syahadat

Makna Dua Kalimat Syahadat

Tulisan singkat ini akan membahas penjelasan seputar makna, dua kalimat syahadat. Sebab, kalimat syahadat penting untuk dipahami dan dimaknai. Sehingga tidak terucap di bibir saja, tapi merasuk ke hati lalu mengejawantah dalam amalan nyata.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah Muhammad [47] ayat 19:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS.Muhammad[47]:19).

Ayat tersebut menyuruh untuk mengilmui La Iala Illallah sebelum yang lainnya. Bahkan Imam Bukhari menempatkan ayat tersebut dalam kitab Shahihnya dengan judul bab, “Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat”.

Syahadat La Ilaha Illallah

Makna La Ilaha Illallah adalah i’tikad (keyakinan) dan ikrar (pengakuan) bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Yakni, keyakinan dan pengakuan yang pasti dan tegas bahwa tak ada satu pun yang berhak diibadahi secara sah melainkan Allah dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah.
Keyakinan dan pengakuan tersebut harus disertai komitmen (iltizam) pengamalan terhadap konsekwensi kalimat syahadat itu sendiri. Singkatnya, beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun adalah pemaknaan yang sebenarnya terhadap kalimat La Ilaha Illallah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Muhammad ayat 19 diatas; “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah”

Maksudnya, ketahuilah bahwa Dialah satu-satunya yang berhak terhadap ibadah. Tidak boleh beribadah kepada selain-Nya, karena hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi, tiada Ilah selain-Nya, sehingga kita tidak pantas mengalamatkan ibadah kepada selain-Nya.

Tentu saja keyakinan terhadap La Ilaha Illallah tidak sempurna tanpa syahadat Muhammad Rasulullah. Karena keduanya merupakan dua kalimat yang satu paket Sebagai rukun Islam pertama. Keduanya merupakan persaksian yang tak terpisah. Oleh karena itu syahadat La Ilaha Illallahu dan Muhammad Rasulullah dikenal dengan sebutan Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Pengetahuan terhadap makna La Ilaha Illallah harus disertai pula dengan pengetahuan terhadap syahadat Muhammad Rasulullah.

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

Makna syahadat Muhamad Rasulullah adalah meyakini sepenuh hati bahwa beliau adalah hamba dan Rasul (utusan) Allah. Keyakinan tersebut dibuktikan dengan mentaati perintahnya, membenarkan kabar yang beliau sampaikan (tashdiquhu fiymaa akhbara), meninggalkan larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan (mengikuti) syariatnya.

Mentaati Rasul merupakan bukti ketaatan kepada Allah. Dalam banyak ayat al-Qur’an perintah taat kepada Allah digandengkan dengan perintah taat kepada Rasul, semisal dalam surah Ali Imran ayat 32, An-Nisa ayat 59:
“Katakanlah wahai Muhammad, taatilah Allah dan Rasul”. (terj.Qs. Ali Imran:32).
Pada ayat sebelumnya (Qs.3:31), Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi untuk menyampaikan bahwa, “Jika kalian mencintai Allah, maka ikuti (taati) lah aku”. (terj. Qs. Ali Imran ayat 31).
Dalam surah An-Nisa ayat 59 AllahTa’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk mentaati Allah, Rasul, dan ulil amri; “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian”. (terj. Qs. An-Nisa:59).
Dalam ayat lain Allah menyuruh kita untuk mengikuti apa yang didatangkan oleh Rasul, sebagaimana dalam surah Al-Hasyr ayat 7:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Dan apa yang didatangkan (diperintahkan) Rasul kepadamu, maka ambillah (taatilah), dan apa yang beliau larang maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr:7).
Adapaun tasdiquhu fiymaa akhbara mencakup pembenaran terhadap semua berita dan informasi yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, baik kabar tentang peristiwa masa lalu, informasi tentang kejadian pada yang akan datang dan hal-hal ghaib.

Kemudian tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan mengikuti syariatnya. Sebab beliau diutus oleh Allah untuk membimbing manusia beribadah kepada Allah. Bahkan hal ini merupakan syarat diterimanya amal, dimana suatu ibadah takkan diterima oleh Allah kecuali dengan memurnikan niat hanya karena Allah dan memurnikan ittiba (ikut contoh) kepada Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam. (sym).
Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/

Tatkala Berselisih

Tatkala Berselisih

Tatkala Berselisih (Judul Asli : Begini Semestinya Kita Berbeda)
Oleh Ustad Rappung Samuddin, Lc, MA

Polemik ilmiah di kalangan para ulama merupakan perkara ma’lum dan biasa. Bahkan, terkadang dalam polemik tersebut mungkin saja terlontar ibarat-ibarat menyakitkan. Akan tetapi, yang istimewa dari sifat mulia mereka adalah, menyikapi polemik ilmiah tersebut dengan lapang dada. Meletakkan pada tempatnya, serta tidak menyeretnya dalam ranah pribadi apalagi sampai memutuskan ikatan ukhuwah dan silaturahmi.

Yunus al-Shadafi rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah menyaksikan seorang yang lebih berakal dari pada al-Syafi’i. Pernah suatu hari aku berdebat dengannya dalam satu persoalan, lalu kami berpisah (dalam keadaan berselisih). Beliau (al-Syafi’i) lantas menemuiku dan memegang tanganku seraya berkata: Wahai Abu Musa, tidakkah lebih baik kita tetap bersaudara kendati tidak bersepakat dalam satu persoalan (hukum)?” (Lihat: Al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, 10/15, al-Maktabah al-Syamilah).

