Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf (1)

 

Abu Hurirah radhiyallahu ‘anhu berkata; “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf setiap Ramadhan pada sepuluh malam terakhir, dan pada tahun beliau wafat beliau beri’tikaf dua puluh hari”. (HR.Bukhari).

Makna I’tikaf

Secara bahasa I’tikaf bermakna: berdiam di suatu tempat untuk melakukan sesuatu pekerjaan; yang baik maupun yang buruk.

Adapun pengertian i’tikaf menurut istilah adalah berdiam di masjid dalam rangka ibadah dari orang yang tertentu, dengan sifat atau cara yang tertentu dan pada waktu yang tertentu (Fathul Bari 4 : 344)

Dalil Disyariatkannya I’tikaf

Firman Allah Ta’ala;

 “Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam Mesjid”. (QS. Al Baqarah : 187)

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha  berkata:

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  beri’tikaf sepuluh akhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah ‘azza wa jalla”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hukum I’tikaf

Ulama sepakat bahwa hukum asal dari i’tikaf adalah sunnah, bahkan Imam Ibnu ‘Arabi Al Maliki dan Ibnu Baththal rahimahumallah  memasukkannya ke dalam sunnah muakkadah (yang dikuatkan) karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya selama hidupnya.

Namun hukum asal ini berubah menjadi wajib jika seseorang bernazar untuk melakukannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau pernah bernazar untuk beri’tikaf satu malam di masjid Haram, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tunaikan nazarmu itu”. HR. Bukhari dan Muslim

Hukum i’tikaf ini berlaku baik untuk muslim ataupun muslimah sebagaimana yang kabarkan oleh Shafiyyah radhiyallahu ‘anhu ketika beliau menziarahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  pada saat  i’tikaf:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (beri’tikaf) di masjid dan di sisinya terdapat istri-istri beliau (sedang beri’tikaf pula)…”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Al Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: “Perempuan tidak boleh beri’tikaf hingga dia meminta izin kepada suaminya dan jika perempuan itu beri’tikaf tanpa izin maka suaminya boleh mengeluarkannya (dari i’tikaf). Dan jika seorang suami telah mengizinkan (istrinya) lalu mau mencabut izinnya maka hal itu dibolehkan baginya”.  (Lihat Fathul Bari 4 : 351)

Keutamaan I’Tikaf

I’tikaf mempunyai beberapa keutamaan yang tidak terdapat pada ibadah lainnya, diantaranya:

  1. I’tikaf merupakan wasilah (cara) yang digunakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr.
  2. Orang yang melakukan i’tikaf akan mudah mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah. Bahkan dengan i’tikaf seseorang selalu berpeluang besar mendapatkan shaf pertama pada shalat berjama’ah.
  3. I’tikaf juga membiasakan jiwa untuk senang berlama-lama tinggal dalam Masjid, dan menjadikan hatinya terpaut pada masjid
  4. I’tikaf akan menjaga puasa seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa. Dia juga merupakan sarana untuk menjaga mata dan telinga dari hal-hal yang diharamkan
  5. Dengan I’tikaf membiasakan hidup sederhana, zuhud dan tidak tamak terhadap dunia yang sering membuat kebanyakan manusia tenggelam dalam kenikmatannya.

Waktu I’tikaf

I’tikaf boleh dikerjakan kapan saja, namun lebih ditekankan pada bulan Ramadhan, karena itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah . shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dan lebih utama dikerjakan pada sepuluh akhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadr sebagaimana yang ditunjukkan hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu.

I’tikaf yang wajib harus dikerjakan sesuai jumlah hari yang telah dinazarkan, sedangkan i’tikaf yang sunnah tidak ada batasan maksimalnya dan hal ini disepakati oleh keempat ulama madzhab, dan jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal ketika beri’tikaf hal ini berdasarkan atsar dari Umar radhiyallahu ‘anhu dimana beliau mengabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang nazar beliau untuk beri’tikaf satu malam  di masjid Haram, lalu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk menunaikan nazarnya.

Imam rahimahullah mengatakan: “Boleh seseorang beri’tikaf sesaat dan dalam waktu yang singkat…”.  (Al Minhaj 8 : 307).

Kapan Mulai Masuk I’tikaf?     

Ulama berbeda pendapat tentang kapan awal masuknya seseorang yang mau beri’tikaf ke dalam masjid. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa orang yang memulai i’tikaf hendaknya memasuki masjid sebelum matahari terbenam. Pendapat yang kedua mengatakan, bahwa i’tikaf baru dimulai sesudah shalat shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

JikA Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian masuk ke mu’takaf (tempat i’tikaf) nya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat ini dipegangi oleh Al Auza’iy, Al Laits dan Ats Tsauri serta dipilih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dan Al Imam Ash Shon’ani rahimahumullah.

Dari dua pendapat yang ada maka yang paling dekat dengan dalil adalah pendapat yang kedua, yaitu masuk sesudah shalat shubuh, namun pendapat yang pertama lebih berhati-hati. Wallahu A’lam. Bersambung insya Allah.     [sym].

Artikel: wahdag.or.id

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

wahdahjakarta.com| Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh (malam) terakhir Ramadhan dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan sebelumnya. Salahsatu wujud kesungguhan beliau adalah dengan ber i’tikaf dan mencari malam lailatul qadri pada malam –malam tersebut.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha diterangkan bahwa;

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Apabila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan Nabi shallalahu alaihi wasallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keuarganya,. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan “beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya”.

Maksud dari syadda mi’zarahu (mengencankan sarungnya); begadang dan fokus beribadah.

Dikatakan pula bahwa ungkapan di atas merupakan kinayah (kiasan) dari menjauhi dan tidak menggauli istri-istrinya. Inilah makna yang lebih dekat, karena kiasan yang seperti ini ma’ruf di kalangan orang Arab, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

قومٌ إِذَا حَارَبُوا شَدُّوا مآزرهم

دُون النساء ولو بَاتَتْ بأطْهارِ

Kaum yang jika berperang maka mengencangkan kain-kain sarungnya

Tanpa menggauli istri ,meski istrinya dalam keadaan suci

Perkataan ‘Aisyah:”Ahyaa lailahu/Nabi menghidupkan seluruh malamnya”,maksudnya menghabiskan malamnya dengan begadang mengerjkan shalat dan ibadah yang lain. Dan dalam hadits ‘Aisyah yang lain dia mengatakan; ”Saya tidak mengetahui Rasululah membaca seluruh Al qur’an dalam semalam, shalat malam sampai subuh, berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan’’(HR. Nasai).

Boleh jadi maksud perkataan ‘Aisyah “Nabi menghidupkan malamnya” adalah qiyamullail pada separuh malam. Atau maknanya, beliau melakukan qiyamullail sepanjang malam, tetapi diselingi oleh makan malam, sahur dan sebagainya. Sehingga maksudnya beliau menghidupkan sebagian besar waktu malam (dengan ibadah).

Perkatan ‘Aisyah:”Membangunkan keluarganya”. Maksudnya beliau membangunkan istri-istrinya untuk shalat. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa beliau membangunakan istrinya sepanjang tahun, tetapi beliau hanya membangunkan mereka pada sebagian malam. Dalam shahih Bukhariy dijelaskan bahwa nabi bangun pada suatu malam lantas mengatakan:

سبحان الله ماذا أنزل الله من الخزائن وماذا أنزل من الفتن من يوقظ صواحب الحجرات يريد أزواجه لكي يصلين رب كاسية في الدنيا عارية في الآخرة

Subhanallaah, Maha suci Allah, apa yang fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Perbendaharaan apa lagi yang akan Dia turunkan? siapa yang membangunkan penghuni kamar-kamar ini (istrinya). Duhai, Betapa banyak orang berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat” (HR Bukhari).

Diterangkan pula bahwa jika hendak witir beliau membangunkan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha (HR Bukhari). Tetapi yang paling menonjol sepanjang tahun adalah beliau membangunkan istri-istrinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. [sym].

Sumber:  Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaim, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah hafidzahullah.

Artikel: wahdah.or.id

Keutamaan Bulan Ramadhan [5]:  Pada Bulan Ini Doa Mustajab

Keutamaan Bulan Ramadhan [5]:  Pada Bulan Ini Doa Mustajab

wahdahjakarta.com| Selain disebut sebagai syahrul Qur’an, syahrus Shiyam, bulan Ramadhan disebut pula sebagai syahrud Du’a. Pada bulan ini do’a orang-orang beriman mustajab di sisi Allah. Salah satu dalilnya adalah posisi ayat tentang do’a yang terletak dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa, yakni surah al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ [٢:١٨٦

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. Al-Baqarah:186).

Dua ayat sebelum ayat diatas (183-185) berbicara tentang puasa Ramadhan. Demikian pula ayat setelahnya (187). Menurut para ulama Tafsir, hal itu menunjukan adanya keterkaitan yang sangat erat antara do’a dan Ramadhan. Dimana salah satu amalan utama pada bulan ini adalah do’a. Do’a pada bulan ini sangat mustajab, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad  dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang jayyid bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda: ”Setiap muslim memiliki do’a yang mustajabah (yaitu) do’a yang ia panjatkan pada bulan Ramadhan.

Dan ada pula beberapa hadits lain yang menerangkan bahwa do’a tersebut adalah do’a pada saat berbuka puasa. Maka hendaknya seorang hamba bersungguh-sungguh menundukan diri kepada Allah saat berbuka dengan segala bentuk do’a.

Beruntunglah Anda yang Menjaga Shalat Dhuha

Beruntunglah Anda yang Menjaga Shalat Dhuha

Beruntunglah anda yang  menjaga Shalat Dhuha atau terbiasa mengerjakannya. Karena ternyata shalat Dhuha memiliki keutamaan dan faedah yang banyak. Diantaranya senilai dengan sedekah dengan seluruh persendian, memudahkan urusan pelakunya hingga akhir siang. Selain itu jika dilaksanakan pada awal waktu pahalanya menyamai pahala haji dan umrah. Shalat Dhuha termasuk shalat Awwabin (orang-orang yang kembali kepada Allah).

Berbagai keutamaan shalat Dhuha tersebut dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti akan dijelaskan berikut ini.

Pertama, Pengganti Sedekah Seluruh Persendian

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Bagi masing-masing persendian dari anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari. Setiap tasbih (bacaan subhanallah) bernilai sebagai sedekah, setiap tahmid (bacaan alhamdulillah) bernilai sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bernilai sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bernilai sebagai sedekah. Amar  ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) juga bernilai sedekah. Semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at” (HR. Muslim).

Persendian yang ada pada seluruh tubuh manusia sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam ilmu anatomi adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ke360 persendian tersebut harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari. Tentu hal itu sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Andaikan setiap ruas atau persendian sedekahnya Rp 1000 saja, maka setiap hari Rp 360.000 yang harus disedekahkan. Namun jumlah yang banyak itu dapat digantikan dengan dua raka’at shalat Dhuha, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi dalam hadits di atas dan hadits lain yang  dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu. Beliau  mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً . قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ

Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat bertanya, “Lalu siapa yang mampu melakukan hal itu (bersedekah dengan seluruh persendiannya), wahai Rasulullah?” Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad).

Imam Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah mengatakan,

“Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus” (Nailul Authar, 3: 77).

Kedua, Jaminan Kecukupan Urusan di akhir siang

Orang yang mengawali harinya dengan Shalat Dhuha memperoleh jaminan dari Allah berupa kemudahan dan kecukupan urusan di akhir siang. Sebagaimana diteangkan dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah ‘azza wa jalla berfirman;

ابْنَ آدَمَ  اِرْكَعْ لِيْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ  أَرْبَع  رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat raka’at di awal siang (waktu Dhuha), niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Tirmidzi).

Menurut At-Thibiy, makna kecukupan urusan yang diajanjikan Allah kepada orang yang shalat Dhuha empat raka’at pada awal siang adalah jaminan kecukupan dalam kesibukan dan urusan serta dihindarkan dari hal-hal yang tidak disukai.

Beliau mengatakan;

Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Maksudnya adalah, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah pada awal awal siang, niscaya maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478). 

Ketiga, Mendapat Pahala Haji dan Umrah

Jika dilaksanakan di awal waktu Shalat Dhuha berpahala senilai pahala Haji dan Umrah secara sempurna, sebagaimana dijanjikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadistnya yang diriwayatkan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من صلى صلاة الصبح في  مسجد جماعة, يثبت  فيه حتى يصلّي سبحة الضحى كان كأجر حاج ومعتمر تاماً له حجتُه وعمرتُه

Barangsiapa yang shalat subuh di Masjid secara berjama’ah kemudian dia tetap (duduk di tempat shalatnya) sampai dia mengerjakan shalat Dhuha maka baginya pahala seperti pahala orang berhaji dan umrah, yang sempurna haji dan umrahnya”. (HR. Thabrani).

Shalat Dhuha di awal waktu dikenal pula dengan nama Shalat Isyraq sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.  Waktu shalat Isyraq yang merupakan awal waktu shalat Dhuha adalah setelah terbit mata hari terbit dan melewati waktu terlarang untuk shalat. Yaitu setelah mata hari meninggi setinggi tombak.

Ath Thibiy berkata,

Yaitu kemudian ia melaksanakan shalat setelah matahari meninggi setinggi tombak, sehingga keluarlah waktu terlarang untuk shalat. Shalat ini disebut pula dengan shalat Isyraq. Shalat tersebut adalah waktu shalat (Dhuha) di awal waktu.”

Keempat, Termasuk Shalat awwabin (Orang yang Taat)

Awwabin jamak dari awwab yang artinya orang yang senantiasa kembali kepada Allah dengan bertaubat dan menaati-Nya. Mereka mendapatkan kabar gembira berupa janji surga dari Allah. Allah berfirman, “Inilah (surga) yang dijanjikan kepadamu, yaitu kepada setiap orang yang senantiasa bertaubat kepada Allah (awwab) dan menjaga (hafidz) aturan-aturan Nya”. (terj. Qs. Qaf:32).

Nah, salah satu sifat awwab adalah menjaga Shalat Dhua sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

Tidaklah menjaga shalat Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali kepada Allah). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

Awwab juga meruapakan salah sifat luhur para Nabi seperti Nabi Ayyub, Daud, dan Sulaiman ‘alaihimussalam, sebagaimana diabadikan di dalam Al-Qur’an;

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ [٣٨:١٧

dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). (Qs. Shad:17).

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ [٣٨:٣٠

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (Qs. Shad: 30).

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ [٣٨:٤٤

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). (Qs. Shad:44).

Ketiga ayat tersebut menunjukkan bahwa salah satu sifat mulia para Nabi yang dipuji oleh Allah karena mereka dikenal awwab (amat sangat taat kepada Allah). Dan seorang hamba yang shaleh dapat memperoleh cipratan pujian tersebut dengan menjaga Shalat Dhuha, karena hanya para awwab[in] yang senantiasa menjaga Shalat Dhuha. Wallahu a’lam.  [sym]. Pakansari, 17 Ramadhan 1439 H.

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Terdapat beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbekam saat puasa. Penulis Bulughul Maram Ibn Hajar dalam Kitab Shiyam mengemukakan setidaknya tiga hadits tentang berbekam pada bulan Ramadhan atau saat berpuasa,

Pertama

وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما -: “أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتجمَ وهُوَ مُحْرمٌ واحْتَجَمَ وهُو صَائمٌ” رَوَاه البُخاريُّ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Muhammad shalllalahu ‘alaihi wa sallam berbekam saat beliau muhrim, dan berbekam saat beliau sedanhg puasa (shaim)”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam (hijamah) tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.

Kedua

– وعَنْ شدَّاد بن أَوْسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتى على رجُلٍ بالبقيع وهُو يحتجم في رمضان فقال: “أَفْطرَ الحاجِمُ والمحجومُ” رواهُ الخمسةُ إلا التّرْمذي، وصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وابْنُ خُزَيْمَةَ وابْنُ حِبَّانَ.

Dari Syaddad radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  datang ke Baqi’ dan melihat seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam membatalkan puasa, baik dibekam maupun membekam. Dikatakan pula bahwa hadits ini dinasakh (dianulir) oleh hadits Ibnu Abbas di atas.

Ketiga

 وعَنْ أَنَس بن مالك – رضي الله عنه – قال: “أَوَّلُ ما كُرِهَتْ الحِجَامةُ للصائمِ: أَنَّ جعَفْر بن أبي طالب احْتجمَ وَهُوَ صائمٌ فَمَرّ بهِ النّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: “أَفَطَر هذان” ثمَّ رخّص النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدُ في الحِجَامةِ للصائمِ، وكان أنس يحتجِمُ وهُو صائم”. رواه الدارقطني وقواه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Awal mula berbekam dimakruhkan bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam melewati beliau, maka Nabi bersabda, “Dua orang ini telah batal puasanya”. Kemudian setelah itu diberikan rukhsah (keringanan) berbekam saat puasa. Dan Anas pernah berbekam saat diapuasa. (HR. Daruquthni).

Pelajaran dan Kesimpulan

Menurut para Ulama ketiga hadits di atas dapat dikompromikan dan ditemukan titik temunya. Bahwa hukum hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa tergantung keadaan dan kondisi fisik seseorang. Jika berbekam menjadikan seseorang lemas dan lemah secara fisik maka hukumnya makruh bagi orang tersebut. Dan lebih makruh lagi jika kelemahan tersebut menyebabkan ia berbuka atau membatalkan puasanya.

Namun tidak makruh bagi orang yang tetap kuat dan tidak melemah fisiknya meskipun berbekam. Akan tetapi dalam kondisi apapun lebih afdhal jika tidak berbekam saat puasa. [sym]

Ternyata Shalat Ini  Berpahala Seperti Haji dan Umrah

Ternyata Shalat Ini  Berpahala Seperti Haji dan Umrah

Ternyata Shalat Ini  Berpahala Seperti Haji dan Umrah

Haji dan umrah menempati kedudukan yang mulia dan memiliki pahala yang mulia. Diantaranya janji dan jaminan surga bagi mereka yang hajinya mabrur. Dalam hadits lain Nabi juga menyampaikan bahwa haji mabrur merupakan amalan yang paling afdhal setelah jihad fi sabilillah dan Iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Haji dan umrah juga dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa.

Setiap orang tentu ingin melaksanakan amalan yang mulia tersebut, namun tidak semua orang meliliki kekampuan harta dan  lainnya sebagai syarat melakukan kedua amalam tersebut. Akan tetapi tetapi tidak perlu berkecil hati dan berputus asa. Sebab Allah Maha Adil. Dia memberi karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, terus berusaha untuk mampukan diri disertai do’a kepada Allah.

Di samping itu keadilan Allah juga berupa janji pahala senilai dengan pahala haji dan umrah, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan tersebut adalah shalat subuh berjama’ah yang dilanjutkan dengan berdzikir hingga terbit mata hari kemudian shalat sunnah dua rakaat.

Hal itu dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam sebagiamana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ . قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang shalat subuh berjama’ah, kemudian dia duduk bedzikir kepada Allah hingga terbit mata hari kemudian dia shalat dua raka’at maka maka baginya pahala seperti  haji dan umrah”. Rasul berkata, “sempurna, sempurna, sempurna”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syekh Al-Bani).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Umamah dan ‘Utbah bin ‘Abd radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من صلى صلاة الصبح في جماعة ثم ثبت حتى يسبح لله سبحة الضحى كان له كأجر حاج ومعتمر تاماً له حجه وعمرته

Barangsiapa yang shalat subuh berjama’ah kemudian tetap (duduk di tempat shalatnya) sampai dia shalat Dhuha maka baginya pahala seperti haji dan umrah, sempurna pahala haji dan umrahnya”. (HR. Thabrani dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

 Syarat Memperoleh Pahala = Haji dan Umrah

Jika memperhatikan hadits di atas dapat disimpulkan bahwa keutamaan yang dijanjikan berupa pahala haji dan umrah dapat diperoleh dengan syarat;

  1. Mengerjakan shalat subuh secara berjama’ah di Masjid, kemudian,
  2. Duduk berdzikir (tidak sibuk dengan urusan dunia) sampai terbit mata hari, kemudian
  3. Shalat sunnah dua raka’at.

Shalat Apa?

Lalu apa nama shalat yang dua raka’at tersebut?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menamai shalat tersebut dengan nama apapun. Beliau hanya mengatakan shalat dua raka’at. Para Ulama ada yang menyebut shalat tersebut dengan shalat isyraq. Nisbat kepada syuruq (terbit), karena dikerjakan beberapa saat setelah mat hari terbit. Ada pula yang menyebutnya sebagai shalat Dhuha, tepatnya shalat Dhuha yang dikerjakan di awal waktu. Karena waktu shalat Dhuha mulai sejak terbit mata hari hingga jelang masuk waktu shalat Dzuhur. Penjelasan secara lengkap dan rinci insya Allah pada tulisan berikutnya. [sym].   (Pakansari, 16 Ramadhan 1439 H).

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Pertanyaan:

Saya berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa mengucapkan Bismillah karena saya sedang berada di kamar kecil (toilet). Apa hukumnya?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya, amma ba’du.

Siapa yang berbuka puasa atau berniat buka puasa tanpa membaca dzikir-dzikir buka puasa dan baik basmalah dan yang lainnya maka puasanya tetap sah dan tiada dosa baginya. Namun disunnahkan bagi orang yang berpuasa atau yang lainnya membaca bismillahirrahmanirrahim sebelum menyantap makanan. Jika ia berbuka puasa, maka setelah berbuka hendaknya ia mengucapkan;

“ذهب الظمأ وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله”

Dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan tetaplah pahala insya Allah” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud).

Atau membaca do’a;

“اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي” رواه ابن ماجه، وحسنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, semoga Engkau mengampuniku”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam Takhrij al-Adzkar). [sym].

Sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7428, Terjemah Oleh Syamsuddin Al-Munawiy).

Wahdah Islamiyah Jakarta  Bantu Korban Kebakaran Cipinang Muara dan Pondok Bambu

 Wahdah Islamiyah Jakarta  Bantu Korban Kebakaran Cipinang Muara dan Pondok Bambu

(Jakarta) wahdahjakrta.com| Kamis (24/05/2018) lalu Wahdah Islamiyah Jakarta melalui Lembaga Amil Zakat dan Sedekah Wahdah Islamiyah Jakarta (Lazis Wahdah Jakarta) memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak kebakaran di dua keluarahan di Jakarta Timur. Yakni kelurahan Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara dan Kelurahan Pondok Bambu Kecamatan Duren Sawit.

Menurut ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Jakarta Timur Ustadz Fakhrizal Idris, bantuan yang disalurkan berupa  peralatan dapur umum seperti kompor gas, rice cooker, alat penerangan, kabel listrik, bola lampu dan sebagainya.

Bantuan diserahkan langsung oleh tim Wahdah Jakarta yang diwakili oleh ketua DPD) Wahdah Islamiyah Jakarta Timur Ustadz Fakhrizal Idris bersama tim Lazis  Wahdah Jakarta dan diterima oleh Ketua RT.09/RW.14 H. Sarmali. [sym]

***

Donasi untuk bantuan kemanusiaan dapat disalurkan melalui nomor rekening Bank Syariah mandiri (451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah, dan konfirmasi transfer ke 0811 9787 900 (wa/sms).

LAZIS Wahdah,  ” Melayani dan Memberdayakan”

Hadits Puasa [11]: Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

 Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

وعَنْ عائشةَ – رضي الله عنها – قالتْ: “كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Shiyam.

Tanya Jawab Fiqh Puasa [09]: Kembali dari Perjalanan Pada Siang Hari, Boleh Melakukan Hubungan Suami Istri?

 
Tanya Jawab Fiqh Puasa [09]: Kembali dari Perjalanan Pada Siang Hari, Boleh Melakukan Hubungan Suami Istri?

Pertanyaan:

Pertanyaan saya adalah tentang seseorang yang melakukan safar selama tiga hari. Dalam perjalanan kembali ia makan sahur di suatu tempat 400 km sebelum kota dimana ia tinggal, dan berniat akan puasa pada hari itu. Tetapi ia terlambat dan sampai di rumahnya pada pukul 9 pagi. Di samping itu perjalanan tersebut melelahkan dan ia belum tidur pada malam harinya. Ketika sampai di rumah beliau disambut oleh istrinya, dan setelah memastikan keadaan anak-anak mereka melakukan hubungan suami istri, dengan alasan bahwa ia (suami) tidak puasa karena sedang safar, namun setelah itu ia tetap menyempurnakan puasanya. Mohon berikan jawaban kepada kami, jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Orang yang memiliki udzur sepeti safar dan sakit dibolehkan berbuka (tidak puasa). Lalu jika udzurnya telah hilang pada pertengahan siang, seperti sembuh dari sakit atau kembali dari perjalanan, maka ada dua pendapat ulama tentang masalah ini;

Imam Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa tidak wajib imsak (menahan diri dari makan dan minum serta pembatal puasa lainnya pada sampai waktu berbuka.

Sedangkan Hanafiyah dan Hanabilah dalam suatu riwayat berpendapat bahwa ia harus imsak.

Jika salah satu dari pasangan suami istri termasuk yang memiliki udzur untuk tidak puasa dan yang lainnya tidak memiliki udzur, lalu terjadi hubungan intim, maka pada masing-masing berlaku hukum tersendiri. (Maksudnya yang punya udzur tidak berdosa dan tidak berkewajiban bayar kaffarat. Sebaliknya yang tidak punya udzur untuk berbuka wajib bayar kaffarat).

Oleh karena itu, jika dikatakan bahwa keduanya wajib imsak, maka suami dan istrinya wajib membayar kaffarat berupa puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enam puluh orang miskin.

Adapun yang disebutkan dalam pertanyaan ini, maka ia tidak dapat dihukumi sebagai orang yang tidak puasa. Selain itu udzurnya telah hilang, bahkan ia memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa. Ia juga telah sampai di tempat dimana dia muqim, dan ia sampai dalam keadaan berpuasa. Sehingga ia tidak boleh berbuka meskipun merasa letih. Karena yang dibolehkan berbuka hanya mereka yang dikhawatirkan akan sakit dan atau bertambah parah sakitnya. Oleh karena ia menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan, maka wajib baginya membayar kaffarat berupa puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enam puluh orang miskin.

Ia juga telah melakukan kesalahan dengan merusak puasa istrinya. Oleh karena itu hendaknya ia bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Istri juga wajib membayar kaffarat jika ia melakukan hal itu secara sukarela (tanpa paksaan). Adapun jika dipaksa oleh suaminya, maka yang membayar kaffarat hanya suaminya. Wallahu a’lam. [sym].

Sumber: Syekh DR. Muhammad al-Arus Abdul Qadir (Dosen Universitas Ummul Qura); http://www.islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-13162.htm,