Menunjukkan Kebaikan Pada Orang Lain, Dapat Pahala Seperti Yang Melakukannya

Menunjukkan Kebaikan

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Siapa yang menunjukkan kebaikan kepada seseorang, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya” (HR. Muslim).

Pelajaran Hadits:
1. Hadits ini menunjukan bahwa orang yang menunjukkan kebaikan pada orang lain, akan memperoleh pahala yang sama dengan yang melakukan kebaikan tersebut, tanpa dikurangi sama sekali.
2. Kebaikan dimaksud berlaku umum, baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.
3. Keutamaan ini juga berlaku bagi semua pihak yang berperan dan terlibat sebagai perantara kebaikan bagi orang lain. Seperti menjadi panitia pengajian, fasilitator majelis ilmu, donatur proyek-proyek kebaikan lainnya, dan sebagainya.
Oleh karena itu jangan remehkan peran dan andil dalam suatu program kebaikan. Sebab sekecil apapun suatu peran takkan tersia-siakan. (sym).

Furqon buah iman dan taqwa

Furqan, Buah Iman & Taqwa Yang Didamba

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Qs. Al-Anfal:29).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan balasan bagi hamba-hambaNya yang bertakwa. Balasan tersebut berupa karunia yang banyak di dunia dan akhirat. Hal itu menunjukkan pentingnya merealisasikan taqwa dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, “Merealisasikan ketakwaan kepada Allah merupakan alamat kebahagiaan dan tanda keberuntungan”. (Syekh as-Sa’diy).

Dalam ayat ini Allah sebutkan empat diantaranya, yakni (1) Furqan, (2) Penghapusan Keburukan, (3) Pengampunan [Dosa], dan (4) Pahala yang Besar. Namun dalam tulisan ini akan dijelaskan salah satu saja, yakni Furqan, dan sebelumnya akan diuraikan secara singkat terlebih dahulu makna Taqwa.

Apa Itu Taqwa?

Beragam definisi takwa yang disebutkan oleh para ulama. Meskipun beragam definisi yang mereka tidak bertentangan satu sama lain. Karena semua definisi yang mereka kemukakan mewakili dan mencakup substansi dan hakikat takwa itu sendiri. Namun dalam tulisan ini hanya akan dikutip makna takwa yang dikemukakan oleh Tabi’in yang mulia Thalq bin Habib rahimahullah.
Beliau mengatakan bahwa takwa itu adalah, “engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan (panduan) cahaya (petunjuk) Allah karena mengharap pahala[Nya] Allah, dan engkau meninggalkan apa yang dilarang Allah berdasarkan cahaya Allah karena takut kepada adzab Allah”.
Jadi makna dan hakikat takwa menurut Thalq bin habib adalah mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya berdasarkan cahaya (petunjuk) Allah dan dimotifasi oleh apa yang dijanjikan oleh Allah berupa pahala dan siksa. Artinya dalam melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat harus didorong oleh semangat meraih pahala Allah dan menghindari adzab-Nya serta harus berdasarkan ilmu.

Apa Itu Furqan?
Allah Ta’ala menjanjikan furqan kepada orang-orang bertakwa. Allah berfirman, “Jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan berikan furqan kepada kalian”. Furqan mengandung beberapa makna. Ada beberapa makna furqan yang dikemukakan para Mufassir, mulai dari Mufassir kalangan Sahabat seperti Ibnu Abbas, Tabi’in, Atbaut Tabi’in, para ulama salaf lainnya seperti Ibnu Katsir sampai Ulama kontemporer seperti Syekh ad Sa’diy, Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili.
Berdasarkan penelusuran penulis ada sepuluh makna Furqan yang disebutkan para Mufassir, yakni;
(1) Makhraj (jalan keluar). Menurut Imam Mujahid maksudnya jalan keluar di dunia dan akhirat. Sedangkan menurut Asy Syaukani jalan keluar dari fitnah syubhat.
(2) Najah (Keselamatan), menurut Asy Syaukani selamat dari yang ditakuti.
(3) Nashr (pertolongan),
(4) Fashl bainal haqq wal batil (Pemilah antara Haq dan batil),
(5) Cahaya,
(6) Ilmu nafi’,
(7) Tsabatul Qulub (keteguhan hati)
(8) Quwatul bashirah (Kekuatan mata hati),
(9) Hidayah (petunjuk), dan
(10) Bayan[an] (penjelasan).
Dari kesepuluh makna di atas yang paling masyhur di kalangan Mufassir adalah makna yang keempat yang merupakan pendapat Muhammad bin Ishaq rahimahullah, sebagaimana dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir, Syekh As Sa’diy, Buya Hamka dan yang lainnya.

Menurut Ibn Katsir makna furqan sebagai pemilah antara haq dan batil lebih umum dari makna yang lainnya sekaligus mencakup seluruh makna tersebut. Karena, “Siapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka ia akan diberi taufiq untuk mengenali yang haq dan batil, sehingga hal tersebut menjadi sebab ia memperoleh pertolongan dan keselamatan, serta jalan keluar dari berbagai urusan dunia dan (menjadi sebab) kebahagiaanya pada hari kiamat dan penghapusan kesalahan-kesalahannya,”. (Tafsir Ibn Katsir, 2/1227).

Semakna dengan Ibn Katsir, Syekh Abdurrahman bin Nashir As sa’di mengatakan tentang makna furqan, “Ia adalah ilmu dan petunjuk yang dengannya pemiliknya mampu membedakan antara hidayah dengan kesesatan, haq dengan batil, halal dengan haram, serta antara orang bahagia dengan yang sengsara”. (Taisir KarimirRahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hlm.319).

Senada dengan Ibn Katsir dan Syekh As Sa’diy, Mufassir Nusantara Buya Hamka juga menafsirkan kata furqan dalam ayat ini dengan “kesanggupan membedakan mana yang buruk denngan yang baik, yang mudharat dengan yang manfaat, yang hak dengan yang batil”. (Tafsir Al Azhar, 9/297). Menariknya Buya mengaitkan furqan yang merupakan buah dari takwa dengan iman. “Sebab itu al Furqan adalah buah dari takwa, dan takwa dalah akibat dari iman”, jelasnya. “Bertambah iman, bertambahlah tinggi takwa, maka bertambah halus pulalah kekuatan Al Furqan dalam jiwa kita”, lanjutnya.
Mari pupuk dan siram iman dan taqwa di hati dengan menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Semoga Allah mengaruniakan furqan. [sym].

Lima Prinsip Hidup Bahagia Seorang Muslim

lima prinsip hidup bahagia seorang Muslim

Lima pinsip hidup bahagia seorang Muslim; (1) Bahagia di Jalan Allah (Sabilu[i]llah, shiratullah, (2) 2. Menggabungkan Kebahagiaan Ruh dan Jasad, 3. Kebahagiaan dan Keberanian Menghadapi Resiko Hidup, (4) Kebahagiaan adalah Ketenangan Hati, dan (5) Berpindah dari kebahagiaan dunia pada kebahagiaan Akhirat

Setiap manusia menghendaki kehidupan yang bahagia. Akan tetapi setiap manusia memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda dalam mengukur kebahagiaan. Karena yang paling memengaruhi seseorang dalam mengukur kebahagiaan adalah prinsip dan pandangan hiudp yang dipijakinya.

Bagi seorang Muslim, kebahagiaan tidak selalu berupa kemewahan dan keberlimpahan materi duniawi. Berikut ini lima prinsip hidup bahagia seorang Muslim dalam konsep hidup Islam. dalam tulisan ini akan menguraikan beberapa prinsip hidup bahagia menurut Islam.

1. Bahagia di Jalan Allah (Sabilu[i]llah, shiratullah
Allah Ta’ala berfirman:

[ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦:١٥٣

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Qs. Al-An’am: 153).

Kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan meniti jalan yang digariskan oleh Allah. Yang dimaksud dengan meniti jalan Allah adalah menaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dengan ikhlas dan benar. Ayat 153 surah al-An’am diatas sebelumnya didiahului dengan penjelasan tentang beberapa perintah dan larangan Allah kepada orang beriman. Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa orang yang meninggalkan jalan yang digariskan oleh Allah akan, tidak tenang dan tidak bahagia. Karena ia akan mencari jalan dan sumber kebahagiaan pada jalan yang dibuat dan digariskan oleh selain Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

[ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (surat Thaha [20]: 123.

2. Menggabungkan antara Kebahagiaan Ruh dan Jasad

Manusia terbentuk dari ruh dan jasad. Masing-masing dari keduanya membutuhkan gizi dan nutrisi yang harus dipenuhi secara adil. Sebagian kalangan hanya menekankan aspek ruh dan mengabaikan kebutuhan jasad. Sebaliknya sebagian yang lain hanya menekankan pemenuhan kebutuhan jasad dan mengabaikan kebutuhan ruh. Adapun petunjuk Islam memenuhi kebutuhan keduanya (ruh dan jasad) secara adil. Ruh dipenuhi kebutuhannya dengan cahaya wahyu dari langit dan menjaga kesehatan jasad dengan pememenuhan hajat syahwat dan syahwat melalui cara yang halal dan thayyib.

Allah Ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Surah al-Qashash [28]:77).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada ummatnya untuk menunaikan hak kepadapemiliknya masing-masing. “Sesungguhnya Rabbmu punya haq darimu, dirimu punya haq darimu, keluargamu juga punya hak, maka berilah setiap hak kepada pemiliknya” (Terj. HR. Bukhari).

3. Kebahagiaan dan Keberanian Menghadapi Resiko Hidup
Barangsiapa yang telah menikmati manisnya Iman, maka ia takkan pernah mau meninggalkannya, kendati pedang diletakkan di lehernya. Sepertimana tukang sihir Fir’aun yang tegar menghadapi ancaman potong tangan-kaki dan salib;
قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ ۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَىٰ [٢٠:٧١

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. (Qs Thaha [20]:71). Mereka tetap teguh dan tegar sebagaimana diabadikan oleh Allah;

 

قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا [٢٠:٧٢]

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (Qs Thaha [20]:72).

Tidak ada sesuatupun yang meneguhkan dan menegarkan mereka, kecuali karena mereka telah merasakan lezat dan manisnya keimanan. Sehingga mereka merasakan ketenangan batin dan ketegaran saat menghadapi ancaman, termasuk ancaman pembunuhan sekalipun.

4. Kebahagiaan adalah Ketenangan Hati

Tiada kebahagiaan tanpa sakinah (ketenangan) dan thuma’ninah (ketentraman).Dan tiada ketenangan dan ketentraman tanpa iman. Allah Ta’la berfirman tentang orang-orang beriman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (Qs Al-Fath: 4).

Keimanan melahirkan kebahagiaan dari dua sisi (1) Iman dapat menghindarkan dan memalingkan seseorang dari ketergelinciran ke dalam dosa yang merupakan sebab ketidak tenangan dan kegersangan jiwa. (2) Keimanan dapat menjadi sumber utama kebahagiaan, yakni sakinah dan thuma’ninah. Sehingga di tengah lautan probematika dan krisis hidup tidak ada jalan keluar dan keselamatan selain Iman.

Oleh karena itu orang yang tanpa iman di hatinya dipastikan akan selalu dirundung rasa takut, was-was, kahwatir, gelisah, galau. Adapun bagi orang beriman. Adapun bagi orang beriman tidak ada rasa takut sama sekali, selain takut kepada Allah Ta’ala. Hati yang dipenuhi iman memandang remeh setiap kesuliatn yang menghimpit, kerana orang beriman selalu menyikapi segala persoalan dengan tawakkal kepada Allah. sedangkan hati yang kosong, tanpa iman tak ubahnya selembar daun rontok dari dahannya yang diombang-ambingkan oleh angin.

5. Berpindah dari kebahagiaan dunia pada kebahagiaan Akhirat

Pasca kehidupan dunia, akan memasuki kehidupan di alam kubur bakda kematian dan selanjutnya kehidupan di negeri akhirat setelah hari kiamat. Dan jalan-jalan kebahagiaan akan menyertai manusia dalam tiga fase kehidupan tersebut (dunia, alam kubur,& hari akhir) Dalam kehidupan dunia Allah Ta’ala telah menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang beriman dan beramal shaleh:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٦:٩٧

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Qs An-Nahl [16]:97).

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh akan dihidupkan di dunia dengan kehidupan yang baik; bahagia, tenang, tentram, meski hartanya sedikit. Adapun kebahagiaan di alam kubur, seorang Mu’min akan dilapangkan kuburannya, sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, seorang Mu’min dalam kuburannnya benar-benar berada di taman yang hijau, dilapangkan kuburannya sejauh tujuh puluh hasta, dan disinari kuburannya seperti –terangnya- bulan di malam purnama” (dihasankan oleh al-Albaniy).

