Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Jamaah Shalat Idul Adha Wahdah Islamiyah Doakan Masyarakat Lombok NTB

Makassar (wahdahjakarta.com),- Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah menggelar shalat idul Adha di lapangan Pemprov, jl. Inspeksi PAM kecamatan Manggala, Makassar, Rabu 21 Agustus 2018. Imam sekaligus khatib ustadz Harman Tajang, Lc. M.HI. membacakan khutbah dengan judul pengorbanan berbuah surga.

Dihadapan ribuan jamaah, dalam khutbahnya ustadz Harman menceritakan teladan pengorbanan orang-orang shaleh terdahulu yang dengannya mereka menuai janji surga dari Allah Ta’ala.

Ustadz Harman juga menggambarkan adanya orang-orang yang berkorban dengan harta dan jiwanya namun pengorbanan justru berbuah neraka.

Ustadz Harman yang merupakan sekretaris Dewan Syariah Wahdah Islamiyah mengajak para jamaah untuk bermuhasabah diri, pengorbanan apa yang telah dipersembahkan untuk mendapatkan surga dari Allah?

Dalam doa penutup khutbahnya ustadz Harman juga mendoakan masyarakat Lombok Nusa Tenggara Barat yang sementara diuji dengan musibah gempa berkali-kali.

“Ya Allah, Kasihanilah saudara-saudara kami di Lombok, yang terkena dampak bumimu yang berguncang, jika itu adalah hukuman atas dosa-dosa maka terimalah tobat kami, jika itu adalah ujian beri mereka kesabaran, basuhlah air mata kesedihan mereka, angkatlah bencana dan malapetaka yang menyelimuti mereka, gantikanlah ketakutan mereka dengan rasa aman, kedinginan mereka di tempat-tempat pengungsian dengan kehangatan, kelaparan dengan rasa kenyang, air mata dengan senyum bahagia. Ampuni yang telah menjadi korban, terima mereka sebagai syahid disisiMu, dan berilah kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan.” Pinta ustadz Harman dalam doanya.

Jamaah tampak khusyuk mengamin doa-doa yang dilafalkan khatib.

Seusai rangkaian shalat idul Adha, tampak jamaah dan panitia bekerjasama membersihkan lapangan pemprov dari sampah koran bekas, gelas air kemasan. Ini adalah implementasi dari jargon kebersihan dari Wahdah Islamiyah “Lisa Dara Apik” (Lihat sampah ambil, tidak rapi, rapikan!”).

Lapangan pemprov pun kembali bersih seperti sediakala.[]

Pengorbanan Berbuah Surga (Khutbah Idul Adha 1439 Wahdah Islamiyah)

Pengorbanan Berbuah Surga

(Khutbah Idul Adha 1439 Wahdah Islamiyah)

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

‎‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

‎‎‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Dipagi hari yang syahdu ini, ditengah gemuruh lantunan takbir, tahmid dan tahlil, diiringi dengan tasbih para makhluk, burung-burung, pepohonan, lautan dan daratan serta seluruh yang ada di langit dan di bumi,

﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا﴾

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. al-Isra’ : 44)

Tasbih berhias suka cita yang terkadang tumpah dalam linangan air mata bahagia, maka kata syukur dan pujianlah yang pantas kita ucapkan dan kita dendangkan sebagai wujud kebahagiaan atas segala nikmat yang tak terhingga dari Zat Yang Maha Memberi. Betapa banyak dosa yang kita angkat kepada-Nya sedang Dia (Allah) membalas dengan limpahan nikmat, rahmat serta ampunan yang tiada batasnya. Kita bersimbah dosa, Dia menutupinya dan senantiasa menyeru kita untuk kembali kepada-Nya..

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾

Katakanlah: “Hai wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (QS. az-Zumar : 53-54)

Atas segala nikmat itulah, apakah tidak sepantasnya kita lebih giat beribadah dan menyembah kepada-Nya?

Atas segala karunia itulah, apakah tidak sepantasnya kita semakin menghambakan diri kepada-Nya?

Atas segala pemberian itulah, apakah tidak pantas kita berkorban untuk meraih yang lebih tinggi yang telah dijanjikan-Nya? Itulah Surga Firdaus yang menjadikan lambung-lambung orang-orang shaleh terdahulu jauh dari pembaringan, mereka meninggalkan istirahat sejenak untuk beristirahat selamanya, mereka bersabar dengan payahnya ketaatan sesaat yang akan berganti dengan kenikmatan tiada tara, mereka bersabar meninggalkan maksiat demi diselamatkan dari penderitaan tak berpenghujung yaitu neraka..

﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan”. (QS. as-Sajadah : 16)

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd…

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Diantara pengorbanan yang tertulis indah dalam tinta sejarah adalah pengorbanan seorang hamba yang disifatkan sebagai ‘ummat’ dalam kesendiriannya..

﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ‘Ummat’”. (QS. an-Nahl : 120)

Diangkat menjadi kekasih Allah ‘khalilullah‘, bapak semua nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam begitu pula putranya Ismail ‘alaihissalam. Keduanya mengajarkan kepada kita arti pengorbanan yang sebenarnya. Pengorbanan dalam melawan hawa nafsu, ajakan setan demi meraih keridhaan Tuhan yang berbuah Surga. Sejarah mengisahkan betapa hati beliau pilu bepuluh-puluh tahun lamanya sampai beliau menginjak usia senja memohon kepada Allah seorang anak, kepiluan seorang hamba yang terbisikkan dan tertumpahkan dalam doa-doa tulus, bisikan lirih namun menembus tujuh lapis langit..

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. as-Shaffaat : 100)

Akhirnya, Allah.. Tuhan Yang Maha Mendengar mengabulkan permohonan hamba-Nya, Dia membuktikan kekuasaan-Nya ketika seluruh manusia menganggap bahwa sebuah kemustahilan beliau akan memiliki keturunan dengan usia beliau dan istrinya yang telah senja. Namun, tiada yang mustahil bagi Zat yang Maha Berkehendak…

Lahirlah sang bayi pelipur lara penyejuk jiwa, Ismail yang dikemudian hari diangkat menjadi seorang nabi yang mulia.

Ujian pengorbanan Ibrahim belumlah berhenti, datanglah titah Ilahi dalam mimpi, yang mana mimpi seorang nabi adalah ‘haq’, wahyu dari Allah, perintah untuk menyembelih putra kesayangannya ‘Ismail’… Ya Allah! Ujian apakah ini?! Anak yang lama dinanti, bertahun-tahun dipinta dalam doa, dan di usia yang sudah senja, setelah lahir Allah pun menyuruh beliau untuk menyembelihnya..

Namun Subhanallah! Semua itu dilaksanakan oleh Ibrahim dan putranya. Bisikan jiwa, godaan setan runtuh berhadapan dengan kekokohan iman dan rasa cinta pada Sang Pencipta pemilik langit dan bumi. Dan dengan segala pengorbanan itulah nama beliau diabadikan dalam kitab yang paling mulia (Al-Qur’an) yang terus dibaca hingga akhir zaman, bahkan menjadi qudwah bagi sekalian alam.

Dengan pengorbanan itulah, beliau telah mendahului kita dengan kenikmatan tiada hingga disisi Tuhan pencipta alam semesta..

﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ… ﴾

Sungguh pada diri Ibrahim terdapat suri teladan yang mulia…”. (QS. al-Mumtahanah : 4)

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd..

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Kisah pengorbanan pun terus berulang, dari hamba-hamba yang shaleh…

Di suatu malam, Aisyah radhiallahu ‘anha terharu melihat kaki Rasulullah yang bengkak karena qiyam sepanjang malam, dengan penuh hiba beliau bertanya,“Ya Rasulullah, buat apa Anda sampai seperti ini, Anda yang telah mendapatkan jaminan ampun dari dosa-dosa masa silam dan yang akan datang, untuk apa semua ini?” Dengan penuh cinta beliau menjawab, “Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan kekasih Allah, pemimpin semua nabi dan rasul melalui ujian demi ujian dalam kehidupannya. Beliau rela berkorban demi membuktikan cinta beliau pada Allah. Beliau terlahir dalam keadaan yatim piatu, selama beliau berada di Makkah beliau mendapatkan intimidasi tak berperi, segala tuduhan keji beliau dapatkan (tukang sihir, tukang syair, gila dsb), beberapa kali percobaan pembunuhan beliau dapatkan, beliau ke Thaif berdakwah namun disambut dengan sambitan batu dan cemohan, sahabatnya disiksa dan dibunuhi di depan matanya dan beliau cuma bisa mendoakannya, sebagaimana doa beliau pada keluarga Yasir (Sabran Ala Yasir fainna mau’idakum Al-Jannah) ‘bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga’. Paman beliau Abu Thalib yang merupakan pembela dan pengayom dakwah beliau meninggal, tak berselang lama sang istri tercinta ‘Khadijah’ juga meninggal di tahun yang sama, wanita yang mendampingi perjuangan beliau, wanita yang beriman ketika seluruh manusia mendustakan dakwah beliau, yang berkorban dengan segala jiwa, raga dan harta demi perjuangan dakwah Nabi, sehingga tahun itu dikenal dengan ‘tahun duka cita’, dan puncak ujian pengorbanan beliau ketika beliau dengan sedih meninggalkan kampung halaman, tempat kelahiran beliau, hijrah ke Medinah demi menolong agama Allah. Di perbatasan menuju Medinah dengan penuh kesedihan beliau seakan berbicara dengan Kota Mekah, “Sesungguhnya engkau tahu (wahai kota Mekah) engkaulah tempat yang paling aku cintai, andai pendudukmu tidak mengusirku niscaya aku tak akan meninggalkanmu).”

Setiba di Medinah ujian pun terus mendera, Sahabat-sahabat beliau berguguran di medan jihad, paman beliau Hamzah syahid di medan Uhud dengan dada terkoyak dan jantung terburai. Rumah tangga beliau diguncang fitnah ketika Aisyah dituduh melakukan perbuatan selingkuh oleh orang-orang munafik. Anak-anak beliau, beliau saksikan meninggal kecuali Fatimah yang meninggal beberapa bulan setelah kematian beliau. Sungguh ujian dan pengorbanan yang luar biasa, namun sekarang beliau telah kembali kepada Tuhannya, beristirahat dengan tenang dan di hari kiamat beliau menunggu umatnya di sebuah telaga yang jika seteguk air darinya diminum maka tidak ada rasa haus untuk setelahnya..

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd

Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah..

PENGORBANAN BERBUAH SURGA..

Tak pernah berhenti di sepanjang masa..

Allah memilih diantara hamba-hamba-Nya yang dimuliakan dengan pengorbanan itu..

﴿مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)”. (QS. al-Ahzab : 23)

Ada yang berkorban dengan nyawa demi mempertahankan akidah yang kokoh seperti Asiah bintu Muzahim istri Fir’aun..

Ada yang berkorban dengan dibantai berjamaah seperti kisah Ashabul Ukhdud..

Ada yang berkorban membeli surga dengan hartanya seperti Abu Bakr, Utsman bin Affan, Khadijah dan Abdurrahman bin Auf..

Ada yang berkorban dengan masa mudanya seperti Mush’ab bin Umair, pemuda kaya raya yang diboikot oleh keluarganya karena mengikuti dakwah tauhid, yang diakhir hidupnya Rasululullah terharu karena tak ada yang menutupi jasadnya kecuali sepotong kain yang jika ditarik ke kepala tersingkap kaki beliau dan jika ditarik ke kaki tersingkap kepala beliau…

Dan masih banyak lagi hamba-hamba pilihan yang mengorbankan segalanya demi membuktikan cinta pada Allah..

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd..

PENGORBANAN BERBUAH NERAKA…

Ketika sejarah menorehkan kisah pengorbanan berbuah surga maka Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa sebagian manusia ada yang berkorban namun pengorbanan mereka berbuah azab yang pedih, kehinaan dan neraka.

Merekalah para pengusung kebatilan, mereka bekerja siang dan malam demi memadamkan cahaya agama Allah, mereka letih, begadang, dihina dan dicerca namun mereka bersabar..

﴿…فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ﴾

“…Betapa sabarnya mereka dengan neraka”.(QS. al-Baqarah : 175)

Dana besar tak ternilai pun mereka gelontorkan untuk memenangkan apa yang mereka serukan demi menyesatkan manusia. Apapun mereka bisa beli namun sungguh, semua itu sia-sia.

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. (QS. al-Anfal : 36)

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. as-Shaf: 8)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Selanjutnya, mari kita melihat diri-diri kita…

Apakah yang sudah kita korbankan untuk sampai di surga Allah?!

Apakah yang sudah kita korbankan demi meraih keridhaan Allah?!

Apakah yang sudah kita korbankan untuk meraih ampunan Allah?!

Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuat kita merasa malu pada Allah dan pada diri kita sendiri..

Betapa sulitnya kita berkorban sampai untuk diri kita sendiri..

Shalat lima waktu sering kita lalaikan atau tidak mengerjakannya di awal waktu, Subuh terkadang kesiangan, sedangkan jika kita memiliki perjalanan bisnis dengan pesawat terbang, kita berusaha tidak terlambat untuk hadir di bandara walau waktunya dini hari sekalipun..

Begitu beratnya kita terbangun di malam hari untuk qiyamullail dan tahajjud, sedangkan untuk pertandingan sepakbola kita rela begadang semalam suntuk hanya untuk menyaksikan klub jagoan kita yang merumput di lapangan hijau.

Jika yang dibangun adalah mall-mall, ruko-ruko dan pusat perbelanjaan maka hanya dalam hitungan bulan sudah berdiri megah, namun untuk merampungkan pembangunan sebuah masjid terkadang pengurus harus setiap Jumat meminta sumbangan dari  jamaah, dan terkadang itu sampai bertahun tahun…

Subhanallah!..

Manakah bukti bahwa kita adalah para perindu surga yang rela berkorban dengan segala yang dimiliki untuk meraihnya?

Allahu Akbar,  Allah Akbar, Walillahil hamd…

Fenomena lain…

Hari ini, realita yang memilukan, dari sebagian oknum aktivis dakwah, justru yang dikorbankan adalah kawan sejalan yang sama-sama meniti jalan perjuangan para nabi, menyeru kepada yang makruf serta mencegah dari kemungkaran. Saling melempar tuduhan keji tanpa tabayyun, mencemarkan kehormatan sesama dai secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, saling berbalas hujatan di dunia maya dan nyata, vonis prematur yang keji pada sebagian ulama dan penuntut ilmu, merasa diri dan kelompoknya yang paling benar, menghukumi niat-niat orang yang menyelisihinya tanpa berusaha memberi udzur dan alasan Ukhuwah Islamiyah yang mulialah yang jadi korban, kehormatan sebagian ulama dan dai yang menjadi tumbal, waktu dan tenaga tergerus untuk hal yang sia-sia, padahal musuh-musuh agama semakin solid merapatkan barisan sedang sebagian kita masih berkutat dan berdebat pada masalah-masalah fiqhiyyah dan ijtihadiah atau saling klaim siapa yang berada diatas ‘manhaj yang kokoh.’ La hawla wala quwwata illa billah…

Tidakkah seyogyanya kesemuanya itu kita akhiri? Marilah kita kembali pada tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk bersatu, berukhuwah, berbaik sangka, saling membantu antara yang satu dan lain. Al-Qur’an melarang perpecahan, perselisihan, saling memusuhi, mencari-cari aib, ghibah, namimah dan adu domba.

Semua sudah jelas, semua sudah gamblang.

Berbeda pendapat adalah sunnatullah, namun mari kedepankan adab dan nasihat yang bijak dan santun, dahulukan prasangka baik kepada saudara kita sebelum memvonis. Perkara-perkara yang bisa menyatukan kita lebih banyak dari hal-hal sepele yang terkadang membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain..

Fenomena lain..

Perebutan kekuasaan, kepentingan politik yang menjadikan persaudaraan sebagai korban. Fenomena saling cekal, saling hujat, saling mencurigai menjadi sajian rutin setiap waktu, Hoax berseliweran dimana-mana, rakyat kecil yang ikut menjadi korban yang mana semua  selalu mengatasnamakan ‘rakyat’ demi merebut simpati yang pada kenyataannya hanya untuk keserakahan pribadi dan golongan. Begitu mudahnya persahabatan yang telah terjalin lama menjadi korban demi kepentingan sesaat.Betapa murahnya harga diri dijual hanya untuk mengamankan kantong-kantong pribadi atau perusahaan-perusahaan pribadi.Bahkan betapa gampangnya agama digadaikan, idealisme menjadi tumbal hanya demi meraih sedikit keuntungan duniawi dan secuil kekuasaan semu.

