Meneguhkan Nikmat Persatuan


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali Imran:103).

Berpegang Teguhlah Pada Tali Allah
Setelah menyuruh orang beriman untuk bertakwa kepadaNya dengan sungguh-sungguh dan melarang mereka mati kecuali mati di atas Islam, Allah menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan tali Allah. Apa itu tali Allah. Menurut para Mufassir, makna tali Allah dalam ayat di atas adalah Islam, al-Qur’an, dan As-Sunnah.
Imam Abul Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad Dimasyqi menyebutkan dua makna habl (tali) Allah dalam ayat di atas, yakni ‘ahd (janji) Allah dan Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai tali Allah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, “Kitabullah (al-Qur’an) merupakan tali Allah yang teruntai dari langit ke bumi”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Azdim, 1/533).

Buya Hamka menambahkan As-Sunnah sebagai bagian dari makna tali Allah. “Apa yang disebut sebagai tali Allah sudah terang pada ayat di atas tadi, ialah ayat Tuhan yang dibacakan kepadamu, tegasnya Qur’an. Berjalin-berkelindan dengan Rasul yang ada diantara kamu. Yaitu sunnahnya dan contoh bimbingannya”, jelasnya pada juz 4 hlm. 37 Tafsir Al-Azhar.
Jadi, jelaslah bahwa maksud perintah ‘’Berpegang teguhlah dengan tali Allah” adalah berpegang teguhlah kepada wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berpegang Teguhlah Kepada Tali Allah= Bersatulah
Perintah untuk beri’tisham (berpegang teguh) kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam ayat di atas juga mengandung perintah untuk bersatupadu. Sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka rahimahullah. “Di sini ditegaskan, bahwa berpegang pada tali Allah itu kamu sekalian artinya bersatu padu. Karena kalau pegangan semuanya sudah satu, maka dirimu yang terpecah belah itu sendirinyapun menjadi satu”. “Lalu dikuatkan lagi dengan lanjutan ayat, “Dan janganlah kamu bercerai berai”.

Baca Juga  Manfaat dan Keutamaan Membaca Al-Qur’an (2)

Hal ini sekaligus menunjukan bahwa persatuan sejati hanya tegak di atas komitmen terhadap tali Allah, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebaliknya mengabaikan al-Qur’an dan As Sunnah akan menghantarkan kepada perpecahan, perselisihan, dan percerai beraian. Oleh karena itu pula, Allah menyuruh merujuk dan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ketika terjadi perbedaan. Sehingga dengan demikian, perbedaan yang terjadi tidak sampai menjerumuskan kepada perpecahan.

Akan tetapi tak dapat dinafikan, kadar komitmen masing-masing bertingkat-tingkat. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah, dalam surah Fathir [35] ayat 32, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (terj. Qs. Fathir:32). Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa para pewaris Kitabullah bertingkat-tingkat berdasar kadar dan tingkat komitmen mereka. Ada yang (1) dzalim linafsih, (2) muqtashid, dan (3) sabiqun bil khairat. Ketiganya diakui sebagai pewaris kitab yang memiliki hak ukhuwah dan persaudaraan.

Jangan Berceraiberai
Wa la tafarraqu (jangan bercerai berai)”, maksudnya “Allah menyuruh mereka untuk berjama’ah dan melarang mereka berpecah”, demikian dikatakan Imam Ibn Katsir. “Di sini tampak pentingnya jama’ah”, kata Buya Hamka. Karena, “Berpegang pada tali Allah sendiri-sendiri tidaklah ada faedahnya, kalau tidak ada persatuan antara satu dengan yang lain. Di sinilah kepentingan kesatuan komando, kesatuan pimpinan. Pimpinan tertinggi ialah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lanjut Buya. (Juzu’ IV, hlm. 37).

Jama’ah dan ijtima’ penting dan dibutuhkan dalam meneguhkan komitmen terhadap tali Allah yang dimaksud dalam perintah di atas. Karena perkumpulan (baca:persatuan) kaum Muslimin di atas (dasar) Agama mereka dan persatuan hati-hati mereka dapat memperbaiki urusan Agama dan dunia mereka. Dengan persatuan mereka dapat melakukan banyak hal dan meraih maslahat yang hanya dapat diraih melalui persatuan dan tidak dapat diraih bila mengabaikannya, seperti saling ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa. Sebaliknya, perpecahan dan permusuhan dapat merusak nidzam (keteraturan), memutuskan ikatan hubungan satu sama lain diantara mereka. Sehingga masing-masing bekerja menurut kesenangan dirinya meskipun menimbulkan mudharat secara umum.

