Nikmatnya Ibadah Ikhlas dan Khusyu’

Nikmatnya Ibadah IKhlas dan Khusyu’

Nikmatnya Ibadah Ikhlas dan Khusyu’

Sungguh, bila hati telah merasakan nikmatnya ibadah kepada Allah dan ikhlas pasa-Nya, maka tidak ada yang lebih manis, kezat, nikmat, dan nyaman baginya (selain beribadah)”.

Bahagia, semua manusia pasti menginginkannya. Tapi tidak semua manusia yang mendambakan kebahagiaan benar-benar memperolehnya. Sebab sebagian orang justeru mencari jalan kebahagiaan dengan cara yang salah. Bagi seorang Muslim jalan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan penghambaan yang total (‘ubudiyah) kepada Allah. Sebab manusia tercipta untuk beribadah kepada Allah. Dan Allah telah menjadikan jalan kebahagiaan manusia searah dengan tujuan penciptaannya.

Oleh karena itu tidak ada kebahagiaan tanpa ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Tidak ada kebahagiaan hakiki melebihi bahagianya orang yang tunduk dan patuh (beribadah) kepada Allah. Sebaliknya tidak ada yang lebih sengsara melebihi sengsaranya orang beribadah kepada selain Allah.

Mengapa?

Mengapa kebahagiaan hanya dapat diraih dengan ibadah (ketundukan dan kepatuhan) kepada Allah? Sebab bahagia itu tempatnya di hati, sementara tabiat hati butuh kepada Dzat yang dipatuhi dan tunduk pada-Nya.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahihamullah Ta’ala mengatakan bahwa hati secara dzatnya sangat butuh (faqir) kepada Allah dari dua sisi. Dari sisi ibadah serta dari sisi isti’anah (memohon pertolongan) dan tawakkal. Menurut beliau kedua hal ini merupakan kunci kebahagiaan. Beliau melanjutkan,”hati takkan membaik (la yashluhu), takkan beruntung(la yuflih), takkan merasakan nikmat (la yatana’am), takkan bahagia (la yasurru), takkan merasakan kelezatan (la yaltadzu), takkan merasakan kebaikan (la yathibbu), takkan merasakkan ketenangan (la yaskunu), dan takkan merasakan ketenteraman kecuali dengan beribadah kepada Rabbnya, mencintainya, dan berinabah (kembali) kepada-Nya”.

Andaikan ada yang memperoleh kebahagiaan dan kelezatan dengan makhluq, ia takkan tenang dan tidak tenteram. Sebab secara manusia secara dzat sangat butuh kepada Rabb (Tuhan pencipta, pemilik, pengatur, dan pemelihara) nya. Sebab Dialah satu-satu-Nya yang hati setiap manuia butuh untuk tunduk,cinta, dan memohon pada-Nya. Dan dengan itulah kebahagiaan, ketengangan, kenikmatan, dan ketenteraman dapat digapai.

Oleh sebab itu tak dapat dipungkiri bahwa manusia yang memiliki peluang terbesar untuk mencapai kebahagiaan adalah manusia yang hatinya menikmati peribadatan dan ketundukan serta penyerasahan diri kepada Allah, Rabb seluruh makhluq. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata tentang hal ini, “Sungguh, bila hati telah merasakan nikmatnya ibadah kepada Allah dan ikhlas pasa-Nya, maka tidak ada yang lebih manis, kezat, nikmat, dan nyaman baginya (selain beribadah)”. Wallahu a’lam. (sym).

Artikel: wahdah.or.id.

Baca Juga: Lima Prinsip Hidup Bahagia Seorang Muslim

Gubernur DKI: Investasi Arab Saudi di Indonesia Pererat Hubungan KSA-Indonesia

Gubernur DKI Anies Baswedan pada SAIF-2018

Gubernur DKI: Investasi Arab Saudi di Indonesia Pererat Hubungan KSA-Indonesia. “Investasi ini tidak hanya akan menguntungkan secara ekonomi bagi kedua negara, tapi juga akan mempererat hubungan dua negara”.

(Jakarta)-wahdahjakarta.com- Senin (15/01/2017) Asosiasi Investor Arab Saudi di Indonesia (AISI) menggelar Konferensi I Investor Arab Saudi di Indonesia di Hotel Ritz Carlton Jakarta.

Konferensi ini dibuka Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI), Zulkifli Hasan.
Selain itu hadir pula Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur DKI Sandiaga Salahuddin Uno, dan Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi.

Dalam sambutannya Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan bahwa konferensi ini merapakan kelanjutan dari hubungan erat dua negara bersaudara dan bersahabat yang sudah terjalin sejak ratusan tahun.  “Konferensi Investor Real Estate Saudi Arabia di Indonesia ini merupakan wujud persahabatan dua bangsa dan dua negara ini”, ucapnya.

Menurutnya investasi pengusaha Saudi Arabia di Indonesia tidak hanya akan menguntungkan secara ekonomi, tapi dapat mempererat hubungan dua negara. “Investasi ini tidak hanya akan menguntungkan secara ekonomi bagi kedua negara, tapi juga akan mempererat hubungan dua negara”, jelasnya.

Oleh karena itu Anies berharap akan lahir terobosan-terobosan dari konferensi ini. “Kami harap ada terobosan-terobosan yang dapat difasilitasi, khususnya dalam bidang infrastruktur dan perumahan”, ujarnya. “Jakarta merupakan kota urban dan kebutuhan paling mendasar di kota urban adalah rumah”, imbuhnya.

Anies berjanji akan memberikan kemudahan dan memfasilitasi para investor yang berinvestasi di Jakarata, bahkan di Indonesia. “Anda (para investor) tidak salah alamat, kami akan memfasilitasi. Jakarta bukan sekadar kota tapi ibu kota”, tandasnya. “Kami fasilitasi investasi di Indonesia bahkan di Asia”, pungkasnya. Sebab menurutnya Jakarta merupakan masa depan Asia Tenggara bahkan Asia. [sym].

Istimewa, Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta Dihadiri Da’iyah Saudi Arabia

Kajian Fi qh Muslimah Wahdah Jakarta

Kajian Fiqh Muslimah Wahdah Jakarta

(Depok)-Wahdahjakarta.com – Awal tahun ini Muslimah Wahdah Jakarta kedatangan tamu istimewa dari Saudi Arabia, ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy. Beliau adalah seorang daiyah dan belajar khusus di bidang Adab dan Manajemen Amal. Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, keberadaan ustadzah Maha Humaymid al-Mamumy digunakan oleh Muslimah Wahdah Jakarta untuk memberikan acara spesial bagi para muslimah di wilayah Jakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Muslimah Wahdah Jakarta sejak dua bulan yang lalu secara rutin mengadakan kajian fiqh muslimah setiap hari jum’at di masjid pesantren Al Hijaz, Kompleks Pondok Laras Jl Komjen Pol. M. Yasin (Jl Akses UI) No 2E kelapa Dua Depok. Acara ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan pencerahan kepada muslimah terhadap agamanya.

Dan pada hari Jum’at tanggal 12 Januari 2018, acara taklim muslimah terasa begitu istimewa dengan kehadiran ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy sebagai pemateri. Taklim yang biasanya dilaksanakan dari jam 13.00 – 15.00 ini digeser pada jam 15.30 – 17.30 karena menyesuaikan jadwal pemateri. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah, “Izinkan Aku Mengenal-Mu”, satu tema bahasan fikih Asmaul Husna yang sangat menarik.

Ustadzah Maha menjelaskan tentang nama-nama Allah yang indah di antaranya Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudus, dan As Salam. Dengan mengenal dan memahami nama-nama Allah kita akan menjadi hamba yang bebas dan merdeka. Hati kita akan menjadi tenang dan bahagia karena yakin dan percaya bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya.

Penerjemah yang merupakan alumni LIPIA dan salah satu dosen di pesantren Al Wafa Bogor, Ustadzah Asiyah, Lc., turut andil dalam menciptakan suasana taklim sehingga terasa makin hidup. Beliau menerjemahkan materi dari ustadzah Maha Humaymid al-Mazmumy  dengan alur kalimat yang mudah dipahami peserta dan penyampaiannya begitu antusias.

“Alhamdulillah materinya bagus, menambah keimanan saya. Membuat saya semakin yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Jujur, Maha Benar, dan janji-Nya pasti. Kajian tentang Asmaul Husna tadi membuat saya harus bertahan dalam kesabaran karena semua yang diberikan Allah itu baik”, kata bu Tarti, salah satu peserta dari Depok.

Kajian muslimah yang dihadiri 58 peserta ini semakin meriah dengan banyaknya hadiah yang dibagikan kepada peserta yang aktif bertanya ataupun dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.

Selain memberikan ilmu tentang Asmaul Husna, ustadzah Maha juga sempat memberikan taujih kepada para da’iyah Muslimah Wahdah Jakarta di sesi selanjutnya setelah shalat maghrib. Beliau menyampaikan bahwa da’iyah harus selalu berusaha mengembangkan diri dalam segala hal baik berupa tsaqofah, keterampilan (skill) maupun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang da’iyah. Dengan bekal ini diharapkan da’iyah mampu berdakwah di tengah masyarakat dengan baik. Seorang da’iyah juga harus selalu mampu membuat strategi dakwah yang kreatif namun tetap berlandaskan al Qur’an dan sunnah. Hal ini akan sangat mendukung keberhasilan dakwahnya.

Di akhir pertemuan dengan Muslimah Wahdah Jakarta, ustadzah Maha menyampaikan kesan beliau terhadap sambutan yang beliau dapatkan dari para muslimah. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa bersama para da’iyah yang menyambut saya seperti sedang bersama dengan keluarga sendiri. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kali. Insya Allah kita akan bertemu kembali bi idznillah”, tutur beliau.

#ummusanti

Ustadz DR Syamsuddin Arif: Syiah Bukan Sekadar Mazhab

Doktor Syamsuddin Arif sedang memaparkan Makalah tentang Syi’ah pada Kajian Keislaman yang digelar Forpemi dan MIUMI Sulsel

Ustadz DR Syamsuddin Arif mengatakan,  Syiah bukan sekadar mazhab, Hal ini telah diulas secara lengkap  dalam bukunya “Bukan Sekadar Madzhb: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah.”, yang sekarang ini masih dalam proses cetak.

(Makassar) –Wahdahjakarta.com– Peneliti dan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Ustadz DR Syamsuddin Arif, menganggap Syiah bukan hanya sekadar mazhab. Menurut pria berdarah Betawi itu, persepsi yang menganggap Syiah tersebut sebagai mazhab kemungkinan lebih besar salahnya daripada benarnya.

“Ini pernyataan. Ini tesis namanya. Potition. Saya katakan begini, kalau mazhab itu seperti mazhab Syafi’i, mazhab Hanafi, mazhab Hambali, dan mazhab Maliki,” ujar Ustadz Syamsuddin di Aula Pusat Bahasa Arab dan Studi Islam Universitas Negeri Makassar, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, pada Jumat (12/1/2018) lalu.

Dalam acara Kajian Keislaman “Syiah Ditinjau dari Pelbagai Aspek”, yang digelar Forum Penggiat Media Islam (Forpemi) bekerjasama dengan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulawesi Selatan itu, dosen Universitas Darussalam Gontor tersebut menjelaskan bahwa ummat Islam dari Pakistan, India, dan Turki, umumnya mengikuti mazhab Hanafi.

Kemudian, kaum Muslimin dari Afrika Utara; Sudan, lalu Tunisia, Libya, Maroko, Al Jazair, mengikuti mazhab Maliki.

Adapun dari Saudi Arabia, dan sebagian di Suriah, mengikuti mazhab Hambali. Sedangkan di Indonesia, Malaysia, Brunei, Chechnya, rata-rata mengikuti mazhab Syafii.

“Kalau di Iran ini, itu bukan mazhab bagi saya. Kenapa? karena kita orang Indonesia berbeda dengan orang Turki. Berbeda dengan orang Sudan. Berbeda apanya, berbeda mazhab. Satu ikuti Syafii, Hanafi, Hambali, Maliki, tetapi tidak satu pun dari kita dan mereka yang mengkafirkan sahabat Rasulullah. Namun, coba tanya ke orang Iran. Kalau Syiah itu sekadar mazhab, dia tidak akan mengkafirkan sahabat,” terang Ustad Syamduddin.

Dia melanjutkan, sering muncul pernyataan bahwa Syiah bagian dari Islam.  “Memang jika mengacu kepada kitab para ulama, ada dua pendapat, seperti Imam Abu Hanifah, yang masih menganggap Syiah, seperti juga halnya kelompok Khawarij, Mu’tazilah, dan firqah Islamiyah lainnya, masih bagian ahlul qiblah”, jelasnya.

“Maka, posisi saya sendiri ketika ditanya, kesimpulan saya: Syiah dzahir-nya Islam. Bathinnya, saya tidak tahu. Walapun para ulama telah menunjukkan berbagai macam kekeliruan dan kesesatan dalam pandangan, keyakinan maupun amalan agama mereka. Namun, apabila orang Syiah mengkafirkan orang Islam, maka tuduhan tersebut akan berbalik kepada mereka sendiri. Jika mereka anggap Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar radiyallahu ‘anhuma itu kafir, lantas mereka anggap apa orang lain seperti kita ini semua?” tegas Ustadz  Syamsuddin.

Alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur itu menyebut Syiah itu kafir kondisional. Artinya manakala mereka mengkafirkan sahabat Rasulullah, maka dengan sendirinya mereka termasuk kafir.

“Jadi, tidak perlu kita mengkafirkan Syiah. Sama seperti kucing, tidak perlu dikucingkan, karena memang dia sudah kucing, dan tidak perlu dimanusiakan. Maksudnya, jangan memanusiakan kucing dan mengkucingkan manusia,” tukas Ustadz Syamsuddin.

Syiah bukan sekadar mazhab telah diulas secara lengkap DR Syamsuddin Arif dalam bukunya “Bukan Sekadar Madzhb: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah.”, yang sekarang ini masih dalam proses cetak.

Pembina Forpemi Sulawesi Selatan, Ustad Supriadi Yosuf Boni, Lc., yang memandu jalannya acara itu, menilai sangat tepat bagi seorang DR Syamsuddin Arif berbicara tentang Syiah dengan cukup komprehensif lantaran sebagai lulus doktor dari di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman. “Apalagi beliau ini menguasai banyak bahasa, seperti Arab, Inggris, sampai bahasa Ibrani,” pungkasnya.

Sementara Pengurus MIUMI Sulawesi Selatan, DR Ilham Kadir, yang hadir membuka acara itu, mengatakan penting untuk mendalami masalah Syiah, sebab ini menjadi ancaman bagi ummat Islam, sehingga butuh persiapan matang untuk melawan pergerakan kelompok Syiah.

“Dan kehadiran DR Syamsuddin Arif di tengah kita merupakan sebuah anugerah dikarenakan kapasitas keilmuan beliau yang sudah tidak dapat diragukan lagi ketika berbicara masalah Syiah,” tandasnya. (Forpemi Sulsel/ed:sym).

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al-Qur’an (3): Al-Qur’an Memacu Semangat dan Membuat Lebih Giat Beraktivitas

Santri Penghafal Al-Qur’an

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al-Qur’an (3): Al-Qur’an Memacu Semangat dan Membuat Lebih Giat Beraktivitas

Al-Qur’an merupakan kitab yang indah. Setiapkali seorang muslim membacanya, niscaya akan bertambah semangat dan keaktifannya. Ketika shalat, dia termasuk diantara orang orang yang paling dahulu sampai ke masjid.

Jika menghadiri acara acara kegembiraan (walimah nikah undangan dst.) dia tidak bermalas malasan, bahkan dia maju untuk membantu dan menyampaikan selamat kepada kedua mempelai dengan wajah riang gembira dan berseri-seri, seolah-olah kegembiraan itu adalah miliknya.
Ketika menghadapi jenazah, dia adalah orang yang pertamakali menampakkan tanda kesedihan di wajahnya. Dia memandikan, menshalatkan dan memikulnya.

Sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan semua itu adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘’Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin.’’(terj. HR al-Bukhori dan muslim ).

Dalam hadis yang lain: “Jika dia bersin lalu memuji Allah (al-hamdulillah ) maka dia mengucapkan tasymit kepadanya (yaitu dengan ucapan yarhamukallah’semoga allah merahmatimu’). “ (terj. HR At-Tirmizi dan an-Nasai)

Wahai saudaraku yang tercinta! Tidak anda lihat para penghafal al-Qur’an, bagaimana mereka mendapatkan saemangat, giat beraktivitas dan menunaikan semua persaudaraan.

Dengan demikian, berpegang teguhlah kepada al-Qur’an agar Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan rasa semangat dan giat dalam beraktivitas kepada anda! Berpegang teguhlah agar anda dapat menempatkan diri diantara orang-orang yang pertama dalam setiap kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong anda dalam menulis tugas tugas sekolah tanpa merasa lelah dan bosan, serta dalam waktu yang sangat singkat. Saya tidak akan mengatakan pada anda,”cobalah”. Akan tetapi, saya justru ingin mengatakan, “Orang buta tidak seperti orang yang melihat, dan tidak pula orang yang bodoh seperti orang yang berilmu. Barangsiapa yang telah merasakan, niscaya dia tahu. Barangsiapa yang tahu , niscaya dia mengakui.

Wahdah Jakarta Akan Kedatangan Guru Besar Tafsir Alqur’an dari Saudi Arabia

Foto Bersama Wahdah Jakarta dengan Guru Besar Tafsir Al Qur'an

Foto Bersama Wahdah Jakarta dengan Guru Besar Tafsir Al Qur’an

Jakarta – Satu keistimewaan tersendiri pada tahun 2018 ini bagi Wahdah Jakarta, atau lebih lengkapnya, DPW Wahdah Islamiyah DKI Jakarta. Dimana pertengahan Januari akan kedatangan seorang Ulama Guru Besar Tafsir Alqur’an dari Saudi Arabia.

Beliau adalah Prof. DR. Muhammad Shalih Albarrak hafizhahullah, yang juga merupakan salah satu murid senior dari Ulama Besar Abad ini yaitu Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Rencananya Syaikh Albarrak akan mengisi Tabligh Akbar Pemuda di Masjid Istiqlal, Jakarta pada tanggal 17 Januari 2018 pkl 18.00-20.30 WIB dengan tema “From Zero To Hero With Alqur’an“.

Acara yang disponsori oleh LAZIS Wahdah ini juga akan menghadirkan Ustadz Zaitun Rasmin (Wakil Sekjen MUI) dan Insya Allah akan hadir Bapak Sandiaga Salahuddin Uno, M.B.A., yang merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Kegiatan Tabligh Akbar Syaikh Albarrak diselenggarakan atas kerjasama dengan beberapa komunitas Pemuda seperti : Rohis DKI, JPRMI (Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia), ARMI (Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal) dan LDK Albashirah.

Syaikh Albarrak yang baru berkunjung dua kali ke Indonesia ini, rencananya akan melakukan melanjutkan safari dakwah ke Bandung pada 20 Januari 2018 dan ke Pangandaran pada 22 Januari 2018.

“Syeikh Prof. DR Muh. Sholeh Al Barrak hafizhahullah adalah ulama tafsir yang masyaAllah sangat mutamakkin, beliau pernah mengajar kami dan beberapa asatidzah di kelas di Jamiah Islamiyah. Kalo Syeikh Utsaimin ke Medinah atau ke kampus maka beliau yang mendampinginya karena beliau termasuk murid Syeikh Utsaimin yang tersenior”, kata Ustadz Yusran Ansar, seorang alumni Universitas Islam Madinah.

“Ikhwah di Jakarta dan sekitarnya jangan sia-siakan istifadah dgn mengikuti acara tersebut”, lanjut Ust M Yusran Anshar, PhD., yang juga merupakan Rektor Sekolah Tinggi Bahasa Arab Wahdah Islamiyah.

Karena itu, diharapkan kepada setiap Kaum Muslimin agar bersegera bisa menghadiri acara Tabligh Akbar di atas dan dapat mengajak keluarga yang lain.

Bagi anda yang tidak sempat menghadiri dan ingin mendukung acara tersebut dan dakwah Alqur’an dapat menyalurkan donasinya melalui Bank Syariah Mandiri (451) 497 900 900 9 an LAZIS Wahdah Sedekah. Kode transfer 300. Contoh Rp 100.300,-. Informasi dan komfirmasi 08119787900 (call/wa/sms).(ayd).

Dapur Umum Wahdah Islamiyah di Palestina Mulai Beroperasi

Dapur Umum Wahdah Untuk Palestina

“Alhamdulillah, dapur umum Wahdah Islamiyah Untuk Palestina di Jalur Gaza telah beroperasi selama 4 hari. Insya Allah bantuan selanjutnya akan kami kirimkan.

(Palestina)-Wahdahjakarta.com– Krisis kemanusian yang melanda jalur Gaza Palestina mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit. Apalagi setelah terjadinya klaim sepihak yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Jumat lalu (5/1), Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan, sebanyak 14 warga Palestina terbunuh dan 4.549 orang terluka. Akibatnya, banyak korban yang dilarikan ke Rumah Sakit Ash Shifa Jalur Gaza. Saat ini, kebutuhan pasien akan bahan makanan semakin mengkhawatirkan. Rumah sakit tersebut tidak mampu lagi menutupi biaya konsumsi para pasien yang semakin hari kian banyak.

Mersepon hal tersebut, Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah (LAZIS) Wahdah Islamiyah segera berkoordinasi dengan relawan setempat untuk membuka Dapur Umum, khususnya di Rumah Sakit Ash-Shifa yang menampung ribuan korban perang.

Menurut keterangan Ketua LAZIS Wahdah, Ustadz Syahruddin C Asho, pasien di rumah sakit tersebut membutuhkan sekitar 6000 porsi makanan tiap harinya atau sekitar 6 dollar Amerika tiap pasien.

“Alhamdulillah, dapur umum Wahdah Islamiyah di Jalur Gaza telah beroperasi selama 4 hari. Insya Allah bantuan selanjutnya akan kami kirimkan. Terima kasih kepada semua donatur yang telah memaksimalkan harta-hartanya demi membantu saudara-sauraka kita di Palestina,” ucapnya.

Bagi anda yang ingin berkontribusi untuk berkontribusi membantu saudara kita di Palestina, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening Bank Syariah Mandiri (451) 799 900 900 4 an LAZIS Wahdah Care. Kode program 940. Contoh Rp 2.000.940,-. Konfirmasi ke 08119787900 (call/wa/sms) []

Sumber : https://goo.gl/48yQth

Mendudukan Konflik Agama di Indonesia Secara Adil dan Jujur

 

Mendudukan Konflik Agama di Indonesia Secara Adil dan Jujur

Sampai saat ini toleransi dan kerukunan beragama masih menjadi problem serius. Berbagai peristiwa intoleransi masih kerap ditemui di sejumlah tempat. Ironisnya ummat Islam yang mayoritas di negeri ini kerap dituding sebagai pihak yang tidak toleran. Berbagai survai selalu “mengklaim” mendapatkan temuan bahwa ummat Islam masih belum toleran. Biasanya yang dijadikan sebagai standar dan ukuran seseorang tidak toleran antara lain, sikap terhadap nikah bedah agama, sikap terhadap batal bersama, ucapan selamat natal, kasus pindah agama, pemimpin non Muslim dan sebagainya.

Sementara sikap dan perilaku intoleran terhadap ummat Islam tidak pernah dijadikan sebagai objek penelitian. Padahal tidak sedikit kasus dan praktik intoransi terhadap ummat Islam, misalnya masih adanya sebagian daerah yang memberlakukan perda yang diskriminatif terhadap ummat Islam. Seperti larangan mengumandangkan adzan melalui pengeras suara. Bahkan ada suatu daerah ummat Islam sangat kesulitan mendapatkan idzin mendirikan masjid.

Padahal sesungguhnya Islam merupakan Agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan ummat beragama. Sejarah telah mencatata betapa mulia dan luhurnya praktik toleransi yang ditampilkan oleh ummat Islam. Misalnya ketika Ummat Islam menguasai Jerussalem pada tahun 637 M, Umar bin Khatab saat itu tidak membantai penduduk Jerussalem yang beragama yahudi dan Kristen. Bahkan Khalifah Umar menjamin keamanan dan keselamatan mereka menjalankan ibadah sesuai agama keyakian mereka. Hal ini sangat jauh berbeda dengan kejadian saat Jerussalem ditaklukkan oleh Pasukan Salib tahun 1099 M. Di sana ummat Islam dibantai.

Di sinilah bedanya praktik kerukunan dan toleransi ummat beragama bila Muslim yang berkuasa dan bila non Muslim berkuasa. Kita menyaksikan perbedaan yang sangat mencolok toleransi antar umat bergama dalam negara yang mayoritas Muslim dan mayoritas non Muslim. Tapi anehnya di Indonesia kaum minoritas selalu menuntut lebih dan menganggap ummat Islam tidak toleran. Setiap terjadi konflik ummat Islam selalu tertuduh sebagai pihak yang tidak toleran. Sementara pihak minoritas selalu dibela dengan alasan HAM.

Hal inilah yang disoroti dan didukkan seccara jujur dan proporsional oleh DR. Adian Husaini melalui bukunya Kerukunan Beragama & Kontroversi Penggunaan Kata Allah dalam Agama Kristen. Melalui buku ini Adian hendak mengajak para pembaca untuk melihat persoalan ini secara jujur dari akar masalah yang sebenaranya.

Ada tiga tema besar dalam buku ini, yaitu (1) Kontroversi kata “Allah” di Malaysia dan Indonesia, (2) Misi Kristen dan Kerukunan, dan (3) SeputarKepausan. Menurutnya salah satu akar konflik beragama di negeri ini adalah Kristenisasi. Penulis membahas masalah ini secara panjang lebar disertai paparan datan fakta, mulai dari halaman 127- 264. Oleh karena itu buku ini layak dijadikan referensi dalam mendudukan persoalan toleransi dan kerukunan di Indonesia.

Judul Buku : Kerukunan Beragama dan Kontroversi Penggunaan kata “Allah” dalam Agama Kristen
Penulis : Dr. Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani
Tahun : 1436 H/2016 M
Tebal : 312 halaman

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al Qur’an (2): Allah Menolong Para Penghafal Al Qur’an

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al Qur’an (2): Allah Menolong Para Penghafal Al Qur’an

Masya Allah! Sesunguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersama para penghafal Al-Qur’an. Dia senantiasa mengulurkan bantuan dan pertolongan-Nya kepada mereka. Oleh sebab itu, anda akan mendapati mereka sebagai orang-orang kuat.

Pembaca yang budiman, jika anda membaca kisah kisah para sahabat, maka anda merasa takjub. Benar! Pada awalnya mereka menemukan sesuatu untuk demikian, tetapi meskipun demikian mereka adalah orang orang yang keras terhadap orang orang kafir dan saling menyayangi diantara sesama muslim.

Dengan segala keterbatasan yang ada,mereka sanggup melangkah orang orang Quraisy, kemudian mengalahkan seluruh kabilah kabilah (suku) kaum Musyrikin. Setelah itu, mereka memusatkan perhatian kepada Kisra (kekaisaran Persia) dan Kaisar (kekaisaran Romawi) hingga benar benar menghancurkan dan melenyapkan keduanya. Dengan apakah?. Dengan Al Qur’an yang mulia.

Janganlah anda mengira bahwa kekuatan terletak pada besarnya badan dan kebesaran nama. Sekali kali tidak. Sesungguhnya, kekuatan itu adalah kekuatan hati, maka barangsiapa yang merasa ragu, hendaklah ia mendalami sirah Rasulullah dan kehidupan para sahabatnya.

Saudara tercinta, benarkah ingin menjadi kuat dan pemberani?. Jjika benar, berpegang teguhlah kepada Al Qur’an, taati dan hiduplah di bawah naungannya!

Baca Juga: Tujuh Faidah bagi Penghafal Al-Qur’an (1) : Allah Mencintai Para Penghafal Al-Qur’an

10 Langkah Hafal Qur’an (1): Ikhlas

Hafal Qur'an

Santri Penghafal Qur’an. Photo: Istimewa.

10 Langkah Hafal Qur’an (1): Ikhlas

Al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala. Ia adalah sebaik-baik dan semulia-mulia perkataan. Allah tidak akan menganugrahkan kenikmatan menghafal al-Quran, kecuali kepada mereka yang berniat ikhlas hanya untuk diri-Nya.

Manusia yang beramal tanpa disertai niat yanga ikhlas untuk Allah maka amalannya akan seperti debu yang dihembuskan. Ia tidak mendapat pahala kecuali dengan niat yang benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرء مانوى

Setiap amalan tergantung kepada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai apa yang ia niatkan.”(HR.Al-Bukhari)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من تعلم العلم مما يبتعغى به وجه الله لايتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ia niatkan untuk mendapatkan wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan dunia maka (pada Hari Kiamat) ia tidak akan mencium aroma surga.”

Cukuplah hadits ini sebagai peringatan dan ancaman bagi kita, marilah berdoa kepada Allah agar memperbaiki niat dan amalan dan menjadikan orang-orang yang ikhlas.
(Syekh Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam, Kaifa Tahfadzul Qur’an Fi ‘Asyi Khuthuwat, hlm. 18-20).