Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan Seorang Muslimah

Kemuliaan seorang muslimah terletak pada aqidahnya yang tertancap kuat, menghujam ke dalam hati. Prinsip keimanan yang tak mudah goyang oleh gerusan zaman. Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dan diibadahi. Yang dengannya dia menjadi Muslimah merdeka dan terbebas dari penghambaan kepada makhluk. Yang dengannya dia teguh di atas kebenaran dan menjadi pribadi yang penuh percaya diri.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada visi misi hidupnya yang jauh ke depan. Dia menyadari bahwa kehadirannya di dunia tidak sekedar bersinggah ataupun untuk tinggal selamanya. Dia paham bahwa dia diciptakan untuk beribadah kepada Rabb-nya. Ibadah yang tentu saja bukan hasil karya dirinya, tapi sesuai dengan risalah langit yang disampaikan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di paham betul bahwa suatu ibadah yang dia pandang baik belum tentu diterima oleh Allah jika tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Karenanya dia tidak pernah kreatif dalam hal ibadah. Dia sangat memahami bahwa bacaan tasbih, tahlil, dan kalimat thayyibah lainnya adalah sesuatu yang baik dan dicintai Allah. Akan tetapi, dia pun paham ketika bacaan thayyibah itu dibaca dengan waktu tertentu dan jumlah tertentu, maka harus adalah landasan syari’at yang mendasarinya. Sebab jika tidak, berarti menjadi suatu amalan yang sia-sia, bahkan bisa mendatangkan kemurkaan Allah. Betapa dia melihat kenyataan bahwa orang yang membuat wiridan dengan menentukan sendiri jumlah dan waktunya, telah membuka celah jin untuk masuk ke dalam diri mereka.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kekokohannya menjaga kehormatan diri dan menjunjung tinggi rasa malu. Dia menyadari bahwa dirinya adalah perhiasan dunia, sehingga berusaha menutupi diri agar tidak menjadi penyebab fitnah. Dia paham bahwa syariat berhijab adalah untuk memuliakannya, untuk menyembunyikan dirinya dari pandangan ajnabi. Agar keberadaannya tidak mengguncang hati lawan jenis. Karenanya dia memilih busana muslimah yang longgar, tebal, dan tidak menarik perhatian. Berbagai model busana muslimah yang sekarang nge-trend dengan berbagai model dan aksesorisnya, sama sekali tidak menarik minatnya meskipun untuk sekedar melirik. Dia tenggelam dalam kesahajaan, mencukupkan diri dengan kesederhanaan.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepahamannya menjaga batasan interaksi dengan lawan jenis. Sebisa mungkin dia menghindari interaksi yang dapat menjadi celah fitnah. Dia tegas dan lugas dalam berbicara kepada kaum adam. Dia tidak membuka celah fitnah dengan meminta nasehat kepada lawan jenis atas persoalan pribadinya baik melalui WA, SMS, ataupun inbox FB. Sekalipun kepada seorang yang bergelar ustadz, dia sangat menjaga interaksi pribadi karena dia paham ustadz juga manusia. Dia memahami bahwa interaksi japri (jalur pribadi) melalui media sosial merupakan salah satu bentuk khalwat.

Baca Juga  Aurat wanita di Hadapan Laki-Laki yang Bukan Mahram

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kedekatannya kepada Al Qur’an. Betapa Al Qur’an adalah kitab suci yang mulia, sehingga apapun atau siapapun yang bersinggungan dengannya, maka ia menjadi mulia. Bukankah malam di mana diturunkan Al Qur’an adalah malam yang paling mulia? Bukankah kota di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi kota termulia di muka bumi ini? Bukankah generasi di mana diturunkan Al Qur’an padanya, menjadi generasi paling mulia di bumi ini? Dia sangat memahami itu, sehingga dia berusaha berakrab-akrab dengan Al Qur’an yang merupakan kalam dari Rabb-nya. Dia belajar memperbaiki bacaan Al Qur’an, merutinkan tilawah harian, melakukan tadabbur dan menghafal Al Qur’an, serta berusaha mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupannya. Dia paham, bahwa umat ini akan tegak dan berjaya dengan Al Qur’an.

Kemuliaan seorang muslimah, terletak pada kepeduliannya akan kondisi umat saat ini. Jauhnya umat dari syari’at dan tersebarnya maksiat membuat hatinya cemburu. Membuat jiwanya gelisah dan berduka. Dia menyadari bahwa menyebarnya maksiat dan tidak adanya pelaku amar ma’ruf nahi mungkar dapat menjadi asbab turunnya laknat Allah atas suatu kaum. Karenanya dia tidak mau berpangku tangan. Dia bergabung dengan barisan pejuang yang berusaha menegakkan dien ini. Dia menjadi satu di antara muslimah lainnya yang berjuang di atas jalan dakwah. Baginya dakwah adalah kebutuhan dan jalan hidup. Dan dia berharap, dakwah yang dijalaninya bisa menjadi hujjah baginya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala kelak.

[ummisanti/sym]

Posted in Artikel, Muslimah, Tajuk and tagged , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.