Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (2)

stop ucapkan selamat natal dan tahun baru masehi. sumber: Masjidku

Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi


Tahun Baru Masehi
Tahun baru masehi yang diperingati dengan meriah setiap tahunnya di seluruh dunia merupakan bagian dari perayaan Natal yang jatuh dirayakan pada 25 Desember. Oleh karena itu tidak pantas bagi ummat Islam ikut-ikutan merayakannya. Karena ikut meramaikannya termasuk bagian dari tasyabbuh bil kuffar (menyerupai goloangan kafir) yang dilarang dalam Islam.

Penanggalan Masehi disebut pula sebagai kalender Gregorian yang merupakan sistem penanggalan paling banyak dipakai di Dunia Barat. Kalender Gregorian sendiri sebetulnya merupakan revisi dari Kalender Julian. Revisi tersebut dilakukan pertama kali pada tahun 1582 atas usul Doktor Aloysius Lilius dari Napoli Itali yang dituruti oleh Pope Gregory XIII.

Selain itu penanggalan masehi juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepercayaan paganisme bangsa Romawi. Hubungan tersebut dapat dilihat pada nama-nama bulan yang digunakan dalam penanggalan tersebut;

    1. Januari, yang merupakan bulan pertama dalam penanggalan masehi berasal dari nama Dewa Janus, dewa bemuka dua yang satu menghadap ke depan dan satunya lagi menghadap ke belakang.
    2. Februari, yang merupakan bulan ke-2 dalam penanggalan Masehi berasal dari nama dewa Februs; dewa Penyucian.
    3. Maret, merupakan bulan ke-3 dalam penanggalan Masehi. Berasal dari nama dewa Mars; dewa Perang. Pada asalnya Maret merupakan bulan pertama dalam penanggalan Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ke-3.
    4. April, merupakan bulan ke-4 dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Aprilis yang dalam bahasa Latin disebut pula Aperire yang berarti membuka. Disebut demikian karena konon penyebutan ini berkait dengan musim bunga yang kelopak-kelopaknya mulai membuka pada bulan tersebut. Aprilis atau Apreire diyakini pula sebagai nama lain dari dewi Aphorodite atau Apru, dewi Cinta orang Romawi.
    5. Mei, merupakan bulan ke-5 dalam penanggalan Masehi, berasal dari nama dewi Maia yang merupakan nama dewi kesuburan bangsa Romawi.
    6. Juni, merupakan bulan ke-6 dalam tahun Masehi berasal dari nama dewi Juno.
    7. Juli yang meruapakan bulan ke-7 dalam penanggalan Masehi berasal dari nama Julius Caesar. Ia dilahirkan pada bulan ini, yang sebelumnya dalam tahun Romawi dinamakan Quintis. Quintis artinya bulan ke-5 dalam bahasa Latin, karena sebelumnya kalender Romawi bermula dari bulan Maret.
    8. Agustus. Merupakan bulan ke delapan dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Kaisar Agustus yang lahir pada bulan ini. Ketika maret masih menjadi bulan pertama dalam penanggalan Romawi, agustus menjadi bulan ke-6 dengan sebutan sextilis.
    9. September, merupakan bulan ke-9 dalam tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Septem, artinya tujuh. Karena sebelumnya September merupakan bulan ke-7 dalam kalender Roman.
    10. Oktober, merupakan bulan ke-10 dalam tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Octo yang berarti delapan. Sebab, Oktober adalah bulan ke-8 dalam kalender Romawi.
    11. November, merupakan bulan kesebelas dalam tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang artinya sembilan. Karena november merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi .
    12. Desember, merupakan bulan ke-12 atau terakhir dalam penanggalan Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Decem yang artinya sepuluh. Karena dalam kalender Romawi sampai tahun 153 SM ia merupakan bulan ke-10.
Baca Juga  Kesempurnaan Syariat Islam Tak Boleh Dilecehkan

Dari uraian di atas, jelas bahwa penanggalan Masehi berasal dari Penanggalan Romawi Kuno yang sarat nilai-nilai paganisme yang kemudian menjadi penanggalan resmi agama Kristen. Oleh karena itu, sejak dulu sampai sekarang perayaan tahun baru Masehi selalu sepaket dengan perayaan Natal. Lihat saja ucapan selamat yang bertebaran dimana-mana. Kebanyakan berbunyi, Selamat Natal da Tahun Baru, atau dalam bahasa Inggris happy christmas and new year.

Islam sebagai satu-satunya Agama wahyu yang diturunkan Allah merupakan ajaran yang lengkap. Ia memiliki sistem penanggalannya sendiri yakni kalender Hijriah, yang bermula dar peristiwa Hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah. Bulan pertamanya adalan bulan Muharram. Sebagai Muslim harus bangga dengan identitas keislaman karena hal itu meruapak bagian dari loylitas seorang Muslim terhadap Diennya. Bangga dengan identitas selain Islam justeru menjadi sebab kehinaan. Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu,Kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan hinakan kita”.

Tasyabbuh bil Kuffar

Perayaan tahun baru masehi juga termasuk dalam kategori tasyabbuh bil kuffar (menyerupai oran g kafir) yang dilarang oleh Islam. Karena tasyabbuh dapat menjerumuskan ke dalam kekufuran. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari mereka”.

Perayaan tahun baru masehi tergolong tasyabbuh karena;

(1) dalam Islam tidak ada perayaan menyambut tahun baru. Meski ummat Islam memiliki penanggalan sendiri berupa kalender hijriah, namun tidak ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk merayakannya. Tidak ada pula contoh dari para khulafaur Rasyidin dan sababat lainnya yang memperingatinya.

(2) Perayaan tahun baru masehi sendiri merupakan hari raya orang kafir yang sepaket dengan natal sebagaimana dijelaskan di atas.

(3) perayaan tahun baru masehi penuh dengan hura-hura dan maksiat. Perayaan tahun baru selalu ramai dengan pesta miras, konser musik, bahkan perzinahaan. Dikabarkan melalui tribunnews.com, pemuda di kota ini memborong kondom menjelang tahun baru. Setiap tahun menjelang tahun baru penjualan kondom selalu meningkat tajam. Dan penurut pengakuan pihak apotek, kebanyakan dari pembeli kondom menjelang tahun baru tersebut adalah anak muda dan mahasiswa, wallahul musta’an.

(4) perayaan tahun baru juga selalu identik dengan meniup terompet yang meruapakan kebiasaan orang-orang Yahudi. Karena sejarah kemunculan terompet berasal dari tradisi dan budaya Yahudi.

Selain itu perayaan tahun baru juga sarat dengan perilaku tabdzir (pemborosan) dan menghambur-hamburkan uang. Biaya terbesar dalam perayaan tahun baru adalah kembang api yang dibakar secara sia-sia pada malam pergantian tahun. Pada perayaan tahun baru 2014 di Kota ini diluncurkan sekitar 5000 shoot kembang api di pantai Losari. Sebelumnya pada perayaan tahun baru 2013 pesta kembang api di lokasi yang sama menelan biaya sekitar 10 Milyard rupiah. Ini baru di kota ini. Belum di kota lain dan di daerah lain di tanah air. Sungguh ironis disaat masih banyak rakyat yang terlilit kemiskinan dan kelaparan, milyaran rupiah jutsru sengaja dibakar sia-sia hanya untuk pesta dan hura-hura menyambut dan merayakan tahun baru. Wallahul musta’an. (Abu Muhammad al-Munawiy/Depok, 2/3/1436 H).

Baca juga: Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (1) 

Posted in Aqidah, Artikel and tagged , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan