Relawan Transmitter Suara

Relawan Transmitter Suara dari Panggung Utama 212

Relawan Transmitter Suara dari Panggung Utama 212

Gawean besar Reuni 212 di Monas ini perlu jasa tim relawan khusus yg berpengalaman mengurus tata suara sound system.
Hal ini dibutuhkan agar seluruh rangkaian acara dan pesan-pesan dari para ulama di panggung dapat diterima dg jelas dan baik oleh seluruh massa yang membludak dari segala penjuru.

Adalah Yusuf 44 tahun seorang pedagang alat-alat listrik yg tinggal di jl Kenari menjadi salah satu Tim Relawan Sound Reunian 212.

Menurut ayah dari 2 orang anak ini, pkerjaan sound ini menggunakan tenaga genset berbahan bakar bensin yg butuh 4 liter untuk durasi 3-4jam. Ada 16 titik sound yg kekuatannya mampu menjangkau 6 km dari panggung utama.

Tim relawan ini menggunakn 8 mobil pick up transmitter yg disebar di titik terjauh dan sisanya menggunakan scaffolding di sekitar area yg lbh dekat dengan panggung. Sumber dana diperoleh dari masyarakat perorangan bukan dari lembaga.

Harapan Yusuf terlibat menjadi relawan agar masyarakat yang antusias hadir namun tidak mampu menjangkau panggung utama tetap dapat mengikuti acara dg baik dan dapat mendengarkan pesan dan tausiyah dari para ulama. Sehingga semangat persatuan dan kebangkitan umat terus bergelora dan membekas di hati mereka.

Semoga jerih payah Pa Yusuf dan Tim menjadi ladang amal jariah di akhirat, sehingga gelora 212 terus menyala. Mari bahu membahu berkontribusi untuk umat dengan apa yg kita bisa.(RR).

HRS: Kuatkan Tekad, Jangan Terpecah Belah

HRS: Kuatkan Tekad, Jangan Terpecah Belah

Jakarta – Habib Rizieq Syihab (HRS) Imam Besar FPI memberikan sambutan dari kota Mekkah, Saudi Arabia pada acara Reuni Akbar 212. Acara yang dihelat di Monas pada hari Sabtu, 2/12/2017.

Habib Rizieq berpesan agar umat Islam tetap memegang kuat ajaran Islam. “Kuatkan niat, bulatkan tekad, untuk berpegang teguh dengan agama Allah dan tidak berpecah belah,” pesannya.

Selanjutnya Habib Rizieq membacakan beberapa ayat Al Qur’an:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
Artinya: “Orang-orang yang beriman, mereka berperang fi sabilillah. Dan orang-orang kafir mereka berperang di jalan Thaghut, maka perangilah wali-wali syaithan, sesungguhnya tipu daya syaithan itu lemah.” (Surat An-Nisa’ 76)

“Dalam ayat ini”, lanjutnya, “Allah menyampaikan informasi yang sangat berharga, bahwa tipu daya bala tentara syaithan itu lemah dan teramat rapuh.”
Habib Rizieq melanjutkan, sebesar apapun, sekaya apapun, sehebat apaun senjata mereka, tetap saja itu semua adalah rapuh.

Imam Besar FPI yang saat ini masih bermukim di Saudi Arabia ini juga berpesan bahwa Islam adalah agama yang paling mulia. Maka dari itu, umat Islam tidak perlu merasa lemah.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya: “Janganlah kalian bersikap lemah dan janganlah bersedih hati, dan kalian adalah umat yang paling mulia jika kalian beriman” (Surat Ali Imran: 139)

“Aksi Bela Islam bukan sekedar pembelaan dari penistan Al Qur’an, tapi juga hingga Al Qur’an tegak di negeri ini. Ayat suci harus berada di atas ayat konstitusi,” pungkasnya. [ibw]

UBN Mengisi Reuni Akbar 212

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

Jakarta (wahdahjakarta.com) – Ketua GNPF Ulama Ustadz Bachtiar Natsir (UBN) memberikan tausiyah pada acara Reuni Akbar 212, konsolidasi akbar yang didukung berbagai komponen umat Islam. Reuni dilaksanakan di Monas, Jakarta pada hari Sabtu (2/12/2017).

Ketua GNPF Ulama yang kerap disapa UBN ini menyimpulkan penyebab perpecahan yang selama ini terjadi, berakar pada 2 hal, yaitu : jauhnya umat dari Al Qur’an dan adanya pengelompokan-pengelompokan terhadap umat Islam.

Untuk kasus yang pertama, beliau menyindir masih banyak yang tidak sholat subuh berjama’ah dan mendahulukan membaca Whatsapp dibanding Al Qur’an.

Yang kedua adalah masih adanya gesekan dalan internal umat Islam dikarenakan beberapa perbedaan, seperti organisasi, madzhab, dll.

“Demi Allah, tidak pernah ada di hati saya bahwa NU, Anshor dan Banser melarang saya ceramah. Yang ada adalah karena saya yang jarang silaturahim kepada mereka,” tegasnya.

Berikutnya beliau mengajak agar umat Islam tidak membuka kembali luka sejarah. “Pernah ada luka sejarah di masa lalu. Masyumi pernah kecewa dengan NU, dan NU kecewa dengan Masyumi. Itu adalah ijtihad para pendahulu kita,” kata beliau.

“Kini kita umat Islam perlu membuat ijtihad baru, yaitu bersatunya semua kekuatan Islam baik yang tradisional maupun modernis di Indonesia. Hilangkan syak wasangka, lupakan luka sejarah. Kita menatap masa depan Islam yang baru di Indonesia”, lanjutnya.

Persatuan perlu terus diupayakan karena ada pihak-pihak yang ingin agar umat terus berseteru.

“Mereka, musuh agama dan negara, tidak peduli kamu ini bajunya putih atau hijau, tidak perduli kamu NU atau Muhammadiyah, mereka tidak peduli bangsa negara ini hancur. Yang mereka mau adalah kita umat berpecah belah, bawa lari kekayaan Indonesia yg luar biasa ini,” pungkasnya. [ibw]

Reuni 212

Reuni 212 Berdayakan Ekonomi Ummat

Reuni 212 Berdayakan Ekonomi Ummat

Jakarta – Diadakannya perhelatan Reuni 212 merupakan perwujudan kesyukuran atas nikmat berakhirnya rezim penghina Alqur’an. Gerakan 212 merupakan respon terhadap keangkuhan salah satu penguasa di Jakarta kala itu, yang menghina Alqur’an sedemikian rupa, sehingga Ummat meresponnya dengan gegap gempita.

Reunian kali ini, peserta yang hadir diperkirakan 1Jutaan orang. Kedatangan para peserta dari berbagai daerah membawa berkah tersendiri bagi para pedagang di sekitar Istiklal dan Monas, bahkan banyak pedagang yang sengaja hadir dari luar kota.

Diantara para penjual yang hadir terdiri dari kuliner, busana muslim, cendera mata 212, sampai pendaftaran koperasi 212. Jika setiap orang membelanjakan rupiahnya senilai Rp 20.000,- maka sebanyak 20 M perputaran uang di lokasi dalam sehari, belum termasuk ongkos transport, dsb. Suatu angka yang cukup fantastik, dan menjadi modal bagi hadirnya perekonomian “berdaya” khususnya bagi UKM. (ayd).

KH Cholil Ridwan: Hijrah Adalah Titik Tolak Kekuatan Umat

KH Cholil Ridwan, Hijrah Adalah Titik Tolak Kekuatan Umat

KH Cholil Ridwan, Hijrah Adalah Titik Tolak Kekuatan Umat

KH Cholil Ridwan: Hijrah Adalah Titik Tolak Kekuatan Umat

Jakarta – KH Cholil Ridwan, salah satu sesepuh ulama Betawi hadir di Reuni Akbar 212. Berbagai komponen umat Islam menggelar Reuni Akbar ini di Monas, Jakarta pada hari Sabtu (2/12/2017).

Kiyai Cholil menyatakan bahwa kondisi umat Islam tergantung kepada usahanya sendiri dalam memperbaiki diri.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (Surat Ar-Ra’d: 11)

Lebih lanjut beliau melokalisir bahwa Allah juga tidak akan merubah keadaan Indonesia jika bukan umat Islam sendiri yang bertekad mengubanhya.

Kiyai Cholil menjelaskan bahwa dulu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengubah keadaan umat Islam, beliau memulainya dengan hijrah. Hijrah adalah titik awal terjadinya perubahan.

Begitu juga di zaman ini, beliau mengajak umat Islam untuk kembali berhijrah. Bukan hijrah fidik tapi hihrah maknawi.

Hijrah yang beliau maksudkan adalah beralih dari belanja di toko-toko kapitalis menuju toko-toko kaum muslimin. Hijrah dari sekolah non muslim ke sekolah Islam dan pesantren. Hijrah politik dari partai politik pendukung Perppu Ormas. Hijrah dari memilih pemimpin non muslim kepada pemimpin yang diusung oleh partai-partai pendukung penista agama. [ibw]

PimpinanDPR Ikut Semangati Reuni Akbar

Pimpinan DPR Ikut Semangati Reuni Akbar

Pimpinan DPR Ikut Semangati Reuni Akbar

Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan Fahri Hamzah turut menghadiri Reuni Akbar 212 bersama para Habaib, Kiyai, Ustadz, dan tokoh-tokoh nasional lainnya yang dihelat di Monas, Sabtu (2/12/2017).

Fadli Zon menegaskan bahwa kegiatan reuni akbar ini adalah kegiatan konstitusional dan dijamin oleh undang-undang.

Politisi dari Partai Gerindra ini menyatakan bahwa tindakan melarang pengajian adalah tindakan ahistoris atau tidak faham sejarah. “Kalau ada yang melarang pengajian berarti tidak mengerti sejarah”, ungkapnya.

Hal ini karena umat Islam telah memiliki saham yang besar dalam perjuangan bangsa Indonesia. Di antaranya adalah apa yang diperjuangkan oleh M. Natsir pada tahun 1950.

Dari mosi integral yang diperjuangkan oleh M. Natsir itulah lahirnya NKRI setelah sebelumnya dipecah belah dalam bentuk negara serikat bernama RIS (Republik Indonesia Serikat).

Hal senada juga sempat disinggung juga oleh Fahri Hamzah. Apa yang diperjuangkan M. Natsir adalah salah satu sumbangsih umat Islam untuk keutuhan NKRI. [ibw]

KH Didin Hafidhuddin: Kekuatan Umat Ada Pada Keberjamaahan

KH Didin Hafidhuddin

KH Didin Hafidhuddin

KH Didin Hafidhuddin: Kekuatan Umat Ada Pada Keberjamaahan

Jakarta (wahdahjakarta.com)- Mantan Ketua BAZNAS KH Didin Hafidhuddin hadir dalam Reuni Akbar 212 di Monas, Sabtu (2/12/2017). Beliau memberikan taujih (arahan) di hadapan lautan peserta reuni.

Kiyai Didin menyatakan bahwa kenikmatan reuni ini hanya bisa dirasakan mereka yang memiliki iman. “Mereka yang mencemoohkan Reuni 212 tidak akan merasakan keindahan nikmat ini. Ini hanya bisa dirasakan orang beriman”, ungkapnya.

Dekan Pasca Sarjana Universias Ibn Khaldun (UIKA)/Bogor ini mengajak para peserta untuk mensyukuri dan merawat persatuan ini. Beliau berharap persatuan ini akan melahirkan pemimpin yang baru untuk umat dan bangsa.

“Tidak ada yang mengalahkan kesatuan hati. In syaa Allah akan hadir gubernur yang suka berjamaah di tahun 2018,” tandasnya.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menyampaikan juga bahwa kekuatan umat ada pada keberjamaahan.

“Kalau umat sudah sholat subuh berjamaah, akan berjamaah dalam ekonomi, dll. Bukan ekonomi kapitalistik, kuatkan sistem ekonomi syariah. Beli hanya dari orang-orang muslim. Saya yakin akan lahir dari alumni 212 kekuatan-kekuatan yang mampu memperbaiki NKRI,” pungkasnya. [ibw]

Anies Baswedan, Saudara Kecewakan Kaum Pesimis

Anies Baswedan: Saudara Telah Mengecewakan Kaum Pesimis

Anies Baswedan: Saudara Telah Mengecewakan Kaum Pesimis

Jakarta (wahdahjakarta.com)- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hadir memberikan sambutan dalam acara Reuni Akbar 212 di Monas, Sabtu (2/12/2017).

Anies menyebut areal yang di kenal dengan Lapangan Merdeka ini adalah simbol perjuangan rakyat Indonesia, anak-anak yang dididik untuk jadi pejuang. Lapangan ini menjadi menjadi simbol dari ratusan ribu pejuang kemerdekaan yang menghibahkan nyawanya untuk tegaknya republik Indonesia.

Dalam sambutannya Anies menegaskan kembali dibukanya Monas untuk kegiatan keagamaan. “Alhamdulillah Monas kembali dibuka.
Bukan hanya untuk upacara, tapi juga untuk kegiatan keagamaan, pendidikan, kebudayaan, dll,” ujarnya.

Selanjutnya dia menyebut bahwa ini Aksi Damai 212 tahun lalu adalah bentuk optimisme dan menyebut pihak-pihak yang tidak setuju sebagai kaum pesimis. Anies berharap kedamaian dan ketertiban itu bisa diulangi hari ini.

“Tahun lalu saudara-saudara telah mengecewakan kaum pesimis. Mereka pesimis, berkumpulnya massa akan memunculkan kericuhan. Buktinya saudara hadir dengan kedamaian dan kenyamanan. Silahkan ulangi lagi hari ini,” imbuhnya.

Mantan Menteri Pendidikan ini juga menyampaikan pesan persatuan. “Persatuan itu diperjuangkan, tidak datang dengan otomatis. Perlu diikhtiarkan. Kebinekaan adalah pemberian yang tidak bisa ditolak namun persatuan harus diperjuangkan,” pesannya.

Anies menyampaikan bahwa Reuni Akbar 212 adalah pesan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia bisa berkumpul dalam jumlah yang sangat besar, namun tetap damai. [ibw]

 

Meneguhkan Nikmat Persatuan


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali Imran:103).

Berpegang Teguhlah Pada Tali Allah
Setelah menyuruh orang beriman untuk bertakwa kepadaNya dengan sungguh-sungguh dan melarang mereka mati kecuali mati di atas Islam, Allah menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan tali Allah. Apa itu tali Allah. Menurut para Mufassir, makna tali Allah dalam ayat di atas adalah Islam, al-Qur’an, dan As-Sunnah.
Imam Abul Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad Dimasyqi menyebutkan dua makna habl (tali) Allah dalam ayat di atas, yakni ‘ahd (janji) Allah dan Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai tali Allah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, “Kitabullah (al-Qur’an) merupakan tali Allah yang teruntai dari langit ke bumi”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Azdim, 1/533).

Buya Hamka menambahkan As-Sunnah sebagai bagian dari makna tali Allah. “Apa yang disebut sebagai tali Allah sudah terang pada ayat di atas tadi, ialah ayat Tuhan yang dibacakan kepadamu, tegasnya Qur’an. Berjalin-berkelindan dengan Rasul yang ada diantara kamu. Yaitu sunnahnya dan contoh bimbingannya”, jelasnya pada juz 4 hlm. 37 Tafsir Al-Azhar.
Jadi, jelaslah bahwa maksud perintah ‘’Berpegang teguhlah dengan tali Allah” adalah berpegang teguhlah kepada wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berpegang Teguhlah Kepada Tali Allah= Bersatulah
Perintah untuk beri’tisham (berpegang teguh) kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam ayat di atas juga mengandung perintah untuk bersatupadu. Sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka rahimahullah. “Di sini ditegaskan, bahwa berpegang pada tali Allah itu kamu sekalian artinya bersatu padu. Karena kalau pegangan semuanya sudah satu, maka dirimu yang terpecah belah itu sendirinyapun menjadi satu”. “Lalu dikuatkan lagi dengan lanjutan ayat, “Dan janganlah kamu bercerai berai”.

Hal ini sekaligus menunjukan bahwa persatuan sejati hanya tegak di atas komitmen terhadap tali Allah, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebaliknya mengabaikan al-Qur’an dan As Sunnah akan menghantarkan kepada perpecahan, perselisihan, dan percerai beraian. Oleh karena itu pula, Allah menyuruh merujuk dan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ketika terjadi perbedaan. Sehingga dengan demikian, perbedaan yang terjadi tidak sampai menjerumuskan kepada perpecahan.

Akan tetapi tak dapat dinafikan, kadar komitmen masing-masing bertingkat-tingkat. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah, dalam surah Fathir [35] ayat 32, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (terj. Qs. Fathir:32). Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa para pewaris Kitabullah bertingkat-tingkat berdasar kadar dan tingkat komitmen mereka. Ada yang (1) dzalim linafsih, (2) muqtashid, dan (3) sabiqun bil khairat. Ketiganya diakui sebagai pewaris kitab yang memiliki hak ukhuwah dan persaudaraan.

Jangan Berceraiberai
Wa la tafarraqu (jangan bercerai berai)”, maksudnya “Allah menyuruh mereka untuk berjama’ah dan melarang mereka berpecah”, demikian dikatakan Imam Ibn Katsir. “Di sini tampak pentingnya jama’ah”, kata Buya Hamka. Karena, “Berpegang pada tali Allah sendiri-sendiri tidaklah ada faedahnya, kalau tidak ada persatuan antara satu dengan yang lain. Di sinilah kepentingan kesatuan komando, kesatuan pimpinan. Pimpinan tertinggi ialah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lanjut Buya. (Juzu’ IV, hlm. 37).

Jama’ah dan ijtima’ penting dan dibutuhkan dalam meneguhkan komitmen terhadap tali Allah yang dimaksud dalam perintah di atas. Karena perkumpulan (baca:persatuan) kaum Muslimin di atas (dasar) Agama mereka dan persatuan hati-hati mereka dapat memperbaiki urusan Agama dan dunia mereka. Dengan persatuan mereka dapat melakukan banyak hal dan meraih maslahat yang hanya dapat diraih melalui persatuan dan tidak dapat diraih bila mengabaikannya, seperti saling ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa. Sebaliknya, perpecahan dan permusuhan dapat merusak nidzam (keteraturan), memutuskan ikatan hubungan satu sama lain diantara mereka. Sehingga masing-masing bekerja menurut kesenangan dirinya meskipun menimbulkan mudharat secara umum.

Oleh karena itu persatuan dan kebersamaan merupakan suatu sikap terpuji yang diridhai Allah. Sebaliknya perselisihan, peceraiberaian, dan perselihian dimurkaiNya. Sebagaimana diterangkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallanu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai pada kalian tiga perkara dan memurkai tiga perkara; Dia meridhai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seseuatu apapun, kalian semua berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah, serta (meridhai kalian) bernasehat kepada orang yang diserahi urusan kalian oleh Allah (pemimpin). . . “. (terj. HR. Muslim)

Persatuan Itu Nikmat, Perselisihan Itu Laknat
Nikmat Persatuan dan kesatuan hati sesama Muslim merupakan nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Bila terus dipupuk dan dibina akan mendatangkan rahmat dan keberkadan dari Allah. Sebaliknya, perselisihan, perpecahan, perceraiberaian dan semacamnya adalah bala dan bencana. Bila dibiarkab terus menerus akan menyebabkan datangnya laknat Allah. Akan menghalangi turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Taatilah Allah dan RasulNya, serta janganlah berbantah-bantahan yanng menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian”. (terj. Qs. Al-Anfal:46).

Oleh karena pada pertengahan ayat, setelah menyuruh untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang bercerai berai, Allah mengingatkan nikmat persatuan yang dikaruniakanNya. “Dan ingatlah olehmu nikmat Allah atas kamu; ketika kamu sedang bermusuh-musuhan telah dijinakan-Nya antara hati kamu masing-masing.” Ini adalah kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara Aus dan Khazraj terlibat perang dan dendam kesumat.

Namun setelah kedatangan Nabi mereka dipersaudarakan oleh ikatan Iman dan Islam. Mereka masuk Islam sehingga mereka menjadi saudara yang daling mencintai di bawah naungan keagungan Allah, terikat dan terhubung satu sama lain karena Allah, serta saling saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. (Lih. Tafsir Ibn Katsir, 1/534).
Itulah satu nikmat paling besar”, kata Buya Hamka. “Sebab perpecahan, permusuhan, dan berbenci-bencian adalah sengketa dan kutuk yang sangat menghabiskan tenaga-jiwa”, lanjutnya. Oleh karena itu Allah mengingatkan, “Sehingga dengan nikmat Allah kamu menjadi bersaudara.” Apakah nikmat yang paling besar daripada persaudaraan sesudah permusuhan? Itulah nikmat yang lebih besar dari pada emas dan perak. Sebab, nikmat persaudaraan adalah nikmat dalam jiwa. Bahkan andaikan kita menafkahkan seluruh kekayakan yang ada di bumi demi menyatukan hati-hati manusia, takkan bisa ta npa rahmat karunia Allah (Lihat. Qs. Al-Anfal ayat 63).

Bagai di Tepi Neraka
Saking buruknya dampak perpecahan dan perceraiberaian Allah gambarkan bahwa percecahan yang terjadi sebelum datanganya nikmat persatuan dari Allah seolah berada di tepi lobang neraka. “Padahal kamu dahulu telah di pinggir lobang nerak”. “Sebelumnya berada di tepi jurang neraka disebabkan oleh kekafiran mereka, lalu Allah selamatkan mereka dengan memberihidayah Iman“. (Tafsir Ibn Katsir, 1/534).

Sementara Buya Hamka memaknai neraka dalam ayat tersebut dengan, ”neraka perpecahan, neraka kutuk-mengutuk, benci-membenci, sampai berperang bunuh-membunuh”. “Namun kamu telah diselamatkanNya dari dalamnya.” Dibangkitkan Allah kamu dari dalam neraka jiwa itu, ditariknya tangan kamu, sehingga tidak jadi jatuh, yaitu kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya Tuhan (Allah) berfirman di ujung ayat, “Demikianlah Allah menyatakan kepada kamu tanda-tanda-Nya supaya kamu mendapat petunjuk.” (ujung ayat 103).
Maka semua anjuran yang tersebut di atas itu disebutkan sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) atau kesaksian tentang kekuasaan Allah. Tentang peraturan dan sunnah Allah (natuurwet) di alam ini. Bahwasanya persatuan dari manusia yang sepaham bisa menimbulkan kekuatan yang besar”.

Kesimpulan
Oleh karena itu upaya membina persatuan dan persaudaraan hendaknya dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh membina iman serta meningkatkan komitmen berpegang teguh terhadap Dinul Islam dengan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun adanya kekurangan pada kadar komitmen saudara sesama Muslim terhdap al-Qur’an dan As Sunnah tidak sepantasnya menjadi alasan untuk tidak mengupayakan persatuan dan persaudaraan di kalangan kaum Muslimin. Upaya membina persatuan harus berkait kelindan dengan kerja keras membina ummat untuk belajar serta mengamalkan al-Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini berlaku kaidah, ma la yudraku kulluhu la yutra ku kulluhu, sesuatu yang tidak dapat dicapai seluruhnya maka tidak ditinggalkan seluruhnya. Wallahu a’lam. [sym]

Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an

 

Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an . Sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٥٨﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (Qs. Yunus;57-58).

Ketika kaum Muslimin berhasil membuka negeri Iraq pada masa pemerintahan Amirul Mu’minin radhiyallahu ‘anhu, mereka memperoleh berbagai ghanimah (rampasan perang). Ketika kharaj Iraq diserahkan kepada Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah, beliau keluar bersama budaknya untuk menerima Kharaj tersebut. Beliau mulai menghitung Onta hasil rampasan perang yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ini ternyata jumlahnya sangat banyak, sembari menghitung beliu terus menggumamkan puji dan syukur pada Allah. “Alhamdulillah Lillahi Ta’ala”, ucapnya. Menyambut sikap ini beudak beliau mengatakan, “Ini adalah fadhl (karunia) Allah dan rahmat-Nya”. “kamu berdusta”, sambut Umar. “Bukan ini”, lanjutnya. Karunia dan rahmat Allah yang sesungguhnya adalah yang dikatakan oleh Allah, “katakan………” (membaca surah Yunus ayat 58).
***
Fragmen di atas dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-Adzim ketika menjelaskan tafsir ayat 57-58 surat Yunus yang dibahas dalam tulisan ini. Melalui penggalan kisah ini pula Amirul Mu’minin mengajari kita bagaimana menempatkan perbandingan antara kekayaan materi dengan karunia Allah berupa nimat Al-Qur’an pada posisi yang adil. Bahwa nikmat al-Qur’an lebih baik dari berbagai sisi dibanding seluruh perbendaharaan dunia dengan segala pernak-perniknya yang fana dan akan hilang.

Oleh sebab itu Allah menyuruh Nabi-Nya untuk bergembira dengan karunia al-Qur’an tersebut, sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.

Mau’idzah; Nasehat dan pelajaran
Inilah unsur dan siafat pertama yang dikandung oleh al Qur’an yang disebutkan pada ayat di atas. Mu’idzah, Secara harfiah, berarti nasehat dan pelajaran. Penulis Kitab At-Tafsir al-Wajiz (hlm.216) menyebutnya sebagai nasehat yang mendalam dan menyentuh serta mengandung wasiat (pesan) untuk melakukan kebaikan dan mengikuti kebenaran serta menjauhi keburukan dan kebatilan.

Menurut Imam Ibnu Katsir, makna Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran adalah, “zajir ‘anil fawahisy; melarang dari perbuatan keji”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, 3/1380). Syekh As Sa’di menambahkan penjelasan yang lebih rinci tentang makna mau’idzah yang diperankan oleh al-Qur’an, yakni menasehati dan memperingatkan dari berbagai amal perbuatan yang mengundang murka Allah dan berkonsekuensi pada turunnya adzab-Nya dengan disertai penejelasan akan dampak buruk dan mafsadat dari perbuatan tersebut”. (Lih, Tafsir As Sa’di, hlm. 213-214).

Sebagai kalamullah atau kitab suci yang bersumber dari Allah Rabbul ‘alamin, metode yAl-Qur’an dalam menasehati dan mengajari manusia untuk melakukan kebaikan, mengikuti kebenaran, serta meninggalkan perbuatan buruk dan keji yang mengundang murka, siksa dan adzab Allah adalah metode yang sesai dengat tabiat dan kecenderungan jiwa manusia. Yakni melalui tadzkir (peringatan), targhib (motifasi), dan tarhib (ancaman), sebagaimana dikatakan oleh para Ahli Tafsir diantaranya Imam Ath-Thabari, Asy-Syaukani, Az Zuhali, dan yang lainnya.

Selain dalam ayat ini, fungsi dan peran al-Qur’an sebagai mau’idzah diterangkan pula dalam ayat lain diantaranya surat Ali Imran ayat 138 dan An-Nur ayat 34;

هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٨﴾

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran[3]: 138).

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُّبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِّنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٣٤﴾

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs. An-Nur[24]:34).

Unik dan menariknya dalam dua ayat ini (3:138, dan 24:34) fungsi dan peran Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran dikaitkan dengan takwa. Allah berfirman, “dan mau’idzah bagi orang-orang yang bertakwa”. Hal ini menujukan secara tegas bahwa hanya orang-orang bertakwa yang dapat menerima nasehat dan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Sebagaimana petunjuk al-Qur’an juga hanya dapat diraih oleh orang-orang bertakwa. Karena Allah telah tetapkan bahwa al-Qur’an merupakan, “huda[n] Lil Muttaqin; petunjuk bagi orang-orang bertakwa”.

Syifa’ ; Penawar dan Penyembuh
Sifat al-Qur;an yang disebut kedua dalam ayat di atas adalah asy-Syifa. Penawar atau penyembuh bagi (penyakit) yang ada di dalam dada. Menurut para Mufassir bahwa makna dada dalam ayat ini adalah hati. Sehingga mereka menafsirkan bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai syifa’ (penawar dan penyembuh) adalah, “obat penyembuh dari penyakit syubhat dan keragu-raguan”. (Tafsir Ibn Katsir,3/1380). Artinya, “Al-Qur’an menghilangkan berbagai kotoran (rijs) dan daki yang ada di dalamnya”.

Senada dengan Ibnu Katsir, Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa, “Al-Qur’an ini merupakan penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada (hati) berupa penyakit-penyakit syahwat yang menghalangi ketundukan pada Syariat dan (penyembuh) dari penyakit syubhat yang menggerogoti ilmu dan keyakinan. Karena di dalam al-Qur’an ini terdapat mau’idzah (nasehat dan pelajaran), targhib wat tarhib(motifasi dan gertakan), wa’d wal wa’id (janji dan ancaman) yang (kesemua itu) membuat seorang hamba memiliki sikap raghbah dan rahbah. (Tafsir As Sa’diy, hlm. 367).

Jadi syifa yang dikandung oleh Al-Qur’an meliputi kesembuhan bagi (penyakit) hati berupa syubhat, jahalah (kebodohan), pendapat atau pandangan yang keliru (al-ara al-fasidah), penyimpangan yang buruk, serta maksud dan tujuan yang jelek. (hlm.465). Al-Qur’an adalah obat semua penyakit hati tersebut. “Karena Al-Qur’an mengandung ilmu yang meyakinkan yang menghapuskan setiap kerancuan (syubhat) dan kebodohan (jahalah). Selain itu al-Qur’an juga mengandung nasehat dan peringatan yang menghapuskan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah”. (hlm.465).

Dari penjelasan Ibn Katsir dan Syekh As Sa’di di atas disimpulkan, kata ‘’syifa lima fis Shudur” mencakup makna bahwa al-Qur’an adalah penyembuh bagi apa yang ada di dalam hati dan jiwa manusia berupa penyakit syahwat dan syubhat yang merupakan bibit utama penyakit hati. Buya Hamka mengistilahkannya dengan, “Sesuatu kumpulan dari resep-resep rohani”, (Tafsir Al-Azhar, 11/237).

Meskipun demikian tak dapat dinafikan pula bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai penyembuh juga mencakup penyakit fisik atau badan, sebagaimana dikandung oleh keumuman kata syifa dalam ayat lain yang juga menyebukan fungsi al-Qur’an sebagai syifa. Selain ayat ini ada beberapa ayat lain yang menyebut al-Qur’an sebagai syifa’ yaitu; surah Al-Isra ayat 82 dan Fushilat ayat 44. Dalam al Isra disandingkan rahmat, dan dalam surat Fushilat disandingkan dengan petunjuk (hudan).

Syekh As-Sa’di ketika menafsirkan kata Syifa pada kalimat, “katakan, bagi orang beriman al-Qur’an itu adalah huda (petunjuk) dan syifa (penyembuh)” mengisyaratkan bahwa kesembuhan melalui al-Qur’an mencakup penyakit badan (amradh badaniyah) dan penyakit hati (amradh qalbiyah). Proses dan cara penyembuhan penyakit badan dengan al-Qur’an disebat dengan ruqyah. Mengobati suatu penyakit dengan bacaan al-Qur’an bukan sesuatu yang baru. Sebab para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah seorang yang keracunan hewan berbisa dengan bacaan surat Al-Fatihah.

