Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Seperti telah disinggung dalam kajian-kajian lalu, bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, utamanya di malam-malam ganjil.

Dan bahwasanya diangkatnya pengetahun tentang kapan pastinya malam itu sejalan dengan hikmah Rabbani. Yakni agar supaya kaum Mukminin bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah pada seluruh malam-malam tersebut.

Adapun pernyataan sebagian sahabat, seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Ubay bin Ka’ab, bahwa Lailatul Qadar itu jatuhnya pada malam ke-27, maka ia adalah ijtihad mereka berdua. Juga, bisa saja ia terjadi pada satu tahun tertentu yang mereka rasakan, dan bukan setiap tahunnya.

Riwayat tersebut berbunyi:

(وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda mengenai Lailatul Qadar: “Ia terjadi pada malam ke-27“. (HR. Abu Daud).

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu Anhu ia berkata tentang Lailatul Qadar:

“وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam tersebut. Ia adalah malam yang Allah perintahkan kami menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27.” (Riwayat Muslim).

Baca Juga  Karakteristik Islam (2)

Pendapat yang kuat terkait riwayat Mu’awiyah di atas bahwa ia adalah hadits mauquf. Yakni hanya merupakan perkataan sahabat (Mu’awiyah bin Abi Sufyan), sebagaimana nyatakan oleh Ibnu Hajar.

Intinya, bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, utamanya pada malam-malam ganjil. Lebih utama lagi pada malam ke-27. Dan tabiat Lailatul Qadar itu berpindah-pindah setiap tahunnya.

Buktinya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendapatinya pada malam ke-21, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Radhiallahu Anhu.

Saat itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah di hadapan para sahabat seraya mengatakan:

“إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ”.

Sungguh telah diperlihatkan padaku Lailatul Qadar, kemudian aku lupa atau dibuat lupa. Olehnya, carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir, pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur.”

Abu Sa’id berkata: “Hujan turun pada malam ke-21, hingga air mengalir mengaliri tempat shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seusai shalat aku menyaksikan wajah beliau kotor terkena lumpur. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Tahfidz Weekend
Posted in Kajian and tagged , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.