MIUMI: Dibutuhkan Kaderisasi Ulama Untuk Menghadapi Tantangan Pemikiran

MIUMI: Dibutuhkan Kaderisasi Ulama Untuk Menghadapi Tantangan Pemikiran

Gus Hamid pada Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren, di PP Darul Muttaqin Parung, Bogor, Sabtu (20/101/2018)

“Seperti perang fisik, perang pemikiran juga memerlukan persiapan tersendiri secara terprogram, serius dan terus menerus”. Persiapan yang beliau maksud adalah kaderisasi kepemimpinan intelektual melalui kaderisasi ulama. “Untuk kaderisasi kepemimpinan intelektual diperlukan program kaderisasi ulama”.

Bogor (wahdahjakarta.com)- Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat, KH. DR. Hamid Fahmy Zarkasy menyatakan bahwa untuk menghadapi tantangan ummat berupa Ghazwul Fikri (perang pemikiran) dibutuhkan kaderisasi kepemimpian inteleketual melalui kaderisasi ulama. Hal itu disampaikan Gus Hamid saat menjadi pembicara pada Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Parung Bogor, Sabtu (20/01) lalu.

“Seperti perang fisik, perang pemikiran juga memerlukan persiapan tersendiri secara terprogram, serius dan terus menerus”, ujarnya. Persiapan yang beliau maksud adalah kaderisasi kepemimpinan intelektual melalui kaderisasi ulama. “Untuk kaderisasi kepemimpinan intelektual diperlukan program kaderisasi ulama”, imbuhnya.

Menurut Wakil Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo ini, kaderisasi ulama menjadi makin dibutuhkan kerena kini, khususnya di Indonesia ulama berhadapan dengan probelematika ummat dan tantangan dakwah yang kompleks. “Di Indonesia, misalnya para ulama berhadapan dengan tentangan dakwah yang berupa gerakan kristenisasi, gerakan aliran kepercayaan dan kebatinan, gelombang budaya Barat yang berupa hedonisme, materialisme, kapitalisme, dan sebagainya yang menjauhkan ummat dari Agama”, jelasnya.

Kyai Hamid juga menambahkan bahwa selain tantangan lain yang dihadapi ummat saat ini adalah gerakan westernisasi dalam bidang pemikiran berupa penyebaran konsep dan metologi Barat dalam kajian keislaman. “Juga masuknya konsep-konsep, pendekatan, metedelogi dan filsafat liberlisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme, nihilisme dan lain sebagainya yang umumnya datang dari Barat”, ungkapnya.

Baca Juga  Sekjen MIUMI: Jadikan Indonesia Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghafur

Oleh karena itu dibutuhkan kaderisasi ulama yang memiliki kualifikasi kepemimpinan intelektual untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Sebab hal ini merupakan tanggung jawab dan tugas ulama sebagai pewarisdan pelanjut risalah kenabian. “Ulama adalah pewaris Nabi, dan karena itu mereka dituntut untuk memainkan peran para Nabi, yaitu menyampaikan ilmu, memperbaiki keimanan dan akhlaq masyarakat, sekaligus memberi pemecahan bagi persoalan-persoalan yang dihadapai ummat”, terangnya.

Menurut Pendiri Institute for the Studyof Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta ini ada tiga hal yang perlu menjadi fokus utama dalam proses kaderisasi ulama. Yaitu; pertama, Pendalaman ulang ilmu-ilmu Islam yang fundamental dalam rangka menjawab tantangan pemikiran, kedua, Mengenal dan mendalami metodelogi, ideologi, dan konsep-konsep kunci peradaban Barat yang telah merasuk dalam pemikiran ummat Islam, dan ketiga, mendalami teknik dan metode ghazwul fikri dalam bentuk training-training jurnalistik, leadership, multi media, dan sebagainya.

Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren ini digelar Badan Koordinasi Pondak Pesantren Indonesia (BKsPPI) Pusat. Pelatihan dibuka oleh Ketua BKsPPI Pusat, KH. Didin Hafidhuddin. Para peserta merupakan pimpinan pesantren dari berbagai daerah di tanah air seperti Riau, Makassar, Kuningan, Garut, Bogor, Ciamis, dan sebagainya. [sym].

Posted in Berita and tagged , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan