pasti tidak akan rida dengan selain tauhid. Siapakah orang yang masih sehat akalnya, lalu dia menerima dan rida dengan berbilangnya sesembahan di muka bumi ini?

Allah Ta’ala berfirman menceritakan kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam :

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.” (QS. Yusuf : 39-40)

Zaid bin ‘Amr bin Nufail berkata ketika memisahkan diri dari agama kaumnya dan masuk Islam :

Apakah satu Tuhan yang saya sembah atau seribu Tuhan, jika urusan telah terbagi. Saya meninggalkan Latta dan ‘Uzza semuanya, karena begitulah yang dilakukan oleh orang kuat dan sabar. Saya bukanlah penyembah ‘Uzza dan tidak pula kedua anak perempuannya, dan saya tidak juga mengunjungi dua patung Bani ‘Amar”. (As-Sirah 2 : 96, karya Ibnu Ishaq)

Dan ketika Zaid bin ‘Amr mencela sembelihan orang-orang musyrik, beliau berkata :

Kambing yang Allah Ta’ala ciptakan, Allah Ta’ala turunkan air untuknya dari langit, Allah Ta’ala tumbuhkan untuknya dari bumi, kemudian Engkau menyembelihnya dengan menyebut nama selain Allah? Ini sebagai bentuk pengingkaran atas sembelihan mereka dan sebagai bentuk pengagungan atas sembelihan kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 3826)

Maka, kemuliaan tauhid dan tercelanya syirik itu telah terpatri dalam akal dan fitrah manusia, telah diketahui dan diyakini bagi mereka yang memiliki hati yang hidup, akal yang selamat dan fitrah yang bersih.

KETUJUH, Ikatan Abadi di Dunia dan Akhirat

Tauhid adalah pengikat yang hakiki dan abadi di dunia dan di akhirat. Kita tidak menjumpai adanya tali pengikat di antara manusia secara mutlak selain tali tauhid. Karena tali pengikat ini, yang mengikat antara ahli tauhid dan orang beriman, adalah tali pengikat yang akan tetap abadi dan tidak akan lepas di dunia dan di akhirat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

 “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Allah Ta’ala juga berfirman di ayat lainnya :

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa. Dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS. Al-Baqarah : 166)

Maka semua pengikat dan penghubung akan terputus pada hari itu. Semua rasa cinta akan pudar, semua penghubung antara manusia akan sirna, kecuali kecintaan dan hubungan karena tauhid dan iman kepada Allah Ta’ala.

Semua penghubung dan pengikat karena Allah Ta’ala, maka akan abadi dan terus-menerus ada baik ketika di dunia dan di akhirat. Sedangkan semua penghubung dan pengikat karena selain Allah Ta’ala, dia akan terputus dan terpisah. Sekuat apapun hubungan itu, jika bukan karena Allah Ta’ala, dia akan terputus, baik di dunia atau pun nanti di akhirat.

KEDELAPAN, Senantiasa Dijaga Oleh Allah

Tauhid akan senantiasa dijaga oleh Allah Ta’ala. Keistimewaan tauhid lainnya adalah bahwa Allah Ta’ala menjamin terjaganya tauhid dan agama ini, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At-Taubah : 33)

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (QS. Al-Hajj : 38)

 “Dan sesungguhnya kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum : 47)

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim : 27)

KESEMBILAN, Buah dan Faedah Tauhid

Tauhid memiliki buah, keutamaan dan faedah yang sangat banyak. Termasuk di antara keistimewaan tauhid adalah bahwa tauhid mengandung banyak buah dan faedah, serta keutamaan yang bisa dipetik baik ketika masih di dunia maupun kelak ketika di akhirat. Penjelasan tentang buah dan faedah dari merealisasikan tauhid dalam kehidupan akan dijelaskan pada tulisan berikutnya insya Allah. []

Sumber: Transkrip Ceramah Tabligh Akbar, “ Menjadi Ahli Tauhid Di Akhir Zaman”, Oleh: Syeikh Dr. Abu Zeid Bin Muhammad Makki Asy Syarif Al Hasaniy Al Quraisyi (Dosen Universitas  Ummul Quro Makkah), Masjid Darut Tauhid Bandung, Selasa (08/01/2018) malam. Transkrip dan terjemah oleh Ustadz Roni Abdul Fattah, MA.

Posted in Artikel.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.