Tips Memilih Pasangan Yang Tepat

Rambu Pernikahan: Memilih Pasangan yang Tepat

Rambu Pernikahan: Memilih Pasangan yang Tepat

Pernikahan mempertemukan sepasang insan dalam ikatan suci. Menjatuhkan pilihan pada calon pasangan merupakan keputusan besar bagi seseorang yang hendak menikah. Bagaimana tidak? Pernikahan merupakan satu langkah awal yang mengubah hidupnya. Kehidupan yang semula dijalani serba sendiri, kemudian hadir sosok lain dalam siang dan malamnya, dengan karakter dan kepribadian yang tentu tidak sama dengan dirinya. Karenanya, sebelum menempuh jenjang ini, seseorang tentu telah melalui tahapan memilih pasangan dan proses ta’aruf (perkenalan) dengan segala liku-likunya.

Kehidupan rumah tangga dapat berjalan harmonis dimulai dari tahap ini, pemilihan calon pasangan yang tepat. Tidak hanya kriteria dunia saja yang masuk dalam poin seleksi, justru keshalihan calon pasangan menjadi syarat utama untuk terwujudnya rumah tangga bahagia.

Terkait hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: harta, nasab, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah karena agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Bukhari No. 5090)

Landasan agama merupakan prioritas utama dalam pemilihan pasangan jika menginginkan rumah tangga yang bahagia. Karena orang shalih, orang yang paham agama, maka dia akan berusaha menjaga hak-hak Allah dalam pernikahannya. Dan itu artinya, dia akan selalu berusaha menjaga hak dan kewajibannya dalam pernikahan.

Yang seringkali terjadi, seseorang menjatuhkan pilihannya lebih mengutamakan rasa cintanya, kecantikan atau kegantengan, daripada agama pasangannya. Padahal, rasa cinta yang sejati tumbuh setelah memasuki gerbang pernikahan. Cinta yang hadir dari penerjemahan ketertarikan satu sama lain karena interaksi yang begitu intens dalam kehidupan rumah tangga. Cinta yang hadir dari rasa saling mengerti, peduli, dan berbagi. Cinta yang tumbuh untuk mengokohkan ikrar suci pernikahan. Bukan cinta semu, yang dibangun karena nafsu semata.

Itulah mengapa, kita melihat fenomena banyaknya keretakan rumah tangga. Kasus perceraian seperti hal yang wajar-wajar saja, menjamur. Sungguh ironi! Dalam kondisi perkembangan keilmuan dan kehidupan masyarakat yang dibilang moderen ini, kasus kerumahtanggaan justru mencuat tinggi karena salah dalam memilih pasangan. Meningkatnya kasus perceraian menjadi masalah yang cukup memprihatinkan. Padahal Allah dan Rasul-Nya membenci perceraian sekalipun itu hal yang tidak dilarang.

Karenanya, penting untuk diperhatikan dalam memilih calon pasangan, bahwa mengedepankan kebaikan agama merupakan modal besar untuk membangun rumah tangga bahagia. Jangan sampai rumah tangga dibangun dengan calon pasangan yang hanya mengedepankan kriteria dunia semata.

Sejenak mari kita menengok sejarah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Julaibib radhiyallahu anhu. Julaibib adalah seorang sahabat dari kalangan anshar dan termasuk pemuda yang tidak memiliki harta. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai Julaibib karena ketakwaannya. Suatu hari terbesitlah keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menikahkan Julaibib dengan salah seorang putri sahabat anshar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menemui sahabat tersebut dan menyampaikan keinginannya, “Wahai Fulan, aku ingin meminang putrimu.”

Tanpa berpikir panjang, sahabat anshar tersebut langsung menerima lamaran Rasulullah. Siapa yang tidak mau menjalin hubungan kekerabatan dengan Rasulullah,tentu saja lamaran itu merupakan tawaran yang sangat berharga.”Silahkan wahai Rasulullah,dengan senang hati.”

“Tapi aku meminangnya bukan untuk diriku”, lanjut Rasulullah.

Sahabat anshar pun terkejut mendengar perkataan Rasulullah.”Lantas pinangan ini untuk siapa, wahai Rasulullah?”

“Aku meminang putrimu untuk Julaibib.”

Dengan penuh kebingungan sahabat itu menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah! Tetapi aku harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan ibunya.”

Pergilah sahabat ini menemui istrinya dan menceritakan pinangan Rasulullah. “Wahai, istriku. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang putrimu,”

Dengan girang hati istrinya menjawab, “Aku sangat setuju.”

Akan tetapi Rasulullah tidak meminang untuk dirinya, ” jelas sang suami.

Lantas untuk siapa pinangan itu,” istrinya bertanya dengan keheranan.

Rasulullah meminangnya untuk Julaibib.”

Untuk Julaibib? Tidak! Aku tidak setuju. Jangan engkau nikahkan putri kita dengannya!”

Sahabat anshar ini ternyata enggan memiliki menantu seperti Julaibib yang miskin dan tidak rupawan. Inilah kenyataan yang sering kita temui, sebagian orang tua terkadang lebih mengutamakan dunia daripada agama calon menantunya.

Qadarullah, percakapan suami istri tersebut terdengar oleh putrinya. Dan ketika sang ayah hendak beranjak untuk memberikan jawaban penolakan atas pinangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putrinya bertanya, “Siapakah yang telah meminangku, wahai ayah?”

Sang ibu kemudian menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meminangnya untuk Jualaibib. Apa jawaban putrinya?

“Wahai ayah dan ibuku, apakah kalian menolak perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tidakkah kalian mendengar firman Allah

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. – al-Ahzâb/33 ayat 36- Terimalah pinangan itu, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku. Ketahuilah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib !”

Mendengar penuturan putrinya, sahabat anshar pergilah menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai, Rasulullah! Aku menerima pinanganmu. Nikahkanlah putriku dengan Julaibib.”

Lihatlah bagaimana sikap wanita shalihah ini menanggapi pinangan yang datang kepadanya. Tidaklah dia melihat peminangnya kecuali dengan pandangan agama. Pemahamannya terhadap agama membuatnya menyadari bahwa rumah tangga yang akan dibinanya hanya bisa tegak kokoh jika dibangun di atas landasan agama dan ketakwaan.

Satu hal yang perlu diperhatikan,pemilihan calon pasangan yang tepat tidak bisa ditempuh dengan jalan pacaran. Apapun ‘casingnya’, tidak ada kamus pacaran sebelum nikah dalam Islam. Islam agama yang mulia dan menjunjung tinggi kehormatan pemeluknya. Pacaran hanya merupakan media syetan untuk menyesatkan para pemuda dan pemudi agar terjerumus dalam kemaksiatan dan mengantar mereka pada maqam yang hina. Bahkan pacaran ini banyak menjadi sebab pemudi telat menikah.

Beberapa kasus yang penulis temui, tidak sedikit pemudi yang mengeluhkan pacarnya tidak siap ketika diajak menikah. Selalu ada alasan untuk mengulur-ulur waktu. Belum mapanlah, masih ingin melanjutkan studi, kakak ada yang belum nikah, begini dan begitu. Penulis katakan kepada para pemudi itu, “Tinggalkan pacarmu yang pengecut itu.” Yah,bagaimana tidak pengecut? Membuat carut marut hati anak orang dan tidak bertanggung jawab. Dan herannya,kalimat inipun tidak serta merta mematahkan semangat para pemudi untuk tetap setia kepada pacarnya. Kenangan-kenangan manis selalu hadir ketika ingin berpaling, bahkan ketika seorang salih datang melamar pun,mereka masih gamang. Takut tidak bisa mencintai, ragu jangan-jangan pacarnya akhirnya melamar. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Begitulah syetan akan terus memperdaya dan menjerat manusia dalam kesemuan yang jika mereka tidak segera tersadar,mereka akan berhadapan dengan penyesalan yang tiada berakhir.

Karenanya penulis sangat menekankan untuk menghindari pacaran yang jauh lebih banyak madharatnya ketimbang manfaatnya. Memilih pasangan yang tepat dapat dilakukan dengan perantaraan wasilah atau penghubung yang amanah. Dan tentunya selalu menjaga kelurusan niat serta memohon petunjuk Allah. Dari fenomena yang penulis temui, banyak mereka yang menikah tanpa sebelumnya mengenal pasangannya. Mereka menempuh cara-cara syar’i untuk mendapatkan pasangan, tanpa melalui pacaran, dan alhamdulillah tahun-tahun pernikahan berlalu dengan rumah tangga yang tetap utuh. Di sisi lain, penulis pun menyaksikan mereka yang membangun rumah tangganya dengan pacaran,toh tidak menjamin mereka bebas konflik berat dalam rumah tangga bahkan sampai kepada kasus perselingkuhan. Hanya kepada Allah kita bertawakal.

#ummisanti

Posted in Artikel, Muslimah and tagged , , , , , , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.