4 Kunci Meraih Rahasia Lailatul Qadar

Lailatul Qadar

4 Kunci Meraih Rahasia Lailatul Qadar

Berjumpa Lailatul Qadar adalah dambaan semua hamba yang beriman kepada Allah. Dan bahwasanya, malam penuh berkah ini berpindah-pindah jatuhnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Maka tidak ada pilihan bagi kita melainkan mencarinya pada seluruh hari-hari tersebut, utamanya pada malam-malam ganjil. Yang demikian sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam peringatkan:

“تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان”. صحيح البخاري.

“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Nah, untuk mendapatkan keberkahan malam yang mulia itu, sekurang ada empat kunci yang harus dimiliki:

Kunci Pertama: Mengetahui pahala, serta gambaran besarnya balasan bagi orang yang menegakkan ibadah serta bersungguh-sungguh di dalamnya. Tanamkan keyakinan, bahwa ia bukan malam biasa. Akan tetapi malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kunci Kedua: Mengejar serta memperhatikan tanda-tandanya. Di antaranya, tanda yang disebutkan dalam riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها”. رواه مسلم.

“Dan tanda Lailatul Qadar itu, matahari terbit di pagi harinya putih pucat tidak ada cahaya padanya”.

Sebagian tanda zahir ini kadang terhijab dari kita, namun bisa saja salah satu dari kita merasakan tanda ini dalam dirinya berupa ketenangan, kelapangan hati, rasa khusyu’, dan selainnya.

Kunci ketiga: Bersungguh-sungguh di dalamnya serta memperbanyak shalat dan tidak melewatkan saat-saatnya yang sangat berharga.

Termasuk, bermujahadah dalam doa dan permohonan ampunan dari Allah.

Dari Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata:

“يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني”. الترمذي وقال: حسن صحيح.

Wahai Rasulullah, bagaimana saran engkau jika aku mengetahui (mendapatkan) Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Kunci Keempat: Ikhlas di dalamnya, serta hanya berharap pahala dan balasan dari Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“مَن قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه”. متفق عليه.

“Siapa yang menegakkan (ibadah-ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan hanya mengharap balasan (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Lailatul Qadar dan Tercelanya Debat Kusir

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar dan Tercelanya Debat Kusir

“Jika debat kusir yang sebenarnya dilakukan untuk mencari kebenaran bisa dianggap tercela serta mengangkat kebaikan dan keberkahan, maka bagaimana dengan debat kusir untuk kesombongan, fitnah, ghibah, kesia-siaan, dan kemaksiatan? Sudah tentu semua ini lebih utama lagi untuk mengangkat kebaikan dan berkah tersebut di antara mereka”. 

Seperti diketahui, waktu persis kapan turunnya Lailatul Qadar itu merupakan rahasia ilahi. Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Tentu saja hal ini mengandung hikmah yang agung. Di antaranya, agar Kita tetap berjaga-jaga akannya selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Barangkali ada yang bertanya terkait judul di atas. Apa korelasi antara Lailatul Qadar dengan debat kusir? Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam “Shahih”nya terdapat keterangan tentang hal ini.

عن عُبَادَة بْنُ الصَّامِتِ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقَالَ: “خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالخَمْسِ

Dari Ubadah bin Shamit Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk mengabarkan tentang malam Lailatul Qadar. Akan tetapi, beliau lantas bertemu dua orang dari kaum Muslimin sedang berdebat, maka beliau pun bersabda:

Sungguh aku keluar untuk mengabarkan kalian tentang (waktu) malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga akhirnya (pengetahuan) itu diangkat. Semoga ini lebih baik bagi kalian, carilah ia pada malam dua puluh tujuh, dua puluh sembilan, dan dua puluh lima”. (HR. Bukhari).

Dari keterangan ini nampak bahwa pada mulanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diberitahu oleh Allah ilmu tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar itu. Akan tetapi, dikarenakan ada dua orang yang berdebat di dalam Masjid, maka ilmu itu pun kembali diangkat oleh Allah Ta’ala.

Para ulama mengatakan, dalam hadits ini Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutamakan penyebutan dua puluh tujuh, kemudian dua puluh sembilan, lalu dua puluh lima, sebagai isyarat bahwa kemungkinan besar terjadinya malam Lailatul Qadar itu ada pada malam kedua puluh tujuh.

Terkait riwayat ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani –rahimahullah– berkata:

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ: “فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُخَاصَمَةَ مَذْمُومَةٌ وَأَنَّهَا سَبَبٌ فِي الْعُقُوبَةِ الْمَعْنَوِيَّةِ أَيِ الْحِرْمَانِ وَفِيهِ أَنَّ الْمَكَانَ الَّذِي يَحْضُرُهُ الشَّيْطَانُ تُرْفَعُ مِنْهُ الْبَرَكَةُ وَالْخَيْرُ”

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: Dalam hadits ini terkandung dalil bahwa debat kusir itu tercela. Dan bahwasanya ia merupakan sebab bagi hukuman yang sifatnya maknawiyah, yakni pengharaman (dari kebaikan). Demikian pula, padanya terdapat dalil bahwa tempat yang dihadiri setan di dalamnya diangkat darinya keberkahan dan kebaikan”. (Lihat Fath Al-Bari, 1/113, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Nah, jika debat kusir yang sebenarnya dilakukan untuk mencari kebenaran bisa dianggap tercela serta mengangkat kebaikan dan keberkahan, maka bagaimana dengan debat kusir untuk kesombongan, fitnah, ghibah, kesia-siaan, dan kemaksiatan? Sudah tentu semua ini lebih utama lagi untuk mengangkat kebaikan dan berkah tersebut di antara mereka. Wallahu A’lam.

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [5]: Hal-Hal yang Dibolehkan Saat I’tikaf

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [5]: Hal-Hal yang Dibolehkan Saat I’tikaf

Ada beberapa yang dibolehkan saat i’tikaf, diantaranya;

  1. Keluar untuk suatu keperluan yang tidak dapat dielakkan.

Dalilnya hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata :

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam  di masjid, kadang beliau memasukkan kepalanya maka saya menyisirnya dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena kebutuhan yang manusiawi”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Malik rahimahullah berkata: “Tidaklah seseorang dikatakan beri’tikaf hingga dia meninggalkan hal-hal yang harus dia tinggalkan seperti menjenguk orang sakit, shalat jenazah, dan masuk ke rumah kecuali ada hajat insan”.

Imam Az Zuhri rahimahullah menafsirkan hajat insan (kebutuhan yang manusiawi) sebagai kencing dan buang air besar, dan kedua hal ini merupakan ijma’ tentang bolehnya keluar masjid disebabkan kedua hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mundzir rahimahullah.

  1. Menyisir rambut, mencukurnya, memotong kuku dan membersihkan badan dari berbagai kotoran”. (Lihat :Ma’alim As Sunan 2 : 578)
  2. Membawa kasur dan alat tidur serta perlengkapan lainnya ke masjid.
  3. Menerima tamu dan mengantarkannya hingga ke pintu masjid. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika beliau diziarahi oleh istri beliau Shofiyyah .
  4. Makan dan minum di dalam masjid dengan tetap memelihara dan menjaga kebersihan dan kemuliaan masjid.

Khatimah

Seseorang yang berniat untuk beri’tikaf hendaknya mempertimbangkan maslahat dan mudharat. Jika dia adalah seorang pemuda yang sangat dibutuhkan oleh orang tuanya maka hendaknya dia mendahulukan hak orang tuanya karena hal tersebut wajib, namun jika dia diizinkan untuk beri’tikaf maka itulah yang utama. Demikian pula dengan orang yang bekerja di bidang jasa dan kepentingan masyarakat umum hendaknya mendahulukan kepentingan umum dari kepentingan pribadi dan sungguh Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang diniatkan oleh hamba-hamba-Nya.

Adapun bagi mereka yang Allah Ta’al  muliakan dengan memberikan kesempatan untuk beri’tikaf di tahun ini hendaknya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, raihlah hikmah dan faidah i’tikaf, perhatikanlah adab-adabnya serta jauhkanlah dari hal-hal yang terlarang dan janganlah menjadi orang yang i’tikafnya tidak ubahnya dari sekedar berpindah tempat tidur saja. Mudah-mudahan dengan i’tikaf ini anda bisa mendapatkan malam yang lebih mulia dari seribu bulan : “Lailatul Qadar”.

Fiqh Praktis Zakat Fitrah

Hukum Zakat Fitrah

Zakat fitrah  hukumnya wajib bagi setiap Muslim. Ia merupakan kewajiban setiap Muslim (ah) pada akhir bulan Ramadhan, berdasarkan perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma;

“فرض رسول الله –صلى الله عليه وسلم– زكاة الفطرمن رمضان صاعاً من تمر، أو صاعاً من شعير، على الذكر والأنثى، والصغير والكبير، والحر والعبد من المسلمين، وأمر أن تؤدى قبل خروج الناس للصلاة “

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada zakat fitrah pada bulan Ramadhan berupa 1 sha tamr (kurma), atau tepung gandum kepada laki-laki, wanita, anak kecil, dewasa, orang merdeka maupun budak di kalangan kaum Muslimin, dan beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar ke tempat shalat (‘ied)”. (HR. Nasai).

Hikmah Zakat Fithrah

 

Zakat fithrah memiliki hikmah yang sangat agung yang kembali kepada muzakki (penunai zakat) dan penerima (mustahiq). Bagi penunainya zakat memiliki hikmah sebagai pembersih dan penyuci seseorang yang berpuasa dari hal-hal yang menodai puasanya, baik berupa Laghw (omong kosong) maupun rafats (perkataan kotor), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma;

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memfardhu (wajib) kan Zakat Fithri sebagai penyuci orang-orang puasa dari laghw dan rafts serta makanan bagi orang-orang miskin”. (terj. HR. Abu Daud dan Ibn Majah).

Adapun hikmah bagi penerimanya adalah memberi kecukupan makanan sehingga mereka tidak meminta-minta pada hari ‘ied, bedasarkan hadits Nabi di atas, ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memfardhu (wajib) kan Zakat Fithri sebagai penyuci orang-orang puasa dari laghw dan rafts serta makanan bagi orang-orang miskin”. (terj. HR. Abu Daud dan Ibn Majah).

Dalam hadits lain, Nabi juga bersabda;

أغنوهم عن السؤال يوم العيد

Berilah kecukupan kepada mereka sehingga tidak meminta-minta pada hari ‘ied”. ( HR. Baihaqiy).

 

Zakat Fitrah Berupa Makanan

Zakat Fitrah dikeluarkan dan disalurkan dalam bentuk makanan pokok mayoritas penduduk suatu daerah, baik gandum, jemawut, kurma, beras, jagung, anggur, atau keju. sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu;

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada bersama kami, kami mengeluarkan zakat fitrah baik untuk anak kecil maupun orang dewasa, untuk orang merdeka maupun budak sebanyak 1 sha’ makanan atau 1 sha’ keju, atau a sha’ jemawut atau 1 sha’ kurma, atau 1 sha’ anggur”. (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena zakat fitrah adalah zakat makanan, maka hendaknya tidak digantikan dengan uang, kecuali darurat. Sebab tidak ada satu riwayatpun yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membayarkan uang sebagai pengganti makanan. Demikianpula tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa mereka mengeluarkan dan menunaikan zakat fitrah berupa uang. Padahal saat itu sudah ada uang sebagai alat tukar.

Jumlah Zakat Fitrah

Berdasarkan hadits-hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar dari para sahabat, kadar zakat fithri adalah 1 sha’. 1 Sha’= 4 mud. 1 mud setara dengan satu cakupan dua telapak tangan orang dewasa). Namun sha’ yang dimaksud bukan berdasarkan cakupan tangan masing-masing yang berzakat. Tetapi sha’ yang dimaksud adalah sha’ nya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sha’ Nabi jika dikonversi ke berat setara dengan 2,5 Kg.

Waktu Menunaikan Zakat Fitrah

Zakat fitrah diwajibkan pada malam hari ‘ied. Sedangkan waktu menunaikannya terbagi dua;

Waktu jawaz; boleh mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum shalat ‘ied, sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Waktu Afdhal (Utama); Waktu yang utama mengeluarkan zakat fitrah adalah antara terbit fajar hingga sebelum pelaksanaan shalat ‘ied. Sebab Nabi memerintahkan agar zakat Fitrah dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat melakukan shalat hari raya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salla mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi para shaimin dari omong kosng dan perkataan kotor serta makanan bagi para masakin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang memberikannya setelah shalat ‘ied maka ia (hanya) sedekah biasa”. (terj. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Penerima Zakat Fitrah 

Golongan yang berhak menerima zakat fitrah hanya orang miskin, menurut peandapat yang rajih (kuat), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bahwa Zakat Fithri diwajibkan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin agar mereka memiliki kecukupan sehingga tidak meminta-minta pada hari’ied. Dalam hadits riwayat Imam Baihaqiy Nabi mengatakan;

أغنوهم عن السؤال يوم العيد

Berilah kecukupan kepada mereka sehingga tidak meminta-minta pada hari ‘ied”. ( HR. Baihaqiy).

Sebagian Ulama (diantaranya Syekh al-Jazairi) ada yang berpendapat, yang berhak menerima zakat Fitrah adalah sama dengan golongan yang berehak menerima zakat secara umum, sebagaimana disebut dalam Surah At-Taubah ayat 60. Namun orang miskin lebih berhak menerima zakat Fitrah daripada kelompok lainnya. Artinya mustahiq yang lainnya diberikan setelah fakir miskin mendapatkan bagian. Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengatkan, “Jadi, zakat Fithri tidak diserahkan kepada selain fuqara kecuali jika mereka tidak ada atau kefakiran mereka ringan atau kelompok penerima zakat lainnya memiliki kebutuhan yang mendesak”. (Minhajul Muslim, hlm.571).

Kesimpulan

  • Zakat Fitrah hukumnya wajib bagi setip Muslim (ah); baik anak-anak, dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka maupun budak.
  • Zakat Fitrah ditunaikan dalam bentuk makanan pokok, dan tidak diganti dengan uang, kecuali dalam kondisi darurat.
  • Zakat Fitrah diwajibkan pada malam hari Raya.
  • Waktu afdhal penunaiannya setelah terbit fajar pada hari ‘ied sampai sebulum shalat ‘ied dimulai.
  • Boleh menunaikan zakat Fitrah satu atau dua hari sebelum ‘ied untuk memudahkan panitia menyalurkannya kepada yang berhak.
  • Jika ditunaikan setelah shalat ‘ied; terhitung sebagai sedekah biasa.
  • Hikmah Zakat Fitrhi; (1) Penyuci para shaimin dari laghw dan rafats, dan (2) Makanan bagi para masakin.
  • Yang berhak menerima zakat fitrah adalah faqir miskin. Boleh diberikan kepada yang lain dalam keadaan daruraut atau kebutuhan para fuqara dan masakin terpenuhi.

Oleh Syamsuddin Al-Munawiy

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [4]: Adab-Adab I’tikaf

Ada beberapa adab yang hendaknya diperhatikan dan dipraktikkan oleh orang yang beri’tikaf. Diantara adab-adab i’tikaf tersebut adalah

  1. Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala .
  2. Membuat bilik-bilik di masjid untuk digunakan berkhalwat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , terutama jika ada wanita yang ikut beri’tikaf, maka wajib atas wanita untuk membuat bilik-bilik tersebut agar terhindar dari ikhtilat (bercampur) dan saling pandang-memandang dengan lawan jenis.
  3. Meninggalkan perdebatan dan pertengkaran walaupun dia berada di pihak yang benar
  4. Hendaknya  juga menghindari dari mengumpat, berghibah, dan berkata-kata yang kotor, karena hal-hal tersebut terlarang di luar i’tikaf maka pelarangannya bertambah pada saat i’tikaf.
  5. secara umum seluruh perbuatan dan perkataan yang tidak bermanfaat hendaknya ditinggalkan, karena semua hal itu akan mengurangi pahala beri’tikaf

Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat ‘Ied

Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat 'Ied

Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat ‘Ied

Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat ‘Ied

Pertanyaan:

Apa hukumnya orang yang sengaja atau lupa membayar zakat fitrah hingga shalat idul fitri selesai ?

Jawab:

Apabila seseorang sengaja membayar zakat ini setelah shalat idul fitri tanpa ada udzur atau alasan syar’i maka ia berdosa, dan zakat yang dibayarnya tersebut sama sekali tidaklah bernilai zakat fitrah namun hanya bernilai sedekah biasa. Adapun bila ia melakukan itu karena ada alasan syar’i seperti lupa atau tidak mendapatkan fakir miskin sebelum shalat idul fitri, maka zakatnya tetap dianggap sah. Ini sesuai hadis Ibnu Abbas:

“Barangsiapa yang membayarnya (zakat fitrah) sebelum shalat (idul fitri) maka ia adalah zakat  yang diterima (sah), dan barangsiapa yang membayarnya setelah shalat (tanpa alasan syar’i) maka ia hanyalah dianggap sebagai sedekah seperti sedekah-sedekah biasanya” (HR Abu Daud: 1609, dan Ibnu Majah: 1827, hadisnya hasan)[Syarh Arkaan Al-Islam: hal. 128-129].

[sym].

Menyambut Kejayaan Umat Islam Di Bawah Naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Menyambut Kejayaan Umat Islam Di Bawah Naungan Al-Qur’an dan s-Sunnah

Menyambut Kejayaan Umat Islam Di Bawah Naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah

(Khutbah Idul Fitri 1436 Wahdah Islamiyah)

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ اَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamd

Hari ini kita berkumpul disini, menumpahkan semua yang menggumpal di dada,

Maka biarkan takbir menggema,

Maka biarkan tahlil membahana memenuhi angkasa, memecah bekunya jiwa, dan biarkan semua lantunan zikir membasuh qalbu, mengembalikan cemerlang dan kilau beningnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamd.

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Saat ini berjuta kaum muslimin dari seluruh negeri merayakan hari bahagia ini, walau lantunan takbir itu menggema dari sudut kemah pengungsian, atau bahkan di tengah rentetan peluru dan ledakan bom yang menggelegar, takbir tetap menggema karena Allah yang Akbar.

Sejatinya kita sedang menyelaraskan diri dalam ibadah semesta yang tak henti memuji dan bertasbih kepada-Nya,

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamd.

Hari ini mungkin masih tersisa banyak tangis atas anak-anak Palestina yang tertembak peluru-peluru durjana para Yahudi.

Hari ini mungkin masih tersisa banyak tangis atas para muslimah yang terzalimi dan terampas kehormatannya di bumi Suriah,

Atau air mata yang yang terkuras habis atas kaum muslimin Rohingya di Arakan Myanmar yang sahajanya tetap tegar di atas iman dan Islam, walau kezhaliman dan keangkaramurkaan kaum musyrikin bertubi-tubi menerpa mereka dari zaman ke zaman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamd.

Hari ini semua itu bisa terjadi, namun gema takbir tetap membahana, tetap menggema di setiap relung jiwa setiap muslim Palestina, terukir indah dalam asa setiap mujahid Suriah, bahkan getar bibir bocah cilik Muslim Rohingya yang kering pun melafalkannya dengan bahagia, walau nestapa menerpa.

Allah adalah Akbar, Yang Maha Besar, lebih besar dari semua musuhNya, lebih besar dari semua makar manusia-manusia zalim, lebih besar dari semua penderitaan hamba-hamba-Nya yang beriman, bahkan lebih besar dari setiap harapan dan angan mereka. Maka sekali lagi, kumandangkan

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamd“

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,

Persoalan dan problema yang dihadapi saudara-saudara kita di manca negara tidak berarti kita mengabaikan apa yang kita alami di negeri kita sendiri.

Peristiwa demi peristiwa terjadi dalam hidup ini, dan negeri kita menjadi saksi betapa rumitnya hidup tanpa diterangi cahaya syariat Allah.

Kriminalitas merajalela dimana-mana, sementara kesempitan hidup mencekat dan melilit membuat banyak orang bermata gelap menempuh segala cara untuk mempertahankan hidup, kadang tidak perduli lagi antara yang halal dan yang haram.

Negeri yang kekayaan alamnya melimpah ruah ini, ternyata masih mengalami kesulitan ekonomi yang menggurita, ada apa ini?

Ada baiknya kita merenungi firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut ini :

ومنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha: 123-124)

Saat ini pula kekuatan-kekuatan jahat yang memusuhi agama yang mulia ini demikian nampak jelas dan kasat mata, usaha pemurtadan yang berjalan terus mengerogoti umat, hingga hari demi hari tanpa kita sadari ternyata jumlah kita semakin berkurang.

Belum lagi berbagai kelompok yang mengaku Islam namun menikam belati dari belakang, merekalah kaum sekuler dan liberal yang berkonspirasi licin dengan kaum Syiah Rafidhah pembenci sahabat Nabi.

Semua itu ditambah semakin merebaknya dekadensi moral dan akhlak terutama di kalangan generasi muda yang sesungguhnya menjadi tumpuan harapan di masa depan, Wallahul Musta’an.

Semua fenomena ini seakan menggores bahkan menikam hati kita, dan sekali lagi kita hanya berucap: Wallahul Musta’an -kepada Allah kita meminta pertolongan-, karena Dia Yang Maha Besar, lebih besar dari semua problema itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Apakah kita menyerah atas semua masalah ini, apakah kita tinggal diam berpangku tangan? Tidak, sekali-kali TIDAK. Bahkan kita harus bangkit, kita harus menatap optimis ke depan, dengan penuh tsiqah kepada Allah kita harus menerjang ombak permasalahan itu, bahtera perjuangan harus tetap melaju walau badai musibah dan problema terus menerpa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin yang dijayakan Allah.

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang harus kita lakukan dan dari mana kita mulai?

Allah Tabaraka Wa Ta’ala memberikan jawaban-Nya dalam firman-Nya berikut ini :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang diridhaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan mengganti (keadaan) mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS an-Nur: 55)

Solusi dan jalan keluar itu adalah Tauhid, penyembahan total kepada Allah, ketundukan mutlak syariat-Nya, buku petunjuk-Nya itulah Al-Quran, yang berisi 114 surat cinta Allah kepada kita, peta jalan hidup yang akan mengantar kita kepada surga-Nya, kepada keridhaan-Nya.

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

 

“Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS Al-Isra`: 9)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kembali kepada al-Qur’an berarti membacanya dan berusaha sedapat mungkin untuk mempelajarinya, mentadabburi maknanya,

كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَاب

Kitab (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Kembali kepada al-Qur’an adalah berusaha mengamalkannya semaksimal mungkin, karena al-Qur’an-lah pelita yang menerangi jalan hidup manusia, bahkan al-Qur’an adalah ruh yang menjadikan kehidupan menjadi kehidupan yang sesungguhnya, firman Allah Ta’ala:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Demikianlah Kami wahyukan ruh (al-Qur’an) kepadamu dari sisi Kami. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura : 52)

Kembali kepada al-Qur’an berarti mengajarkannya dan menyebarkan mutiara-mutiara indahnya, Rasululllah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya inilah tugas kerasulan yang kita teruskan, menjalaninya berarti menapak tilasi jejak Sang Rasul shallalllahu alaihi wa sallam yang memang tidak ringan, namun tetap indah dan mempesona, setiap kita harus mengambil peran dalam berkhidmat kepada al-Qur’an, mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an adalah karakter muslim sejati.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Jika al-Quran adalah tali Allah tempat kita berpegang, maka sungguh tamasuk kita kepada al-Quran akan membimbing kita untuk menyatu padukan segala potensi umat yang disayang Allah ini, saling menguatkan antar satu bagian dengan bagian yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103)

Bahkan Allah Ta’ala menegaskan tentang pentingnya kebersamaan ini dan bahwa pertolongan Allah datang berupa kebersamaan orang- orang yang beriman, Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ

Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mukmin. Dan Allah mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan segala apa yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah yang mempersatukan hati mereka.” (QS al-Anfal: 62-63)

Allah Maha Kuasa untuk menolong hamba-Nya namun telah menjadi sunnah dalam perjuangan menegakkan dien-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin a’azzakumullah

Kebersamaan ini adalah perintah Allah Ta’ala, ia pun adalah petunjuk Rasul-Nya yang mulia shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد ومن أراد بحبحة الجنة فعليه بالجماعة

Berpegang teguhlah) kalian dengan al-jama’ah dan menjauhlah dari perpecahan, karena sesungguhnya syaithan itu bersama orang yang sendirian dan ia lebih jauh dari mereka yang berdua. Barangsiapa yang menginginkan tempat terbaik di dalam surga, maka wajib atasnya untuk (berpegang teguh) dengan al jama’ah.”

Berpegang kepada As-Sunnah akan menuntun kepada Jamaah dan persatuan, dan itulah Ahlussunnah Waljama’ah yang sesungguhnya, karena Ahlussunnah bukanlah dominasi kelompok tertentu, namun seperti Sabda Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam:

اَلْجَمَاعَةُ : هِيَ الَّتِيْ مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِيْ

“Al-Jamaah, yaitu yang serupa dengan apa yang ada pada diriku dan para sahabatku” (HR. al-Tirmidzy)

Dengan tamassuk dan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah yang akan membimbing kepada Jamaah dan persatuan kita yakin bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kepada para pemimpin negeri ini, semoga Allah memberi kita semua kelembutan hidayah-Nya, ketahuilah bahwa negeri ini adalah anugerah Allah, dan tidak ada se-inci pun tanahnya kecuali milik-Nya, maka kebaikan dan kemakmuran negeri ini adalah sejauh mana kita menjalankan ajaran Allah di bumi milik Allah ini.

