Puasa Adalah Perisai dari Neraka

 

Ash-Shiyamu junnat[un], Puasa adalah perisai. Begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya.

Perisai dari apa?

Di dunia puasa menjadi perisai dari syahwat dan maksiat serta hawa nafsu. Sedangkan di akhirat puasa menjadi perisai dari neraka dan adzab Allah.

Imam Ahmad dan Nasai meriwayatkan dari Utsman bin Abil ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“الصوم جُنَّة من عذاب الله”. (صحيح الجامع: 3867).

“Puasa itu perisai dari adzab Allah”. (Shahih al-Jami’, 3867).

Dalam riwayat lain berbunyi;

“الصيام جُنَّة من النار كجُنَّة أحدكم من القتال”.

“Puasa itu perisai seperti perisai salah seorang diantara kalian pada saat perang”. (HR. Ahmad dan Nasai)”.

Dalam riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 “الصيام جُنَّة يستجن بها العبد من النار” (صحيح الجامع: 3868).

“Puasa itu perisai, dengannya seorang hamba berlindung dari api neraka” (HR. Ahmad, Shahih al-Jami’ 3868).

Sementara dalam riwayat Abu Huraitag berbunyi;

“الصيام جُنَّة وحصن حصين من النار” (صحيح الجامع: 3880)

 

 “Puasa itu benteng yang membentengi dari api neraka”. (HR. Ahmad, Shahih al-Jami’, 3880).

Ibnu Hibban meriwayatkan dengan sanad shahih,  dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya.

يا كعب بن عُجْرةَ: الصلاةُ قربان، والصوم جُنَّة، والصدقة تطفئُ الخطيئة كما يذهبُ الجليدُ على الصفا”.

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah; Shalat itu pendekatan diri kepada Allah, puasa itu perisai, dan sedekah itu menghapuskan kesalahgan sebagaimana

Al-Munawiy berkata dalam Faidhul Qadir;

“Puasa adalah pelindung di dunia dari maksiat dengan menghancurkan syahwat dan menjaga anggota badan sedang di akhirat melindungi dari neraka”.

Beliau juga berkata;

“Puasa dalah perisai dari adzab Allah sehingga ia tidak disentuh oleh api neraka sebagaimana api neraka tidak dapat menyentuh anggota badan yang termasuk anggota wudhu, karena puasa melibatkan seluruh anggota tubuh, sehingga dengan rahmat Allah puasa menjadi perisai dari neraka”.

Oleh karena itu Ibnu Abdil Barr berkata; “Cukuplah hal ini sebagai bukti keutamaan bagi orang yang berpuasa”.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihin wa sallam, beliau bersabda;

“مَن صام يومًا في سبيل الله بَعَّد الله وجهه عن النار سبعين خريفًا”.

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 700 tahun”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Nasai dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu dengan lafal;

“مَن صام يومًا في سبيل الله، باعد الله منه جهنم مسيره مائة عام”

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan seratus tahun”.

Imam Qurthubi berkata; “Makna di jalan Allah adalah ketaatan kepada Allah. Jadi maksudnya adalah siapa yang berpuasa dengan maksud mengharap wajah Allah”.

Al-Munawi rahimahullah berkata; “Di jalan Allah, maksudnya karena Allah (Lillah) dan karena mengharap wajah Allah, atau dalam perang atau perjalanan haji”.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“مَن صام يومًا في سبيل الله جعل الله بينه وبين النار خندقًا كما بين السماء والأرض”

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Allah letakkan parit antara dirinya dengan api neraka sejauh jarak antara langit dan bumi”.

Jika hal ini berlaku untuk puasa sunnah satu hari Allah menjauhkannya dari neraka dengan parit sejauh perjalanan 500 tahun, maka bagaimana dengan puasa Ramadhan yang merupakan puasa fardhu (wajib)? []

Penulis             : Syekh Abu Ahmad

Penerjemah    : Abu Muhammad

Artikel             : https://www.alukah.net/

 

 

 

Posted in Artikel and tagged .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.