Hikmah Di Balik Ajaran Berqurban

UZR Hikmah Ajaran Berqurban

UZR Hikmah Ajaran Berqurban

Berqurban adalah ujian dan bukti cinta.

Mana yang lebih besar, kecintaan kita kepada Allah atau kepada selain-Nya ?
Ibadah qurban ini untuk membuktikan bahwa kita siap memberikan apa yang kita cintai untuk Allah Subhanahuwata’ala. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mempersembahkan Nabi Ismail ‘alaihissalam yang sangat beliau cintai.

~ Ustadz. Muhammad Zaitun Rasmin ~

UZR Kemerdekaan

Kemerdekaan Atas Berkah Allah Subhanahuwata’ala

Hari Kemerdekaan adalah hari yg membahagiakan. Merdeka dari penjajah,merdeka untuk mengatur negeri sendiri. Kemerdekaan ini diraih atas berkat dan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Karena itu mari semakin tunduk pada ketentuan dan petunjuk Allah yang maha adil lagi Maha Pemurah agar kita benar2 bersyukur atas karunia besar ini.

Jadwal Kajian Sunnah Wahdah Islamiyah Depok

Kajian Sunnah

Kajian Sunnah

Kajian Sunnah Jum’at Malam
Rutin Setiap Ba’da Maghrib sd Isya

Bersama :
A. Ust Ilham Jaya, Lc., MA. (Anggota Dewan Syariah DPP Wahdah Islamiyah)
“Tafsir Surat Al Kahfi”

B. Ust Syamsudin, MPd.
(Direktur Akademi Al Qur’an dan Da’wah Cibinong)
“Hadits Arba’in”

Tempat :
Masjid Al Hijaz Al Khairiyah
Jl Akses UI, No 2a, Kelapa Dua, Depok

Informasi :
082387900900
www.wahdahjakarta.com

Ikuti siaran live :
Fb : wahdah islamiyah jakarta

Kajian Ini terselenggara atas kerja sama antara DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia dan Lazis Wahdah.

📻 Info Kegiatan & Program LAZIS Wahdah kunjungi
Web : www.laziswahdah.com
Facebook : https://goo.gl/a2Xkh0
Instagram : https://goo.gl/nBbvTv
Twitter : https://goo.gl/lkt51n
Telegram : https://goo.gl/53rp3E

🌹 Atas partisipasi dan sedekahnya kami ucapkan “Syukran wa Jazakumullahu Khairan” dan semoga Allah melipat gandakan pahala sedekah kita.

💌 LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

Tebar Qurban

TEBAR QURBAN NUSANTARA “Wujud Iman dan Peduli”

Berikut Harga Sapi dan Kambing
TEBAR QURBAN NUSANTARA
“Wujud Iman dan Peduli”

🐂 SAPI :
A. Ekonomis : mulai Rp 11.200K/Ekor
B. Standar : mulai Rp 21.000K/Ekor
C. Premium : mulai 35.000K/Ekor

🐑 KAMBING :
A. Ekonomi : mulai Rp 1500K/Ekor
B. Standar : mulai Rp 2000K/Ekor
C. Premium : mulai Rp 3000K/Ekor

“Membantu Juga Tebar Qurban di Palestina”

📱 Informasi :
082315900900 (sms/wa/call)

🍂🍂🍂
Published by LAZIS Wahdah Jakarta
“Melayani dan Memberdayakan”

 

Tebar Qurban

Harga Qurban

merasa cukup

Mendefinisikan Kecukupan

Suatu hari sebuah pesan masuk ke HP saya. “Mbak, kalau boleh tahu, gaji bersih suami mb berapa dalam sebulan? Suamiku mau keluar kerja dan ber-wirausaha. Galau ni mb.” Begitu kira-kira isi pesan tersebut. Saya langsung mesem-mesem (senyum-senyum). Yah, namanya kami ini wirausaha, gajinya ya kami sendiri yang mengatur. Kalau pas usaha lancar tentu gaji kami di atas rata-rata, tapi tidak jarang juga pas-pasan bahkan minus.

Sebenarnya, punya status sebagai pegawai ataupun wirausaha, itu adalah pilihan. Mana yang menjadi pilihan dan kemantapan hati, kita nyaman di dalamnya, itulah yang semestinya dijalani. Kalau masalah nominal, ah, saya pribadi tidak mau berkutat dengan angka-angka. Bagi saya, rejeki itu tidak bisa di-matematika-kan. Bahkan dalam nominal yang sedikit tapi mengandung keberkahan, justru itu lebih menenangkan hati dan kehidupan. Apalagi sudah lazim kita melihat fenomena di negeri ini, betapa banyak mereka yang berdasi tapi masih rakus dengan harta. Mereka yang diberi amanah mengurus rakyat malah menjadi maling. Kasihan sekali orang-orang seperti itu, seakan hidup hanya di dunia saja, seakan uang dan harta adalah segalanya. Padahal kaya atau miskin itu hanya bagian dari ujian hidup, jika saja mereka menyadarinya.

Kaya atau miskin pun bagi saya tidak bisa diukur dengan parameter fisik. Betapa banyak mereka yang hidup di rumah megah dengan kendaraan mewah tapi hatinya miskin. Miskin dari rasa syukur, miskin dari ketenangan hidup, miskin dari kebahagiaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terus saja merasa kurang dan kurang. Sedangkan banyak yang dipandang miskin, ternyata mereka menikmati hidup dalam ketenangan dan merasa baik-baik saja. Mengapa? Hati yang bersyukur dan merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Bukan saya mengajari untuk tidak kaya. Kaya itu suatu kebutuhan, karena banyak sekali amal kebaikan yang bisa dilakukan dengan kekayaan. Ibadah umrah dan haji, zakat maal, menyantuni fakir miskin, wakaf, dan masih banyak lagi amal kebaikan yang hanya bisa dilakukan dengan kelebihan harta. Hanya saja, tidak setiap hamba Allah di dunia ini mendapatkan kelebihan harta. Dan memang Allah memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Lantas, jika Allah menghendaki kita untuk tidak mendapatkannya, sehingga kita hidup dalam keuangan yang pas-pasan, bagaimana rasa hati kita?

Iri? Ah, itu bukan solusi. Sekali lagi saya katakan, bahkan kelapangan ataupun kesempitan dalam harta itu hanya bagian dari ujian hidup. Jika pada titik ini kita ternyata pada kondisi ‘pas-pasan’ secara materi, nikmati saja, syukuri. Itulah kondisi terbaik untuk kita menurut Allah. Bisa jadi ketika kita diberi kelapangan harta, kondisi kita malah menjadi orang yang kufur nikmat dan banyak melakukan kemaksiatan. Jadi, dilihat saja dari sisi positifnya. Belajar mensyukuri pemberian-Nya karena Dia memberi dengan kasih sayang dan semua demi kebaikan kita.

“Ah, mbak nggak ngerasain sih gimana rasanya ga pegang uang.” Hmmm, itulah tabiat kebanyakan manusia, seringkali memandang diri paling merana sementara orang lain paling bahagia dan tidak pernah kesusahan. Memang, seperti apa sih rasanya ga pegang uang menurutmu? Saya rasa, tinggal bagaimana kita menata hati dan berusaha bersyukur dalam setiap apa pun kondisi kita. Bukankah Allah sendiri yang menjanjikan, barangsiapa yang bersyukur kepada-Nya maka Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

“Tapi saya sudah berusaha bersyukur kok masih kurang aja nih mbak keuangannya?”

Hehe, mbaknya …, nikmat Allah itu sangat luas ……………….. Jangan membatasi nikmat hanya dari segi materi. Kita diberi kesehatan dan anggota tubuh yang sempurna itu nikmat. Kita memiliki suami yang shaleh dan mencintai kita itu nikmat. Kita memiliki mertua yang sayang dan perhatian itu nikmat. Kita bisa makan hari ini, itu juga nikmat. Kita bisa mengais rejeki dengan cara yang halal itu nikmat. Banyak sekali nikmat Allah yang senantiasa dicurahkan kepada kita, dan kita tidak akan mampu menghitungnya.

Jadi, ga perlu risau bin galau. Enjoy aja. Yang penting kita tidak menghilangkan sebab, yaitu dengan ikhtiar dan berdoa. Setelahnya, serahkan semua kepada Allah. Apalagi bagi mbak-mbak yang sudah nikah ni, jangan sampai membebani suami dengan banyak tuntutan. Jika suami masih memiliki penghasilan yang pas-pasan, jangan menyudutkannya dengan berbagai kritik dan tuntutan. Berilah motivasi dan semangat. Suami sudah berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi hak kita, jadi cobalah untuk menghargai hal itu. Jangan sampai berbagai tuntutan dan rengekan kita justru membuat suami mencari rejeki dengan cara yang tidak halal. Demi istri tercinta, tidak sedikit suami yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan harta. Supaya istrinya tidak ngomel-ngomel, supaya istrinya bisa tambah mencintainya. Ah, apakah mbak-mbak mau punya suami seperti itu? Kalau saya sih ga mau.

Yuk, belajar merasa cukup dan bersyukur dengan apa pun kondisi kita. InsyaAllah itu lebih menenangkan hati dan mendatangkan kecintaan Allah. Fase kehidupan kita masih panjang lho, jadi jangan begong saja meratapi nasib di fase ini, supaya di fase berikutnya kita ga nyesel.

#UmmiSanti

Zakat Perdagangan

Salurkan Zakat Perdagangan Anda melalui Lazis Wahdah

Salurkan Zakat Perdagangan Anda melalui Lazis Wahdah

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan dg harga asli lalu digabungkan dg keuntungan bersih setelah dipotong piutang.
KADAR ZAKAT 2,5%.

Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas, dan alat operasional perdagangan.

Contoh : Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun, dg jumlah total Rp 200Jt dan laba bersih sebesar Rp 50Jt sementara hutang Rp 100Jt.

Modal dikurangi hutang : Rp 200Jt-Rp100Jt = Rp 100Jt

Jumlah Harta Zakat : Rp 100Jt + Rp 50Jt = Rp 150Jt

Zakatnya : Rp 150Jt X 2,5% = Rp 3.750.000,-

LAZIS Wahdah Jakarta
“Melayani dan Memberdayakan”

Konsultasi Zakat :
082315900900 (call/wa/sms)

Sumber : Panduan Zakat

⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

Tanya Jawab Seputar Qurban

  1. Daging sapi kurban harus dibagi 7?
    JAWAB: Tidak harus dibagi tujuh, bisa satu orang, atau dua, maksimal tujuh orang untuk satu sapi

  2. Apakah yang berkurban boleh makan daging kurbannya?
    JAWAB: Boleh, bahkan disunnahkan

  3. Kalau boleh, berapa bagian yang bisa diambil oleh yang berkurban?
    JAWAB: Tidak ada ukuran tertentu, boleh sepertiga sebagaimana amalan sebagian sahabat

  4. Siapa saja yang berhak mendapatkan daging kurban?
    JAWAB: Pemilik kurban, fakir miskin dan boleh diberikan kepada orang yang mampu sebagai hadiah

  5. Bagaimana cara pembagian daging kurban?
    JAWAB: Boleh dibagi tiga, sepertiga untuk pemilik kurban, sepertiga untuk fakir miskin dan sepertiga hadiah untuk siapa yang diinginkan walaupun orang yang tergolong mampu

  6. Panitia kurban dapat bagian daging kurban?
    JAWAB: Boleh diberikan sebagai sedekah kalau miskin atau hadiah kalau orang yang mampu, TIDAK BOLEH diberikan sebagai upah kepanitiaan

  7. Daging kurban bisa dimasak dulu baru dibagi atau memanggil keluarga / tetangga untuk makan?
    JAWAB: Kedua-duanya boleh

Wallaahu a’lam

Dijawab oleh tim Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah

Hijab

Batasan Hijab Wanita

HIJAB WANITA

Soal Ke-130
💌 Tanya Ustad 💌

📩PERTANYAAN📩
Bismillah..
Mohon diberikan penjelasan dan landasan hukumnya baik berdasar Alquran maupun Hadist mengenai keharusan seorang muslimah menggunakan hijab syar’i.
syukron ustad
aedy moward#serpong#bii55

📌JAWABAN📌
Bismillaah,,
Untuk menjawab pertanyaan anda dibutuhkan satu pembahasan khusus, dan ini lah salah satu pembahasan ringkas tentang hijab wanita muslimah, yang disadur dari: http://markazinayah.com/hijab-wanita.html , selamat membaca:

Hijab Wanita

🌱 Harga diri dan kemuliaan seorang wanita sangat bernilai dalam pandangan Islam. Ini tergambarkan begitu jelas dalam tujuan dan misi utama Islam; yaitu tuntunan yang datang untuk menyelamatkan agama [aqidah dan syariat], jiwa, harta, akal, dan harga diri [kehormatan] umat manusia.
Demi menjaga harga diri seorang wanita, Islam telah menetapkan beberapa batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrahnya. Artinya, ketika seorang wanita keluar dari batasan-batasan Allah ini, maka pada dasarnya ia telah menentang fitrah penciptaannya dan pasti akan berakibat fatal pada harga diri dan agamanya.

🌱 Di antara aturan Islam tersebut adalah: Menjauhi segala perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam hubungan haram, maksiat zina, dan pelecehan harga diri seorang wanita. Selain pacaran dan berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram, perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam perbuatan nista ini adalah menanggalkan hijab atau pakaian yang menutup seluruh aurat dan perhiasan yang dipakainya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” [QS. An-Nur: 31].

Sebagai seorang muslimah, hijab merupakan penjaga harga diri dan potret kemuliaannya. Dengannya ia lebih dikenal sebagai wanita yang memiliki identitas muslimah sejati serta bisa menjaga aurat dan menutup pintu kenistaan atas dirinya.

🌱 Ini salah satu di antara sekian hikmah hijab yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana firmanNya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [QS. Al-Ahzab: 59].

