Kisah Duka Seorang Musafir di Perjalanan

Kisah Duka Seorang Musafir di Perjalanan

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Sungguh malang nasib bapak yang berinisial MF (60). Dia berasal dari Cirebon, lahir di Manado. Dia sering bolak-balik Cirebon – Sukabumi untuk melakukan pengobatan jemarinya yang kaku selama satu tahun. Ujian menimpa dirinya ketika hendak pulang dari Sukabumi ke rumahnya di Cirebon, Rabu(8/8/2018) bahwa bus yang hendak dia tumpangi tidak ada lagi karena kehabisan tiket.

Oleh karena itu, Bapak (MF) naik bus jurusan Depok untuk transit di sana. Sebelum turun di terminal Depok, betapa kagetnya bapak ini karena barang-barang berharga yang dibawa seperti tas, sepatu, dompet dan seluruh isinya serta hp sudah dibawa kabur oleh pencuri. Lalu dia langsung mengunjungi kantor polisi terdekat untuk pengaduan dan mendapatkan surat keterangan hilang dari polisi.

Berbekal surat keterangan hilang dari polisi, Bapak (MF) meneruskan langkahnya dengan berjalan kaki di sepanjang jalanan Depok – Jakarta karena tidak punya uang untuk bayar ongkos angkutan umum, dan nomor hp satu pun tidak ada yang ingat untuk dihubungi. Sehingga pada akhirnya bapak ini tiba di sebuah masjid di kampus Universitas Gunadarma. Usai Shalat MF berbincang-bincang dengan salah seorang mahasiswa yang juga santri binaan Wahdah Islamiyah yang seluruh kegiatannya di support oleh LAZIS Wahdah.

Mahasiswa yang tidak disebutkan namanya ini menyarankan kepada bapak yang musafir untuk segera mengunjungi kantor LAZIS Wahdah. Bapak (MF) pun langsung berjalan kaki sejauh 20 km lebih untuk sampai di kantor LAZIS Wahdah Jakarta. Setelah sampai di sana, ternyata di kantor lamanya. Lalu dia bertemu dengan salah seorang pengurus Wahdah Islamiyah di sana dan mendapatkan alamat baru LAZIS Wahdah Jakarta dari pengurus tersebut. Bapak (MF) tetap semangat berjalan kaki lagi hingga sampai juga di kantor LAZIS Wahdah Jakarta di Lenteng Agung, dekat Universitas Pancasila.

Di sana, Bapak (MF) bertemu langsung dengan pimpinan LAZIS Wahdah Jakarta, Yudi Wahyudi dan menceritakan semua apa yang dialaminya. Pimpinan LAZIS Wahdah Jakarta turut prihatin lalu memberikan bantuan yang berasal dari donatur kepadanya.

“Saya sangat berterima kasih sekali kepada LAZIS Wahdah atas bantuannya, bantuan ini sangat berarti sekali bagi saya “,  tuturnya.

“Terus terang, saya adalah muallaf meskipun sudah 12 an tahun tetapi belum bisa banyak membaca Al Qur’an bahkan hampir tidak mempunyai waktu membaca Al Qur’an. Mungkin ini teguran buat saya“, tambahnya.

Alhamdulillah Bapak, Allah mempertemukan kita di tempat ini bukan tidak ada maksud. Mudah-mudahan ini adalah awal untuk menjalin silaturrahim kita kedepannya. Kami sudah ada da’i di Cirebon dan sudah ada rencana untuk buka cabang nantinya di sana”, ujar Ketua LAZIS Wahdah Jakarta. [yd/rsp]

———-

**

💧Kunjungi 👇🏻

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2154471844768740&id=1458576761024922

❤Indahnya berbagi dengan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari bersama bahagiakan dhuafa, yatim, santri penghafal Al Qur’an, dan para da’i yang sedang berjuang menyebarkan cahaya islam di pelosok Nusantara dengan segala keterbatasan melalui LAZIS Wahdah.

➡ Bank Syariah Mandiri (451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

📲Konfirmasi transfer ke 08119787900 (call/wa/sms)

“Bahagia mereka, bahagia kita semua”

💌LAZIS Wahdah, “Melayani dan Memberdayakan”

15  Nasihat dalam Memanfaatkan Sepuluh Hari  Pertama Bulan Dzulhijjah

15  Nasihat dalam Memanfaatkan Sepuluh Hari  Pertama Bulan Dzulhijjah

Khalid bin Ali Al-Jureish

 

Saudaraku,

Sepuluh Hari  pertama bulan Dzulhijjah ini adalah hari-hari yang paling mulia dalam hidupmu, detik-detiknya bagaikan harta karun, malam dan siangnya bagaikan perbendaharaan yang mahal. Karena pada hari-hari yang mulia ini berkumpul ibadah-ibadah pokok seperti puasa, sedekah, haji, shalat, dll, seperti yang dikatakan oleh Ibn Hajar rahimahullah.

Saya ingin menyampaikan nasihat ini kepada saudaraku tentang pentingnya memanfaatkan hari-hari yang penuh kemuliaan ini 10 hari pertma bulan Dzulhijjah. Bersemangatlah dalam melakukannya dan mempraktekkannya serta menyebarkannya kepada hamba Allah yang lain, Semoga Allah ‘Azza wa jalla memberikan pahala kepadak,  kepadamu, dan kepada meraka.

Pertama, Latihlah Dirimu dalam Melakukan Amal Sholeh

Sesungguhnya melatih diri untuk melakukan amalan sholeh sebelum memasuki 10 hari yang mulia itu penting. mengapa? Untuk mempersiapkan diri menghadapinya, dan meningkatkan amalan, dan agar kamu bisa mengontrol dirimu ketika memasukki 10 hari yang mulia, sehingga menguatkan azzammu dan memaksimalkan tekadmu.

Kedua, Bersungguh-sungguhlah

Saudaraku, betapa bagusnya jika kau membuat kegiatan ibadah pada 10 hari yang mulai ini dengan berbagai macam ibadah didalamnya, tetapi waspadalah pada pemutus dan penghalang ibadah, karena dia dimulai dari yang kecil kemudian membesar, maka berhati- hatilah, putuskan penghalang tersebut diawal kemunculannya, dan bersungguh-sungguhlah pada hari itu, karena waktu tersebut mulia dan agung.

Ketiga, Jangan Abaikan Dzikir Ini

Dzikir ini jika seratus kali sehari, menghapus dosa-dosa. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

«Siapa yang mengucapkan سبحان الله وبحمده dalam sehari 100 kali, dihapuskan kesalannya walaupun kesalahannya sebanyak buih di lautan». (HR Al-Bukhari).

Hal ini juga mirip dengan hadits Shahih Muslim dari hadits Sa’d  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda: «Maka dituliskan baginya seribu kebaikan atau dihapuskan baginya seribu kesalahan».

Maka usahakanlah di sepuluh hari yang mulia ini mengawali dan membiasakan dzikir tersebut, walaupun belum pernah melakukan sebelumnya. Lalu lanjutkan selama hidupmu. Melakukan amalanini  tidak membutuhkan waktu lebih dari dua menit. Dan jangan lupa  ajarkan kepada orang lain, karena “yang menunjukkan kebaikkan seperti orang yang melalukannya.

Jadikan  ibadah tersebut sebagai kebiasaan dalam hidupmu, dan jika kau bisa dalam 10 hari yang mulia itu, jangan bosan dalam berdzikir, bertakbir, bertasbih dll, maka lakukanlah, karena setiap  yang kamu ucapkan atau lakukan, menjadi tabunganmu pada timbangan kebaikanmu yang akan membuatmu bahagia di hari kiamat. Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda  « Hendaklah lidahmu selalu basah dengan dzikirullah (menyebut nama Allah )’Azza wa jalla».

Keempat: Jangan Abaikan 3.000. 0000 Kebaikan

Salah satu karunia Allah dan rahmat-Nya bahwa setiap huruf Al-Qur’an yang engkau baca dari dibalas 10 kebaikan atau lebih. Nah, salahsatu yang dapat dilakukan dalam 10 hari ini adalah membaca sejumlah ayat pada setiap shalat.  Jika  engkau membaca di setiap selesai sholat  satu juz, maka engkau telah mengkhatamkan hampir dua kali khatam selama 10 hari dan setiap khatam pahalanya lebih dari 3.000.000 (tiga juta) kebaikan.

Kelima: Jangal Lupa Dzikir Ini

Jangan lupakan dzikir

“لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, kerajaan dan pujian milik-Nya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

Ini adalah  dzikir yang agung. Jika  engkau  mengucapkannya sepuluh kali, engkau seperti orang yang membebaskan empat budak, bahkan jika engkau mengucapkannya sebanyak seratus kali, dan sangat gampang dan mudah bagi yang diberi taufik oleh Allah, engkau seperti orang yang membebaskan sepuluh budak, Allah Akbar!

Ini adalah amalan yang mudah setara dengan pahala membebaskan budak. Maka nasihatku padamu, mulailah dengannya di 10 hari yang mulia walaupun engkau belum pernah melakukannya. Lalu lanjutkanlah amalan ini karena dia adalah kebaikan yang agung. Ia akan menjadi tabunganmu pada hari kiamat.  Amalan  tersebut tidak membutuhkan waktu lama, tidak sampai sepuluh menit. Dzikir ini dapat kau ucapkan dalam satu waktu atau pada waktu yang berbeda dalam satu hari.

Keenam, Program Amal Sholeh Bersama Keluarga

Sepuluh hari pertama bulan  Dzulhijjah adalah kesempatan yang terbatas, sedikit dan cepat berlalu. Maka  sebaiknya engkau membuat kegiatan-kegiatan ibadah untuk keluargamu untuk investasi pahala. Buat berbagai program  macam amalan sholeh dan kamu akan turut mendapatkan pahala dari apa yang dikerjakan oleh keluargamu. Berusalah  memotivasi mereka dalam merutinkan amal sholeh. Libatkan mereka dalam menyusun dan merencanakan kegiatan-kegiatan tersebut.

Ketujuh: Jangan Lewatkan Kegiatan Dakwah

Sesungguhnya menunjukkan kebaikan pad orang lain, dan mengingatkan mereka adalah amalan sholeh yang efektif, karena pahalanya jika mereka melakukannya akan kembali kepadamu seperti pahala mereka, dan tercatat di sisi Allah Ta’ala pada timbangan kebaikanmu, apalagi di sepuluh hari yang mulia ini. Maka  bersungguh-sungguhlah pada hari iini, karena pada hari ini ladang pahala terbentang luas yang berlipat ganda. Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda: « Siapa yang menunjukkan kebaikan maka baginya seperti pahala yang melakukannya». (HR Muslim).

Kedelapan, Belajar Bersama Keluarga

Saudara[i]ku,  membacalah tentang sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah, dan berusahalah  menerapkan setiap apa yang engkau baca untuk meraih ilmu dan amal sekaligus. Dan   alangkah indahnya jika keluarga berkumpul untuk membaca seperti ini, agar keluarga tersebut meraih dua kebaikan, ilmu dan amal.

Semoga  kegiatan belajar keluarga ini menjadi rutinitas pekanan sepanjang tahun, dan disarankan di hari selain 10 hari dzulhijjah untuk kegiatan belajar bersama keluarga membaca kitab Arbi’un dalam sebuah majelis untuk tarbiyah keimanan.

Kesembilan, Dakwah Kepada Teman Sejawat

Saudaraku, berusaha keraslah untuk mengingatkan teman-temanmu tentang mengambil keutamaan di sepuluh hari yang mulia ini. Bisa jadi salah satu dari mereka mendengarnya darimu sekarang dan dia melakukannya dalam hidupnya, dan pahala itu akan terus mengalir untukmu. Jangan  remehkan kalimat kebaikan yang engkau ucapkan atau amalan yang kau ingatkan.

Kesepuluh, Tebarkan Kebaikan Melalui Sarana Komunikasi, Media Online dan Sosial (Medsos)

Manfaatkan berbagai sarana komunikasi (median online dan medsos) untuk menyadarkan tentang pentingnya memanfaatkan 10 hari yang mulia ini. karena sarana komunikasi ini sangat cepat menyebar, masuk di setiap rumah.  Jadilah  pelopo kebaikanr yang aktif menyebarkan keutamaan tersebut dengan tetap berhati-hati agar tidak menyebar sesuatu kecuali yang benar dan pasti. Melalui pesan-pesan ini engkau telah melakukan peran yang besar seperti khatib dan da’i, karena di depanmu ribuan manusia, maka jangan menganggap remeh hal ini.

Kesebelas;

Salah satu amalan sholeh pada 10 Hari dzulhijjah adalah membaca Al-Qur’an, tasbih, takbir, tahmid, tahlil, puasa, dan sholat, dan lain lain dari amalan sholeh, dan alangkah baiknya amalan-amalan ini dan yang lain dijadwalkan dan diamalkan dan diintropeksi diri tentang amalan tersebut, karena hari-hari ini sangat perlu ditulis, diperhatikan, dan direncanakan dan baiknya sebelum memasukki 10 hari tersebut, dan jangan lupa menginfokan orang lain tentang hal itu.

Keduabelas, Walaupu Hanya Sekali Kumpulkan Empat Amalan Ini dalam Sehari 

Disebutkan  dalam hadits  Bukhari tentang Abu Bakr ketika Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Shahabat: «Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”Saya”, jawab Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.  Siapa yang hari ini mengikuti (mengantar)  jenazah?” tanya Nabi lagi, “Saya”, jawab Abu Bakar lagi. Nabi  shallalahu ‘alaihi wasallam melanjutkan pertanyaannya, “Siapa yang memberi makan orang miskin hari ini?, Abu Bakar kembali menjawab: “Saya”.  “Siapa yang hari ini telah menjenguk orang sakit, tanya Nabi yang keempat kalinya.  Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab kembali, “Saya”. Lalu Rasulullah shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seserang melainkan dia akan masuk surga »..

Dalam  hadits ini dinyatakan empat hal, cobalah untuk mengumpulkannya walaupun di beberapa hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini karena dia adalah keuntungan yang besar.

Tiga Belas, Jangan Lengah

Jangan berpikir bahwa syaitan akan meninggalkanmu di hari-hari mulia ini, tetapi dia akan menghalangimu lebih dari hari-hari yang lain, mengapa? Untuk menjauhkanmu dari harta(pahala) yang besar, maka jadilah anda pemenang dan syaitan yang kalah, karena sesungguhnya tipuan syaitan itu lemah dan hari-hari yang mulia itu sedikit dan cepat berlalu.

Keempat Belas, Ingat! Amal Shaleh di Hari-hari Ini Lebih Dicintai Allah

Intatlah selalu  hadits Nabi shallalhu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada beramal di hari-hari ini hari-hari yang sepuluh.”

Maka Hadits ini adalah stimulus yang besar untuk memperkuat tekadmu dalam melakukan amalan sholeh di sepuluh hari yang mulia ini. Cukuplah  bagimu bahwa hari tersebut adalah hari-hari yang terbaik dalam hidupmu, dan bahagiamu sampai pada hari-hari ini juga adalah pendorong yang besar dan agung.

Lima Belas, Sebarkan Nasehat Ini Seluas-luasnya

engkau menyebarkan nasihat-nasihat seperti ini merupakan tanda kebaikan dan menyampaikannya kepada orang lain adalah kebaikan yang besar. Karena hal itu memotivasi orang lain dalam melejitkan pahala pada hari-hari ini.

Semoga Allah memberkati kita dalam amalan kita dan umur kita, dan memperbaiki niat kita dan keturunan kita, dan menerima amalan sholeh kita, dan  semoga shalawat dan keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya dan sahabatnya semuanya. [Muttazimah/ed:sym].

Sumber: Khamsa ‘Asyrah Washiyah fi Istitsmarm ‘Asyr Dzil Hijjah, Oleh Penulis: Khalid bin Ali Al-Jureish, Alihbahasa Oleh: Muttazimah

Sambut Bulan Dzulhijah dengan Memperbanyak Amal Shaleh

Sambut Bulan Dzulhijah dengan Memperbanyak Amal Shaleh

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan suci (asyhurul hurum) yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36. Dan salah satu yang istimewa dari bulan Dzulhijjah ada pada sepuluh hari pertama yang diterangkan oleh banyak dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya.

Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Fajr ayat 1-2;

وَالْفَجْر وَلَيَالٍ عَشْر الفجر

Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)

Sebahagian besar ahli Tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah Ta’ala atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannnya (Lih:Tafsir Ibnu Katsir 4:535,  Zaadul Maad 1:56)

Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah  shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah ?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (Terj. HR. Bukhari)

Diriwayatkan  dari Imam Ahmad -rahimahullah- dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil لا إله إلا الله, Takbir الله أكبر dan Tahmid الحمد لله

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath Radhiyallahu Anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: ”Hari yang paling afdhal / utama (dalam setahun) adalah hari raya qurban (10 Dzuulhijjah)” (HSR. Ibnu Hibban)

Jika seseorang bertanya:

”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama” . (Lih. Zaadul Ma’ad 1:57)

Amalan Yang Disyariatkan Pada Hari-hari Tersebut

Setiap  muslim hendaknya memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh ketaatan kepada Allah Ta’ala memperbanyak dzikir dan syukur kepadaNya, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi seluruh larangan serta memanfaatkan musim-musim ini untuk menyambut segala pemberian Allah Ta’ala yang dengannya kita meraih keridhaan-Nya.

  1. Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah

Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali Syurga” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Berpuasa

Dianjurkan pada hari-hari tersebut atau beberapa hari diantaranya  terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah).

Ibadah  puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan dilebihkan oleh Allah سبحانه وتعلى dari amalan-amalan shalih lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasululllah صلى الله عليه وسلم bersabda :

Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Khusus tentang puasa Arafah, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda” Berpuasa di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) menghapuskan dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang

  1. Memperbanyak Takbir dan Dzikir Pada Hari-hari Tersebut

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

…وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan..” (QS. Al Hajj: 28)

Tafsiran dari “Hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah . Oleh kerena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’:

“…maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut” (HSR. Ath Thabrany)

Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radiyallahu Anhu ketika keduanya keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mereka berdua berakbir, maka orang-orang pun ikut berakbir sebagaimana takbir mereka berdua (R. Bukhari) Dan Ishaq bin Rahowaih –rahimahullah– meriwayatkan dari para ahli fiqh dari kalangan tabi’in bahwa mereka –rahimahumullah– mengucapkan pada hari-hari tersebut:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ َاللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ

Disunnahkan mengangkat suara saat bertakbir, baik ketika di pasar, rumah, jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya, Allah سبحانه وتعلى berfirman:

…وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ…

“…Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (dengan berakbir kepadaNya) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu…” (QS. Al Baqarah :185).

  1. Bertaubat dan Menjauhi Kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah Ta’al

Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah Ta’ala, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah Ta’ala kepada seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Memperbanyak Amalan Shaleh 

Dianjurkan pula memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan yang semacamnya. Karena amalan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut, hingga ibadah yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah سبحانه وتعلى dari pada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya, jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.

  1. Bertakbir

Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjama’ah di masjid. Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji maka dimulai sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah) Adapun akhir dari waktu bertakbir adalah pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (13 Dzulhijjah)

  1. Memotong Hewan Qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah)

Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim Alaihissalam ketika Allah سبحانه وتعلى mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berqurban dengan dua komba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk, Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir

Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai dia berqurban, diriwayatkan dari Umu Salamah, Rasulullah bersabda:

Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menuyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya” Diriwayat lain disebutkan:”Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban”.

Kemungkinan larangan tersebut untuk menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :

…وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ …

“…Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebaelum qurban sampai di termpat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).

Namun demikian tidak mengapa bagi orang yang akan berqurban untuk mencuci atau menggosok rambutnya meskipun terjatuh sehelai atau beberapa helai dari rambutnya.

  1. Shalat ‘Ied

Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah sekaligus mendengarkan khutbah dan mengabil manfaat darinya, yaitu sebagai hari kesyukuran dan untuk mengamalkan kebaikan. Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah سبحانه وتعلى dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, alat-alat yang melalaikan(seperti alat-alat musik) minuman keras dan yang semacamnya. Karena perbuatan-perbuatan seperti itu bisa menjadi penyebab terhapusnya amal-amal shalih yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut .

Semoga Allah  Ta’ala senantiasa menujuki kita kepada jalan yang lurus dan memberikan taufiq agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperi ini dengan baik, Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

(Sumber: Tulisan Ustadz DR. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. (Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah))

Energy Of Da’wah Qurani

Energy of Da'wah Qurani

Sambutan Ketua DPW Wahdah Islamiyah dalam seminar Energy Of Da’wah Qurani

Energy Of Da’wah Qurani

(Depok) Wahdahjakarta.com, – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok  menggelar Sharing Dakwah Qurani di Aula Trubus Cimanggis Depok Jawa barat pada Ahad, (12/08/2018).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari MPP (Musyawarah Pengurus Pleno) yang rutin diadakan setiap 4 bulan sekali.

Sharing Da’wah Qurani pada MPP ini mengundang salah satu Lembaga Pendidikan Alquran yang sedang naik daun yaitu Tim Askar Kauny yang diwakili Ust Habiburakhman, Lc. Lembaga pimpinan Ust Bobby Herwibowo, Lc ini terkenal dengan metode menghafal qur´an menggunakan otak kanan dengan branding `Menghafal Semudah Tersenyum`.

Dengan metode ini (atas ijin Allah) sudah jutaan orang yang telah merasakan manfaat bagaimana menghafal qur`an dengan mudah, dan ada 40.000 lebih peserta aktif dari komunitas penghafal qur`an di Indonesia dan beberapa negara lain. Askar Kauny juga telah memiliki 23 Pesantren penghafal qur`an untuk Yatim dan Dhuafa yang digratiskan sejak didirikan tahun 2014 dan masih terus banyak beberapa permintaan antri untuk pendirian pesantrennya.

Perkembangan yang begitu cepat ini (atas ijin Allah) menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap dakwah Alqur`an yang begitu tinggi, disamping karena metode yang dikembangkan Askar Kauni begitu mudah dan menyenangkan di dalam prakteknya. `Menghafal Qur`an dengan tidak menggunakan otak`, demikian papar Ust Habib dalam sesi sharing dengan pengurus DPW WI DKI Jakarta – Depok.

Dalam sambutanya Ustadz Ilham Jaya selaku Ketua DPW Menyampaikan perlunya melakukan terobosan – terobosan terus menerus di dalam dakwah, sehingga potensi yang ada akan semakin berkembang. Dengan adanya sharing dakwah qurani diharapkan menambah wawasan, bekal `amunisi` dan energi bagi Pengurus Wahdah Islamiyah di Jakarta dan Depok agar berdakwah kepada masyarakat lebih mudah diterima, dan punya kekuatan yang dahsyat di dalam membuka pintu-pintu hidayah sebagai sebuah ikhtiar didalam mendakwahkan Alqur`an.(yd).

Menjadi  Manusia Terbaik

Siapakah manusia terbaik itu?

Apakah dia orang yang terkenal dan punya banyak penggemar? Apakah sebaik-baik manusia itu yang punya liker atau follwer terbanyak? Mari kita cermati apa yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

خيركم من تعلّم القرآن وعلّمه

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari: 4739)

 Bagaimana maksud hadits tersebut? Agar Anda lebih memahaminya, mari sejenak kita berbelok arah. Sekarang coba Anda pikirkan tentang suatu malam, yang di dalam Al Qur’an Allah berfirman tentangnya,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [٩٧:١]  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ [٩٧:٢] لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ [٩٧:٣]  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ [٩٧:٤]  سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ [٩٧:٥

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Terjemah QS al Qadr [97]: 1-3)

Malam apakah itu? Ya, lailatul qadar. Satu malam yang begitu dimuliakan. Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tahukah Anda sebabnya? Karena pada malam itu diturunkan Al Qur’an. Malam yang biasa, ketika padanya diturunkan Al Qur’an, dia menjadi malam yang paling mulia. Dan Anda tentunya tahu bahwa malam lailatul qadar ini berada di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, bulan Ramadhan pun menjadi sebaik-baik bulan. Lagi-lagi karena bersinggungan dengan Al Qur’an, Ramadhan menjadi sebaik-baik bulan di antara dua belas bulan yang ada.

Bagaimana dengan Makkah dan Madinah? Bukankah dua tempat itu merupakan tempat yang dimuliakan? Tempat tersebut setiap tahun dikunjungi oleh ribuan manusia dari berbagai penjuru negeri. Mengapa? Karena pada dua tempat itu diturunkan Al Qur’an sehingga menjadi tempat yang paling mulia di dunia.

Begitu pula dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Dan beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) adalah penduduk bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak, maka semulia-mulia kaum adalah kaum beliau, semulia-mulia kabilah adalah kabilah beliau.” (Zaadul Ma’aad 1/72)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memiliki keutamaan dibandingkan rasul yang lainnya karena kepada beliaulah diturunkan Al Qur’an.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

“Sebaik-baik generasi adalah generasi di zamanku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR Bukhari: 2652)

Mengapa generasi di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi sebaik-baik generasi? Karena pada generasi itulah masa diturunkannya Al Qur’an.

Nha, sampai di sini Anda mulai paham bukan? Setiap apa pun yang bersinggungan atau berdekatan dengan Al Qur’an, dia menjadi mulia. Bahkan Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis yang berhasil menduduki Mesir pada tahun 1798-1801, dia secara tidak sengaja menemukan Al Qur’an di perpustakaan Mesir dan  mempelajari isinya selama beberapa hari. Apa kemudian yang dia katakan? “Aku telah mempelajari dari buku ini (Al Qur’an) dan aku merasa bahwa apabila kaum muslim mengamalkan aturan dalam buku ini, niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan. Selama Al Qur’an ini berkuasa di tengah kaum muslimin dan mereka hidup di bawah naungan ajarannya, mereka tidak akan tunduk kepada kita, kecuali kita pisahkan mereka darinya.”

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh William Ewat Gladstone, seorang berkebangsaan Inggris. Dia berkata di depan parlemen Inggris sambil memegang Al Qur’an, “Selama Al Qur’an ini masih berada di tangan kaum muslimin, maka selama itu juga eropa tidak akan mampu menguasai timur dan tidak akan hidup dengan aman.”

Seakan-akan kedua orang tersebut telah mempelajari dan memahami hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Qur’an dan merendahkan yang lainnya juga dengan Al Qur’an.” (HR Muslim: 817)

Bagaimana dengan kita? Kalau orang kafir saja memahami bahwa umat Islam akan mulia dengan Al Qur’an, sehingga mereka berupaya menjauhkan umat Islam dari Al Qur’an, maka  sudah selayaknya kita sebagai umat Islam menyadari dan mengambil bagian dalam hal ini. Jika kita ingin menjadi orang yang diangkat derajatnya, menjadi sebaik-baik manusia, maka kita harus berdekatan dengan Al Qur’an. Bermesraan lebih sering dengan Al Qur’an daripada dengan smartphone. Banyak membuka dan menelaah Al Qur’an daripada membuka dan menelaah status-status di medsos.

Dari sini pula kita bisa mengukur seberapa mulianya kadar diri kita di hadapan Allah. Jika kita lebih banyak berinteraksi dengan dunia maya atau kesibukan dunia dan menjadikan interaksi dengan Al Qur’an sebagai prioritas yang kesekian setelah prioritas-prioritas yang lain, maka kita perlu mengucapkan istighfar. Kita perlu segera berbenah. Kita perlu segera mengubah haluan dengan menjadikan Al Qur’an sebagai prioritas utama dalam jadwal-jadwal harian kita. Karena kemenangan dan kemuliaan agama ini akan diraih oleh orang-orang yang menghidupkan hatinya dengan lentera Al Qur’an. (UmmiSanti)

Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Puasa Sembilan Hari di awal Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Pertanyaan:

Apakah puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah

Jawaban:

Puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anh;  Beliau mengatakan bahwa;

أربع لم يكن يدعهن رسول الله صلى الله عليه وسلم صيام يوم عاشوراء والعشر وثلاثة أيام من كل شهر والركعتين قبل الغداة.

Ada empat amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (yaitu) puasa Asyura puasa puasa ‘asyar (di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum subuh”. (HR Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Dalam hadits laim dari  Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits  ini merupakan dalil tentang disunnahkannya puasa pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari  ‘Aisyah radhiyallahu anha yang  mengatakan bahwa,  “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah”, telah dijelaskan oleh para ulama.

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah beliau tidak puasa karena suatu sebab seperti sakit atau safar (perjalanan) atau sebab yang lainnya.

Selain itu tidak terlihatnya bepuasa tidak menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa sama sekali. Karena  Puasa merupakan amalan yang tidak nampak.  kemudian di satu sisi puasa merupakan amal shaleh yang sangat ditekankan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena pada hari-hari ini (sepuluh awal bulan Dzulhijjah) amal shaleh lebih utama dan lebih dicintai Allah. Oleh karena itu jelaslah bahwa puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan sunnah. [sym].

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/ 

Wahdah Islamiyah Jakarta Tegaskan Komitmen Dakwah Qur’an

Ketua DPW WI Jakarata dan Depok Ustadz. Ilham Jaya saat menyampaikan arahan pada MPP DPW WI Jakarta, Ahad (12/08/2018)

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

(Jakarta) wahdahjakarta.c0m,-  Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta (Wahdah Jakarta) menggelar Musyawarah Pengurus Pleno (MPP) pada Ahad (12/08/2018) di Agroedutainment Toko Trubus Cimanggis Depok.

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Ilham Jaya Abdul Rauf mengatakan,  Wahdah Jakarta dan Depok bertekad akan menjadikan dakwah Al-Quran sebagai inti dari aktifitas-aktifitas Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok.

“Kegiatan dan program dakwah yang dijalankan Wahdah di DKI Jakarta dan sekitarnya Wahdah Islamiyah Jakarta memformulasikan tema-tema Qurani baik secara konten dan perwajahan dakwah Islam sebagai brand utama dakwah Wahdah Islamiyah di Jakarta dan sekitarnya”, terang Ustadz Ilham.

“Kita harapkan bahwasanya tema-tema Quran ini menjadi unggulan dalam program kerja di lembaga perjuangan ini”, pungkas mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ini.

Saat ini Wahdah Jakarta mengelola beberapa kegiatan dan program Dakwah Qur’an seperti Rumah Tahfidz, Markaz Qur’an, DIROSA (bimbingan baca Al-Qur’an untuk orang dewasa), tahfidz Week end, bimbingan terjemah Qur’an, pesantren tahfidz, serta pelatihan guru dan pengajar Qur’an.

Ustadz Ilham berharap program dan gerakan ini memberikan manfaat yang besar terhadap umat di Indonesia secara umum, terkhusus bagi warga Jakarta sebagai pusat Ibukota, dan umat Islam secara umum.

MPP ini diikuti oleh perwakilan pengurus wahdah dan Muslimah Wahdah tingkat Daerah di Jakarta dan Depok (DPD WI Jakarta Timur, DPD WI Jakarta Selatan, DPD WI Jakarta Pusat, DPD WI Jakarta Utara, dan DPD WI Depok. [sym]

Keutamaan Puasa ‘Arafah

Puasa ‘Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, ketika jama’ah haji melakukan wuquf dipadang ‘Arafah. Puasa ini disunahkan bagi setiap muslim yang tidak melakukan ibadah haji.

Adapun bagi yang sedang melakukan ibadah haji maka mereka disunahkan untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu’anhum tidak berpuasa ‘Arafah tatkala melakukan ibadah haji. Kecuali bagi jamaah haji yang berhaji tamattu’ dan tidak mendapatkan hadyu atau dam, maka boleh baginya berpuasa dihari ‘Arafah dan hari-hari tasyriq.

Keutamaan puasa ‘Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun. Tahun lalu dan setelahnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa ‘Arafah. Beliau bersabda:

صيام يوم عرفة يكفر السنة الماضية والباقية

 “Puasa hari ‘Arafah bisa menghapuskan (dosa) pada tahun lalu dan sesudahnya”. (HR Muslim 1162)

Apakah puasa ini bisa menghapus semua jenis dosa; dosa-dosa kecil dan besar yang dilakukan dalam dua tahun tersebut atau cuma menghapuskan dosa-dosa kecil?

Para ulama berbeda dalam dua pendapat :

Pertama: Pendapat Madzhab Dzhahiriyah dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa puasa ini dapat menghapus dosa kecil maupun besar. Diantara dalil mereka adalah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim  dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع من ذنوبه كيوم ولدته أمه

 “Barangsiapa yang menunaikan haji karena Allah, lalu ia tidak berkata keji dan berbuat fasik ,maka ia akan disucikan dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika ia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari; 1819, dan Muslim; 3358)

Kedua; Pendapat jumhur ulama (termasuk Imam madzhab yang empat) bahwa yang dihapus hanyalah dosa-dosa kecil, adapun dosa-dosa besar hanyalah bisa terhapus dengan taubat, hal ini sesuai dengan dalil firman Allah Ta’ala :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ ( النساء ؛ 31

 “Andai kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang atas kalian, maka Kami akan menghapus dosa-dosa kalian”. (QS Al Nisa’ ; 31).

Dalil lain hadits riwayat Imam Muslim (574) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنب الكبائر

Shalat lima waktu, antara jum’at yang satu dengan jum’at lainnya ,dan antara ramadhan yang satu dengan ramadhan lainnya adalah menghapus dosa-dosa yang dilakukan diantara keduanya selama tidak melakukan dosa-dosa besar”. (HR. Muslim, No.574).

Hadits ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa shalat wajib, Jum’at dan puasa Ramadhan yang merupakan dua rukun Islam tidak bisa menghapus dosa-dosa besar, apatah lagi kalau hanya puasa ‘Arafah yang hukumnya sunat. Wallaahu a’lam.

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Pertanyaan;

Istriku selalu menyelisihiku dalam banyak hal seperti pendidikan anak, hubungan dengan kerabat, dan urusan rumah tangga lainnya. Apa yang harus saya lakukan? Saya juga sudah menyuruhnya untuk shalat membaca Al-Qur’an. Tetapi dia tidak nurut, mohon do’anya agar dia mendapat hidayah (petunjuk)

Jawaban:

Pertama,

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang dibangun di atas prinsip tafahum (saling memahami) dan saling mencintai, yang kemudian disempurnakan dengan saling mengasihi dan menyayangi (Mawaddah wa Rahmah) antara suami dan istri. Semua ini tidak akan terwujud dengan sempurna melainkan jika masing-masing menunaikan kewajibannya. Diantaranya kewajiban suami memberikan nafkah istri dan anak-anaknya, kewajiban istri untuk taat pada suami.

Jika istri mau merebut wewenang kepemimpinan rumah tangga (qawwamah) dari suami, atau melakukan tindakan nusyuz dan menolak untuk taat pada suami, maka sesungguhnya istri seperti ini telah merintuhkan bangunan rumah tangga dengan tangannya dan mengabaikan anak-anaknya dengan perbuatan buruknya tersebut.

Para istri hendaknya menyadari dan memahami bahwa ketaatan pada suaminya merupakan kewajiban syar’i. Dan para suami menempatkan kewenangan mereka sebagai pemimpin rumah tangga (qawwam) secara baik dalam membimbing, membina, dan membahagiakan istri dan keluarganya. Allah Ta’ala berfirman;

( الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم ) النساء/34

Para istri juga hendaknya merenungkan hadits-hadit Nabi berikut;

 

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

’Andaikan saya boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, niscaya akan saya perintahkan wanita sujud kepada suaminya”. (HR.Tirmidzi, No. 1159 dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

  1. Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمُ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ )

Ada tiga orang yang shalatnya tidak  . . . .(1) Budak (hamba sahayaz) yang melarikan diri dari tuannya hingga dia kembali, (2) Istri yang tidur malam dalam keadaan suaminya murka padanya, dan (3) Pemimpin kaum yang dibenci oleh kaumnya (rakyatnya)”. (HR. Tirmidzi)

  1. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

( لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا ) . رواه الترمذي ( 1174 ) ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي “

”Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari surga mengatakan, ‘janganlah engkau menyakitinya semoga Allah membinasakanmu, dia hanya sementara bersamamu, dia akan segera meninggalkanmu dan datang kepadaku”. (HR.Tirmidzi. No.1174 dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam brsabda;

 ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

 ‘’Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (di rumah) tanpa seidzin (suami) nya dan tidak boleh mengidzinkan orang lain masuk ke rumahnya tanpa seidzin suaminya”. (HR. Bukhari, No.4899 dan Muslim, No. 1026)

Syaikh Al-Albani rahimahullah mengomentasri hadits ini dengan mengatakan;

Jika seorang istri wajib mentaati suami dalam urusan menyalurkan syahwatnya, maka dalam urusan yang lebih penting dan lebih urgent tentu lebih wajib untuk taat pada suaminya, seperti dalam masalah pendidikan anak, pembinaan keluarga dan perbaikan rumah tangga dan hak-hak wajib lainnya”.

Selanjutnya Syekh Al-Albani mebgutip perkataan Ibn Hajar dalam Fathul Bari;

Hadits ini menunjukan bahwa hak suami atas istri lebih utama dari ibadah kebaikan yang sifatnya tathawwu’ (tambahan/sunnah), karena hak suami hukumnya wajib, sedangkan menunaikan yang wajib lebih didahulukan dari tathawwu’ (sunnah/tambahan)”. (Adab Zafaf, hlm. 210)

Kedua,

Suami hendaknya mencaritahu sebab-sebab pembangkangan (nusyuz) istrinya. Dengan mengenali dan mengetahui sebab-sebabnya akan memudahkan menemukan solusi untuk memperbaikinya, agar masing-masing aman dan selamat dari murka Allah. Kadang diantara faktor yang kadang menyebabkan istri berbuat nusyuz adalah suami sendiri. Misalnya maksiat atau kedurhakaan suami kepada Allah. Sebagian orang saleh zaman dahulu (Salafus Shaleh) ada yang mengatakan;

Kadang saya menemukan dampak dari kemaksiatanku pada hewan tunggangan (kendaraan) ku dan istriku”. Dampak tersebut berupa buruknya akhalaq istri dan keenggananan untuk menantaati suami. Artinya sikap buruk istri pada suami merupakan reaksi dan balasan dari akhlaq buruk suami kepada istrinya.

Diantara sebab lain adalah campurtangan keluarga, kerabat, tetangga atau teman-teman istri yang turut andil bersama Iblis dalam memisahkan pasangan suami-istri.

Jika sebabnya adalah dari istri seperti lemah iman, maka suami harus membantu mengingatkan untuk selalu ingat Allah. Suami hendaknya membantu istri dalam merawat dan menguatkan imannya. Suami juga hendaknya mengajari istri bagaimana seharusnya seorang istri menunaikan kewajiban terhada suaminya.

Jika istri belum berubah maka suami boleh memukul degan pukulan yang mendidik tanpa menyakiti. Jika belum berubah juga, maka pisah ranjang. Jika suami telah berusaha menempuh tahapan-tahapan untuk memperbaiki namun itsri tidak juga mengalami perubahan, maka tidak mengapa menceraikannya dengan talak satu. Kadang hal itu membuat istri sadar sehingga mau berubah dan kembali (rujuk) pada suaminya.

Dasar hukum tahapan-tahapan perbaikan masalah hubungan suami istri dan problem rumah tangga adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34;

( وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً ) النساء/34

Artinya, “

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Qs. An-Nisa:34).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya”, yakni istri yang tidak taat pada suaminya atau durhaka kepada suami dengan perkataan dan perbuatan, maka suami hendaknya mendidiknya secara perlahan-lahan”.

maka nasehatilah mereka”, yakni jelaskan kepada mereka hukum-hukum Allah tentang kewajiban itsri untuk taat pada suami serta larangan durhaka kepadanya, diserati dengan motivasi untuk melakukan ketaatan dan peringatan dari perbuatan maksiat. Jika dia berhenti (dari sikal nusyuznya) maka inilah yang diharapkan . Jika tidak maka suami dapat memboikotnya di tempat tidur dengan tidak menidurinya dan tidak menggaulinya. Jika belum berubah juga maka suami boleh memukul dengan pukulan yang tidak melukai. Jika maksud dan tujuan telah tercapai dengan salah satu dari langkah-langkah perbaikan ini dan istri telah taat pada suami”, maka

“janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”, maksudnya jika yang kalian inginkan telah tercapai maka lupakanlah apa yang telah terjadi sebelumnya, janganlah mencela, dan janganlah menyebut-nyebut aib yang telah lalu,karena hal itu dapat menyebabkan keburukan yang baru”. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 142).

Yang pasti seorang suami adalah orang paling tahu tentang istrinya, jika dia mengetahui sebab nusyuznya istrinya berupa sesuatu yang dapat diperbaiki, maka hendaknya dia berusaha memperbaikinya. Jika tidak berhasil maka hendaknya melibatkan kelurga masing-masing sebagai mediator.  Sebab kadang pihak luar (keluarga/kerabat) lebih berpengaruh dari nasehat suami sendiri.

Ketiga,

Jika istri tidak  mengerjakan shalat, maka suami wajib untuk memulai penyelesaian problem rumah tangga dengan masalah sahalat. Karena shalat merupakan identitas uatama seorang Muslim (ah) sekaligus pembeda antara Muslim dengan orang kafir dan musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ ) . رواه مسلم ( 116

Pembeda seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim, No.116).

Dalam hadits riwayat Tirmidzi beliau bersabda;

( إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ (

Perjanjian antara kami dengan mereka (orang kafir) adalah Shalat, siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia telah kafir” (HR. Tirmidzi, No.2621, Nasai No. 463, dan Ibnu Majah, No.1079 serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Oleh karena itu anda hendaknya mendidik dan membimbingnya untuk mengerjakan shalat dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan. Anda harus mengingatkannya bahwa meninggalkan shalat dapat menyebabkan kekufuran. Jika dia nurut, maka alhamdulillah. Namun jika dia tidak patuh (tidak mau shalat) maka tidak solusi lain untuk menyelasaikan masalah nusyuznya. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya untuk mengerjakan shalat serta membimbing hatinya kepada kebaikan dan mengurunianya syukur nikmat. [sym]

Sumber: https://islamqa.info/ar/98624

7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

Pernikahan adalah satu fase perjalanan kehidupan. Karenanya, penting bagi seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan untuk menyiapkan perbekalan. Tentunya bekal yang tepat. Karena salah membawa bekal sangat beresiko dalam suatu perjalanan. Bagaimana jadinya orang yang hendak mendaki gunung justru berbekal pelampung?

Begitu pula dalam pernikahan. Ketika gaya hidup masyarakat barat menjadi kiblat dan masih jauhnya mayoritas masyarakat dari konsep Islam dalam kehidupan berumah tangga, hal ini sangat rentan memicu timbulnya berbagai konflik dalam rumah tangga, bahkan sampai kepada perceraian.

Apalagi pernikahan tidak sekedar tentang hidup berdua. Tidak semata antara “aku dan kamu” tapi lebih luas adalah membangun peradaban. Lantas bagaimana suatu peradaban dapat dibangun tanpa bekal yang memadai?

Lalu, bekal apa yang mesti disiapkan oleh orang yang hendak menikah? Bekal apa saja yang bakal berguna dalam perjalanan pernikahan itu? Tulisan ini akan menyaikan tujuh beka utama menuju pernikaha sukses dan bahagia.

  1. Kelurusan Niat

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amal itu tergantung niatnya,dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR Bukhari Muslim)

Hadits ini menjadi dalil pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Bahwa niat merupakan pondasi awal suatu amal perbuatan. Bahkan suatu amal perbuatan yang dilandasi oleh beberapa niat dapat memberikan imbas pahala yang berlipat.

Begitu juga dalam pernikahan. Penting bagi orang yang hendak menikah untuk meluruskan niat dan menjaga kelurusan niat pernikahannya agar rumah tangga yang dibangun menuai keberkahan. Seseorang yang meniatkan pernikahannya agar dapat menjaga dirinya dari godaan syetan, untuk menyempurnakan setengah dien nya, agar dapat melakukan amalan-amalan yang hanya bisa dilakukan dalam pernikahan, insya Allah dia akan sampai kepada niatnya. Sebagaimana kaidah yang penulis pegangi, bahwa niat baik insya Allah ketemu jalannya. Dan tentunya niat ini perlu senantiasa dijaga kelurusannya sepanjang masa pernikahan yang panjang. Dan hanya Allah sebaik-baik Penolong.

  1. Bertakwa kepada Allah

Di dalam surat Ath thalaq  ayat 2-3 Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (٣)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak tidak disangka-sangka” (QS Ath Thalaq 2-3)

Allah berjanji mencukupi kebutuhan dan mengatasi urusan hamba-Nya yang bertakwa. Sementara kita pahami bersama bahwa kehidupan rumah tangga adalah misteri yang hanya akan terungkap setelah kita menjalaninya. Kita tidak tahu seperti apa hari-hari ke depan dalam pernikahan yang kita bangun kecuali setelah hari itu kita lewati. Karenanya, menyiapkan diri dengan membangun ketakwaan kepada Allah merupakan bekal yang tepat agar lapis-lapis misteri yang terkuak dapat dijalani dengan kemanisan iman.

  1. Mencanangkan Visi Misi Pernikahan

Dalam organisasi dakwah saja kita mengenal visi misi dan rencana kerja. Maka tak kalah penting pula hal ini diterapkan dalam pernikahan. Bahkan kesamaan visi misi bagi dua calon pasangan yang akan menikah merupakan salah satu barometer kesuksesan urusan yang akan mereka tempuh. Kesamaan visi misi akan membuat biduk rumah tangga mudah diarahkan dan tidak mudah oleng oleh terpaan angin persoalan.

  1. Bekal ilmu

Kaidah “ilmu sebelum amal” berlaku dalam semua lini amaliyah termasuk pernikahan. Hendaknya seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan, berbekal ilmu seputar kerumahtanggaan berbasis syari’at. Jangan sampai seseorang menempuh pernikahan tanpa modal pemahaman karena bisa terjebak dalam berbagai jerat-jerat kesalahan dan kemaksiatan.

  1. Bekal Mental Psikologis

Tragedi piring terbang, ringan tangan kepada pasangan, bisa jadi merupakan rapuhnya mental pasutri. Mentalnya belum tangguh untuk mengarungi lembah-lembah pernikahan yang penuh dengan lekuk dan liku.

Dalam pernikahan ada banyak hal yang tidak terduga. Kejutan-kejutan bahagia ataupun hal-hal yang bisa membuat air mata berurai, semua itu butuh kesiapan mental, butuh sikap dewasa dalam menghadapainya. Kesabaran, kemampuan mengolah rasa, sangat dibutuhkan demi utuhnya kapal penikahan dari hempasan badai. Dan bekal ini akan terus bertambah seiring berjalannya usia pernikahan dan dinamika yang terjadi di dalamnya

  1. Bekal Finansial

Poin ini bukan menjadi kaidah bahwa menikah harus kaya. Bahwa orang miskin dilarang menikah. Bukan. Tapi lebih kepada kesiapan untuk menghadapi realita bahwa kebutuhan hidup berumah tangga tentu akan jauh lebih besar daripada menanggung diri sendiri.

Bukankah Allah akan memampukan orang yang menikah dengan rejeki-Nya? Tentu, ini dalil yang tidak bisa disangkal. Hanya saja, apakah kemudian rejeki itu hanya ditunggu saja sambil berpangku tangan? Tentunya saja perlu ada sebab-sebab untuk mendatangkannya. Ada ikhtiar utnuk meraihnya.

Karena terkadang poin ini menjadi syarat bagi sebagian orang bahwa calon pasangannya harus punya pekerjaan tetap, harus mapan, harus berpenghasilan sekian. Di sisi lain pun seorang pria menjadi gamang menikah karena belum memiliki pekerjaan tetap, penghasilannya masih minimalis. Hmmm …. kalau boleh penulis koreksi, pemikiran itu perlu diluruskan. Sah-sah saja sih syarat itu diajukan. Tapi jangan sampai gara-gara syarat itu Anda kemudian memutuskan untuk tidak menikah. Bagi penulis, masalah sebenarnya bukan pada pekerjaannya, tapi tetap bekerja dan mempunyai semangat kerja. Karena rejeki itu sudah ada yang mengatur. Dan sebagaimana janji Allah, bahwa Allah akan memampukan mereka dengan rejeki-Nya.

  1. Bekal Fisik

Menjalani kehidupan berumah tangga tentu saja berbeda kondisinya dengan kehidupan membujang. Banyak hal yang membutuhkan kesiapan dan kesigapan fisik kita. Seorang suami tentu perlu menyiapkan fisiknya supaya bisa mencari penghidupan tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk istri dan anaknya.

Seorang istri pun perlu sigap menciptakan keadaan rumah yang nyaman demi nyamannya suami di sisinya dan lebih betah menghabiskan waktu di rumah. Mengurus anak-anak pun butuh kesiapan fisik. Bahkan dalam melakoni hubungan suami istri pun butuh kesiapan fisik yang prima. Karenanya hal ini perlu disiapkan pra nikah dengan menjaga kesehatan dan menjalani pola hidup sehat.  (ummisanti).