Sedangkan kebahagiaan di akhirat Allah berjanji akan tempatkan dalam surga dan kekal di dalam selama-lamanya jelaskan dalam Hud ayat 108,

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya” (Terj. Qs Hud [11]:108)

Dengan iman seorang hamba dapat meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Jadi, Islam telah datang dengan konsep dan jalan kebahagiaan yang abadi, yang mencakup kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Meskipun demikian Allah telah menjadikan kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai dua sisi yang saling terkait dan terpisah. Sehingga keduanya tidak perlu dipertentangkan. Sebab keduanya adalah satu. Keduanya adalah jalan yang satu. Allah mengingatkan bahwa siapa yang menghendaki balasan dunia, maka Allah memiliki balasan di dunia dan akhirat;

مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.(Qs An-Nisa [4]: 134). Namun bagi seorang Muslim yang beriman bahwa kebahagiaan yang ada disisi Allah jauh lebih baik dan kekal abadi. (sym)

Artikel: http://wahdah.or.id

Baca juga: Nikmatnya Ibadah Ikhlas dan Khusyu’

syafa'at

Syarat Syafa’at

Secara umum syafa’at menurut al-Qur’an terbagi dua, yakni syafa’at mutsbatah dan syafa’at manfiyyah. Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an atau diterima oleh Allah. Sedangkan syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang dinafikan ditolak. Syafa’at yang ditolak adalah syafa’at yang datang dari orang musyrik dan atau syafa’at untuk orang musyrik. Sedangkan syafa’at yang diterima adalah syafa’at dari dan atau untuk orang beriman dan bertauhid yang memenuhi syarat serta mendapat idzin ridha dari Allah.

Syafa’at yang ditetapkan oleh Al Qur’an dan diterima oleh Allah hanya bagi orang bertauhid dan beriman, yang memenuhi dua syarat yaitu;
1. Idzin Allah kepada syafi’i (pemberi syafa’at) untuk memberikan syafa’at, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam beberapa ayat, diantaranya Surah Al-Baqarah ayat 255 dan Saba ayat 23;
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).
وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
Tiada bermafaat syafa’at di sisi-Nya kecuali bagi orang yang telah diidzinkan-Nya”. (terj. Qs. Saba:23).
Kedua ayat tersebut menafikan syafa’at yang tidak mendapat idzin dari Allah.
Yang berlaku dan berguna hanya syafa’tnya yang telah mendapat idzin dari Allah.

  1. Ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan penerima untuk menerima syafa’at, sebagaiamana firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 28;
    وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ ﴿٢٨﴾
    Dan mereka (Malaikat) tidak dapat memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai (Allah)”, (terj. Qs. Al-Anbiya:28).
    Kedua syarat di atas juga terrangkum secara bersamaan dalam satu ayat pada firman Allah, Surah an-Najm ayat 26 dan Thaha ayat 109;
    وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦﴾

Dan berapa banyak Malaikat di langit, syafa’at mereka tidak tidak berguna sedikitpun, kecuali seudah Allah mengidzinkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan diridhai-Nya”. (terj. Qs. An-Najm:26).
يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا ﴿١٠٩﴾
Pada hari itu tidak bermanfa’at syafa’at kecuali dari orang yang diidzinkan oleh Ar Rahman dan Dia ridhai perkataanya”. (terj. Qs. Thaha: 109).

Kedua ayat di atas mengabarkan bahwa syafa’at hanya berlaku bila ada idzin dan ridha dari Allah. Yakni idzin kepada pemilik syafa’at dan ridha kepada pemberi dan penerima syafa’at. Maksudnya idzin dan ridha kepada pemberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha-Nya kepada penerima syafa’at untuk menerima syafa’at. Ahli tauhid sekalipun tidak memiliki syafa’at , kecuali setelah mendapat idzin dan ridha dari Allah. Bahkan Malaikat sekalipun, sebagaimana dalam ayat di atas, syafa’at mereka tidak berlaku sama sekali kecuali dengan idzin dan ridha Allah. Jika Malaikat saja yang disifati oleh Allah sebagai hamba-hamba yang mulia (‘Abadun Mukramun) , tidak berguna syafa’at merea tanpa idzin dan ridha Allah, bagaimana dengan selain mereka. Oleh karena itu ahli Tauhid pun tidak memiliki syafa’at, kecuali setelah ada idzin dan ridha Allah, berdasarkan firman Allah dalam surah Al-baqarah ayat 255, “Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).

syafa'at

syafa’at

Ustadz Zaitun Hadiri Pelantikan Gubernur DKI Jakarta

Pelantikan Gubernur DKI Jakarta, Semoga Taufiq Allah Senantiasa Mengiringi

Pelantikan Gubernur Jakarta. Ust. Zaitun: Selamat, Semoga Taufiq Allah Senantiasa Mengiringi

WahdahJakarta.com – Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ust. Muhammad Zaitun Rasmin menghadiri pelantikan Gubernur DKI Jakarta  Anis Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, Senin (16/10/17) di Balaikota Jakarta.

Gubernur lama (Plt.) Djarot Saifulhidayat tidak hadir dalam acara ini. Serah terima kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru diwakilkan kepada Soni Sumarsono dari Ditjen Otonomi Daerah.

Anies-Sandi akan menjalankan amanah kepemimpinan selama periode 2017-2022.

Dalam sambutannya Anies mengatakan, “In syaa Allah kami akan langsung kerja. In syaa Allah Jakarta akan lebih baik.”

Ust. Zaitun turut menyatakan selamat atas dilantiknya gubernur dan wakil gubernur baru, Anis-Sandi. “Selamat mengemban amanah, semoga taufiq Allah senantiasa mengiringi”, ungkap beliau.

Selain dihadiri oleh para pejabat negara dari berbagai kementerian, duta besar beberapa negara, dan tokoh-tokoh masyarakat, acara ini juga dimeriahkan berbagai kesenian daerah.

Masyarakat Jakarta sangat antusias menyambut gubernur barunya. Hal ini terlihat dari tumpah ruahnya para pengunjung acara di dalam maupun di luar gedung. Acara berlangsung tertib dan damai dari awal hingga usai. [ibw]

berwasiat

Berwasiat Untuk Dikuburkan di Suatu Tempat, Tapi Ditolak Oleh Pengelola Pemakaman

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بع

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.
Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit. (sym)

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222

Hanya Ini Syafa’at yang Diterima

syafa'at yang diterima

Muqaddimah

Salah satu bagian dari prinsip dan pokok aqidah Islam adalah mengimani seluruh rukun iman yang enam. Yakni Iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir, serta mengimani takdir baik dan buruk. Tidak sempurna keimanan seseorang bila menolak dan mengingkari salah satu dari keenam rukun iman tersebut.
Tulisan ini akan menguraikan secara singkat tentang syafa’at yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir. Kerena iman kepada hari akhir mencakup beberapa hal diantaranya:

(1) Mengimani adanya hari kebangkitan (ba’ts) setelah kematian,
(2) Mengimani adaanya balasan (jaza) dan perhitungan amal (hisab),
(3) Mengimani berbagai peristiwa yang terjadi pada hari kiamat seperti syafa’at, -mendatangi- haudh, -melintasi-shirath, mizan (timbangan amal), dan penyerahan-penerimaan mashahif (buku catatan amal),
(4) Mengimani keberadaan neraka dan surga, serta
(5) Hal-hal lain yang menyertai peritiwa hari kiamat, seperti tanda-tanda hari kiamat, peniupan sangka kala, peristiwa kiamat itu sendiri, fitnah kubur serta nikmat dan adzab kubur.

Pengertian Syafa’at

Kata syafa’at berasal dari kata asy Syaf’u yang bermakna genap lawan dari kata al-witru (ganjil), yaitu menjadikan sesuatu yang ganjil menjadi genap.
Sedangkan menurut istilah, syafa’at adalah penengah atau perantara bagi yang lain dengan mendatangkan suatu kemanfaatan baginya atau menolak mudharat.
Syafa’at mmerupakan bagian dari do’a sehingga tidak boleh diminta kepada selain Allah dan atau selain yang direstui dan diridhai Allah.

Macam-macam Syafa’at

Secara umum syafa’at menurut al-Qur’an terbagi dua, yakni syafa’at mutsbatah dan syafa’at manfiyyah. Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an atau diterima oleh Allah. Sedangkan syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang dinafikan ditolak. Syafa’at yang ditolak adalah syafa’at yang datang dari orang musyrik dan atau syafa’at untuk orang musyrik. Sedangkan syafa’at yang diterima adalah syafa’at dari dan atau untuk orang beriman dan bertauhid yang memenuhi syarat serta mendapat idzin ridha dari Allah.
Adapaun syafa’at yang diterima (mutsbatah) ada enam, yakni;

    1. Syafa’at ‘Udzma (syafa’at agung) kepada para ahli mauqif untuk ditegakkan qadha atas mereka. Inilah yang disebut sebagai al-maqam al-mahmud (posisi paling terpuji) yang hanya dimiliki oleh nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    2. Syafa’at kepada penduduk surga untuk memasukinya, dan yang pertama memasukinya adalah Nabi kita shallallahu ‘alaihi Wa sallam..
    3. Syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya untuk diringankan siksaannya,
      Ketiga macam syafa’at tersebut merupakan kekhususuan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak satupun selain beliau memiliki hak untuk memberikan syafa’at dalam tiga hal tersebut.
      Selanjutnya tiga jenis syafa’at berikut ini umum bagi para para nabi dan Rasul lainnya, para syuhada fi Sabilillah, orang-orang beriman, Al-Qur’an dan puasa. Ketiga jenis syafa’at tersebut adalah..
    4. Syafa’at kepada orang yang berhak masuk neraka agar tidak masuk ke dalamnya.
    5. Syafa’at kepada orang yang masuk neraka untuk keluar darinya.
    6. Syafa’at kenaikan derajat bagi penghuni surga.

