Pernyataan Sikap Dewan Dakwah Islamiyah Kota Bogor Tentang Cap Go Meh

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kota Bogor, Ustadz Abdul Khalim

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan Bertawakkal kepada Allah ‘Azza wa Jalla,

Atas nama Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia Kota Bogor kami menyatakan Sikap Tentang Polemik Cap Go Meh Tanggal 19 Februari 2019 sebagai berikut:

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. 9, At Taubah 24)

  1. Setelah menelusuri jejak digital sejarah dan pemberitaan CGM didapati bahwa salah satu ciri khas pawai budaya CGM yang akan dilaksanakan pada tgl.19 Februari 2019, dengan mengusung tandu 100 joli (dewa) serta dupa yang diyakini Umat Agama Konghucu membawa keberkahan, maka Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kota Bogor menyatakan bahwa CGM adalah acara Budaya berbasis Agama yang dalam ajaran Agama Islam merupakan bentuk perbuatan Syirik.
  2. Setelah menelusuri jejak acara CGM Kota Bogor yang dalam acaranya banyak melibatkan umat Islam dengan pola pemberian upah, kami memandang bahwa pola seperti ini mengandung unsur mengajak umat agama lain untuk mengikuti acara budaya berbasis agama dengan menggunakan kekuatan materi, maka Dewan Da’wah Kota Bogor menyatakan bahwa pawai CGM dengan pola pemberian upah untuk melibatkan massa Umat Islam dalam acara Budaya berbasis Agama Konghucu merupakan kegiatan yang tanpa disadari  mengarah kepada penyesatan.
  3. Setelah menelusuri jejak Budaya Sunda maka CGM bukan termasuk budaya khas Bogor tetapi budaya khas Agama Konghucu, maka Dewan Da’wah Kota Bogor menyatakan bahwa CGM adalah sebuah bentuk budaya dan perayaan yang menjadi hak khusus Umat Konghucu oleh karena itu tidak perlu dibesar-besarkan menjadi acara umum yang melibatkan umat agama lain khususnya Umat Islam.
  4. Setelah mengamati dengan saksama peran pro aktif Pemkot Kota Bogor dalam memfasilitasi acara CGM yang notabene Budaya berbasis Agama Konghucu, maka Dewan Da’wah Kota Bogor memandang kebijakan ini kurang tepat jika CGM  dijadikan sebagai salah satu icon budaya Kota Bogor. Oleh karena itu kami mengusulkan agar Festifal Budaya Kota Bogor hendaklah diselenggarakan bertepatan dengan Hari Jadi Bogor (HJB), tidak  diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Imlek dengan CGM sebagai acara puncak
  5. Kami menghimbau kepada Umat Islam tetap menghormati Umat Konghucu menggelar acara CGM namun dengan prinsip ajaran Islam (lakum diinukum waliy yadiin: untukmu agamamu dan untukku agamaku).
  6. Kewajiban kami dalam rangka Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan bentuk kecintaan Umat Islam kota Bogor kepada seluruh umat beragama dan untuk keselamatan masyarakat kota Bogor agar terhindar dari bencana dan adzab Alloh SWT.
  7. Kewajiban kami dalam Da’wah adalah menyampaikan sehingga dapat menjadi hujjah kami di hadapan Allah SWT.

Firman Allah SWT :

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas. (QS.18, Al-Kahfi: 28)

Demikian semoga Allah membuka pintu hati dan pikiran kita agar pentunjuk-Nya selalu menyertai kita. Amiin.

Bogor, 29 Januari 2019

Wassalamu’alaikum wr. wb

Ttd

Abdul Khalim, S.Ag

Ketua Dewan Da’wah Kota Bogor

Muhammad Abbas Aula, Lc. M.HI

Ketua Majelis Syuro Dewan Da’wah Kota Bogor*

Posted in Artikel.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.