Distribuskan Bantuan Korban Longsor, Relawan Arungi Sungai dan Tempuh Jarak  90 KM

Relawan Lazis Wahdah Pinrang menumpang Perahu menuju lokasi longsor di Pinrang.

(Pinrang) wahdahjakarta.com – Hujan yang mengguyur wilayah Kampung Silei, Dusun Bone, Desa Ulusaddang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, beberapa hari menyebabkan tebing di pegunungan tersebut mengalami longsor.

Akibatnya, akses termudah memasuki wilayah tersebut yakni jalanan menunju Batusura, Desa Lembang Mesakada, putus. Hal ini menjadi tantangan bagi sejumlah Relawan LAZIS Wahdah Pinrang saat melakukan proses distribusi bantuan ke wilayah terdampak.

Seperti yang dirasakan Yusran, salah seorang relawan yang bertugas. Ia menggambarkan beratnya medan yang ditempuh. Perjalanan sejauh 90 Km ditempuh selama berjam-jam. Hujan yang turun selama perjalanan, sedikit lebihnya membuat jalanan menjadi licin, juga menyebabkan kabut menyelimuti jalan-jalan yang dilalui.

salah satu rumah terdampak longsor

“Ekstrim dan sangat menantang. Perjalanan distribusi bantuan ini memakan waktu tidak sedikit,” kata Yusran.

Longsor yang terjadi pada hari Kamis (27/12/2018) itu menyebabkan empat rumah warga tertimbun tanah.

“Sedikitnya ada empat rumah warga yang rusak,” terangnya.

Setelah melewati perjalanan darat yang begitu melelahkan. Tim volunter kemudian beralih menggunakan sebuah perahu kecil untuk meneyeberangi sungai yang sedikit berombak.

“Kita diatas sungai hampir 30 menit sebelum sampai di lokasi longsor,” jelas Yusran.

Di lokasi, tim kemudian mendistribusikan paket bantuan pangan untuk para korban. Yusran menambahkan, total rumah yang menempati lokasi longsor sejumlah 32 rumah. Namun katanya, hanya empat rumah itu yang tertimpa longsor.

Donasi program sosial LAZIS Wahdah bisa disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Mari bentangkan kebaikan membantu sesama bersama LAZIS Wahdah, melayani dan memberdayakan. []

Sumber: Tim Media Lazis Wahdah

Dep. Dakwah DPP Wahdah Islamiyah Gelar Lokakarya Pengelolaan dan Pelayanan Dakwah

Dep. Dakwah DPP Wahdah Islamiyah Gelar Lokakarya Pengelolaan dan Pelayanan Dakwah
Lokakarya Pengelolaan dan Pelayanan Dakwah Departemen Dakwah DPP Wahdah Islamiyah

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Departemen Dakwah Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) menggelar Lokakarya Pengelolaan Khutbah, Taklim dan Ceramah Ramadhan di Aula Musyawarah Kampus STIBA Makassar, Ahad (06/01/2019).

Penanggung jawab lokakarya Ustadz Mursyidul Haq, Lc., mengatakan lokakarya bertujuan agar Wahdah Islamiyah baik di tingkat pusat maupun di daerah dapat menjadi lembaga yang profesional dalam mengelola dakwah umum berupa Khutbah, Taklim dan Ceramah-ceramah.

Senada dengan itu, ketua DPP Wahdah Islamiyah, ustadz Ir. Muhammad Qasim Saguni, MA. yang membuka lokakarya berharap agar pengelolaan khutbah, taklim dan ceramah dapat lebih profesional, baik dari sisi dai, materi dakwah maupun masjid yang dikelola.

Ustadz Qasim kemudian mengutip pernyataan sahabat Ali bin Abu Thalib yang terkenal bahwa kebatilan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Lokakarya dihadiri 23 peserta yang merupakan utusan dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah se-Sulawesi Selatan.[]

Sumber: wahdah.or.id

Bolehkah Menerima Uang Tip?  

Uang tip adalah uang yang diberikan oleh konsumen kepada pemberi jasa sebagai tambahan dari harga yang telah dibayarkan.

Uang Tip

Pertanyaan:

Saya bekerja di perusahaan distribusi barang, tugas saya membongkar dan memuat barang dari mobil, dari perusahaann saya sudah mendapat gaji pokok dan insentive dari setiap barang yang saya bongkar, dan setiap bongkar muat, pihak supir sering memberi uang tip dan makanan tanpa saya minta. Halalkah uang dan makanan yang saya terima dari pihak supir, jaazakallah khairan.

Mustain – Malang

Jawaban:

Secara prinsip, haram hukumnya bagi seorang pegawai/pekerja untuk menerima hadiah terkait dengan pekerjaannya, di dalam nash-nash syar’i biasanya disebut dengan hadaya ummal, yaitu; fasilitas yang diperoleh oleh pegawai atau pekerja berupa barang berharga atau jasa yang disebabkan oleh pekerjaannya dari luar perusahaan (diluar gaji dari perusahaan), hal ini disebabkan karena ada potensi untuk berubah menjadi suap menyuap, dan dapat berakibat tidak professional dalam melayani konsumen alias pandang bulu dan tidak adil dalam melayani.

Namun dalam beberapa kondisi ada pengecualian, salah satunya adalah jika perusahaan Anda mengetahui dan mengijinkan pegawainya untuk menerima tips dan pemberian dari customer, maka pemberian tersebut boleh Anda ambil dan halal, dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

Artinya:”Barang siapa yang kami tugaskan dalam suatu pekerjaan, dan kemudian menyembunyikan jarum, maka itu adalah belenggu baginya pada hari kiamat, maka salah seorang sahabat dari Anshor berdiri dan mengatakan: maka saya tidak membutuhkan pekejaan dari engkau, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian bertanya: kenapa? Sahabat tersebut menjawab: sesungguhnya saya tadi telah mendengar dari engkau mengatakan ini dan itu, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: sekarang saya mengatakan: barang siapa yang kami tugaskan pada suatu pekerjaan, maka hendaknya datang kepada kami (dengan hadiah/pemberian) banyak ataupun sedikit, jika kami memberikan kepadanya sesuatu maka boleh ia mengambilnya, jika tidak maka ia tidak boleh mengambilnya”. HR Muslim.

Ibnu Baththol mengatakan:

Artinya:”Bahwa Hadaya Ummal harus di serahkan ke Baitul Maal, dan pegawai (penerima hadaya ummal tersebut) tidak berhak sedikitpun dari harta tersebut, kecuali jika pegawai tersebut meminta ijin pemimpin untuk mengambilnya (dan diijinkan), sebagaimana yang terjadi dalam kisah Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengijinkan baginya untuk menerima hadiah”. Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Battol (7/112).

Ibnu Hajar Al-Asqolani mengatakan:

Artinya: (Dan menerima hadaya ummal haram hukumnya) jika imam (pemimpin) tidak mengijinkannya untuk mengambilnya. (Fathul Baari (13/167).nWallahu A’lam.  Ust. Lukman Hakim, Lc, MA (Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

Sebelumnya artikel ini dipublis di website wahdah.or.id

Ustadz Arifin Ilham Lanjutkan Perawatan ke Malaysia

Ustadz Arifin Ilham saat dijenguk Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin dan Ustadz Al-Habsyi di RSCM, Selasa (08/01/2019)

(Jakarta) wahdahjakarta.com -, Pendiri Majelis Dzikir Az-Zikra, Ustaz Arifin Ilham yang sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), kini telah diberangkatkan ke Penang, Malaysia untuk menjalani perawatan intensif.

Ustadz Muslih dari Majelis Dzikir Az-Zikra mengatakan Ustaz Arifin diterbangkan ke Penang, Kamis (10/01/2019) sekitar pukul 05.00 WIB via Bandara Halim Perdana Kusumah.

“Beliau sudah diberangkatkan ke Penang, Malaysia untuk perawatan yang lebih intensif,” kata Muslih, sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, Kamis (10/1/2019).

Muslih mengatakan, Ustaz Arifin Ilham dirawat di rumah sakit yang pernah menangani kankernya. “Gleneagels Penang,” kata dia.

Dia menambahkan, keberangkatan Ustaz Arifin Ilham merupakan kesepakatan keluarga dan juga atas izin dokter yang menangani di RSCM. “Keputusan keluarga, Ustaz Arifin sendiri dan diizinkan dokter yang menangani beliau di RSCM,” kata dia.

Tak lupa, dia pun meminta doa kepada seluruh masyarakat untuk kesembuhan Ustaz Arifin Ilham. “Mohon terus doakan beliau ya,” kata dia. []

Sumber: Republika.co.id

Suami Poligami, Istri Minta Cerai, Bagaimana Hukumnya?

Suami Poligami, Istri Minta Cerai, Bagaimana Hukumnya?

Suami Poligami, Istri Minta Cerai, Bagaimana Hukumnya

Pertanyaan

Assalamualaikum ustaz,

Saya ingin bertanya, mengenai seorang istri yang meminta untuk dicerai oleh suaminya lantaran suaminya menikah tanpa sepengetahuan istrinya karena si istri tidak ingin dipoligami. Namun sang suami enggan menceraikan istrinya.

Bagaimana solusinya dan bagaimana pandangan agama?

Mohon pencerahannya ust,.. jazaakallah Khair,..atas jawabannya..

Baso – Bulukumba

Jawaban

Walaikummussalam warahmatullahi wa barakatuh

Semoga Allah Azza wa Jalla melimpahkan hidayah dan kebaikan kepada saudara Baso di Bulukumba dan kepada kita semua.

Pada dasarnya Rasulullah ﷺ melarang para Istri meminta cerai dari suaminya tanpa sebab yang dibolehkan oleh Syariat, larangan itu bahkan ditegaskan dengan ancaman yang sangat keras terhadap istri yang menuntut perceraian atas suaminya tanpa alasan yang dibenarkan.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Tsauban – radhiyallahu anhu – :

Rasulullah ﷺ berkata : “Siapa pun wanita yang meminta talak pada suaminya tanpa alasan maka aroma surga haram baginya.”

Poligami yang dilakukan oleh suami bukanlah alasan yang dibolehkan bagi istri untuk menggugat cerai suaminya, sebab poligami itu adalah syariat Islam yang terkadang hukumnya mustahabb (dianjurkan) bagi seorang lelaki bahkan dalam hal tertentu bisa menjadi wajib atasnya.

Kecuali jika suaminya setelah melakukan poligami itu menerlantarkan istrinya dan melakukan tindakan semena mena, melampaui batas atas hak- hak istrinya meskipun ia telah berulang kali dinasehati agar berbuat adil kepada semua istrinya, dalam kondisi seperti ini barulah si istri dibolehkan menuntut khulu’ (perceraian atas suaminya ) dengan syarat mengembalikan mahar suaminya. Wallahu a’lam. [Ustadz. Fadhlan Akbar, Lc, M.H.I (Ketua Komisi Usrah dan Ukhuwah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)]

Artikel://wahdah.or.id

VIRUS HATI PALING TUA

“Ustadzah, materinya tadi bagus banget..”

“Ukhti, tulisannya luar  biasa, mengena sekali..”

“Um, ana mau tanya terkait materi kajian tadi..”

“…wah, saya seneng kalo yang isi kajian ustadzah, seperti waktu tentang Syi’ah itu lho, jadi lebih jelas..”

“.. maa syaa Allah, bacaannya bagus sekali, Um..”

Satu-persatu kalimat-kalimat pujian terucap. Dari para mad’u. Dari mereka yang kita seru.

Kemudian.., dari telinga masuklah ke hati. Disana penuh bunga-bunga. Kemudian ruang hatipun menggema. Ada suara disana.

“Alhamdulillah, kajian diterima..”

“Alhamdulillah, kajianku membekas..”

“Alhamdulillah, kajianku.. kajianku.. kajianku..”

Kemudian di sela-sela gema itu, terdengar  bisikan. Lirih namun jelas, “…hati-hati dengan pujian…”

Kucing Ujub Bangga Diri

Meskipun hanya bisikan, tapi sejenak menghentikan gaung dan gema di relung hati. Yah, hanya sejenak. Kemudian gaung itu berubah bunyi,

“…ah, tidak mengapa. Itukan kenikmatan yang disegerakan..”

“…tidak mengapa ada pujian, yang penting kita bisa menjaga keikhlasan..”

Gaung-gaung terus menggema. Bercampur wangi bunga-bunga. Hingga berubahlah warna hati. Mulailah hati mengagumi. Kagum dengan dirinya sendiri.

“..ah aku yang pandai menggugah hati…”

“..aku piawai memilih materi..”

“..aku, kajianku mereka sukai..”

“..aku, yang pandai berintonasi..”

“..aku.. aku.. aku yang hebat ini..”

Itulah gambaran ujub, kagum diri. Sejengkal demi sejengkal akan bergeser menjadi ghurur, tertipu diri sendiri. Kemudian sehasta demi sehasta, menuju takabbur, menyombongkan diri.

Inilah yang mengantar Fir’aun hingga lantang berseru “…akulah Tuhanmu yang paling tinggi…”

Jakarta, 9/1/19

Tri Afrianti

Syekh Abu Zeid: Tauhid Poros dan Pokok Dakwah Seluruh Nabi dan Rasul

“Kalimat pertama kali yang didengar oleh kaum (masyarakat) yang didakwahi oleh para Nabi dan Rasul adalah kalimat ajakan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena tauhid adalah asas (pokok) bangunan agama”.

Tabligh Akbar "Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman" yang digelar DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat bekerjasama dengan Pesantren Darut Tauhid  Bandung, Selasa (08/01/2019).
Tabligh Akbar “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman” yang digelar DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat bekerjasama dengan Pesantren Darut Tauhid Bandung, Selasa (08/01/2019).

(Bandung) wahdahjakarta.com -, Tauhid merupakan poros dan pokok dakwah para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demikian dikatakan pakar Aqidah dari Universitas Ummul Qura Makkah Al-Mukarramah, Syekh. DR. Abu Zeid Bin Muhammad Makki Asy Syarif Al Hasaniy Al Quraisyi.

“Sesungguhnya tauhid adalah poros atau pokok dakwah seluruh Nabi dan Rasul. Artinya, materi pokok dan inti dakwah para Nabi dan Rasul seluruhnya adalah tauhid”, ujar Syekh Abu Zeid dalam ceramah Tabligh Akbar “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir zaman” yang digelar di Masjid Darut Tauhid, Bandung, Selasa (08/01/2019) malam.

Menurut Ulama keturunan Nabi Muhammad ini, dalil tentang masalah ini sangat banyak sekali, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An-Nahl : 36)

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul kami yang telah kami utus sebelum kamu, “Adakah kami menjadikan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?”.” (QS. Az-Zukhruf : 45)

 “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar“.” (QS. Al-Ahqaf : 21)

Dalam ayat di atas lanjut Syekh Abu Zerid, Allah Ta’ala menegaskan bahwa Rasul sebelum dan sesudah Nabi Hud ‘alaihis salaam semuanya sama dan bersepakat dalam materi dakwah, yaitu :

“Janganlah kamu menyembah selain Allah.”

“Oleh karena itu, kalimat pertama kali yang didengar oleh kaum (masyarakat) yang didakwahi oleh para Nabi dan Rasul adalah kalimat ajakan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena tauhid adalah asas (pokok) bangunan agama”, jelasnya.

Ulama yang juga pengajar pada Ma’had Al-Haram Makkah Academy ini menyampaikan satu perumpamaan yang indah tentag kedudukan dan keutamaan tauhid.

Permisalan agama ini, kata Syekh adalah sebagaimana sebuah pohon. Kita ketahui bahwa pohon memiliki akar, batang dan cabang (ranting). Pohon itu tidaklah berdiri tegak kecuali dengan disokong oleh akar yang kokoh. Sama halnya dengan pohon, agama ini tidaklah berdiri tegak kecuali dengan ditopang dan disokong oleh asasnya, yaitu tauhid.

Allah Ta’ala berfirman :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (yaitu kalimat tauhid, pent.) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim : 24)

Sebagaimana pohon akan mati jika akarnya dicabut, maka demikianlah agama ini. Jika tauhid itu telah hilang, maka tidak ada manfaat dari amal kebaikan yang kita lakukan. Oleh karena itu, kedudukan tauhid dalam agama ini sebagaimana fungsi akar dalam menopang kehidupan sebuah pohon.

Di antara dalil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan inti dakwah mereka adalah :

“Para Nabi berasal dari satu ayah (Adam), ibu mereka berbeda-beda, namun agama mereka satu.“ (HR. Muslim no. 2365)

Maksud dari “agama mereka satu” adalah semua mereka mendakwahkan tauhid. Sedangkan yang dimaksud:

“Ibu mereka berbeda-beda” adalah syariat setiap Rasul itu berbeda-beda, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah : 48) []

Keistimewaan dan Keutamaan Tauhid

Keagungan Kalimat Tauhid

Keistimewaan dan  Keutamaan Tauhid

Oleh: Syeikh Dr. Abu Zeid Bin Muhammad Makki Asy Syarif Al Hasaniy Al Quraisyi (Dosen Universitas  Ummul Quro Makkah)

Saudaraku, perlu kita ketahui, tauhid memiliki keistimewaan dan keutamaan yang banyak. Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan tauhid dalam agama yang mulia ini. Berikut ini adalah keistimewaan dan keutamaan tauhid.

PERTAMA : tujuan penciptaan manusia

Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia. Artinya, Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk mewujudkan dan merealisasikan tauhid.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (terj. QS. Adz-Dzariyaat : 56)

Dalam ayat di atas, makna dari  “beribadah kepada-Ku” adalah: “mentauhidkan Aku.”

Berdasarkan ayat ini, tauhid adalah tujuan penciptaan kita di kehidupan ini. Allah Ta’ala tidaklah menciptakan kita sekedar main-main saja atau sia-sia, tidak ada tujuan, atau tidak ada perintah dan larangan. Akan tetapi, Allah Ta’ala menciptakan kita untuk satu tujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah dengan mentauhidkan Allah Ta’ala.

Cukuplah hal ini sebagai bukti yang menunjukkan tinggi dan mulianya kedudukan tauhid.

KEDUA : Poros dan Pokok Dakwah Seluruh Nabi dan Rasul

Sesungguhnya tauhid adalah poros atau pokok dakwah seluruh Nabi dan Rasul. Artinya, materi pokok dan inti dakwah para Nabi dan Rasul seluruhnya adalah tauhid.

Dalil tentang masalah ini sangat banyak sekali, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala :

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An-Nahl : 36)

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul kami yang telah kami utus sebelum kamu, “Adakah kami menjadikan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?”.” (QS. Az-Zukhruf : 45)

 “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar“.” (QS. Al-Ahqaf : 21)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menegaskan bahwa Rasul sebelum dan sesudah Nabi Hud ‘alaihis salaam semuanya sama dan bersepakat dalam materi dakwah, yaitu :

“Janganlah kamu menyembah selain Allah.”

Oleh karena itu, kalimat pertama kali yang didengar oleh kaum (masyarakat) yang didakwahi oleh para Nabi dan Rasul adalah kalimat ajakan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena tauhid adalah asas (pokok) bangunan agama. Permisalan agama ini adalah sebagaimana sebuah pohon. Kita ketahui bahwa pohon memiliki akar, batang dan cabang (ranting). Pohon itu tidaklah berdiri tegak kecuali dengan disokong oleh akar yang kokoh. Sama halnya dengan pohon, agama ini tidaklah berdiri tegak kecuali dengan ditopang dan disokong oleh asasnya, yaitu tauhid.

Allah Ta’ala berfirman :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (yaitu kalimat tauhid, pent.) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim : 24)

Sebagaimana pohon akan mati jika akarnya dicabut, maka demikianlah agama ini. Jika tauhid itu telah hilang, maka tidak ada manfaat dari amal kebaikan yang kita lakukan. Oleh karena itu, kedudukan tauhid dalam agama ini sebagaimana fungsi akar dalam menopang kehidupan sebuah pohon.

Di antara dalil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan inti dakwah mereka adalah :

“Para Nabi berasal dari satu ayah (Adam), ibu mereka berbeda-beda, namun agama mereka satu.“ (HR. Muslim no. 2365)

Maksud dari “agama mereka satu” adalah semua mereka mendakwahkan tauhid. Sedangkan yang dimaksud:

“Ibu mereka berbeda-beda” adalah syariat setiap Rasul itu berbeda-beda, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah : 48)

KETIGA : Kewajiban Pertama Setiap Mukallaf

 Tauhid adalah kewajiban pertama kali bagi seorang mukallaf (yang telah terkena kewajiban syariat). Jadi, kewajiban pertama kali bagi manusia yang masuk Islam adalah tauhid. Demikian juga, materi pertama kali yang harus disampaikan ketika berdakwah adalah tauhid.

Dalil-dalil tentang kedudukan tauhid yang satu ini sangatlah banyak, di antaranya hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 & Muslim no. 21)

Demikian juga wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya untuk berdakwah ke negeri Yaman :

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 1458 & Muslim no. 19)

Dalam riwayat yang lain berbunyi :

Maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 7372)

Dalam riwayat lain dengan redaksi berbeda :

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab. Jika engkau mendatangi mereka, dakwahkanlah kepada mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1496)

Oleh karena itu, tauhid adalah kewajiban pertama kali atas setiap mukallaf. Dan tauhid adalah perkara pertama kali yang memasukkan seseorang ke dalam Islam.

KEEMPAT , Sebab Memperoleh Hidayah dan kemanan

Tauhid adalah sebab mendapatkan keamanan dan hidayah. Tauhid adalah sebab mendapatkan keamanan dan mendapatkan hidayah di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am : 82)

Keamanan itu berada di tangan Allah Ta’ala dan tidak akan Allah Ta’ala berikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid (muwahhid) yang mengikhlaskan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala.

Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa berat sehingga mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun bertanya,

“Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?”

Maksudnya, semua orang pasti menzhalimi dirinya sendiri. Sedangkan dalam ayat di atas, keamanan dan hidayah itu hanya Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman. Sehingga mereka merasa berat karena menyangka bahwa mereka tidak akan mendapatkan keamanan dan hidayah sama sekali.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

 “Maksud ayat itu tidak seperti yang kalian sangka. Hanyalah yang dimaksud ayat itu adalah sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya (yang artinya), “Wahai anakku, janganlah berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)”.” (HR. Al-Bukhari no. 6937)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentafsirkan “zhalim” dalam ayat di atas dengan “syirik”. Artinya, siapa saja yang beriman kepada Allah Ta’ala dan tidak berbuat syirik, maka dia mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan di akhirat. Inilah di antara keutamaan tauhid, yaitu barangsiapa yang merealisasikan tauhid (muwahhid), maka Allah Ta’ala anugerahkan keamanan dan hidayah di dunia dan di akhirat.

KELIMA, Selamat dari Pertentangan (Kontradiksi)

Akidah tauhid itu selamat dari pertentangan. Inilah di antara keistimewaan akidah tauhid, berbeda dengan akidah-akidah bathil lainnya yang tidak selamat dari kegoncangan dan pertentangan (tidak konsisten). Allah Ta’ala berfirman :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ : 82)

Akidah yang berasal dari manusia dan dibuat-buat oleh manusia, pasti mengandung banyak pertentangan di dalamnya. Adapun iman yang shahih, akidah yang selamat, dan tauhid yang kokoh yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terselamatkan dari itu semua.

Inilah di antara keistimewaam tauhid yang lainnya. Bahwa akidah tauhid dibangun di atas dua sumber keselamatan, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berbicara karena menuruti hawa nafsunya. Apa yang beliau sabdakan dan ajarkan, hanyalah bersumber dari wahyu yang diwahyukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

KEENAM, Tauhid Sesuai Fitrah Manusia

Tauhid itu sesuai dengan fitrah yang selamat dan akal sehat. Tauhid adalah agama yang sesuai dengan fitrah. Seandainya manusia dibiarkan sesuai dengan fitrahnya, mereka tidak akan berpaling kepada selain tauhid. Hal ini karena tauhid itu sesuai dengan fitrah, bahkan fitrah itu sendiri.

Allah Ta’ala berfirman :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum : 30)

Adapun syirik adalah perkara yang mengeluarkan manusia dari fitrah dan menyimpangkan manusia dari fitrahnya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 “Sesungguhnya Tuhanku memerintahkanku untuk mengajari kalian apa-apa yang belum kalian ketahui. Di antara hal-hal yang diajarkan kepadaku hari ini adalah, “setiap harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku, maka (menjadi) halal baginya. Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (menjadi seorang muslim, pent.). Kemudian datanglah setan kepadanya yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka. Serta mengharamkan hal-hal yang Aku halalkan untuk mereka. Dan juga menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangan tentang itu … “.” (HR. Muslim no. 2865)

Yang dimaksud dengan, “Aku menciptakan hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif” adalah di atas fitrah, yaitu di atas tauhid. Lalu datanglah setan yang menyimpangkan dan mengeluarkan mereka dari tauhid tersebut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak ada satu pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Orangtuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti seekor hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat (sama persis dengan induknya), apakah engkau merasakan adanya cacat padanya?“ (HR. Bukhari no. 1358 & Muslim no. 2658)

Seekor hewan dilahirkan dari perut induknya dalam kondisi selamat, sama persis dengan induknya, sempurna bagian-bagian tubuhnya. Jika seseorang memotong kaki, tangan, atau telinga dan selainnya, maka hewan itu tidak lagi dalam kondisi asli sebagaimana yang Allah Ta’ala ciptakan. Hal ini hanyalah terjadi karena ulah tangan manusia.

Hal ini dijelaskan dalam riwayat yang lain :

Tidak ada satu pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Orangtuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti seekor hewan yang dilahirkan, apakah Engkau merasakan adanya cacat padanya? Sampai kalianlah yang membuat mereka cacat.“ (HR. Al-Bukhari no. 6599)

Demikian pula seorang anak dilahirkan di atas fitrah tauhid. Jika anak tersebut kemudian menjadi beragama Nasrani, Yahudi, Majusi, atau terjadi sesuatu pada anak tersebut sehingga dia menyimpang, terjerumus dalam ketergelinciran, kesesatan, kebatilan dan penyimpangan, maka hal ini karena pengaruh pengasuhan orang tuanya atau faktor luar lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan anak tersebut.

Oleh karena itu, dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

 “Orangtuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “yang menjadikannya sebagai Muslim”; karena dia pada asalnya dilahirkan dan tumbuh di atas fitrah tauhid.

Sehingga tauhid adalah agama fitrah. Adapun syirik dan penyimpangan lainnya berupa kesesatan, semua itu bertentangan dengan fitrah tauhid.

Adapun kesesuaian antara tauhid dengan akal sehat sangatlah jelas. Akal yang masih sehat, tidak sesat dan tidak menyimpang, pasti tidak akan rida dengan selain tauhid. Siapakah orang yang masih sehat akalnya, lalu dia menerima dan rida dengan berbilangnya sesembahan di muka bumi ini?

Allah Ta’ala berfirman menceritakan kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam :

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.” (QS. Yusuf : 39-40)

Zaid bin ‘Amr bin Nufail berkata ketika memisahkan diri dari agama kaumnya dan masuk Islam :

Apakah satu Tuhan yang saya sembah atau seribu Tuhan, jika urusan telah terbagi. Saya meninggalkan Latta dan ‘Uzza semuanya, karena begitulah yang dilakukan oleh orang kuat dan sabar. Saya bukanlah penyembah ‘Uzza dan tidak pula kedua anak perempuannya, dan saya tidak juga mengunjungi dua patung Bani ‘Amar”. (As-Sirah 2 : 96, karya Ibnu Ishaq)

Dan ketika Zaid bin ‘Amr mencela sembelihan orang-orang musyrik, beliau berkata :

Kambing yang Allah Ta’ala ciptakan, Allah Ta’ala turunkan air untuknya dari langit, Allah Ta’ala tumbuhkan untuknya dari bumi, kemudian Engkau menyembelihnya dengan menyebut nama selain Allah? Ini sebagai bentuk pengingkaran atas sembelihan mereka dan sebagai bentuk pengagungan atas sembelihan kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 3826)

Maka, kemuliaan tauhid dan tercelanya syirik itu telah terpatri dalam akal dan fitrah manusia, telah diketahui dan diyakini bagi mereka yang memiliki hati yang hidup, akal yang selamat dan fitrah yang bersih.

KETUJUH, Ikatan Abadi di Dunia dan Akhirat

Tauhid adalah pengikat yang hakiki dan abadi di dunia dan di akhirat. Kita tidak menjumpai adanya tali pengikat di antara manusia secara mutlak selain tali tauhid. Karena tali pengikat ini, yang mengikat antara ahli tauhid dan orang beriman, adalah tali pengikat yang akan tetap abadi dan tidak akan lepas di dunia dan di akhirat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

 “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Allah Ta’ala juga berfirman di ayat lainnya :

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa. Dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS. Al-Baqarah : 166)

Maka semua pengikat dan penghubung akan terputus pada hari itu. Semua rasa cinta akan pudar, semua penghubung antara manusia akan sirna, kecuali kecintaan dan hubungan karena tauhid dan iman kepada Allah Ta’ala.

Semua penghubung dan pengikat karena Allah Ta’ala, maka akan abadi dan terus-menerus ada baik ketika di dunia dan di akhirat. Sedangkan semua penghubung dan pengikat karena selain Allah Ta’ala, dia akan terputus dan terpisah. Sekuat apapun hubungan itu, jika bukan karena Allah Ta’ala, dia akan terputus, baik di dunia atau pun nanti di akhirat.

KEDELAPAN, Senantiasa Dijaga Oleh Allah

Tauhid akan senantiasa dijaga oleh Allah Ta’ala. Keistimewaan tauhid lainnya adalah bahwa Allah Ta’ala menjamin terjaganya tauhid dan agama ini, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At-Taubah : 33)

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (QS. Al-Hajj : 38)

 “Dan sesungguhnya kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum : 47)

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim : 27)

KESEMBILAN, Buah dan Faedah Tauhid

Tauhid memiliki buah, keutamaan dan faedah yang sangat banyak. Termasuk di antara keistimewaan tauhid adalah bahwa tauhid mengandung banyak buah dan faedah, serta keutamaan yang bisa dipetik baik ketika masih di dunia maupun kelak ketika di akhirat. Penjelasan tentang buah dan faedah dari merealisasikan tauhid dalam kehidupan akan dijelaskan pada tulisan berikutnya insya Allah. []

Sumber: Transkrip Ceramah Tabligh Akbar, “ Menjadi Ahli Tauhid Di Akhir Zaman”, Oleh: Syeikh Dr. Abu Zeid Bin Muhammad Makki Asy Syarif Al Hasaniy Al Quraisyi (Dosen Universitas  Ummul Quro Makkah), Masjid Darut Tauhid Bandung, Selasa (08/01/2018) malam. Transkrip dan terjemah oleh Ustadz Roni Abdul Fattah, MA.

Kunjungi Wahdah Islamiyah, Ulama Keturunan Nabi Sampaikan Nasehat Persatuan dan Kiat-kiat Dakwah

Syekh menasehatkan agar Wahdah Islamiyah terus melanjutkan amal amal kebaikan yang sudah berjalan tersebut sambil terus merajut persatuan diantara kaum muslimin.

Di sela-sela kunjungan ke DPP Wahdah Islamiyah dan STIBA MakassarSyekh Abu Zaid menyampaikan kuliah singkat tentang Kiat-kiat Dakwah kepada mahasiswa semeseter 8 STIBA Makassar yang akan menjalani KKN. Makassar, Selasa (08/01/2019)

(Makassar) wahdahjakarta.com -, Pada hari ini, Selasa (08/01/2019), DPP Wahdah Islamiyah menerima kunjungan Syekh Abu Zaid asal Mekkah Saudi ‘Arabia. Beliau  merupakan salah satu pengajar di Universitas Ummul Quro Makkah. Nasab  beliau bersambung kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Kunjungan Syaikh Abu Zaid diterima Sekertaris Jenderal DPP Wahdah Islamiyyah Ustadz H. Syaibani Mujiono.  Dalam pertemuan yang berlangsung khidmat Sekjen DPP WI menjelaskan dan menguraikan secara singkat tentang perkembangan Wahdah Islamiyah dalam pembinaan umat dan bangsa dengan ilmu, ta’lim, dakwah dan tarbiyah.

Sekjen DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Syaibani Mujiono menerima kunjungan Syekh Abu Zaid di kantor DPP WI, Makassar, Selasa (08/01/2019)

Syekh menasehatkan agar Wahdah Islamiyah terus melanjutkan amal amal kebaikan yang sudah berjalan tersebut sambil terus merajut persatuan diantara kaum muslimin.

Selanjutnya pakar Aqidah dan Perbandingan Agama ini melihat beberapa aset Wahdah Islamiyah yang berada di komplek DPP seperti  Masjid Darul Hikmah, Gedung Radio, Gedung SMP-IT/SMA-IT Putri, dan gedung Tadribud Du’at DPP WI.

Pengajar Ma’had Al-Haram Makkah Academy ini juga menyampaikan kuliah siangkat kepada Mahasantri Tadribud Du’at (Diklat Da’i). Dalam kuliah singkatnya ia menyampaikan empat hal penting harus dimiliki seorang da’I, yakni; Ikhlash, Ittiba’ (Meneladani Rasulullah),  Iltizam (Konsisten), Penuh Persiapan (Belajar dan Muraja’ah).

Kunjungan dilanjutkan  ke Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar yang disambut oleh ketua STIBA Uatsdz Dr. H. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. dan para asatidzah dosen STIBA.

Ketua STIBA Makassar ustadz Muhammad Yusran Anshar memperkenalkan STIBA kepada Syekh Abu Zaid Al-Qurasyi

Dalam liqa’ yang sangat singkat tersebut ustadz Yusran memperkenalkan kampus STIBA dan menyampaikan harapan agar kiranya ada kesempatan bagi Mahasiswa STIBA yang ingin melanjutkan studi di Universitas  Ummul Quro sebagaimana univ. Islam Madinah.

Dalam pertemuan tersebut pengajar Zad Academy ini menyampaikan tausiyah sekitar 15 menit tentang Al Itqan wal Jaudah (Profesional dan Mutu).

Kemudian syekh juga memberikan faidah tentang “Kiat- kiat Berdakwah di Masyarakat” sebagai bekal kepada para mahasiswa dan mahasiswi STIBA semester 8 yang akan melaksanakan KKN.

Karena waktu yang sangat sempit, sebelum Dzuhur harus berada bandara untuk keberangkatan menuju Bandung bersama Ustadz Irwan Qadar Solihat, Lc (alumni STIBA yang sedang menempuh studi di Universitas Ummul Qura) untuk suatu acara daurah disana. []

Syekh Abu Zaid Al-Qurasyi menyampaikan kuliah singkat kepada mahasantri Tadribud Du’at DPP WI

Biodata Syekh Abu Zaid

Nama: Dr. Abu Zaid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Makky Al Quuby Asy Syarief Al Hasaniy Al Qurasyi

Tempat/Tanggal Lahir: Jedah, 1385 H.

Jabatan:  Kepala Bidang Aqidah, di Univ. Ummul Qura, Mekkah, KSA.

Aktivitas: Dosen di Univ. Ummul Qura, Ma’had Al Haram Makkah dan Zad Academy.

Publikasi ilmiah:

  • Studi Kritis terhadap Kitab Alminhaj fii Syu’abil Iman oleh Alhulaimi
  • Annassyar wa Mauqifuhu minal Firaq
  • Dala’ilur Rububiyyah
  • Zhahiratus Shira’ fil Fikril Gharbi Bainal Fardiyyah wal Jamaa’iyah
  • Al Hiwar Bainal Adyan
  • Ash Shilah Bainal Hukmi Wat Tasyri’ wa Baina Haqiqatil Iman wa Haqiqatul Kufri ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah
  • Hadits Al Muhaajjah Baina Adam wa Musa
  • Darajatut Tashawwuf wal Mauqifus Syar’i Minha
  • Maqaalat Al Firaq Al Kalamiyah
  • Mas’alatut Tahkim Baina Afrad was Syarikat
  • Buku mata kuliah Aqidah (untuk jenjang S1)
  • Buku mata kuliah Firaq

Takhashshus (Keahlian dan Kepakaran)

Aqidah, ‘firaq’, adyan (perbandingan agama), dan pemikiran Islam

Sumber : Biro Hubungan Luar Negeri DPP Wahdah Islamiyah.

Beredar Berita Hoax KH. Arifin Ilham Wafat, Kondisi Beliau Berangsur Membaik

KH. Arifin Ilham saat dirawat di RSCM

(Jakarta) wahdahajakarta.com –  Beredar kabar bohong di media sosial pada Selasa (08/01/2018), pimpinan Majelis Zikir Az Zikra, KH Arifin Ilham wafat. Kabar itu menyebar dengan cepat melalui facebook, WhatsApp, twitter, dan media social lainnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Az Zikra, Ustaz Ahmad Syuhada membantah berita bohong tersebut. “Tidak benar, itu hoaks, “ kata Ustadz Syhada sebagaimana dilansir dari kiblat.net.

Kabar hoax itu juga dibantah salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyidin Junaidi. Kiai Muhyidin baru saja menjenguknya bersama Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

“Tidak benar itu berita meninggal. Ini saya baru saja menjenguk di RSCM bareng Fadli Zon juga. Masak dikabarkan meninggal kan kasihan,” ujar Kiai Muhyidin, sebagaimana dilansir dari Republika Selasa (08/01/2019) siang.

Justru, menurut dia, kondisi Ustadz Arifin Ilham saat ini mulai berangsur membaik.  “Kondisinya berangsur membaik,” ucapnya.

Kiai Muhyiddin dan Ustadz Syuhada meminta masyarakat dan umat Islam Indonesia mendoakan Ustadz Arifin Ilham.

‘’Kami minta kepada seluruh masyarakat untuk mendoakan beliau, dan hanya menerima kabar resmi dari keluarga maupun pihak Ponpes,” pinta Ustaz Syuhada.

 “Jika ada pernyataan resmi apapun dari pihak keluarga, semua yang beredar yang melebihi batas itu tidak benar,” tandasnya.

Kabar, kondisi Ustadz Arifin Ilham berangsur membaik juga disampaikan penasehat Majelis Az Zikra, Ustadz Ferry Nur.

Penasihat Majelis Az-Zikra Ustadz Ferry Nur mengungkapkan bahwa Selasa (08/01/2019) pagi tadi Ustadz Arifin sudah bisa makan walaupun baru sebatas biskuit.

“Alhamdulillah pagi ini (Selasa) Ust. Muhammad Arifin Ilham sudah dapat makan biskuit, mohon doanya selalu semoga sehat wal’afiat,” jelasnya kepada hidayatullah.com, Selasa. Ia mengaku juga sempat menjenguk Ustadz Arifin baru-baru ini.

Semalam sejumlah artis juga menjenguk Ustadz Arifin, termasuk Arie K Untung dan Teuku Wisnu. Arie pun mengimbau masyarakat agar jangan percaya hoax tersebut.

“Jangan percaya hoax, ini kondisi terakhir beliau. Mohon doanya,” ujarnya lewat akunnya, @ariekuntung, Selasa (08/01/2019) pagi, seraya mengunggah foto bersama para penjenguk dan Ustadz Arifin yang didampingi salah seorang istrinya dan anak pertamanya, Muhammad Alvin Faiz. []

Sumber: Republika.co.id|Kiblat.net|Hidayatullah.com