Setiap Nabi dan Rasul masing-masing akan memberikan syafa’at kepada ummat dan kaumnya. Termasuk Nabi kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau akan memberikan syafa’at kepada ummatnya yang telah diputus atau divonis masuk neraka, lalu dengan syafa’at beliau mereka tidak dimasukan ke dalamnya. Demikian pula dengan orang yang telah masuk ke dalamnya. Mereka dikeluarkan setelah mendapat syafa’at dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu hal tersebut hanya berlaku bagi ummatnya yang tauhidnya masih bersih dan tidak tercampuri oleh kesyirikan. Syafa’at tersebut juga berlaku bagi orang yang timbangan kebaikannya sama dengan keburukannya, lalu Nabi memberi syafa’at kepada mereka untuk dimasukkan ke dalam surga. Nabi juga akan memebri syafa’at kepada sekelompok ummatnya untuk masuk surga tanpa hisab. Demikian pula syafa’at kepada ummatnya yang telah masuk syurga. Mereka mendapat syafa’at dari Nabi dan dari yang lainnya (diantaranya hafalan dan bacaan al Qur’an) untuk naik tingkat menempati surga yang derajatnya lebih tinggi.

Selain para Nabi dan Rasul kaum Mu’minin secara umum dan para syuhada secara khusus akan memberikan syafa’at dalam tiga atau salah satu dari ketiga jenis syafa’at di atas. Disebutkan bahwa salah satu keutamaan yang akan diperoleh para syuhada adalah dapat memberi syafa’at kepada 70 orang keluarganya.
Puasa dan Al-Qur’an juga termasuk pemberi syafa’at kepada orang-orang beriman pada hari kiamat nanti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa, “Pada hari kiamat al-Qur’an akan datang sebagai pemberi syafa’at kepada para sahabatnya”. Dalam hadits lain beliau menyampaikan bahwa puasa dan al-Qur’an akan datang memberikan syafa’at.Wallahu a’lam bis shawab. (sym).

Anjuran Melihat Kepada yang Lebih Rendah dalam Masalah Nikmat

Anjuran melihat kepada yang lebih rendah dalam masalah nikmat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم (متفق عليه)
Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena hal itu dapat menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian”. (Muttafaq ‘alaih).

Pelajaran Hadits

Hadits ini merupakan dalil tentang kewajiban mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dan anjuran untuk bersikap qana’ah. Dan untuk menumbuhkan sikap qana’ah hendaknya memandang kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia. Karena bagaimanapun faqirnya seorang hamba, pasti akan menemukan orang yang lebih faqir darinya. Bagaimanapun sakitnya seseorang, akan menemukan orang yang penyakitnya lebih parah.

Demikian pula jika ia melihat pada kekurangan fisiknya, tetap akan menemukan orang yang lebih memiliki kekurangan. Sehingga ketika memandang kepada dirinya dan menemukan kesehatan fisik, akan ingat kepada Allah lalu bersyukur kepada-Nya serta mendapatkan ketenangan jiwa.

Hal ini berbeda dengan urusan ketaatan. Dalam urusan ketaatan hendaknya seseorang melihat kepada orang yang berada di atasnya serta menganggap dirnya sebagai orang yang memiliki banyak kekurangan dan kelalaian. (sym).

(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 586, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

syahadat

Makna Dua Kalimat Syahadat

Tulisan singkat ini akan membahas penjelasan seputar makna, dua kalimat syahadat. Sebab, kalimat syahadat penting untuk dipahami dan dimaknai. Sehingga tidak terucap di bibir saja, tapi merasuk ke hati lalu mengejawantah dalam amalan nyata.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah Muhammad [47] ayat 19:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS.Muhammad[47]:19).

Ayat tersebut menyuruh untuk mengilmui La Iala Illallah sebelum yang lainnya. Bahkan Imam Bukhari menempatkan ayat tersebut dalam kitab Shahihnya dengan judul bab, “Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat”.

