merasa cukup

Mendefinisikan Kecukupan

Suatu hari sebuah pesan masuk ke HP saya. “Mbak, kalau boleh tahu, gaji bersih suami mb berapa dalam sebulan? Suamiku mau keluar kerja dan ber-wirausaha. Galau ni mb.” Begitu kira-kira isi pesan tersebut. Saya langsung mesem-mesem (senyum-senyum). Yah, namanya kami ini wirausaha, gajinya ya kami sendiri yang mengatur. Kalau pas usaha lancar tentu gaji kami di atas rata-rata, tapi tidak jarang juga pas-pasan bahkan minus.

Sebenarnya, punya status sebagai pegawai ataupun wirausaha, itu adalah pilihan. Mana yang menjadi pilihan dan kemantapan hati, kita nyaman di dalamnya, itulah yang semestinya dijalani. Kalau masalah nominal, ah, saya pribadi tidak mau berkutat dengan angka-angka. Bagi saya, rejeki itu tidak bisa di-matematika-kan. Bahkan dalam nominal yang sedikit tapi mengandung keberkahan, justru itu lebih menenangkan hati dan kehidupan. Apalagi sudah lazim kita melihat fenomena di negeri ini, betapa banyak mereka yang berdasi tapi masih rakus dengan harta. Mereka yang diberi amanah mengurus rakyat malah menjadi maling. Kasihan sekali orang-orang seperti itu, seakan hidup hanya di dunia saja, seakan uang dan harta adalah segalanya. Padahal kaya atau miskin itu hanya bagian dari ujian hidup, jika saja mereka menyadarinya.

Kaya atau miskin pun bagi saya tidak bisa diukur dengan parameter fisik. Betapa banyak mereka yang hidup di rumah megah dengan kendaraan mewah tapi hatinya miskin. Miskin dari rasa syukur, miskin dari ketenangan hidup, miskin dari kebahagiaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terus saja merasa kurang dan kurang. Sedangkan banyak yang dipandang miskin, ternyata mereka menikmati hidup dalam ketenangan dan merasa baik-baik saja. Mengapa? Hati yang bersyukur dan merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Bukan saya mengajari untuk tidak kaya. Kaya itu suatu kebutuhan, karena banyak sekali amal kebaikan yang bisa dilakukan dengan kekayaan. Ibadah umrah dan haji, zakat maal, menyantuni fakir miskin, wakaf, dan masih banyak lagi amal kebaikan yang hanya bisa dilakukan dengan kelebihan harta. Hanya saja, tidak setiap hamba Allah di dunia ini mendapatkan kelebihan harta. Dan memang Allah memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Lantas, jika Allah menghendaki kita untuk tidak mendapatkannya, sehingga kita hidup dalam keuangan yang pas-pasan, bagaimana rasa hati kita?

Iri? Ah, itu bukan solusi. Sekali lagi saya katakan, bahkan kelapangan ataupun kesempitan dalam harta itu hanya bagian dari ujian hidup. Jika pada titik ini kita ternyata pada kondisi ‘pas-pasan’ secara materi, nikmati saja, syukuri. Itulah kondisi terbaik untuk kita menurut Allah. Bisa jadi ketika kita diberi kelapangan harta, kondisi kita malah menjadi orang yang kufur nikmat dan banyak melakukan kemaksiatan. Jadi, dilihat saja dari sisi positifnya. Belajar mensyukuri pemberian-Nya karena Dia memberi dengan kasih sayang dan semua demi kebaikan kita.

“Ah, mbak nggak ngerasain sih gimana rasanya ga pegang uang.” Hmmm, itulah tabiat kebanyakan manusia, seringkali memandang diri paling merana sementara orang lain paling bahagia dan tidak pernah kesusahan. Memang, seperti apa sih rasanya ga pegang uang menurutmu? Saya rasa, tinggal bagaimana kita menata hati dan berusaha bersyukur dalam setiap apa pun kondisi kita. Bukankah Allah sendiri yang menjanjikan, barangsiapa yang bersyukur kepada-Nya maka Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

“Tapi saya sudah berusaha bersyukur kok masih kurang aja nih mbak keuangannya?”

Hehe, mbaknya …, nikmat Allah itu sangat luas ……………….. Jangan membatasi nikmat hanya dari segi materi. Kita diberi kesehatan dan anggota tubuh yang sempurna itu nikmat. Kita memiliki suami yang shaleh dan mencintai kita itu nikmat. Kita memiliki mertua yang sayang dan perhatian itu nikmat. Kita bisa makan hari ini, itu juga nikmat. Kita bisa mengais rejeki dengan cara yang halal itu nikmat. Banyak sekali nikmat Allah yang senantiasa dicurahkan kepada kita, dan kita tidak akan mampu menghitungnya.

Jadi, ga perlu risau bin galau. Enjoy aja. Yang penting kita tidak menghilangkan sebab, yaitu dengan ikhtiar dan berdoa. Setelahnya, serahkan semua kepada Allah. Apalagi bagi mbak-mbak yang sudah nikah ni, jangan sampai membebani suami dengan banyak tuntutan. Jika suami masih memiliki penghasilan yang pas-pasan, jangan menyudutkannya dengan berbagai kritik dan tuntutan. Berilah motivasi dan semangat. Suami sudah berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi hak kita, jadi cobalah untuk menghargai hal itu. Jangan sampai berbagai tuntutan dan rengekan kita justru membuat suami mencari rejeki dengan cara yang tidak halal. Demi istri tercinta, tidak sedikit suami yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan harta. Supaya istrinya tidak ngomel-ngomel, supaya istrinya bisa tambah mencintainya. Ah, apakah mbak-mbak mau punya suami seperti itu? Kalau saya sih ga mau.

Yuk, belajar merasa cukup dan bersyukur dengan apa pun kondisi kita. InsyaAllah itu lebih menenangkan hati dan mendatangkan kecintaan Allah. Fase kehidupan kita masih panjang lho, jadi jangan begong saja meratapi nasib di fase ini, supaya di fase berikutnya kita ga nyesel.

#UmmiSanti

Tahfidz Weekend
Baca Juga  Apa Itu Ikhlas? - Ustadz. Harman Tajang
Posted in Muslimah and tagged , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.