DPW DKI Jakarta dan Depok

Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

24
Penawar Jiwa Yang Rapuh (Kenangan Indah Bersama Wahdah Islamiyah)

Oleh: Achmad Firdaus

Suatu saat dikemudian hari ketika semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara para pejuang sejati yang bercerita tentang perjuangan yang indah. (AF)

Ada kalanya waktu ibarat dimensi yang terlihat, layaknya orang yang bisa menatap gedung-gedung yang tinggi, pepohonan dan puncak gunung dikejauhan sana. Setiap orang bisa menatap waktu ke arah yang berlawanan dan tampaklah kejadian penting masa lalu, kelahiran, pernikahan dan kematian terlihat sebagai pertanda adanya dimensi waktu. Begitupun dengan rentetan kejadian di masa yang akan datang, merentang penuh hayal dan tanya di masa depan yang jauh. Kita semua akan berpindah tempat, namun setiap orang bisa memilih gerak pada poros waktu. Mungkin banyak diantara kita yang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan, ada memilih berlambat-lambat berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian, sementara yang lain berpacu menuju masa depan dengan berjuta harapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas.

Setiap insan ditakdirkan bersama rentetan peristiwa yang telah dan (akan) menemani hari-harinya. Tak terkecuali dengan petualangan hidupku yang telah menyisakan beragam goresan kisah yang indah. Terlebih lagi disaat aku mencoba memainkan memori dalam ingatanku yang melayang jauh ke masa lalu, belasan tahun silam, saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Merah, kampus yang dikenal sebagai perguruan tinggi terfavorit di Kawasan Timur Indonesia. Sedikit bangga dan bersyukur bisa mengenyam pendidikan di kampus ternama itu, terlebih lagi saat mengingat masa-masa indah datangnya cahaya hidayah. Iya, kampus itulah yang menjadi saksi bisunya.

Aku merasa rindu sekali berada pada masa itu, rindu pada sosok yang ketika itu, tujuh, delapan, atau sembilan tahun yang lalu merombak kotak-kotak ‘nafsu duniawi’ dalam hidupku. Beliau adalah seorang guru yang sangat sederhana, ramah dengan senyum khas dan sapaan lembutnya saat menjumpai kami murid-muridnya. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan penampilannya sebagai seorang guru, mungkin berbeda dengan professor-doktor dengan perawakan angkuh dan gaya modis masa kini yang sering aku jumpai dikampus. Beliau selalu ceria bersama kami, meskipun terkadang matanya nampak sayu pertanda beliau dalam kondisi lelah dengan beragam aktivitas dakwahnya, apalagi beliau adalah ‘orang penting’ di Wahdah Islamiyah kala itu.

Iya, Wahdah Islamiyah. Beliaulah yang memperkenalkan kepadaku lebih jauh tentang ormas ahlussunnah tersebut, meskipun sebenarnya organisasi dakwah itu sudah tidak asing lagi bagiku, karena kebetulan disaat awal menjadi mahasiswa, aku beberapa kali ‘terjebak’ ikut dalam ta’lim pekanan di masjid milik Wahdah Islamiyah yang terletak dikawasan pondokan mahasiswa. Beliau selalu mengajari kami dengan tutur kata yang lembut dan santun, sehingga nasehat yang beliau sampaikan lebih mudah ‘nyantol’ dihati murid-muridnya. Beliau juga yang tak pernah bosan mengingatkan kami untuk selalu menghadiri majelis ilmu di masjid-masjid binaan Wahdah Islamiyah di Kota Makassar.

Masih tercatat begitu jelas, hari itu Kamis 8 November 2007, ketika beliau memaparkan dengan gamblang di hadapan aku dan teman-temanku, bagaimana pentingnya menjaga keikhlasan untuk menjadi seorang aktivis dakwah yang baik. Hari itu memang bukan kali pertama aku bermajelis dengan beliau, namun nasehat-nasehat yang disampaikan kepada kami sangat bermakna buatku, karena kebetulan di tahun itu aku dipercayakan untuk menempati posisi ‘penting’ dalam  mengemban amanah dakwah. Suasana hangat dalam majelis ilmu bersama beliau pun terus berlanjut dalam episode-episode yang panjang.

Setiap Kamis ba’da Ashar, dengan ditemani lampu yang tak terlalu terang, beliau selalu sabar dan setia menanti kami (murid-muridnya) di pojok masjid kampus lantai dua. Terkadang beliau juga yang ‘membangunkan’ ketika kami bermalas-malasan atau keasyikan nongkrong sehingga lupa akan jadwal tarbiyah. Sekali lagi, dengan sabarnya menanti kami yang sementara antri untuk mandi, sikat gigi, berwudhu, atau mempersiapkan segala sesuatunya. Lalu setelah satu demi satu hadir, dimulailah pembelajaran itu, sebuah lingkaran kecil dengan lima, enam, tujuh, sampai sepuluh orang lebih (tak menentu) peserta dan seorang guru. Dengan sabar dan tekun ia sampaikan materi demi materi setiap pekannya.

Ah, aku rindu dengan orang ini, aku rindu dengan sentuhan lembutnya ketika membangunkan kami saat tertidur disela-sela materi yang disampaikan. Aku rindu suara khasnya yang selalu mengingatkan kami “Akhi, jangan lupa hari ini jadwal tarbiyah ya, ingatkan ikhwa yang lain, kumpul di masjid kampus Unhas.” Ujarnya lembut. Aku benar-benar rindu bermajelis dengannya, walaupun mungkin seringkali kami membuat beliau kecewa, dengan datang telat, sering ‘ngantuk’ saat belajar, dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, beliau tidak pernah marah dan selalu sabar mengajari kami tentang Islam yang sesungguhnya.

Menurut aku, beliau adalah guru paling sabar yang pernah aku temui, dengan telaten menasehati kami yang masih berlumur dosa kemaksiatan dan kegelapan jahiliyah, untuk kemudian membimbing menuju cahaya hidayah Allah. Beliau tak pernah bosan mengarahkan kami agar menjadi seorang Muslim sejati yang senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah. Sehingga saat itu aku benar-benar yakin bahwa disinilah aku menemukan jalan kebenaran yang akan menuntun hidupku menuju negeri keabadian kelak.

Tak terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi (bukan terkesan lebay) tatkala aku mengingat setiap rentetan peristiwa penuh makna itu. Ya, kebersamaan yang begitu indah dengan saudara tercinta dalam satu halaqah tarbiyah, meskipun tak bisa dipungkiri dalam sepekannya terkadang peserta tarbiyah berganti-ganti dan kadang ada juga ‘bintang tamu’ sebagai peserta baru yang bergabung bersama kami. Tapi itulah kekuatan kebersamaan dalam majelis ilmu yang dengannya dapat mempersatukan kami dalam ikatan ukhuwah meskipun dari beragam karakter yang berbeda. (Bersambung insya Allah)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: