Lailatul Qadar Umur Tambahan Kaum Muslimin

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar Umur Tambahan Kaum Muslimin

Umur ummat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak sama dengan ummat-ummat sebelumnya. Umat terdahulu terkenal dengan umur yang panjang serta tubuh yang kuat. Semua itu menjadikan mereka maksimal dalam menegakkan ibadah kepada Allah.

Berbeda dengan umur ummat Rasulullah. Selain kadarnya yang pendek, itu pun dipadati pula oleh banyak kelemahan serta kelalaian. Karena itu, dari hitung-hitungan, amal ibadah ummat ini sangat jauh tertinggal dari orang-orang sebelumnya.

Itulah sebabnya, mengapa Allah Ta’ala kemudian menetapkan banyak amal-amal kebaikan yang pahalanya berlipat kali untuk meneutupi kekurangan umur yang diberikan pada mereka.

Seorang yang shalat berjamaah misalnya, Nabi mengabarkan ia lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendiri. Itu artinya, orang yang shalat jama’ah seakan umurnya melampaui dua puluh tujuh hari orang yang shalat sendiri.

Demikian pula orang yang shalat di Masjidil Haram. Pahalanya sama dengan sepuluh ribu kali lipat shalat di masjid selainnya. Itu artinya, seakan ia mendapat tambahan umur sepuluh ribu hari ketimbang orang yang tidak shalat di masjidil haram

Nah, demikian pula dengan Lailatul Qadar. Ibadah di dalamnya lebih baik ketimbang seribu bulan ibadah di bulan-bulan selainnya. Seakan mereka yang mendapat Lailatul Qadar itu menerima bonus umur seribu bulan ketimbang mereka yang tidak mendapatkannya. Dan itu berlaku setiap tahun.

Makanya, tidak heran jika ada dari ummat Rasulullah kelak yang datang amal-amal yang sangat banyak. Seakan ia hidup ribuan tahun khusus hanya untuk beribadah. Itu dikarenakan amal-amal yang dikerjakan hamba tersebut, kendati zahirnya sedikit akan tetapi lipatan pahalanya sangat melimpah di sisi-Nya.

Baca Juga  Keutamaan Bulan Ramadhan [4]: Lailatul Qadr yang Lebih Baik dari 1000 Bulan

Di sinilah Rahasianya, mengapa para ulama mengatakan, dibutuhkan kecerdasan dalam beribadah. Carilah tempat dan waktu di mana padanya terkandung keberkahan yang menyebabkan pahala berlipat ganda. Jangan sampai kita lelah dalam sebuah amal, akan tetapi pahalanya sangat kecil di sisi-Nya.

Sebagai contoh, hadist yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin Juwairiyah. Bahwa suatu pagi, Rasulullah keluar dari rumah Juwairiyah ke masjid melaksanakan shalat subuh. Ketika itu Juwairiyah berada di tempat sujud (sejadah). Saat Rasulullah kembali dari masjid dan matahari sudah tinggi, Rasulullah mendapati Juwairiyah masih duduk bersimpuh di tempat semula. Rasulullah bertanya: “Wahai Juwairiyah, adakah sejak tadi engkau duduk di tempat sujud itu?” Juwairiyah menjawab: “Iya, benar”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda:  “Sungguh aku telah membaca sesudahmu empat kalimat, andai (pahalanya) ditimbang dengan (pahala) kalimat yang kamu baca seharian, pasti bisa mengimbanginya, yaitu kalimat: “Subhanallah wa Bihamdihi ‘Adada Khalqihi, wa Ridha’a Nafsihi, wa Zinata ‘Arsyihi, wa Midada Kalimatihi”. (Mahasuci Allah dengan segenap puji-Nya, sebanyak makhluk ciptaan-Nya, sejauh keridhaan-Nya, seberat timbangan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-kalimat-Nya).” (HR. Muslim).

Iya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan pada Juwairiyah, bahwa amal itu yang paling utama diperhatikan adalah kualitasnya, dan bukan kuantitas. Bisa jadi seorang duduk seharian untuk berdzikir, akan tetapi dikalahkan oleh sebuah amal sederhana yang ternyata pahalanya sangat besar di sisi Allah. Wallahu A’lam.

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Posted in Artikel and tagged , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.