Mulia dengan Al-Qur’an (Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan)

Mulia dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab suci lagi mulia. Diturunkan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia termulia melalui Malaikat paling mulia serta di tempat paling mulia dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala menerangkan dalam beberapa ayatNya tentang keagungan dan kemuliaan Alquran, diantaranya surah Al-Waqi’ah ayat 77-80;

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (76) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79) Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. (80) (Qs. Al-Waqi’ah:75-80)

Kemuliaan Al-Quran dan berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Qur’an adalah firman Allah yang Maha mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia melalui perantaraan Malaikat paling mulia, pada malam kemuliaan di bulan paling mulia dan di bumi paling mulia pula.

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemulian waktu dan tempat diturunkannya serta kemuliaan Nabi pembawa Al-Qur’an dan ummatnya yang mengemban Al-Qur’an. Selanjutnya dalam tulisan ini akan diuraikan kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemuliaan Malaikat yang membawanya kepada Nabi dan kemuliaan orang-orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Selamat membaca.

6. Al-Qur’an Dibawa Oleh Malaikat Termulia

Malaikat yang menjadi pembawa wahyu Al Qur’an adalah Malaikat Jibril yang merupakan sebaik-baik malaikat dan terpercaya. Sbagaimana dijlaskan dalam surat At-Takwir ayat 19;

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)’’. (Qs. At-Takwir:19).

Allah juga memuji malaikat Jibril yang menurunkan al-Qur’an kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menyifatinya sebagai Malaikat terpercaya untuk menurunkan wahyu Ilahi. Sebagaimana dalam beberapa ayat diantaranya;

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواوَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“.Qs. An-Nahl:102)

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٩٢﴾ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ﴿١٩٣﴾ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ﴿١٩٤

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,(Qs. Asy-Syu’ara:192-194).

7. Al-Qur’an Pada Generasi Terbaik

Sebaik-baik generasi adalah generasi yang padanya Al Qur’an turun (Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).

Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُالنَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَيَلُونَهُمْ

Sebaik-baik generasi adalah generasi di zamanku, kemudian yang setelahnya, dan kemudian yang setelahnya.” (HR. Muslim).

8. Manusia Terbaik adalah yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”. (HR. Al Bukhari).

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (43) وَإِنَّهُ لَذِكْرٌلَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ.

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az-Zukhruf : 43-44).

Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

  إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَاالْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

 Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Qur’an, dan merendahkan yang lainnya juga dengan Al Qur’an. (HR. Muslim).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;

أن جماع أمراض القلب هي أمراض الشبهات والشهوات والقرآن شفاءللنوعين

 “Unsur penyakit hati terkumpul pada dua hal, yaitu syubhat dan syahwat, dan keduanya diobati dengan Al Qur’an.” (Ighatsatul Lahafan, Juz.1/44).

Sebagaimana diterangkan dalam Surat Yunus ayat  57 dan Surat Al Isra’ayat 82;

يَاأَيُّهَاالنَّاسُ قَدْجَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِوَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Qs. Yunus:57).

Penjelasan singkat ayat di atas dapat dibaca pada Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَاهُوَشِفَاءٌ وَرَحْمَةٌلِّلْ مُؤْمِنِينَ ۙ وَلَايَزِيدُالظَّالِمِينَ إِلَّاخَسَارًا ﴿٨٢

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian’’. (Qs. Al-Isra:82).

Anda Juga Ingin MULIA ?

Bagi yang menghendaki kemuliaan hendaknya mengambil bagian dari Al-Qur’an, yakni dengan mempelajari dan atau mengajarkannya. Jadikan belajar dan mengajar Alquran sebagai agenda hidup sepanjang hayat. Luangkan waktu mninimal satu dua jam sepekan untuk ngaji qur’an. Tingkatkan kemampuan membaca Alquran! dan teruslah bertumbuh secara ilmiah dan ruhiah bersama Alquran. [sym]

Training Al-Qur’an; Pemuda dan Kebangkitan Islam

Training Al-Qur'an

Training Al-Qur’an; Pemuda dan Kebangkitan Islam

Training Alquran
Pemuda dan kebangkitan Islam

Menghadirkan Materi dan Pemateri

  • Bahagia Dunia Akhirat BersamaMu
    • Oleh: Al Ustadz Imron Bukhari,.Lc,.MA. (Alumnus Universitas Islam Madinah
  • Pemuda dan Al-Qur’an
    • Oleh: Al Ustadz Fakhrizal Idris,.Lc,.MA. (Alumnus Universitas Islam Madinah)
  • Akibat Meninggalkan Al-Qur’an
    • Oleh:Al Ustadz Hermawan Sumarlin,.Lc. (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Jakarta Timur)

