Memilih Peran Dakwah yang Strategis

Oleh: Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf (Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok)

Seorang thalibul ilmi mungkin sudah sadar tentang tanggung jawab dakwah di tengah ummat. Dia tahu bahwa ilmu yang telah dia pelajari adalah karunia sekaligus amanah. Namun, dia bingung menentukan peran yang tepat. Apalagi kajian Islamnya alhamdulillah memang memberinya wawasan yang cukup luas tentang peran-perang yang bisa dia lakoni di masyarakat. 

Akh yang lain sudah punya amanah yang jelas dalam organisasi dakwah. Tapi di sisi lain dia berpikir tentang program dakwah pribadi mengingat bahwa dia punya faktor-faktor pendukung untuk itu. Dia mungkin punya kelebihan tertentu yang belum maksimal pemberdayaannya selama ini.

Bagaimana memetakan peran dalam peta ‘amal islami’ yang semakin kompleks dan membutuhkan banyak peran? Faktor-faktor apakah yang harus dipertimbangkan dalam menentukan posisi dalam dunia aktivisme ishlah yang luas?

Ada tiga faktor yang utama.

Pertama, keunggulan pribadi. Setiap kita pasti punya keunggulan dan kelebihan yang unik. Sebab, Allah subahanahu wa ta’ala mencipta manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Kelebihan tersebut bisa bersifat strategis, managerial ataupun teknis. Kesempurnaan tersebut kemudian melalui proses yang sangat unik antara satu individu dengan individu lainnya. Terasah dan mengkristal dalam bentuk yang semakin terurai oleh bidang kehidupan yang luas. Proses tersebut bisa terwarnai oleh asal daerah, latar keluarga, pendidikan, bahkan pengalaman yang murni bersifat pribadi.

Pada momen-momen tertentu, kelebihan ini kadang terlihat sangat jelas bagi orang lain. Sangat berkilau sehingga orang tersebut spontan dan jujur memuji kita atau sekadar mengungkapkan kekagumannya. Kelebihan tersebut kadang juga menunjukkan penampakan dengan cara lain. Kita biasa merasakan telah melaksanakan pekerjaan tertentu dengan sangat mudahnya sementara orang lain melakukannya dengan usaha ekstra. Kita bahkan melakukan pekerjaan tadi dalam waktu yang lebih singkat namun memberi hasil lebih besar atau lebih banyak. Kita mengerjakannya secara sangat natural, menikmati, sehingga waktu kerja berlalu tanpa kita sadari. Inilah ciri-ciri keunggulan pribadi.

Ambil contoh seseorang misalnya memiliki keunggulan pribadi dalam kemampuan negosiasi. Proses negosiasi yang bagi sebagian orang terasa mengintimidasi, justru dia nikmati. Negosiasi yang bagi orang lain menguras emosi dan energi, bagi orang ini serasa “game” yang justru menyenangkan. 

Pengatahuan modern banyak menyuguhkan teori-teori kepribadian yang bisa digunakan sebagai alat bantu untuk mengenal kekuatan individu seseorang. Teori-teori tersebut membuat peta kepribadian yang mengklasifikasikan manusia kepada tipe-tipe kepribadian tertentu. Tipe kepribadian tersebut biasanya dilengkapi dengan indikator-indikator perilaku yang mudah terbaca. Hal ini tentu sangat membantu walau kita harus tetap bijak menyikapi dan tidak terjebak pada image pribadi yang berlebihan. 

Proses menyingkap faktor pertama ini tentu tidak singkat. Kita lebih banyak mengalaminya untuk kemudian menyadari keberadaannya. Setelah disadari, baru ada peluang untuk mengembangkannya bahkan melakukan elaborasi lebih jauh. Dengan begitu, kita telah mengupayakan untuk mencapai tingkatannya yang paling optimal. Sehingga memberikan manfaat yang berarti bagi agama, ummat dan masyarakat.

Kedua, besarnya manfaat bagi ummat dan masyarakat. Semakin besar manfaat dari peran tertentu atau program tertentu bagi ummat, tentu semakin besar pula potensi ridha Allah dan pahala di dalamnya. Ini mungkin bisa kita sebut sebagai nilai strategis sebuah peran atau kontribusi terhadap agama. Kita tentu menginginkan peran yang bisa jadi amal buat ladang pahala yang besar di akhirat kelak.

Dalam satu kajiannya, Ibnul Qayyim menegaskan bahwa nilai atau bobot amal pada dasarnya tidak bersifat mutlak. Nilai amal ditentukan oleh tuntutan situasi dan kondisi. Ketika tiba waktu shalat, amalan yang paling utama adalah menunaikan shalat fardhu. Ketika kita kedatangan tamu, maka amalan yang paling utama adalah menghormati dan melayani tamu. Jika lingkungan kita buta aksara Al-Qur’an, mengajarkan baca-tulis Al-Qur’an menjadi peran yang paling utama. Begitulah seterusnya, nilai amal tergantung pada bobot maslahat yang ditimbulkannya sesuai dengan posisi keberadaan kita masing-masing. Inilah nilai strategis. 

Bila yang pertama tadi adalah faktor yang sifatnya internal, faktor kedua ini lebih bersifat eksternal dan terfokus kepada objek dakwah atau kelompok yang hendak kita layani kepentingannya. Tidak kurang beragamnya dari yang pertama, faktor ini juga sangat bisa bervariasi sejalan dengan komplesitas kehidupan dan tuntutan dakwah yang semakin berkembang. Cakupannya tentu bisa meluas pada akhirnya atau menyempit, tergantung kepada visi atau juga keunggulan yang kita miliki. 

Akhirnya yang ketiga, adalah faktor-faktor pendukung yang bisa mencakup tools, keterampilan, prasyarat tertentu atau kegiatan pendukung lainnya. Antum yang merasa bahwa ceramah dan tabligh adalah keunggulan sekaligus kebutuhan yang signifikan pengaruhnya bagi kemaslahatan dakwah, harus punya perhitungan sendiri terhadap faktor-faktor pendukung yang bisa terwujud secara realistis.

Apakah Antum sudah siap berkontribusi sebagai muballigh yang mutqin dengan materi-materi kajian yang kaya dan aktual? Sudahkan Antum cukup paham terhadap nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat yang menjadi subjek kegiatan tabligh Antum? Sudah adakah antisipasi terhadap kebutuhan transportasi yang bisa mengatasi kebutuhan standar mobilitas muballig? Apakah peran ini sekadar pelengkap atau memang menjadi profesi yang diinginkan menopang kebutuhan ekonomi? Ini adalah sebagian pertanyaan yang harus diperhatikan untuk memastikan lengkapnya faktor-faktor pendukung untuk peran dakwah yang optimal di tengah masyarakat. 

Setiap peran memiliki syarat dan prasyarat yang berbeda antara satu dengan yang lain. Di sini, setiap kita dituntut memiliki wawasan yang memadai untuk bisa menetapkannya. Bertanya atau mengamati orang-orang yang telah unggul pada peran tersebut bisa sangat membantu untuk menemukannya.    

Pada akhirnya, seseorang mungkin punya beberapa pilihan peran. Dan begitulah umumnya. Keunggulan seseorang bisa berbilang, tuntutan prioritas dakwah pada umumnya kompleks dan beragam, serta keadaan seseorang untuk memenuhi faktor-faktor pendukung juga berbeda-beda.

Pada kondisi ini, Antum ambillah alat tulis dan inventarisasikan pilihan-pilihan yang ada. Beri keterangan yang lengkap terhadap potensi setiap pilihan terhadap faktor-faktor yang tersebut di atas. Akan tampak pada akhirnya pilihan-pilihan yang lebih baik daripada yang lain. Kalau itu sudah jelas, maka bulatkan azam dan tawakkallah pada Allah. Fokus dan Bismillah.  (Ilham Jaya R.)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: