Hadits Puasa [10]: Larangan Berkata dan Berbuat Dusta Ketika Puasa

Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta

wahdahjakarta.com| Orang yang berpuasa hendaknya tidak hanya meninggalkan pembatal puasa. Tapi seyogyanya juga meninggalkan perkataan dan perbuatan yang mengurangi kesempurnaan bahkan menggugurkan pahala puasa. Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ;

  قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بهِ والجهْلَ فَلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشرابَهُ” رواهُ البُخاريُّ وأبو دود واللفظ له

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Baragsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak sudi sedikitpun menerima puasanya, meskipun dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Hadits ini merupakan dalil tentang haramnya pekataan dan perbuatan dusta serta perbuatan sia-sia saat berpuasa. Hadits ini juga menunjukan bahwa dusta menyebabkan puasa ditolak dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Ash Shiyam Hadits Nomor: 631.

Hadits Puasa [9] :Anjuran Berbuka dengan Kurma

Anjuran Berbuka dengan Kurma

Kurma dan aAir Putih

Hadits Puasa [9]:Anjuran Berbuka dengan Kurma

wahdahjakarta.com| Salah satu anjuran dan sunnah Nabi dalam berbuka puasa adalah berbuka dengan kurma, sebagaimana dalam hadits berikut;

– وعَنْ سليمان بنِ عامر الضَّبِّيِّ – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أَفْطَر أَحَدُكُمْ فَلْيُفطِر على تمرٍ، فإن لَم يجدْ فَلْيُفطِر على ماءٍ فإِنّهُ طَهُورٌ” رواهُ الخمسة وصحَّحَه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم

Dari Sulaiman bin Amir Adh-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

Jika salah seorang diantara kalian berbuka puasa, hendaknya dia berbuka dengan kurma (tamr), jika tidak mendapatkan kurma maka berbuka dengan air karena dia suci”. (HR. Lima perawi hadits dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Hadits ini merupakan dalil tentang anjuran berbuka dengan kurma dan air putih, karena mengandung air (basah) dan gula (manis). Dalam riwayat Tirmidzi dan Nasai dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dinyatakan;

“كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يفطر على رطبات قبل أن يصلي، فإن لم يكن فعلى تمرات فإن لم يكن حسا حسوات من ماء”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum menunaikan shalat Maghrib. Jika tidak ada kurma basah (ruthab) beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering (tamar), jika tidak ada maka beliau meminum beberapa teguk air”. (HR. Tirmidzi dan Nasai).

Salah satu hikmanya adalah karena kurma mengandung glukosa dan air yang dapat mengembalikan kebugaran tubuh setelah seharian menahan lapar dan haus. Sehingga orang yang berbuka dengan kurma cepat pulih dari letih seharian.  [sym].

Wahdah Islamiyah Depok Tebar Takjil di Dua Kelurahan

Wahdah Islamiyah Depok Tebar Takjil di Dua Kelurahan

(Depok) wahdahjakarta.com| Dalam rangka berbagi kebahagiaan di bulan suci, Selasa (23/05/2018) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Depok bekerjasama dengan Lazis wahdah Jakarta menggelar tebar takjil di dua kelurahan di Kecamatan Cimanggis dan Sukmajaya Depok Jawa Barat.

Menurut Ketua DPD Wahdah Islamiyah Depok Ustadz Arofah Syarifuddin, tebar takjil yang dilaksanakan pada Selasa (23/05) kemarin baru gelombang pertama. “Tebar ifthor (takjil) Ramadan DPD WI Depok gelombang pertama pada Selasa 23 mei 2018 bertepatan dengan 7 ramadan di beberapa lokasi perkampungan kumuh,  kali ini di kelurahan Tugu, Kecamatan  Cimanggis dan kelurahan Bakti Jaya kecamatan Sukmajaya, para pemulung, pedagang asongan dan bensin eceran”, ungkapnya kepada wahdahjakarta.com.

“Tebar ifthor (takjil)  ini InsyaAllah akan dilakukan 3 hari sekali kepada masyarakat sekitar, dan InsyaAllah setiap hari untuk anak yatim dhuafa santri-santri penghafal Alquran”, imbuhnya.

Da’i muda yang juga pimpinan Yayasan Al-Hijaz al-Khairiyah ini menambahkan bahwa meskipun hujan deras mengguyur, tapi tidak menyurutkan langkah para relawan untuk berbagi kebahagiaan kepada mereka. “Masyarakat  yang menerimapun sangat senang dan mengucapkan terima kasih hingga berulang kali”, tambahnya.

Wahdah Islamiyah Depok Tebar Takjil di Dua Kelurahan

Wahdah Islamiyah Depok Tebar Takjil di Dua Kelurahan

Kegatan ini merupakan salah satu dari program tebar Ifthar Nusantara dan Ramadhan Ukhuwah yang digelar Wahdah Islamiyah secara nasional. Program lainnya adalah Tebar Sembako Nusantara, Tebar Al Quran Nusantara, Kado lebaran Yatim, Bingkisan Lebaran Dai, dan Tebar Mukena Nusantara.

Khusus program tebar takjil (ifthor) Wahdah menargetkan 100.000 paket secara nasional. “DPD Wahdah Islamiyah Depok sendiri menargetkan 2000 paket insyaAllah”, tandas Arofah. [sym].

Keutamaan Bulan Ramadhan [4]: Lailatul Qadr yang Lebih Baik dari 1000 Bulan

Wahdahjakarta.com| Ketika menyampaikan kabar gembira akan kedatangan Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa keutamaan bulan Ramadhan. Diantaranya, pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam tersebut dikenal dengan sebutan Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، …… ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ”

Ramadhan telah mendatangi kalian. Bulan yang penuh berkah. Allah memfardhukan kepada kalian berpuasa pada bulan ini. …… Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sesiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka terhalangi dari kebaikan”. (Terj. HHR. Nasai).

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ [٩٧:٣]تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ [٩٧:٤]سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ[٩٧:٥

Lailatul Qadr (malam kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al Qadr: 2-5)

Para ulama telah menghitung bahwa seribu bulan kurang lebih 83 tahun. Dalam kitab Al-Muwatho karya Imam Malik ada satu riwayat dengan Sanad mursal, bahwa diperlihatkan kepada Rasulullah umur manusia sebelum beliau. Maka seakan-akan beliau merasa umur umatnya terlalu pendek tidak sampai menyamai amal umat yang panjang umurnya, sehingga Allah memberinya Lailatul Qadri yang lebih baik dari seribu bulan.Sungguh, ini merupakan keutamaan yang agung jika seorang hamba Allah mendapatkan malam Lailatul Qadri sehingga ini terhitung mendapatkan keutamaan 83 tahun atau lebih. (Pembahasan selanjutnya tentang lailatul qadri akan diulas pada pembahasan tersendiri insya Allah). [sym].

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Wahdahjakarta.com|  Salah satu sunnah dalam puasa adalah anjuran makan sahur. Dalam satu sabdanya Nabi menganjurkan untuk makan sahur karena dalam makan sahur terdapat berkah.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وعنْ أَنس بنِ مَالكٍ – رضي الله عنه – قال: قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “تَسَحَّرُوا فإن في السَّحُورِ بركةً” مُتّفقٌ عَلَيه.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Makan sahurlah kalian, karena dalam makan sahur itu terdapat berkah”. (Muttafaq ‘alaihi).

Hadits ini menunjukkan anjuran makan sahur sebagai bentuk mengikuti tuntunan Sunnah Nabi dan menyelisihi ahli kitab serta memperkuat fisik dalam beribadah serta melakukan aktivitas lainnya saat menjalani puasa.

Makan sahur merupakan satu Sunnah dan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makan sahur juga sekaligus merupakan bentuk mukhalafah terhadap ahli kitab yang berpuasa tanpa makan sahur. Dalam salah satu hadistnya Nabi mengabarkan bahwa diantara pembeda antara puasa kita dengan puasa kalangan ahli kitab adalah makan sahur.

Keberkahan makan sahur juga berupa do’a Malaikat dan rahmat Allah kepada orang yang makan sahur. Sebagaimana dikabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain bahwa:

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur.”

Shalawatnya Allah bermakna pujian dan rahmat. Artinya Allah memuji dan merahmati orang-orang yang makan sahur. Sedangkan shalawatnya Malaikat berarti do’a dan permohonan ampun. Maknanya Malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan untuk orang yang makan sahur.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti agar santap sahur ini tidak ditinggalkan sama sekali. Minimal memakan sebutir kurma dan atau meminum seteguk air. [sym].

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah 

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah 

Kurma dan Air Putih

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah

wahdahjakarta.com| Menu makan sahur dan buka puasa Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam sangat sederhana. Yaitu hanya berupa ruthob (kurma basah), atau tamr (kurma kering), atau air putih. Sebagaimana diterangkan dalam banyak hadits, diantaranya;

Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كان النبي يفطر قبل أن يصلي على رطبات فإن لم تكن رطبات فتميرات فإن لم تكن تميرات حسا حسوات من الماء

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa sebelum melakukan sholat magrib dengan ruthob, jika tidak ada ruthob (kurma basah)maka beliau berbuka dengan beberapa butir tamr(kurma kering) dan jika tidak ada tamar maka beliau meminum beberapa teguk air putih”. (HR. Tirmidzi: 696).

Hadits di atas menunjukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthob, jika tidak ada ruthob, maka beliau berbuka dengan tamr, dan jika tidak ada maka beliau berbuka dengan meneguk beberapa teguk air. Hal ini sekaligus menunjukan bahwa jika ketika seseorang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa untuk berbuka puasa maka dia berbuka dengan makanan apa saja yang halal, jika ia tidak mendapatkan apa-apa juga maka dia meniatkan saja untuk berbuka, karena siapa yang berniat buka puasa maka terhitung telah berbuka berpuasa.

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sahur dan Berbuka dengan Kurma dan Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah  Read more http://wahdahjakarta.com/berbuka-dengan-kurma-dan-air-putih-sederhana-tapi-sehat-dan-berkah/

نعم سحور المؤمن التمر

Sebaik-baik (menu) makan sahur seorang Mu’min adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud: 23345).

Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘a’aihi wasallam berkata kepadaku -dan saat itu ketika sahur-;

يا أنس إني أريد الصيام أطعمني شيئا، فأتيته بتمر وإناء فيه ماء وذلك بعدما أذن بلال

Wahai Anas, sesungguhnya aku ingin puasa, berikanlah sesuatu makanan padaku.” Maka aku datang kepadanya dengan tamar dan segelas air dan itu setelah Bilal mengumandangkan adzannya.” (HR. An Nasai: 2167).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

تسحروا ولو بجرعة من ماء

Bersahurlah!meski hanya dengan –meminum-seteguk air”. (HR. Ibnu Hibban, No. 3476).

 

Kurma & Air Putih; Sederhana Tapi Sehat dan Berkah

Mungkin sebagian orang akan bertanya. Ngapain harus berbuka dengan kurma atau air putih? Bukankan masih banyak menu makanan dan minuman yang lebih bergizi? Mungkin sebagian orang lebih memilih berbuka puasa dengan minuman suplemen.

Namun bagi seorang Muslim yang komitmen mengikuti dan meneladani Rasul (ittiba’ dan iqtida) selalu yakin bahwa sebaik-baik petunjuk dan resep adalah yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkait berbuka dengan air putih dan kurma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terangkan bahwa masing-masing dari keduanya suci dan mengandung berkah. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Salman ibn ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر فإنه بركة فإن لم يجد تمرا فالماء فإنه طهور

Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Berkah artinya kebaikan yang banyak dan langgeng. Orang yang berbuka dengan kurma akan memperoleh berkah, berupa pahala dan kebaikan yang banyak. Diantara berkah berbuka puasa dengan kurma adalah mendapatkan khasiat yang terkandung dalam kurma.

Kurma mengandung dzat-dzat penting dibutuhkan setelah seharian lambung kita kosong tidak terisi oleh makanan dan minuman. Karena itu, saat berbuka puasa, organ pencernaan kita (khususnya lambung) membutuhkan sesuatu yang lembut agar dapat bekerja kembali dengan baik. Jadi, makanan yang masuk harus yang mudah dicerna serta mengandung gula dan air dalam satu makanan. Tidak ada makanan yang mengandung gula dan air yang lebih baik daripada yang disebutkan oleh hadits Rasul. Nutrisi makanan yang paling cepat bisa dicerna dan sampai ke darah itu adalah zat gula, terlebih makanan yang mengandung satu atau dua dzat gula. Dan itu terdapat dalam kurma.