Syahadat La Ilaha Illallah

Makna La Ilaha Illallah adalah i’tikad (keyakinan) dan ikrar (pengakuan) bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Yakni, keyakinan dan pengakuan yang pasti dan tegas bahwa tak ada satu pun yang berhak diibadahi secara sah melainkan Allah dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah.
Keyakinan dan pengakuan tersebut harus disertai komitmen (iltizam) pengamalan terhadap konsekwensi kalimat syahadat itu sendiri. Singkatnya, beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun adalah pemaknaan yang sebenarnya terhadap kalimat La Ilaha Illallah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Muhammad ayat 19 diatas; “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah”

Maksudnya, ketahuilah bahwa Dialah satu-satunya yang berhak terhadap ibadah. Tidak boleh beribadah kepada selain-Nya, karena hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi, tiada Ilah selain-Nya, sehingga kita tidak pantas mengalamatkan ibadah kepada selain-Nya.

Tentu saja keyakinan terhadap La Ilaha Illallah tidak sempurna tanpa syahadat Muhammad Rasulullah. Karena keduanya merupakan dua kalimat yang satu paket Sebagai rukun Islam pertama. Keduanya merupakan persaksian yang tak terpisah. Oleh karena itu syahadat La Ilaha Illallahu dan Muhammad Rasulullah dikenal dengan sebutan Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Pengetahuan terhadap makna La Ilaha Illallah harus disertai pula dengan pengetahuan terhadap syahadat Muhammad Rasulullah.

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

Makna syahadat Muhamad Rasulullah adalah meyakini sepenuh hati bahwa beliau adalah hamba dan Rasul (utusan) Allah. Keyakinan tersebut dibuktikan dengan mentaati perintahnya, membenarkan kabar yang beliau sampaikan (tashdiquhu fiymaa akhbara), meninggalkan larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan (mengikuti) syariatnya.

Mentaati Rasul merupakan bukti ketaatan kepada Allah. Dalam banyak ayat al-Qur’an perintah taat kepada Allah digandengkan dengan perintah taat kepada Rasul, semisal dalam surah Ali Imran ayat 32, An-Nisa ayat 59:
“Katakanlah wahai Muhammad, taatilah Allah dan Rasul”. (terj.Qs. Ali Imran:32).
Pada ayat sebelumnya (Qs.3:31), Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi untuk menyampaikan bahwa, “Jika kalian mencintai Allah, maka ikuti (taati) lah aku”. (terj. Qs. Ali Imran ayat 31).
Dalam surah An-Nisa ayat 59 AllahTa’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk mentaati Allah, Rasul, dan ulil amri; “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian”. (terj. Qs. An-Nisa:59).
Dalam ayat lain Allah menyuruh kita untuk mengikuti apa yang didatangkan oleh Rasul, sebagaimana dalam surah Al-Hasyr ayat 7:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Dan apa yang didatangkan (diperintahkan) Rasul kepadamu, maka ambillah (taatilah), dan apa yang beliau larang maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr:7).
Adapaun tasdiquhu fiymaa akhbara mencakup pembenaran terhadap semua berita dan informasi yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, baik kabar tentang peristiwa masa lalu, informasi tentang kejadian pada yang akan datang dan hal-hal ghaib.

Kemudian tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan mengikuti syariatnya. Sebab beliau diutus oleh Allah untuk membimbing manusia beribadah kepada Allah. Bahkan hal ini merupakan syarat diterimanya amal, dimana suatu ibadah takkan diterima oleh Allah kecuali dengan memurnikan niat hanya karena Allah dan memurnikan ittiba (ikut contoh) kepada Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam. (sym).
Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/

Tatkala Berselisih

Tatkala Berselisih

Tatkala Berselisih (Judul Asli : Begini Semestinya Kita Berbeda)
Oleh Ustad Rappung Samuddin, Lc, MA

Polemik ilmiah di kalangan para ulama merupakan perkara ma’lum dan biasa. Bahkan, terkadang dalam polemik tersebut mungkin saja terlontar ibarat-ibarat menyakitkan. Akan tetapi, yang istimewa dari sifat mulia mereka adalah, menyikapi polemik ilmiah tersebut dengan lapang dada. Meletakkan pada tempatnya, serta tidak menyeretnya dalam ranah pribadi apalagi sampai memutuskan ikatan ukhuwah dan silaturahmi.

Yunus al-Shadafi rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah menyaksikan seorang yang lebih berakal dari pada al-Syafi’i. Pernah suatu hari aku berdebat dengannya dalam satu persoalan, lalu kami berpisah (dalam keadaan berselisih). Beliau (al-Syafi’i) lantas menemuiku dan memegang tanganku seraya berkata: Wahai Abu Musa, tidakkah lebih baik kita tetap bersaudara kendati tidak bersepakat dalam satu persoalan (hukum)?” (Lihat: Al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, 10/15, al-Maktabah al-Syamilah).

Demikian pula sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap musuh besarnya Ibnu Makhluf. Kendati ia (Ibnu Makhluf) telah mengkafirkan dan menghalalkan darah beliau. Di hari kematian Ibnu Makhluf, murid beliau, Ibnul Qoyyim al-Jauziyah datang dengan wajah berseri dan menyampaikan “berita gembira” tersebut. Namun Syaikhul Islam mengingkari sikap Ibnul Qoyyim itu. Menghardiknya, seraya mengucapkan istirja’ lalu bergegas mengunjungi rumah Ibnu Makhluf. Setelah mengucapkan ta’ziyah, beliau berkata kepada sanak keluarga, anak dan istri Ibnu Makhluf: “Ketahuilah, saat ini status aku seperti bapak kalian. Tidak ada sesuatu apapun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha memenuhinya…”. (Dr. Khalid al-Sabt, Akhlak al-Kibar, kaset ceramah Side A).

Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Hubairah (guru Ibnul Jauzi) seorang Imam dan Faqih besar di zamannya. Majelis ilmunya ramai dipadati para ulama dari seluruh mazhab yang empat.

Suatu hari terjadi perdebatan antara beliau dengan salah satu peserta majelisnya. Yakni seorang fuqaha’ (ahli fikih) Malikiyah, Abu Muhammad al-Asyiri. Perdebatan keduanya seputar persoalan yang merupakan mufradat Imam Ahmad. Al-Asyiri ngotot menyatakan bahwa masalah itu juga ada dalam mazhab Maliki. Ibnu Hubairah terpaksa menghadirkan banyak kitab-kitab untuk membuktikan penyataannya. Demikian pula para ulama yang hadir, mereka berusaha menyakinkan al-Asyiri. Namun al-Asyiri tetap pada pendiriannya. Karena kesal, Ibnu Hubairah lantas menghardiknya: “Apakah Anda ini binatang?!, Tidakkah anda mendengar pernyataan para ulama bahwa ini termasuk mufradat Imam Ahmad, dan kitab-kitab ini juga menjadi saksi?! Bagaimana anda tetap bersikukuh pada pendapat anda?!”. Setelah itu majelis pun bubar.

Di hari berikutnya, saat Ibnu Hubairah duduk di majelisnya dan hadir pala para ulama, satu persatu nama ulama yang hadir disebutkan oleh pembantu beliau melalui absen. Tatkala nama Abu Muhammad al-Asyiri disebut, Ibnu Hubairah tertegung lalu berseru: “Tolong berhenti sejenak!, Kemarin al-Faqih Abu Muhammad al-Asyiri mengeluarkan satu penyataan, dan akupun mengucapkan satu kalimat yang kurang pantas terhadapnya. Olehnya, saya mohon pada anda wahai Abu Muhammad agar mengatakan hal yang sama terhadapku seperti yang aku ucapkan kemarin”. Majelis pun penuh dengan isak tangis. Mereka terharu dengan akhlak Ibnu Hubairah yang mulia ini. Dan karena itu pula, Abu Muhammad al-Asyiri pun mengakui kekeliruannya dan minta maaf kepada beliau. (Lihat: Ibnu Rajab al-Hambali, Dzail Thabaqat al-Hanabilah, al-Maktabah al-Syamilah, 1/227, secara ringkas dan sedikit perubahan).

Saudaraku, sebenarnya yang menjadi fokus kami di sini adalah, kebesaran hati al-Faqih Abu Muhammad al-Asyiri tersebut. Beliau seorang ulama besar mazhab Maliki. Kendati mendapat hardikan kurang pantas dari Imam Ibnu Hubairah di depan para fuqaha’, beliau sedikitpun tidak mendendam, memusuhi, apalagi memasukkannya dalam polemik pribadi beliau. Buktinya, di hari berikutnya beliau tetap hadir dalam majelis Ibnu Hubairah, seolah tidak pernah ada persoalan di antara mereka berdua. Semoga Allah merahmati mereka semua. Wallahu A’lam.

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/begini-semestinya-kita-berbeda/