Wallahul musta’an..

Tidakkah sepantasnya ini kita akhiri?

Bukankah harta, pangkat, jabatan bahkan dunia ini adalah sesuatu yang fana?! Dunia terlalu hina untuk membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain. Hanya karena beda pilihan dalam pilpres atau pilkada kita saling membelakangi, bahkan yang memilukan berita yang kita dengar ada sebuah rumah tangga yang terpaksa harus bubar hanya gara-gara beda pilihan dalam pemilihan kepala desa. Subhanallah..!

Saatnya kita mengorbankan sifat arogansi kita, saatnya kita kuburkan sifat-sifat jahiliah kita, dan sekaranglah saat untuk kita kembali merajut persatuan dan ukhuwah demi mencapai keridhaan Allah.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita kepada jalan-jalan kebenaran dan keistiqamahan dan menjaga kita dari segala fitnah dan ujian, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin..

KHUTBAH KEDUA:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Sebelum kita menutup khotbah ini, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hari ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia melaksanakan sebuah ibadah yang mulia yaitu berkurban, oleh karenanya Khatib berpesan beberapa hal, diantaranya; hendaknya yang berkurban senantiasa menjaga keikhlasannya agar diterima disisi Allah. Hewan kurban lebih afdal disembelih sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Daging kurban dibagi menjadi tiga, yaitu untuk dimakan oleh yang berkurban, dihadiahkan, dan disedekahkan kepada fakir miskin. Waktu penyembelihan bisa sampai hari terakhir dari hari-hari tasyriq.

Akhirnya di penghujung khutbah ini marilah kita berdoa seraya menengadahkan jiwa memohon kepada Yang Maha Memiliki Segalanya.

‎الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ﴾

‎‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ﴾

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Gaffar..Ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang tampak maupun yang tersembunyi, jika Engkau tak memaafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.

Ya Allah, Ya  Lathif , yang Maha Lembut… Sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada.

Ya Allah, Ya Hafizh…Jaga dan berkati keluarga dan anak-anak kami dengan keimanan, keshalehan dan ketakwaan, karuniakan mereka Al-Quran yang berada dalam dadanya, menjadi cahaya menuntun langkah-langkahnya, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan perjuangan dibatas Jalan-Mu, serta satukan kami di akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.

Ya Allah,  Ya Rahim… rahmatilah setiap ayah yang senantiasa berkorban demi menuntun istri, anak-anak dan keluarganya diatas jalan-Mu, yang berusaha menyelamatkan mereka dari api neraka-Mu. Rahmatilah setiap ibu yang berkorban dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan tak kenal lelah dan peluh. Rahmatilah setiap wanita yang senantiasa mempertahankan keistiqamahannya, menutup aurat dengan hijabnya. Rahmatilah setiap pemuda yang berusaha tumbuh diatas ketaatan kepadamu. Lindungilah mereka semua dari segala keburukan..

Ya Allah… Ampunilah  dosa-dosa  ayah  dan ibu kami, jagalah mereka yang masih hidup dan rahmatilah mereka yang telah meninggal, bantulah kami untuk senantiasa berbakti kepada mereka, demi meraih rahmat dan ridha-Mu.

Ya Allah, wahai Rabb kami, jadikanlah agama-Mu memandu kehidupan hamba-hamba-Mu di negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin. Jadikanlah penduduk negeri ini bahagia dengan tegaknya agama-Mu di atasnya.

Ya Allah!.. Anugerahkanlah kepada kami pemimpin yang saleh, yang senantiasa takut kepada-Mu dan sayang kepada kami, yang pada kebaikan senantiasa mengajak dan bukanlah mengejek, yang senantiasa merangkul dan bukanlah memukul, yang senantiasa membimbing dan bukanlah menggunjing, yang selalu menerima argumen dan bukanlah melemparkan sentimen.

Ya Allah, Ya Karim.. Jagalah negeri kami yang tercinta ini. Barangsiapa yang menginginkan kebaikan untuknya, maka alirkanlah kebaikan itu lewat tangannya. Dan barang siapa yang menyembunyikan niat buruk untuk berbuat kerusakan maka, kembalikanlan makar dan kerusakan itu kepadanya..

‎﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

‎وَصَلِّ اللّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وِ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

***

Sumber dari: http://wahdah.or.id/khutbah-idul-adha-1439-h-

Ibrahim -‘alaihissalam’ Pembangun Keluarga Pejuang

Ibrahim -‘alaihissalam’ PEMBANGUN KELUARGA PEJUANG

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Allahu Akbar walillahil hamd.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah !

Di pagi hari ini, seiring dengan tasbih semesta alam raya, seiring dengan ketundukan semua makhluk ciptaan Allah, kita kembali melantunkan pujian dan takbir pengagungan kepada Sang Maha Pencipta…Maha Pemelihara…Penguasa Jagad raya,….Dialah Allah tabaraka wata’ala , satu-satunya yang berhak untuk disembah dan ibadahi….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Di sana,… di Padang Arafah , ketika berjuta tangan menengadah pada Sang Ilahi, ketika berjuta bibir bergetar menyebut namaNya, maka di pagi hari ini kita menyempurnakan semua itu, maka biarkan gema takbir ini membahana di angkasa, menyatu dengan tasbih semesta, membuang semua yang membuncah di dada,….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha Illalllah wallahu Akbar ,

Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin a’azzakumullah !

Setiap kita menyebut Haji, Idul Adha dan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya, maka ada satu nama yang tak mungkin terlewatkan, dialah Ibrahim –alaihissalam.

Hari ini kembali kita mengenang manusia agung utusan Allah subhanahu wata’ala ini, Nabi Ibrahim alaihissalam beserta anak dan istrinya, Ismail alaihissalam dan Hajar alaihassalam. Keagungan pribadinya yang telah Allah perintahkan agar kita menjadikannya suri tauladan , Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS. al-Mumtahanah :4).

Pelajaran demi pelajaran, hikmah demi hikmah selalu dan senantiasa kita petik dari perjalanan hidup pribadi yang agung ini.

Diantara hikmah dan pelajaran terpenting dari perikehidupannya adalah : Perjuangan menegakkan Aqidah dan Tauhid, yang selalu melandasi dan mewarnai segala gerak dan tingkah lakunya, semua sepak terjang dan bahkan derap langkahnya.

Awal kemunculan Ibrahim di tengah kaumnya langsung menohok pada inti permasalahan yang dihadapi kaumnya yaitu penyimpangan dari tauhid, dimana mereka menyembah berhala-berhala yang tidak berdaya apa-apa, perhatikanlah bagaimana Ibrahim dengan piawai mengajak kaumnya beradu argumen tentang siapa yang sebenarnya berhak disembah

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ . وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ ( العنكبوت:16-18(

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (17) Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya”. (18).” (QS. al-‘Ankabut: 16-18)

Jawaban kaumnya bukanlah jawaban yang menyenangkan, bahkan ancaman dan kecaman .. Allah berfirman :

فمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنجَاهُ اللَّـهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (العنكبوت: 24 )

“Maka tidak ada lagi jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya dari api (yang membakarnya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (QS.al-‘Ankabut: 24)

Demikinlah konsekuensi dakwah yang kadang tidak menyenangkan, bahkan menuntut pengorbanan, namun pertolongan Allah tidak pernah terlambat, Allah berfirman :

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ . وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, (69) mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS.al- Anbiya:69-70)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Keteguhan prinsip dan ketegaran dalam bertauhid dan beraqidah pada pribadi Ibrahim tidak hanya dimonopoli oleh diri beliau sendiri, namun ternyata seorang Ibrahim alaissalam sangat memperhatikan dakwah pada keluarganya dan karib kerabatnya, bahkan beliau mewujudkan hubungan yang paling indah antara anak dengan ayahnya dengan berwujud dakwah kepada kepada orang tua untuk aqidah dan tauhid :

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا ﴿٤٢﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا ﴿٤٣﴾ يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَـٰنِ عَصِيًّا ﴿٤٤﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَـٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada dapat mendengar, tiada pula dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Allah Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam: 42-45)

Keluarga ….sekali lagi keluarga, orang terdekat di sekeliling kita yang kadang luput dari perhatian dan pemenuhan hak atas mereka sebagai amanah Allah Ta’ala.