Dr. Hissam Syamsi Basya dalam tulisannya sebagaimana dikutip dalam eramuslim.com menjelaskan, berdasarkan penelitian biokimia, satu kurma yang kita makan itu mengandung air 20-24%, gula 70-75%, 2-3% protein, 8,5% serat, dab sedikit sekali kandungan lemak jenuhnya (lecithine). Lain lagi dengan kurma Ruthob yang mengandung 65-70% air, 24-58% zatgula, 1,2-2% protein, 2,5% serat, dan sedikit mengandung lemak jenuh.

 

 Harus Ganjil?

Apakah yang disantap saat berbuka puasa harus berjumlah ganjil? Tidak ada keterangan yang menunjukan dianjurkannya berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil. Yang ada keterangannya adalah berkenaan dengan shalat ‘idul Fithri. Diriwayatkan bahwa sebelum berangkat ke tempat shalat idul Fithri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan kurma dalam jumlah ganjil.

Untuk lebih jelasnya, kami sertakan fatwa Syekh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkenaan dengan hal itu:

Pertanyaan :

Saya pernah mendengar bahwa orang yang berpuasa wajib berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil, yaitu lima atau tujuh. Apakah hal tersebut (dalam jumlah ganjil) wajib ?

Jawaban :

Hal tersebut tidak wajib, bahkan tidak pula sunnah berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil; tiga, lima, tujuh, atau sembilan kecuali pada hari i’dul fithri. Telah ada hadits yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat melaksanakan shalat pada hari i’dul fithri sampai beliau makan beberapa kurma, dan beliau makan kurma dalam jumlah ganjil. Selain keadaan tersebut maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyengaja makan kurma dalam jumlah ganjil.  (Sumber:Fatwa Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah)

 Penutup & Kesimpulan

Dari penjelasan di atas diperoleh simpulan;

  • Sunnah ber-ifthar (buka puasa) dengan ruthob (kurma mengkal/basah). Jika tidak ada ruthab, maka dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada maka dengan air putih.
  • Berbuka dengan kurma dan air putih memiliki dua faidah sekaligus; yakni (a) memperoleh pahala karena mengikuti tuntunan Rasul, dan (b) memperoleh manfaat kesehatan, karena kurma mengandung air putih mengandung dzat yang sangat baik bagi tubuh.

Semoga Allah mengaruniakan taufiq untuk selalu mengikuti sunnah Nabi-Nya dalam setiap ibadah kita. (sym/wahdah.or.id)

Lazis Wahdah Gelar Buka Puasa Bersama Masyarakat Asmat Papua

Lazis Wahdah gelar Buka Puasa Bersama Masyarakat Asmat Papua

(Agast) wahdahjakarta.com| Memasuki hari kedua Ramadhan, program Tebar Ifthor Nusantara Wahdah Islamiyah mulai merambah ke kawasan paling timur Indonesia. Jumat (18/5), program ini menyapa masyarakat kota Agats di Kabupaten Asmat Provinsi Papua. Sebanyak 100 paket hidangan berbuka puasa disuguhkan di aula Masjid Agung Annur Kota Agats.

Ada puluhan muallaf dan masyarakat muslim yang hadir di kegiatan ini. Ilham, salah seorang muslim pribumi menuturkan rasa bahagianya bisa berbuka dengan masyarakat di tempat ini.

”Ada perasaan bahagia yang saya rasakan disaat kami duduk bersama tanpa pandang warna kulit dan status sosial. Apalagi Ramadhan tahun ini benar-benar berkah karena Masjid ini mulai ramai oleh jamaah,” ucapnya.

Selain program Tebar Ifthor Nusantara yang bakal digelar seantero penjuru nusantara, Wahdah Islamiyah khususnya di Asmat juga akan melaksanakan program safari Ramadhan antar pulau, program tebar seribu mukenah, dan masih banyak yang lainnya.

”Kami juga menyediakan perahu gratis untuk masyarakat Papua yang akan membantu mereka menyeberangi pulau. Juga akan mengangkut muslim pulau seberang selama Ramadhan untuk ikut di kegiatan buka puasa bersama di pusat kota, Agats. Perahu ini bisa juga dimanfaatkan untuk mereka ke pasar dan sebagainya,” ucap ustadz Abu Ukasyah, Relawan Kemanusiaan LAZIS Wahdah Papua.

Ia memperjelas jika perahu ini akan mengangkut warga muslim Asmat yang berasal dari pulau terluar ke Masjid Annur untuk tarawih bersama.

”Kita angkut mereka hari kamis dan baru pulang sabtu pagi,” tambahnya.

Program ini akan terus berlangsung selama bulan suci Ramadhan. Olehnya itu, kami mengajak kepada sahabat sekalian untuk menyisihkan sebahagiaan dari harta-harta kita untuk mereka. Mari layani dan kita berdayakan para dhuafa agar Ramadhan di tahun ini menjadi lebih berkah, aamiin. Donasi dapat Anda salurkan Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 776 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Ramadhan dan konfirmasi transfer ke 085315900900. []

Sumber : https://goo.gl/qj6G96

💌 LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

Semakin Dermawan di Bulan Ramadhan

Semakin Dermawan di Bulan Ramadhan

Semakin Dermawan di Bulan Ramadhan

Wahdahjakarta.com| Ramadhan adalah bulan kedermawanan. Pada bulan ini ibadah harta merupakan salah satu amalan utama. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sedekah paling afdhal adalah sedekah pada bulan Ramadhan”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah manusia palin dermawan, dan makin bertambah kedermawanan beliau pada bulan Ramadhan. Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril.

Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an di hadapannya.

Kedermawanan beliau tidak dapat dilepaskan dari pengaruh dan dampak mudarasah Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihis Salam.

Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih).

Keutamaan Bulan Ramadhan [3]: Ramadhan Bulan kesabaran

Keutamaan Bulan Ramadhan [3]: Ramadhan Bulan kesabaran

Ramadhan Bulan kesabaran

Keutamaan Bulan Ramadhan [3]: Ramadhan Bulan kesabaran

Ramadhan disebut pula sebagai bulan kesabaran. Sebab, ada suatu ibadah yang disyariatkan pada bulan ini, dimana kesabaran merupakan salah satu inti dari ibadah tersebut. Yakni ibadah puasa. karena tidaklah kesabaran bersemayam pada suatu ibadah seperti pada ibadah puasa. Dimana saat berpuasa, seorang muslim menahan diri dari makan, minum, jima’, dan lain-lain pada siang hari. Dan ini berlangsung sebulan penuh. Oleh karena itu, puasa disebut setengah dari kesabaran, sedangkan balasan kesabaran adalah Sorga. Sebagaimana firman Allah;

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hanya orang-orang yang bersabar (berpuasa) akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS.Az-Zumar: 10).

Menurut para Mufassir, yang dimaksud dengan ash-Shabirun (orang-orang sabar) dalam ayat di atas adalah ash-Shaimun (Orang-orang yang berpuasa).

Hadits Puasa [7]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

Anjuran Menyegerakan Berbuka

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-7 & 8 [626 & 627]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

626- وعن سهِل بنِ سَعْدٍ – رضي الله عنه – أَنْ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما عجّلوا الْفِطْر” مُتّفَقٌ عَلَيْهِ

627- وللتِّرْمذي مِنْ حديث أَبي هُريْرة – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قالَ: “قالَ الله عَزَّ وجلَّ: أَحبُّ عِبادي إليَّ أَعْجَلُهُمْ فطْراً”

 

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Allah Ta’ala berfirman: HambaKu yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan berbuka“. (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan:

Hadits ini merupakan dalil tentang anjuran menyegerakan untuk berbuka (takjil) jika sudah jelas bahwa mata hari telah terbenam. Dalam riwayat Imam Ahmad haditsnya berbunyi,

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”. 

Imam Abu Daud menambahkan lafal,

Karena orang-orang Yahudi mengakhirkan berbuka hingga bintang-bintang mulai terbit (larut malam)“.

[sym/wahdahjakarta.c0m].