Para Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa Konsolidasi dan Berbagi Tips

Kumpul di TMII, Para Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa Konsolidasi dan Berbagi Tips

Penemu metode Dirosa Ustadz Komari pada TOT Dirosa Nasional di Jakarta, Jum’at-Ahad (31/08-02/09/2018)

Kumpul di TMII, Para Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa Konsolidasi dan Berbagi Tips

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Selama tiga hari berturut-turut sejak Jum’at (31/08/2018) sampai Ahad (02/09/2018) sore Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok menggelar Training Of Trainer  (TOT) Pengajar Al-Qur’an metode Dirosa. Training berskala nasional ini mengambil lokasi di Anjugan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur.

Para peserta yang merupakan utusan dari berbagai daerah Cabang Wahdah Islamiyah dibekali berbagai skill sebagai trainer atau pelatih pengajar Al-Qur’an metode Dirosa. Sebuah  metode belajar Al-Qur’an dari dasar bagi orang dewasa yang disusun oleh kader Wahdah Islamiyah Ustad Komari.

Oleh karena para peserta training merupakan para pengajar yang telah berpengalaman mengajar Al-Qur’an dengan metode Dirosa, maka panitia menyelipkan Agenda Konsolidasi, sharing pengalaman dan tips dalam mengajak untuk orang dewasa untuk belajar Al-Qur’an.

Diantara peserta yang berbagi pengalaman mengajak belajar Al-Qur’an  Ustadz Abdurrahman utusan Wahdah Islamiyah Kolaka Sulawesi Tenggara.

Salah satu cara efektif menurut alumni pelatihan da’i (tadrib addu’at)  Wahdah Islamiyah tahun angkatan 2011 dalam menjalankan program dirosa ini adalah dengan cara ‘menjemput bola’, tidak menunggu mereka yang mau datang belajar.

Ibu ibu pengantar yang sedang menunggu anaknya belajar di kelas pada sebuah sekolah dasar, ditawari untuk belajar membaca Al-Quran. Mereka masing-masing diminta memperdengarkan bacaanAl-fatihah dan melafalkan penyebutan huruf hijaiyyah.

Dari sini diketahui bahwa mereka umumnya bacaan mereka masih sangat jauh dari standar bacaan Al-Qur’an yang benar. Pertemuan singkat tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sang guru ngaji guna menawarkan program belajar Al-Qur’an dengan menggunakan metode Dirosa. Gayung pun bersambut, mereka tertarik dan mau belajar.

Pengalaman dalam dakwah bersama Wahdah Islamiyah cabang Kolaka Sulawesi Tenggara memberikan penglaman kepada pria kelahiran Palopo, Sulawesi Selatan ini, cara sangat efektif dan efisien menyentuh masyarakat dan mengajak mereka belajar ngaji  melalui metode dirosa ini dengan cara ‘menjemput bola’, tidak menunggu mereka yang mau datang belajar. (AA/sym)

Wahdah Islamiyah Adakan Sekolah Sementara Bagi Anak-Anak Korban Gempa Lombok

Wahdah Islamiyah Adakan Sekolah Sementara Bagi Anak-Anak Korban Gempa Lombok

Sekolah Sementara Anak-Anak Korban Gempa Lombok

Wahdah Islamiyah Adakan Sekolah Sementara Bagi Anak-Anak Korban Gempa Lombok

(Lombok) wahdahjakarta.com—Diantara program Wahdah Islamiyah untuk Lombok adalah mengadakan sekolah sementara untuk anak-anak yang sekolahnya hancur karena gempa tepatnya di Dusun Jelaten, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Menurut Gunawan Mansur, Koordinator pengajar tim guru ‘Sekolah Sementara Wahdah Islamiyah’ bahwa pendirian tersebut sudah direncakan dan bertujuan mempertahakan mental postif anak-anak di Lombok. Terlebih dampak sekolah yang hancur membuat anak-anak merasakan kesulitan dalam hal mendapatkan pelajaran sebagaimana saat dahulu sekolahnya masih utuh.

“Ya, ini kan sebagai misi Wahdah Islamiyah juga yaitu membangun SDM, kita ingin anak-anak di Lombok tetap mendapatkan pendidikan yang baik untuk masa depan mereka. Sekolah ini akan menjadi tempat mereka belajar ilmu umum dan terkhusus ilmu agama tentunya,” tegas Gunawan, Jumat (31/8).

Ia menambahkan, harapan Wahdah Islamiyah sebagai salah satu Ormas Islam di Indonesia adalah ingin melihat kembai senyum anak-anak Lombok yang sempat redup pasca gempa yang mengguncang Lombok.

”Semoga ikhtiar ini akan membawa senyum bahagia bagi anak-anak Lombok. Pendidikan adalah modal utama bangsa ini untuk maju. Kita upayakan bukan hanya di Lombok Barat melainkan di Kabupaten lainnya di NTB ini yang terdampak gempa,” tutupnya. []

Sumber dari: http://wahdah.or.id/

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Tema Al-Qur’an sangat strategis dalam melakukan penetrasi dakwah umum ke masyarakat. Beberapa lembaga dakwah yang bermunculan akhir akhir ini  juga mengambil branding mengenai Al Quran.

Salahsatu program dakwah umum yang di jalankan oleh Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok adalah program pembelajaran Al-Qur’an khusus orang dewasa melalui metode khusus yang dikenal dengan Dirosa (Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa).

“Metode Dirosa ini adalah  program andalan lembaga Wahdah Islamiyah”, ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf saat membuka Traininf of Trainer (TOT) Nasiona Pengajar DIROSA yang digelar di Anjungan Jaba Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur pada Jum’at (31/08/2018).

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf Pada Pembukaan TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa di TMII Jakarta, Jum’at (31/08/2018)

“Untuk mengantisipasi permintaan pengajar Al-Qur’an  metode Dirosa di daerah, harus diiringi ketersediaan tenaga pengajarnya. Dalam melahirkan para pengajar Dirosa di berbagai daerah, maka diperlukan para trainer yang siap melatih para dai menjadi pengajar dirosa”, jelasnya.

Kegiatan ini digagas oleh Tim Dirosa Pusat Wahdah Islamiyah  dibawah kordinasi Lembaga Pembinaan  Pengelolaan dan Pengajaran Quran (LP3Q) bekerja sama dengan Departemen Pendidikan DPW WI DKI Jakarta Depok sebagai panitia enyelenggara lokal.

Kegiatan ini digelar selama 3 hari 31 Agustus – 2 September 2018 dan diikuti oleh 50 orang peserta utusan WI se Indonesia. [Anwr/sym].

Delapan Prinsip Utama dalam Menghafal Al-Qur’an

Suatu hari Ustadz Deden Makhrayuddin pernah menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantrennya.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“SEUMUR HIDUP”, jawab Ustadz. Deden santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH”, kata Ustadz Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Ustadz Deden berprinsip: CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Al-Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Berikut delapan prinsip utama dalam menghafal Al-Qur’an yang diterapkan Ustadz Deden Makrayuddin beserta sedikit penjelasan.

  1. Menghafal Tidak Harus Hafal

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang.

Bahkan Imam Besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Ashim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun.

Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

  1. Bukan Untuk Diburu-buru, Bukan Untuk Ditunda-Tunda

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah.

Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. Satu jam lho.

Masak untuk urusan duniawi delapan jam betah, hehe. Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’.

  1. Menghafal Bukan Untuk Khatam, Tapi Untuk Setia bersama Al-Qur’an

Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan?

Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam).

Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

  1. Senang Dirindukan Ayat

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya.

Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

  1. Menghafal Sesuap-sesuap

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang.

Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak.

Menghafal-pun demikian. Jika “‘amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah ‘‘amma” diulang-ulang.

Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “‘anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

  1. Fokus Pada Perbedaan, Baikan Persamaan

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban”. Jika  kita hafal 1 ayat ini,1 saja! Maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman.

Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

  1. Mengutamakan Durasi

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap.

Serahkan satu jam kita pada Allah.. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam.

Satu jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari loh! Lima persen untuk Al-Quran, harus bisa dong ah…

  1. Pastikan Ayatnya Bertajwid

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya).

Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

Catatan:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

(Sumber: Admin menemukan artikel ini tersebar di facebook dan WAG tanpa mencantumkan nama penulisanya, jazahullahu khairan).

Adab-Adab Shalat [04]

Adab-Adab Shalat [04]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

 Diantara adab-adab Shalat yang hendaknya diperhatikan dan dijaga adalah;  menunggu shalat setelah selesai Shalat dan menjaga Shalat sunnah Rawatib

  1. Menunggu Shalat Setelah  Selesai Shalat

Dianjurkan menunggu Shalat setelah  selesai Shalat, seperti menunggu Shalat  Isya  setelah Shalat  Maghrib,  sambil diisi dengan dzikir,  membaca atau menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu,  dan menghadiri majelis ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Setelah Shalat duduk di Masjid membaca Al-Qur’an dan menunggu Shalat berikutnya

Para Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia di tempat Shalatnya (menunggu Shalat berikutnya), dan selama tidak berhadats (batal wudhu). Para Malaikat itu berdo’a: Ya Allah ampunila dia, ya Allah rahmatilah dia. Salah seorang dari kalian senantiasa mendapatkan pahala Shalat selama Shalat (berikutnya) yang menahannya (untuk tetap di tempat shalatnya). Tidak ada yang menahannya untuk pulang dahulu kepada keluargnya (di rumah)  kecuali shalat (yang dia tunggu). (Muttafaq ‘alaih).

  1. Menjaga Shalat Sunnah Rawatib

Menjaga Shalat Sunnah Rawatib, tidak menyepelekan,  dan merasa ringan meninggalkannya,  karena melaksanakan shalat rawatib menambah kedekatan kepada Allah dan menambal kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan Shalat Fardhu seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim shalat sunnah 12 raka’at selain shalat fardhu melainkan Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di surga“. (HR. Muslim).

Dua belas rakaat yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum dan setelah shalat Fardhu yang terdiri atas;  empat raka’at sebelum dzuhur,  dua raka’at setelah Dzuhur, dua raka’at setelah Maghrib,  dua raka’at setelah Isya,  dan dua raka’at sebelum Subuh.

Ummu Habibah radhiallahu anha mengatakan Aku tidak pernah meninggalkan shalat rawatib sejak Ibu sejak mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang hal tersebut demikian pula kamar dan Norman mengatakan hal yang sama

  1. Tekun Melaksanakan Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Khusus Rawatib qabliyah Subuh hendaknya lebih diperhatikan karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat tekun melaksanakannya, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha berkata,  “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menekuni suatu shalat sunnah pun setekun  beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”. (Muttafaq alaih).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaanya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu Anha bahwa beliau bersabda;

 “Dua  rakaat salat sunnah sebelum subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya”.  (HR. Muslim).

Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Kaca yang Pecah, Berpikir Positif Menyikapi Kenyataan

Kaca yang Pecah Berpikir Positif Menyikapi Kenyataan

Berpikir Positif

 

KACA YANG PECAH…

Boleh jadi,

sekeping celah yang terpecah

pada selembar kaca jendela

memberi harapan baru untuk jiwa.

Tetaplah (berpikir) positif.

Tetaplah berindah-sangka kepada Sang Pencipta.

Tak semua retak itu berakhir pilu.

Mungkin retak itu sebuah awal tak terduga

untuk sebuah jalan keluarmu.

Pahamilah,

Kita mungkin takkan mampu

mengubah kenyataan.

Tapi engkau -insya Allah-mampu

mengubah cara pandangmu

terhadap kenyataan itu.

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

——–

P.S:

Jangan lupa ke kanal Telegram saya:

t.me/mihsanzainuddin

Jangan lupa donlot E-book

“Bahasa Arab itu Gampang!”

di http://ihsanzainuddin.com

Baca juga puisi lainnya :

 – Nasihat Terindah

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٣:٢٦]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran:26).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”. (Fathir:10).

Allah Ta’ala lah yang memuliakan dan menghinakan. Orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan, kemenangan atas hawa nafsunya dan atas musuh-musuhnya.

Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala dengan mengaruniai mereka kemiaan yang berasal dari kemuliaan Allah Subhanahu Wa  Ta’ala

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah di dunia, sehingga hidup mereka akan terhina dan matipun dalam keadaan hina. Sehingga kehidupan mereka di akhirat juga akan hina,  yakni dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala akan merasa cukup hanya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala dan dia tidak merasakan kebutuhan kepada manusia. Mereka juga merasa ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa ta’ala atas diri mereka.

Sedangkan orang-orang yang dihinakan oleh Allah akan dibuat selalu mengikuti hawa nafsu, perbuatan, dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.

Dua nama ini juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.  (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah )

Berantas Buta Huruf Al-Qur’an, Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Berskala Nasional

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur'an Berskala Nasional

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Berskala Nasional

(JAKARTA) wahdahjakarta.com-, Metode Belajar Al Qur’an dari Nol Khusus Dewasa (DIROSA) adalah metode yang akhir-akhir ini sangat populer di Nusantara, khususnya di daerah Ibukota. Banyak halaqoh-halaqoh yang sukses membina peserta yang sebelumnya tidak tahu huruf Al Qur’an sama sekali hingga lancar membaca Al Qur’an bahkan sampai menjadi salah satu pengajar Al Qur’an dengan metode ini.
Namun disamping itu masih ada beberapa kekurangan yang perlu diberbaiki dalam pengembangan Dirosa di beberapa daerah nusantara, sehingga daerah tersebut masih belum maksimal dalam mengembangkan metode ini. Diantara faktor penyebabnya adalah kurangnya pelatihan-pelatihan upgrading di daerah tersebut sehingga banyak daerah masih belum inovatif dan kurang dinamis dalam pengembangan metode Dirosa. Kurangnya kualitas SDM pengajar Dirosa juga merupakan salah satu faktor penyebab dakwah qur’ani tersebut masih ‘ngadat’ dan kurang kreatif.
Untuk itu, Tim Dirosa Wahdah Islamiyah Jakarta/LP3Q mengadakan Training Of Trainer (TOT) DIROSA berskala Nasional dengan tujuan agar kekurangan-kekurangan tersebut bisa tercover dengan baik dan kualitas SDM bisa ditingkatkan.
Acara ini akan digelar pada 31 Agustus hingga 2 September 2018 dengan tema “Meningkatkan Profesionalisme Trainer DIROSA” dan akan dihadiri beberapa daerah seperti Jawa Barat, Banten, Kalimantan Barat, Lampung, dll. Rencananya acara ini akan bertempat di Taman Mini Indonesia Indah ini akan dihadiri langsung oleh Ustadz Komari, S.Pd sebagai penyusun metode ini. Kehadiran beliau diharapkan dapat memotivasi sekaligus memberikan bimbingan kepada 40 lebih Trainer Dirosa yang akan hadir dari berbagai daerah di Nusantara sehingga kualitas para Trainer tersebut bisa ditingkatkan lagi baik dari segi mental maupun ilmu pengetahuan.
“Kita akan serius dalam membina para trainer sehingga kualitas trainer DIROSA di Nusantara dalam dakwah qur’ani ini bisa dimaksimalkan dan merealisasikan tujuan dari dakwah ini yakni membebaskan masyarakat di nusantara dari buta huruf Al Qur’an”, ujar Hermawan Sumarlin, selaku ketua pelaksana dauroh akbar ini. [fadl]

Seperti Inilah Interaksi Para Salafus shalih dengan Al-Qur’an

Seperti Inilah Para Salaf Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Seperti Inilah Para Salaf Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kunci kejayaan serta rahasia kemuliaan dan kebahagiaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين “

Sesunggunya Allah memuliakan dan menghinakan suatu kaum dengan al-Qur’an.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi).

Lafadz ini terdapat dalam Shahih Muslim. Sedangkan dalam lafadz ad-Darimi berbunyi;

” إن الله يرفع بهذا القرآن…”

“Sesungguhnya Allah memuliakan dengan al-Qur’an ini (HR.Ad-Darimi)

Maksudnya kemuliaan dan kehinaan suatu, kaum, bangsa, dan ummat sangat ditentukan oleh kadar perlakuan mereka terhadap al-Qur’an. Jika mereka memuliakan al-Qur’an maka Allah memuliakan mereka. Sebaliknya jika mereka mengetepikan al-Qur’an, maka kehinaan akan Allah timpakan kepada mereka.

Tentu saja manusia paling mulia yang dimulikan oleh Allah lantaran perlakuan mulia mereka terhadap al-Qur’an –setelah Rasulullah- adalah generasi awal ummat ini. Mereka yang biasa dikenal dengan sebutan salafus Saleh digelari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik Islam. Nabi mengatakan dalam sabdanya:

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian yang setelah mereka (para tabi’in), lalu yang setelah mereka (tabi’ tabi’in)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan tidak dapat dipungkiri bahwa, salah satu sebab kemuliaan dan kejayaan mereka adalah lantaran berpegang teguh dengan al-Qur’anul Karim. Oleh karena itu, bagi yang ingin mengikuti jejak mereka hendaknya mengenali manhaj dan metode mereka dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Syekh Dr. Muhammad ibn Abdillah Rabi’ah hafidzahullah mengatakan bahwa, “Siapapun yang mengamati kehidupan para salaf, akan menemukan bahwa mereka memiliki manhaj tertentu dalam berinteraksi dengan kitab suci yang agung ini (al-Qur’an)”. Selanjutnya, dosen di Universitas Qasim Saudi Arabia anggota ini menyebutkan empat metode para salaf dalam berinteraksi dengan al-Qur’an:

Mengenali Keagungan dan Maksud Diturunkannya Al-Qur’an

Hal itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan dan pengagungan terhadap al-Qur’an. Sebab kecintaan, pengagungan, dan keimanan terhadapnya dapat menumbuhkan husnut ta’amul (interaksi yang baik) dengan al-Qur’an. Karena barang siapa yang mengetahui nilai sesuatu maka ia kan memperhatikannya. Sikap seperti ini dapat kita saksikan pada kehidupan para generasi awal Islam. Perkataan dan perbuatan mereka mencerminkan kecintaan, pengagungan, dan keimanan terhadap al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya mari simak perkataan Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut ini.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

 “Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah ma’dubah (jamuan)-Nya Allah, maka pelajarilah (nikmatilah) jamuan-Nya semampu kalian. Al-Qur’an ini adalah tali Allah yang Dia perintahkan untuk –berpegang- dengan nya. Ia adalah cahaya Allah yang terang, obat penawar yang sangat bermanfaat, serta pelindung bagi yang berlindung dengannya”.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

 Allah menjamin orang yang membaca al-Qur’an tidak akan sesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat. Lalu beliau membaca firman Allah;

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.“(QS. Thaha:123). (Mustadrak, Imam Hakim, 2/413, no.3438).

Yang dimaksud dengan membaca adalah mengikuti petunjuknya sebagaimana diterangkan dalam ayat tersebut.

Saat ini kita sangat butuh untuk membina hati-hati kita untuk mencintai dan mengagungkan al-Qur’an. Karena sikap pengagungan, kecintaan yang tulus, dan keimanan terhadap al-Qur’an telah berkurang pada sebagian kalangan. Hal ini menyebabkan lemahnya interaksi kita dengan al-Qur’an. Solusinya adalah menanamkaan pengagungan dan kecintaan terhadap al-Qur’an dalam hati-hati kita dan membangun kesadaran tentang perlunya merealisasikan tujuan diturunkannya al-Qur’an.

Belajar dan Mengajarkan Iman Sebelum Al-Qur’an

Maksudnya, terlebih dahulu menanamkan dalam hati-hati mereka pengagungan kepada Allah, serta pengagungan terhadap perintah dan larangan-Nya. Sehingga mudah bagi mereka menerima dan merespon hukum-hukum syariat. Ini merupakan aspek paling uatama dalam menghidupkan tarbiyah Qur’aniyah dalam jiwa setiap orang.

Manhaj inilah yang diterapkan al-Qur’an sendiri dalam membina para sahabat di awal-awal islam. Dimana ayat-ayat al-Qur’an yang pertama-tama turun dalam ayat-ayat Makkiyah menanamkan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Sehingga tumbuh dalam hati mereka iman yang shahih, pengagungan terhadap al-Qur’an. Pada puncaknya hal itu mengondisikan jiwa mereka untuk menerima taujihat (arahan-arahan) al-Qur’an secepatnya.

Salah seorang sahabat nabi yang merupakan salah satu murid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jundub ibn ‘Abdillah mengatakan,

kami bersama nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam, saat kami pemuda, kami belajar iman sebelum al-Qur’an. Lalu kami belajar al-Qur’an, sehingga iman kami bertambah. (Sunan Ibnu Majah, 1/74, no.64, dan Imam Tarikh al-Kabir, 2/221, Sunanul Kubro , 2/49, no. 5498, Mu’jam al-Kabir, 2/225 no. 1656, dan dishahihkan oleh Syekh al-Bani dalam Shahih Sunan Ibn Majah, 1/16, no.52)

Seperti itulah nabi memulai dengan menamkan keimanan dalam hati-hati mereka. Sehingga ketika iman telah merasuk dalam hati, mereka telah siap untuk menerima al-Qur’an, siap diarahkan dan dibimbing oleh al-Qur’an. Maka pada puncaknya, iman mereka makin bertambah.sehingga mudah menerima pesan-pesan dan arahan-arahan al-Qur’an.

Memposisikan al-Qur’an Sebagai Surat ‘’Risalah” dari Allah

Para salaf rahimahumullah menempatkan al-Qur’an sebagai surat dari Allah yang ditujukan kepada mereka untuk diamalkan. Oleh karena itu mereka selalu membaca dan mengamalkannya siang dan malam. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang al-Qur’an sebagai surat dari Tuhan mereka, oleh karena itu mereka mentadaburinya pada malam hari dan mengamalkannya pada siang hari

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa,

 “Diantara kami –ada- yang mempelajari sepuluh ayat al-Qur’an, ia tidak melewati ayat-ayat tersebut hingga ia mengetahui ma’nanya dan mengamalkannya”.

Artinya ia tidak berpindah ke ayat berikutnya, sebelum memahami makna kesepuluh ayat tersebut dan mengamalkan kandungannya.

Ibu Mas’ud juga berkata,

Seorang pengemban al-Qur’an hendaknya dikenali [dengan shalatnya] pada waktu malamnya saat orang-orang sedang tidur, [dengan puasanya] pada siang hari saat orang-orang sedang makan, dengan sedihnya saat orang-orang bergembira ria, dengan tangisannya saat orang tertawa, dengan diamnya saat orang-orang berbicara dan dengan khusyu’nya saat orang-orang angkuh.

Manhaj inilah yang telah berhasil menelorkan generasi awal Islam. Andaikan kita bertalaqqi al-Qur’an seperti geerasi awal mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita jadikan sebagai metode dalam membina generasi muda Islam hari ini, maka kita akan meyaksikan pengaruh dan warna al-Qur’an pada jiwa dan perilaku kaum Muslimin.

Membaca al-Qur’an dengan Tartil dan Perlahan-lahan Serta Membacanya dalam Shalat Malam

Hal ini nampak dalam kehidupan para salaf, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah,

 ‘’Aku pernah safar bersama ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Makkah ke Madinah. Beliau melakukan qiyamullail dengan membaca al-Qur’an huruf demi huruf.kemudian beliau menangis hingga terdengar isak tangis beliau”. (Mukhtashar Qiyamul Lail, hlm.131).

Beliau juga mengingatkan agar kita janganlah membaca al-Qur’an dengan cepat, “janganlah kalian membaca al-Qur’an dengan cepat seperti membca sya’ir dan prosa. Berhentilah sejenak pada keajaiban-keajaibannya, gerakkan hati dengan ‘ajaib-ajaib tersebut. Janganlah yang menjadi target kamu (sampai) pada akhir surat”, tegasnya.

Membaca dengan tartil dan perlahan-lahan yang disertai tadabbur (perenungan) lebih merasuk ke dalam jiwa. Apatah lagi jika dilakukan dalam shalat atau diwaktu malam, sebagaimana dikatakan oleh Syekhasy-Syinqithiy rahimahullah,

Tidak ada yang dapat meneguhkan al-Qur’an dalam dada, serta memudahkan menghafal dan memahaminya, kecuali dengan membacanya dalam shalat di tengah malam (Muqaddimah Adhwaul Bayan, 1 /4).

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaca al-Qur’an secara tartil dalam shalat malam. Karena menurut Ibnu Abbas hal itu lebih memudahkan untuk memahami al-Qur’an (ajdaru an yafqaha al-Qur’an).

Penutup

Al-Qur’anmerupakan sumber inspirasi dan energi kehidupan para salaf. Mereka mementingkannya melebihi kepentingan mereka terhadap makanan dan minuman. Sebab mereka sadar, bahwa kehidupan yang hakiki danya dapat diraih dengan mengikuti petunjuk al-Qur’an. Oleh karena itu, jika ingin menikmati lezatnya al-Qur’an mari mengikuti manhaj dan metode mereka dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Ja’alanallahu waiyyakum min ashabil Qur’an. Wallahu a’lam bis Shawab. [sym].

(Manhajus Salaf fi Talaqqil Qur’an wa Tadabburihi dalam Tsalatsuna Majlisan fit Tadabbur; Majalis Imaaniyah wa ‘Ilmiyyah, hlm.43-50)

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan (Khutbah Idul Adha 1437 H)

Menggenggam harapan meraih kejayaan

Menggenggam harapan meraih kejayaan

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan

(Khutbah Idul Adha 1437 H)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍفِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Kaum Muslimin a’azzakumullah, semoga Allah memuliakan kita semua.

Hari ini, saat kita menjejakkan kaki di sini, di atas sepenggal bumi Allah, bertakbir membesarkan Allah dengan penuh suka cita, maka di tanah haram sana saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji pun sedang menyempurnakan prosesi ibadah hajinya dan di setiap negeri kaum muslimin terdengar takbir yang bertalu-talu, walau itu dari tenda pengungsian di Palestina, atau dari reruntuhan gedung yang runtuh dihantam bom di Syria, atau bahkan dari jeruji-jeruji besi penjara rezim tirani di Myanmar, takbir masih menggema, dan akan terus menggema biiznillah. Karena kita adalah umat pemenang, bukan umat pecundang.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

 

Perjalanan  waktu demikian cepat, silih berganti generasi demi generasi menghuni bumi milik Allah ini. Peristiwa demi peristiwa menghiasi jalannya sejarah manusia, ada tangis dan tawa, ada suka dan duka, bahkan di tengah terik mentari atau dinginnya malam ada darah dan air mata.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ . وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

 

“..dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An Najm : 43-44)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Diantara peristiwa penting sejak adanya manusia, adalah apa yang kita peringati hari ini. Peristiwa yang hanya  terjadi pada satu keluarga di bumi  namun ternyata sangat bermakna dalam pandangan Allah Ta’ala Sang Penguasa langit dan bumi. Itulah peristiwa Ibrahim Alaihissalam, beserta anaknya Ismail Alaihissalam dan Istrinya Hajar Alaihassalam. Peristiwa yang agung, yang karenanya Allah perintahkan kita berkumpul hari ini, tentu dengan segala hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya .

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Ummatal Islam, a’aanakumullah…

 

Mari sejenak menengok negeri yang kaya raya ini, yang lautnya membentang hingga tiga benua, gunung-gunungnya yang tinggi menjulang, sawah ladang seluas mata memandang, semua ada di negeri ini, masyaAllah.Namun keindahan dan kekayaan alam karunia Allah ini menjadi terabaikan dengan kegaduhan politik dan kesibukan para elit menduduki pusat-pusat kekuasaan. Jika semua hanya sibuk berebut kekuasaan dan pengaruh maka ujung-ujungnya pasti rakyatlah yang dirugikan dan dikorbankan.

 

Kekuasaan sejatinya adalah titipan Allah untuk mengawal dan mengatur manusia menjadi hamba Allah yang taat, hingga dengan izin-Nya terwujud masyarakat yang aman, sejahtera lahir dan batin. Inilah kekuasaan yang berbasis TAUHID, bahwa negara harus berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Allah Subhanahu wata’ala.Mari tadabburi Firman Allah:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ. الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

 

“….Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar danp mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al-Quraisy: 3-4)

 

Perintah bertauhid dan hanya menyembah kepada Allah adalah pembuka segala kebaikan, kesejahteraan dan keamanan yang hakiki.

 

Hal ini juga menjadi konsekwensi untuk memberikan loyalitas kepada orang-orang yang beriman dan bertauhid, termasuk dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan.

وَلِلّٰـهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

 

“Dan  Izzah / kejayaan itu hanyalah bagi Allah dan Rasul-Nya serta  orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. “(QS Al-Munafiqun : 8)

 

Umat Islam adalah pewaris sejati negeri ini , jangan sampai tergadaikan pada tangan- tangan yang tidak pernah menengadah berdoa dan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS An-Nisa : 144)

 

Allah Ta’ala mengingatkan:

 

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. Al-Maidah : 55)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd ….

Ummmatal Islam, hafizhakumullah….

Kita cinta negeri kita, kita cinta tanah tumpah darah kita, karena ia adalah karunia Allah, olehnya itu cinta kita padanya adalah karena Allah dan hanya untuk Allah. Cinta inilah yang membuat kita akan bertekad menjaganya, memeliharanya, dan mengisi kemerdekaannya dengan iman dan keamanan, dengan kerja keras dan pengkhidmatan. Kemerdekaan negeri ini diraih dan direbut dengan mengorbankan sedemikian banyak darah para syuhada yang meneriakkan takbir yang hingga kini  takbir itu masih terus menggema dalam relung jiwa muslim Indonesia. Alangkah hambarnya nilai  kemerdekaan itu jika  kita hanya memaknainya dengan pesta dan  hura-hura, bahkan dengan sebagian perkara yang menjurus pada pelanggaran ajaran Allah yang telah mengaruniakan kemerdekaan tersebut.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum muslimin rahimakumullah ….

 

Setelah iman kepada Allah, maka persaudaraan karena Allah adalah merupakan salah satu bukti iman itu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

 

Persaudaraan dan ukhuwah ini sangat mutlak untuk dijaga dan dipupuk, karena itulah sumber kekuatan umat untuk membawa rahmat bagi semesta. Rusak dan pecahnya ukhuwah akan menghancurkan umat dari dalam, Firman Allah :

 

وَأَطِيعُوا الله وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّالله مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kalian pada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian saling berselisih yang menyebabkan kalian jadi gentar dan hilanglah kekuatan kalian. Dan bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal : 46)

Menjaga ukhuwah dan persaudaraan adalah berarti menjaga akhlak dan perilaku serta tutur kata, akhlak yang baik akan berbuah persaudaraan yang manis, sebaliknya akhlak yang buruk akan berbuah pahit berupa kebencian, pertikaian dan perpecahan, wallahul Musta’an.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum Muslimin yang disayangi Allah…

Mencetak manusia beraqidah dan berakhlak mulia ternyata harus dimulai dari keluarga, dimulai dari unit terkecil dari masyarakat kita. Tanpa mengabaikan peran ibu yang sangat sentral, dalam kesempatan ini kami ingin ingatkan kepada para ayah akan tanggung jawabnya dalam membina dan mendidik anak-anaknya, jadilah seperti Ibrahim Alaihissalam, sang ayah teladan, yang membina anak-anaknya dengan tauhid dan berpegang teguh pada Islam. Allah mengabadikan wasiat indah sang ayah agung ini di dalam al-Qur’an,

‎وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah : 132).

 

Wahai para ayah…!!!

 

Inilah sebaik-baik wasiat yang kita wariskan pada anak-anak kita. Kita boleh berbangga dengan putra-putri kita yang berhasil mencatatkan namanya di sekolah-sekolah unggulan, di jurusan-jurusan favorit. Namun, sebelum itu semua, ada baiknya kita memeriksa tingkat perhatian dan pengamalan putra-putri kita terhadap agama yang mulia ini. Sebagaimana Nabi Ibrahim memperhatikan keimanan anak-anaknya. Apalah arti pendidikan yang demikian tinggi, jika hanya melahirkan manusia yang enggan merendahkan diri  bersujud pada Sang Ilahi.

 

Wahai para ayah….!!!

 

Kita begitu sedih dengan berita di media tentang seorang anak bersama dengan ayahnya menganiaya gurunya di sekolah. Mari kita mengambil teladan pada Nabi Ibrahim yang membangun budaya dialog dengan anak-anaknya, dengan cara yang begitu bijak dan jauh dari sifat arogansi.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat : 102).

 

Kasih sayang ini akan berbuah sikap welas asih dan empati pada anak dan keluarga kita, sebaliknya sikap kasar dan arogan juga akan membentuk mereka  menjadi kasar dan arogan pula. Perhatikan Ibrahim Alaihissalam ketika menyampaikan perintah Allah kepada anaknya dalam nuansa dialog : ” … Bagaimana pendapatmu? “Sekalipun itu perintah Allah yang tidak boleh  ditentang, namun cara menyampaikan yang lembut justru membuat sang anak menjadi yakin dan kuat melaksanakan perintah Allah itu.

 

Wahai para ayah, para Aba… para bapak… yang terhormat…

 

Hadirlah dalam jiwa anak-anak kita, bersamai mereka dalam iman dan perjuangan. Ada isyarat lembut dalam Firman Allah:

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ

 

Diantara  penafsiran ulama sebagaimana disebutkan Ibnul Jauzy –rahimahullah– dalam kitab Zaadul Masiir, bahwa Ismail Alaihissalam telah sanggup bersama dengan ayahnya Ibrahim Alaihissalam untuk beribadah, padahal kita tahu bahwa Ibrahim Alaihissalam meninggalkan anak dan istrinya demikian jauh, namun ada kata Ma’ahu yang artinya Ismail Alaihissalam bersama dengannya yaitu Ibrahim Alaihissalam walau jarak demikian jauh, medan yang sulit, suasana psikologis antara istri pertama dan kedua, namun hal itu tidak menghalangi Ibrahim Alaihissalam untuk membersamai anaknya Ismail Alaihissalam hingga tumbuh menjadi seorang pemuda shaleh yang sabar dan tangguh.

 

Wahai para ayah …..!!!

 

Jika demikian, apa yang menghalangi anda untuk hadir dalam jiwa para anandamu?, membersamai mereka dalam ibadah dan perjuangan. Alangkah indahnya munajat Ibrahim Alaihissalam dan Ismail Alaihissalam ketika mereka selesai membangun ka’bah .

 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 127-128)

 

Kebersamaan yang indah di dunia dan berbuah lebih indah di Surga.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Para pemuda Islam yang kami banggakan… hafizhakumullah…

Jadikan dirimu bagaikan Ismail Alaihissalam, Ismailkan dirimu. Tumbuhlah dalam ketaatan dan perjuangan menegakkan kebenaran. Narkoba, pornografi dan sederet perbuatan dosa dan kenakalan hanya akan meletihkan jiwamu dan membinasakan jasadmu. Lihatlah Ismail Alaihissalam yang masih demikian belia namun demikian taat pada Tuhannya, demikian berbakti kepada orangtuanya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Wahai para bunda, para muslimah tangguh yang kami muliakan…

 

Cukuplah Hajar menjadi cermin yang demikian indah mempesona, ketegarannya dalam iman dan tawakkal, usahanya yang tidak mengenal lelah di tanah tandus tiada berpenghuni, kesetiannya pada suami walau harus rela ditinggal pergi, ketekunannya mendidik anak yang kemudian terpilih menjadi nabi.

 

Subhanallah… Sekali lagi, bercerminlah pada wanita mulia nan kuat ini.

 

Merekalah manusia – manusia terpilih, terabadikan oleh Ilahi, kenangan indah perjuangan mereka hingga kitapun hari ini berkumpul di sini, mengenang mereka agar bara iman mereka turut menghangatkan jiwa kita untuk berjuang dan berkorban demi Iman dan Islam.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Sebelum mengakhiri khutbah ini, berikut panduan singkat pelaksanaan ibadah kurban.

 

Hewan yang dapat diqurbankan adalah domba yang genap berusia enam bulan, atau kambing yang genap berusia setahun dan sapi yang genap berusia dua tahun, perhitungan hijriyah. Tidak cacat atau berpenyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: mata picak, atau kaki pincang dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut. Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan qurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, dan mengetahui hukum-hukum menyembelih, juga upahnya tidak boleh dari salah satu bagian hewan qurban itu sendiri, seperti kulit atau dagingnya, meskipun penjagal atau pengulit bisa mendapat bagian dari hewan qurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan qurban, yaitu seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan qurban yang telah disembelih dapat dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala dari hewan qurban bergantung kepada niat yang ikhlas orang yang berqurban, oleh karena itu mari menjaga keikhlasan ketika melakukan ibadah mulia ini.

 

Selanjutnya mari kita tundukkan jiwa raga seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala…

الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pengampun, ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang nampak maupun tersembunyi, jika Engkau tak maafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.

 

Wahai Rabb yang Maha Penyayang, sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada Ya Allah…

 

Basuhlah air mata kesedihan mereka yang masih berteduh di tenda- tenda pengungsian dengan kasih-Mu yang tiada berbatas. Tolong mereka dari segala kezaliman Ya Rabbana, kuatkan azam mereka, beri mereka gembira di hari ini dan seterusnya ya Rabbana.

 

Ya Allah karuniakan kami keimanan yang sejati, keamanan yang hakiki dan kesejahteraan yang Engkau berkati.

 

Ya Allah berkati keluarga dan anak- anak kami dengan keshalehan dan ketaqwaan, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.

 

Wahai Rabb Maha Kuat dan Perkasa, berkati negeri kami dengan pemimpin yang beriman pada-Mu, yang bertaqwa dan berakhlak mulia, serta penuh santun menyayangi kami kerena-Mu Ya Allah.

 

Ya Allah ampuni dan sayangi orangtua kami yang tercinta, izinkan kami berbakti pada mereka saat bersama di dunia ataupun jika mereka telah tiada, ridhakan hati mereka buat kami, agar kamipun menuai keridhaan-Mu.

 

Ya Allah kuatkan azam kami agar terus bersama menegakkan agama-Mu dan menyebarkan risalah-Mu. Satukan jiwa kami dalam cinta pada-Mu dan padukan langkah kami dalam membela syari’at-Mu.

 

Jadikan istri-istri kami bidadari di dunia ini bagi kami dengan keshalehan dan kecantikan jiwanya agar kami dapat membersamai mereka dalam ketaatan pada-Mu, jadikan kami suami yang terbaik bagi mereka dunia dan akhirat.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلِّ اللّهم وَسَلِّمْ على نبينا محمد وعلي آله و صحبه أجمعين

 


 

Sumber: Khutbah Idul Adha 1437 H Wahdah Islamiyah