Demikian pula sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap musuh besarnya Ibnu Makhluf. Kendati ia (Ibnu Makhluf) telah mengkafirkan dan menghalalkan darah beliau. Di hari kematian Ibnu Makhluf, murid beliau, Ibnul Qoyyim al-Jauziyah datang dengan wajah berseri dan menyampaikan “berita gembira” tersebut. Namun Syaikhul Islam mengingkari sikap Ibnul Qoyyim itu. Menghardiknya, seraya mengucapkan istirja’ lalu bergegas mengunjungi rumah Ibnu Makhluf. Setelah mengucapkan ta’ziyah, beliau berkata kepada sanak keluarga, anak dan istri Ibnu Makhluf: “Ketahuilah, saat ini status aku seperti bapak kalian. Tidak ada sesuatu apapun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha memenuhinya…”. (Dr. Khalid al-Sabt, Akhlak al-Kibar, kaset ceramah Side A).

Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Hubairah (guru Ibnul Jauzi) seorang Imam dan Faqih besar di zamannya. Majelis ilmunya ramai dipadati para ulama dari seluruh mazhab yang empat.

Suatu hari terjadi perdebatan antara beliau dengan salah satu peserta majelisnya. Yakni seorang fuqaha’ (ahli fikih) Malikiyah, Abu Muhammad al-Asyiri. Perdebatan keduanya seputar persoalan yang merupakan mufradat Imam Ahmad. Al-Asyiri ngotot menyatakan bahwa masalah itu juga ada dalam mazhab Maliki. Ibnu Hubairah terpaksa menghadirkan banyak kitab-kitab untuk membuktikan penyataannya. Demikian pula para ulama yang hadir, mereka berusaha menyakinkan al-Asyiri. Namun al-Asyiri tetap pada pendiriannya. Karena kesal, Ibnu Hubairah lantas menghardiknya: “Apakah Anda ini binatang?!, Tidakkah anda mendengar pernyataan para ulama bahwa ini termasuk mufradat Imam Ahmad, dan kitab-kitab ini juga menjadi saksi?! Bagaimana anda tetap bersikukuh pada pendapat anda?!”. Setelah itu majelis pun bubar.

Di hari berikutnya, saat Ibnu Hubairah duduk di majelisnya dan hadir pala para ulama, satu persatu nama ulama yang hadir disebutkan oleh pembantu beliau melalui absen. Tatkala nama Abu Muhammad al-Asyiri disebut, Ibnu Hubairah tertegung lalu berseru: “Tolong berhenti sejenak!, Kemarin al-Faqih Abu Muhammad al-Asyiri mengeluarkan satu penyataan, dan akupun mengucapkan satu kalimat yang kurang pantas terhadapnya. Olehnya, saya mohon pada anda wahai Abu Muhammad agar mengatakan hal yang sama terhadapku seperti yang aku ucapkan kemarin”. Majelis pun penuh dengan isak tangis. Mereka terharu dengan akhlak Ibnu Hubairah yang mulia ini. Dan karena itu pula, Abu Muhammad al-Asyiri pun mengakui kekeliruannya dan minta maaf kepada beliau. (Lihat: Ibnu Rajab al-Hambali, Dzail Thabaqat al-Hanabilah, al-Maktabah al-Syamilah, 1/227, secara ringkas dan sedikit perubahan).

Saudaraku, sebenarnya yang menjadi fokus kami di sini adalah, kebesaran hati al-Faqih Abu Muhammad al-Asyiri tersebut. Beliau seorang ulama besar mazhab Maliki. Kendati mendapat hardikan kurang pantas dari Imam Ibnu Hubairah di depan para fuqaha’, beliau sedikitpun tidak mendendam, memusuhi, apalagi memasukkannya dalam polemik pribadi beliau. Buktinya, di hari berikutnya beliau tetap hadir dalam majelis Ibnu Hubairah, seolah tidak pernah ada persoalan di antara mereka berdua. Semoga Allah merahmati mereka semua. Wallahu A’lam.

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/begini-semestinya-kita-berbeda/

Telaga Rosulullah

Orang-Orang yang Terusir dari Telaga Rosulullah

Telaga Rasulullah -shallallahu’alaihiwasallam- Dan Orang-Orang Yang Terusir Darinya
Oleh Ustadz Maulana La Eda, Lc

Sudah menjadi cita seorang muslim tuk berjumpa dengan Sang Nabi, sosok teladan yang namanya tak pernah luput dari lisan dan hatinya. Sosok yang senantiasa menghiasi untaian syahadat, dan rangkaian shalawat dalam kesehariannya. Perjumpaan indah yang seringkali diharap oleh setiap orang yang masih beriman dengan hari akhirat dan kebangkitan. Baik ia muslim yang shalih ataupun yang bergelimang dalam maksiat dan dosa. Lalu kapankah seorang muslim akan berjumpa pertama kali dengan beliau diakhirat kelak ?. Sebuah tanda tanya yang membutuhkan jawaban indah seindah angan dan impian perjumpaan tersebut.

Ia adalah perjumpaan sakral dipinggir telaga suci beliau di Padang Mahsyar. Setiap umat –dalam suhu panas dan kondisi telanjang- kan mencari Nabi mereka yang menanti ditelaga-telaga yang telah disediakan oleh Allah ta’ala untuk setiap Nabi. Adapun Nabi kita maka ia memiliki Telaga Al-Kautsar yang air berkahnya terpancar dari sebuah sungai dalam surga yang juga dikenal dengan sebutan Sungai Al-Kautsar. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman, artinya: “Sesungguhnya Kami memberimu anugrah Al-Kautsar” (QS Al-Kautsar: 1).

Disanalah setiap umat Muhammad shallallahu’alaihi wasallam kan berbondong-bondong mencari tempat berteduh dan seteguk air penghilang dahaga dibawah teriknya mentari Padang Mahsyar. Dalam perihal ini Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga (di Padang Mahsyar), mereka saling berbangga telaga siapakah diantara mereka yang paling banyak pengunjungnya?. Dan saya berharap telagaku menjadi yang terbanyak pengunjungnya”. (HR Tirmidzi: 2443, dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Shahihah: 1589).

