Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (1)

stop ucapkan selamat natal dan tahun baru masehi. sumber: Masjidku

Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati nabi ‘Isa ‘alaihissalam, tetapi Natal tidak dipisakan dari soal-soal keyakinan dan peribadatan.

Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah dalam Kitabnya yang berjudul Al-Ushul ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Pokok) menyebutkan, ta’rif (pengertian) Islam adalah, “Penyerahan diri (istislam) kepada Allah dengan men-tauhid-kannya, tunduk (inqiyad) pada-Nya dengan melakukan ketaatan, serta berlepas diri dari ke-syirik-an dan pelakunya”.

Salah satu unsur penting dalam definisi Islam yang beliau sebutkan adalah, “berlepas diri (bara’ah) dari syirik dan pelaku kesyrikan”. Maknanya pengesaan (tauhid) dan ketaatan kepada Allah takkan pernah terwujud dengan sempurna kecuali dengan meninggalkan kesyirikan dan segala hal yang berkaitan dengannya. Dalam bab Aqidah hal ini dikenal dengan konsep al-Wala wal Baro’ (Loyal dan Cinta pada Islam serta berlepas diri dari lawannya).

Diantara bentuk wala’ kepada Islam dan baro dari syririk adalah tidak terlibat dalam perayaan hari raya orang-orang musyrik. Dalam risalah Al-Wala wal Baro’, Syekh Sholeh al-Fauzan hafidzahullah menyebutkan bahwa diantara bentuk baro’ tehadap orang kafir dan musyrik adalah, “tidak meniru orang musyrik dan kafir dalam aspek yang merupakan ciri dan kebiasaan mereka, baik yang berkaitan dengan urusan dunia (seperti cara makan dan berpakaian) maupun urusan agama (seperti perayaan hari raya agamaa mereka)”.

Baca Juga  Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Maha Mengetahui)

***

Salah satu topik yang hangat didiskusikan pada hari-hari ini adalah soal keikutsertaan ummat Islam dalam perayaan Natal, baik natalan bersama, memakai atribut-atribut natal, dan ucapan selamat. Soal Natalan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah memfatwakan haramnya natal bersama sejak tahun 1981. Dalam fatwa tertanggal 7 maret 1981 dan ditandatangani KH. M. Syukri Ghozali dan KH. Mas’udi tersebut mengatur tiga hal berkenaan dengan Natal, yakni;

Pertama, Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati nabi ‘Isa ‘alaihissalam, tetapi Natal tidak dipisakan dari soal-soal keyakinan dan peribadatan.
Kedua, Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
Ketiga, Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Fatwa tersebut dikeluarkan untuk memberi petunjuk yang jelas kepada ummat Islam tentang Natal bersama agar tidak mencampur ibadahnya dengan ibadah agama lain, tanpa mengurangi upaya menjaga kerukunan antar ummat beragama di Indonesia.

Meski tidak ada klausul larangan mengucapkan selamat natal dan memengenakan atribut natal, namun pada poin tiga secara tegas menganjurkan ummat Islam untuk tidak mengikuti kegiatan Natal. Sebab memakai atribut Natal merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal. Demikian pula dengan ucapan selamat. Ia termasuk bagian dari persetujuan dan pembenaran terhadap keyakinan orang Kristen yang meyakini; Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan.  Wallahul musta’an. Bersambung  insya Allah.

(Abu Muhammad al-Munawiy/Depok, 2/3/1436 H)

Baca Juga  Asmaul Husna [01]: ALLAH

Baca juga:  Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi (2)

Tahfidz Weekend
Posted in Aqidah and tagged , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.