⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

Tanya Jawab Seputar Qurban

  1. Daging sapi kurban harus dibagi 7?
    JAWAB: Tidak harus dibagi tujuh, bisa satu orang, atau dua, maksimal tujuh orang untuk satu sapi

  2. Apakah yang berkurban boleh makan daging kurbannya?
    JAWAB: Boleh, bahkan disunnahkan

  3. Kalau boleh, berapa bagian yang bisa diambil oleh yang berkurban?
    JAWAB: Tidak ada ukuran tertentu, boleh sepertiga sebagaimana amalan sebagian sahabat

  4. Siapa saja yang berhak mendapatkan daging kurban?
    JAWAB: Pemilik kurban, fakir miskin dan boleh diberikan kepada orang yang mampu sebagai hadiah

  5. Bagaimana cara pembagian daging kurban?
    JAWAB: Boleh dibagi tiga, sepertiga untuk pemilik kurban, sepertiga untuk fakir miskin dan sepertiga hadiah untuk siapa yang diinginkan walaupun orang yang tergolong mampu

  6. Panitia kurban dapat bagian daging kurban?
    JAWAB: Boleh diberikan sebagai sedekah kalau miskin atau hadiah kalau orang yang mampu, TIDAK BOLEH diberikan sebagai upah kepanitiaan

  7. Daging kurban bisa dimasak dulu baru dibagi atau memanggil keluarga / tetangga untuk makan?
    JAWAB: Kedua-duanya boleh

Wallaahu a’lam

Dijawab oleh tim Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah

Hijab

Batasan Hijab Wanita

HIJAB WANITA

Soal Ke-130
💌 Tanya Ustad 💌

📩PERTANYAAN📩
Bismillah..
Mohon diberikan penjelasan dan landasan hukumnya baik berdasar Alquran maupun Hadist mengenai keharusan seorang muslimah menggunakan hijab syar’i.
syukron ustad
aedy moward#serpong#bii55

📌JAWABAN📌
Bismillaah,,
Untuk menjawab pertanyaan anda dibutuhkan satu pembahasan khusus, dan ini lah salah satu pembahasan ringkas tentang hijab wanita muslimah, yang disadur dari: http://markazinayah.com/hijab-wanita.html , selamat membaca:

Hijab Wanita

🌱 Harga diri dan kemuliaan seorang wanita sangat bernilai dalam pandangan Islam. Ini tergambarkan begitu jelas dalam tujuan dan misi utama Islam; yaitu tuntunan yang datang untuk menyelamatkan agama [aqidah dan syariat], jiwa, harta, akal, dan harga diri [kehormatan] umat manusia.
Demi menjaga harga diri seorang wanita, Islam telah menetapkan beberapa batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrahnya. Artinya, ketika seorang wanita keluar dari batasan-batasan Allah ini, maka pada dasarnya ia telah menentang fitrah penciptaannya dan pasti akan berakibat fatal pada harga diri dan agamanya.

🌱 Di antara aturan Islam tersebut adalah: Menjauhi segala perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam hubungan haram, maksiat zina, dan pelecehan harga diri seorang wanita. Selain pacaran dan berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram, perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam perbuatan nista ini adalah menanggalkan hijab atau pakaian yang menutup seluruh aurat dan perhiasan yang dipakainya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” [QS. An-Nur: 31].

Sebagai seorang muslimah, hijab merupakan penjaga harga diri dan potret kemuliaannya. Dengannya ia lebih dikenal sebagai wanita yang memiliki identitas muslimah sejati serta bisa menjaga aurat dan menutup pintu kenistaan atas dirinya.

🌱 Ini salah satu di antara sekian hikmah hijab yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana firmanNya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [QS. Al-Ahzab: 59].

Kandungan ayat ini sangat jelas bahwa fungsi dan hikmah dari hijab adalah untuk menghindari terjadinya dosa dan fitnah yang mengancam kehormatan dan harga diri kaum wanita. Oleh sebab itu, hijab dan menutup aurat secara sempurna merupakan suatu kewajiban yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah. Ayat di atas juga menegaskan bahwa memakai hijab bukanlah suatu kewajiban dan amanah semata, namun ia juga merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri oleh setiap kaum muslimah.

🍂 Perlu diperhatikan bahwa hijab dan pakaian penutup aurat ini memiliki kriteria yang diatur secara jelas dalam al-Quran dan sunnah. Di antara kriteria tersebut adalah:

•1. Menutupi seluruh aurat.
Dalam perkara aurat ini, para ulama berbeda dalam dua pendapat.

Pendapat pertama: menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, sebab itu ia diwajibkan memakai hijab yang bisa menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.

Pendapat kedua: menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat, sehingga menutup keduanya adalah sunah. Namun perlu diketahui, pendapat yang kedua ini tidak memutlakkan bolehnya menampakkan wajah dan telapak tangan begitu saja, sebab pendapat ini mensyaratkan bolehnya menampakkan keduanya kalau tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan menjadi objek pandangan kaum laki-laki.

•2. Pakaiannya longgar dan tidak ketat, juga tebal dan tidak tipis agar tidak menampakkan lekuk dan bentuk tubuh.
Rasulullah telah mengancam para wanita yang memakai pakaian tipis dan ketat dalam sabda beliau:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌمُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya; yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang [baik karena tipis atau pendek sehingga tidak menutup auratnya], berlenggak-lenggok [ketika berjalan agar diperhatikan orang], kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya bisa didapati dari jarak perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim].

