Kultum Tarawih: Meraih Syafa’at Puasa dan Al-Qur’an

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah, Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 285;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah : 185)

Aِyat lain yang menerangkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan adalah surah al-Qadr ayat 1 dan ad-Dukhan ayat 3:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [٩٧:١

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (Qs al-Qadr:1).

حم [٤٤:١] وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ [٤٤:٢]إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ [٤٤:٣

Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (Qs. Ad-Dukhan:1-3).

Oleh karena itu bulan Ramadhan disebut pula sebagai bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Bahkan pewajiban dan pensyariatan puasa pada bulan Ramadhan dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya la-Qur’an pada bulan tersebut. Dimana setelah menyatakan, Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, barulah Allah perintahkan kewajiban berpuasa pada ayat 185 surah Al-Baqarah.

Sehingga puasa dan  Al-Qur’an  ibarat saudara kembar. Keduanya akan datang sebagai pemberi syafa’at pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

 “Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]

Syarat utama meraih syafa’at Al-Qur’an adalah dekat dengan Al-Qur’an, baik membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat memberi syafa’at kepada para sahabatnya (pembacanya).

 

Oleh sebab itu pula salah satu amalan utama yang ditekankan pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini adalah menyibukkan diri dengan Al-Qur’an; membaca (tilawah), mempelajari (tadarus), menghafal (tahfidz), dan merenungkan (tadabbur).

Para Salafus Shaleh dahulu selalu menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Sebagian diantara mereka mengkhatamkan Al-Qur’an dalam Shalat tarawih setiap tiga malam. Sebagian lagi setiap tujuh malam sekali.

Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Syafi’i mengkhatamkan dua kali sehari di luar Shalat dalam bulan Ramadhan. Al-Sawad setiap dua hari. Qatadah setiap tujuh hari di luar Ramadhan. Sedangkan pada bulan ramadhan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir setiap hari sekali khatam. Mereka benar-benar menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.  []

Posted in Al-Qur'an, Artikel and tagged , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.