Al Kautsar, Telaga Rosulullah di Padang Mahsyar

Pada dasarnya, Al-Kautsar adalah nama sungai dalam surga yang khusus disediakan kepada Nabi kita. Hanya saja karena telaga beliau yang ada di Padang Mahsyar kelak mengalir dari Sungai Al-Kautsar tersebut sehingga telaga itupun dijuluki juga dengan nama Telaga Al-Kautsar. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma Rasulullah bersabda: “Al Kautsar adalah sungai di surga. Tepiannya terbuat dari emas. Salurannya adalah mutiara dan batu permata. Tanahnya lebih harum dari minyak kasturi. Airnya lebih manis dari madu dan lebih putih dari salju.” (HR Tirmidzi: 3361, shahih).

Demi memotivasi umatnya, Rasulullah seringkali menyebutkan sifat-sifat Telaga Al-Kautsar ini dihadapan para sahabatnya. Bahkan seringkali menjawab pertanyaan yang diajukan pada beliau seputar telaga ini. Diantara kriteria telaga ini disebutkan dalam hadis-hadis berikut:

🌾 –Mengenai sifat-sifat air dan sumbernya, Tsauban radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, airnya mengalir dengan deras ke dalamnya melalui dua pancuran dari surga (sungai Al-Kautsar). Salah satunya terbuat dari emas dan yang kedua dari perak.” (HR Muslim: 2301).

🌾 –Adapun aroma dan jumlah bejananya, maka disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma: “Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan minyak kasturi. Jumlah bejananya bagaikan bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa dahaga selamanya” (HR Bukhari: 7579 dan Muslim: 2292)

🌾 –Sedangkan luasnya maka disebutkan oleh beliau dalam banyak hadis, diantaranya: “Telagaku itu panjangnya sejarak satu bulan, tepi-tepinya juga sejarak itu.” (HR Muslim: 2292). Dalam hadis lain: “Sesungguhnya panjang telagaku antara Mekah ke Baitul Maqdis” (HR Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Sunnah: 723). Juga hadis: “Sesungguhnya panjang ukuran telagaku sebagaimana dari Ailah (Palestina) dan Shan’a (Yaman)” (HR Bukhari: 6580 dan Muslim: 2303). Dalam hadis lain: “(Pangang telagaku adalah antara) tempatku ini (Madinah) dengan Oman”. (HR Muslim: 2301). Dalam HR Bukhari: 6577: “bahwa jaraknya antara Jarbaa’ dan Adzru’ (Dua tempat didaerah Syam)”.

Hadis-hadis ini secara tekstual saling bertentangan satu sama lain karena masing-masing menyebutkan jarak atau luas telaga yang berbeda. Namun hal ini dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah: “Sebagian orang menyangka bahwa penetapan jarak atau luas telaga dalam hadis-hadis ini saling kontradiksi, namun kenyataannya tidaklah demikian. Sebab utama Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengungkapkan hadis-hadis tentang luas telaga ini dengan banyak kali dan dengan teks berbeda karena beliau ingin memberikan gambaran jelas kepada setiap para sahabat yang mendengarkannya dengan jarak yang mereka ketahui dinegerinya masing-masing.

Sehingga beliau bersabda kepada Penduduk Syam bahwa luasnya antara Adzru’ dan Jarbaa’ (karena keduanya berada di Syam), dan bersabda kepada Penduduk Yaman bahwa luasnya antara Shan’a ke Aden (karena keduanya berada di Yaman), dan demikian seterusnya. Dan dalam kali yang lain beliau menyebutkan luasnya dengan jarak perjalanan dengan sabdanya: panjangnya sejarak satu bulan perjalanan. Dan maksud semuanya adalah bahwa telaga ini sangatlah luas antara lebar dan panjangnya. Wallaahu a’lam”. (Al-Tadzkirah: 706).

Orang-Orang yang Terusir dari Telaga

Dengan sifat dan kriteria telaga diatas tentunya sangat pantas bila siapa saja yang meminumnya maka tidak akan pernah merasa dahaga lagi selama-lamanya. Bahkan dengan luasnya telaga ini. Tentunya seluruh umat islam akan sangat leluasa untuk bisa menimba air darinya dengan bejana yang jumlahnya tak terhingga lalu memuaskan dahaga Padang Mahsyar yang tentunya sangat menyiksa. Namun ternyata tak semua umat islam dibolehkan untuk mendekati telaga ini. Akan ada diantara umat Muhammad shallallahu’alaihi wasallam yang akan dihardik dan terusir darinya bahkan tak akan pernah bisa meneguk satu tetespun dari air telaga yang berkah ini. Siapakah mereka dan apa kriteria mereka ?. Dalam mengkaji hadis-hadis orang-orang yang terusir dari telaga Rasulullah, maka kita akan mendapati mereka terbagi dalam empat golongan;

🍃 Pertama: Orang-orang yang beriman dan berjumpa dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Namun kemudian murtad sebelum beliau wafat atau setelah wafat. Mereka ini kebanyakan berasal dari bangsa arab badwi dan yang membantu Musailamah Al-Kadzdab dalam memerangi umat islam dibawah pimpinan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu’anhu.

🍃 Kedua: Kaum Munafik. Mereka ini adalah orang-orang munafik yang menampakkan keimanan kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan menyembunyikan kekufuran.

Dua golongan inilah yang dipanggil oleh Rasulullah dengan julukan “sahabatku”. Tapi karena mereka telah murtad setelah beliau wafat atau menyembunyikan kekufuran, akhirnya mereka terusir dari telaganya. Sebagaimana dalam hadis: “Sungguh akan datang pada telagaku orang-orang yang pernah menjadi sahabatku, sehingga ketika aku telah melihat mereka dan mereka ditampakkan padaku, merekapun dijauhkan dariku. Maka sayapun berkata: “Ya Rabb, mereka adalah sahabatku, mereka adalah sahabatku. Maka dikatakan padaku: Sesungguhnya engkau tidak pernah tahu apa yang telah mereka ada-adakan (dalam perkara agama ini) setelahmu” (HR Bukhari: 6211 dan Muslim: 2304).