•3. Warnanya tidak terlalu mencolok dan tidak memuat hiasan.
Karena hal yang demikian ini bisa menarik perhatian kaum laki-laki. Alangkah baiknya memilih warna yang gelap atau warna lain yang tidak terlalu mencolok.

•4. Tidak memakai wewangian yang menyengat ketika keluar rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَة
“Setiap wanita yang memakai wewangian lalu keluar melewati suatu kaum [laki-laki] agar mereka bisa mencium bau wanginya, maka ia laksana penzina.” [HR. Abu Dawud, hasan].

Jika kriteria hijab ini tidak terpenuhi, maka ia merupakan pakaian berlabel tabarruj jahiliah [berpakaian ala kaum jahiliah] dan hal ini telah dilarang oleh Allah Ta’ala:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya.” [QS. Al-Ahzab: 33].
Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslimah seharusnya menetap di dalam rumah dan tidak keluar kecuali untuk suatu hajat atau keperluan, sebab banyak keluar tanpa ada alasan tepat merupakan sikap wanita jahiliah sebagaimana halnya menampakkan aurat dan perhiasan di hadapan lawan jenis yang bukan mahram.

🍂 Syariat yang diturunkan Allah pasti memiliki suatu hikmah dan manfaat yang sangat besar, sebab Allah tidak mewajibkan suatu amalan kecuali amalan tersebut memiliki maslahat dan manfaat yang besar dan pasti. Demikian halnya dengan hijab ini. Di antara maslahat itu ialah:

•1. Menjaga aurat, harga diri, dan kemuliaan seorang wanita. Dengan hijab identitas dirinya sebagai muslimah sejati bisa terjaga, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan berjilbab pula wanita bisa menjauhi tempat-tempat maksiat, dan terhindar dari pelecehan seksual.

•2. Menyelamatkan seorang wanita dari azab neraka yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Siksa Allah amatlah pedih. Jangan sampai kita mengira bahwa tubuh kita akan kuat menahan siksaNya.

•3. Hijab merupakan ibadah yang mudah dan ringan, namun mendatangkan cinta dan ridha Allah Ta’ala. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatupun yang lebih Kucintai daripada apa yang Aku wajibkan.” [HR. Bukhari].

•4. Menyerupai sifat bidadari surga yang senantiasa menjaga dan menutup dirinya, serta tidak memandang atau menampakkan aurat dan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka. Dengan hijab seorang wanita bisa menjadi seorang ratu bidadari surga.

•5. Hijab salah satu tanda kesalehan dan menambah aura kecantikan baik secara lahir ataupun batin. Dengannya ia bisa berteman dengan wanita-wanita muslimah yang salehah. Bahkan bisa mendatangkan jodoh yang saleh pula. Dalam ayat al-Quran disebutkan:
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik [pula].” [QS. An-Nur: 26].

 

✏ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

🍀Grup WA Belajar Islam Intensif🍀

 

Gabung Grup BII
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +628113940090

👍Like FP Belajar Islam Intensif
👍Follow instagram belajar.islam.intensif
🌐 www.belajarislamintensif.com

🍀Belajar Islam Intensif🍀

Memandang Wajah Allah

Nikmatnya Memandang Wajah Allah

Nikmat Memandang Wajah Allah di Surga

Melihat Wajah Allah adalah nikmat yang paling nikmat untuk orang-orang yang ada dalam surga. Selain itu menempati surga adalah nikmat yang luar  biasa. Kenikmatannya tak bisa dibayangkan. Seindah apapun keindahan surga yang kita bayangkan tetap masih jauh dari keadaan yang sesungguhnya dari betapa nikmatnya kenikmatan surga. Dalam hadits qudsi Allah berfirman menggambarkan keadaan surga:

«أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، ……»

Artinya: “Aku telah siapkan bagi hamba-hambaku yang sholih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia, …”. (HR. Bukhari, Muslim).

Keindahan yang pernah kita lihat atau pernah kita dengar, atau juga pernah masuk dalam khayalan kita maka itu belum apa-apanya dibandingkan surga, seindah apapun keadaan yang kita bayangkan tersebut.

Kelezatan surga atau keindahannya yang akan dinikmati oleh penduduk surga tidak dapat ditandingi oleh kelezatan dan keindahan dunia ini. Seindah apapun dunianya seseorang atau sekaya apapun dia. Penduduk surga tidak akan merasa bosan dan letih  dalam menikmati lezatnya surga, sehingga itu mereka tidak membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga. Nabi Muhammad Shollallah ‘alaihi Wasallam bersabda:

عن جابر بن عبد الله سئل نبي الله فقيل : يا رسول الله ؛ أينام أهل الجنة ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : النوم أخو الموت ، وأهل الجنة لا ينامون. رواه الطبراني في الأوسط

Dari Jabir Bin Abdillah, Nabi ditanya, wahai Rasul Allah apakah penduduk surga tidur? Maka Rasul Allah menjawab:”Tidur itu saudaranya mati, dan penduduk surga tidaklah tidur.”(HR. Thabrani, dishohihkan oleh Imam Suyuthi dan al Albaani)

Bahkan mereka selalu dalam kesibukan, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ
فَاكِهُونَ
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)”. (QS. Yasin 55)
Imam Qurthubi menukil perkataan Ibnu ‘Abbas r.a, Ibnu Mas’ud r.a, Qotadah, mujahid rah., bahwa mereka disibukkan dengan memecahkan keperawanan istri-istri mereka. (Jami’u Liahkamil Quran Vol. 15 Hal. 43)

Kenikmatan surga yang tidak bisa dilukiskan dengan kata- kata tersebut ternyata masih kalah nikmatnya dengan melihat Wajah Allah, ternyata penduduk surga ketika melihat Wajah Allah seolah mereka tidak pernah merasakan lezatnya surga dengan segala kenikmatannya, kenikmatannya sirna setelah mereka melihat Wajah Allah, karena mereka merasakan sungguh nikmatnya melihat Wajah Allah. Mari simak hadits nabi berikut ini….

