Mendudukan Konflik Agama di Indonesia Secara Adil dan Jujur

 

Mendudukan Konflik Agama di Indonesia Secara Adil dan Jujur

Sampai saat ini toleransi dan kerukunan beragama masih menjadi problem serius. Berbagai peristiwa intoleransi masih kerap ditemui di sejumlah tempat. Ironisnya ummat Islam yang mayoritas di negeri ini kerap dituding sebagai pihak yang tidak toleran. Berbagai survai selalu “mengklaim” mendapatkan temuan bahwa ummat Islam masih belum toleran. Biasanya yang dijadikan sebagai standar dan ukuran seseorang tidak toleran antara lain, sikap terhadap nikah bedah agama, sikap terhadap batal bersama, ucapan selamat natal, kasus pindah agama, pemimpin non Muslim dan sebagainya.

Sementara sikap dan perilaku intoleran terhadap ummat Islam tidak pernah dijadikan sebagai objek penelitian. Padahal tidak sedikit kasus dan praktik intoransi terhadap ummat Islam, misalnya masih adanya sebagian daerah yang memberlakukan perda yang diskriminatif terhadap ummat Islam. Seperti larangan mengumandangkan adzan melalui pengeras suara. Bahkan ada suatu daerah ummat Islam sangat kesulitan mendapatkan idzin mendirikan masjid.

Padahal sesungguhnya Islam merupakan Agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan ummat beragama. Sejarah telah mencatata betapa mulia dan luhurnya praktik toleransi yang ditampilkan oleh ummat Islam. Misalnya ketika Ummat Islam menguasai Jerussalem pada tahun 637 M, Umar bin Khatab saat itu tidak membantai penduduk Jerussalem yang beragama yahudi dan Kristen. Bahkan Khalifah Umar menjamin keamanan dan keselamatan mereka menjalankan ibadah sesuai agama keyakian mereka. Hal ini sangat jauh berbeda dengan kejadian saat Jerussalem ditaklukkan oleh Pasukan Salib tahun 1099 M. Di sana ummat Islam dibantai.

Baca Juga  Hukum Memakan Hasil Penjualan Rokok Dalam Islam

Di sinilah bedanya praktik kerukunan dan toleransi ummat beragama bila Muslim yang berkuasa dan bila non Muslim berkuasa. Kita menyaksikan perbedaan yang sangat mencolok toleransi antar umat bergama dalam negara yang mayoritas Muslim dan mayoritas non Muslim. Tapi anehnya di Indonesia kaum minoritas selalu menuntut lebih dan menganggap ummat Islam tidak toleran. Setiap terjadi konflik ummat Islam selalu tertuduh sebagai pihak yang tidak toleran. Sementara pihak minoritas selalu dibela dengan alasan HAM.

Hal inilah yang disoroti dan didukkan seccara jujur dan proporsional oleh DR. Adian Husaini melalui bukunya Kerukunan Beragama & Kontroversi Penggunaan Kata Allah dalam Agama Kristen. Melalui buku ini Adian hendak mengajak para pembaca untuk melihat persoalan ini secara jujur dari akar masalah yang sebenaranya.

Ada tiga tema besar dalam buku ini, yaitu (1) Kontroversi kata “Allah” di Malaysia dan Indonesia, (2) Misi Kristen dan Kerukunan, dan (3) SeputarKepausan. Menurutnya salah satu akar konflik beragama di negeri ini adalah Kristenisasi. Penulis membahas masalah ini secara panjang lebar disertai paparan datan fakta, mulai dari halaman 127- 264. Oleh karena itu buku ini layak dijadikan referensi dalam mendudukan persoalan toleransi dan kerukunan di Indonesia.

Judul Buku : Kerukunan Beragama dan Kontroversi Penggunaan kata “Allah” dalam Agama Kristen
Penulis : Dr. Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani
Tahun : 1436 H/2016 M
Tebal : 312 halaman

Posted in Artikel, Kajian and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.