Ibrahim alaihissalam adalah tipe manusia yang sangat memperhatikan keluarganya, namun… perhatian di sini bukanlah sekedar perhatian untuk pemenuhan kebutuhan duniawi semata, namun yang lebih sejati adalah bagaimana seorang Ibrahim membangun keluarganya dengan pondasi iman dan aqidah …sehingga dengan taufiq dari Allah melahirkan keluarga pejuang yang tangguh, pantang menyerah , tauhid dan aqidah menjadi landasan dari segala tindakannya, ……

Hasil ini bukanlah datang begitu saja tentunya, namun ia adalah buah perjuangan panjang manusia yang diberkati ini…..perhatikanlah doanya yang diabadikan dalam AlQ uran :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku karuniakanlah padaku dari (keturunan) yang shalih “ (QS.Ash Shaffat;100)

Penantian panjang seorang Ibrahim alaihissalam dengan tidak berputus asa, membuahkan hasil dengan dikaruniakannya seorang anak yang didamba-dambakan, dialah Ismail alaihissalam.

Namun ternyata proses tarbiyah ilahiyah menghendaki lain, seorang Ismail dalam masa kecil ternyata harus berpisah dengan ayahandanya, ditinggal di negeri tandus yang kering kerontang, semuanya adalah lillah wafie sabilillah, dalam menjalankan perintah Allah seorang Ibrahim alaihissalam tidak ada kata tidak, bahkan dengan penuh keyakinan dan harapan serta optimisme ia bertawakkal pada Allah Ta’ala :

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ ۗ وَمَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّـهِ مِن شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ( ابراهيم: (38-37

Wahai Rab kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (37) Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS. Ibrahim:37-38)

Semangat ketaatan dan optimisme ini pula yang mengalir kepada istrinya Hajar, perhatikanlah riwayat berikut ini :

Diriwayatkan dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail dalam usia susuan menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas (bakal ) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah (kantong) air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, Ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’ Diulangnnya kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)

Demikianlah kepribadian istimewa dari suami istri ini dengan Rahmat dan Taufiq Allah juga mengalir pada anak keturunan mereka, di saat -saat sejuknya pandangan seorang Ayah melihat anaknya mulai tumbuh besar, ujian Allah pun datang lagi , tidak tanggung-tanggung, perintah untuk mengorbankan anak sendiri :

لَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS.as-Shaffat :102)

Demikianlah keluarga yang agung ini , meraih keagungan dan ketinggian derajatnya dengan tauhid, pengamalan aqidah dan ketaatan tiada henti atas setiap titah Ilahi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Allahu akbar walillahil hamd.

Akan tetapi ternyata Allah Maha Kasih dan Sayang kepada ayah dan anak ini dan mendapat pengakuan Allah sendiri tabaraka wataa’la:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103) Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107) Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108) (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. (109) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. “.(QS.as-Shaffat :103-110)

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang semoga dimuliakan Allah

Alangkah rindunya kita untuk mewujudkan keluarga seperti keluarga Ibrahim alaihissalam, alangkah rindunya kita dengan istri seperti Hajar alaihassalam, yang dengan tegar menggendong anaknya yang masih bayi, hanya berbekal sekantong korma dan sedikit air, di tanah asing, tiada berpenghuni, tandus tiada tetumbuhan… Namun dengan lugas bertanya kepada suami tercinta AALLAHU AMARAKA BIHADZA ? ketika sang suami menjawab ;Ya, maka saat itu pula iman dan tawakkal itu menyata dengan perkataannya :Idzan la yudlayyi’unaa – jika demikian Ia tak menyia-yiakan kami.

Seorang istri da’i dan pejuang seharusnya selalu menjadikan momentum ini segar di pelupuk matanya, selalu hidup dalam catatan batinnya, bahwa istri pejuang harus tegar setegar Hajar, yang lebih tegar dari batu karang… dan jangan sampai justru menjadi penghalang suami memenuhi panggilan suci berjuang dan berdakwah di jalanNya.

Namun sebelum itu tentunya seorang suami da’i dan pejuang harus pula menorehkan sejarah Ibrahim ini dalam sanubarinya, agar terpatri pada jiwa semangat ketaatan dan optimisme serta qawwamah (kepemimpinan) yang mumpuni dengan izin Allah Ta’ala.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang semoga dimuliakan Allah

Mengambil pelajaran dari Ibrahim dan keluarganya adalah berarti belajar untuk taat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah , dan inilah yang seharusnya menyertai kita setiap saat, semangat selalu mawas diri dari penyimpangan- penyimpangan dalam beragama, tidakkah kita perhatikan parade penyimpangan mulai dari tataran aqidah, hingga moral dan akhlak seakan disambut oleh alam ini dengan parade bencana dan musibah?

Negeri yang indah ini, dengan laut, gunung, sungai dan airnya, tidaklah melainkan makhluk-makhluk Allah yang taat, yang selalu bertasbih dan memuji Allah Tabaraka wata’ala:

سَبَّحَ لِلَّـهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١﴾

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.as-Shaf :1)

Isyarat alam ini seakan memberi kita pesan bahwa bumi makhluk Allah ini enggan berjalan di atasnya manusia-manusia congkak dan durjana.

Sudah tiba masanya kita kembali mengintrospeksi diri, secara individu dan kolektif, sejauhmana kita melangkah jauh dari yang seharusnya….

Namun……

Ketika musibah datang dan sebagian penduduk negeri ini justru semakin merapat kepada kesyirikan dan takhayul,

Ketika musibah datang justru datang pula sokongan dan dukungan pada nabi-nabi palsu dan para pengikutnya seperti Ahmadiyah dan Qadiyaniyah,

Ketika musibah datang justru celaan, kecaman, dan bahkan pengkafiran pada generasi terbaik umat ini (Sahabat Rasulullah )menyelip dan menikam dari belakang oleh kaum Syi’ah Rafidlah

Ketika musibah datang menjelang sebagian kita bahkan dengan bangga memamerkan kedurhakaannya pada Allah, menginjak-injak harga diri dan kehormatannya sendiri.

Sungguh ini adalah musibah di atas musibah !

Wallahul musta’an

Jalan keluar tiada lain dan tiada bukan adalah kembali bertobat, kembali menapak tilasi perjalanan juang Ibrahim dan para keluarganya, menapak tilasi perjuangan Nabi dan Rasul akhir zaman Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yang Ibrahim alaihiissalam berdoa untuk kehadirannya.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة: 129)

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seseorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Baqarah:129)

Ya… bertobat, dan Ibrahim sendiri bertobat walau ia seorang khalilullah (kekasih Allah):

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (البقرة: 128)

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. al-Baqarah:128).

Mawas diri dari kesyirikan dan penyimpangan aqidah adalah sikap mukmin sejati, bukankah Ibrahim sendiri khawatir dan minta perlindungan Allah dari kesyirikan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ (ابراهيم:35)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.(QS.Ibrahim:35)

Kita tidak boleh lengah , setiap saat syaithan dan bala tentaranya siap menggelincirkan dan menjerumuskan kita.

Olehnya itu benteng aqidah harus berwujud pada keluarga kita, panji-panji tauhid harus terpancang dalam dan kuat pada diri, anak dan istri kita….semangat perjuangan harus selalu menggelora pada setiap dada anggota keluarga kita

Wahai para muslimah, ibunda dan saudari kita, bercerminlah selalu pada Hajar-alaihassalam yang tegar setegar hajar (batu), siap untuk berjuang dan mendampingi seorang suami pejuang dalam kondisi apapun, dan semangat perjuangan itu insya Allah akan dibalasi Allah dengan sejuknya mata memandang anak-anak anda berbaris rapi dalam shaf perjuangan

Wahai para pemuda , jadilah “Ismail-ismail” zaman ini, yang ditempa dalam perjuangan, di dalam keluarga pejuang, bahkan anda lahir dari rahim perjuangan…bersiaplah untuk berkorban di jalan perjuangan ini….”korbankanlah” beberapa kesenangan masa muda untuk memmpuh jalan perjuangan ini, percayalah kelezatan berjuang jauh lebih nikmat daripada kenikmatan semu fatamorgana dari hiruk pikuknya dunia kemaksiatan dan penyimpangan….

Munculkan semangat dan kekuatan Ismail di zaman kini. Jadilah generasi pendobrak yang memiliki prinsip hidup yang kokoh di jalan taqwa. Bukan generasi latah yang menjadi korban situasi dan kondisi. Dan bukan generasi yang mudah terombang ambing kemana angin berhembus. Jadilah Ismail baru yang mewarisi semangat tauhid dan keteguhan diri dalam menerima semua titah perintah Allah. Sekalipun nyawa adalah taruhannya.

Dan anda wahai para bapak dan suami, bercerminlah pada Ibrahim bagaimana ia menjadi kepada keluarga teladan, didiklah keluarga anda dengan tidak pantang menyerah, usaha anda yang tidak pantang menyerah adalah bagian dari perjuangan itu sendiri…..lihatlah Nuh alaihissalam, hingga detik terakhir masih saja menyeru anaknya untuk kembali ke jalan yang benar.

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.(QS. Hud:42)

Namun Akhirnya kita kembalikan semuanya kepada Allah yang menggenggam hati semua hambaNya.

Dan kepada para pemimpin negeri yang indah mempesona ini, ingatlah bahwa setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban akan apa yang dipimpinnya.

Ingatlah ketika bencana dan musibah datang bergelombang, bahwa semua itu adalah pengingat dari pemilik hakiki negeri ini dan setiap jengkal bumi dan langit untuk kembali bertahkim kepada ajaran yang diturunkanNya,firman Allah Ta’ala

وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الأعراف:168)

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS.al-A’raf:168)

Pertegas keberpihakan anda pada kebenaran, keadilan, dan jangan justru semakin menggandeng penggusung kezaliman dan keangkara murkaan…kami percaya anda sanggup dan mampu untuk itu, dan kami berdoa agar Allah memberikan Hidayah dan InayahNya

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Dalam kesempatan ini pula kita mendoakan saudara-saudara kita yang sedang berjuang menegakkan rukun Islam kelima dengan haji ke Baitullah, agar menjadi haji yang mabrur dan selamat kembali di tanah air, berkumpul kembali dengan sanak saudara..

Dan bagi kita di sini yang melakukan Idul Qurban dan penyembelihan hendaknya senantiasa memperhatikan tuntunan syari’at dalam pelaksanaannya; maka hewan yang sah untuk dikurbankan adalah sapi yang usianya genap dua tahun atau kambing yang genap satu tahun. Jika kambing dengan umur satu tahun sulit didapatkan, maka tidak mengapa berkurban dengan domba yang genap berusia enam bulan. Tidak boleh berkurban dengan hewan yang jelas buta sebelah matanya (picak), atau pincang dengan kepincangan yang jelas, atau sakit yang jelas, atau hewan yang sangat kurus.

Dan seekor sapi atau unta boleh disembelih untuk tujuh orang.

Sebaiknya orang yang berkurban itu menyembelih hewan kurbannya sendiri, namun tidak mengapa mewakilkannya dengan syarat tidak mengupah penjagal itu dari hewan kurban, baik dengan memberikan kulit atau dagingnya. Penyembelihan dimulai setelah khutbah dan berakhir tiga hari sesudah hari Idul Adha. Daging sembelihan dapat dibagi tiga; sepertiga untuk dikonsumsi, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan jiwa, dan menyerahkan seluruh diri ini untuk memohon dan berdoa kepada Allah azza wa Jalla. Semoga doa kita menjadi catatan akan ketundukan kita pada Allah azza wajalla, dan Dia berkenan menerima dan mengabulkannya.

Rabbana, kami tidak berhenti dan tidak akan berhenti untuk menghadap-Mu, memohon ampunan-Mu, meminta belas kasih-Mu yang luasnya meliputi segala sesuatu.

Ya Allah, dosa kami begitu berlimpah. Rasanya tiada hari yang terlalui tanpa kesalahan pada-Mu. Dosa-dosa kami sudah terlalu banyak. Jika Engkau tak mengampuni kami, maka siapakah lagi yang akan mengampuni dan menutupinya selain Engkau ya Allah, Wahai Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. Maka ampunilah, ampunilah, ampunilah diri-diri ini, ya Allah.

Rabbana, Engkau pasti Maha Tahu betapa banyak salah dan dosa kami kepada kedua orangtua kami. Betapa banyak hak mereka yang tak sempat kami tunaikan. Ya Allah, sungguh kami mohon ampunilah dosa dan kedurhakaan kami kepada mereka. Limpahkanlah Rahmat-Mu tak henti-hentinya untuk mereka. Ampuni segala kekurangan mereka sebagai hamba-Mu. Jika Engkau masih izinkan kami bersama mereka dalam kehidupan ini, beri kami kesangupan untuk berbakti pada mereka bersama menikmati Tauhid dan iltizam di Jalan-Mu, namun jika kematian memisahkan kami jadikanlah pertemuan kami di Jannah-Mu kelak menjadi pertemuan terindah anak dan orangtunya.

Rabbana, berikan kami kekuatan untuk mengubah kondisi kami dengan izin-Mu menjadi jauh lebih baik dan gemilang. Limpahkan kepada kami kekuatan tekad untuk menjadi umat yang kuat dan tegar menegakkan keadilan dan menumbangkan kezhaliman.

Ya Allah, berikanlah pertolonganMu pada saudara-saudara kami para pejuang Islam di Palestina, Irak, Afganistan dan dimana pun mereka berjuang menegakkan kalimat -Mu.

Wahai Rabb kami, limpahkanlah kedamaian dan keamanan untuk negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin di penjuru dunia. Lindungilah kami dan semua saudara kami dari makar dan muslihat musuh-musuh-Mu, ya Allah.

Wahai Rabb Penguasa langit dan bumi, pemilik sejati laut dan gunung Raja diraja semesta alam, semua nya dalam genggaman-Mu, lindungilah kami dari segala marabahaya dan bencana, janganlah engkau hukum kami disebakan keponggahan dan kebodohan sebagian dari kami.

Wahai Rabb yang menggenggam segenap hati hamba-hambaNya, satukanlah hati kami dalam ketaatan pada-Mu, persatukan jiwa kami dalam berjuang di jalan-Mu, hilangkanlah segala benci, iri, dengki, dan sangka buruk di antara kami.

Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersaudara dan saling mencintai dan mengasihi demi Engkau ya Allah, janganlah dosa menjadi sekat penghalang cinta dan sayang di antara kami.

Rabbana, karuniakan kepada kami para pemimpin yang selalu takut kepadaMu. Jangan Engkau berikan pendamping-pendamping yang berhati busuk kepada mereka yang menyebabkan mereka menzhalimi kami. Ya Allah, limpahkanlah Hidayah-Mu kepada mereka untuk selalu mengambil keputusan yang sesuai dengan Keridhaan-Mu.

Rabbana, Engkaulah yang Maha Mengetahui kapan jiwa ini meninggalkan raga. Jika kelak Engkau menakdirkan usia ini berakhir, maka karuniakanlah ia husnul khatimah dan berakhirnya segala dosa dan kedurhakaan

Ya Allah. Berilah kami kesempatan untuk menutup kehidupan kami di dunia ini dengan kalimat Tauhid-Mu nan suci: La ilaha illallah.

Rabbana inilah doa dan munajat kami-hamba-Mu yang tiada berdaya ini kepada-Mu, dan kami hanya dapat meminta dan berdoa, sedang Engkau adalah Rabb yang Maha Kuasa mengabulkan segala doa dan permintaan, maka kabulkanlah ya Allah Amin. Amin. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sumber: Khutbah Seragam DPP Wahdah islamiyah

Empat Pelajaran dari Keteladanan Nabi Ibrahim

Empat Pelajaran dari Keteladanan Nabi Ibrahim

Setiap memasuki bulan Dzulhijjah (Idul adha), memori sejarah kita kembali membuka dirinya. Ia mengajak kita mengenang kembali satu manusia agung yang menciptakan arus besar sejarah ummat manusia dan membentuk arah kehidupan kita. Dialah Ibrahim ‘alaihissalam, salah seorang Rasul Ulul Azmi.

Ada dua keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim. Pertama, beliau adalah seorang Nabi yang disebut Allah sebagai “ummat”. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat (imam) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” [QS. al-Nahl: 120].

Yang kedua, Allah juga menyebut Ibrahim sebagai qudwah, teladan. Dalam Al Qur’an, hanya dua sosok yang disebutkan secara tegas sebagai teladan, yaitu Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam (QS al Ahzab: 21) dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (QS Al Mumtahanah: 4).

Atas dua pertimbangan tersebut, kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi sangat penting diperhatikan. Banyak hal yang dapat diteladani dari kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Artikel ini akan menguraikan empat hal yang hendaknya diteladani dari kehidupan Nabi bergelar khaliilullah (kekasih Allah) tersebut.

Pertama, Ketundukan secara Total kepada Ketentuan Allah

Nabi Ibrahim diperintahkan Allah membawa keluarganya ke Makkah yang saat itu belum dihuni seorang manusia pun. Beliau bersama anak dan istri tercinta menempuh jarak yang tidak dekat. Namun rasa penat belum lagi hilang, keringat belum mengering, beliau diperintahkan Allah pergi meninggalkan keluarganya di lembah tandus tak berpenghuni.

Beliau pergi dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah. Sikap taat ini tidak hanya dimiliki Ibrahim, tetapi tertanam pula di dalam sanubari sang istri dan mengalir dalam darah dan daging sang anak, Ismail ‘alaihissalam.

Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki seorang Muslim. Senantisa tunduk dan patuh kepada setiap perintah Allah. Inilah hakikat dan bukti komitmen keislaman kita. Sebab, hakikat Islam adalah ketundukan secara total kepada sang Pencipta. Seorang Muslim ketika berhadapan dengan perintah Allah, maka yang terbesit dalam pikirannya adalah usaha menunaikan perintah tersebut.

Kedua, Konsistensi dalam Memegang Prinsip

Ibrahim ‘alaihissalam adalah teladan dalam keteguhan memegang prinsip dan aqidah yang diyakininya. Demi mempertahanan keyakinannya, beliau berhadapan dengan seorang penguasa dzalim yang memaksakan pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Bahkan beliau dilemparkan ke dalam kobaran api,sebagai balasan yang harus beliau rasakan setelah menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya.Ibrahim melakukan hal itu dalam usia yang masih sangat muda. Hal ini sebagaimana diabadikan dalam ayat Al Qur’an: ”Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim (QS Al Anbiya :58-60).

Ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim tidak hanya berasal dari luar. Bahkan ujian dalam keluarga juga menjadi bagian dari cobaan yang harus dilewati oleh Ibrahim ‘alaihissalam dalam mempertahankan dan memperjuangkan idealisme aqidah tauhid.

Dalam ayat Al Qur’an Allah mengabadikan dialog antara Ibrahim dengan ayahnya yang penyembah bahan pembuat berhala. Azar, ayah Ibrahim, mengancam akan merajam Ibrahim jika beliau tidak menghentikan da’wah tauhidnya. Dialog tersebut dapat kita baca dalam QS:Maryam: 46.

Ibrahim adalah sosok yang teguh mempertahankan idealism,bukan hanya disaat masih muda. Tetapi beliau terus mempertahankan idealismenya higga usia tua bahkan sampai mati.Hal tersebut Nampak dengan jelas ketika beliau mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putra tercinta ,Ismail ,anak satu-satunya yang telah dinantikan kehadirannya semenjak bertahun-tahun. Ibrahim ‘alaihissalam menaati perintah Allah tersebut yang secara psikologis terasa lebihberat dari sekadar meluluhtantakkan berhala. Ini membuktikkan kepada kita Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua.

Inilah yang sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa ini. Jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya mengkritik system tetapi diusia tuanya menjadi bagian dari siste rusak yang dahulu sewaktu Mahasiswa selalu dikrtiknya.Jangan sampai ada aktivis pegrerakan yang getol menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justeru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi, padahal dahulu sangat ditentangnya.

Sebagai pemuda dan mahasiswa muslim hendaknya meneladani Nabi Ibrahim dalam mempertahankan keyakinan. Bersabar saat diuji dengan kesulitan dan bersabar pula tatkala duji dengan kemudahan dan kemewahan. Banyak orang yang sanggup bertahan ketika diuji dengan kesulitan, tetapi tidak berdaya saat diuji dengan kemudahan. Sering kita dengar, mantan aktivis organisasi mahasiswa menjadi pragmatis setelah hidup mapan. Padahal sewaktu kuliah mereka dikenal sebagai aktivis dengan idealisme yang kokoh.

Sewaktu menjadi anggota “parlemen jalanan” mereka begitu vocal menyampaikan kritik terhadap penguasa,tetapi ketika menjadi anggota parlmen sungguhan ,mereka justru mengamini bahkan mendukung berbagai kebijakan penguasa yang tidak memihak kepada kepentingan ummat.Padahal dahulu merekalah yang paling nyaring suaranya mengkritik hal tersebut.

Mari renungkan peringatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidziy dalam Sunannya :

Janganlah kamu menjadi imma’ah (orang yang ikut-ikutan) dengan mengatakan kalau orang lain berbuat baik, kamipun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya” (HR. Tirmidzi).

Ketiga, Peka Problem

Ibrahim ‘alaihissalam adalah sosok yang peka problem. Ketika tidak ada orang yang peduli bahkan larut pada penyimpangan aqidah di masyarakat seperti menyembah bintang dan berhala, sensitifitas Ibrahim sebagai seorang yang bertauhid muncul. Ia bangkit mengubah penyimpangan aqidah tersebut.

Ditempuhnya berbagai macam cara dan sarana untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Ia berdialog dengan hikmah, debat dengan cara terbaik (ahsan) bahkan sampai melakukan tindakan secara fisik (mengubah dengan tangan). Patung-patung yang disembah kaumnya dengan kapak hingga hancur berantakan.

Sebagai pemuda dan mahasiswa Muslim yang memiliki idealisme, harusnya peka terhadap berbagai problem yang melanda Ummat Islam. Peka problem juga bermakna pemuda Muslim harus mampu mengendus problem paling krusial yang menimpa ummat.

Sesungguhnya problem paling pelik yang menimpa ummat Islam hari ini tidak berbeda dengan masalah yang dihadapi nabi ibrahim yaitu masalah kerusakan aqidah. Upaya perusakan aqidah tersebut diusung dengan jargon-jargon yang kelihatannya ilmiah.

Upaya dekontrusi syari’ah, liberalisasi, bahkan sampai desakralisasi kitab suci disebarkan dengan kemasan yang mengatasnamakan pembaharuan dan pencerahan.

Pemuda Muslim seharusnya berada di garda terdepan dalam menghadang berbagai upaya penodaan dan perusakan terhap Islam. Sebagaimana dahulu Nabi Ibrahim memberantas kerusakan aqidah di tengah-tengah ummatnya.

Keempat, Bertindak Cerdas

Ibrahim ‘alaihissalam telah memadukan antara sikap kritis dan peka problem dengan kecerdikan dalam bertindak. Sikap kritis tidak lantas membuat beliau bertindak tanpa perhitungan. Betul, beliau menghancurkan patung-patung yang disembah oleh Namruz dan rakyatnya. Tetapi beliau telah menyiapkan argumen yang cerdas untuk menjawab tuduhan dan tuntutan para penyembah berhala tersebut.

Beliau tidak menghancurkan semua patung yang ada. Beliau masih menyisakan satu patung yang paling besar dan meletakkan kapak di leher patung tersebut. Maksudnya adalah la’allahum ilaihi yarji’uun, agar mereka kembali kepadanya. Ibrahim hendak menghentak kesadaran mereka bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya keliru dan bertentangan dengan fitrah serta akal sehat.

Mereka kemudian tersadar bahwa sesembahan yang mereka ibadahi adalah Dzat yang tidak pantas untuk disembah. Berhala-berhala tersebut tidak sanggup memberi manfaat dan menolak mudharat. Berhala-berhala itu tidak kuasa membela diri ketika dihancurkan Nabi Ibrahim, bahkan hanya untuk sekadar berkata-kata. Jadi, Ibrahim tidak sekadar menghancurkan sarana kesyirikan, tetapi mengajak para pelaku kesyirikan untuk merenung mengakui kesalahan mereka. Wallaahu waliyyuttaufiyq.[Bogor 8/Dzulhijjah/1432 H]

(Dimuat di Eramuslim.com pada tanggal 11 dzulhijjah 1432 H)

Arafah, Hari Lahir Kembali

ARAFAH, HARI LAHIR KEMBALI...

ARAFAH, HARI LAHIR KEMBALI…

Esok sungguh istimewa.

9 Dzulhijjah.

Satu jejak hari yang ditakdirkan Allah untuk hadir

di bulan penghujung tahun.

 

Apakah ia akan menjadi akhir untuk sebuah awal terbaikmu?

Akankah 9 Dzulhijjah

menjadi kelahiranmu kembali?

 

Pada 9 Dzulhijjah

Allah titipkan ampunanNya

untuk jejak kelas dosamu

yang berserakan

di jejak hidupmu setahun lalu

yang kekal di tahun hadapan.

 

Rugi sungguh merugi.

Bodoh sungguh bodoh.

Jika engkau lewatkan ia

tanpa jejak taqwa

meski sekedar menahan lapar dan sedikit dahaga.

 

Berpuasalah esok.

Taburi dengan dzikir dan doa.

Hiasi dengan sedekah.

Kunci dengan lisan yang terjaga.

Engkau akan lahir kembali.

Mengawali jejak hidup dengan nafas baru yang indah.

 

 

(Titip doa tak putus

untuk Lombok tercinta…)

 

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

Keagungan dan Keutamaan Hari Arafah

Keagungan dan Keutamaan  Hari Arafah

Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) saat jama’ah haji wuquf di padang Arafah merupakan hari agung dan mulia. Sebab dia merupakan puncak dari ritul ibadah haji, hari disempurnakannya nikmat Islam, dan hari Raya bagi Jama’ah haji serta hari pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka. Saking agung dan mulianya Allah bersumpah dengannya.

Keagungan dan keutamaan hari Arafah seperti disebutkan di atas berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam yang akan dijelaskan secara singkat berikut ini.

  1. Hari ‘Arafah merupakan hari disempurnakannya Agama dan Nikmat Allah

Dalam shahihain terdapat satu hadits, Ada orang Yahudi mengatakan kepada Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, wahai Amirul Mukmin. Ada satu ayat di Kitab yang kamu baca. Kalau diturunkan kepada kami, pasti kami jadikan hari itu sebagai hari raya. ”Ayat apa itu?” tanya Umar. Dia menjawab (membaca surat Al-Maidah ayat 3);

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (سورة المائدة :3)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS. Al-Maidah: 3

Umar mengatakan, “Sungguh kami telah mengetahui hari itu, dan tempat dimana diturunkan kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam saat beliau sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Hari Arafah Adalah Hari Raya Bagi Jama’ah Haji Yang Berwukuf

Bagi jama’ah haji hari ‘Arafah yang merupakan puncak ibada haji sekaligus hari raya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(وم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام ، وهي أيام أكل وشرب  (رواه أهل السنن

Hari Arafah, hari nahr dan hari-hari tasyriq adalah hari raya kami orang Islam, ia adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahlis sunan).

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa beliau mengatakan, “Ayat ini (Al-Maidah:3) diturunkan pada hari Jumat di hari Arafah. Keduanya menjadi hari raya bagi kami alhamdulillah”.

  1. Allah Bersumpah dengan Hari Arafah

Allah bersumpah dengan hari ‘Arafah. Ini menunjukan kemuliaan dan keutamaan hari Arafah. Karena Allah tidak bersumpah kecuali dengan yang agung dan mulia. Dalam Al-Qur’an Allah menyebut hari ‘Arafah sebagai hari yang disaksikan, Allah Ta’ala berfirman;

وشاهد ومشهود (سورة البروج :3

Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)

Abu Hurairah radhiyallahu anhu  mengatakan bahwa Nabi shallallahu aliahi wa sallam bersabda: “Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat, dan hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi dihasankan oleh Albani)

Sumpah Allah dengan hari Arafah juga terdapat dalam surah Al-Fajr ayat 3;

والشفع والوتر (سورة الفجر :3

“Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3)

Ibnu Abbas mengatakan, “Yang genap adalah hari Idul Adha dan yang ganjil adalah hari Arafah”.

  1. Puasa Pada Hari ‘Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun

Salah satu amalan yang disunnahkan pada hari ‘Arafah adalah berpuasa, yang dikenal dengan nama puasa ‘Arafah. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang besar, yakni menghapus dosa dua tahun.

Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda:

يكفر السنة الماضية والسنة القابلة  (رواه مسلم

“ Menghapus dosa tahun lalu dan tahun depan.” (HR. Muslim)

Puasa ini dianjurkan bagi selain jamaah haji. Bagi jamaah haji tidak dianjurkan berpuasa di hari Arafah. Karena Nabi shallallahu alaihiwa sallam tidak puasa di Arafah dan melarang berpuasa di hari tersebut.

  1. Allah Mengambil Sumpah Janji Kepada Keturunan Adam Pada Hari Arafah

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله أخذ الميثاق من ظهر آدم بنعمان – يعني عرفة – وأخرج من صلبه كل ذرية ذرأها ، فنثرهم بين يديه كالذر ، ثم كلمهم قبلا ، قال : ” ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين (172) أو تقولوا إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من يعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون (سورة الأعراف :172-173 ، رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah mengambil janji setia dari punggung Adam di Nikman (yakni Arafah)  dan mengeluarkan dari tulang rusuknya semua keturunan yang melanjutkannya. Dan disebarkan diantara kedua tangannya seperti biji. Kemudian semua ditanya seraya mengatakan: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS. Al-A’raf: 172-173, HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albany)

  1. Hari Arafah Merupakan Hari Pengampunan Dosa dan Pembebasan dari Neraka

Hari Arafah merupakan hari Pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Ummul Mukmiminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه عبدا من النار من يوم عرفة ، وإنه ليدنو ثم يباهي بهم الملائكة فيقول : ما أراد هؤلاء ؟  (رواه مسلم

“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka  di banding pada hari Arafah. Sesungguhnya Dia mendekat dan membanggakannya (di hadapan) para malaikat, seraya bertanya, “Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)

  1.  Pada Hari Arafah Allah Membangga-banggakan Penduduk Arafah

Pada hari Arafah Allah membangga-banggakan  jama’ah haji yang berkumpul untuk wuquf di  Arafah di hadapan para Malaikat.  Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله تعالى يباهي ملائكته عشية عرفة بأهل عرفة ، فيقول : انظروا إلى عبادي أتوني شعثا غبرا (رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk Arafah kepada malaikat-Nya pada siang Arafah, Seraya berfirman, “Lihatlah kepada hamba-Ku mereka datang dalam kondisi lusuh dan berdebu.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani).

Semoga kita memperoleh keberkahan hari yang mulia dan agung ini. Semoga kita memperoleh ampunanNya dan pembebasan dari neraka.  Wallahu a’lam. [sym].

Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

10 hari pertama bulan dzulhijah

Renungan Muslimah: Di Sisa 10 Hari Pertama Dzulhijah

Ukhti, kita masih di sini. Di detik-detik 10 hari pertama bulan Dzulhijah. Hari-hari di mana para pendahulu kita hampir tidak mematikan lampu penerangan di malam hari. Hari-hari di mana para pendahulu kita menghindari membahas hadits dhaif demi menjaga supaya tidak terjatuh pada perkataan yang tidak disukai oleh Allah. Hari-hari yang keutamaannya mengalahkan keutamaan berjihad kecuali orang tersebut berjihad dengan seluruh harta dan jiwanya dan dia kembali tanpa membawa sesuatu pun. Masya Allah buknkah sangat menggiurkan wahai ukhti, sayang jika dilewatkan begitu saja.

Ibarat musim, hari-hari ini adalah musim tanam yang paling bagus. Musim tanam yang perlu kita optimalkan untuk menebar benih kebaikan dan amal shalih supaya kelak kita bisa memperoleh hasil panen yang memuaskan dan menggembirakan.

Meski hari-hari ini tidak terkondisikan sebagaimana 10 hari terakhir bulan Ramadhan, mari kita ingat-ingat keutamaannya. Supaya hal ini menjadi cambuk bagi kita untuk berjuang keras dan berusaha meraihnya dengan berbagai amal kebaikan. Mari bergegas. Masih ada ribuan detik yang tersisa untuk kita berkesempatan meraih keutamaannya. Mari berpacu dan berlomba. Memaksa diri untuk tunduk pada ketaatan dan mengibaskan kemalasan. Agar kelak kita tidak menyesal wahai ukhti.

Ukhti, jangan sampai datangnya masa haidmu menjadikan dirimu kendor untuk berupaya meraih keutamaan yang dijanjikan. Masih banyak amal kebaikan di luar puasa dan shalat yang bisa engkau tegakkan. Perbanyak takbir mutlak  yang bisa kita lantunkan sejak awal 1 Dzuhijah hingga nanti menjelang berakhirnya hari tasyrik. Perbanyak dzikir dan shalawat. Sisihkan harta untuk bersedekah di jalan Allah. Perbanyak doa. Sediakan makanan berbuka bagi saudara kita yang menjalankan puasa. Banyak ukhti, masih banyak celah dan jalan yang bisa kita ambil. Ayo bergegas, selagi waktu dan kesempatan berpihak pada kita. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang meraih kemenangan. (ummisanti/aha)

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

(Depok) wahdahjakarta.com-, Bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia (1/08/2018), Muslimah Wahdah Wilayah (MWW) Jakarta dan Depok menggelar acara Semarak Dzulhijah di Kompleks Pesantren Al Hijaz Kelapa Dua Depok.  Acara ini dihadiri oleh 80 peserta dari beberapa daerah di Jakarta dan Depok.

Menurut Ketua Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta Ustadzah Rahmah Thamrin kegiatan ini digelar sebagai sarana silaturrahmi menambah pemahaman tentang keutamaan bulan Dzulhijjah. “Kami berharap acara ini dapat menjadi sarana silaturahmi muslimah dan sarana menambah pemahaman kita terhadap keutamaan bulan Dzulhijah. Juga sebagai sarana memupuk semangat pengorbanan”, ungkapnya.

Acara semarak Dzulhijah dibuka mulai pukul 8.30 dengan sesi game ta’aruf dan game cerdas tangkas sebagai acara pembuka. Acara selanjutnya merupakan materi inti yang disampaikan oleh Ustadzah Rahmawati Basarang dengan tema “Menggapai Indahnya Islam bersama Bulan Dzulhijah”.

Pada sesi terakhir sebelum penutupan, panitia melakukan orasi penggalangan donasi Qurban dan donasi dakwah.  Alhamdulillah pada sesi ini diperoleh donasi hewan Qurban 4 ekor kambing dan 5 bagian sapi. [yd/ed:sym].

Sepuluh Langkah Praktis Meraih Pahala di Hari Arafah

Sepuluh Langkah Praktis Meraih Pahala di Hari Arafah

Hari Arafah merupakan  hari yang utama. Bahkan lebih utama dari sepuluh ribu hari, sebagaimana dikatakan sahabat  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Hari Arafah juga merupakan hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka.  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diantara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. ” (Terj. HR. Muslim no. 1348).

Oleh karena itu seorang Muslim hendaknya berusaha meraih keutamaan hari yang mulia ini. Berikut ini sepuluh langkah meraih pahala di hari ‘Arafah yang mulia.

  1. Mengagungkan hari Arafah dengan mengingat keutamaan dan kedudukannya disisi Allah karena Allah Subhana wa Ta’ala telah bersumpah dalam firman-Nya:

( وَمَشْهُودٍ): dan yang disaksikan.

  1. Seorang Muslim hidup dengan hatinya, sebagaimana keadaan Nabi Shallahu Alahi wa Sallam shalat dan berkhutbah dihadapan manusia ketika wukuf di hari Arafah.
  2. Merasakan anugerah Allah dengan disempurnakannya agama Islam di hari Arafah dan dicukupkannya kenikmatan setelah cahaya yang agung dari ayat-ayat tauhid, kisah-kisah, dan hukum-hukum, dan juga merasakan bahwa hari Arafah adalah hari raya yang agung bagi orang islam.
  3. Merasakan kasih sayang Allah kepada manusia yang berada di Arafah: “Apa yang mereka inginkan? Lihatlah kepada hamba-hambaku, yang datang kepadaku dalam keadaan kusut dan berdebu“.
  4. Berniat sejak malam untuk puasa Arafah untuk menyempurnakan pahala, sebab puasa di hari itu menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan dosa satu tahun yang akan datang. Dan dimana lagi kita mendapatkan amalan di hari tersebut yang dapat menghapuskan dosa lebih dari 700 hari?
  5. Melakukan amalan saleh di hari Arafah seperti hari-hari yang lain dari 10 hari pertama dzulhijjah dan semua hari dalam setahun seperti:

* Shalat malam dan beristigfar pada waktu sahur.

* Shalat berjama’ah dan bersegera datang ke Masjid.

* Duduk setelah shalat subuh untuk berdzikir, bagi laki-laki di masjid dan perempuan di rumahnya.

* Mencurahkan diri dalam ketaatan dengan menunggu  shalat setelah shalat.

* Mengisi waktu dengan Al-Qur’an baik dengan tilawah, menghafal, memahami, mentadabburi dan mengajarkannya.

* Membaca dzikir pagi dan petang.

* Memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, secara mutlak kapan saja di 10 hari pertama dzulhijjah, dan dikhususkan pada akhir sholat setelah terbit fajar di hari arafah.

  1. Mengumpulkan syarat-syarat terkabulnya doa dan adab-adabnya mulai dari: ikhlas, harapan, yakin, husnuzon, bersungguh-sungguh dalam meminta, merendahkan diri, bersuci, menghadap kiblat, meminta dengan nama-nama Allah yang baik, doa-doa dari Al-Qur’an, nabi, dan kumpulan doa, mengakui dosa, meminta pengampunan, dan rahmat, mengangkat kedua tangan, mengulangi doa, dan bershalawat kepada Nabi Shallahu Alaihi Wasalam, serta berpakaian yang baik.
  2. Memanfaatkan waktu-waktu yang agung pada hari Arafah karena “(sebaik-baik doa, doa di hari Arafah)”, dan jangan sampai waktu-waktu yang berharga ini terlewatkan di tempat perbelanjaan atau sibuk mengendarai kendaraan di hari Arafah.
  3. Untuk Jama’ah haji memiki pahala yang banyak, dan untuk selain mereka punya pahala in syaa Allah bagi yang berdzikir di hari Arafah “(sebaik-baik doa, doa di hari Arafah dan sebaik-baik apa yang Aku (Rasulullah) katakan dan Nabi-nabi sebelumku

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, kerajaan dan pujian milik-Nya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu“.

Dan dari keutamaan (Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seorang hamba dari neraka adalah hari Arafah)

  1. Mengharapkan karunia Allah yang besar dan luasnya kasih sayang-Nya. Dan keutamaan hari Arafah bagi siapa yang berada di Arafah dan yang tidak di arafah masih mendapatkan keutamaan hari Arafah, dan sesungguhnya keutamaan ada pada hari itu, dan keutamaan berdoa yang bersifat umum untuk para haji dan selain mereka, tetapi siapa yang berada di Arafah maka dia telah mengumpulkan antara keutamaan tempat dan waktu.

Dan pembebasan dari api neraka di hari Arafah umum untuk semua kaum Muslim. sebagaimana yang dikatakan Ibn Rajab Al-Hambali “Siapa yang wukuf di Arafah dan siapa yang tidak wukuf di Arafah dari kalangan kaum Muslim”.

Ya Allah, rahmatilah kami, dan ampunilah kami, dan masukkanlah kami ke Surga, dan lindungilah kami dari azab neraka, wahai yang Maha Pengampun. [ed:sym].

Sumber: 10 Khuthuwat ‘Amaliyah Lis Titsmar Yaum ‘Arafah al-‘adzim Oleh Syaikh Al-Munajjid, Alih Bahasa Oleh: Muttazimah

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١[

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman;

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ [ ٥٦:١] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [٥٦:٢] خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [٥٦:٣]

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (Qs. Al Waqiah 1-3).

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak selayaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidur. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggikan dan menurunkan timbangan orang banyak. maksud Al-Khafidz adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkakan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina. Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang-orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Maksud Al-Khafidh adalah meninggikan para Wali Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong mereka dalam melawan musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendakiNya di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinggi. Seringkali  Al-Khafidh disebutkan bersamaan dengan Ar-Rafi’ sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan dan merendahkan hamba-hambaNya sesuai dengan hikmahNya . (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).