‏ﻋَﻦْ ﺻُﻬَﻴْﺐٍ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ” ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﺗُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺯِﻳﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺃَﻟَﻢْ ﺗُﺒَﻴِّﺾْ ﻭُﺟُﻮﻫَﻨَﺎ ﺃَﻟَﻢْ ﺗُﺪْﺧِﻠْﻨَﺎ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﺗُﻨَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻴَﻜْﺸِﻒُ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺏَ ﻓَﻤَﺎ ﺃُﻋْﻄُﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭﻫﻲ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠَﺎ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔَ ‏ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺃَﺣْﺴَﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰ ﻭَﺯِﻳَﺎﺩَﺓٌ ‏

Dari Shuhaib r.a dari Nabi Muhammad Shollallah ‘alaihi Wa Sallam bersabda:”Ketika penduduk surga telah memasuki surga (dan telah menikmati fasilitas surga), Allah Ta’ala berfirman: “Adakah sesuatu yang perlu aku tambahkan yang menjadi keinginan kalian?, maka mereka berkata, bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami, dan telah memasukan kami ke dalam surga, dan telah menyelamatkan kami dari neraka? Maka kemudian Allah menyingkab hijab, maka tidak ada sesuatu yang paling mereka sukai selain melihat Wajah Tuhan mereka, maka itulah tambahan (yang dimaksud dalam Ayat) beliau membaca  yang artinya: Bagi orang-orang yang berbuat baik surga dan ada tambahan (QS. Yunus 26) (HR. Muslim)

Berkata Ibnu Rajab Al Hanbali: ” Apa yang diperoleh penduduk surga, yaitu kejelasan llmu Allah, Nama-namaNya, Sifat-sifatNya dan PerbuatanNya, kedekatan dan menyaksikanNya serta kelezatan berdzikir padaNya adalah perkara yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata keadaan rupanya di dunia, karena penduduk surga tidak pernah mendapatinya di dunia, bahkan itu adalah hal yang tidak pernah terlihat di dunia, tidak pernah di dengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di alam pikir manusia (Tafsir Ibnu Rajab: Rawai’uttafsir, Hal. 63 Vol. 6)

Untuk mendekatkan pemahaman kita tentang bagaimana keadaan mereka penduduk surga tatkala melihat Wajah Allah dan keterpesonaan mereka, maka kita baca firman Allah yang menceritakan tentang para perempuan melihat ketampanan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam, Allah Ta’ala berfirman:

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺳَﻤِﻌَﺖْ ﺑِﻤَﻜْﺮِﻫِﻦَّ ﺃَﺭْﺳَﻠَﺖْ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻦَّ ﻭَﺃَﻋْﺘَﺪَﺕْ ﻟَﻬُﻦَّ ﻣُﺘَّﻜَﺄً ﻭَﺁﺗَﺖْ ﻛُﻞَّ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻣِﻨْﻬُﻦَّ ﺳِﻜِّﻴﻨًﺎ ﻭَﻗَﺎﻟَﺖِ ﺍﺧْﺮُﺝْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ۖ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺃَﻳْﻨَﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮْﻧَﻪُ ﻭَﻗَﻄَّﻌْﻦَ ﺃَﻳْﺪِﻳَﻬُﻦَّ ﻭَﻗُﻠْﻦَ ﺣَﺎﺵَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻫَٰﺬَﺍ ﺑَﺸَﺮًﺍ ﺇِﻥْ ﻫَٰﺬَﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻠَﻚٌ ﻛَﺮِﻳﻢٌ
artinya: “Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (QS. Yusuf 31).

Lihatlah para perempuan tersebut terpesona melihat ketampanan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam tanpa terasa mereka melukai tangan mereka sendiri,  dan Allah memiliki permisalan yang lebih tinggi.

Pendapat Ahlu Sunnah tentang melihat Allah

Pendapat yang paling rajih (kuat) bahwa orang-orang beriman diberi kesempatan untuk melihat Wajah Allah Ta’ala di akhirat kelak, yaitu bagi penduduk surga, dalam hadits Nabi Muhammad Shollallah ‘alaihi wa sallam:

ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﺃﻳﻀﺎ ‏( ﺥ / 6883 . ﻡ / 1002 ‏) ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺠﻠﻲ ﻗﺎﻝ : ﻛﻨﺎ ﺟﻠﻮﺳﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﻤﺮ ﻟﻴﻠﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ ﻓﻘﺎﻝ ﺇﻧﻜﻢ ﺳﺘﺮﻭﻥ ﺭﺑﻜﻢ ﻋﻴﺎﻧﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﺍ ﻻ ﺗﻀﺎﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺭﺅﻳﺘﻪ ”

Jarir Bin Abdillah Al Bajali berkata:” Kami duduk-duduk bersama Nabi Shollallah ‘Alaihi Wasallam maka kami tertuju melihat bulan purnama malam empat belas, maka beliau Shollallah ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:” Sungguh kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata telanjang sebagaimana kalian melihat bulan ini tanpa ada kesulitan dalam melihatnya”. (HR. Bukhari, Muslim)

Allah Ta’ala berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
:Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”.(QS. Al Qiyamah 22)

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
” Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”(QS. Al Qiyamah 23)

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan Ibnu Baththal:

وَقَالَ بن بَطَّالٍ ذَهَبَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَجُمْهُورُ الْأُمَّةِ إِلَى جَوَازِ رُؤْيَةِ اللَّهِ فِي الْآخِرَةِ
Berkata Ibnu Baththal:” Ahlussunnah dan jumhur ulama berpendapat bahwa  bolehnya Allah dilihat di akhirat”. (Fathul Bari, Vol. 13 Hal. 426)

Adapun di dunia, mustahil Allah dapat dilihat oleh mata, Allah Ta’ala berfirman:

ﻟَﺎ ﺗُﺪْﺭِﻛُﻪُ ﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳُﺪْﺭِﻙُ ﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭَ ۖ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻄِﻴﻒُ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺮُ

artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al An’am 103)

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menukil perkataan Sahabat, ahli tafsir Ibnu Abbas r.a kaitannya dengan ayat di atas, (hal tersebut) berlaku di dunia adapun di akhirat orang-orang beriman akan melihatNya (Tafsir Qurthubi Hal. 54 Vol. 7)

Dalam Shohih Muslim, Ummul Mukminin Aisyah r.a berkata:
ﻣﻦ ﺯﻋﻢ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍً ﺭﺃﻯ ﺭﺑﻪ ﻓﻘﺪ ﺃﻋﻈﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻔﺮﻳﺔ ‏
“Barang siapa mengaku bahwa Nabi Muhammad Shollallah alaihi Wasallam melihat Tuhannya maka sungguh dia telah mengadakan kebohongan besar.

Oleh Ust. Abdurrahman Ever S. Sy

Sumber : Wahdah.or.id

wudhu

Batalkah Wudhu Jika Menyentuh Wanita?

 

Para salaf ash-shalih (orang-orang shalih terdahulu) berbeda pendapat mengenai makna mulamasah (menyentuh) dalam firman Allah azza wajalla:

أو لامستم النساء

“Atau kalian menyentuh wanita”. (QS. An-Nisa: 43)

 

• Ali, Ibn Abbas dan al-Hasan radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa maknanya adalah hubungan suami istri. Ini merupakan mazhab Hanafiyah.

 

• Ibn Mas”ud, Ibn Umar dan asy-Sya’bi radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa maknanya adalah menyentuh dengan tangan. Ini merupakan mazhab Syafi’iyyah.

• Ibn Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Perkataan yang lebih dekat pada kebenaran dari dua perkataan tersebut adalah pendapat yang memahami bahwa makna firman Allah yang diperselisihkan itu adalah hubungan suami istri bukan makna-makna yang lain dari kata al-Lams (menyentuh). Sebab ada hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencium sebagian istri-istrinya kemudian beliau shalat tanpa mengulangi wudhu lagi.” Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menyentuh wanita, apakah ia membatalkan wudhu atau tidak.

 

• Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu, baik itu ketika menyentuhnya disertai syahwat ataupun tidak. Beliau berdalilkan dengan hadits dari ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciumi sebagian istri-istrinya kemudian beliau shalat tanpa mengulangi wudhunya. Beliau juga berdalilkan dengan hadits dari ‘Aisyah yang mencari Nabi shallallahu’alaihi wasallam tatkala Nabi sedang shalat lail. Ketika ‘Aisyah meraba-rabakan tangannya di atas tanah, ia mengenai kaki Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang sedang shalat.

 

Adapun ayat tersebut bagi beliau merupakan kinayah dari kata jima’ (hubungan suami istri).

 

• Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu, baik itu ketika menyentuhnya disertai syahwat ataupun tidak. Dalil beliau adalah keumuman ayat yang diperselisihkan maknanya tadi. Bagi beliau maknyanya bisa dipahami menyentuh dengan tangan atau melakukan jima’ sebagai makna kiyasan. Dan hukum asalnya adalah memahami teks secara hakikat kecuali jika teks ayat tidak bisa dipahami secara hakikatnya, maka untuk memahaminya dipahami secara majaz (makna kiasannya).

 

• Imam Malik berpendapat bahwa menyentuh wanita disertai syahwat membatalkan wudhu, sedangkan menyentuhnya tanpa disertai syahwat tidaklah membatalkan wudhu.

 

• Imam Ibn Rusyd dalam “Bidayatu al-Mujtahid”nya mengatakan bahwa: “Penyebab perbedaan pendapat diantara mereka adalah karena kata lams (menyentuh) dalam bahasa Arab mengandung makna yang berbeda. Kadang maknanya dipahami secara mutlak bahwa maksudnya adalah menyentuh dengan tangan, dan kadang memang dipahami sebagai makna kiasan dari jima’ (hubungan suami istri).

 

Tarjih (Sesuai pemahaman Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni)

Dari seluruh pendapat yang ada, maka pendapat yang rajih adalah pendapat yang tidak membatalkannya, ini pula yang dikuatkan oleh Ibn Rusyd al-Maliki rahimahmullahu jami’an.

Diringkas dari kitab Rawa’i al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah (1/457-459) Peringkas: Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/batalkah-wudhu-jika-menyentuh-wanita/ .

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

Sore ini, Kamis 22 Juni 2017 pkl 17.30 telah berlangsung Wahdah Jakarta Ifthor On The Road di depan gedung Buncit 36 Jalan Warung Buncit 36, Jaksel.

Dalam Hitungan Menit Nasi Sejumlah 70 box dan ratusan Ta’jil berupa snack, kurma dan Teh Gelas habis dibagikan kepada pengguna jalan.

Turut serta beberapa relawan dari lembaga yang ada di Gedung Buncit seperti Relawan Perkumpulan Dai dan Ulama Se Asia Tenggara, Basaer Publishing, Ummat TV, Security Buncit 36 dan LAZIS Wahdah yang mengkoordinir kegiatan bersama Departemen Sosial Wahdah Jakarta.

 

“Mengasyikkan”. Ujar salah seorang relawan.

Pengendara yang sedang kelelahan dan kecapaian banyak yang mengucapkan terima Kasih.

Hal ini tentu diharapkan sedikit memberi solusi rasa dahaga dan lapar, kepada para pengguna jalan yang memang sangat kesulitan mencari tempat utk sekedar berhenti di tengah jalan disebabkan terkadang mereka berburu dengan waktu.

Panitia mengucapkan terima Kasih kepada donatur, relawan dan semua pihak yang telah turut mendukung acara ini.

Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita semua. (Ihsj)

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

⁠⁠⁠

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Semarakkan Kawasan Halal Fair I MUI DKI Jakarta

Kawasan Halal Fair I MUI DKI Jakarta

Wahdah Jakarta bekerjasama dengan LAZIS Wahdah turut hadir menyemarakkan Kawasan Halal Fair I yang diselenggarakan MUI DKI Jakarta di Plaza Semanggi. Kegiatan yang berlangsung 10 hari ini dari tanggal 09-18 Juni 2017 berlangsung cukup meriah.

Acara ini disponsori oleh lembaga – lembaga nasional yang ternama. Lembaga – lembaga tersebut di antaranya BNI syariah, PAYTREN, BUKOPIN Syariah, INDOSAT, BAZIS, Wardah Cosmetic, Rabbani, LAZIS Wahdah, dan lainnya. Tidak ketinggalan berbagai komunitas yang sedang berkembang di Jakarta turut memeriahkan kegiatan ini seperti Komunitas Terang, Komunitas Digital Marketing Muslim, Masyarakat Tanpa Riba, Sinergi Pendaki Muslim, dan sebagainya.

Tujuan diadakan kegiatan ini adalah mensyiarkan dan mensosialisasikan produk halal yang sudah tersertifikasi halal MUI. Di samping sebagai upaya mendukung dan memajukan UKM asli Indonesia.

Wahdah Jakarta bekerjasama LAZIS Wahdah berusaha mensupport event yang diselenggarakan MUI DKI Jakarta ini dengan mengisi kajian menjelang buka bersama. Seyogyanya ada 4 hari yang dapat diisi oleh Wahdah Jakarta, tetapi qadarullah karena waktu persiapan yang pendek, hanya dapat dipenuhi 2 hari saja.

Perkenalan Rumah Quran DIROSA Jakarta

Selain mensupport acara dengan kajian jelang buka yang berupa Pelatihan Tajwid bersama Syaikh dari Timur Tengah dan Training Menerjemah Al Qur’an. Dalam acara itu Wahdah Jakarta bersama LAZIS Wahdah memperkenalkan Rumah Qur’an DIROSA Jakarta.

Layanan Rumah Qur’an DIROSA sendiri terdiri dari :

1) Belajar Al Qur’an dari Nol untuk orang dewasa
2) Pelatihan Tahsin/Tahfidz Al Qur’an
3) Training Menerjemah Al Qur’an
4) Pendidikan Calon Pengajar Al Qur’an

Banyak peserta yang hadir dan bertanya di Stand untuk mengikuti berbagai layanan yang ada pada Rumah Qur’an DIROSA Jakarta.

Alhamdulillah dalam kesempatan acara ini turut hadir di Stand bersama wahdah Jakarta dan LAZIS Wahdah beberapa tokoh MUI dan Kemenag memberikan support terhadap program-program yang diberikan.

Selain program pelatihan membaca Al Quran dengan metode Dirosa, Lazis Wahdah Jakarta juga memiliki program-program lain diantaranya donasi motor dakwah, kajian rutin, zakat manfaat, sedekah beras dan wakaf media.

Insya Allah kegiatan selanjutnya akan diselenggarakan kembali pada Bulan Oktober 2017. Semoga Allah memberikan kemudahan dan pertolongan. (Ihsj)

Puasalah Agar Kamu Bertakwa

Hubungan Antara Puasa dan Takwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah: 183)

Allah Ta’ala berfirman dengan mengarahkan pembicaraan kepada orang-orang beriman dan menyuruh mereka berpuasa (shiyam), yakni menahan diri (imsak) dari makan, minum, dan bercampur suami-istri disertai niat ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla, karena di dalam puasa tersebut terkandung pensucian jiwa serta membersihaknnya dari kotoran yang buruk dan akhlaq yang hina”. Demikian dikatakan Al-Imam Imadudin  Abul Fida Isma’il bin Umar bin Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini.

Awal  ayat ini, “Wahai orang beriman” merupakan seruan cinta yang sagat indah dari Allah. Ini adalah panggilan indah dari Tuhan semsta alam yang menciptakanmu, memberimu rezki, dan menjadikanmu dari tiada menjadi ada, serta menunjukimu dan memuliakanmu. Demikian dikatakan Syekh Prof. DR. Nashir bin Sulaiman al-Umar hafidzahullah dalam kitabnya Liyadabbaru Ayatihi (hlm.23). Seolah Allah hendak mengawali rangkaian ayat tentang puasa ini dengan seruan cinta pada para hamba-Nya yang mengimani dan mencintai-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman pada-Ku dan mencintai-Ku, Aku mewajibkan puasa kepada kalian”.

Sebab setelah seruan ini ada perintah yang tidak dapat dijalankan oleh semua hamba-Nya. Perintah yang akan diinstruksikan hanya sanggup dilaksanakan oleh mereka yang mengimani-Nya. Karena hanya orang beriman yang siap menjawab seruan dan perintah Allah. Karena tidak pantas bagi orang beriman memiliki pilihan dan sikap lain saat berhadapan dengan perintah Allah.

Oleh karena itu pula ayat-ayat yang diawali dengan Ya ayyuhalladzina amanu umumnya berisi perintah dan larangan. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

Jika kamu mendengar Allah berfirman, “Ya ayyuhalladzina amanu”, maka pusatkanlah pendengaranmu baik-baik, karena (setelahnya) adalah kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang (mengerjakannya)”. (Tafsir Ibnu Abi Hatim, 1037).

Dan tidak diragukan lagi bahwa perintah puasa merupakan kebaikan yang mengandung kemaslahatan bagi manusia dalam seluruh aspek dan dimensi, baik secara ruhiyah (spritual), jasadiyah (fisik) maupun  nafsiyah (psikis). Oleh  sebab itu Sykh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyebut pensyariatan pewajiban puasa sebagai karunia Allah. “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mewajibkan  puasa kepada mereka (orang beriman) sebagaimana telah Dia wajibkan kepada ummat-ummat sebelumnya, karena puasa termasuk syariat dan perintah yang mengandung maslahat bagi makhluk di setiap zaman”, tegas Syekh As-Sa’di”. (Taisir Karimir Rahman, 83).

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan tujuan puasa, yakni, ‘’la’allakum tattaqun”. Agar kalian bertakwa. “Jadi ternyata puasa merupakan  sarana (wasilah) sarana untuk suatu tujuan (ghayah)”, kata Syekh Nashir al-Umar hafidzahullah. “Sarananya meninggalkan makan dan minum serta meninggalkan setiap yang diharamkan Allah Jalla wa ‘alaa, dan tujuannya adalah takwa”, lanjutnya.

Lalu apa hubungan timbal balik antara puasa dan takwa? “Karena puasa merupakan sebab paling utama mencapai takwa, sebab di dalam puasa tercakup menunaikan perintah dan meninggalkan larangan”, jelas Syekh As-Sa’di. Bahkan hampir semua aspek dan unsuryang masuk dalam makna takwa terdapat dalam puasa.

Misalnya, orang berpuasa meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah kepadanya berupa makanan, minuman, bercampur suami-istri, dan meninggalkan hal lain yang digandrungi oleh jiwa dngan niat taqarrub kepada Allah dan berharap pahala. Ini adalah takwa, karena pengertian takwa sebagaimana didfinisikan oleh Tabi’in yang mulia Thalq bin Habib rahimahullah adalah,

Engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan (panduan) cahaya (petunjuk) Allah karena mengharap pahala[Nya] Allah, dan engkau meninggalkan apa yang dilarang Allah berdasarkan cahaya Allah karena takut kepada adzab Allah”.

Orang yang berpuasa juga melatih  dirinya dalam menumbuhkan sikap murabaqabtullah (merasa diawasi oleh Allah). Sehingga  ia meninggalkan apa-apa yang diinginkan oleh nafsunya pada saat ia mampu melakukannya, karena ia tahu bahwa ia dilihat dan diawasi oleh Allah. Ini juga merupakan jalan meraih dan memperkuat takwa.

Orang yang puasa juga mempersempit ruang gerak setan yang mengalir dalam diri manusia melalui aliran darah. Dengan puasa setan  melemah sehingga orang yang berpuasa sedikit dosanya dan banyak ketaatan yang  dilakukannya. Hal ini juga merupakan bagian dari takwa. Ketika  merasakan sakitnya rasa lapar saat puasa maka muncul sikap empati, cinta, kasih sayang kepada sesama. Ini juga merupakan bagian dari realisasi makna takwa.

Antara Iman, Puasa dan Takwa

Dalam ayat ini perintah berpuasa ditujukan kepada orang beriman. Tujuan dan hikmahnya adalah takwa. Lalu adakah benang merah yang menghubungkan ketiga hal ini (iman, puasa dan takwa)? Iman adalah sesuatu yang terpatri kuat dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan.

Demikian pula dengan takwa. “Takwa itu di sini”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menunjuk ke dadanya. Jadi, iman dan takwa bersemayam di hati lalu mengejawantah dalam amal perbuatan. Artinya hakikat iman dan takwa adalah rahasia seorang hamba dengan Allah. Ini sama halnya dengan puasa yang juga merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi,

“Setiap amalan anak Adam untuknya, kecuali puasa, dan Akulah yang membalasnya”.

Inilah korelasi kuat antara iman, puasa, dan takwa. Ketiganya merupakan perkara rahasia yang hanya diketahui Allah. Semakin intens seorang hamba melakukan amalan-amalan rahasia seperti puasa maka semakin meningkat kwalitas iman dan takwanya.

Semoga puasa yang kita jalankan memperkuat iman dan takwa kita kepada-Nya. [sym]

Memupuk Iman Menggapai Hidayah

Hidayah

إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ ﴿٩﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Qs. Yunus:9).

Ini adalah pengabaran tentang keadaan orang-orang yang bahagia, (yakni) orang-orang beriman dan membenarkan para Rasul serta menunaikan perintah yang diberikan kepda mereka berupa amal shaleh, bahwa Allah akan menunjuki mereka disebabkan oleh iman mereka tersebut. Demikian dikatakan oleh Imam Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir dalam Kitabnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adziem (2/ 1364).

Itulah janji Allah kepada orang-orang beriman yang benar imannya. Iman yang benar adalah bukan sekadar pengakuan. Karena “semua orang dapat membuka mulut dan bersorak-sorak mengatakan beriman, mendakwakan diri percaya kepada Allah sebab mulut itu mudah berkata,” terang Syekh Abdulkarim bin Abdul Malik Amrullah.

Tetapi di dalam ayat ini ditegaskan lagi, bahwa pengakuan percaya saja belumlah cukup. Iman adalah kepercayaan di dalam hati, dan dia belum berarti sebelum dibuktikan dengan amal shalih, lanjut Ulama yang populer dengan nama Buya Hamka ini.

Artinya iman itu dipraktekan dengan perbuatan, atau mengambil initiatif untuk melancarkan perjalanan hidup dengan iman. Maka apabila Allah telah melihat kegiatan hamba-Nya itu dengan iman dan amal shalih, Dia sendiri akan memimpin, memberi petunjuk dengan iman yang ada padanya itu, sehingga dia selamat menempuh Ash-Shirathal Mustaqim itu atau Sabilillah itu, urainya lagi.

Jadi makna yahdihim Rabbuhum bi Imanihim menurut Buya Hamka adalah Allah akan membimbing atau memimpin orang beriman yang mempraktikkan imannya dengan amal Shalih. Pendapat Buya Hamka ini merujuk kepada perkataan Imam Mujahid yang dikutip oleh Ibnu Katsir (2/1364) bahwa Makna yahdihim Rabbuhum bi Imanihim adalah mereka diberi cahaya yang kemudian mereka berjalan dengan (penerangan) cahaya tersebut.

Cahaya yang dimaksud sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa ayat diantaranya Surat Al-Hadid ayat 28:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿الحديد: ٢٨﴾

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hadid:28).

Melalui ayat di atas Allah menjajikan cahaya sebagai suluh dalam menjalani kehidupan dunia ini kepada orang beriman. Maksud “dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat bejalan” adalah Dia (Allah) memberimu ilmu, petunjuk, dan cahaya yang dengannya kamu berjalan di tengah gelapnya kejahilan. (Tafsir As Sa’di, hlm.994). Dengan syarat iman tersebut mengejawantah dalam takwa. Takwa di sini bermakna menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah.

Itu balasan di dunia. Orang beriman yang membuktikan imannya dengan takwa dan amal shaleh akan selalu dibimbing oleh Allah untuk meraih ridha-Nya. Karunia berupa bimbingan ini diuraikan secara panjang oleh Buya Hamka dalam Tafsirnya. Beliau mengatakan, “Maka orang yang beriman dan bermal shalih tidaklah pernah lepas dari bimbingan Tuhan, dari Tauhid, dan Hidayah-Nya. Betapapun besarnya kesukaran yang ditempuhnya, namun di dalam kesukaran itu akan bertemu kemudahan. Dia tidak pernah kehilangan cahaya, sebab cahaya ada dalam hatinya sendiri. Dia tidak pernah merasa sepi, sebab Tuhan lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.

Buya memandang bahwa diantara pelajaran yang hendaknya dipetik dari ayat ini adalah pentingnya perjuangan menegakkan iman. Perjuangan menegakkan iman yang paling pertama adalah memupuk dan membuktikan iman tersebut dengan amal shalih sebagai prasyarat mendapat cahaya bimbingan Allah. Beliau kemudian melanjutkan, “Ayat ini menjelasakn benar kepada kita, bahwa kalau tunas iman telah mulai terasa tumbuh dalam diri kita, janganlah kita pasif, atau kita diamkan saja.

Lekas buktikan, lekas pupuk. Seabab dengan demikian kita telah mendapat modal besar untuk menempuh hidup. Kalau iman sudah terasa walau baru sedikit, pupuklah ia dengan amal dan ibadat. Sebab amal dan ibadat itu akan menambah suburnya.” (Tafsir Al-azhar,11/158).

Adapaun balasan di akhirat Allah akan menerangi mereka dalam melintasi shirath pada hari kiamat kelak (Al-Mukhtashar fit Tafsir, hlm.541). Keberhasilan melintasi shirath tersebut pada akhirnya menghantarkan mereka masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Sebagaimana diisyaratkan oleh ujung ayat, “di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (ujung ayat 9) .

Namun patut dicatat bahwa nikmat surga sebagai balasan iman hanya akan didapatkan oleh mereka yang mendapat bimbingan berupa hidayah sewaktu di dunia. Dengan kata lain nikmat hidayah di dunia sebagai buah dari amal shaleh merupakan pengantar atas balasan di akhirat kelak. Inilah yang diisyaratkan oleh Buya Hamka dalam perkataannya, “Dan oleh sebab itu pula teranglah bahwa jalan ke syurga itu telah dimulai dari sekarang juga.

Gembira dalam syurga kelak memetik hasil apa yang telah ditanam di dalam dunia, dan gembira sebab di dunia telah terasa bahwa Tuhan selalu ada di dekatnya, dan di akhirat kelak akan bertemu langsung dengan wajah-Nya.” (Tafsir Al-Azhar,11/158-159).

Kesimpulan
Ayat ini mengabarkan tentang jaminan Allah terhadap orang-orang beriman dan beramal shaleh. Bahwa Allah akan memberikan balasan besar di dunia dan di akhirat. Disebabkan oleh Iman yang mereka miliki maka di dunia Allah akan menunjuki dan membimbing mereka untuk melakukan amal shaleh yang mendatangkan ridha Allah. Sedangkan di akhirat Allah akan memasukan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan dan kekal di dalamnya. [sym].

relawan wahdah

Wahdah Islamiyah Jakarta Rekrut Relawan Wahdah Peduli

(Jakarta)- DPW Wahdah Islamiyah Jakarta bekerjasama dengan LAZIS Wahdah membuka program kerelawanan yang dinamakan Satuan Relawan Wahdah Peduli (SARWP). Para relawan yang tergabung dalam program ini akan melewati proses training dan dibekali dengan berbagai keahlian agar dapat hidup lebih produktif, mandiri dan berdedikasi. Diantara skill tersebut adalah; therapi pengobatan nabawi, kegawatdaruratan bencana, jurnalistik, dan event organizer. Pimpinan LAZIS Wahdah wilayah Jakarta Wahyudi berharap program ini dapat memberikan beberapa solusi atas permaslahan keumatan, khususnya terkait kemandirian dan kepedulian terhadap umat. Program ini bersifat gratis dan untuk tahap awal hanya menerima peserta pria sebanyak 20 orang. Pendaftaran akan ditutup 15 Mei 2017 atau jika sudah memenuhi kuota. Bagi yang ingin mendaftar dapat menghubungi kontak : 0823 15900 900 / 0852 9938 0971 / 0823 4627 4587.[yy]

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/wi-jakarta-rekrut-relawan-wahdah-peduli/ .

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

[Klik gambar untuk melihat lebih detail]

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

AQD (Akademi Al Quran dan Dakwah) adalah pusat pembibitan calon-calon pelayan dan pendakwah al Qur’an yang berada di Cibinong Bogor. Seluruh biaya untuk sarana, makan, kitab dan asrama bersifat gratis. Sehingga Mahasantri diharapkan, dapat belajar fokus, berprestasi tanpa sibuk dengan urusan pembiayaan. Mahassantri Akademi Al Quran dan Dakwah ini dididik dan dilatih menjadi Da’i Pengajar Al Quran yang berakhlaq Qur’ani dan Mandiri. Program ini dikelola oleh DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah dan Lazis Wahdah.

Mahasantri AQD (Akademi Al Qur’an dan Dakwah) yang proses belajarnya rencana selama 2 tahun ini, disamping mendapatkan Ilmu-ilmu al Qur’an dan pengajaran dakwah, juga berbagai skill kemandirian seperti : kesehatan nabawi, marketing medsos, kerelawanan, dsb.

Pendaftaran dimulai dari 22 Februari – 22 Maret 2017 dan diumukan calon mahasantri yang lolos berkas pada tanggal 23 Maret 2017. Selanjutnya diadakan seleksi tertulis tanggal 25 Maret 2017 dan diumukan calon mahasantri yang diterima tanggal 29 Maret 2017.

Persyaratan :

  1. Pendidikan minimal SMA/MA/SMK
  2. Usia 17 – 30 tahun
  3. Belum menikah dan bersedia untuk tetap melanjutkan pendidikan jika menikah
  4. Lancar membaca Al Quran
  5. Tidak merokok
  6. Mengisi formulir pendaftaran
  7. Membayar uang pendaftaran sebesar 500.000
  8. Melampirkan berkas pendaftaran
    1. Biodata
    2. Fotokopi Ijazah terakhir
    3. Fotokopi KTP
    4. SKCK
    5. Surat keterangan berbadan sehat
    6. Pas foto 2×3 dan 3×4 masing-masing sebanyak 4 lembar
    7. Surat izin orang tua
    8. Rekomendasi dari lembaga Islam atau tokoh Islam
  9. Jika diterima, menandatangani surat perjanjian bersedia mengembalikan biaya jika mengundurkan diri tanpa udzur syar’i

Informasi lebih lanjut hubungi Ustadz Agusman, S.Si (0852 1336 8996)

Bagi anda yang ingin berdonasi turut serta memfasilitasi para pelayan dan pembela al Qur’an (insya Allah), dapat menyalurkan bantuannya kembali melalui : BSM 497 900900 an LAZIS Wahdah Sedekah.

Catatan :
1) Demi kedisiplinan pencatatan, harap menambah nominal Rp 306,-. Contoh Rp 2.000.306,-
2) Konfirmasi transfer ke nomer (WA/SMS) : 082315900900