Sekte Syiah Rafidhah -yang sesat lagi menyesatkan- menjadikan hadis ini sebagai celaan dan kutukan terhadap seluruh para sahabat Nabi. SekteSyiah Rafidhah juga menyatakan bahwa mereka murtad sepeninggal beliau sehingga mereka terusir dari telaga. Namun pemahaman mereka ini sangatlah fatal, karena makna hadis tidak demikian dan sama sekali bertentangan dengan banyak ayat Al-Quran dan teks hadis-hadis yang menyimpulkan bahwa para sahabat telah diridhai Allah dan mereka kekal dalam surga-Nya. Adapun makna hadis ini adalah sebagaimana yang disebutkan dalam dua golongan diatas.

Syaikh Abdul-Qahir Al-Baghdadi rahimahullah berkata: “Semua umat islam sepakat bahwasanya umat islam yang murtad setelah wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah berasal dari kabilah Kindah, Hanifah, Fazarah, Bani Asad, dan Bani Bakr bin Wail, dan sama sekali tidak ada yang murtad dari kalangan Anshar ataupun Muhajirin (seperti yang diklaim syiah-pent). Dan seluruh Ahli Sunnah sepakat bahwa yang ikut serta dalam Perang Badr adalah masuk surga. Demikian pula yang ikut serta dalam Baiat Ridwan di Hudaibiyah”. (Al-Farq Baina Al-Firaq: 353).

🍃 Ketiga: Ahli Bid’ah yang membuat-buat perkara baru dalam agama islam seperti Sekte Khawarij, Syiah, Mu’tazilah, dan lainnya. Hal ini disebutkan dalam teks hadis: “Sesungguhnya aku akan berdiri di atas telaga. Sehingga aku akan melihat beberapa orang akan datang kepadaku diantara kalian (umatku), dan beberapa manusia dihalau dariku, dan aku akan berkata, “Ya Rabb, mereka dari golonganku, bagian dari ummatku.”
Kemudian akan dikatakan, “Apakah kamu mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu? Demi Allah, mereka telah berbalik ke belakang (murtad).” (HR Bukhari: 6593, dan Muslim: 2293, dari Asma’ bin Abi Bakr radhiyallahu’anhuma).

Juga termasuk orang yang melaksanakan sunnah tapi dengan niat untuk mendapatkan harta/manfaat dunia. Sebagaimana disebutkan Imam Al-Syathibi rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini: “Kategori (orang yang terjauhkan dari telaga) ini juga termasuk orang yang meyakini adanya sunnah dan mengamalkannya namun dengan niat untuk meraih harta dunia semata, bukan dengan niat beribadah kepada Allah. Karena hal itu merupakan tabdil (bentuk perubahan) pada sunnah tersebut dan bentuk pengeluarannya dari kedudukan syar’inya” (Al-I’tisham: 1/96).

🍃 Keempat: Orang-orang muslim yang suka tenggelam dalam maksiat dan dosa besar. Ini diisyaratkan oleh hadis: “Akan ada diantara kalian (umatku) para penguasa, yang memerintahkan kalian apa yang mereka tidak kerjakan. Maka barangsiapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka dalam menjalankan misi kezaliman mereka, maka ia bukanlah bagian dariku. Dan saya bukan bagian darinya, dan ia tidak akan bisa mendatangi telagaku (diakhirat kelak)”. (HR Ahmad: 9/514, hasan). Wallaahu a’lam.

Semoga Allah ta’ala menganugrahkan kita semua; sebuah perjumpaan indah dengan Rasul-Nya ditelaga beliau, dan tidak mengharamkan kita dari meneguk air telaganya. Aamiin.
🔴 Sumber http://wahdah.or.id/telaga-rasulullah/

media sosial

Adab Menggunakan Media Sosial

Adab Menggunakan Media Sosial
Oleh ustadz Ayyub Soebandi, Lc.

Tidak bisa dipungkiri pengaruh media sosial tidak bisa terlepaskan dari kehidupan di masa sekarang. Dukungan internet yang kencang, teknologi yang canggih dengan lahirnya smartphone dimana dengan satu genggaman kita bisa melakukan apa saja dan memperoleh informasi dengan mudahnya.

Begitu juga dengan dukungan aplikasi dan media sosial yang banyak bermunculan seperti BBM (Blackberry Massanger), WA (WhatsApp), Twitter, Path, Facebook, Instagram, Linkedin, Pinterest, Line dll. Kita dapat berhubungan dengan manusia dari belahan bumi manapun, dapat bersilaturahim dengan teman-teman lama, juga bisa berkenalan dengan teman-teman baru dan tak jarang banyak yang menjalin keakraban di dunia nyata.

Memang pada hakikatnya sebagai mahluk sosial manusia tidak dilarang untuk bergaul dan Allahpun menjelaskan dalam Al Qur’an tentang hal ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)

Walaupun melakukan komunikasi di media sosial dan hanya memperlihatkan gambar, chattingan dan status, tapi tak selamanya menggambarkan si empunya akun dalam kesehariannya, hingga tak terlihat dengan jelas apakah si empunya sama persis dengan yang dia gambarkan di sosmed, tapi menjaga adab tetap harus dikedepankan. Berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan di jejaring sosial :

Menjaga interaksi dengan lawan jenis.

Inilah ajaran Islam, yaitu membatasi seminimal mungkin interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, baik di dunia nyata ataupun di jejaring sosial. Para Sahabat radhiyallahu’anhum saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus bertanya dibelakang hijab. Allah Ta’ala berfirman,

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Nah, bagaimana dengan kita yang keimanan kita di bawah keimanan mereka?

Chattingan bebas dengan lawan jenis adalah trik Iblis untuk menjerumuskan ke dalam hal-hal yang diharamkan. Maka hendaknya waspada dan tetap menjaga interaksi dengan lawan jenis. Jika interaksi langsung di dunia nyata sangat perlu dijaga, maka bagaimana lagi di dunia maya yang lebih bebas dan jauh dari pandangan manusia, yakinlah Allah maha Mengetahui dan maha Melihat perbuatan kita.

Cermat dalam mengkonsumsi dan menyebarkan berita.

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

“Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: menyebarkan berita burung (katanya-katanya); menyia-nyiakan harta; dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam al-Quran, Allah menyebut mereka dengan al-murjifuun (manusia pembuat onar).

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat. terutama berita yang terkait keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah.

Allah berfirman,

“Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. al-Ahzab: 60)

Sehingga, sebelum menyebarkan, pastikan berita anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Tanamkan dalam diri kita, menyebarkan berita itu bukan prestasi, prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Bagaimana lagi ketika sengaja menyebarkan berita dusta atau hoax?

Maka sebelum menyebarkan berita, info, tulisan, gambar dll maka hendaknya memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Menjaga amanah ilmiah.
Ketika menukilkan sebuah tulisan, berita dll, hendaknya selalu berusaha mencantumkan sumber dari mana ilmu atau faidah itu kita dapatkan. Hal ini agar kita tidak termasuk orang-orang yang mendapat ancaman hadits,

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Orang yang Al-Mutasyabbi’ (mengaku-ngaku memiliki dengan sesuatu yang tidak dimilikinya), maka ia seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR Bukhari, Muslim).

Berkata dengan baik atau diam.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Begitu juga dengan tulisan, hendaknya memikirkan terlebih dahulu sebelum menulis, jika bermanfaat maka silahkan menulis, jika tidak bermanfaat maka ditahan.

Gunakan bahasa yang baik dan sopan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

”Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Dan katakan (Sampaikan) kepada hamba-hamba-Ku, jika mereka mau berbicara (kalau dia mau posting, kalau dia mau comment, kalau dia mau menyampaikan sebuah artikel), dia harus gunakan bahasa yang terbaik.

Kata “ahsan” dalam ayat ini kalau pakai istilah bahasa Inggris yaitu superlatif bukan comparatif. Jadi bukan yang lebih baik tapi yang terbaik.

Jadi, kalau mau berbicara gunakanlah bahasa yang terbaik, kenapa?

Karena setan selalu mengadu domba dan sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata.

Maka, gunakanlah bahasa yang terbaik.

Apalagi di sosmed, karena ketika kita masuk ke grup WA atau di Facebook atau di Twitter atau kita mention sesuatu, kita tidak memberikan ekspresi, lalu tidak ada intonasi. Jadi secara umum tidak ada ekspresi dan tidak adanya intonasi maka rentan terjadi kesalahpahaman.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus
https://laziswahdah.com/blog/adab-menggunakan-media-sosial/

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Assalamualaikum, Saya ingin bertanya perihal sholat. Apakah hukum sholat tanpa sutrah? Misalnya sholat dengan status masbuk pada shaf kedua tanpa ada sutrah didepannya. Apakah kita harus melangkah ke shaf pertama jika imam sudah salam? Bagaimana statusnya dengan sholat sendiri dengan posisi yang sama? Mohon penjelasannya berhubung masih ragu menentukan sikap.
Dari Hadi – Makassar

📝 Jawaban :

Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Apa Itu Sutrah?

Sutrah adalah pembatas yang digunakan oleh orang yang shalat sendirian atau pada saat menjadi imam agar tidak ada yang melewati di depannya ketika dia sementara shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تُصَلِّ إلَّا إِلى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ
“Jangan kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan kamu biarkan seseorang lewat di depanmu…” (HR. Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
إذَا صَلّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلى سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا، وَلَا يَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا
“Jika seorang diantara kalian shalat maka hendaknya dia shalat menghadap sutrah dan mendekat ke sutrah tersebut serta jangan dia membiarkan seseorang melewati antara dia dengan sutrahnya…” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu)

Para ulama bersepakat tentang disyariatkannya penggunaan sutrah untuk shalat namun mereka berbeda pendapat apakah wajib atau sunnah. Mayoritas ulama fikih mengatakan sunnah dan sebagian ulama menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Sebagaimana yang difahami dari penjelasan Ibnu Hazm, Syaukani dan Albani rahimahumullahu jamian.

Karena itu berkaitan dengan pertanyaan pertama apa hukum shalat tanpa sutrah maka jawabannya shalatnya sah namun dikatakan minimal dia telah menyelisihi yang afdhal

Masbuq Tanpa Adanya Sutrah

Berkaitan dengan masbuq yang mau menyempurnakan shalatnya namun tidak ada sutrah di depannya apakah boleh dia melangkah untuk mendapatkan sutrah?.  Hal ini juga diikhtilafkan oleh para ulama kita. Mayoritas ulama memandang tidak perlu dan ada juga sebagian ulama yang membolehkan dengan syarat tidak terlalu banyak gerakan yang dilakukan untuk mendapatkan sutrah tersebut.

Imam Malik mengatakan, “Tidak mengapa bagi masbuq yang menyempurnakan shalatnya setelah imam salam untuk mendekat ke tiang-tiang masjid yang ada di depannya atau kanan dan kirinya atau mundur ke belakang sedikit untuk menghadap sutrah kalau jaraknya dekat. Namun jika dia tidak mendapati sutrah yang dekat maka cukup dia tetap shalat di tempatnya” (Al Jami’ Li Masaail Al Mudawwanah 2/698)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Aku melihat sebagian pemuda kalau imam telah selesai salam dan dia masih mau menyempurnakan shalatnya beberapa rakaat maka dia melangkah beberapa langkah ke depan agar dia mampu mencegah orang-orang yang mau lewat di depan orang-orang yang masih shalat, apakah perbuatannya ini benar dan apakah langkah-langkahnya itu tidak membatalkan shalatnya?”. Maka beliau rahimahullah menjawab, “Hal itu tidak mengapa insya Allah, langkah-langkah yang tidak banyak pada saat shalat demi mencegah orang-orang lewat tidak mengapa insya Allah jika masih ada sisa shalat yang akan diselesaikannya. Namun demikian jika dia tetap di tempat shalatnya yang semula maka alhamdulillah itu yang lebih utama”
lihat https://www.binbaz.org.sa/noor/5557

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya, “Kadang makmum ketinggalan satu atau dua rakaat lalu ketika imam salam maka makmum tersebut mendapati sutrah cukup jauh sekitar dua atau tiga langkah, apakah boleh baginya melangkah ke depan untuk mendapatkan sutrah tersebut?”. Beliau menjawab, “Yang nampak bagi saya dari perbuatan para sahabat radhiyallahu anhum bahwa masbuq tidak (disyariatkan) membuat sutrah dan dia menyempurnakan shalatnya tanpa sutrah” (Liqo al Bab al Maftuh 30/232) Lihat: https://islamqa. info/ar/116964

Sutrah Jika Shalat Sendiri

Adapun bagi yang shalat sendiri maka sebelum shalat hendaknya mendekat ke tembok atau dinding atau sesuatu yang tinggi dan menjadikannya sebagai sutrah, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya dan juga praktek yang dicontohkan oleh para sahabat. Anas bin Malik radhiyallahu anhu menceritakan, “Aku telah melihat para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera ke tiang-tiang masjid untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib” (HR. Bukhari). Nafi’ mengatakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma selalu shalat menghadap sutrah dan jika beliau tidak mendapat lagi tiang-tiang masjid yang kosong maka beliau berkata ke Nafi’ palingkan tubuhmu untuk aku jadikan punggungmu sebagai sutrah” (Riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah). Dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah juga disebutkan bahwa Salamah bin Akwa’ radhiyallahu anhu jika sementara berada di gurun lalu beliau ingin shalat maka beliau menegakkan beberapa batu untuk beliau jadikan sutrah dan shalat menghadapnya.
Wallohul Muwaffiq

Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA
📝 Sumber http://wahdah.or.id/hukum-sholat-tanpa-sutrah/

Pengungsi Rohingya Bagian 2

KONDISI PILU PENGUNGSI ROHINGYA Bagian Ke-2

Pengungsi Rohingya Menghadapi Wabah Kolera

LAZISWahdah.com – Tim Dokter Indonesian Humanitarian Alliance melaksanakan Workshop Internasional, “Medical Management Guidelines For Refugees” selama dua hari, Senin-Selasa, 25-26 Septermber 2017 di Dhaka, Bangladesh. Workshop ini diikuti sekitar 100 dokter yang akan ditugaskan untuk menangani pengungsi Rohingya di kamp-kamp pengungsian Bangladesh. Salah satu masalah besar yang dihadapi pengungsi Rohingya saat ini adalah masalah kesehatan.

WHO sendiri telah memberikan peringatan resiko wabah kolera yang meningkat di kamp-kamp pengungsian sementara di Bangladesh.

Para pengungsi dalam sebulan terakhir telah tersebar di sekitar 68 kamp dan pemukiman di sepanjang perbatasan. Mereka tidak memiliki air minum yang bersih dan fasilitas-fasilitas kebersihan.

Kamp-kamp yang telah menjadi salah satu tempat pengungsian terbesar di dunia ini juga menghadapi kekurangan makanan dan obat-obatan.

Menurut sebuah media lokal berdasarkan data yang diambil dari UNCHR, saat ini kamp-kamp tersebut dihuni sekitar 436.000 pengungsi Rohingya. Direktur LAZIS Wahdah, Syahruddin yang saat ini berada di Coxs Bazar, Bangladesh bersama tim IHA mengatakan bahwa data tersebut belum valid karena hingga saat ini pengungsi masih terus berdatangan. Bahkan temuan lapangan tim IHA bahwa ada wilayah yang jumlah pengungsinya sampai 60 ribu hari ini dan besoknya kita datang lagi tapi mereka pergi entah kemana.[]

Pengungsi Rohingya Bagian 2

Pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya Bagian 2

Kondisi Pilu Pengungsi Rohingya di Kamp Pengungsian

KONDISI PILU PENGUNGSI ROHINGYA Bagian Ke-1

Laporan Perjalanan dari Kamp Pengungsi di Cox’s Bazar-Bangladesh

LAZISWahdah.com – Rabu (27/09/2017), Pagi waktu Bangladesh, saat saya dan TIM Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) sedang melakukan rapat koordinasi, tiba-tiba sebuah pesan masuk di handphone saya, pesan yang memang saya tunggu-tunggu dari seorang mitra lokal yang telah jauh hari sebelumnya telah kita jalin komunikasi dan membantu dengan baik menyalurkan bantuan ke pengungsi, senyum bahagia saat bertemu langsung dengan mereka.

Pada malam harinya kami tim NGO Indonesia berkumpul membahas temuan dari hasil kerja Tim Advance, tim pembuka yang menyampaikan kondisi terkini di lokasi pengungsian. Kondisi pengungsi yang jumlahnya sangat banyak dan masih terus berdatangan, membuat situasi dilapangan menjadi sangat dinamis maka butuh strategi khusus dengan melibatkan mitra lokal untuk membantu menyalurkan bantuan ke pengungsi yang jumlahnya tersebar digunung-gunung dan dilembah-lembah serta dijaga oleh militer Bangladesh.

Banyak pos militer yang akan kita lewati saat menuju ke kamp pengungsi, pemeriksaan setiap kendaraan yang lewat sudah jelas kita akan jumpai lebih khusus mobil-mobil pengangkut, mobil penumpang dan truk. Banyak truk berisi bantuan untuk pengungsi yang tertahan di pos-pos militer karena proses pemeriksaan dan perijinan yang mesti dilewati. Disini pemerintah dan militer bukan bermaksud menghalangi bantuan, namun lebih kepada ketertiban serta pemerataan saja, mereka sangat ramah dan sempat saya berpoto dengan mereka.

Dua jam waktu tempuh dengan angkutan sewaan CNG milik seorang warga (sejenis bajaj) untuk kami tiba di pos pertama. Mulai disini nampak lahan bekas pengungsian yang sangat luas, mereka lalu dipindahkan ke wilayah resmi milik pemerintah Bangladesh.

Karena kami tidak membawa barang maka tentu perjalanan jadi lancar walau khawatir dengan cara berkendaraan orang disini yang seolah tidak ada aturan lalu lintasnya.

Kondisi Pilu di Kamp Pengungsi Rohingya

Tidak jauh nampak dari sebelah kiri ada tenda BNPB Indonesia (Badan Nasional Penanggulan Bencana) yang juga terpasang spanduk IHA. IHA memang dibawah ijin dan koordinasi KEMENLU RI.

Mulai dari tempat ini telah banyak pengungsi Rohingya yang duduk di pinggir jalan. Mereka mengharap belas kasih bantuan dari orang-orang yang lewat. Kebanyakan dari mereka adalah wanita yang menggendong anak anak yang tanpa baju.

Banyak juga diantara mereka adalah laki laki yang sudah tua, mereka berjalan dengan kaki yang penuh lumpur, seolah berjalan tanpa arah dan akan berhenti dimana kaki mereka akan letih nanti. Para wanita dengan anaknya duduk diantara semak-semak mengawasi setiap kendaraan yang lewat ‘berharap’ ada yang singgah membagikan ‘taka’ mata uang Bangladesh, diantara mereka ada yang sebagai pengungsi lama maupun pengungsi yang baru tiba dari Myanmar.

Kami terus melanjutkan perjalanan dan ternyata apa yang kami jumpai selanjutnya makin membuat hati sedih. Terlebih ketika tiba di lokasi pengungsian yang terbuat dari bambu dan plastik hitam. Tenda-tenda darurat itu dibangun seadanya memenuhi lembah hingga bukit-bukit yang terhampar sejauh mata memandang. Sungguh memprihatinkan kondisi dan penderitaan yang mereka alami. Wallahu musta’an.
Bibir ini jadi kelu, tangan ini bingung untuk memotret yang mana, kiri kanan depan belakang sama semua. Perasaan ini berkecamuk, air mata tak kuasa lagi ditahan melihat kondisi mereka.
Jumlah pengungsi yang besar membuat dampak besar tentunya kepada kondisi sosial mereka. Tim IHA telah mendapati langsung pengungsi yang meninggal di kamp-kamp tersebut. Bahkan kemarin, Tim medis IHA saat melakukan aksi medis di lapangan, mereka juga mendapati kondisi yang menyayat hati.

Ibu hamil melahirkan premature, bayi lahir dengan panjang badan hanya sejengkal. Bayi yang lahir dalam kondisi yang serba memprihatinkan. Saat berjalan menyusuri lorong-lorong kamp yang bisa membuat pusing arahnya. Saya juga menemukan langsung wanita yang baru melahirkan dengan kondisi yang lemah dan perlengkapan yang kritis. Bayi-bayi hanya ditutup dengan sarung dan bantal sebab tidak ada baju bayi yang mereka miliki.

Begitu banyak kisah-kisah tentang kondisi pengungsi Rohingya yang sangat memilukan dan menyayat hati kita, jumlah yang sangat banyak 700 sampai 800 ribu jiwa membuat suasana bagaikan perkemahan pramuka dan pasar yang sangat padat pengunjung.
Setidaknya butuh waktu 5-7 hari bahkan bisa lebih untuk sekedar mengililingi pengungsi dari satu kamp ke kamp yang lain. Hal itu mengindikasikan banyaknya jumlah pengungsi akibat krisis kemanusiaan di wilayah Myanmar.[]

Laporan : Syahruddin C Asho (Direktur LAZIS Wahdah) dari Cox’s Bazaar-Bangladesh.

sumber : http://laziswahdah.com/blog/kondisi-pilu-pengungsi-rohingya-1-laporan-perjalanan-dari-kamp-pengungsi-di-coxs-bazar-bangladesh/

Pelatihan Bekam

Pelatihan Bekam Sehat Keluarga Bersama Wahdah Islamiyah Jakarta

Akademi Al-Qur’an dan Dakwah Wahdah Islamiyah Jakarta Selenggarakan Pelatihan Bekam Sehat Keluarga

AQD (Akademi Al-Qur’an dan Dakwah) Wahdah Islamiyah Jakarta menyelenggarakan kegiatan Pelatihan “Bekam Sehat Keluarga” kepada para mahasantri dan masyarakat umum. Kegiatan Pelatihan “Bekam Sehat Keluarga” berlangsung di Kampus AQD Cibinong pada tanggal 23-24 september 2017, pukul 08:30-17:00 WIB. Pelatihan ini mengundang trainer terstandar nasional yaitu Ustadz Yudi Wahyudi, yang merupakan seorang trainer yang sudah tersertifikasi dari Perkumpulan Bekam Indonesia (PBI). Beliau juga merupakan konsultan di Rumah Sehat Muslimah “Sholeeha”, pemilik LKP Bekam Jogja Asri, dan sekaligus Ketua Lazis Wahdah Jakarta.

Kegiatan Pelatihan “Bekam Sehat Keluarga” merupakan acara yang didukung oleh LAZIS Wahdah dan Departemen HIS (Informasi Humas dan Sosial) DPW WI DKI Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 18 orang peserta baik ikhwan maupun akhwat. Peserta pelatihanpun mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Acara ini diiringi pula dengan serah terima bantuan perlengkapan bekam senilai kurang lebih 3 juta rupiah, yang diserahkan langsung kepada para peserta pelatihan bekam dari para mahasantri Akademi Al-Qur’an dan Dakwah dari LAZIS Wahdah.

Keutamaan dan Manfaat Bekam

Pada pelatihan ini, trainer menyampaikan jika pengobatan bekam ini dilakukan secara rutin maka telah menjalankah sunnah yang telah diajarkan dan dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wasallam, yang sebagian dari kita melupakannya. Disamping itu manfaat bekam dapat membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit yang saat ini sulit disembuhkan oleh pengobatan konvensional. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, artinya: “sebaik-baiknya pengobatan penyakit adalah dengan melakukan bekam” (HR. Ahmad).

Keutamaan dan manfaat bekam sudah banyak di jelaskan dalam sunnah-sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan bahkan beberapa penelitian telah menyebutkan banyak sekali manfaat yang diperoleh dari berbekam. Sebagai umat muslim tentu kita harus bangga akan hal ini, yang merupakan salah satu pengobatan yang direkomendasikan didalam hadits. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita menjalankannya dengan acuan/standar keilmiahan berdasarkan perkembangan ilmu saat ini.

Pelatihan ini akan dilaksanakan secara rutin, dan setiap peserta bekam akan diberi tugas yaitu melakukan kegiatan bakti sosial berupa pengobatan bekam kepada masyarakat dengan target minimal 30 orang dari masing-masing peserta pelatihan. Demikian pelatihan yang diikuti para mahasantri AQD Wahdah Islamiyah Jakarta, mudah-mudahan diberikan keberkahan oleh Allah Subhanahu wata’aala, terhadap ilmunya agar bisa mengamalkannya dengan baik. (wps).

PROGRAM “BAIK” (Belajar Al Qur’an Intensif dan Komprehensif)

PENTING KITA IKUTI!

📚 “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya”.

Raih kemuliaan dan berkah Al-Qur’an melalui :

PROGRAM “BAIK”
(Belajar Al-Quran Intensif dan Komprehensif)

Launching dan Pembukaan Kelas Perdana Angkatan I

🗓 Waktu dan Tempat :
– Sabtu 30 September 2017, Pkl 08.00-15.00 WIB
– Masjid Al-Hijaz Kompleks Rumah Makan Pondok Laras Jl. Komjen M. Jasin Kelapa Dua Depok – Yayasan Al Hijaz Alkhairiyah Indonesia

https://g.co/kgs/mbpi7T

🎙 Pemateri:
1. Ust. Syamsudin, S.Pd.I.,MA (Direktur Akademi Al Qur’an dan Dakwah)
2. Ust. Nur Ihsan Muhammad Idris, Lc ( Anggota MUI Pusat Komisi Dakwah)
3. Ust. Jayadi Hasan, Lc. (Anggota MUI Pusat Komisi Luar Negeri)

🍱 GRATIS MAKAN SIANG
(Khusus Laki-Laki)

☎ Info dan Pendaftaran :
Ketik, nama/umur/ alamat / no hp
kirim ke no hp 081354687404 (WA)

http://www.wahdahjakarta.com

 

belajar al qur'an intensif dan komprehensif

Sogokan

PNS Melalui Sogokan Lalu Bertaubat, Haruskah Mengundurkan Diri?

Pertanyaan:

Bismillaah. Bagaimana hukumnya secara syari’at orang yang lulus PNS karena membayar (sogok) ? Ia sudah 5 tahun berstatus PNS, tapi sudah 3 tahun ini orang tersebut sudah taubat dan berhijrah. Dia sangat-sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Menurut syari’at, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus berhenti/mengundurkan diri dari pemerintahan ? Mohon petunjuknya.

Dari IS – Makassar

Jawaban:

Dilaknatnya Orang yang Memberi dan Menerima Sogokan

Memberi dan menerima sogokan termasuk perbuatan dosa yang dilaknat, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya:

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat orang yang memberi dan menerima sogokan. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Yang dimaksud sogokan (risywah) adalah pemberian harta dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya seperti menyogok hakim agar ia dapat memenangkan sebuah perkara yang bukan haknya atau menyogok seorang pejabat yang berwenang untuk memprioritaskan dirinya dibanding yang lain. Termasuk sogok juga memberikan sesuatu kepada seseorang yang bukan haknya.

Menyogok dengan tujuan mendapatkan pekerjaan, seperti PNS dan atau yang lainnya termasuk dalam kategori ini. Karena secara umum semua pelamar yang memenuhi persyaratan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Kecuali jika kesempatan tersebut merupakan hak seseorang melebihi dari hak orang lain dalam artian dialah yang paling berhak dan memenuhi persyaratan untuk pekerjaan tersebut dan ia tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan sogokan, maka dalam hal ini yang berdosa adalah pihak yang menerima sogokan tersebut.

Bertaubat dari Perkara Sogokan / Risywah

Alhamdulillah jika anda sudah bertaubat dan memperbaiki diri lebih baik dan menyadari kesalahan ini, maka perbanyaklah memohon ampun (istighfar) atas kesalahan ini disertai dengan banyak melakukan amal shalih lainnya. Semoga dengannya Allah mengampuni dosa tersebut.

Adapun meninggalkan/mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut maka hal ini tidak perlu dilakukan selama anda dapat menunaikan pekerjaan tersebut dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Namun jangan menjadi jalan bagi yang lain dengan anggapan bahwa rezki yang didapat adalah rezki yang halal meskipun didapat dari sogokan, karena yang didapat bukan dari cara yang benar, lalu Anda mengatakan nanti saya bertaubat. Ini adalah sikap yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim, karena boleh jadi sebelum dia bertaubat, Allah lebih dahulu mencabut nyawanya. Wallahu a’lam. [ed:sym]

Dijawab Oleh Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc, M.A

Sumber : http://wahdah.or.id/menjadi-pns-melalui-sogokan-lalu-bertaubat-haruskah-mengundurkan-diri/