syahadat

Makna Dua Kalimat Syahadat

Tulisan singkat ini akan membahas penjelasan seputar makna, dua kalimat syahadat. Sebab, kalimat syahadat penting untuk dipahami dan dimaknai. Sehingga tidak terucap di bibir saja, tapi merasuk ke hati lalu mengejawantah dalam amalan nyata.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah Muhammad [47] ayat 19:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS.Muhammad[47]:19).

Ayat tersebut menyuruh untuk mengilmui La Iala Illallah sebelum yang lainnya. Bahkan Imam Bukhari menempatkan ayat tersebut dalam kitab Shahihnya dengan judul bab, “Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat”.

Syahadat La Ilaha Illallah

Makna La Ilaha Illallah adalah i’tikad (keyakinan) dan ikrar (pengakuan) bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Yakni, keyakinan dan pengakuan yang pasti dan tegas bahwa tak ada satu pun yang berhak diibadahi secara sah melainkan Allah dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah.
Keyakinan dan pengakuan tersebut harus disertai komitmen (iltizam) pengamalan terhadap konsekwensi kalimat syahadat itu sendiri. Singkatnya, beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun adalah pemaknaan yang sebenarnya terhadap kalimat La Ilaha Illallah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Muhammad ayat 19 diatas; “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah”

Maksudnya, ketahuilah bahwa Dialah satu-satunya yang berhak terhadap ibadah. Tidak boleh beribadah kepada selain-Nya, karena hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi, tiada Ilah selain-Nya, sehingga kita tidak pantas mengalamatkan ibadah kepada selain-Nya.

Tentu saja keyakinan terhadap La Ilaha Illallah tidak sempurna tanpa syahadat Muhammad Rasulullah. Karena keduanya merupakan dua kalimat yang satu paket Sebagai rukun Islam pertama. Keduanya merupakan persaksian yang tak terpisah. Oleh karena itu syahadat La Ilaha Illallahu dan Muhammad Rasulullah dikenal dengan sebutan Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Pengetahuan terhadap makna La Ilaha Illallah harus disertai pula dengan pengetahuan terhadap syahadat Muhammad Rasulullah.

Baca Juga  Syarat Syafa’at

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

Makna syahadat Muhamad Rasulullah adalah meyakini sepenuh hati bahwa beliau adalah hamba dan Rasul (utusan) Allah. Keyakinan tersebut dibuktikan dengan mentaati perintahnya, membenarkan kabar yang beliau sampaikan (tashdiquhu fiymaa akhbara), meninggalkan larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan (mengikuti) syariatnya.

Mentaati Rasul merupakan bukti ketaatan kepada Allah. Dalam banyak ayat al-Qur’an perintah taat kepada Allah digandengkan dengan perintah taat kepada Rasul, semisal dalam surah Ali Imran ayat 32, An-Nisa ayat 59:
“Katakanlah wahai Muhammad, taatilah Allah dan Rasul”. (terj.Qs. Ali Imran:32).
Pada ayat sebelumnya (Qs.3:31), Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi untuk menyampaikan bahwa, “Jika kalian mencintai Allah, maka ikuti (taati) lah aku”. (terj. Qs. Ali Imran ayat 31).
Dalam surah An-Nisa ayat 59 AllahTa’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk mentaati Allah, Rasul, dan ulil amri; “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian”. (terj. Qs. An-Nisa:59).
Dalam ayat lain Allah menyuruh kita untuk mengikuti apa yang didatangkan oleh Rasul, sebagaimana dalam surah Al-Hasyr ayat 7:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Dan apa yang didatangkan (diperintahkan) Rasul kepadamu, maka ambillah (taatilah), dan apa yang beliau larang maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr:7).
Adapaun tasdiquhu fiymaa akhbara mencakup pembenaran terhadap semua berita dan informasi yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, baik kabar tentang peristiwa masa lalu, informasi tentang kejadian pada yang akan datang dan hal-hal ghaib.

Kemudian tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan mengikuti syariatnya. Sebab beliau diutus oleh Allah untuk membimbing manusia beribadah kepada Allah. Bahkan hal ini merupakan syarat diterimanya amal, dimana suatu ibadah takkan diterima oleh Allah kecuali dengan memurnikan niat hanya karena Allah dan memurnikan ittiba (ikut contoh) kepada Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam. (sym).
Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/

Posted in Aqidah, Artikel and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan