⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

Sore ini, Kamis 22 Juni 2017 pkl 17.30 telah berlangsung Wahdah Jakarta Ifthor On The Road di depan gedung Buncit 36 Jalan Warung Buncit 36, Jaksel.

Dalam Hitungan Menit Nasi Sejumlah 70 box dan ratusan Ta’jil berupa snack, kurma dan Teh Gelas habis dibagikan kepada pengguna jalan.

Turut serta beberapa relawan dari lembaga yang ada di Gedung Buncit seperti Relawan Perkumpulan Dai dan Ulama Se Asia Tenggara, Basaer Publishing, Ummat TV, Security Buncit 36 dan LAZIS Wahdah yang mengkoordinir kegiatan bersama Departemen Sosial Wahdah Jakarta.

 

“Mengasyikkan”. Ujar salah seorang relawan.

Pengendara yang sedang kelelahan dan kecapaian banyak yang mengucapkan terima Kasih.

Hal ini tentu diharapkan sedikit memberi solusi rasa dahaga dan lapar, kepada para pengguna jalan yang memang sangat kesulitan mencari tempat utk sekedar berhenti di tengah jalan disebabkan terkadang mereka berburu dengan waktu.

Panitia mengucapkan terima Kasih kepada donatur, relawan dan semua pihak yang telah turut mendukung acara ini.

Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita semua. (Ihsj)

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Ifthor On The Road

⁠⁠⁠

⁠⁠⁠Wahdah Jakarta Semarakkan Kawasan Halal Fair I MUI DKI Jakarta

Kawasan Halal Fair I MUI DKI Jakarta

Wahdah Jakarta bekerjasama dengan LAZIS Wahdah turut hadir menyemarakkan Kawasan Halal Fair I yang diselenggarakan MUI DKI Jakarta di Plaza Semanggi. Kegiatan yang berlangsung 10 hari ini dari tanggal 09-18 Juni 2017 berlangsung cukup meriah.

Acara ini disponsori oleh lembaga – lembaga nasional yang ternama. Lembaga – lembaga tersebut di antaranya BNI syariah, PAYTREN, BUKOPIN Syariah, INDOSAT, BAZIS, Wardah Cosmetic, Rabbani, LAZIS Wahdah, dan lainnya. Tidak ketinggalan berbagai komunitas yang sedang berkembang di Jakarta turut memeriahkan kegiatan ini seperti Komunitas Terang, Komunitas Digital Marketing Muslim, Masyarakat Tanpa Riba, Sinergi Pendaki Muslim, dan sebagainya.

Tujuan diadakan kegiatan ini adalah mensyiarkan dan mensosialisasikan produk halal yang sudah tersertifikasi halal MUI. Di samping sebagai upaya mendukung dan memajukan UKM asli Indonesia.

Wahdah Jakarta bekerjasama LAZIS Wahdah berusaha mensupport event yang diselenggarakan MUI DKI Jakarta ini dengan mengisi kajian menjelang buka bersama. Seyogyanya ada 4 hari yang dapat diisi oleh Wahdah Jakarta, tetapi qadarullah karena waktu persiapan yang pendek, hanya dapat dipenuhi 2 hari saja.

Perkenalan Rumah Quran DIROSA Jakarta

Selain mensupport acara dengan kajian jelang buka yang berupa Pelatihan Tajwid bersama Syaikh dari Timur Tengah dan Training Menerjemah Al Qur’an. Dalam acara itu Wahdah Jakarta bersama LAZIS Wahdah memperkenalkan Rumah Qur’an DIROSA Jakarta.

Layanan Rumah Qur’an DIROSA sendiri terdiri dari :

1) Belajar Al Qur’an dari Nol untuk orang dewasa
2) Pelatihan Tahsin/Tahfidz Al Qur’an
3) Training Menerjemah Al Qur’an
4) Pendidikan Calon Pengajar Al Qur’an

Banyak peserta yang hadir dan bertanya di Stand untuk mengikuti berbagai layanan yang ada pada Rumah Qur’an DIROSA Jakarta.

Alhamdulillah dalam kesempatan acara ini turut hadir di Stand bersama wahdah Jakarta dan LAZIS Wahdah beberapa tokoh MUI dan Kemenag memberikan support terhadap program-program yang diberikan.

Selain program pelatihan membaca Al Quran dengan metode Dirosa, Lazis Wahdah Jakarta juga memiliki program-program lain diantaranya donasi motor dakwah, kajian rutin, zakat manfaat, sedekah beras dan wakaf media.

Insya Allah kegiatan selanjutnya akan diselenggarakan kembali pada Bulan Oktober 2017. Semoga Allah memberikan kemudahan dan pertolongan. (Ihsj)

Puasalah Agar Kamu Bertakwa

Hubungan Antara Puasa dan Takwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah: 183)

Allah Ta’ala berfirman dengan mengarahkan pembicaraan kepada orang-orang beriman dan menyuruh mereka berpuasa (shiyam), yakni menahan diri (imsak) dari makan, minum, dan bercampur suami-istri disertai niat ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla, karena di dalam puasa tersebut terkandung pensucian jiwa serta membersihaknnya dari kotoran yang buruk dan akhlaq yang hina”. Demikian dikatakan Al-Imam Imadudin  Abul Fida Isma’il bin Umar bin Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini.

Awal  ayat ini, “Wahai orang beriman” merupakan seruan cinta yang sagat indah dari Allah. Ini adalah panggilan indah dari Tuhan semsta alam yang menciptakanmu, memberimu rezki, dan menjadikanmu dari tiada menjadi ada, serta menunjukimu dan memuliakanmu. Demikian dikatakan Syekh Prof. DR. Nashir bin Sulaiman al-Umar hafidzahullah dalam kitabnya Liyadabbaru Ayatihi (hlm.23). Seolah Allah hendak mengawali rangkaian ayat tentang puasa ini dengan seruan cinta pada para hamba-Nya yang mengimani dan mencintai-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman pada-Ku dan mencintai-Ku, Aku mewajibkan puasa kepada kalian”.

Sebab setelah seruan ini ada perintah yang tidak dapat dijalankan oleh semua hamba-Nya. Perintah yang akan diinstruksikan hanya sanggup dilaksanakan oleh mereka yang mengimani-Nya. Karena hanya orang beriman yang siap menjawab seruan dan perintah Allah. Karena tidak pantas bagi orang beriman memiliki pilihan dan sikap lain saat berhadapan dengan perintah Allah.

Oleh karena itu pula ayat-ayat yang diawali dengan Ya ayyuhalladzina amanu umumnya berisi perintah dan larangan. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

Jika kamu mendengar Allah berfirman, “Ya ayyuhalladzina amanu”, maka pusatkanlah pendengaranmu baik-baik, karena (setelahnya) adalah kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang (mengerjakannya)”. (Tafsir Ibnu Abi Hatim, 1037).

Dan tidak diragukan lagi bahwa perintah puasa merupakan kebaikan yang mengandung kemaslahatan bagi manusia dalam seluruh aspek dan dimensi, baik secara ruhiyah (spritual), jasadiyah (fisik) maupun  nafsiyah (psikis). Oleh  sebab itu Sykh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyebut pensyariatan pewajiban puasa sebagai karunia Allah. “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mewajibkan  puasa kepada mereka (orang beriman) sebagaimana telah Dia wajibkan kepada ummat-ummat sebelumnya, karena puasa termasuk syariat dan perintah yang mengandung maslahat bagi makhluk di setiap zaman”, tegas Syekh As-Sa’di”. (Taisir Karimir Rahman, 83).

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan tujuan puasa, yakni, ‘’la’allakum tattaqun”. Agar kalian bertakwa. “Jadi ternyata puasa merupakan  sarana (wasilah) sarana untuk suatu tujuan (ghayah)”, kata Syekh Nashir al-Umar hafidzahullah. “Sarananya meninggalkan makan dan minum serta meninggalkan setiap yang diharamkan Allah Jalla wa ‘alaa, dan tujuannya adalah takwa”, lanjutnya.

Lalu apa hubungan timbal balik antara puasa dan takwa? “Karena puasa merupakan sebab paling utama mencapai takwa, sebab di dalam puasa tercakup menunaikan perintah dan meninggalkan larangan”, jelas Syekh As-Sa’di. Bahkan hampir semua aspek dan unsuryang masuk dalam makna takwa terdapat dalam puasa.

Misalnya, orang berpuasa meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah kepadanya berupa makanan, minuman, bercampur suami-istri, dan meninggalkan hal lain yang digandrungi oleh jiwa dngan niat taqarrub kepada Allah dan berharap pahala. Ini adalah takwa, karena pengertian takwa sebagaimana didfinisikan oleh Tabi’in yang mulia Thalq bin Habib rahimahullah adalah,

Engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan (panduan) cahaya (petunjuk) Allah karena mengharap pahala[Nya] Allah, dan engkau meninggalkan apa yang dilarang Allah berdasarkan cahaya Allah karena takut kepada adzab Allah”.

Orang yang berpuasa juga melatih  dirinya dalam menumbuhkan sikap murabaqabtullah (merasa diawasi oleh Allah). Sehingga  ia meninggalkan apa-apa yang diinginkan oleh nafsunya pada saat ia mampu melakukannya, karena ia tahu bahwa ia dilihat dan diawasi oleh Allah. Ini juga merupakan jalan meraih dan memperkuat takwa.

Orang yang puasa juga mempersempit ruang gerak setan yang mengalir dalam diri manusia melalui aliran darah. Dengan puasa setan  melemah sehingga orang yang berpuasa sedikit dosanya dan banyak ketaatan yang  dilakukannya. Hal ini juga merupakan bagian dari takwa. Ketika  merasakan sakitnya rasa lapar saat puasa maka muncul sikap empati, cinta, kasih sayang kepada sesama. Ini juga merupakan bagian dari realisasi makna takwa.

Antara Iman, Puasa dan Takwa

Dalam ayat ini perintah berpuasa ditujukan kepada orang beriman. Tujuan dan hikmahnya adalah takwa. Lalu adakah benang merah yang menghubungkan ketiga hal ini (iman, puasa dan takwa)? Iman adalah sesuatu yang terpatri kuat dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan.

Demikian pula dengan takwa. “Takwa itu di sini”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menunjuk ke dadanya. Jadi, iman dan takwa bersemayam di hati lalu mengejawantah dalam amal perbuatan. Artinya hakikat iman dan takwa adalah rahasia seorang hamba dengan Allah. Ini sama halnya dengan puasa yang juga merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi,

“Setiap amalan anak Adam untuknya, kecuali puasa, dan Akulah yang membalasnya”.

Inilah korelasi kuat antara iman, puasa, dan takwa. Ketiganya merupakan perkara rahasia yang hanya diketahui Allah. Semakin intens seorang hamba melakukan amalan-amalan rahasia seperti puasa maka semakin meningkat kwalitas iman dan takwanya.

Semoga puasa yang kita jalankan memperkuat iman dan takwa kita kepada-Nya. [sym]

Memupuk Iman Menggapai Hidayah

Hidayah

إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ ﴿٩﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Qs. Yunus:9).

Ini adalah pengabaran tentang keadaan orang-orang yang bahagia, (yakni) orang-orang beriman dan membenarkan para Rasul serta menunaikan perintah yang diberikan kepda mereka berupa amal shaleh, bahwa Allah akan menunjuki mereka disebabkan oleh iman mereka tersebut. Demikian dikatakan oleh Imam Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir dalam Kitabnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adziem (2/ 1364).

Itulah janji Allah kepada orang-orang beriman yang benar imannya. Iman yang benar adalah bukan sekadar pengakuan. Karena “semua orang dapat membuka mulut dan bersorak-sorak mengatakan beriman, mendakwakan diri percaya kepada Allah sebab mulut itu mudah berkata,” terang Syekh Abdulkarim bin Abdul Malik Amrullah.

Tetapi di dalam ayat ini ditegaskan lagi, bahwa pengakuan percaya saja belumlah cukup. Iman adalah kepercayaan di dalam hati, dan dia belum berarti sebelum dibuktikan dengan amal shalih, lanjut Ulama yang populer dengan nama Buya Hamka ini.

Artinya iman itu dipraktekan dengan perbuatan, atau mengambil initiatif untuk melancarkan perjalanan hidup dengan iman. Maka apabila Allah telah melihat kegiatan hamba-Nya itu dengan iman dan amal shalih, Dia sendiri akan memimpin, memberi petunjuk dengan iman yang ada padanya itu, sehingga dia selamat menempuh Ash-Shirathal Mustaqim itu atau Sabilillah itu, urainya lagi.

Jadi makna yahdihim Rabbuhum bi Imanihim menurut Buya Hamka adalah Allah akan membimbing atau memimpin orang beriman yang mempraktikkan imannya dengan amal Shalih. Pendapat Buya Hamka ini merujuk kepada perkataan Imam Mujahid yang dikutip oleh Ibnu Katsir (2/1364) bahwa Makna yahdihim Rabbuhum bi Imanihim adalah mereka diberi cahaya yang kemudian mereka berjalan dengan (penerangan) cahaya tersebut.

Cahaya yang dimaksud sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa ayat diantaranya Surat Al-Hadid ayat 28:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿الحديد: ٢٨﴾

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hadid:28).

Melalui ayat di atas Allah menjajikan cahaya sebagai suluh dalam menjalani kehidupan dunia ini kepada orang beriman. Maksud “dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat bejalan” adalah Dia (Allah) memberimu ilmu, petunjuk, dan cahaya yang dengannya kamu berjalan di tengah gelapnya kejahilan. (Tafsir As Sa’di, hlm.994). Dengan syarat iman tersebut mengejawantah dalam takwa. Takwa di sini bermakna menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah.

Itu balasan di dunia. Orang beriman yang membuktikan imannya dengan takwa dan amal shaleh akan selalu dibimbing oleh Allah untuk meraih ridha-Nya. Karunia berupa bimbingan ini diuraikan secara panjang oleh Buya Hamka dalam Tafsirnya. Beliau mengatakan, “Maka orang yang beriman dan bermal shalih tidaklah pernah lepas dari bimbingan Tuhan, dari Tauhid, dan Hidayah-Nya. Betapapun besarnya kesukaran yang ditempuhnya, namun di dalam kesukaran itu akan bertemu kemudahan. Dia tidak pernah kehilangan cahaya, sebab cahaya ada dalam hatinya sendiri. Dia tidak pernah merasa sepi, sebab Tuhan lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.

Buya memandang bahwa diantara pelajaran yang hendaknya dipetik dari ayat ini adalah pentingnya perjuangan menegakkan iman. Perjuangan menegakkan iman yang paling pertama adalah memupuk dan membuktikan iman tersebut dengan amal shalih sebagai prasyarat mendapat cahaya bimbingan Allah. Beliau kemudian melanjutkan, “Ayat ini menjelasakn benar kepada kita, bahwa kalau tunas iman telah mulai terasa tumbuh dalam diri kita, janganlah kita pasif, atau kita diamkan saja.

Lekas buktikan, lekas pupuk. Seabab dengan demikian kita telah mendapat modal besar untuk menempuh hidup. Kalau iman sudah terasa walau baru sedikit, pupuklah ia dengan amal dan ibadat. Sebab amal dan ibadat itu akan menambah suburnya.” (Tafsir Al-azhar,11/158).

Adapaun balasan di akhirat Allah akan menerangi mereka dalam melintasi shirath pada hari kiamat kelak (Al-Mukhtashar fit Tafsir, hlm.541). Keberhasilan melintasi shirath tersebut pada akhirnya menghantarkan mereka masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Sebagaimana diisyaratkan oleh ujung ayat, “di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (ujung ayat 9) .

Namun patut dicatat bahwa nikmat surga sebagai balasan iman hanya akan didapatkan oleh mereka yang mendapat bimbingan berupa hidayah sewaktu di dunia. Dengan kata lain nikmat hidayah di dunia sebagai buah dari amal shaleh merupakan pengantar atas balasan di akhirat kelak. Inilah yang diisyaratkan oleh Buya Hamka dalam perkataannya, “Dan oleh sebab itu pula teranglah bahwa jalan ke syurga itu telah dimulai dari sekarang juga.

Gembira dalam syurga kelak memetik hasil apa yang telah ditanam di dalam dunia, dan gembira sebab di dunia telah terasa bahwa Tuhan selalu ada di dekatnya, dan di akhirat kelak akan bertemu langsung dengan wajah-Nya.” (Tafsir Al-Azhar,11/158-159).

Kesimpulan
Ayat ini mengabarkan tentang jaminan Allah terhadap orang-orang beriman dan beramal shaleh. Bahwa Allah akan memberikan balasan besar di dunia dan di akhirat. Disebabkan oleh Iman yang mereka miliki maka di dunia Allah akan menunjuki dan membimbing mereka untuk melakukan amal shaleh yang mendatangkan ridha Allah. Sedangkan di akhirat Allah akan memasukan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan dan kekal di dalamnya. [sym].

relawan wahdah

Wahdah Islamiyah Jakarta Rekrut Relawan Wahdah Peduli

(Jakarta)- DPW Wahdah Islamiyah Jakarta bekerjasama dengan LAZIS Wahdah membuka program kerelawanan yang dinamakan Satuan Relawan Wahdah Peduli (SARWP). Para relawan yang tergabung dalam program ini akan melewati proses training dan dibekali dengan berbagai keahlian agar dapat hidup lebih produktif, mandiri dan berdedikasi. Diantara skill tersebut adalah; therapi pengobatan nabawi, kegawatdaruratan bencana, jurnalistik, dan event organizer. Pimpinan LAZIS Wahdah wilayah Jakarta Wahyudi berharap program ini dapat memberikan beberapa solusi atas permaslahan keumatan, khususnya terkait kemandirian dan kepedulian terhadap umat. Program ini bersifat gratis dan untuk tahap awal hanya menerima peserta pria sebanyak 20 orang. Pendaftaran akan ditutup 15 Mei 2017 atau jika sudah memenuhi kuota. Bagi yang ingin mendaftar dapat menghubungi kontak : 0823 15900 900 / 0852 9938 0971 / 0823 4627 4587.[yy]

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/wi-jakarta-rekrut-relawan-wahdah-peduli/ .

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

[Klik gambar untuk melihat lebih detail]

Beasiswa Akademi Al Quran dan Dakwah

AQD (Akademi Al Quran dan Dakwah) adalah pusat pembibitan calon-calon pelayan dan pendakwah al Qur’an yang berada di Cibinong Bogor. Seluruh biaya untuk sarana, makan, kitab dan asrama bersifat gratis. Sehingga Mahasantri diharapkan, dapat belajar fokus, berprestasi tanpa sibuk dengan urusan pembiayaan. Mahassantri Akademi Al Quran dan Dakwah ini dididik dan dilatih menjadi Da’i Pengajar Al Quran yang berakhlaq Qur’ani dan Mandiri. Program ini dikelola oleh DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah dan Lazis Wahdah.

Mahasantri AQD (Akademi Al Qur’an dan Dakwah) yang proses belajarnya rencana selama 2 tahun ini, disamping mendapatkan Ilmu-ilmu al Qur’an dan pengajaran dakwah, juga berbagai skill kemandirian seperti : kesehatan nabawi, marketing medsos, kerelawanan, dsb.

Pendaftaran dimulai dari 22 Februari – 22 Maret 2017 dan diumukan calon mahasantri yang lolos berkas pada tanggal 23 Maret 2017. Selanjutnya diadakan seleksi tertulis tanggal 25 Maret 2017 dan diumukan calon mahasantri yang diterima tanggal 29 Maret 2017.

Persyaratan :

  1. Pendidikan minimal SMA/MA/SMK
  2. Usia 17 – 30 tahun
  3. Belum menikah dan bersedia untuk tetap melanjutkan pendidikan jika menikah
  4. Lancar membaca Al Quran
  5. Tidak merokok
  6. Mengisi formulir pendaftaran
  7. Membayar uang pendaftaran sebesar 500.000
  8. Melampirkan berkas pendaftaran
    1. Biodata
    2. Fotokopi Ijazah terakhir
    3. Fotokopi KTP
    4. SKCK
    5. Surat keterangan berbadan sehat
    6. Pas foto 2×3 dan 3×4 masing-masing sebanyak 4 lembar
    7. Surat izin orang tua
    8. Rekomendasi dari lembaga Islam atau tokoh Islam
  9. Jika diterima, menandatangani surat perjanjian bersedia mengembalikan biaya jika mengundurkan diri tanpa udzur syar’i

Informasi lebih lanjut hubungi Ustadz Agusman, S.Si (0852 1336 8996)

Bagi anda yang ingin berdonasi turut serta memfasilitasi para pelayan dan pembela al Qur’an (insya Allah), dapat menyalurkan bantuannya kembali melalui : BSM 497 900900 an LAZIS Wahdah Sedekah.

Catatan :
1) Demi kedisiplinan pencatatan, harap menambah nominal Rp 306,-. Contoh Rp 2.000.306,-
2) Konfirmasi transfer ke nomer (WA/SMS) : 082315900900

 

Fenomena Hilangnya Janin dari Perut Ibunya dalam Islam

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh..

‘Afwan ustadz mau tanya..

Biasakan ada janin yang tiba-tiba hilang dari perut ibunya (bukan karena keguguran atau apapun itu), tiba-tiba saja hilang. Kalau orang bilang katanya bayinya melayang naik atas langit. Bagaimana hukumnya dalam Islam ? Atau bagaimana Islam memandang ini ustadz ? Syukron

mariana – makassar

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam pandangan medis tidak diakui adanya bayi atau janin yang hilang tanpa ada sebab yang jelas. Biasanya analis medis menyatakan bahwa kasus demikian terjadi hanya pada kandungan semu yang lumrah dikenal dengan hamil anggur yang kelihatan hamil tetapi sebetulnya tidak hamil. Analisa ini tentu dapat diterima bilamana sang ibu tidak dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Namun apabila sang ibu dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Misalnya dengan gerakan, atau tendangan yang dirasakannya, atau hasil USG atau indikasi lain yang meyakinkan. Jika kondisinya seperti itu lalu bayinya menghilang tanpa sebab yang jelas maka Islam memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak mustahil. Hal demikian dapat saja terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala.

Tindakan preventif yang perlu dilakukan oleh pasangan suami istri adalah senantiasa berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’ agar dapat menghindari gangguan jin atau setan yang dapat menggugurkan atau menghilangkan janin dari rahim ibunya dengan izin Allah. Nabi bersabda:

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا».

Sekiranya salah seorang di antara kalian, apabila ingin berjima’ dengan istrinya terlebih dahulu membaca: *”Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan setan dari anak yang Engkau anugrahkan kepada kami”,* apabila kedua pasangan tersebut dikaruniai anak niscaya setan tidak dapat mengganggunya untuk selama. Anak tersebut akan terjaga akal dan pisiknya setelah lahir dan pada saat masih dalam rahim ibunya. Ia juga tidak diseret oleh setan ke dalam kekufuran menurut sebagian ulama seperti al-Qasthallani.

Beberapa praktisi ruqyah syar’iyah juga mengakui beberapa kasus gangguan janin berupa keguguran atau halangan hamil akibat dari ganggun jin atau setan yang biasa diistilahkan dengan “tabi’ah” atau “ummu shibyan” yang beraksi terutama di awal-awal masa kehamilan. Selain berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’, sang ibu juga harus senantiasa menjaga ibadah-ibadahnya, terutama shalat lima waktu. Juga harus rutin membaca zikir pagi dan petang, zikir dan wirid sebelum tidur agar gangguan jin dan setan dapat terhindarkan.

✍ Dijawab oleh ust. Salahuddin Guntung, Lc, M.A

(Mahasiswa Program Doktoral Konsentrasi Aqidah dan Pemikiran Kontemporer, King Saud University Riyadh)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/fenomena-janin-yang-tiba-tiba-hilang-dari-perut-ibunya/

Hukum Berjualan Rokok Dalam Islam

Hukum Memakan Hasil Penjualan Rokok Dalam Islam

Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ibu saya baru-baru ini membuka warung makan. Kemudian, di situ dia menjual rokok. Dan saya sudah sampaikan sama ibu saya Insyaa Allah sudah dengan cara yang bil hikmah. Hanya saja saya mendapatkan respon yang kurang baik. Dan sampai sekarang pun ibu saya tetap menjual rokok. Yang saya khawatirkan. Saya makan dari hasil jualan barang tersebut. Apa hukumnya memakan hasil penjualan rokok tersebut. Mohon solusinya. Syukran.

ulfa – mks

Jawaban :

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatu…

Apa yang anda lakukan adalah suatu hal yang terpuji, yaitu menasihati ibu anda agar tidak menjual rokok yang merupakan barang haram. Ini adalah kewajiban kita menasehati kerabat kita, utamanya ibu. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” [QS. As Syu’ara:124].

Dan hendaknya hal itu dilakukan dengan hikmah, lemah lembut, apalagi ia adalah seorang ibu yang kita diperintahkan untuk berlemah lembut kepadanya, firman-Nya:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (ayah dan ibu) dengan penuh kesayangan” [QS. Al Isra’:24],

dan firman-Nya:

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” [QS. Lukman:15].

Tetaplah berusaha menasehatinya agar tidak menjual rokok di warungnya, tapi dengan cara hikmah dan lemah lembut. Cari waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat, jangan di waktu-waktu sibuk atau pikirannya kacau. Tetap tampakkan akhlak muliah dan patuh terhadap perintah dan permintaannya selama bukan maksiat, bantu ia dalam pekerjaannya di warung. Dan jangan lupa senjata seorang mukmin yang sangat ampuh, yaitu doa, doakan kepada Allah agar Ia memberinya hidayah dan tidak lagi menjual barang yang haram. Lakukan semua itu dengan penuh sabar, dan ingat bahwa hidayah di bawah kuasa Allah, bukan di tangan kita, sehingga serahkan urusan ini kepada Allah semata setelah melakukan usaha maksimal. Firman-Nya:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan dengan terang” [QS. An Nahl:82].

Adapun harta atau makanan dari hasil penjualan rokok itu maka jika telah bercampur dengan harta hasil jualan barang lain yang halal dari warung itu maka halal bagi anda untuk mengambilnya, karena Rasulullah shallalahu alaihi wasallam juga menerima hadiah dari orang-orang musyrik dan yahudi di zamannya dimana harta mereka bercampur antara halal dan haram.

Wallahu a’lam

✍ Dijawab Oleh Ust. Aswanto Muh. Takwi, Lc

(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan Mahasiswa S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud free musically fans University Riyadh KSA)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/hukum-memakan-hasil-penjualan-rokok-dalam-islam/

Mendengar Adzan

Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adzan

Adakah Bacaan Khusus Ketika Mendengar Adan Setelah Muazin Membaca “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” ?

Bismillah. Ustadz, apa yang harus kita jawab ketika adzan pas “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”?. Karena sepengetahuan saya ada 3 syarat doa terkabul dan salah satunya, menjawab lafaz “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Syukron.

Hilya –Makassar.

Jawaban:

Allaahu a’lam dengan bacaan yang Anda maksudkan, namun sebagian ulama menyebutkan sunatnya membaca bacaan khusus tatkala muazin usai membaca lafal azan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”, dan “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”, sebagaimana yang disebutkan dalam HR Muslim (386) dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan bacaan -tatkala mendengar muazin-:

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله رضيت بالله ربا وبمحمد رسولا وبالإسلام دينا

(Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, radhiitu billaahi rabban, wa bi muhammdin rasuulan, wa bil-islaami diina); maka dosa-dosanya akan terampuni”.

Para ulama tersebut menyatakan bahwa bacaan ini dibaca tatkala muazin usai mengumandangkan dua kalimat syahadat, tepat setelah lafaz “Asyhadu anna muhammadan Rasulullaah”. (Lihat: : Al-Majmu’ –Imam Nawawi; 2/87-88 , Syarh al-Mumti’- Ibnul-‘Utsaimin: 2/86, Liqa’ al-Baab al-Maftuuh –Ibnul-‘Utsaimin: liqa’ 156/26, dan Al-Masaail al-Muhimmah fil-Adzaan wal-Iqaamah- al-Tharifi; 108).

Namun ulama yang lain juga menyebutkan bahwa bacaan ini hendaknya dibaca setelah muazin selesai mengumandangkan azan secara keseluruhan, yakni dibaca beserta doa setelah azan yang biasa dibaca setelah muazin mengucapkan lafal azan terakhir “Laa ilaaha illallaah”. (lihat: Tuhfatul-Ahwadzi: 1/529).

Kesimpulannya: Inilah salah satu doa yang diucapkan saat azan. Kapan seseorang membacanya tatkala azan baik ketika muazin usai membaca dua kalimat syahadat atau setelah selesai mengumandangkan azan, maka semua tetap disunahkan, insya Allah.

Adapun pernyataan bahwa bacaan tersebut merupakan salah satu dari 3 syarat terkabulnya doa, maka tidak benar, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal tersebut. Hanya saja  siapa yang mengamalkannya tentu telah menambah ketaatan dan ibadah kepada Allah. Harap dicatat yang bisa menjadi salah satu penguat untuk mustajabnya doa bukan syarat mustajabnya. Wallaahu a’lam.

✍ Dijawab Oleh Ustadz Maulana La Eda Lc

(Alumni Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, saat ini menempuh S2 di fakultas yg sama)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/adakah-bacaan-khusus-setelah-muazin-membaca-asyhadu-anna-muhammadan-rasulullah/

Sholat Jamaah

Bolehkah Dua atau Lebih Sholat Jamaah dalam Satu Masjid ?

Dua Sholat Jamaah dalam Satu Masjid

Assaalamualaikum.

Afwan, Ustad ana mau bertanya bolehkah ada dua sholat Jamaah dalam satu masjid?

Jawab :

Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh

Kesimpulannya :

Tidak ada dalil, yg secara langsung melarang 2 sholat jamaah dalam satu mesjid.

Tapi Tidak sepantasnya dalam satu mesjid ada 2 jamaah. Jika ia salat di salah satu jamaah, maka sah salatnya dan tidak perlu mengulangi lagi.

Dalam masalah ini para ulama berpendapat :

1) Jika di mesjid yg ada imam rowatibnya, maka makruh hukumnya, untuk mengadakan jamaah kedua pada saat bersamaan. Solusinya ia mengikuti jamaah yg sdh ada atau menunggu jamaah pertama selesai. Dengan alasan bakal menimbulkan perpecahan, berburuk sangka dan permasalahan baru.

2) Jika di mesjid yg tidak ada imam rowatibnya, maka tidak mengapa 2 jamaah dalam satu mesjid secara bersamaan, seperti mesjid2 di pinggir jalan dan tempat-tempat umum, walaupun yg lebih baik, mengikuti yg sdh ada atau menunggu jamaah pertama selesai demi kemaslahatan.

Wallahu a’lam

Sumber:

http://www.awqaf.gov.ae/Fatwa.aspx?SectionID=9&RefID=2610

dijawab oleh :

Ust Irwan Kadar, Lc (Pengajar di Pesantren Dai Qur’ani – Cibinong)