Negeri inipun adalah warisan para pahlawan dan mujahid fi sabilillah, yang telah mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, teriakan takbir mereka masih nyaring terdengar dari lorong-lorong sejarah, jangan khianati pengorbanan mereka.

Kepada para pemuda harapan umat dan bangsa, perkuat diri, pantaskan diri memikul amanah perjuangan, ketahuilah bahwa keshalehan itu indah, karena ia adalah perjuangan dan anugerah Ilahi, kejar dan raihlah agar anda berada pada kafilah para pejuang.

Untuk anda para muslimah sejati, terimalah salam hormat dan penghargaan kami atas iffah dan ketegaran anda di atas agama ini, tetaplah di atas jalan yang mulia ini,

Wahai para mujahidah sejati, jadilah wanita pilihan,

Jadikan jiwamu selembut dan setegar khadijah,

Cerdasmu bagaikan Aisyah,

Keteguhanmu seperti Nusaibah,

Setiamu bagaikan Fatimah,

Dan cita-citamu adalah cita-cita Asiah yang doanya abadi dalam kitab Ilahi :

رَبِّ ابْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Ya Allah, bangunkan untukku sebuah rumah di surga

Dan wahai para guru-guru kami tercinta, para ustadz dan pembimbing jiwa kami, kepadamulah setelah Allah bergantung kejayaan umat ini, mari kita membangun dan terus memperbaki diri, jangan kita terlalaikan dengan rutinitas dakwah sekalipun,

Janganlah kita bagaikan lilin, menerangi sekitarnya lalu luluh dan meleleh.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

Apakah engkau menyeru manusia untuk berbuat baik, namun melupakan diri-dirimu”.

Kepada para pejuang di jalan Allah, tataplah ke depan, gembiralah atas karena pilihan Allah jatuh pada anda untuk menikmati perjuangan ini. Jagalah hati agar terus dalam muraqabatullah dan ukhuwah yang sejati, hindarkan diri dari setiap bibit perpecahan, semoga Allah selalu bersama kita.

 

Kaum mukminin Syarrafakumullah

Setelah kita menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh pada Ramadhan tercinta, Allah Azza wa Jalla masih saja memuliakan kita dengan kesempatan menyempurnakan pahala puasa kita senilai setahun penuh, dan itu “hanya” dengan menambahkan 6 hari berpuasa di bulan Syawal, Sang Rasul tercinta shallalllahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutkan (dengan berpuasa) enam hari di bulan syawal, maka bagaikan ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Waktu pelaksanaannya bisa dipilih di hari mana saja dari bulan Syawal dan tidak harus berturut-turut, dan bahkan sebagian ulama berpendapat bolehnya mendahulukan puasa syawal ini sebelum meng-qadha’/mengganti puasa Ramadhan.

Akhirnya, marilah kita tundukkan jiwa menengadahkan hati seraya meminta kepada Allah Ta’ala, pemilik dan dan penggenggam semesta:

Di hari penuh rahmat Allah, dimana kebahagian memenuhi dada kita, keharuan menyelimuti hati kita, mari kita tundukkan jiwa dan raga seraya memohon dan berdoa kepada Rabb yang Kuasa-Nya tiada batas, yang yang Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu

Alhamdulillah, segala puji bagimu Ya Allah, atas anugerah kehidupan, atas nikmat kesehatan, atas iman yang dan hidayah.

Atas segala karunia yang mengucur terus tiada terputus.

Ya Allah, hari ini, di tempat ini kami berkumpul, kami hamba-hamba-Mu yang penuh noda dan dosa ini menengadahkan jiwa mengharap limpahan kasih dan sayangmu.

Wahai Rabb kami yang Maha Pengampun, sungguh Engkau mencintai ampunan dan permohonan ampun, maka ampunilah kami dari segala dosa dan kesalahan.

Ya Allah Engkaulah Tuhan kami, tak ada yang berhak disembah melainkan Engkau, Engkaulah Pencipta kami, dan kamipun akan selalu menepati janji terhadapmu semampu kami, kami berlindung pada-Mu dari buruknya apa yang kami kerjakan, kami akui segala nikmat yang Engkau karuniakan pada kami, walau kami akui pula segala dosa dan salah kami pada-Mu, ampunilah diri-diri ini Ya Allah, karena tiada yang dapat mengampuni semua dosa itu melainkan Engkau.

Ya Allah, Ya Rabbana, Ya Allah Wa Ilahana

Engkau Maha Tahu akan segala apapun juga, tidak ada yang dapat bersembunyi dari pengawasan-Mu.

Bersihkanlah jiwa-jiwa kami dengan embun rahmat-Mu, bersihkanlah dengan salju putih kasih-Mu, hingga jiwa ini kembali putih bersih bagai kain putih yang terbersih.

Wahai Rabb kami yang Maha Perkasa, Wahai Rabb kami yang Maha Bijaksana.

Jagalah negeri kami dan setiap negeri kaum muslimin dari setiap marabahaya, dari setiap fitnah dan bencana, janganlah Engkau timpakan hukuman pada kami karena dosa- dosa kami kami.

Ya Allah, Rabb Yang Maha Penyayang.

Sayangilah kami dan para orangtua kami, ampuni dan kasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi dan menyayangi kami, berikan kami kesempatan untuk berbakti pada mereka dengan sebaik-baiknya di dunia ini, dan kumpulkan kami dan mereka nanti dalam limpahan rahmat, kasih dan sayangMu di dalam keabadian surga-Mu.

Wahai Rabb kami, Engkau Maha Mengetahui derita saudara-saudara kami di berbagai belahan bumi-Mu, Engkau Maha Mengetahui Ya Ilaahana bahwa di tengah desingan peluru dentuman bom yang mengelegar, mereka tetap menyebut-Mu, mereka tetap menyembah-Mu, mereka tetap menggelorakan seruan Laa ilaaha illallah.

Ya Allah, Rabb para mustadh’afien, penolong orang-orang tertindas, segerakan pertolongan-Mu pada hamba-hamba-Mu yang beriman di Palestina, anugerahkan ajaibnya kekuasaan-Mu buat para saudara kami di Suriah, enyahkan tirani kaum sesat yang zhalim dari negeri Syam yang mulia.

Ya Allah, Ya Rabbana tidak mungkin lepas dalam pengawasan-Mu, tidak mungkin hilang dari pengetahuan-Mu yang tiada berbatas apa yang diderita oleh saudara kami di Burma, dengan kelembutan-Mu Ya Allah tolonglah mereka, basuhlah setiap luka mereka dengan kasih dan sayang-Mu, runtuhkan segala angkara murka dan kezaliman dari negeri tumpah darah merekam, hanya Engkaulah harapan kami, Ya Rabb.

Duhai Rabb kami yang Maha penyayang, sayangilah para ustadz kami, para guru kami, lindungilah mereka selalu dari segala marabahaya, tuntunlah langkah mereka selalu di atas kebenaran, ampuni segenap khilaf mereka, berikanlah cahaya-Mu yang dengannya mereka membimbing kami.

Allahumma Ya Allah, sungguh kami hanyalah hamba-hamba-Mu, anak dari hamba-hamba-Mu, ubun-ubun kami di tangan-Mu, berlaku pada kami setiap ketentuan-Mu dan adil bagi kami putusan-Mu, Ya Allah kami mohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seorang hamba-Mu, atau Engkau simpan dalam perbendaharaan ilmu ghaib-Mu, agar Engkau menjadikan al-Qur’an penyejuk jiwa kami, cahaya dalam dada kami, pengusir kesedihan kami, dan dengannya berlalu segala gundah-gulana kami.

Wahai Allah yang menggenggam hati hamba-hamba-Nya, satukan hati ini dalam ketaatan kepada-Mu, himpunkan dalam cinta sejati karena-Mu, hilangkan segala benci dari jiwa-jiwa beriman atas saudara-saudaranya, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersaudara karena-Mu dan hanya untuk-Mu.

Ya Allah Rabb yang Maha Pemaaf, hiasi hati kami dengan kelapangan, kuatkan jiwa kami untuk memberi maaf pada setiap saudara kami yang bersalah, karena Engkau Maha Mengetahui Ya Allah dosa dan kesalahan kami pada-Mu.

Ya Allah karuniakanlah pada keluarga dan anak-anak kami kesalehan yang menyejukkan pandangan kami, hiasilah mereka dengan al-Qur’an di dada-dada mereka, satukanlah kami di dunia-Mu ini dalam ketaatan dan himpunkan kami dalam Surgamu yang kekal abadi.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Sumber: Naskah Khutbah Idul Fitri 1436 Wahdah Islamiyah

Bersyukur Meski Payah…

Bersyukur Meski Payah…

 Oleh: Muhammad Ihsan Zainuddin

Syekh Sa’ad bin ‘Atiq al-‘Atiq menceritakan:

Kasihan sungguh pemuda itu.

Usianya 27 tahun,

tapi tubuhnya terserang stroke.

Terbaring lemah di rumah sakit.

Tak ada yang dapat digerakkan lagi.

Kakinya.

Kedua tangannya.

Kepalanya payah menegak.

Hanya kedua mata yang masih menerawang,

dan bibir yang agak kaku,

tapi selalu menyungging senyum.

Tapi yang menakjubkan adalah:

Ia mengkhatamkan KitabuLlah setiap 3 hari.

Dengan kedua bibirnya yang kaku,

ia menggigit sebuah sendok kayu,

demi membuka lembar-lembar al-Qur’an

untuk dieja dan dibacanya…

Dan itulah yang terjadi:

Dengan cara tilawah sepayah itu,

pemuda itu mengkhatamkan al-Qur’an

setiap 3 hari!

***

Seorang penjenguk mendatanginya.

“Mengapa kau selalu tersenyum?”

Ia menjawab:

“Aku bersyukur dan memuji Allah

tanpa batas.”

“Apa yang kau syukuri?

Kau bahkan tak punya nikmat apa-apa lagi!

Selain mata yang masih melihat

dan mulut yang sedikit bisa bertutur!”

Pemuda itu tersenyum lagi.

“Aku bersyukur padaNya:

karena Ia masih membiarkanku bersyukur padaNya,

karena Ia telah melumpuhkanku hingga bisa selalu berdzikir padaNya.

Dulu saat aku sehat,

Demi Allah, aku bahkan tak pernah berdzikir padaNya

sedikit pun…”

***

Maka wahai engkau yang sehat sejahtera!

Apa yang kau tunggu untuk bersyukur?

Apa yang kau nanti untuk berdzikir padaNya?

Apa yang tunggu untuk mengeja ayat-ayatNya?

Jangan katakan:

Kau menunggu kematian tiba!

Karena jika ia benar-benar hadir,

Semuanya tak lagi berarti.

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah,

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sepuluh Kaidah Praktis Zakat Fitrah Menurut Syaikh Ath Tharifi

Berikut ini sepuluh   kaidah Praktis Zakat Fitrah menurut Syekh Abdul Aziz Ath-Tharaifi hafidzahullah. Jumlah sepuluh dalam artikel singkat ini bukan pembnatasan, tapi sekadar untuk memudahkan.

  1. Zakat fitrah hukumnya wajib atas anak kecil ataupun orang dewasa, seorang wali wajib membayarkan zakat fitrahnya orang-orang yang menjadi tanggungannya baik istri/anak-anaknya, dan disunnahkan membayarkan zakat  janin yang belum lahir.
  2. Zakat fitrah adalah berupa makanan pokok yang ada didaerah tersebut seperti beras atau tepung, tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan makanan yang bukan merupakan makanan pokok pada daerah tersebut.
  3. Waktu yang paling utama mengeluarkan zakat fitrah adalah antara shalat subuh pada pagi hari raya sampai waktu didirikannya shalat idul fitri.
  4. Boleh mempercepat pengeluaran zakat fitrah dua hari atau tiga hari sebelum hari raya idul fitri, dahulu Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma mengeluarkannya tiga hari  sebelum hari raya.
  5. Menunda pengeluaran zakat fitrah setelah shalat hari raya tidak sah, sebagaimana hukumnya menunda shalat Subuh hingga terbit matahari, kecuali kalau ada udzur seperti ia lupa, maka boleh mengeluarkannya setelah shalat idul fitri.
  6. Yang sunnah adalah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok, bukan uang sesuai kesepakatan para ulama, namun mereka hanya berbeda pendapat bolehkah mengeluarkannya dalam bentuk uang? Sekelompok salaf membolehkannya, namun yang lebih hati-hati adalah mengeluarkannya dalam bentuk makanan
  7. Zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan takaran satu sha’ (antara 2,5 – 3 kg), boleh mencampur dua jenis makanan pokok dalam satu sha’ untuk satu orang miskin, dengan syarat kadar masing-masing dua jenis makanan pokok tersebut banyak dan bisa dikonsumsi oleh si penerima.
  8. Tidak ada riwayat dari Nabi atau para sahabat bahwa mereka mengeluarkan zakat fitrah berupa uang, namun hanya diriwayatkan dari amalan beberapa tabiin, sebab itu boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang kalau memiliki maslahat yang nyata.
  9. Bolehkah seseorang memberikan zakat fitrah kepada pembantu atau pekerja di rumahnya?? Ada dua kondisi:
    • Pertama: Bila dalam akad kerja, majikan yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka majikan  tidak boleh memberikan zakat pada mereka, bahkan –menurut sebagian salaf- majikan  dianjurkan untuk menanggung pengeluaran zakat fitrah mereka.
    • Kedua: bila dalam akad, mereka sendirilah yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka boleh bagi majikan memberikan zakat fitrah pada mereka.
  10. Setiap anggota keluarga yang memiliki pekerjaan dan mampu, yang lebih utama adalah masing-masing mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, namun bila ayah (atau wali) mereka membayarkan zakat fitrah mereka semua maka dibolehkan, dan sebagian salaf juga men-sunnah-kan pembayaran zakat fitrahnya pembantu atau pekerja di rumah. (Syaikh Abdul-‘Aziz Al-Tharifi).

Alih Bahasa: Maulana Laeda

Artikel          : http://wahdah.or.id 

 

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang I’tikaf [3]: Pembatal I’tikaf

 Pembatal I'tikaf

Pembatal i’tikaf ada lima, yaitu;

  1. Jima’ (bersetubuh).

Dalilnya firman Allah subhanahu Wa Ta’ala :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ 

Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid”(QS. Al Baqarah : 187)

  1. Murtad. Semoga Allah  Ta’ala melindungi dan menghindarkan kita darinya
  2. Hilang akal (Gila dan mabuk)
  3. Haidh dan Nifas
  4. Keluar dari masjid tanpa hajat yang dibolehkan, walaupun hanya sebentar. Keluar dari masjid membatalkan i’tikaf karena tinggal di masjid adalah rukun i’tikaf.