Baca Juga  PERSATUAN YANG KITA DAMBA

Oleh karena itu persatuan dan kebersamaan merupakan suatu sikap terpuji yang diridhai Allah. Sebaliknya perselisihan, peceraiberaian, dan perselihian dimurkaiNya. Sebagaimana diterangkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallanu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai pada kalian tiga perkara dan memurkai tiga perkara; Dia meridhai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seseuatu apapun, kalian semua berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah, serta (meridhai kalian) bernasehat kepada orang yang diserahi urusan kalian oleh Allah (pemimpin). . . “. (terj. HR. Muslim)

Persatuan Itu Nikmat, Perselisihan Itu Laknat
Nikmat Persatuan dan kesatuan hati sesama Muslim merupakan nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Bila terus dipupuk dan dibina akan mendatangkan rahmat dan keberkadan dari Allah. Sebaliknya, perselisihan, perpecahan, perceraiberaian dan semacamnya adalah bala dan bencana. Bila dibiarkab terus menerus akan menyebabkan datangnya laknat Allah. Akan menghalangi turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Taatilah Allah dan RasulNya, serta janganlah berbantah-bantahan yanng menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian”. (terj. Qs. Al-Anfal:46).

Oleh karena pada pertengahan ayat, setelah menyuruh untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang bercerai berai, Allah mengingatkan nikmat persatuan yang dikaruniakanNya. “Dan ingatlah olehmu nikmat Allah atas kamu; ketika kamu sedang bermusuh-musuhan telah dijinakan-Nya antara hati kamu masing-masing.” Ini adalah kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara Aus dan Khazraj terlibat perang dan dendam kesumat.

Namun setelah kedatangan Nabi mereka dipersaudarakan oleh ikatan Iman dan Islam. Mereka masuk Islam sehingga mereka menjadi saudara yang daling mencintai di bawah naungan keagungan Allah, terikat dan terhubung satu sama lain karena Allah, serta saling saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. (Lih. Tafsir Ibn Katsir, 1/534).
Itulah satu nikmat paling besar”, kata Buya Hamka. “Sebab perpecahan, permusuhan, dan berbenci-bencian adalah sengketa dan kutuk yang sangat menghabiskan tenaga-jiwa”, lanjutnya. Oleh karena itu Allah mengingatkan, “Sehingga dengan nikmat Allah kamu menjadi bersaudara.” Apakah nikmat yang paling besar daripada persaudaraan sesudah permusuhan? Itulah nikmat yang lebih besar dari pada emas dan perak. Sebab, nikmat persaudaraan adalah nikmat dalam jiwa. Bahkan andaikan kita menafkahkan seluruh kekayakan yang ada di bumi demi menyatukan hati-hati manusia, takkan bisa ta npa rahmat karunia Allah (Lihat. Qs. Al-Anfal ayat 63).

Baca Juga  Keutamaan Bulan Ramadhan [4]: Lailatul Qadr yang Lebih Baik dari 1000 Bulan

Bagai di Tepi Neraka
Saking buruknya dampak perpecahan dan perceraiberaian Allah gambarkan bahwa percecahan yang terjadi sebelum datanganya nikmat persatuan dari Allah seolah berada di tepi lobang neraka. “Padahal kamu dahulu telah di pinggir lobang nerak”. “Sebelumnya berada di tepi jurang neraka disebabkan oleh kekafiran mereka, lalu Allah selamatkan mereka dengan memberihidayah Iman“. (Tafsir Ibn Katsir, 1/534).

Sementara Buya Hamka memaknai neraka dalam ayat tersebut dengan, ”neraka perpecahan, neraka kutuk-mengutuk, benci-membenci, sampai berperang bunuh-membunuh”. “Namun kamu telah diselamatkanNya dari dalamnya.” Dibangkitkan Allah kamu dari dalam neraka jiwa itu, ditariknya tangan kamu, sehingga tidak jadi jatuh, yaitu kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya Tuhan (Allah) berfirman di ujung ayat, “Demikianlah Allah menyatakan kepada kamu tanda-tanda-Nya supaya kamu mendapat petunjuk.” (ujung ayat 103).
Maka semua anjuran yang tersebut di atas itu disebutkan sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) atau kesaksian tentang kekuasaan Allah. Tentang peraturan dan sunnah Allah (natuurwet) di alam ini. Bahwasanya persatuan dari manusia yang sepaham bisa menimbulkan kekuatan yang besar”.

Kesimpulan
Oleh karena itu upaya membina persatuan dan persaudaraan hendaknya dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh membina iman serta meningkatkan komitmen berpegang teguh terhadap Dinul Islam dengan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun adanya kekurangan pada kadar komitmen saudara sesama Muslim terhdap al-Qur’an dan As Sunnah tidak sepantasnya menjadi alasan untuk tidak mengupayakan persatuan dan persaudaraan di kalangan kaum Muslimin. Upaya membina persatuan harus berkait kelindan dengan kerja keras membina ummat untuk belajar serta mengamalkan al-Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini berlaku kaidah, ma la yudraku kulluhu la yutra ku kulluhu, sesuatu yang tidak dapat dicapai seluruhnya maka tidak ditinggalkan seluruhnya. Wallahu a’lam. [sym]

Tahfidz Weekend
Posted in Al-Qur'an, Artikel, Tajuk, Tarbiyah, Tazkiyah and tagged , , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.