Hari, Tanggal : Ahad, 28 Januari 2018

Waktu               : 08.30 s/d 13.00 WIB

Tempat         :  Masjid Jami Al-Hidayah, Jl. Bambu Asri Raya No.9, RT.2/RW.9, Pd. Bambu, Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13430 https://goo.gl/maps/2Ewiq21mQo22

Fasilitas :
– Snack
– Makan Siang
– Buletin Al Balagh

Informasi dan Pendaftaran :  Ketik, REGNamaLengkapNomer WA
Kirim ke No. Hp. 085322757765 (call/wa/sms)

Event by :  Dep.Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Jakarta Timur

🚩 Supported by :
– Takmir Masjid Jami’ Al-Hidayah
– Kelompok Kajian Islam Yusuf

🔴 TERTARIK?, Segera daftar ya. Ingat-ingat! :

  • Pendaftaran Maksimal sampai dengan 27 Januari 2018 pkl 15.00 WIB.

#YuukBantuSebar
#RaihPahala

Asmaul Husna [5] Al-Quddus (Yang Maha Suci)

Asmaul Husna [5]: Al-Quddus (Yang Maha Suci). Gambar: Tadabburdaily.com.

Al-Quddus artinya Allah subhanahu wa ta’ala suci dari segala sesuatu yang bersifat kurang dan cacat. Sebaliknya, Al-Quddus adalah sebuah nama yang mengandung segala sifat kesempurnaan, yang terpuji dengan segala kebaikan dan keutamaan.

Nama ini berasal dari bahasa Arab. Al-Qudsu, yang berarti kesucian. Oleh karena itu, Masjidil Aqsha dinamakan Al-Baitul Muqaddas yang berarti masjid yang dibersihkan dari segala macam dosa.

Malaikat Jibril Alaihis Salam juga dinamakan Ruhul Qudus, karena beliau sangat suci dan bersih dari kesalahan, terutama saat menyampaikan wahyu kepada para Rasul .

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.” (Qs. Al-Hasyr:23)

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al-Jumu’ah: 1)

Setiap sujud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

سبوح قدوس ربّ الملائكة والروح

“Maha Suci Allah, Rabb para malaikat dan ruh.”

Yang dimaksud dengan ‘Subbuhun’ dan ‘Quddusun’ dalam doa tersebut adalah Dzat yang dibersihkan dan disucikan.

Dengan mengetahui dan merenungkan nama Allah subhanahu wa ta’ala yang satu ini, hendaknya kita selalu menyucikan diri kita dari segala keburukan, selalu menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan baik, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang membuat kita terhina. [sym].
(Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah, hlm. 18-19.

MIUMI: Dibutuhkan Kaderisasi Ulama Untuk Menghadapi Tantangan Pemikiran

MIUMI: Dibutuhkan Kaderisasi Ulama Untuk Menghadapi Tantangan Pemikiran

Gus Hamid pada Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren, di PP Darul Muttaqin Parung, Bogor, Sabtu (20/101/2018)

“Seperti perang fisik, perang pemikiran juga memerlukan persiapan tersendiri secara terprogram, serius dan terus menerus”. Persiapan yang beliau maksud adalah kaderisasi kepemimpinan intelektual melalui kaderisasi ulama. “Untuk kaderisasi kepemimpinan intelektual diperlukan program kaderisasi ulama”.

Bogor (wahdahjakarta.com)- Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat, KH. DR. Hamid Fahmy Zarkasy menyatakan bahwa untuk menghadapi tantangan ummat berupa Ghazwul Fikri (perang pemikiran) dibutuhkan kaderisasi kepemimpian inteleketual melalui kaderisasi ulama. Hal itu disampaikan Gus Hamid saat menjadi pembicara pada Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Parung Bogor, Sabtu (20/01) lalu.

“Seperti perang fisik, perang pemikiran juga memerlukan persiapan tersendiri secara terprogram, serius dan terus menerus”, ujarnya. Persiapan yang beliau maksud adalah kaderisasi kepemimpinan intelektual melalui kaderisasi ulama. “Untuk kaderisasi kepemimpinan intelektual diperlukan program kaderisasi ulama”, imbuhnya.

Menurut Wakil Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo ini, kaderisasi ulama menjadi makin dibutuhkan kerena kini, khususnya di Indonesia ulama berhadapan dengan probelematika ummat dan tantangan dakwah yang kompleks. “Di Indonesia, misalnya para ulama berhadapan dengan tentangan dakwah yang berupa gerakan kristenisasi, gerakan aliran kepercayaan dan kebatinan, gelombang budaya Barat yang berupa hedonisme, materialisme, kapitalisme, dan sebagainya yang menjauhkan ummat dari Agama”, jelasnya.

Kyai Hamid juga menambahkan bahwa selain tantangan lain yang dihadapi ummat saat ini adalah gerakan westernisasi dalam bidang pemikiran berupa penyebaran konsep dan metologi Barat dalam kajian keislaman. “Juga masuknya konsep-konsep, pendekatan, metedelogi dan filsafat liberlisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme, nihilisme dan lain sebagainya yang umumnya datang dari Barat”, ungkapnya.

Oleh karena itu dibutuhkan kaderisasi ulama yang memiliki kualifikasi kepemimpinan intelektual untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Sebab hal ini merupakan tanggung jawab dan tugas ulama sebagai pewarisdan pelanjut risalah kenabian. “Ulama adalah pewaris Nabi, dan karena itu mereka dituntut untuk memainkan peran para Nabi, yaitu menyampaikan ilmu, memperbaiki keimanan dan akhlaq masyarakat, sekaligus memberi pemecahan bagi persoalan-persoalan yang dihadapai ummat”, terangnya.

Menurut Pendiri Institute for the Studyof Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta ini ada tiga hal yang perlu menjadi fokus utama dalam proses kaderisasi ulama. Yaitu; pertama, Pendalaman ulang ilmu-ilmu Islam yang fundamental dalam rangka menjawab tantangan pemikiran, kedua, Mengenal dan mendalami metodelogi, ideologi, dan konsep-konsep kunci peradaban Barat yang telah merasuk dalam pemikiran ummat Islam, dan ketiga, mendalami teknik dan metode ghazwul fikri dalam bentuk training-training jurnalistik, leadership, multi media, dan sebagainya.

Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren ini digelar Badan Koordinasi Pondak Pesantren Indonesia (BKsPPI) Pusat. Pelatihan dibuka oleh Ketua BKsPPI Pusat, KH. Didin Hafidhuddin. Para peserta merupakan pimpinan pesantren dari berbagai daerah di tanah air seperti Riau, Makassar, Kuningan, Garut, Bogor, Ciamis, dan sebagainya. [sym].

Mulia dengan Al-Qur’an (2)

Mulia dengan Al-Qur’an

Mulia dengan Al-Qur’an

Alquran merupakan kitab suci lagi mulia. Diturunkan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia termulia melalui Malaikat paling mulia serta di tempat paling mulia dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala menerangkan dalam beberapa ayatNya tentang keagungan dan kemuliaan Alquran, diantaranya surah Al-Waqi’ah ayat 75-77;

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ﴿٧٥﴾ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ﴿٧٦﴾ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (76) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79) Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. (80) (Qs. Al-Waqi’ah:75-80)

Melalui ayat-ayat di atas Allah mengabarkan bahwa Alquran adalah kitab suci dan mulia yang diturunkan dari Rasbb[ul] ‘alamin, Tuhan semesta alam. Dalam ayat ini juga Allah menyifati Alquran sebagai al-karim; bacaan yang mulia. Menurut Ibnu Jauzi bahwa,” al-karim adalah kata (maknanya) menyeluruh untuk segala sesuatu yang terpuji. Alquran disebut dengan sifat al-karim karena mengandung penjelasan, petunjuk, dan hikmah. Alquran diagungkan disisi Allah”. (Zadul Masir,VIII/151).

Dalam ayat lain kemuliaan Alquran juga diungkapkan dengan kata al-majid. Sebagaimana dalam suratQaf ayat 1, dan Al-Buruj ayat 21-22;

Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia”. (Qs. Qaf:1).
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, (21) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”. (Qs. Al-Buruj:21-22).

Kemuliaan Alquran dan berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Qur’an adalah firman Allah yang Maha mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia melalui perantaraan Malaikat paling mulia, pada malam kemuliaan di bulan paling mulia dan di bumi paling mulia pula.

Pada tulisan sebelumnya telah diterangkan tentang kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemulian tempat dan waktu diturunkan. Pada tulisan ini akan dilanjutkan dengan uaraian kemuliaan Al-Qur’an dari kemuliaan manusia yang menerimanya dan ummat yang mengembannya. Selamat membaca.

4. Al-Qur’an Diturunkan Kepada Manusia dan Nabi Termulia

Al-Qur’anul karim diturunkan kepada manusia paling mulia, yaitu Nabi Muhamma shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah Sayyid waladi Adam; Pemimpin anak cucu Adam, penghulu para Nabi dan Rasul (sayyiddul Anbiya war Rusul), serta Rasul Ulul Azmi. Kemuliaan Rasulullah secara nasab diterangkan dalam banyak hadits, diantaranya“Dari Watsilah bin Asyqo’ Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

(إناللهاصطفىكنانةمنولدإسماعيل،واصطفىقريشامنكنانة،واصطفىمنقريشبنيهاشم،واصطفانيمنبنيهاشم )

Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keturunan Bani Hasyim’” (HR Muslim).

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan,

وهوخيرأهلالأرضنسباعلىالإطلاق …فأشرفالقومقومهوأشرفالقبائلقبيله

Dan beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah penduduk bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak, maka semulia-mulia kaum adalah kaum beliau, semulia-mulia kabilah adalah kabilah beliau”.

5. Diturunkan Untuk Ummat Terbaik

Alquran diturunkan untuk ummat terbaik yang dilahirkan untuk ummat manusia, yakni ummat Islam. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini;

كُنتُمْ خَيْرَأُمَّةٍأُخْرِجَتْلِلنَّاسِتَأْمُرُونَبِالْمَعْرُوفِوَتَنْهَوْنَعَنِالْمُنكَرِوَتُؤْمِنُونَبِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah’’.(Qs. Ali Imran:110).

Dalam ayat lain Allah mengabarkan bahwa Alquran merupakan kitab hidayah bagi orang-orang termulia, yakni orang-orang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 2;

ذَٰلِكَ الْكِتَابُلَارَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًىلِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah:2).

Alquran merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sementara dalam ayat lain secara tegas Allah menyatakan bahwa, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (terj. Qs. Al-Hujurat:13).

[sym]

Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Al-Malik (maha merajai) artinya Allah subhanahu wa ta’ala  berkuasa atas segala suatu, baik dalam hal memerintah ataupun melarang. Selain itu, Al-malik juga bermakna yang memiliki segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan kepada sesuatupun, tapi baliknya, segala sesuatu membutuhkan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dia-lah allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang maha Suci, Yang Maha Sejahtera.”  (Al-Hasyr: 23).

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۖ لَاإِلَٰهَ إِلَّاهُوَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenermya; tidak ada tuhan (yang Berhak disembah) selain Dia. Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia.” (Al-Mukminun: 116).

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّمَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّمَ نْتَشَاءُۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُۖإِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau hendaki. Di tangan Engkau Maha Kuasa atas segala kebaikan Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran: 26)

Dan Rasulullah saw. Bersabda “Di hari kiamat kelak Allah swt. Akan mencengkram bumi, kemudian melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Saat itu Dia berkata “Akulah Raja, di manakah orang-orang yang mengaku dirinya raja?”

Setelah mengetahui makna nama Allah subhanahu wata’ala  Al-Malik ini;

  • Tidak selayaknya kita merendahkan diri kita di depan salah satu makhluk-Nya,
  • Kita juga seharusnya meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan Allah swt. Lebih terjaga daripada apa yang ada di tangan kita, karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memiliki segala sesuatu,
  • Hendaknya kita merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala Dan tidak merasa butuk kepada yang lain,
  • Hendaknya kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan kita sejatinya adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala, kapan saja dan dengan cara bagaimanapun Dia bisa mengambilnya kembali. Dari satu kita tidak perlu merasa khawatir, tapi hendaknya berdoa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.,

سبحان ذي الجبروت والملكوت والكبرياء والعظمة

Mahasuci Allah swt. Yang memiliki kekuasaan, kerajaan, keangkuhan, dan keagungan.”

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah, hlm. 15-17

Ustadz Zaitun: Persatuan Ummat Demi Kemaslahatan Semua Komponen Bangsa

Ustadz Zaitun: Persatuan Ummat Demi Kemaslahatan Semua Komponen Bangsa

Manokwari – (wahdahjakarta.com) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat menggelar tabligh akbar bertajuk “Sinergitas Ulama, Umara, dan Ummat”. Bertempat di Masjid Ridwanul Bahri komplek Angkatan Laut Manokwari, Ahad (21/01/2018).

Ketua MUI Provinsi Papua Barat KH Achmad Nusrau dalam sambutannya mengajak agar seluruh umat Islam terlibat aktif dalam amar ma’ruf nahi munkar. Menurut beliau, amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya tanggung jawab ustadz, tapi seluruh kaum muslimin. Termasuk para umara (pemegang kekuasaan) yang bisa mengubah kemungkaran dengan “tangan”. Beliau menambahkan, amar ma’ruf nahi munkar merupakan faktor yang bisa menjadikan umat Islam sebagai “khairu ummah” (umat terbaik).

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pemateri utama menyampaikan bahwa persatuan umat Islam adalah kebaikan untuk semua komponen bangsa. Termasuk umat non muslim. “Dan ini sudah terbukti”, ucapnya. “Ketika Ummat Islam bersatu kita (bangsa Indonesia) merdeka”, imbuhnya.

Wasekjen MUI Pusat ini menyatakan bahwa persatuan lebih umum dari persaudaraan. Umat dituntut untuk mempererat persaudaraan sesama muslim, sembari memperkokoh persatuan dengan sesama komponen bangsa.

Untuk memperkuat ukhuwah (persaudaraan), beliau menyebutkan beberapa resep sesuai tuntunan dalam Islam. Pertama, “As Salam” yang artinya menebarkan salam. Kedua, Al Ibtisam atau senyuman. Ketiga, “Al Kalam” atau komunikasi. Dan yang keempat adalah “Tahaadu” atau saling memberi hadiah.

Kuatnya persatuan dan persaudaraan akan membuahkan sinergitas. Termasuk sinergitas dalam hal dakwah, antar lembaga dakwah. Berikutnya adalah sinergitas bersama umara’ (pemegang kekuasaan).

Sinergitas inilah yang menurut beliau, akan mewujudkan masyarakat dan bangsa yang “baldatun thayyibah”, negeri yang penuh kebaikan dan keberkahan. [ibw]

BKsPPI Pelopori Persatuan Ummat Melalui Pesantren

DR.Ahmad Sastra (Berdiri) Ka.Panitia Pelatihan Nasional BKsPPI

BKsPPI Pelopori Persatuan Ummat Melalui Pesantren

Bogor (wahdahjakarta.com) – Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) menggelar ‘Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren’ di Pondok Pesantren Darul Muttaqien, Parung Bogor.
Acara yang digelar selama tiga hari sejak Jumat hingga Ahad, 19-21 Januari 2018 itu dihadiri puluhan peserta dari perwakilan ponpes di berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya Sumatera Selatan, Makassar, Medan, Bogor,Ciamis, Garut, dan lainnya.

“Ini adalah pelatihan perdana yang digelar BKsPPI Pusat, karena itu peserta kita batasi hanya 50 orang saja,” ujar Ketua Panitia Ustaz Ahmad Sastra pada pembukaan acara tersebut, Jumat malam (19/1).

Menurutnya, acara tersebut digelar selain untuk pelatihan kepemimpinan dan manajemen juga sebagai upaya memperkuat silaturahim antar pesantren. “Kita akan bertukar pengalaman antar pesantren, kita juga memperkuat ukhuwah yang saat ini mulai dilupakan”, ungkap Sastra.

Mantan Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Intisyar Univeristas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini menambahkan tujuan dari pelatihan ini adalah mempelopori upaya persatuan ummat melalui pondok pesantren. “Kita punya potensi banyak tapi masih bercerai berai, karena itulah BKsPPI mempelopori upaya penyatuan umat melalui pesantren ini,” ujarnya.

Acara pelatihan tersebut dibuka oleh Ketua Umum BKsPPI Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSi. Ia didampingi Pimpinan Ponpes Darul Muttaqien KH Madroja Sukarta, pengurus BKsPPI KH Muhammad Abbas Aula dan lainnya. [ed:sym]

Manfaat Belajar Sirah Nabawiyah

Manfaat Belajar Sirah Nabawiyah

1. Mengetahui asbab Nuzul kebanyakan ayat dan asbab wurud hadits Nabi, dimana hal ini dapat membantu memahami makna ayat dan hadits serta menyimpulkan hukum dari keduanya.

2. Bekal bagi para du’at dan pejuang Islam. Dengan belajar sirah mereka akan memiliki tekad dan motivasi yang kuat,karena mereka memiliki teladan dan pendahulu yang telah mempersembahkan juhud (pengorbanan) yang besar berupa tetesan darah untuk menjayakan Islam. Dengan belajar sirah pula para da’i makin tahu betapa mahalnya hidayah pada Agama ini dan betapa mulianya orang-orang berdawah dan berjihad memperjuangkannya.

3.Sirah nabawiyah sendiri merupakan salah satu mu’jizat dan tanda kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibn Hazm rahimahullah berkata, “Bagi yang mengkaji dengan seksama Sirah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung ini akan membenarkan dan mempersaksikan bahwa beliau adalah benar-benar Rasul Allah. Andaikan beliau tidak memiliki mu’jizat selain sirahnya, maka sudah cukup. (Al-Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/190).

4. Mengetahui jalan ideal menjayakan Islam seperti yang ditempuh oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau diutus pada saat manusia berada dalam kondisi kehidupan yang paling buruk. Bahkan lebih buruk dibanding kondisi ummat-ummat para Nabi selain beliau. Dengan belajar sirah kita mengetahui bgaimana beliau memulai da’wah, bgaimana berpindah dari satu marhalah (fase) ke marhalah berikutnya. Hingga Allah sempurnakan Dien ini, dan Allah sempurnakan nikmat-Nya kepada kaum Muslimin.

5. Mengenali faktor-faktor yang menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum layak dan pantas memimpin ummat manusia. Dengan belajar sirah kita dapat mengetahui pula bagaimana mereka ditarbiyah (dibina dan dikader) oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap mereka, menumbuhkan semangat mengikuti metode mereka,dan menapaktilasi jalan mereka.

6. Belajar sirah dapat menumbuhkan dan meningkatkan kecintaan kepada Nabi dan para sahabat. Karena seolah-olah mereka hadir di tengah-tengah kita, dan kita berada di tengah-tengah mereka. Kita bahagia dengan kebahagiaan bersama bahagia mereka, menangis bersama tangisan mereka, dan bahagia atas kemenangan mereka. Karena tidak dapat dipungkiri, kebersamaan yang lama suka dan duka termasuk faktor penguat ikatan cinta dan persaudaraan. Inilah berkahnya belajar sirah nabawiyah yang mulia. Ia termasuk salah satu simpul iman. Dimana tidak akan sempurna iman seorang hamba dia mencintai Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cintanya pada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.

7. Belajar Sirah Nabawiyah merupakan kenikmatan ruhiyah dan gizi bagi hati yang suci.

8. Belajar sirah membantu setiap Muslim untuk mengetahui kebanyakan hukum-hukum fiqh, nilai-nilai pendidikan (durus tarbawiyah), siyasah syar’iyyah, dan sebagainya. Seorang pemimpin sangat butuh belajar dari sirah tentang bagaimana Nabi memimpin. Demikian pula dengan seorang prajurit,dari sirah dapat belajar menjadi prajurit yang benar. Apa lagi para da’i dan murabbi.Mereka sangat butuh belajar dari sirah bagaimana da’wah dan tarbiyah dijalankan.

9. Mengenali kemuliaan (syaraf) nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bagaimana beliau dijaga oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dari gangguan manusia. Bagaimana Malaikat turun berperang bersama beliau pada perang Badar, Ahzab (Khandaq), dan Hunain? Serta bagaimana Malaikat Jibril dan Mikail turun melindungi tubuh beliau yang mulia pada perang uhud?

10. Mengetahui sebab kemenangan dan kekalahan. Diantara sebab kemenangan adalah tsiqah kepada Allah, bertawakkal, dan merendahkan diri pada-Nya, serta menjalani sebab yang menghantarkan kepada kemenangan. namun tidak menggantungkan diri pada sebab dan selalu mengimani bahwa pertolongan dan kemenangan datang dari Allah Ta’ala. Adapun sebab kekalahan (hazimah) diantaranya seperti yang terjadi pada perang uhud, yakni kecenderungan terhadap dunia, dan seperti yang terjadi pada perang Hunain yakni terpedaya dengan jumlah yang banyak.

11. Sebagai panduan hidup bagi pribadi dan masyarakat Muslim, dan panduan serta sumber yang murni dalam memahami syariat Islam. Sirah Nabawiyah juga merupakan gambaran benar tentang konsep hidup yang pernah disaksikan penduduk bumi. Karena ia merupakan sejarah Rasul Allah yang paling mulia sekaligus pemimpin seluruh ummat manusia. [sym]

(Sumber: Waqafat Tarbawiyah ma’as Sirah an Nabawiyah, karya Syekh Ahmad Farid, hlm. 13-15)

BKsPPI: Pondok Pesantren Tidak Boleh Diintervensi Siapapun

Ketua BKsPPI Pusat KH. Didin Hafidhuddin saat membuka Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren, Parung, Bogor (19/01/2017)

BKsPPI: Pondok Pesantren Tidak Boleh Diintervensi Siapapun

“Pondok pesantren adalah aset kita semua yang tidak boleh dilupakan dan tidak boleh diintervensi oleh siapapaun”,

(Bogor)-wahdahjakarta.com- Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Pusat Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin mengatakan bahwa Pondok Pesantren (Ponpes) tidak boleh diintervensi oleh siapapun. Hal ini dikatakan Kyai Didin saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Pelatihan Nasional Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren yang digelar di Ponpes Darul Muttaqin Parung Bogor Jawa Barat, Jum’at (19/01/2018).

“Pondok pesantren adalah aset kita semua yang tidak boleh dilupakan dan tidak boleh diintervensi oleh siapapaun”, ucapnya di hadapan para pimpinan pesantren. “Karena fungsi pesantren adalah sebagai lembaga iqamatuddin, siapapun boleh terlibat tapi untuk tujuan iqamatuddin”, imbuhnya. “Pesantren harus tetap menjadi lembaga iqamatuddin yang melahirkan murabbi dan mu’allim”, tegasnya.

Menyinggung tahun politik 2018 ini Pimpinan Pesantren Mahasiswa Ulil Albab Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini berharap pesantren tidak ditunggangi untuk kepentingan politik lalu ditinggalkan. “Tahun 2018 ini tahun politik, kita tidak ingin pesantren terlibat kemudian hancur”, ujarnya.

Kegiatan ini digelar dalam rangka menyatukan hati, pikiran, langkah dan gerak para pimpinan pesantren guna menguatkan eksistensi dan peran pesantren di masyarakat. “Pelatihan ini kita gelar untuk menyatukan hati, pikiran dan langkah serta sharing, tukar pengalaman dan menguatkan pondok masing-masing”, ucap Kyai Didin.

Dekan Fakultas Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldung (UIKA) Bogor ini menambahkan, pelatihan ini juga digelar dalam kerangka menguatkan dan mempertahankan budaya pondok pesantren. “Turats dan budaya pondok pesantren yang sudah beradab-berabad lamanya harus dipertahankan dan dikembangkan”, jelasnya.

Budaya ponpes yang dimaksud adalah budaya adab. Menurutnya budaya adab yang menjadi ciri khas pesantren harus terus dijaga dan dikembangkan metode pengajarannya. “Tradisi pesantren adalah tradisi adab, ini harus dipertahankan, metodenya bisa berkembang tapi materi atau maddah-nya tetap”, terangnya.

Yang selanjutnya adalah budaya berjamaaah, dalam ibadah dan muamalah. “Kekuatan kita dalam keberjamaahan dalam seluruh aspek, dalam ibadah maupun mumalah”, terangnya. Dalam mumalah misalnya pesantren mengembangkan prinsip ekonomi jama’ah bukan kapitalistik individualistik. “Kita melatih anak-anak kita membangun keberjamaahan dalam muamalah”, tegas Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor ini.

Yang ketiga adalah budaya ilmu. “Di manampun kita berada ada pesantren di situ budaya ilmu dikembangkan”, ungkapnya. Keempat, kemandirian. “Kemandirian inilah yang mengundang keberkahan an bisa membuat bertahan dalam situasi apapun”, katanya. Menurutnya melalui pelatihan ini pula kemandirian bersama pesantren yang akan dibangun BKsPPI”, pungkasnya. [sym].