Haramnya Boros dalam Makan dan Minum

adab makan dan minum

adab makan dan minum

Hadits Diharamkannya Makan dan Minum Secara Boros

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل واشرب ، والبس وتصدق ، من غير سرف ولا مخيلة . رواه أحمد وأبو داود ، وعلقه البخاري

Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Makan dan minum serta berpakaian dan bersedakahlah tanpa boros dan tidak sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Bukhari secara mu’allaq).

Pelajaran Hadits:
Hadits ini menunjukkan haramnya tabdzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum, sedekah, dan berpakaian. Hendaknya seseorang pertengahan dalam bertindak karena diharamkan bersikap sombong dan takabbur.
Hadit ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan jiwa dan tubuh serta menjauhkannya dari hal-hal yang membahayakan bagi keduanya di dunia dan di akhirat. [sym]
(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 590-591, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Artikel:http://wahdah.or.id

Wahdah Jakarta Shafwan bin Umayyah

SHAFWAN BIN UMAYYAH, BENCI BERBUAH CINTA

Shafwan bin Umayyah adalah putra dari Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh Quraisy. Umayyah bin Khalaf sendiri adalah pembesar Quraisy yang luar biasa bencinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana tokoh-tokoh yang lain seperti Abu Jahal, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, dua bersaudara ‘Uthbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bin Mughirah, dll.

Umayyah, ayah dari Shafwan radhiyallahu ‘anhu dicatat dalam sejarah sebagai penyiksa Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Kekejamannya pada hari itu akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Kebenciannya terhadap Islam dan kebengisannya berakhir di Perang Badar bersama kawan-kawan seangkatannya.

 

Dendam Kesumat

Sejak peristiwa terbunuhnya Umayyah di Perang Badar, tertanam dendam kesumat di hati sang anak, Shafwan. Setahun berselang, para putra mahkota tokoh-tokoh Quraisy ini ingin melampiaskan pembalasannya di Perang Uhud. Putra-putra Quraisy ini seperti Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal, Abu Sufyan, dan lain-lain yang semuanya ingin membalaskan dendam orang tua atau saudaranya yang terbunuh. Tak luput pula Shafwan turut serta.

Dendam kesumat ini terus tumbuh dan mengakar di hatinya hingga Makkah ditaklukkan. Artinya, kebenciannya kepada Islam telah terhitung kurang lebih 21 tahun sejak Rasulullah mendeklarasikan kenabian. Dalam peristiwa Fathu Makkah ini sebetulnya Shafwan bin Umayyah masuk dalam daftar 10 nama yang diburu, dinyatakan halal darahnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beruntung Shafwan dimintakan amnesti oleh Umair bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, kawan lamanya.

Namun menurut pengakuannya sendiri, kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak serta merta merekah setelah masuk Islam. Kecintaannya kepada Rasulullah baru mulai tumbuh dan menguat setelah Perang Hunain.

 

Benci Berbuah Cinta

Barang kali Shafwan termasuk dalam kategori yang disebutkan oleh Anas bin Malik:

إنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إلا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإسْلامُ أحبَّ إلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَ
Artinya: “Sungguh dulu ada seseorang yang masuk Islam dan tujuannya hanyalah untuk mendapat harta duniawi, maka tidaklah ia masuk Islam hingga akhirnya Islam lebih ia cintai daripada dunia dan seisinya” (HR Muslim no 2312)
Pasca Perang Hunain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada Shafwan bin Umayyah bagian ghanimah sebanyak 100 ekor unta, lalu 100 ekor unta lagi, kemudian ditambah 100 ekor unta lagi.
Hingga akhirnya Shafwan bin Umayyah mengakui sendiri,

وَاللهِ لَقَدْ أعْطَانِى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أعْطَانِى، وَإِنَّهُ لأبْغَضُ النَّاسِ إلَىَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إنَّهُ لأحَبُّ النَّاسِ إلَىَّ

“Demi Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepadaku apa yang ia berikan, padahal ia adalah orang yang dulunya paling aku benci. Namun beliau terus-menerus memberikan pemberiannya kepadaku hingga akhirnya beliau menjadi orang yang paling aku cintai”. (HR Muslim no 2313)

Setelah masuk Islam, Shafwan bin Umayyah termasuk shahabat yang sangat baik keislamannya. Beliau turut berjuang di medan-medan jihad dalam rangka membela dan meninggikan kalimatullah.

 

Shafwan Adalah Buah Kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dari kisah ini kita belajar bagaimana seorang Shafwan bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu yang dulunya tak terkira dendamnya, bisa masuk Islam. Bara kebencian yang telah terpendam lebih dari dua dekade itu pun tak disangka, akhirnya padam. Dengan siraman hidayah Rabbul ‘alamin.

Dari kisah ini pula kita belajar, betapa dermawannya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa dunia sungguh tidak bernilai di mata beliau. Bagi beliau, keislaman seorang Shafwan bin Umayyah jauh lebih berharga dari sekedar ratusan unta dan kambing.

Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, wa radhiyallahu ‘an Shafwaana wa ‘anish shahaabati ajma’iin.

 

Sumber:

  1. Min Akhlaqir Rasulil Karim shalallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah
  2. Situs Islam Story asuhan Dr. Raghib As Sirjani

 

Murtadha Ibawi

Departemen Dakwah Wahdah Islamiyah Jakarta

Kesalahan dalam Mendidik Anak (1): Membiasakan Anak Memiliki Sifat Penakut dan Tidak Percaya Diri

Kesalahan Mendidik Anak

Kesalahan dalam Mendidik Anak

Meski begitu besar tanggungjawab dalam mendidik anak, namun banyak orangtua yang melalaikannya. Bahkan tidak sedikit yang menganggap enteng amanah tersebut. Mereka tidak memelihara dengan sebaik-baiknya. Mereka menelantarkan anak-anaknya, mengabaikan pendidikannya, tidak memperhatikan dan tidak mengarahkan mereka.

Begitu melihat benih-benih penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak mereka, mulailah mereka menghardik dan mengeluhkannya. Mereka tidak menyadari, penyebab utama dari kenakalan dan penyimpangan itu adalah kelalaian mereka sendiri. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah sya’ir;

Dia telah campakkan anak-anaknya ke telaga dengan terbelenggu Lalu berkata,
”jangan sekali-kali engakau basah dengan air!”

Kelalaian dalam mendidik anak banyak sekali bentuk dan ragamnya.Semua bentuk kelalaian itu akan menjadi penyebab penyimpangan dan kenakalan pada anak-anak.Diantara bentuk-bentuk kelalaian itu adalah .

1. Membiasakan Anak Memiliki Sifat Penakut dan Tidak Percaya Diri

Diantara kesalahan yang sering terjadi dalam mendidik anak adalah menakut-nakuti mereka saat menangis agar diam. Seperti menakut-nakuti mereka dengan hantu, orang jahat, jin, suara angin dan lain-lain.

Efek negatif dari kesalahan metode ini,yakni menakuti-nakuti mereka dengan guru, sekolah,a tau dokter, maka mereka akan tumbuh dalam bayang-bayang perasaan takut, gemetar dan gelisah jika disebutkan nama-nama tersebut. Ini adalah bentuk ketakutan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Disamping itu, ada hal yang sangat berpengaruh dalam menanamkan sifat pada diri anak, yaitu sikap panik dan gugup orang tua atas sesuatu yang menimpa si anak.

Sebagai contoh, ketika si anak terjatuh dari lantai hingga terluka dan keluar darah pada bagian wajah, tangan atau lututnya. Sang ibu bukannya berusaha menenangkan rasa akut pada anaknya dengan memberikan penegrtian bahwa kecelakaan (jatuh) yang terjadi padanya adalah hal yang biasa dan tidak berbahaya. Tetapi, sang ibu justru telihat gugup dan takut, menampar wajahnya sendiri, atau memukul-mukul dadanya, dan berteriak meminta pertolongan kepada seluruh penghuni rumah.

Sikap seperti ini akan membuat sikap si anak yang mestinya biasa saja atas kejadian tersebut,justru menjadikannya seolah-olah menghadapi masalah yang besar, hingga sang anak semakin keras menangis karena ketakutan ,bukan rasa sakit yang dialami. Dan akhirnya, anak akan terbiasa ketakutan apabila melihat darah atau merasakan sakit. [sym]. Bersambung.
Sumber: Buku “Jangan Salah Mendidik Buah Hati” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd.

berdoa

Berdoalah ! Lalu Serahkan Hasilnya Kepada-Nya

Berdoalah ! Lalu Serahkan Hasilnya Kepada-Nya

Saudaraku,
Jika engau tertimpa cobaan yang sangat sulit bagimu melepaskan diri darinya, maka tidak ada jalan keluar untukmu kecuali ‘DOA’ dan kembali kepada Allah setelah engkau mendahuluinya dengan taubat atas dosa-dosamu. Karena ketergelinciran (ke dalam dosa) mengakibatkan siksa. Jika ketergelinciran tersebut telah hilang dengan taubat atas dosa-dosa itu, maka hilang pula sebab turunya siksa dan cobaan itu.

Jika engkau sudah berdoa namun engkau merasa belum ada tanda-tanda doa’mu dikabulkan maka renungilah dirimu! Mungkin taubatmu tidak benar. Benahi dan benarkanlah taubatmu terlebih dahulu kemudian berdoalah lagi.
Ingat! jangan sekali-kali bosan berdoa, meskipun tanda-tanda pengabulan belum terasa. Boleh jadi, kemaslahatan terdapat dalam pengunduran pengabulan doamu, atau bahkan kemaslatan terdapat di dalam ketidak terkabulkannya doamu. Namun demikiaan, ketahuilah bahwa engkau tetap mendapatkan pahala dari doa’mu tersebut. Engkau diberi oleh-Nya apa yang bermanfaat untukmu. Diantara manfaat tersebut adalah engkau tidak diberi apa yang engkau minta tetapi digantikan dengan yang lain yang menurut-Nya lebih maslahat bagimu.

Jika Iblis mendatangimu lalu mengatakan kepadamu; sudah berapa sering engkau berdoa’ tetapi engkau belum melihat hasil pengabulan doa’mu? maka katakanlah ‘Aku bertaa’bbud (beribadah) dengan berdoa. Sebab, doa bukan sekedar mengajukan permintaan dan permohonan kepada Allah. Lebih dari itu, ia merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Tatkala Dia menyuruh hamba-Nya untuk meminta Dia sertai dengan janji pengabulan terhadap doa’ itu. Simak dan renungi ayat berikut ini:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿٦٠﴾
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah (berdoa kepada-Ku)akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina“.(QS Al Mukmin: 60).

Subhanallaah. Dia menyuruh berdoa lalu disusul dengan janji pengabulan dan ditutup dengan ancaman bagi yang enggan berdoa’.

Berdoalah ! dan yakinlah doamu akan dikabulkan

Saudaraku ,
Ketika engkau berdoa, sertailah dengan keyakinan bahwa doa’amu pasti dikabulkan. Namun boleh jadi pengabulannya ditunda hingga waktu yang telah ditentukan-Nya. Boleh jadi pen-ta’khir-annya mengandung beberapa maslahat, sehingga pengabulan doa itu akan datang pada saat yang tepat. Andaipun tidak dikabulkan, maka anda telah merealisasikan taa’bbud dan tadzallul kepada-Nya. Anda telah menunaikan perintah-Nya dalam ayat di atas.

Sekali lagi, ketahuilah ! doamu pasti dikabulkan selama engkau memenuhi syaratnya.Dia akan mengabulkan doamu sesuai janji-Nya dengan salah satu dari tiga kemungkinan sebagimana diinformasikan oleh Nabi-Nya:
Oleh sebab itu, janganlah engkau meminta sesuatu kepada-Nya melainkan engkau sertai dengan permintaan pilihan (mohon kepada Allah dipilihkan yang terbaik).Berapa banyak permintaan berupa dunia jika dikabulkan justru mendatangkan kehancuran bagi pemintanya.
Sebelum mengakhiri coretan singkat ini ,saya menerima taushiyah via SMS melalui salah seorang ikhwah –jazahullaahu khairan– yang bunyinya :
“Kita minta kepada Allah setangkai bunga segar, tapi Allah beri kita kaktus berduri. Kita minta kupu-kupu tapi Allah beri kita ulat berbulu. Kita sedih dan kecewa. Namun kemudian kaktus itu berbunga sangat indah dan ulat itu menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah jalan-Nya, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi Allah beri apa yang kitah butuhkan. Kadang kita sedih, kecewa dan terluka. Tapi diatas segalanya, Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi kita”.
Sekali lagi berdoalah !!selanjutnya serahkan hasilnya kepada-Nya. [sym].
Bekasi 30 /01/1432 H
(Bahan bacaan: Shaidul Khaathir Ibnul Jauziy).

Walikota Depok Buka Diklat Da'i Wahdah Jakarta

Diklat Da’i dan Khatib Wahdah Islamiyah Jakarta Dibuka Oleh Walikota Depok

Wahdah Jakarta – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta menggelar acara Diklat Da’i dan Khatib di Rumah Makan Pondok Laras, Kecamatan Cimanggis, Sabtu (28/10/2017). Acara tersebut dihadiri oleh Wali Kota Depok, KH Dr. Mohammad Idris, MA. Turut hadir pula Camat Cimanggis Bapak Drs. Henry Hamawan dan Lurah Kel. Tugu Bapak Syaiful Hidayat, MSI.

Dalam sambutannya, KH Mohammad Idris menyampaikan, bahwa kedatangannya untuk berbagi ilmu serta pengalamannya guna membentuk kader da’i dan khatib agar terlatih dalam menyampaikan materi dakwah dengan cara yang baik.

“Saya hadir di sini bukan hanya sekadar hadir saja, melainkan ingin berbagi ilmu serta pengalaman yang saya dapatkan kepada para peserta diklat supaya terlatih dalam penyampaian materi dakwahnya dengan baik,” tutur walikota yang juga ulama dan alumni Timur Tengah ini.

Dirinya memaparkan, dalam berdakwah terdapat 3 aspek yang harus dimiliki oleh para da’i dan khatib, di antaranya seperti dalam penyampaian materi dakwah tidak hanya dengan cara pendekatan intelektual semata. Melainkan juga dengan cara yang baik dan benar, waktu yang tepat, serta padat dan jelas.

“Dakwah pada masyarakat awam jangan menggunakan istilah bahasa Arab yang tidak dipahami secara umum, karena itu akan mengakibatkan materi tidak tersampaikan secara maksimal,” paparnya.

Dikatakannya, dalam dakwah Islam ada tantangan dan problematikanya.
“Kepada para da’i untuk tidak menyampaikan dakwah secara emosional. Dikarenakan, dakwah merupakan kekuatan hati kita, cinta kita kepada masyarakat, warga serta rakyat untuk kebaikan mereka,” ujarnya.

Beliau berharap dengan adanya kegiatan ini para da’i dan khatib dapat menjadi aset untuk menyebarluaskan Islam di Indonesia dengan dakwah yang bijak dan santun. “Mudah-mudahan para da’i dan khatib ini bisa menjadi inspirasi untuk da’i lainnya dalam berdakwah yang baik dan benar,” tutup Wali Kota Depok, Mohammad Idris. Selain memberikan sambutan, beliau juga secara resmi membuka diklat tersebut.

Ceramah merupakan metode dakwah para Nabi serta “mushlihun” sejak dahulu kala. Memahami posisi ceramah dalam kepemimpinan dakwah serta mendalami teknik-tekniknya merupakan kebutuhan vital bagi para dai sejati,

Diklat Dakwah dan Khatib ini juga mendaraskan fiqh dan adab khutbah Jumat praktis. Di dalamnya dilatih teknik-teknik khutbah yang ‘menggerakkan’.

Rahasia para pemateri yang berasal dari kalangan dai senior dengan pengalaman ceramah rata-rata di atas 10.000 jam diungkap. Komposisi peserta yang sebagian besarnya adalah praktisi dari Jabodetabek, Banten, dan Bandung ini memperkaya perspektif peserta dalam setiap sesi.

Pemateri Diklat antara lain Ust. Ridwan Hamidi, Lc., MA, MPI, Ust. Ilham Jaya, Lc., MHI, Ust. Mujahid Nur Islami, SPd.I, Ust. Fakhrizal, Lc., Ust. Syamsuddin Al-Munawiy, MPd.I.

Peserta Diklat berjumlah 60 dari Jabodetabek, Banten, dan Bandung. Rata-rata adalah para da’i dan calon da’i serta aktivis dakwah.

Diharapkan dengan adanya Diklat Da’i dan Khatib ini, dapat mempersiapkan penceramah yang lebih berbobot dan berkualitas.

 

Bagi anda yang membutuhkan da’i dan khatib, baik dari masjid maupun kelompok pengajian di seputar Jakarta dan Depok dapat menghubungi Call Center Wahdah Islamiyah Jakarta 0858 8525 5266 (wa/sms/call).

[ibw]

Ternyata Ini Dua Puluh Tujuh Keutamaan Shalat Berjama’ah dari Shalat Sendirian

Shalat berjama’ah
Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian. Dalam riwayat lain dua puluh lima derajat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بس بع وعشرين درجة
Shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”. (HR. Bukhari, No. 645 dan Muslim, No. 650).
Dalam hadits lain disebutkan;
بخمس وعشرين درجة
Lebih utama dua puluh lima derajat”. (HR. Bukhari, No.646, dan Muslim, No.649).
Apa yang menjadikan shalat berjama’ah lebih utama dua puluh lima derajat dan atau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian? Para ulama telah melakukan pendekatan makna antara kedua riwayat tersebut dan mereka menjelaskan sebab-sebab perbedaan derajat yang disebutkan di atas. Diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Penulis kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari ini berkata, “Saya telah mengintisarikan apa-apa yang saya dapatkan mengenai hal ini. Yaitu hal-hal yang menjadikan shalat jama’ah lebih utama dua puluh lima tau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian’’, yaitu:
Pertama, Memenuhi panggilan muadzin dengan niat shalat berjama’ah,
Kedua, Berangkat pada awal waktu menuju shalat berjama’ah,
Ketiga, Berjalan dengan tenang ke masjid,
Keempat, Masuk masjid sambil berdo’a,
Kelima, Shalat tahiyatul masjid ketika masuk masjid,
Keenam, Menunggu jama’ah,
Ketujuh, Do’a permohonan ampunan oleh para Malaikat untuk mereka yang menghadiri shalat jama’ah,
Kedelapan, Kesaksian para Malaikat akan membela mereka,
Kesembilan, Menjawab iqamah,
Kesepuluh, Selamat dari setan ketika setan lari mendengar iqamah,
Kesebelas, Berdiri menunggu takbiratul ihram imam, atau masuk bersama imam dalam keadaan apa saja dia mendapatkan imam,
Keduabelas, Mendapatkan takbiratul ihram,
Ketiga belas, Meluruskan dan menutup celah-celah shaf,
Keempat belas, Menjawab ucapan Imam, “Sami’allahu liman hamidah”,
Kelima belas, Terhindari dari lupa pada umumnya dan mengingatkan imam apabila lupa atau memulai untuknya,
Keenam belas, Meraih shalat khusyu’ dan terhindar dari apa-apa yang membuat lalai pada umumnya,
Ketujuh belas, Pada umumnya dengan berjama’ah setiap jama’ah dapat memperbaiki tatacara shalatnya,
Kedelapan belas, Para Malaikat mengitari orang-orang yang shalat berjama’ah dengan sayap-sayap mereka,
Kesembilan belas, Melatih diri memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan mempelajari rukun-rukun Shalat dan bagian-bagian lainnya,
Kedua puluh, Menampakkan syi’ar Islam,
Kedua puluh satu, Menghinakan setan dengan berjama’ah dalam beribadah serta saling tolong menolong dalam ketaatan dan yang malas menjadi bersemangat,
Kedua puluh dua, Selamat dari penyakit kemunafikan dan terhindar dari buruk sangka orang bahwa ia meninggalkan shalat,
Kedua puluh tiga, Menjawab salam Imam,
Kedua puluh empat, Meraih keutamman dengan berkumpul dalam keadaan berdo’a dan berdzikir sehingga berkah yang sempurna dapat juga menyempurnakan yang kurang,
Kedua puluh lima, Tegaknya rasa saling kasih antara tetangga dan saling bertemu dalam waktu-waktu shalat,

Ini adalah dua puluh lima poin yang merupakan keutamaan shalat berjama’ah dibanding shalat sendirian, dan tersisa dua keutamaan yang terkait dengan shalat jahriyah, yaitu;

Kedua puluh enam, Mendengar dan menyimak dengan seksama bacaan Imam, dan
Kedua puluh tujuh, Membaca “Amin” bersamaan dengan bacaan ‘amin” imam agar bersesuaian juga dengan ucapan “amin” para Malakat. (Fathul Bari, 2/133)
(Sumber: 40 manfaat Shalat Berjama’ah, karya Syekh Abu Abdillah Musnid Al-Qahthani)

Peran Ulama dalam Sejarah Hari Santri Nasional

🌸 Peran Ulama dalam Sejarah Hari Santri Nasional 🌸
✍🏼 Oleh: Mahardy Purnama, Penulis dan Pemerhati Sejarah Islam

WahdahJakarta.com – Hari Ahad kemarin tepat jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017. Oleh pemerintah, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut fakta sejarah, tanggal tersebut adalah tanggal di mana KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama mengeluarkan resolusi jihad agar para ulama, tentara, santri, dan pemuda Islam berjihad fi sabilillah melawan penjajah sekutu Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang hendak menduduki Surabaya, Jawa Timur.

Resolusi Jihad, ditambah dengan pekikan Takbir Bung Tomo lewat Radio Pemberontakan di Surabaya membangkitkan semangat juang umat Islam Surabaya. Para ulama dan santri dari Jawa Barat dan Jawa Tengah berkumpul di Surabaya untuk menghadapi tentara sekutu dan NICA.

Meletuslah pertempuran dahsyat antara pejuang Indonesia melawan para penjajah di akhir bulan Oktober. Dengan bersenjatakan bambu runcing, tombak, parang, keris, umat Islam menghadapi tentara-tentara sekutu yang telah berpengalaman di Perang Dunia II. Atas, izin Allah, umat Islam berhasil membunuh pimpinan musuh, Brigjen Mallaby pada 31 Oktober 1945. Puncaknya, ketika perang dahsyat pecah pada tanggal 10 November di Surabaya, Perang Sabil. Banyak yang gugur dari kalangan umat Islam, begitu juga dari tentara Inggris. Peristiwa hebat ini sampai sekarang masih sering dikenang dan dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

22 Oktober, menunjukkan bahwa pentingnya peran ulama di tengah-tengah umat. Mereka yang mendidik umat, mengajarkan Islam yang benar, dan menggerakkan umat untuk menghadapi para penjajah yang ingin menguasai dan menginjak harga diri bangsa ini.

Sebenarnya, jumlah ulama dan santri tidaklah seberapa dibanding seluruh penduduk Pulau Jawa. Namun, kehadiran mereka di barisan terdepan umat Islam dapat membakar semangat masyarakat untuk melawan penjajah kafir. Mereka berani mati membela tanah air dan agamanya.

Dengan satu kalimat dari KH Hasyim Asy’ari lalu gema Takbir Bung Tomo, mampu menggerakkan umat Islam di seluruh Pulau Jawa untuk menghadapi penjajah kafir. Bambu yang biasa dipakai untuk bahan bangunan, digunakan sebagai senjata melawan penjajah. Sungguh luar biasa!

Tak pelak, keberadaan ulama di antara masyarakat Indonesia selalu menjadi ancaman terbesar bagi bangsa Eropa yang ingin menjajah Indonesia di setiap zaman. Dalam bukunya History of Java, Thomas Stamford Raffles menyebutkan bahwa ulama dan santri walaupun merupakan kelompok minoritas, hanya sepersembilan belas dari populasi di Pulau Jawa. Tapi jika mereka bekerjasama dengan para sultan atau pemegang kekuasaan politik Islam, menjadikan kaki penjajah Barat tidak dapat tegak berdiri dan aman.

Tenaga dan pikiran dikerahkan sepenuhnya oleh penjajah. Dana yang tidak sedikit mereka gelontorkan untuk menyingkirkan para ulama dari tengah-tengah umat Islam. Mulanya gerak-gerik para ulama dibatasi. Di antara mereka dilarang berkhutbah di surau dan masjid-masjid karena dapat menggerakkan rakyat melawan penjajah.

Kemudian dalam bidang pendidikan, para penjajah mendirikan sekolah ala Eropa, dengan maksud menandingi pesantren-pesantren yang dibangun serta dibina oleh para ulama. Anak-anak bangsawan dan pejabat disekolahkan di sekolah Eropa sehingga semakin jauh dari nilai-nilai Islam dan di kemudian hari dapat menjadi penentang utama para ulama.

Saat penjajah kafir menguasai kota-kota pelabuhan, umat Islam termasuk para ulama dan santri terdesak menuju pedesaan atau pedalaman. Tapi para penjajah tidak kehabisan akal, diterapkanlah sistem Tanam Paksa yang sangat menyengsarakan rakyat Indonesia selama hampir sembilan puluh tahun (1830-1919).

Dengan cara tersebut, selain memberikan keuntungan kepada penjajah, juga efektif untuk menjauhkan umat Islam dari ulamanya. Mereka dipaksa menanam kopi, tebu, tembakau, dan lainnya sepanjang hari, setiap hari, sehingga tidak ada waktu lagi bagi umat Islam untuk belajar dari ulamanya.

Penjajah kafir tak hentinya menangkap para ulama dan pejuang Islam kemudian mereka dengan cara sistem silang wilayah pembuangan, yang berasal dari Pulau Jawa dibuang ke luar Jawa. Yang dari luar Jawa, dibuang ke Pulau Jawa dan sebagainya.

Imam Bonjol, ulama dan tokoh Perang Padri tahun 1821 sampai 1837, dari Sumatera Barat dibuang ke Minahasa, Sumatera Utara. Kota yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Pangeran Diponegoro, tokoh utama Perang Diponegoro dari tahun 1825-1830 yang mengakibatkan kerugian besar bagi pihak kafir Belanda, dari Jawa Tengah dibuang ke Manado, Sulawesi Utara. Lalu dibuang lagi ke Makassar, Sulawesi Selatan hingga wafat di sana. Bahkan, di masa yang jauh sebelum itu, ada Syekh Yusuf Al-Makassari yang dibuang ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Memang dalam beberapa kasus, tindakan pembuangan berdampak pada menyebarnya Islam ke wilayah pembuangan. Tapi, di wilayah sebelumnya, masyarakat kehilangan sosok panutan yang bisa membangkitkan semangat mereka untuk berjuang melepaskan diri dari penjajahan.

👤 Pentingnya Ulama di Tengah Umat
Resolusi Jihad yang digemakan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari menunjukkan betapa pentingnya peran ulama di tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka adalah tokoh sentral dalam menghadapi para penjajah kafir.
Dapat dibayangkan bagaimana jika di negeri ini tidak ada lagi ulama yang mendidik umat. Manusia akan jauh dari agamanya, tersesat, menjadi lemah, bodoh, dan mudah dijadikan budak para penjajah kafir. “Kalau bukan karena ulama,” ucap Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “manusia akan menjadi seperti binatang ternak.”

Sangatlah pantas, jika pada hari ini umat Islam murka saat ulamanya dihina oleh orang-orang bodoh yang tidak paham akan sejarah bangsanya. Ulama tidak bisa dihapus dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Sejak pertama kali penjajah Portugis datang ke Nusantara abad ke-16, para ulama dan sultan lah yang dengan gagah berani menghadapi mereka. Menggerakkan rakyat untuk mengangkat senjata. Bukan yang lain, bukan para pembangun candi dan stupa, apalagi para penyembah kayu salib.

Sayangnya, peran ulama pada hari dikaburkan dalam sejarah bangsa kita. Generasi muda bangsa asing dengan nama-nama pejuang Islam semisal Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Agus Salim, Mohammad Natsir, Wahid Hasyim, Haji Umar Said Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Jenderal Sudirman, dan masih banyak lagi. Peran mereka terlupakan oleh generasi Islam pada hari ini. Kita melupakan sejarah bangsa kita.

✊🏼 Jihad Andalusia
Berbicara tentang peran ulama kita menggerakkan umat untuk berjihad mengingatkan kembali dengan peristiwa yang terjadi di bumi Andalus, negeri Islam yang hilang. Saat itu, pada tahun 456 Hijriyah (1064 M), pasukan Kristen Norman dan Prancis menyerang Bobastro, salah satu kota Muslim di Andalusia dan membantai lebih dari 40 ribu penduduk Musim di sana.

Bani Umayyah yang pernah berjaya dengan Kota Cordoba-nya telah runtuh. Umat Islam terpecah belah, masing-masing pemimpin Islam memiliki wilayah kekuasaan sendiri. Masa ini dikenal dengan masa Muluk Ath-Thawaif. Islam terbagi menjadi lebih dari 20 wilayah dengan penguasa masing-masing yang saling berselisih. Pemimpin-pemimpin Islam tak bergerak menghadapi serangan Kristen. Mereka tak berdaya, disibukkan oleh dunianya masing-masing.
Lalu hadirlah seorang ulama besar Andalusia yang lama belajar di Timur Tengah, Abu Al-Walid Al-Baji. Al-Baji menggerakkan rakyat dan menyeru penguasa dan umat Islam agar berjihad melawan kaum Kristen.

Seruan Al-Walid membuat penguasa Muslim bergerak diikuti oleh penduduk Muslim lainnya. Di antara mereka yang ikut berjihad adalah Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Hazm. Ulama lainnya yang bergabung adalah kakek dari Ibnu Rusyd (Ibnu Rusyd penulis Bidayatul Mujtahid). Umat Islam berjihad melawan kaum Salib selama sembilan bulan dan dengan pertolongan Allah umat Islam berhasil merebut kembali Bobastro.

Abul Walid Al-Baji, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hazm, adalah sederet ulama yang berjasa memperbaiki umat di saat umat telah terlenakan dengan dunianya. Hampir saja Andalusia runtuh, tapi, berkat kegigihan para ulama Rabbani semisal mereka menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, Andalusia yang hampir runtuh dapat bertahan hingga empat ratus tahun lagi.

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/peran-ulama-dalam-sejarah-hari-santri-nasional/

Mohon ketika menyebarkan, harap sertakan sumbernya dan jgn dihapus 🙏🏼

📖 Dapatkan artikel islami lainya di 👉 http://wahdah.or.id/

💖 Silahkan SEBARKAN dan semoga Allah memberikan PAHALA atas berbagi ilmu ini

💖 Daftar Broadcast Wahdah.Or.Id
Ketik nama lengkap – daerah – wi
Contoh:
Irhamullah – Yogyakarta – WI
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +6281 383 787678

👍 Facebook s.id/FBWahdah
📲 Instagram https://www.instagram.com/wahdah_islamiyah/
📩 Telegram s.id/TelegramWahdah
🐣 Twitter s.id/TwitterWahdah
🌐 www.wahdah.or.id

 

Sejarah Hari Santri Nasional

Setiap Kebaikan Berpahala Sedekah

Setiap kebaikan adalah sedekah

Setiap kebaikan adalah sedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat mulia. Sebab sedekah merupakan burhan (bukti) iman seorang Muslim. Sedekah juga memiliki banyak keutamaan, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits-haditsnya.

Sedekah tidak selamanya dengan harta, karena pahala sedekah dapat diraih dengan melakukan kebaikan apapun. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda;

«كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ »

Setiap kebaikan adalah sedekah” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan manusia dengan niat baik tergolong sedekah yang diganjar pahala oleh Allah Ta’ala. Artinya sedekah tidak terbatas pada apa yang dikeluarkan seseorang berupa harta, sehingga setiap yang mampu berbuat baik terhitung sebagai orang yang bersedekah, baik kaya maupun faqir.

Oleh karena itu dalam hal ini orang kaya dan miskin memiliki peluang yang sama untuk meraup pahala sedekah, yakni dengan melakukan kebaikan walaupun kecil. Seperti tersenyum atau memasukkan perasaan riang dan suka cita ke dalam hati sesama. Sebab, “Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah”. Dalam hadits lain baginda Rasul juga mewanti-wanti untuk tidak meremehkan suatu kebaikan sama sekali. “Janganlah kamu meremehkan suatu kebaikan sedikitpun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri”. [sym].

Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).

Tidak Dapat Membalas Kebaikan? Doakan!

Membalas Kebaikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من استعاذكم بالله فأعيذوه، ومن سألكم بالله فأعطوه، ومن أتى إليكم معروفا فكافئوه، فإن لم تجدوا فادعواله)) أخرجه البيهقي ((
“Barangsiapa meminta perlindungan kepadamu dengan nama Allah maka lindungilah dia, barangsiapa meminta sesuatu kepadamu karena Allah maka penuhilah permintaannya, dan barangsiapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah kebaikan tersebut, jika kamu tidak dapat membalas kebaikan tersebut maka do’akanlah dia”. (HR. al-Baihaqi, 4/199, Abu Daud, no. 1672, dan An-Nasai, no. 2566; dishahihkan Syekh al-Albani).

Pelajaran Hadits:
1. Siapa yang datang memohon perlindungan dan suaka dalam urusan tertentu wajib dilindungi selama ia berada di atas kebenaran. Demikian pula orang yang dimintai sesuatu atas nama Allah, jika mampu maka ia harus memberikan apa yang diminta.
2. Memohon perlindungan kepada makhluq dalam urusan yang dimampui dan disanggupi makhluq adalah boleh. Boleh pula meminta ketika membutuhkan.
3. Wajibnya membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita, jika tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan maka hendaknya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuknya. [sym].
(Sumber: Kitab Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al Birr Wa as Shilah, hlm. 598, Karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).
Artikel:http://wahdah.or.id

orang bertaqwa

Orang Bertaqwa Selalu Melakukan Perbaikan Diri

Ciri Orang yang Bertaqwa

Salah satu ciri dan sifat utama orang bertaqwa adalah selalu melakukan perbaikan diri secara berkesinambungan. Mereka adalah orang yang sejak awal berusaha menghindari dosa dan maksiat. Sejak awal mereka berhati-hati terhadap dosa dan maksiat. Sikap mereka terhadap dosa seperti orang yang melintasi jalan licin yang penuh dengan onak dan duri. Yakni selalu melihat dan mengamati, dimana harus meletakkan kakinya agar tidak terpeleset serta tidak menginjak duri. Begitulan orang bertaqwa dalam menjalani hidup.

Namun sebagai manusia tentu tidak luput dari salah dan dosa. Karena asalnya manusia tak pernah luput dari salah dan dosa. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi, “Semua anak cucu Adam banyak salah, namun sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat”. Demikianlah sifat orang bertakwa. Dalam surat Ali Imran ayat 133-135 Allah menyebutkan beberapa ciri dan sifat orang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman;

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. “.

Orang Bertaqwa Segera Mengingat Allah

Salah satu ciri orang bertaqwa dalam ayat tersebut adalah segera ingat Allah ketika berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada-Nya dan meninggalkan dosa serta tidak mengulanginya lagi. Hal itu dilandasi oleh pengetahuan mereka bahwa tidak ada yang mengampuni dosa selain Allah Ta’ala. Menurut Imam Ibn Katsir bahwa makna ayat tersebut adalah, “Jika mereka melakukan dosa, maka mereka segera menyusulnya dengan taubat dan istighfar”. Semakna dengan Ibn Katsir Syekh As Sa’di mengatakan tentang makna ayat tersebut, “(Orang bertakwa itu) jika melakukan keburukan berupa dosa besar atau [dosa] yang di bawahnya (dosa kecil), maka mereka bersegera melaukan taubat dan istighfar serta ingat kepada Allah dan ancaman-Nya kepada para pelaku maksiat serta janji-Nya kepada orang bertaqwa, lalu mereka meminta ampun atas dosa-dosa mereka dan ditutupi aib-aib mereka, hal itu mereka sertai dan iringi dengan meninggalkan dan menyesali dosa tersebut.

Hal ini menunjukan bahwa yang membuat orang-orang bertakwa lebih istimewa bukan karena tidak pernah berbuat salah dan dosa sama sekali. Tapi yang menyebabkan mereka istimewa adalah sikap dan cara pandang mereka terhadap dosa dan kesalahan. Sejak awal mereka berusaha dengan sungguh-sungguh meninggalakan serta menghindari dosa dan maksiat. Dan ketika terjatuh mereka segera menyadari dan mengakui kesalahan tersebut, lalu meninggalkannya kemudian memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah pada lanjutan ayat tersebut, “. . . dan mereka tidak melanjutkan dosa tersebut, dan mereka tahu”. Artinya tatkala terjatuh dalam dosa dan sadar bahwa mereka berdosa, mereka segera ingat Allah, kemudian beristighfar kepadaNya. Sebab mereka tahu bahwa, “tidak ada yang mengampuni dosa melainkan Allah”.

Menjadi manusia taqwa bukan menjadi manusia tanpa noda dan dosa sama sekali. Tapi upaya menjadi orang bertakwa artinya menapaki jalan perbaikan diri secara terus-menerus dengan menghindari dosa, selalu mengiringi perbuatan buruk dengan taubat, istighfar dan kebaikan lainnya. Sebagaimana wasiat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam,Bertaqwalah kepada Allah kapan dan dimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan perbuatan baik niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan keburukan, dan bersikaplah kepada manusia dengan akhlaq yang baik”. (terj. HR. Tirmidzi).

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa kebaikan dapat menghapus keburukan atau dosa. Hal ini sejalan pula dengan beberapa ayat al-Qur’an diantaranya firman Allah dalam surah Hud ayat 114, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan”. Dan tak dapat dipungkiri bahwa kebaikan nomor urut pertama sebagai penghapus dosa dan keburukan adalah taubat dan istighfar sebagaimana dikatakan oleh para Ulama, diantaranya Imam An-Nawai, Syekh Al-Utsaimin, dam Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad.

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa makna “Wa atbi’iss ayyiah al hasanah tamhuha” adalah, “jika kamu berbuat keburukan maka beristighfar (mohon ampun) lah kepada Allah Ta’ala atas dosa tersebut lalu kerjakan kebaikan setelahnya, niscaya istighfar dan taubat tersebut akan menghapuskan keburukan itu”. Senada dengan Imam An-Nawawi Syekh Al-Utsaimin mengatakan bahwa makna mengikuti keburukan dengan kebaikan adalah, “engkau bertaubat kepada Allah dari keburukan tersebut, karena taubat merupakan kebaikan”. Syekh Al-Abbad juga mengatakan bahwa makna, “Wa atbi’issayyiah al hasanah tamhuha”, adalah, “Ketika seseorang melakukan keburukan hendaknya bertaubat dari keburukan tersebut, karena taubat merupakan kebaikan yang menghapuskan perbuatan (buruk) sebelumnya”.

Oleh karena itu mari selalu tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan selalu memperbaiki diri secara berkesinambungan melalui taubat dan istighfar. Jangan bosan memperbaharui taubat dan istighfar kita, meskipun kadang kita terjatuh ke dalam keburukan dan dosa yang sama. Sebab boleh jadi nyawa kita dicabut oleh Allah disaat setelah memperbaharui taubat dan istighfar kita. [sym], (Tulisan ini pernah dimuat pada rubrik Materi Khutbah Majalah Tabligh, No/10/XIV November 2016/Shafar 1438).