Penunjuk dan Pemandu Jalan
Dalam ayat ini al-Qur’an disebut juga sebagai hudan yang berarti petunjuk. Al-Qur’an adalah pemandu atau pelopor, untuk menempuh semak belukar kehidupan ini , supaya kita jangan tersesat. Sebab baru sekali ini kita datang ke dunia ini . Jangan sesat dalam i’tikad dan kepercayaan , jangan salah dalam amal dan ibadat. (Tafsir Al-Azhar, 11/239).
Menurut Ibnu Syekh As Sa’di makna hudan adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Artinya al-Qur’an (sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka) adalah panduan, pedoman, petunjuk untuk mengenali kebenaran sekaligus panduan dan tuntunan dalam mengamalkan kebenaran tersebut. Sebab Al-Qur’an menuntun ke jalan yang lurus dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat sehingga mereka yang berpedoman dengan al-Qur’an memperoleh hidayah sempurna dari Allah Ta’ala.

Bila kita amati ayat-ayat yang menyebutkan al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) kita temukan bahwa bahwa al-Qur’an kadang disebut sebagai hudan Lin Nas (petunjuk bagi manusia), atau petunjuk bagi orang-orang beriman, atau hudan Lil Muttaqin (petunjuk bagi orang bertakwa). Pada asalnya al-Qur;an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, akan tetapi orang-orang kafir tidak mengindahkan petunjuk al-Qur’an sehingga mereka tidak memperoleh sama sekali manfaat al-Qur’an. Bahkan bagi orang kafir al-Qur’an justru menambah kerugian mereka karena sikap durhaka mereka terhadap al-Qur’an.

Rahmat
Fungsi keempat bagi al-Qur’an adalah sebagai rahmat, yaitu karunia berupa kasih sayang, kebaikan, dan pahala di dunia dan akhirat. Menurut Buaya Hamka ini hasil dari urutan tiga pertama (mau’idzah, syifa’, dan huda[n]). Menurutnya bila ajaran Allah dipegang teguh, al-Qur’an dijadikan sebagai obat hati penawar dada, dan dijadikan petunjuk dalam perjalanan hidup, pasti akan merasakan rahmat Ilahi bagi diri, rumah tangga, dan masyarakat.
Semakna dengan pendapat Buya Hamka di atas Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa bila seseorang memperoleh hidayah, maka ia berhak mendapat rahmat yang berasal dari hidayah tersebut. Sehingga ia meraih kebahagiaan (sa’dah) kesuksesan (falah), keberuntungan (ribh), keselamatan (najah), kesenangan (farh), dan kegembiraan (surur). (hlm.367).

Akan tetapi karunia Allah berupa hidayah dan rahmat kasih sayang Allah sebagai bagian dari fungsi al-Qur’an hanya diperuntukan bagi orang-orang beriman. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Hal itu (hidayah dan rahmat) hanya berlaku bagi orang-orang beriman yang mengimani, mempercayai, dan meyakini al-Qur’an beserta isi kandungan yang terdapat di dalamnya” (Tafsir Ibn Katsir, 3/1380).
Artinya orang yang tidak beriman tidak akan pernah merasakan al-Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat. Justru sebalikan bagi orang yang dzalim al-Qur’an hanya akan menambah kerugian mereka. Merugi karena tidak mendapatkan manfaat apapun dari al-Qur’an.

Berbahagialah
Allah menyertai ayat tentang empat unsur yang dimiliki oleh Al-Qur’an berupa nasehat dan pelajaran, penawar atau penyembuh, petunjuk, dan rahmat dengan perintah untuk bergembira. Allah mengatakan, “Katakan wahai Muhammad, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itulah bersukacita, itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Maksudnya nikmat dan karunia al-Qur’an lebih pantas untuk disyukuri dan disikapi dengan bahagia karena ia lebih baik dari perbendaharaan dunia yang dikumpulakn oleh manusia”.

Oleh karena itu untuk memperoleh pelajaran, kesembuhan, petunjuk, dan rahmat dari al-Qur’an hendaknya kita mengimani, mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan al-Qur’an. Semoga Allah merahmati kita dengan al-Qur’an, menjadikannya sebagai imam, cahaya, dan rahmat bagi kita. Allahumma bil qur’an, waj’alhu lana imama[an], wa nura[n], wa huda[n], wa rahmah. [Cikempong, 22/11/2016, 02.26).
Artikel:http://wahdah.or.id