Sempat Ditahan Tentara Israel, Bantuan Masyarakat Indonesia Tiba di Masjid Al-Aqsha

Lazis Wahdah

Sempat Ditahan Tentara Israel, Bantuan Masyarakat Indonesia Tiba di Masjid Al-Aqsha

(Yerussalem) wahdahjakarta.com| Ribuan paket bantuan buka puasa masyarakat Indonesia melalui Wahdah Islamiyah (WI) untuk masyarakat Palestina akhirnya berhasil menembus brikade tentara Israel.

Tidak seperti Ramadhan tahun lalu, aparat keamanan Israel di tahun ini melarang berbagai bentuk bantuan masuk ke area kota tua Yerussalem.

Namun setelah melakukan lobi dan negosiasi yang memakan waktu lama sehari sebelumnya, akhirnya truk pengangkut bantuan bisa tiba di halaman kompleks Masjid Al Aqsha Jumat sore (25/05/2018) lalu.

Buka puasa di masjid al-Aqsha ini merupakan salah satu program dari kerjasama Wahdah Islamiyah dengan Lembaga internasional IHYA yang berpuasat di Turki.

lazis Wahdah

”Program ini adalah tindak lanjut dari MoU Wahdah Islamiyah dengan Yayasan Ihya Turki bulan lalu di Turki. Dimana disepakati untuk kerja sama dalam program menjaga eksistensi Al Aqsa dari penjajahan bangsa zionis,” ucap ustadz Syahruddin C Asho, Direktur LAZIS Wahdah, Sabtu (26/5).

Mari buktikan kepeduliaan kita terhadap Palestina demi eksistensi Masjid Al Aqsha sebagai bagian dari agama kita melalui donasi kemanusiaan LAZIS Wahdah. Salurkan bantuan Anda melalui rekening Bank Syariah Mandiri (451) 799 900 900 4 an LAZIS Wahdah Care. Ayo bergerak berjuang bersama menyelamatkan Masjid Al Aqsha dan Palestina. [sym]

Sumber : https://goo.gl/sdbgDS

Demi Kesembuhan Anaknya, Ibu Lina Sampai Jual Pakaian

Demi  Kesembuhan Anaknya, Ibu Lina Sampai Jual Pakaian

(Jakarta) wahdahjakarta.com| Kamis (24/05/2018) lalu Tim LAZIS Wahdah Jakarta berkesempatan berkunjung ke kediaman Ibu Lina Mardiana (52 tahun) di Jl.  Gang Hajjah Raimah RT 001/006 Kelurahan Batu  Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Condet, Jakarta Timur. Kunjungan ini merupakan bagian dari program #RamadhanUkhuwah yang dilaksanakan oleh ormas Wahdah Islamiyah secara nasional.

Dalam kunjungannya, LAZIS Wahdah Jakarta menyalurkan bantuan dari para muhsinin dan donatur untuk membantu pengobatan Lidia,  anak dari Ibu Lina.

Kepada Tim Lazis Wahdah Ibu Lina menuturkan bahwa anaknya yang bernama Lidia Marais telah mengalami gejala anemia pertama kali saat berada di bangku Sekolah Menengah Atas. Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter akhir-akhir ini, bukan anemia yang terdiagnosa tapi empedu yang bocor, lalu kekurangan zat besi dan elektrolit. Sudah banyak pengobatan yang dilalui Lidia. Ibu Lina  juga sudah berusaha semampunya  untuk membiayai kesehatan anaknya, Lidia. “Saya sampai harus menjual pakaian saya mas, karena sudah tidak mampu menebus obat anak saya”, ujar Ibu Lina.

“Sekarang untuk pengobatan anak saya, saya sudah bingung mas. Mau cari kemana lagi biaya kesehatannya mas”,  Ibu Lina menambahkan dengan nada terbata-bata.

Dalam kunjungannya, LAZIS Wahdah Jakarta menyalurkan bantuan biaya kesehatan dari para muhsinin dan donatur untuk membantu pengobatan Lidia,  anak dari Ibu Lina.

Saudaraku, apa yang kita rasakan saat ini baik itu berupa kesehatan dan kesempatan adalah sebuah anugrah yang sangat diinginkan oleh orang-orang di luar sana. Maka tetaplah bersyukur dan bersabar atas segala apa yang telah diberikan kepada kita.[ism/rsp]

**

Selengkapnya

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2080861495463109&id=1458576761024922

Donasi untuk kesehatan dhuafa bisa disalurkan melalui nomor rekening Bank Syariah mandiri (451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah, dan konfirmasi transfer ke 0811 9787 900 (wa/sms).

LAZIS Wahdah,  ” Melayani dan Memberdayakan”

Wahdah Islamiyah Jakarta Selatan Silaturrahim dengan Komunitas SEKOJA

(JAKARTA) wahdahjakarta.com| Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) melakukan  silaturrahim dengan komunitas   Sekolah Anak Jalanan (SEKOJA).  Dalam silaturrahim ini  Ketua DPD Wahdah Islamiyah Jaksel Ustadz Muhammad Anas Syukur juga berbagi korma untuk selanjutnya disalurkan komunitas Sekoja kepada anak yatim dan dhuafa  melalui program sebar takjil, santunan, dan buka puasa bersama yang digelar  di taman  Marthatiahahu, Blok M yang dilaksanakan pada hari Ahad (27/05/2018). Acara ini diikuti oleh 30 anak yatim dhuafa yang berada di sekitar Blok M.

Para peserta begitu antusias mengikuti acara yang diadakan oleh komunitas yang kelola oleh berbagai mahasiswa dari universitas di Jakarta ini.

SEKOJA merupakan komunitas pegiat sosial yang digerakan oleh para mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta seperti Univ. STIMIK IIUC, UHAMKA, dan UNJ.

Wahdah Islamiyah tentu sangat mendukung kegitan ini. “Kegiatan semacam ini tentu harus selalu kita dukung, melihat manfaat dan dampak postif yang  didapatan baik secara langnsung maupun tidak langsung”, ujar Ustadz Anas. “Kegiatan  ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, kami akan terus menjaga silaturahim dengan SEKOJA dan ikut aktif mendukung kegiatan sosial disekitar daerah Ibukota Jakarta”, pungkasnya.

(TM)

Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Gelar Wisuda Perdana

Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah

Wisuda Hafalan dan Penerimaan Laporan hasil Belajar  Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah

Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Gelar Wisuda Perdana

(Cibinong) wahdahhajakarta.com| Senin (28/05/2018) Pondok Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah (PT WI) Cibinong Bogor Jawa Barat menggelar wisuda perdana hafalan dan penerimaan laporan hasil belajar peserta didik.

Acara ini diikuti oleh kurang lebih 80an santri setingkat SMA dan SMP. Sebelumnya Pesantren Tahfidz WI juga melaksanakan kegiatan Daurah Alquran selama 15 hari sebagai upaya menggenjot target capaian hafalan santri yang telah ditetapkan pada setiap jenjang.

Menurut Pimpinan Pesantren Tahfidz WI Ustadz Syamsuddin ada dua santri yang menyelesaikan hafalannya selama Daurah ini. Salah satu diantaranya berhasil menyetorkan hafalannya Senin (28/05) pagi jelang wisuda digelar. “Iya ada dua orang yang berhasil merampungkan setoran hafalan, Muhammad Kholid dan Muhammad Mujahid, keduanya santri kelas X (I SMA) asal Pontianak Kalimantan Timur”, terangnya.

Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah  Cibinong Bogor

Wisuda Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor

Turut hadir ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) Makassar yang berpusat di, Nursalam Siradjuddin, Ketua MUI  Kecamatan Cibinong, KH. Endang Mathin, MUI Kelurahan Pakansari H. Rahmat, para orangtua santri dan masyarakat sekitar pesantren.

Dalam sambutannya, Ketua YPWI Ustadz Nursalam menyampaikan selamat dan apresiasi serta turut bangga kepada para santri yang mencapai jumlah hafalan sesuai target. “Selamat kepada anak-anakku sekalian yang telah mencapai target hafalan pada tahun ajaran ini, semoga dapat dijaga dan dipertahankan serta ditingkatkan pada

Pak Rian, salah seorang orangtua santri mengaku  sangat bahagia bercampur haru dengan suasana wisuda santri sore itu. “Saya sangat senang anak Saya bisa masuk di pesantren sunnah ini, selain dekat dari rumah kami di Bogor, juga pembinaan untuk hafal quran juga intensif”, ungkapnya. Selain itu harapan beliau semoga ada program yang bisa menjaga hafalan anak anak.mereka terutama menjelang liputan panjang.

 Dalam wasiatnya  kepada para santri sebelum meninggalkan ponpes untuk menjalanai liburan Ustadz Syamsuddin menyampaikan agar  menjaga ketaqwaan kepada Allah, menjaga keikhlasan dalam menghafal, mengamalkan dan mendakwakan Alquran, serta menjadi musabab orangtua masuk sorga, dan tetap bersyukur kepada Allah atas karunia hafalan al-Qur’an yang telah diberikan.

Tanya Jawab Fiqh Puasa [08] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Tanya Jawab Fiqh Puasa [08] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

PERTANYAAN:

Apa hukumnya orang yang berbuka (membatalkan puasa) pada siang hari Ramadhan dengan maksud setelah itu menggauli istrinya? Apakah ia dianggap melakukan siasat tipudaya sehingga ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai hukuman baginya? atau ia dianggap berdosa atas siasat itu dan hanya berkewajiban mengqadha satu hari saja, ataukah perbuatannya tersebut tanpa kaffarat?

Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal

JAWABAN:

Taqabbalallahu minkum shalihal a’mal

Orang puasa yang membuat hilah (siasat) untuk menghindari kafarat jima (hubungan suami istri) pada siang hari Ramadhan dengan makan terlebih dahulu tidak dapat merubah hukum syariat sama sekali. Karena pada asalnya dia bermaksud melakukan jima’ dan ia tidak termasuk orang yang boleh berbuka pada siang hari Ramadhan, dan hilah yang dilakukannya adalah batil secara syar’i. Sebab sesungguhnya ia juga harus tetap menahan (tidak makan dan minum) karena ia makan dan minum dengan sengaja tanpa rukshah.

Oleh karena itu, orang yang sengaja makan (membatalkan Pusanya) dengan maksud untuk menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan, sementara dia merupakan orang yang wajib berpuasa, maka ia berdosa. Oleh karena itu ia harus bertaubat, beristighfar, melakukan qadha (mengganti puasa), dan membayar kaffarat menggauli istri pada siang hari bulan Ramadhan.

Jika ia hanya makan (membatalkan puasa) dan sebelumnya tidak ada niat untuk berjima’, namun setelah itu ia menggauli istrinya, apakah ia wajib bayar kafarat? Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan ulama. Mayoritas ulama bependapat bahwa dalam masalah seperti ini ia tetap wajib bayar kaffarat. [sym/wahdahjakarta.com].

(Sumber: Fatwa Syekh Sulaiman bin Abdullah al-Majid (Hakim Mahkamah Agung Riyadh); http://www.islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-232807.htm).

Program #TebarIftharNusantara Sambangi Santri Tahfidz Cibinong

 Program #TebarIftharNusantara Sambangi Santri Tahfidz Cibinong

(Cibinong) wahdahjakarta.com| Sabtu (26/06/2018) Lembaga Amil Zakat Wahdah Islamiyah Jakarta (Lazis Wahdah Jakarta) kembali menyalurkan pembagian takjil kepada masyarakat.

Kali ini kegiatan yang merupakan bagian dari program #TebarIftharNusantara ini mengambil lokasi di Kelurahan Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Tepatnya di Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor. 100 an paket  ifthar berupa tkjil dan makan malam disalurkan kepada para santri penghafal Al-Qur’an yang sedang menjalani Daurah Menghafal Al-Qur’an akhir tahun.

Kegatan ini merupakan salah satu dari program #TebarIftharNusantara dan #RamadhanUkhuwah yang digelar Wahdah Islamiyah secara nasional. Wahdah Islamiyah menargetkan 100.000 paket ifthar secara nasional. Menurut Ketua Lazis Wahdah Yudi Wahyudi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok, Yudi Wahyudi, bahwa DPW WI Jakarta menargetkan 50.000 paket.

Lzis Wahdah juga mengajak untuk mendukung suksesnya program #RamadhanUkhuwah dengan menawarkan donasi pada beberapa program  yang menjadi layanan mitra kaum muslimin berbagi manfaat di bulan mulia ini, yakni:

  1. #TebarIftharNusantara (Rp. 25.000/porsi)
  2. Tebar Sembako Nusantara (Rp. 200.000/paket)
  3. Tebar Al-Quran Nusantara (Rp. 100.000/mushaf
  4. Kado lebaran Yatim (Rp. 250.000/kado)
  5. Bingkisan Lebaran Dai (Rp. 350.000/pack)
  6. Tebar Mukena Nusantara (Rp. 100.000/set)

Cara Berdonasi

  1. Donasi Ramadhan Ukhuwah dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (BSM) norek: 776 900 9005 a.n. Lazis Wahdah Ramadhan (Kode Transfer ATM Bersama: 451). Tambahkan kode unik 300 di akhir nominal transfer, misal: Rp.100.300
  2. Konfirmasi Transfer Donasi melalui WA/SMS ke 0811 9787 900, ketik : RU/Nama/Alamat/Nama Program/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

LAZIS Wahdah,  Melayani dan Memberdayakan

Kiat Praktis  Mengkhatamkan Al-Qur’an Pada Bulan Ramadhan

Kiat Praktis Mengkhatamkan Al-Qur'an Pada bulan Ramadhan

Kiat Praktis Mengkhatamkan Al-Qur’an Pada bulan Ramadhan

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari di luar bulan Ramadhan. Sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkan setiap malam.  Bahkan Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan.

Wahdahjakarta.com| Ramadhan adalan bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah –Subhanahu wa Ta’ala– dalam surat Al-Baqarah ayat 185;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

 “Bulan Ramadhan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185).

Oleh karena itu salah satu amalan yang dianjurkan  pada bulan Qur’an ini adalah membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Orang-orang shaleh terdahulu menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai amal yang paling mereka prioritaskan pada bulan Ramadhan setelah shiyam (puasa) dan qiyam (shalat tarawih). Mereka mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sekali. Ada yang khatam setiap tujuh hari , setiap lima hari, setiap tiga hari, bahkan setiap hari.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari di luar bulan Ramadhan. Sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkan setiap malam. Sementara Al-Aswad setiap dua hari sekali mengkhatamkan Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan.

Hal ini (mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan) juga telah menjadi tradisi orang-orang shaleh sepanjang zaman, sampai hari ini.

Sepintas mengkhatamkan Al-Qur’an berkali kali merupakan sesuatu yang berat. Namun jika ada kemauan dan tekad yang kuat serta pengaturan jadwal dan manajemen waktu yang rapi hal itu bukan sesuatu yang berat. Misalnya jika ingin mengkatamkan tiga kali selama Ramadhan berarti setiap sepuluh hari. Untuk mencapai target tersebut, maka setiap hari membaca tiga juz. Untuk memudahkan dan terasa lebih ringan maka target diturunkan kepada setiap waktu shalat. Misalmnya setiap waktu shalat (sebelum dan setelahnya) membaca 6 lembar atau 12 halaman.

Berikut ini contoh sederhana pengaturan waktu setiap hari yang disertai rincian target setiap waktu shalat.

Untuk satu kali khatam

  1. Shalat Subuh 2 lembar
  2. Shalat Zhuhur 2 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 2 lembar
  4. Shalat Maghrib 2 lembar
  5. Shalat ‘Isya 2 lembar

Untuk dua kali khatam

  1. Shalat Subuh 4 lembar
  2. Shalat Zhuhur 4 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 4 lembar
  4. Shalat Maghrib 4 lembar
  5. Shalat ‘Isya 4 lembar

✔ Untuk tiga kali khatam 

  1. Shalat Subuh 6 lembar
  2. Shalat Zhuhur 6 lembar
  3. Shalat ‘Ashar 6 lembar
  4. Shalat Maghrib 6 lembar
  5. Shalat ‘Isya 6 lembar

Selama mencoba, semoga meraih predikat sebagai Ahlul Qur’an.  [sym].

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07]: Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut?

Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut

Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut ?

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07]: Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut?

Pertanyaan:

Jika seorang wanita suci dari haidh persis setelah terbit Fajar, apakah ia ber-imsak (menahan diri dari makan-minum) dan berpuasa pada hari tersebut, sehingga ia terhitung berpuasa pada hari itu? Ataukan ia wajib mengqadha puasanya hari itu?

Jawaban:

Jika seorang wanita suci dari haidh setelah terbit fajar, maka terkait masalah ber-imsak (menahan) atau tidak pada hari itu para ulama berbeda pendapat dalam dua pendapat.

Pertama;

Pendapat yang mengatakan, ia harus menahan diri dari makan dan minum (tidak boleh makan-minum) pada hari tersebut, tapi tidak terhitung berpuasa. Bahkan ia wajib meng-qadha. Ini pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad rahimahullah.

Kedua;

Pendapat yang mengatakan bahwa Ia tidak wajib menahan diri dari makan dan minum pada hari tersebut (artinya;ia boleh makan-minum). Karena tidak ada faidahnya ia menahan diri dari makan dan minum. Sebab ia diperintahkan untuk tetap makan dan minum sejak pagi. Bahkan haram baginya berpuasa pada hari itu. Sementara puasa secara syar’i adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dalam dengan niat ibadah kepada Allah sejak terbit Fajar sampai terbenam matahari.

Inilah pendapat yang kami pandang lebih rajih (kuat) tinimbang pendapat yang mengharuskan imsak (tidak makan-minum pada sisa waktu di hari itu). Selain itu, kedua pendapat tetap sepakat bahwa ia wajib meng-qadha hari tersebut. (sym).

Sumber: 52 Sualan ‘an Ahkamil Haidh (52 Soal-Jawab Seputar Hukum Haidh) Oleh Syekh al-‘Utsaimin, hal. 9-10)

Ramadhan Bulan masuk syurga sekeluarga

Ramadhan Bulan Masuk Syurga Sekeluarga

Ramadhan Bulan Masuk Syurga Sekeluarga

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kajian Parenting Nabawi Ramadhan
Ramadhan Bulan masuk syurga sekeluarga
🔺🔺🔺🔺🔺
📝 Pemateri :
Al Ustadz Bendri Jaisyurrahman Hafidzahullah
⏰ Hari/ Tanggal :
Rabu 30 Mei 2018
Pkl 08.00 s/d 11.00 WIB
🏫 Tempat : Saung Pondok Laras
Jl komjen yasin 2e kelapa dua ciamnggis Depok
💌 Investasi :
– Infaq terbaik untuk anak2 yatim penghafal Al Quran
📱 Informasi dan Pendaftaran :
Ketik, REG_Kp_NamaLengkap_Nomer WA_Alamat
Kirim ke No. Hp. 08111110948 (call/wa)
🌐 Event by :
Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia
– DPD Wahdah Islamiyah Depok
🚩 Supported by :
– Ponpes Tahfidz Al ihsan Kelapa Dua
– Ponpes Tahfidz Raudhatul Huffadz Pondok cabe
– Paud IBQ Al ihsan
– Rumah quran As-Sakinah.
🔴 TERTARIK?, Segera daftar ya. Ingat-ingat! :
– Peserta terbatas Bagi 200 orang
– Pendaftaran Maksimal sampai dengan tgl 29 Mei 2018 pkl 15.00 WIB.
#YuukBantuSebar
#RaihPahala

Tanya Jawab Fiqh Puasa [ 06]: Mandi Junub Setelah Adzan Subuh

“Siapa yang junub pada malam hari lalu bangun pagi dan tidak mandi melainkan setelah terbit fajar, maka puasanya sah”.

Tanya Jawab Fiqh Puasa [ 06]: Mandi Junub Setelah Adzan Subuh

Pertanyaan:

Apa hukum puasa qadha orang yang tidur malam dalam keadaan junub dan mandi junub setelah adzan subuh. Sahkah puasanya?

Jawaban:

Siapa yang junub pada malam hari lalu bangun pagi dan tidak mandi melainkan setelah terbit fajar, maka puasanya sah. Hal ini telah ditunjukan oleh hadits-hadits yang banyak, diantaranya;

فعن عائشة: أن رجلاً قال: يا رسول الله تدركني الصلاة وأنا جنب فأصوم، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: وأنا تدركني الصلاة وأنا جنب فأصوم، فقال: لست مثلنا يا رسول الله قد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر، فقال: والله إني لأرجو أن أكون أخشاكم لله وأعلمكم بما أتقي. رواه أحمد ومسلم وأبو داود

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah saya memasuki waktu shalat dalam keadaan junub, bolehkah saya berpuasa? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku juga –kadang- memasuki waktu shalat dalam keadaan junub dan saya tetap berpuasa”. Penanya tersebut berkata, “engkau bukan seperti kami, Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang“. Rasul berkata, “Demi Allah, saya beraharap akulah yang paling takut kepada Allah diantara kalian dan paling tahu apa yang harus dihindari”. (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma juga mengatakan bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu pagi dalam keadaan junub, kemudian beliau berpuasa ramadhan”. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam riwayat Muslim Ummu Salamah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu pagi dalam keadaan junub, beliau tetap puasa dan tidak mengqadha”. (HR. Muslim)

Imam Syaukani rahimahullah berkata dalam mengomentari hadits-hadits tersebut, “Hadits-hadits ini dijadikan dalil oleh Ulama yang berpendapat bahwa yang bangun pagi dalam keadaan junub puasanya tetap sah tanpa ada perbedaan apakah junub tersebut karena jima’ atau sebab yang lain. Ini adalah pendapat Jumhur (mayoritas). Imam Nawawi menegaskan bahwa hal tersebut merupakan ijma’. Ibnu Daqiq al ‘Ied mengatkan bahwa hal tersebut meruapakan ijma’ atau seperti ijma’.” Hukum ini sama baik puasa ada’ (ditunaikan pada waktunya), qadha, maupun puasa sunnah. Wallahu a’lam. [sym].

(Sumber:http://fatwa.islamweb.com/).

Kesimpulan: Orang yang bangun tidur dalam keadaan junub dan terlambat mandi junub setelah terbit fajar, puasanya sah. Hal ini berlaku dalam puasa wajib, sunnah, dan qadha. (Terjemah oleh Syamsuddin Al-Munawiy)