Kandungan ayat ini sangat jelas bahwa fungsi dan hikmah dari hijab adalah untuk menghindari terjadinya dosa dan fitnah yang mengancam kehormatan dan harga diri kaum wanita. Oleh sebab itu, hijab dan menutup aurat secara sempurna merupakan suatu kewajiban yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah. Ayat di atas juga menegaskan bahwa memakai hijab bukanlah suatu kewajiban dan amanah semata, namun ia juga merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri oleh setiap kaum muslimah.

🍂 Perlu diperhatikan bahwa hijab dan pakaian penutup aurat ini memiliki kriteria yang diatur secara jelas dalam al-Quran dan sunnah. Di antara kriteria tersebut adalah:

•1. Menutupi seluruh aurat.
Dalam perkara aurat ini, para ulama berbeda dalam dua pendapat.

Pendapat pertama: menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, sebab itu ia diwajibkan memakai hijab yang bisa menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.

Pendapat kedua: menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat, sehingga menutup keduanya adalah sunah. Namun perlu diketahui, pendapat yang kedua ini tidak memutlakkan bolehnya menampakkan wajah dan telapak tangan begitu saja, sebab pendapat ini mensyaratkan bolehnya menampakkan keduanya kalau tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan menjadi objek pandangan kaum laki-laki.

•2. Pakaiannya longgar dan tidak ketat, juga tebal dan tidak tipis agar tidak menampakkan lekuk dan bentuk tubuh.
Rasulullah telah mengancam para wanita yang memakai pakaian tipis dan ketat dalam sabda beliau:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌمُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya; yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang [baik karena tipis atau pendek sehingga tidak menutup auratnya], berlenggak-lenggok [ketika berjalan agar diperhatikan orang], kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya bisa didapati dari jarak perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim].

•3. Warnanya tidak terlalu mencolok dan tidak memuat hiasan.
Karena hal yang demikian ini bisa menarik perhatian kaum laki-laki. Alangkah baiknya memilih warna yang gelap atau warna lain yang tidak terlalu mencolok.

•4. Tidak memakai wewangian yang menyengat ketika keluar rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَة
“Setiap wanita yang memakai wewangian lalu keluar melewati suatu kaum [laki-laki] agar mereka bisa mencium bau wanginya, maka ia laksana penzina.” [HR. Abu Dawud, hasan].

Jika kriteria hijab ini tidak terpenuhi, maka ia merupakan pakaian berlabel tabarruj jahiliah [berpakaian ala kaum jahiliah] dan hal ini telah dilarang oleh Allah Ta’ala:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya.” [QS. Al-Ahzab: 33].
Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslimah seharusnya menetap di dalam rumah dan tidak keluar kecuali untuk suatu hajat atau keperluan, sebab banyak keluar tanpa ada alasan tepat merupakan sikap wanita jahiliah sebagaimana halnya menampakkan aurat dan perhiasan di hadapan lawan jenis yang bukan mahram.

🍂 Syariat yang diturunkan Allah pasti memiliki suatu hikmah dan manfaat yang sangat besar, sebab Allah tidak mewajibkan suatu amalan kecuali amalan tersebut memiliki maslahat dan manfaat yang besar dan pasti. Demikian halnya dengan hijab ini. Di antara maslahat itu ialah:

•1. Menjaga aurat, harga diri, dan kemuliaan seorang wanita. Dengan hijab identitas dirinya sebagai muslimah sejati bisa terjaga, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan berjilbab pula wanita bisa menjauhi tempat-tempat maksiat, dan terhindar dari pelecehan seksual.

•2. Menyelamatkan seorang wanita dari azab neraka yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Siksa Allah amatlah pedih. Jangan sampai kita mengira bahwa tubuh kita akan kuat menahan siksaNya.

•3. Hijab merupakan ibadah yang mudah dan ringan, namun mendatangkan cinta dan ridha Allah Ta’ala. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatupun yang lebih Kucintai daripada apa yang Aku wajibkan.” [HR. Bukhari].

•4. Menyerupai sifat bidadari surga yang senantiasa menjaga dan menutup dirinya, serta tidak memandang atau menampakkan aurat dan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka. Dengan hijab seorang wanita bisa menjadi seorang ratu bidadari surga.

•5. Hijab salah satu tanda kesalehan dan menambah aura kecantikan baik secara lahir ataupun batin. Dengannya ia bisa berteman dengan wanita-wanita muslimah yang salehah. Bahkan bisa mendatangkan jodoh yang saleh pula. Dalam ayat al-Quran disebutkan:
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik [pula].” [QS. An-Nur: 26].

 

✏ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

🍀Grup WA Belajar Islam Intensif🍀

 

Gabung Grup BII
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +628113940090

👍Like FP Belajar Islam Intensif
👍Follow instagram belajar.islam.intensif
🌐 www.belajarislamintensif.com

🍀Belajar Islam Intensif🍀