Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar, sebagaimana dikabarkarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyampaikan kabar gembira kedatangan Ramadhan di hadapan para Sahabat. “Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”, kata sang Nabi. Malam tersebut dikenal dengan malam al-qadar, atau kemuliaan, yang masyhur dan popular dengan nama malam lailatul qadar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pula bahwa siapa yang tidak memperoleh kebaikan malam lailatul qadar tersebut, maka sesungguhnya ia telah terluput dari kebaikan yang banyak. Sebab malam lailatul qadar memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Diantaranya.

  1. Allah Menurunkan Satu Surat Utuh yang Menjelaskan Keutamaannya

Keutamaan malam lailatul qadar dijelaskan oleh Allah dalam satu surat tersendiri. Yakni surat Al-Qadar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (lailatul qadar) itu?  Lailatul qadar (Malam kemuliaan)  itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Qs. Al-Qadar:1-5).

  1. Malam Diturunkannya Al-Quran

Sebagaimana dalam Surat Al-Qadar, “Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Laitul qadar)”. (terj. Qs. Al-Qadar: 1).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

“Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkannya  kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Ibn Katisr 14: 403).

  1. Lebih Baik dari Seribu Bulan

Malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al-Qadr ayat 3. “Malam Lailatul qadar lebi baik dari seribu bulan”. (Qs. Al-Qadar:3).

Maksudnya pahala ibadah pada saat itu lebih baik dari pada seribu bulan bagi mereka yang menghidup-kannya dengan berbagai ibadah dan kebaikan seperti shalat, dzikir dan berdo’a.

  1. Malam yang Penuh Berkah

Malam lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah sebagaimana firman Allah  Allah Ta’ala

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3).

Malam yang penuh berkah yang dimaksud disini adalah malam ‘lailatul qadar’, karena Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar, sebagaimana pada pon nomor dua.

  1. Para Malaikat dan Malaikat Jibril Turun Pada Malam Lailatul Qadar

Pada malam itu turun para malaikat dan mereka tidak turun (ke bumi) kecuali membawa kebaikan dan berkah serta kasih sayang. Sebagaimana  dalam Al Qur’an surat Al-Qadar ayat  4.

Ibnu Katsir mengatakan;

Pada malam Lailatul Qadar banyak Malaikat yang turun karena banyaknya berkahpada malam tersebut. Karena turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-. Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407)

  1. Malam Lailatul Qadar adalah Malam Keselamatan

 Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

 “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadar: 5)

Yaitu selamat dari kesalahan dan penyakit atau selamat dari azab dan siksaan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Imam Mujahid mengatakan, bahwa makna Salam pada malam tersebut adalah;

 “Malam tersebut penuh keselamatan dimana setan tidak dapat berbuat apa-apa pada malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid (Tafsir Ibn Katsir, 14: 407).

  1. Lailatul Qadar adalah Malam Ditetapkannya Takdir Tahunan

Malam lailautul qadar merupakan malam ditetapkannya takdir tahunan, Allah Ta’ala berfirman,

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4).

Ibnu Katsir mengutip dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhahak dan ulama salaf lainnya bahwa, ”Pada Malam Lailatul Qadar akan dirinci di Lauhul Mahfuzh penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal dan rizki. Segala  sesuatu  juga hingga akhir dalam setahun”.

  1. Orang yang menghidupkan malam ‘Lailatul Qadar’ Akan Diampuni Dosanya yang Lalu

Bagi mereka yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan memper-banyak ibadah maka Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan mengampuni dosa–dosanya  yang telah lalu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya:

 “Barang siapa yang beribadah kepada Allah di malam lailatul qadr maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘Alaih). [sym].

Waktu Yang Tepat Mengeluarkan Zakat Fitrah

 

Waktu Yang Tepat Mengeluarkan Zakat Fitrah

Pertanyaan:

Saya mengeluarkan zakat fitrahku dan zakat fitrah pembantuku pada  tanggal 26 Ramadhan Apakah hal ini dibolehkan?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah Rasulullah, amma ba’du;

Boleh mengeluarkan zakat fitrah pembantu bila hal itu seidzin dan sepengatahuaannya.

Waktu  wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah setelah terbenam matahari pada malam ‘ied, dan boleh mendahulukannya sehari atau dua hari  saja. Adapun mengeluarkannya sebelum itu; jika dimaksudkan agar terkumpul pada pihak yang membagikannya, maka tidak masalah. Disebutkan dalam Al-Muwatha bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengirikan zakat fitrah kepada (panitia) yang mengumpulkannya dua atau tiga hari sebelum ‘ied.

Adapun bila diserahkan langsung kepada fakir miskin, sebaiknya tidak disegerakan. Karena tujuan dari zakat fitrah adalah memberikan kecukupan dan menghindarkan mereka dari meminta-minta pada hari ‘ied. Sementara jika didahulukan beberapa sebelum ‘ied, boleh jadi luput maksud memberi kecukupan pada hari ‘ied yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Cukupi mereka dan hindarkan dari meminta-minta pada hari ini (‘ied)”. [Sym/wahdahjakarta.com].

  (Sumber: Fatwa Syekh. DR. Ahmad bin Muhammad Al-Khudhairiy).

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

وعنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ نَسِيَ وهُو صَائمٌ فَأَكلَ أَوْ شَرِبَ فليُتِمَّ صَوْمَهُ فإنّما أَطعمهُ اللَّهُ وسقاهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum maka hendaknya melanjutkan puasanya karena sesungguhnya dia diberi makan dan minum oleh Allah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Hakim berbunyi;

من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة وهو صحيح

“Siapa yang membatalkan puasa Ramadhan karena lupa maka ia tidak wajib mengqadha dan membayar kaffarat serta puasanya tetap sah”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini menunjukan bahwa orang makan atau minum karena lupa puasanya tidak batal dan tetap sah. Oleh karena itu dia tidak memiliki kewajiban qadha dan bayar kaffarat. Akan tetapi orang yang puasa lalu s makan  atau minum karena lupa, lalu teringat bahwa ia sedang puasa maka wajib segera menghentikan makan atau minumnya saat itu juga. Jika ia tetap melanjutkan makan atau minumnya setelah ingat bahwa dia puasa, maka puasanya batal dan wajib qadha. Demikian pula jika memelihat orang yang puasa makan atau minum karena lupa, maka yang melihat wajib mengingatkan dan menghentikan. Wallahu a’lam. [sym].

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [2]: Rukun dan Syarat I’tikaf

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallm ber’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadnan” (HR. Bukhari & Muslim) .

 Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [2]: Rukun dan Syarat I’tikaf

Syarat I’tikaf

Orang yang beri’tikaf memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhinya yaitu: Seorang muslim, mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan buruk), berakal, dan suci dari janabat, haidh, serta nifas.

Rukun I’tikaf

  1. Niat, karena tidak sah suatu amalan melainkan dengan niat.
  2. Tempatnya harus di Masjid. Dalilnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’alayang artinya:

Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid” (QS. Al Baqarah : 187)

Keharusan beri’tikaf di masjid ini berlaku pula untuk wanita, dalam hal ini merupakan pendapat Jumhur Ulama bahwa wanita tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya karena tempat itu tidaklah dikatakan masjid, lagi pula keterangan yang shahih menerangkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf di masjid Nabawi.

Al Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah-  berkata tentang i’tikafnya istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  di masjid : “Hal ini menunjukkan disyariatkannya i’tikaf di masjid, karena seandainya tidak, tentu para istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  akan beri’tikaf di rumah-rumah mereka karena mereka telah diperintahkan untuk berlindung atau berdiam di rumah”. (Fathul Bari 4 : 352)

Syarat Masjid Yang Ditempati I’tikaf

Para ulama telah berikhtilaf tentang syarat masjid yang sah untuk di gunakan i’tikaf namun diantara pendapat-pendapat yang ada maka pendapat yang pertengahan dan paling dekat dengan kebenaran adalah I’tikaf harus dilaksanakan di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah padanya karena shalat berjama’ah bagi laki-laki hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan atsar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yaitu:

Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah”. (HR. Ad Daraqutni dan Al Baihaqi)

Pendapat ini dipegangi pengikut madzhab Abu Hanifah dan Imam Ahmad serta perkataan Hasan Al Bashri dan ‘Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:

Disyaratkannya i’tikaf di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah, karena shalat jama’ah itu wajib, dan ketika seseorang beri’tikaf di masjid yang tidak dilaksanakan shalat jama’ah akan mengakibatkan salah satu dari dua hal: meninggalkan shalat jama’ah yang merupakan kewajiban, yang kedua keluar untuk shalat di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah dan hal ini akan sering berulang padahal masih mungkin untuk menghindarinya, dan sering keluar dari tempat i’tikaf itu bertentangan dengan maksud/tujuan i’tikaf …”. (Al Mughni 4 : 461)

Jika seseorang i’tikaf di masjid jama’ah yang tidak dilaksanakan shalat Jum’at maka pada hari Jumat wajib atasnya untuk keluar shalat Jum’at dan i’tikafnya tidak batal karena dia keluar disebabkan udzur yang dibenarkan syariat dan hal tersebut hanya sekali dalam sepekan, dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Said bin Jubair, Hasan Al Bashri, Ibrahim An Nakhaaiy, Imam Ahmad, Ibnul Mundzir, Dawud Azh Zhohiri, Ibnu Qudamah, dan lain-lain. [sym]

Artikel: wahdah.or.id

Hadits Puasa [13] Bercelak Tidak Membatalkan Puasa

Hadits Puasa [13] Bercelak Tidak Membatalkan Puasa

وعن عائشةَ – رضي الله عنها – “أنّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – اكتحل في رمضانَ وهُو صائمٌ” رواه ابن ماجه بإسناد ضعيف وقال الترمذيُّ: لا يصح في هذا البابِ شيءٌ

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bercelak pada bulan Ramadhan saat beliau sedang puasa”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang dha’if).

 

Pelajaran Hadits

Para Ulama berbeda pendapat tentang hukum bercelak bagi orang yang berpuasa. Sebagian Ulama menganggapnya makruh. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubaraka, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah.

Menurut Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah, Hasan Al-Bahsri, dan Ibrahim An-Nakha’i rahimahumullah bercelak bagi orang yang berpuasa hukumnya boleh. Beliau mengatakan bahwa bercelak tidak membatalkan puasa. Ini juga merupakan pendapat beberapa Ulama Kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahumallah.

Syaikh Bin Baz mengatakan dalam fatwanya;

Bercelak tidak membatalkan puasa secara mutlak pada wanita maupun laki-laki menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat ulama. Tetapi bagi orang yang berpuasa lebih baik menggunakannya pada malam. Demikian pula dengan alat kecantikan berupa sabun dan minyak-minyak yang bersentuhan dengan kulit. termasuk juga ‘hina’ (pewarna kuku) atau make-up dan lain-lain. Semua ini tidak mengapa digunakan oleh orang yang berpuasa. ….”. (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/260).

[sym]

Muslimah Wahdah Depok Berbagi Takjil Bersama Yatim dan Dhuafa

Muslimah Wahdah Depok

Muslimah Wahdah Depok Berbagi Takjil Bersama Yatim dan Dhuafa

(Depok) wahdahjakarta.com| Sabtu (2/06/2018) lalu Muslimah Wahdah Depok (MWD) Depok menggelar kegiatan tebar takjil dan pembagian sembako. Sebanyak 100 paket ifhtar 20 paket Sedekah anak yatim dibagikan di  Mesjid Azmidiniyah , Jl Kober Gg kesadaran Pd Cina, Beiji Depok.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program #TebarIftharNusantara yang dihelat oleh ormas Wahdah Islamiyah secara nasional. Menurut pengurus MWD Depok, kegitan yang tebar takjil yang dilaksanakan di Pondok Cina merupakan tahan yang kedua.

“Ini tahap kedua yang beralangsung di Depok setelah sebelumnya berlangsung di Perkampungan pemulung 2 lokasi di kec, Sukmajaya, Depok dengan Tebar Ifthar (takjil) sebanyak 100 paket”, ujarnya.

Kegiatan yang merupakan rangkaian dari #SalamRamadhan ini menghadirkan Ustadzah Ellis yang memberikan tausiah seputar keutamaan puasa. Sebagian peserta yang hadir juga berkomitmen untuk belajar Islam secara instensif dan belajar Al-Qur’an setiap Jum’at pagi. Semoga kedepan jalinan ukhuwah antar para pengurus dakwah dengan masyarakat senantiasa terjalin dengan erat.

Kegatan ini merupakan salah satu dari program #TebarIftharNusantara dan Ramadhan Ukhuwah yang digelar Wahdah Islamiyah secara nasional. Program lainnya adalah Tebar Sembako Nusantara, Tebar Al Quran Nusantara, Kado lebaran Yatim, Bingkisan Lebaran Dai, dan Tebar Mukena Nusantara.

Khusus program tebar takjil (ifthar) Wahdah  Islamiyah menargetkan 100.000 paket secara nasional.  Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah  Wahdah Islamiyah Depok, WI Depok  menargetkan 2000 paket insyaAllah”. [sym].

Fiqh Zakat Praktis

Penulis : Ustadz Maulana La eda, Lc, M.A. (Kandidat Doktor Ilmu Hadits  Islamic University of Madinah, KSA )

Fiqh Zakat Praktis

Fiqh Zakat Praktis

Islam sebagai agama yang universal dan sempurna, tidak hanya memperhatikan sisi akhirat saja, namun juga sangat memperhatikan sisi keduniaan dengan segala lika likunya termasuk perkara sosial dan ekonomi. Lantaran besarnya perhatian Islam terhadap perkara sosial dan ekonomi ini maka ia mewajibkan adanya zakat ini kepada muslim yang memenuhi syarat-syarat wajibnya sebagai solusi terbesar dalam mengatasi kesenjangan sosial dan mengentaskan kemiskinan dalam kehidupan bermasyarakat.

Besarnya peran zakat dalam mengatasi problem-problem sosial dan ekonomi inilah yang menjadikan ia sebagai salah satu rukun yang terbangun diatasnya ajaran-ajaran Islam sebagaimana dalam hadis popular: “Islam dibangun diatas lima perkara / rukun: Syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu” (HR Bukhari: 1496 dan Muslim: 19).

Bahkan dalam Al-Quran, Allah Ta’ala sampai-sampai menyandingkan penyebutan dan perintah wajibnya zakat ini dengan kewajiban shalat dalam 82 ayat, diantaranya ayat: “Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat” (QS Al-Baqarah: 110).

 Hikmah Zakat

Zakat ini disyariatkan dengan banyak hikmah dan manfaat besar diantaranya:

  1. Sebagai cara mensucikan harta pribadi yang mungkin telah dikotori oleh hasil yang haram, serta sebagai cara untuk mengembangkannya dan menjaganya dari kepunahan.
  2. Untuk mensucikan hati dan jiwa dari berbagai sifat kikir, tamak dan bakhil. Allah ta’ala berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu dapat membersihkan mereka (dari dosa dan sifat buruk) dan mensucikan harta mereka” (QS At-Taubah: 103)
  3. Sebagai penghibur dan bantuan materi bagi orang-orang yang membutuhkan baik dari kalangan fakir miskin, atau golongan lainnya yang berhak mendapatkan zakat.
  4. Sebagai solusi atas problem masyarakat secara umum khususnya dalam bidang sosial dan ekonomi yang mana dengannya umat ini bisa berjaya dan kuat dalam berbagai bidang kehidupan.
  5. Sebagai ucapan syukur dan tanda terima kasih kepada Allah ta’ala yang telah memberikan karunia harta tersebut.
  6. Mendekatkan hubungan kasih sayang dan pergaulan antara si miskin dan si kaya.
  7. Menghindari adanya kejahatan sosial berupa pencurian dan perampokan dari mereka yang miskin karena tidak mendapatkan penghasilan dan harta yang seharusnya menjadi hak mereka yaitu harta zakat dan sedekah.

Syarat Wajib Zakat

Secara umum syarat-syarat yang mewajibkan seorang muslim untuk mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

  1. Beragama Islam,
  2. Merupakan orang merdeka, bukan hamba sahaya,
  3. Memiliki batasan harta bersih yang sampai atau lebih dari nishab (jumlah minimal harta bersih yang wajib dikeluarkan zakatnya).
  4. Bila harta tersebut telah ditabung atau disimpan selama setahun atau lebih, kecuali pada zakat pertanian dimana zakatnya dikeluarkan ketika panen, dan tidak menanti genap satu tahun.
  5. Harta tersebut merupakan miliknya secara keseluruhan.

 Yang Berhak Menerima Zakat

Adapun golongan orang yang berhak menerima zakat ini, maka ada 8 golongan sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam al-Quran yaitu:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah:60).

 

Zakat Harta (Emas, Perak Atau Nilainya Berupa Uang)

  1. Dalam zakat emas atau perak atau nilainya berupa uang yang sudah tertabung selama setahun ini harus mencapai jumlah nishab harta yang wajib dizakatkan yaitu:

        Emas harus mencapai 20 dinar, setara dengan 85 gram emas murni, sesuai hadits: “Anda tidak wajib berzakat (pada emas) hingga engkau mempunyai 20 dinar, apabila                       engkau           mempunyai 20 dinar dan telah cukup satu tahun, maka wajib zakat padanya setengah dinar” (HR Abu Daud: 1573, hasan).

  1. Perak harus mencapai 200 dirham, setara 595 gram perak murni, sesuai hadis: “Tidak ada zakat (bagi perak) dibawah 5 uwaaq (200 dirham)” (HR Bukhari: 1405, dan Muslim: 979).
  2. Adapun nilainya berupa uang maka harus mengacu pada salah satunya, bila seseorang menjadikan standar nishab zakatnya pada emas maka jumlah nishab harta zakat tersebut adalah; 85 gram emas x harga 1 gram emas (misalnya: Rp 500.000-) = Rp 42.500.000-. (Empat Puluh Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah).

Adapun bila menjadikan standar nishab zakatnya pada perak, maka jumlah harta tersebut adalah:

595 gram perak x harga 1 gram perak (misalnya: Rp 11,000,-) = Rp 6.545.000,-. (Enam Juta Lima Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah).

Adapun kadar atau miqdar pembayaran zakatnya maka 2,5 % dari total jumlah harta, sesuai hadis: “Pada emas-perak, maka zakatnya adalah seperempat puluh (2,5 %)”. (HR. Bukhari: 1454).

Apakah uang giral berupa deposito, giro, cek, atau surat berharga lainnya wajib dikeluarkan zakatnya sebagaimana mata uang kartal/uang biasa secara umum?

Ya, karena uang giral merupakan salah satu jenis uang yang bernilai maka ia dihukumi seperti uang kartal biasa pada umumnya. Sehingga bila uang giral ini sudah sampai satu tahun dan nilainya juga sampai pada nishab wajib zakat, maka wajib dikeluarkan zakatnya seperti halnya uang biasa. Bila seseorang memiliki uang kartal dan juga memiliki uang giral, maka ia harus menggabungkan jumlah total keduanya, bila sampai nishab maka wajib dikeluarkan zakatnya dengan kadar 2,5%.

Contoh Perhitungan Zakat Harta

Bapak Fulan punya tabungan di Bank sebesar 10 juta rupiah, deposito sebesar 50 juta rupiah, tanah investasi yang rencana akan dijual senilai 200 juta. Total harta yakni 260 juta rupiah. Semua harta sudah dimiliki sejak satu tahun yang lalu.

Jika harga 1 gram emas sebesar Rp. 500.000,- maka batas Nisab zakat maal adalah 85 x 500.000 = Rp. 42.500.000,-. Karena harta Bapak Fulan lebih dari limit nisab, maka ia harus membayar zakat harta sebesar 260.000.000 x 2,5% = Rp. 6.500.000 dalam tahun perhitungan zakat tersebut.

Zakat Perdagangan

Zakat perdagangan adalah zakat yang wajib dikeluarkan karena nilai barang dagang yang sedang dijual telah mencapai nishab dan telah mencapai satu tahun. Nishab zakat perdagangan ini adalah senilai nishab zakat emas yaitu seharga 85 gram emas, dan miqdar/kadar pembayaran zakatnya adalah 2,5% dari jumlah total nilai barang dagangan.

Cara menentukannya adalah bila pada tanggal tertentu (misalnya 1 Muharram) ia telah tahu bahwa barang dagangnya sudah mencapai nishab, maka pada tanggal 1 Muharram tahun depannya harga barang-barang dagang tersebut beserta harga jualnya yang tertabung harus dihitung semua dan bila jumlah total semuanya tetap pada jumlah tahun lalu atau lebih, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 %.

Zakat Hasil Pertanian

Hasil tanaman makanan pokok seperti gandum, beras dll maka waktu pengeluaran zakatnya tidaklah bergantung pada tahun, namun bergantung pada waktu panen. Kapan waktu panen tiba maka saat itulah zakatnya harus dikeluarkan walaupun dalam satu tahun mengalami dua kali panen. Ini sesuai firman Allah Ta’ala: “…Dan berikanlah haknya (zakatnya) pada hari panennya”. (QS. Al-An’aam: 141).

Tanaman yang wajib dizakatkan adalah hanyalah tanaman berupa makanan pokok atau buah-buahan dan biji-bijian yang bisa tersimpan lama dan tidak rusak seperti jagung, beras, gandum, sagu, kurma, kismis, atau kacang-kacangan. Adapun tumbuhan/budi daya selain makanan pokok seperti buah-buahan yang mudah rusak, tanaman hias, atau kayu, maka tidak dizakatkan bila waktu panen tiba.

Adapun nishab dan kadar zakatnya adalah sebagai berikut:

  1. Nishab hasil panen tanaman makanan pokok ini adalah harus mencapai lima wasaq = 300 sha’ (sekitar 870 kg atau 1.050 liter). Hal ini sesuai sabda Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam: “Tidak ada sedekah (zakat) pada biji dan buah-buahan hingga mencapai lima wasaq” (HR Bukhari: 1405, dan Muslim: 979).
  2. Adapun kadar zakat yang dikeluarkan bila hasil panen tersebut telah mencapai 300 sha’ atau lebih adalah diperinci sebagai berikut:

Pertama: Bila pertanian tersebut diairi secara alami artinya pengairannya hanya bersandar pada air hujan yang turun, atau aliran air sungai, maka kadar zakat yang dikeluarkan darinya adalah 10 % dari jumlah total hasil panen.

Kedua: Namun bila pertanian tersebut diairi dengan air kincir yang ditarik oleh binatang atau diairi dengan alat yang memiliki biaya, maka kadar zakatnya lebih sedikit yaitu hanya 5 % dari jumlah total hasil panen.

Ketiga: Bila seorang petani menggunakan dua cara di atas dalam pengairan kebun, ladang atau sawahnya, maka ia hanya mengeluarkan zakat sebesar 7,5 % dari jumlah total hasil panen.

Hal ini berdasarkan hadis: “Pada biji yang diairi dengan air sungai dan hujan zakatnya sepersepuluh (10%), dan yang diairi dengan kincir yang ditarik oleh binatang zakatnya seperdua puluh (5%)” (HR Muslim: 981).

Masih ada jenis zakat yang belum dibahas dalam artikel singkat ini seperti zakat Ternak, Zakat hasil temuan/Tambang dan zakat Fitrah namun, semoga penjelasan ini bermanfaat bagi pembaca, utamanya bagi penulis sendiri.[]

****

Yuk Tunaikan Zakat Anda di LAZIS Wahdah

Kantor Perwakilan Jakarta :

Jl. Lenteng Agung No 01 RT 03 RW 04 Jagakarsa – Jakarta Selatan

Tlp/SMS/WA : 08119787900

Rekening Zakat LAZIS Wahdah

:: Bank Syariah Mandiri (451) 772 800 8002 an Lazis Wahdah Jakarta Zakat

:: Bank Muamalat (147) 801 0048 366

:: BNI Syariah (009) 400 123 400 8

:: BRI Syariah (002) 100 660 420 6

an Lazis Wahdah Zakat

  LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

Nikmati  Indahnya Malam-Malam Ramadhan Bersama Al-Qur’an

Keutamaan Bulan Ramadhan [1]: Ramadhan Bulan Al-Qur'an 

 

Mari nikmati indahnya malam-malam Ramadhan bersama Al-Qur’an . Semoga memperoleh syafa’atnya di hari kiamat kelak

Wahdahjakart.com| Kebanyakan orang mengira bahwa membaca Al-Qur’an pada siang hari Ramadhan saat bepuasa lebih afdhal. Yang benar adalah bahwa keutamaan (fadhl) berkaitan dengan Ramadhan secara keseluruhan, dan yang paling afdhal sepanjang Ramadhan adalah waktu malamnya. Malaikat Jibril ‘alaihissalam datang kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam lalu mudarasah Al Qur’an bersama beliau.

Renungkanlah hubungan yang erat antara waktu malam dengan Al Qur’an dalam ayat yang banyak, dan hal itu lebih tegas pada bulan Ramadhan; Bacalah firman Allah;

Sesungguhnya kami telah menurunkan al Qur’an pada malam kemuliaan” (al Qadr;1).

Sesungguhnya kami telah menurunkan al Qur’an pada malam yang penuh berkah” (ad Dukhan;1)

Dan bacalah al Qur’an pada waktu fajar, sesungghnya (bacaan) Al Qur’an pada waktu fajar disaksikan (Malaikat)”. (Al Isra;78)

Shalatlah pada waktu malam”

Hubungan antara malam dan Al Qur’an sangat erat sekali, karena pada malam hari suasana tenang, tentram, dan jiwa dalam keadaan teduh.

Apakah anda telah menghabiskan malam-malammu pada bulan Ramadhan bersama Al Qur’an dengan membaca dan mentadabburinya seperti para salaf. (Syekh. Prof. DR. Nashr bin Sulaiman al-Umar). [sym].

Sumber: Grup Whatsapp Muassasah Muslim (02/07/2015).

Artikel: wahdah.or.id

=====================================================

Syekh Prof. DR. Nashr bin Sulaiman al-Umar adalah Pendiri dan mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ulama Muslim Sedunia dan Pendiri sekaligus Ketua Lembaga Tadabbur al-Qur’an Internasional. Beliau juga pendiri dan pemimpin Muassasah Muslim dengan websitenya almoslem.net.  Silsilah mutiara nasehat ini diambil dan diterjemahkan dari Whatsapp Muassasah Muslim yang beliau pimpin.

LAZIS Wahdah Gelar Buka Puasa Bersama Pengungsi Rohingya

LAZIS-Wahdah-Gelar-Buka-Puasa-Bersama-Pengungsi-Rohingya

(Bangladesh) wahdahjakarta.com| Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Wahdah Islamiyah (LAZIS Wahdah) menggelar buka puasa bersama pengungsi Rohingya di Masjid Wihdatul Ummah, Jadimora, Nay Para, Tekhnaf-HWY, Coxs Bazar, Bangladesh, pada Jumat (25/5/2018 ).

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh ribuan pengungsi Rohingya ini LAZIS Wahdah menyalurkan 2.500 paket hidangan buka puasa.

Masjid Wihdatul Ummah merupakan salah satu masjid terbesar yang dibangun oleh Wahdah Islamiyah di sisi kamp pengungsian dengan tanah wakaf dari penduduk setempat.

Masjid dengan luas 48 x 60 meter persegi tersebut mulai dibangun pada Desember tahun 2017 dan telah rampung serta resmi dimanfaatkan oleh pengungsi pada hari Jumat 2 Maret 2018 lalu.

Selain Masjid Wihdatul Ummah, Wahdah Islamiyah juga telah merampungkan lima masjid di kawasan kamp pengungsian lainnya.

”Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia akhirnya Wahdah Islamiyah bisa merampungkan enam Masjid untuk para pengungsi Rohingya di Bangladesh,” ucap ustadz Syahruddin C Asho, Sabtu (26/5).

Selain di masjid Wihdatul Ummah, LAZIS Wahdah juga menyalurkan paket buka puasa untuk pengungsi Rohingya di lokasi yang lain.

LAZIS-Wahdah-Gelar-Buka-Puasa-Bersama-Pengungsi-Rohingya

“Penyaluran buka puasa ada 7 lokasi, 1 titik di masjid jami Wihdatul Ummah, 4 titik di masjid dalam kamp yang kita bangun untuk pengungsi, 1 titik di kompleks sekolah tahfizh Ummatan Wahidah, dan juga di salah satu masjid yang kita bantu renovasinya dulu.” Jelas Syahruddin.

Ramadhan tahun ini, Wahdah Islamiyah melalui LAZIS Wahdah menjalankan berbagai macam program untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh. Selain Program pendidikan lewat sekolah permanen dan madrasah masjid yang LAZIS Wahdah bangun sebelumnya, program Tebar Ifthar juga sampai ke kamp pengungsian, juga ada program Tebar Al-Qur’an dan bantuan bahan kebutuhan pokok di kamp pengungsian.

LAZIS Wahdah akan terus berkomitmen untuk membantu masyarakat Rohingya yang telah bertahun-tahun merasakan penindasan dan terusir dari negerinya sendiri.

Ayo, terus kirimkan doa dan donasi wujud Peduli Rohingya. Donasi Peduli Rohingya dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri , No Rekening: 799.900900.4 a/n LAZIS Wahdah Care, konfirmasi: 085315900900.[]

Keajaiban Lailatul Qadr

Keajaiban Lailatul Qadr

Bulan  Ramadhan  adalah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang mulia (lailatul qadr) malam yang didalamnya diturun-kan Al-Qur’an dan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala mengabar-kan bahwa ia lebih mulia dari seribu bulan dari segi keutamaan,  kemuliaan-nya dan banyaknya pahala.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

“ Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada satu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberikan peringatan Pada malam itu di jelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad-Dukhaan : 3-4).

Ma’na Al-Qadr

Al-Qadr artinya kemuliaan, keagungan atau taqdir dan qadha (ketentuan) karena lailatul qadr sangat agung dan sangat mulia yang mana pada malam itu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menenukan/ menetapkan semua urusan yang akan terjadi sela-ma satu tahun.

Kapankah Lailatul Qadr itu ?

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 42-50 pendapat dalam penentuan malam lailatul qadr dan yang paling rajih bahwa dia pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengabarkan hal itu. Beliau bersabda:

“Carilah malam lailatul qadr pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda:

 “Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam yang terakhir pada malam 21, 23, 25 dan 27.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).

Maka barangsiapa yang menghi-dupkan sepuluh malam terakhir khu-susnya malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan dengan amalan-amalan ibadah niscaya akan menda-patkan lailatul qadr dan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berupa ampunan dan pahala.

Adapun  hikmah dari disembunyi-kannya waktu tepatnya lailatul qadr agar supaya kaum muslimin memper-banyak ibadah dikeseluruhan malam bulan Ramadhan terutama pada malam-malam ganjil pada malam terakhir di bulan Ramadhan karena lailatul qadr berpindah-pindah setiap tahunnya.

Keutamaan Lailatul Qadr

Diantara keutamaan lailatul qadr adalah:

  1. Malam Diturun-kan Al-Quran.
  2. Malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al-Qadr ayat 3

Maksudnya pahala ibadah pada saat itu lebih baik dari pada seribu bulan bagi mereka yang menghidup-kannya dengan berbagai macam ibadah dan kebaikan seperti shalat, dzikir dan berdo’a.

  1. Bagi mereka yang menghidupkan malam lailatul qadri dengan memper-banyak ibadah maka Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan mengampuni dosa–dosanya  yang telah lalu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya: “Barang siapa yang beribadah kepada Allah di malam lailatul qadr maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘Alaih)
  2. Pada malam itu turun para malaikat dan mereka tidak turun (ke bumi) kecuali membawa kebaikan dan berkah serta kasih sayang. sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al-Qadr ayat  4
  3. Malam lailatul qadr adalah malam keselamatan. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

 “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr:5)

Yaitu selamat dari kesalahan dan penyakit atau selamat dari azab dan siksaan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Tanda-tanda Lailatul Qadr

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari : “Telah disebutkan dalam beberapa riwayat tanda-tanda lailatul qadr namun kebanyakan tanda-tanda tersebut tidak nampak kecuali setelah lewat malam tersebut”

Para ulama telah menyebutkan be-berapa tanda-tanda tersebut, berdasar-kan hadits-hadits yang shahih diantara-nya :

  1. Bulan Sabit

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kami bermudzakarah  (bertanya-tanya)  tentang kapan malam lailatul qadr ber-sama dengan Rasulullah Subhaanahu Wa Ta’ala, maka beliau bersabda :

“Siapa saja diantara kalian yang mengingat ketika terbit bulan dan saat itu bulan bagaikan belahan piring (bulan sabit)” (HR. Muslim)

  1. Suhu udara pada malam itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Subhaanahu Wa Ta’ala bersabda:

Malam Lailatul qadr adalah malam yang sejuk tidak panas dan tidak dingin, di pagi harinya cahaya mentarinya lembut dan berwarna merah“ (HHR. Ath Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

  1. Cahaya Matahari Pada Pagi Hari-nya Tidak Menyengat

Dari Ubaiy bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda:

Pagi hari dari malam lailatul qadr terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana, sampai meninggi” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Abu Daud).

Namun tidak ada halangan bagi yang tidak melihat atau mengetahui tanda-tandanya untuk mendapatkan keutamaan dan pahalanya selama dia menghidupkan pada sepuluh malam terakhir dengan ibadah karena iman & mengharapkan pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Amalan Yang Disyariat-kan Pada 10 Malam Terakhir Di Bulan Ramadhan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam senantiasa bersung-guh-sungguh dalam ibadah pada sepuluh malam terakhir, tidak seperti dua puluh malam pertama. Seba-gaimana yang dikatakan oleh shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan hal yang tidak beliau lakukan pada malam yang lainnya.” (HR. Muslim).

Para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para salafus shaleh juga memuliakan sepuluh malam terakhir ini serta bersungguh-sungguh di dalamnya dengan memperbanyak amal kebaikan, untuk itu dianjurkan secara syar’i kepada seluruh kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  dan para shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhu dalam menghidupkan malam-malam ini dengan beri’tikaf di masjid-masjid, shalat, istighfar, mem-

baca Al-Qur’an serta berbagai ibadah lainnya, agar mendapatkan kemenangan berupa ampunan dan pembebasan dari api Neraka.

Dan disunnahkan bagi seorang muslim untuk memperbanyak do’a pada malam-malam tersebut karena do’a di waktu-waktu tersebut mustajab dan do’a yang diulang-ulang pada waktu tersebut adalah do’a yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ÑÖí Çááå ÚäåÇ bahwasanya  dia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya mendapatkan lailatul qadr maka apa yang aku katakan?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda: “Katakanlah:

 “Allahumma Innaka Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fuannii (Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampum, mencintai ampunan (maaf) maka ampunilah aku).” (HSR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) .

Hendaknya bagi setiap muslim untuk bersungguh-sungguh dalam  beribadah  pada malam-malam  ini,  sebab yang demikian  itu  adalah  kesempatan seumur  hidup  dan kesempatan itu tidak selalu ada.

Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa malam itu lebih mulia dari seribu bulan atau delapan puluh tiga tahun lebih.

Seandainya seseorang beribadah  kepada Allah   selama delapan puluh tiga tahun lebih, maka lailatul qadr lebih baik dari itu, dan hal tersebut merupakan keutamaan dan karunia yang sangat besar. Karunia apakah yang lebih besar dari hal itu.

Dan sangatlah merugi orang yang tidak sempat mendapatkan pahala di waktu-waktu mulia dan musim-musim maghfirah disebabkan kelalai-annya dan ketidak seriusannya dalam beribadah. [AM/sym].

Maraji’ :

  1. Fatawa Fish Shiyam, Syekh Abdullah Al Jibrin
  2. Ad Durus Ar Ramadhaniyah, Muassasah Al Haramain Markazul Bahts Al Ilmi
  3. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqalani