Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Cukuplah Rasulullah صلله عليه وسلم Sebagai Suri Tauladan Terbaik

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah Ta’ala,

Betapa banyak saudara-saudara semuslim kita yang mengambil fans-fans selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik karena pengaruh dari televisi, media sosial yang memunculkan banyak model maupun lainnya yang membuat saudara kita tertarik padanya.  Hail ini juga diperparah lagi dengan kurangnya orang tua mengajarkan anak untuk mengidolakan Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam serta kurangnya pengetahuan yang menyeluruh tentang karakteristik Nabi mulai dari fisik, sifat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau.

Di sekolah-sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun. Ketika ditanya siapakah idola mereka, maka kebanyakan yang menjawab mulai dari Messi, Ronaldo, Artis korea dan banyak lagi orang-orang kafir lainnya.  Tidak sadarkah mereka, bahwa semua yang ada pada orang yang difavoritkan itu juga ada semua di dalam diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau jauh lebih baik lagi. Tidakkah mereka sadar  yang ketika di akhir hayat beliau yang dipikirkan hanyalah kita sebagai umatnya. Lebih dari itu bahkan kita dianggap saudara oleh beliau Alaihi Shollatu Wassalam yang membuat iri para sahabat Radhiallahu Anhum.

Saudaraku  yang berbahagia,

Masih inginkah engkau mengambil teladan lain selain Rasulullah ?

Tidak inginkah kalian semua dikumpulkan bersama Rasullah dan para orang sholeh. Jika kalian benar ingin bertemu dengan Rasullullah Alaihi Sholatu Wasssalam dan para sahabat Rodhiallahu Anhum Ajmain maka cintailah mereka dan contohlah bagaimana kehidupan mereka di dalam kehidupanmu. Cukuplah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam suri tauladan terbaik bagi seorang muslim.

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan. (HR. Bukhori )

[jundi/aha]

Dahsyatnya Bismillah

Dahsyatnya Bismillah

Bismillah (Dengan menyebut nama Allah)

 

Bismillah sebuah kata yang tak asing bagi telinga seorang muslim. Sebuah kata yang ringkas namun begitu agung di sisi Allah Azza Wajala. Bismillah sebuah kata yang menyatakan peneguhan, sekaligus menjadi bukti nyata dari kesungguhan kita.

Dengan mengawali semua aktivitas dengan mengucap bismillah, berarti kita sudah menyadari bahwa semua aktivitas kita tidak luput dari pengawasan Allah Ta’ala. Kesungguhan untuk melibatkan Allah dari awal ikhtiar. Bismillah berarti atas nama Allah, tidak untuk selain-Nya. Ini artinya menjadi titik awal tawakal, berserah diri sedari awal, dan meyakini bahwa ada kekuasaan yang lebih besar dari kuasa kita sebagai manusia biasa.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah yang melindungi dan terus memberikan pengawasan. Bila nantinya kita melenceng, Allah akan mengetuk hati kita agar mau kembali ke jalan yang diridhai-Nya. Saat kita mengucap bismillah, itu seumpama kita sedang memasang alarm (pengingat). Bila ada yang tidak beres dengan proses (action, ikhtiar) kita, alarm itu akan berbunyi dan segera mengingatkan kita. Pada tingkatan inilah, kedekatan kita dengan Allah benar-benar di uji. Sebab hanya hati yang tulus – ikhlas dan dekat dengan Allah yang bisa peka merasakan peringatan dan teguran dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Q.S. Al-baqarah: 186)

Bismillah adalah Doa, tidak lain dan tidak bukan ialah doa kelancaran. Kita meyakini bahwa dengan mengucapkan bismillah akan menjadikan jalan yang sukar menjadi mudah, urusan yang sulit menjadi gampang, doa dijauhkan dari gangguan setan dan gangguan orang jahat. Kita pun menjadi bersemangat (positive thinking) untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, terus berjuang, dan tidak mudah menyerah.
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu. Tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

[jundi/aha]

Sukmawati Minta Maaf, Kyai Didin Hafidhuddin: Harus Diproses dan Diadili Sesuai Hukum

Sukmawati Minta Maaf, Kyai Didin Hafidhuddin: Harus Diproses dan Diadili Sesuai Hukum

Bogor (wahdahjakarta.com) – Permintaan maaf Sukmawati Soekarnoputri atas dugaan penistaan agama melalui puisinya mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Diantaranya Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Dr KH Didin Hafidhuddin.

“Sehubungan dengan ajakan bagi umat Islam untuk memaafkan Sukmawati, saya ingin sampaikan bahwa umat Islam memang umat pemaaf dan diperintahkan untuk terus saling memaafkan seperti perintah Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 134 dan 135. Tetapi hal tersebut jika berkaitan dengan urusan pribadi. Tidak boleh ada saling mendendam,” ujar Kyai Didin, Kamis (5/4/2018) malam.

Namun, kata Kyai Didin yang juga Guru Besar IPB ini, jika berkaitan dengan penistaan agama seperti puisi Sukmawati yang menghujat syariat cadar dan syariat azan maka hukum harus ditegakkan.

“Orang yang secara sadar dan sengaja menghina syariat Islam harus diproses dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegas Kyai Didin. [sym]

 

Karakteristik Islam (1)

Karakteristik Islam (1) : Agama Wahyu

Karakteristik Islam

Karakteristik Islam (1)

Islam merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Sebab Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan Allah sebagai pedoman hidup bagi manusia. Islam merupakan agama yang dicintai, diridhai, dan diterima oleh Allah. Islam juga merupakan satu-satunya jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala.

Sayangnya sebagian Muslim belum memandang dan menganggap Islam sebagai karunia Allah yang patut dijaga dan disyukuri. Atau sebagian yang mengaku Muslim belum merealisasikan keislamanya secara benar dan sungguh-sungguh sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal itu boleh jadi disebabkan oleh ketidaktahun mereka terhadap hakikat dan karakter Islam itu sendiri.

 

Pengertian Islam seperti dijelaskan pada tulisan sebelumnya   mencerminkan Islam sebagai agama wahyu yang memiliki karasteristik khas yang membedakannya dengan agama lain buatan manusia. Diantara karakter khas dari Islam adalah (1) Rabbaniyah, (2) Sempurna (kamil), (3) Integal/menyeluruh (syamil), (4) lurus (qayyim), (5) ‘alamiyah (agama untuk seluruh alam), (6) agama fitrah, (7) agama yang diridhai, (8) agama ni’mat, (9) agama pertengahan. Uraian singkat dari kesembilan kekhususan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Agama Rabbani

Islam adalah satu-satunya agama Rabbani atau agama wahyu. Rabbani adalah nisbat kepada Rabb (Tuhan). Jadi makna Islam sebagai agama Rabbani artinya Islam merupakan agama satu-satunya yang diturunkan oleh Allah Ta’ala Rabbul ‘alamin. Sebab Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan sumber hukum Islam datang dari Allah Tuhan semesta alam. Sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Haqqah ayat 40-43 dan An-Najm ayat 3-4;

dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman . Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam“. (Qs. Al-Haqqah:40-43).

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (Qs. An-Najm:3-4)

Keyakinan seorang Muslim terhadap prinsip Islam sebagai satu-satunya agama wahyu yang diturunkan Allah akan sangat menentukan cara pandang seorang Muslim dalam menjalankan ajaran Islam.

  1. Agama Sempurna

Sebagai agama wahyu yang diturunkan oleh Allah, maka Islam menjadi agama yang sempurna. Sempurna artinya tidak lagi membutuhkan penambahan dan pengurangan. Kesempurnaan Islam ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 3;

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu“. (Qs. Al-Maidah;3).

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, agama yang dimakusd dalam ayat al-yauma akmaltu lakum  dinakum adalah Islam. Allah mengabarkan kepada Nabi-Nya dan kaum mukminin (orang beriman), Dia telah menyempurnakan keimanan untuk mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan tambahan sama sekali, Allah telah melengkapkannya sehingga tidak boleh dikurangi sedikitpun, Dia telah meridainya dan tidak memurkainya.

  1. Agama Yang Integral (Menyeluruh)

Sebagai agama wahyu  dan kamil (sempurna), Islam telah mencakup seluruh aspek kehidupan (integral/syamil). Artinya mencakup sisi dan aspek kehidupan manusia. Sebab Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup ummat Islam telah menjelaskan segala hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan mereka, sebagaimana Allah tegaskan dalam Surah an-Nahl [16] ayat 89;

“ . . . dan kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (al-Qur’an) sebagai penjelasan segala sesuatu, petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim (yang berserah diri)”. (terj. Qs. An-Nahl [16]:89).

Maksudnya Allah telah menjelaskan kepada kita melalui al-Qur’an segala ilmu dan segala sesuatu, demikian dikatakan oleh Ibnu Mas’ud sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.[4] Dengan kata lain Al-Qur’an telah menjelaskan pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, hukum-hukum kehidupan dunia dan akhirat, semua yang dibutuhkan hamba. Al-Qur’an telah menjelaskan secara sempurna, dengan lafal-lafal yang jelas dan makna-makna yang terang.[5]

Syumuliyah (universalitas) Islam tercermin pada ajaran Islam yang telah mengatur seluruh aspek vital dalam kehidupan manusia. Islam menjaga dan melindungi lima aspek vital dalam kehidupan yakni; Agama, jiwa, harta, akal, dan  keturunan. Kelima hal ini disebut adh-Dharuriyatul khams (lima perkara vital  yang dilindungi dalam Islam. (Bersambung insya Allah).

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat pada Majalah Sedekah  Plus, edisi 13 Tahun II, Rabiul Akhir-Jumadal Ula 1436.

 

[1] Tafsir Ibn Katsir, 1/261.

[2] Tafsir Ibu Katsir, 1/264.

[3] Hadits ini masyhur dengan sebutan hadits Jibril. Karena dalam hadits ini Jibril ‘alaihis salam datang kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tentang pokok-pokok atau tingkatan agama, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.

[4] Tafsir Ibnu Katsir, 2/1589.

[5] Tafsir As-Sa’diy, hlm. 447

Mengejek Adzan Merupakan Ciri Orang tidak Berakal dan Sifat Pengikut Setan

Mengejek Adzan Ciri Orang Tidak Berakal dan Pengikut Setan

Mengejek Adzan Merupakan Ciri Orang tidak Berakal dan Sifat Pengikut Setan

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ [٥:٥٨

Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal” (Qs. Al-Maidah:58).

Yang dimaksud dengan menyeru dalam ayat di atas adalah mengumandangkan adzan sebagai panggilan untuk mendatangi shalat jama’ah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibn katsir rahimahullah.

Jika kamu menyeru  mereka untuk mengerjakan shalat mereka menjadikannya buah ejekan ejekan dan permainan“, maksudnya, “Jika kalian mengumandangkan adzan untuk memanggil mereka shalat yang merupakan amalan paling afdhal bagi orang mengerti, mengetahui, dan berakal maka mereka jadikan sebagai ejekan dan permainan“.

Ibn Katsir juga menyebut perilaku ini (mengejek adzan) sebagai sifat setan, karena setan lari jika mendengarkan adzan. Beliau mengatakan, “Dan ini merupakan sifat-sifat para pengikut setan yang “jika mendengarkan adzan lari terkentut-kentut“. (Tafsir ibn Katsir, 2/928).

Allah Ta’ala mengaitkan sifat mereka tersebut dengan kekurangan akal. Sebagaimana diakatakan oleh Ibn Jazi, “Dalam ayat ini Allah menyebutkan kekurangan akal mereka sebagai sebab mereka memperolok-olok Agama (Ibn jazi, 1/242). Ibn katsir juga menegaskan,  “Ini karena mereka tidak mengerti makna-makna ibadah dan syariatnya“.

Senada dengan Imam Ibn Katsir dan Ibn Jazi Syekh As-Sa’di mengatakan. “Hal itu (memperolok-olok panggilan shalat) karena mereka tidak berakal dan sangat bodoh (jahl ‘adzim), karna andaikan mereka memiliki akal maka mereka pasti tunduk pada panggilan shalat tersebut“. (Tafsir As-Sa’di, 238).

Ibn ‘Asyur menambahkan bahwa frasa “dzalika biannahum qaumun laa ya’qilun” sebagai penghinaan pada mereka, sebab panggilan shalat tidak sepantasnya dijadikan objek ejekan, ini karena kerendahan akal mereka”. (Tafsir Ibn ‘Asyur, 6/242).

Kesimpulan

Mengejek, mengolok-olok dan mempermainkan panggilan shalat (adzan) merupakan sifat pengikut setan dan orang-orang jahil yang berakal rendah. [sym].

Sukmawati Datangi Kantor MUI

sukmawati datangi kantor MUI

Jakarta (wahdahjakarta.com)- Hari ini, Rabu (4/4/18) Sukmawati mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jln. Proklamasi No.51 Menteng Jakarta Pusat. Belum diketahui secara pasti maksud kedatangannya. Sukmawati masih enggan berkomentar apapun perihal kedatangannya hari ini ketika dimintai keterangan oleh awak media.

Wakil Ketua MUI Prof. Anwar Abbas menegaskan bahwa kedatangan Sukmawati bukan atas undangan MUI.  Beliau membenarkan bahwa kedatangannya hari ini terkait dengan ramainya tanggapan atas puisi Sukmawati berjudul Ibu Indonesia beberapa hari yang lalu.

Dalam kesempatan ini Sukmawati tidak berhasil bertemu dengan KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI karena beliau sedang di luar kota.  Prof. Anwar Abbas juga menjelaskan bahwa MUI masih akan mendalami dugaan adanya unsur penistaan agama dalam puisi Sukmawati. [ibw/sym]

Makna Islam

Makna Islam

Islam merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Sebab Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan Allah sebagai pedoman hidup bagi manusia. Islam merupakan agama yang dicintai, diridhai, dan diterima oleh Allah. Islam juga merupakan satu-satunya jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala.

Sayangnya sebagian Muslim belum memandang dan menganggap Islam sebagai karunia Allah yang patut dijaga dan disyukuri. Atau sebagian yang mengaku Muslim belum merealisasikan keislamanyya secara benar dan sungguh-sungguh sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal itu boleh jadi disebabkan oleh ketidaktahun mereka terhadap hakikat dan karakter Islam itu sendiri.

Oleh karena itu tulisan ini akan menguraikan makna dan karakteristik khas Islam. Dengan harapan menumbuhkan kesadaran berislam serta meningkatkan sikap bangga (i’tizaz) dalam berislam.

Secara bahasa Islam bermakna; Penyerahan diri, ketundukan dan kepatuhan, keselamatan, serta kedamaian dan perdamaian. Makna Islam menurut bahasa yang berarti penyerahan diri, ketundukan, dan kepatuhan dapat ditemui dalam ayat- ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, diantaranya; surah Al-Baqarah [2] ayat 128, 131 dan 133, Al…. [27] ayat 44, Maryam [19] ayat 39, Az-zumar [39] ayat 73, al Anbiya [21] ayat 69:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Wahai Tuhan kami, jadikanlan kami (Ibrahim dan Isma’il) sebagai orang yang tunduk dan berserah diri padamu (muslimaini laka), dan jadikan pula anak keturunan (dzurriyah) kami sebagai ummat yang tunduk dan berserah diri padamu, . . . “ (Terj. Qs. Al-Baqarah [2]: 128).

Do’a di atas di atas dipanjatkan oleh Ibrahim dan putranya Isma’il ‘alaihimassaalam usai membangun Kaa’bah, sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya. Keduanya memohon beberapa hal. Diantaranya memohon dijadikan sebagai orang yang ber-Islam kepada Allah. Menurut Ibnu Jarir sebagaimana dikutip Imam Ibnu Katsir, makna Islam dalam ayat tersebut adalah berserah diri kepada ketentuan dan perintah Allah, tunduk dengan melakukan ketaatan pada-Nya, serta tidak tidak syirik dalam melakukan ketaatan dan ibadah.

Pada ayat selanjutnya (131) Allah menyuruh Ibrahim, “Tatkala Tuhanya berkata kepadanya berserah dirilah (aslim), ia berkata aku telaah berserah diri dan tunduk (aslamtu) kepada Rabb semesta alam” (Terj. Qs. Al-Baqarah [2]: 131).

Maksudnya Allah menyuruh beliau untuk ikhlas, berserah diri (istislam) dan tunduk kepada-Nya.

Sedangkan makna Islam yang berarti keselamatan terdapat dalam hadits;

الْمُسلمُ مَن سلِمَ الْمُسلِمُوْن منْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang Islam (Muslim) adalah yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Adapaun secara istilah Islam bermakna penyerahan diri kepada Allah dengan tauhid dan ketundukan pada-Nya dengan melakukan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. (Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Ushul Tsalatsah).

Dari pengertian ini nampak bahwa hakikat dari Islam adalah penyerahan diri dan ketundukan kepada Allah serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang musyrik. Penyerahan diri kepada Allah yang merupakan inti Islam mengejawantah dalam tauhid. Yakni mengimani kemahaesaan Allah Ta’ala sebagai satu-satu-Nya Dzat yang berhak disembah dan diibadahi. Sedangkan ketundukan pada-Nya diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah. Yakni dengan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Selain itu ketundukan dan ketaatan kepada Allah juga harus nampak pada pengamalan rukun Islam yang lima. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendefinisikan Islam dengan rukun-rukunnya yang lima. Sebagaimana jawaban beliau ketika ditanya oleh malaikat Jibril ‘alaihis salam, “Kabarkan kepadaku tentang Islam”. Rasul menjawab, “Islam adalah anda bersyahadat La Ilaha Illallah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menuanikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan berhaji ke baitullah jika anda mampu”. (Terj. Muslim, Tirmidziy, Nasai, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Jadi, makna Islam yang berarti pasrah, tunduk, dan patuh kepada Allah adalah tunduk, pasrah, dan patuh kepada Allah dengan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. [sym].

SAJAK WANITA TUA

SAJAK WANITA TUA

(Tanggapan Puisi  Sukmawati)

Tiba-tiba saja,
Seorang wanita tua bersajak.
Sajaknya adalah sajak terburuk di dunia.
Sajak seorang manusia uzur
yang tidak lama lagi terbujur di liang kubur.

Sungguh tragis engkau, wahai ibu tua…
Memproklamasikan kebodohanmu di mata dunia.
Ironisnya,
engkau bangga dengan kebodohanmu.
Bangga tidak kenal Syariat Allah.
Apa ada kebanggaan
yang lebih bodoh dari itu?

Aku menangis prihatin untukmu, wahai ibu tua…
Dengan nafasmu yang tinggal sepotong-sepotong,
Dengan mulutmu yang bergetar dimakan usia,
Dengan kebanggaan masa lalumu yang tlah lama terkubur:
Kau berusaha memadamkan Cahaya Sang Mahabesar…
Seolah kau pernah berhasil
memadamkan sinar mentari-Nya.

Sungguh kasihan engkau, wahai ibu tua…
Pandangan matamu semakin kabur
Tapi kau masih belum mengerti juga:
bagaimana kau seharusnya menutup umur.
Di saat mana kau harusnya banyak bersujud,
Kau malah menantang pongah perintah Sang Penciptamu.

Miskin, sungguh miskin engkau, wahai ibu tua…
Apakah kondemu akan selamatkan engkau,
dari dera siksa kubur dan himpitan tak terkira?
Apakah kau masih bisa melagukan kidungmu,
saat Malaikat Maut berdiri di sisi pembaringanmu?

Kasihan sungguh kasihan wanita tua itu…
Ayahnya mengawali negeri ini dengan Rahmat Allah,
tapi hari ini,
dengan konde dan kidungnya ia menantang Allah.

Semoga Allah masih kasihan padamu, wahai ibu tua…
masih memberimu detik terakhir
untuk bertaubat penuh sungguh.

Semoga Allah masih kasihan padaku dan keturunanku:
agar tak jadi Si Pandir-Pongah
yang tak sadar diri bahwa ia hamba yang lemah dan payah.
Amin.

Akhukum,
Muhammad Ihsan Zainuddin
t.me/mihsanzainuddin

Rintihan Neraka Ibu Indonesia

 

Rintihan Neraka Ibu Indonesia

Sukma , demikian engkau dipanggil
Namun adakah sukma bersemayam padamu ?
Hanya Allah yang Maha Tahu
Kau mengaku tak tahu Syariat sang Pencipta

Namun demikian terusiknya engkau dgn kumandang alunan Surga
Hingga kidung tak tentu rimba lebih indah di telinga
Ataukah secuil telingamu adalah lembar kekufuran dari kerak neraka

Kagummu pada aurat yang tergerai membuatmu resah atas muslimah, wanita dengan iman di dada
Yang setia hingga hijab bahkan cadar membungkus dirinya
Ataukah kau sedang meminjam mata Iblis sang durjana
Hingga Ibu Indonesia kau buat merintih dari neraka

Kau telah tua, sanggulmu tak bisa menutupi keriputmu
Tidakkah lebih bijak kau tutup tusuk kondemu dengan mukena
Dan hapus alis palsumu lalu rapatkan di atas sajadah ?
Mohon ampunan pada Allah Penguasa setiap jengkal Indonesia dan semesta
Sukma , tak tahukah kau akan sejarah Nusantara ?

Sebelum ada kata Indonesia , kumandang adzan telah bergema.

Menyatu dalam dada para syuhada , yang darahnya membasahi karsa

Demi kata dalam lantunan adzan yg terindah yang kau hina

Asyhadu allaa ilaha illallah
Asyhadu annaa muhammadar rasulullah …

Tak pernahkah kau tahu bahwa
Takbir bung Tomo menggelegar membuat sukma para pemuda bergelora ?!

Lisan syaithani memang bisa terdengar indah , jika terdorong dari sukma tanpa getar taqwa,

Sudahlah , anak- anak iblis riang berbaris gembira

Menyambut rintihan Ibu Indonesia
dari neraka
Namun perlahan dulu wahai bunda yang merana
Indonesia bukan tempat anda

Karena disini , di tanah Nusantara

Telah menghunjam akar Taqwa , berbuah ranum tiada tara

Karena di sini , di tanah Nusantara,
Semilir angin mengeja titah Sang Maha Bijaksana
Karena merdekanya adalah : adalah atas berkat Allah Yang Maha Kuasa

Hamba Allah
Yang lahir dari rahim
Ibu Indonesia yang setia dengan mukena

 

Muhammad Ikhwan Jalil

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya jika seorang perempuan menahan datangnya haid di bulan puasa (dengan sengaja menghentikan agar haid tidak keluar) agar bisa berpuasa penuh di bulan Romadhon. Dosakah cara yang dilakukan itu? Mohon jawabannya. (Solichah Munari).

Jawaban:

Pertama,

Pada dasarnya haid merupakan  ketentuan Allah yang ditetapkan kepada wanita, sebagaimana di dalam hadits,

هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, maka hendaknya setiap wanita  muslimah menerima kenyataan dan ketetapan tersebut  sepenuh hati. Adapun ibadah dan amal shaleh  yang tidak terlaksana karena haid maka Allah yang maha pengasih dan penyayang serta maha adil telah menetapkan rukhshah (keringanan) bagi wanita untuk meninggalkan ibadah-ibadah tertentu saat haid.

Sehingga tidak perlu merasa berdosa jika luput dari suatu amalan karena sebab yang telah ditetapkan oleh Allah berupa rukhshah. Karena rukhshah tersebut merupakan sedekah dari Allah Ta’ala.  Sebagaimana dalam hadits;

“(Rukhsah) itu adalah sedekah yang diberikan Allah Subhanahu WaTa’ala kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR Muslim).

Dengan  menjalankan rukhsah berarti menerima hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kemudahan yang diberikan kepada kaum wanita.

Kedua,

Adapun mengkonsumsi obat atau pil penunda haid agar dapat berpuasa Ramadhan beberapa ulama membolehkan jika hal itu tidak menimbulkan mudharat, resiko, dan gannguan bagi kesehatan dan alat reproduksi baik sementara maupun permanen.

Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan;

“Tidak masalah bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid, menghalangi datang bulan selama bulan Ramadhan, agar dia dapat   berpuasa bersama kaum muslimin lainnya… dan jika ada cara lain selain konsumsi obat untuk menghalangi terjadinya haid, hukumnya boleh, selama tidak ada hal yang dilarang syariat dan tidak berbahaya.”

Artinya mempertimbangkan aspek maslahat dan manfaatnya serta aman dari mudharat dan resiko sangat dianjurkan.  Sehingga jika mengandung mudharat bagi tubuh wanita, mengkonsumsi obat pencegah haid sebaiknya tidak dilakukan.

Karena pil tersebut bersifat hormonal yang mungkin memengaruhi hormon yang  membuat siklus haid tidak teratur dan dikhawatirkan merusak sistim reproduksi serta efek samping lainnya seperti; Insomnia, rontok rambut, menambah berat badan, depresi, pusing,  perubahan libido, perubahan siklus menstruasi, sakit kepala dan mual, bahkan bisa menyebabkan kemandulan.

Oleh karena itu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli guna menghindari mudharat dan resiko yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi pil pencegah haid tersebut.

Ketiga,

Meskipun wanita tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena haidh, namun masih banyak pintu kebaikan lain yang dapat dimasuki  untuk tetap  beribadah dan menuai pahala di bulan Ramadhan. Di antaranya :

  • Memperbanyak  do’a dan dzikir.
  • Memperbanyak shadaqah dan infak,
  • Memberi makan dan minum serta suguhan buka puasa,
  • Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf,  boleh dengan menggunakan media elektronik seperti ponsel, tablet, komputer, atau Al-Qur’an digital lainnya.
  • Mengikuti kajian keislaman dan membaca buku-buku islami.
  • Berbakti kepada kedua orangtua dan suami, Dan sebagaianya. [sym].