Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an

 

Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an . Sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٥٨﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (Qs. Yunus;57-58).

Ketika kaum Muslimin berhasil membuka negeri Iraq pada masa pemerintahan Amirul Mu’minin radhiyallahu ‘anhu, mereka memperoleh berbagai ghanimah (rampasan perang). Ketika kharaj Iraq diserahkan kepada Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah, beliau keluar bersama budaknya untuk menerima Kharaj tersebut. Beliau mulai menghitung Onta hasil rampasan perang yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ini ternyata jumlahnya sangat banyak, sembari menghitung beliu terus menggumamkan puji dan syukur pada Allah. “Alhamdulillah Lillahi Ta’ala”, ucapnya. Menyambut sikap ini beudak beliau mengatakan, “Ini adalah fadhl (karunia) Allah dan rahmat-Nya”. “kamu berdusta”, sambut Umar. “Bukan ini”, lanjutnya. Karunia dan rahmat Allah yang sesungguhnya adalah yang dikatakan oleh Allah, “katakan………” (membaca surah Yunus ayat 58).
***
Fragmen di atas dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-Adzim ketika menjelaskan tafsir ayat 57-58 surat Yunus yang dibahas dalam tulisan ini. Melalui penggalan kisah ini pula Amirul Mu’minin mengajari kita bagaimana menempatkan perbandingan antara kekayaan materi dengan karunia Allah berupa nimat Al-Qur’an pada posisi yang adil. Bahwa nikmat al-Qur’an lebih baik dari berbagai sisi dibanding seluruh perbendaharaan dunia dengan segala pernak-perniknya yang fana dan akan hilang.

Oleh sebab itu Allah menyuruh Nabi-Nya untuk bergembira dengan karunia al-Qur’an tersebut, sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.

Mau’idzah; Nasehat dan pelajaran
Inilah unsur dan siafat pertama yang dikandung oleh al Qur’an yang disebutkan pada ayat di atas. Mu’idzah, Secara harfiah, berarti nasehat dan pelajaran. Penulis Kitab At-Tafsir al-Wajiz (hlm.216) menyebutnya sebagai nasehat yang mendalam dan menyentuh serta mengandung wasiat (pesan) untuk melakukan kebaikan dan mengikuti kebenaran serta menjauhi keburukan dan kebatilan.

Menurut Imam Ibnu Katsir, makna Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran adalah, “zajir ‘anil fawahisy; melarang dari perbuatan keji”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, 3/1380). Syekh As Sa’di menambahkan penjelasan yang lebih rinci tentang makna mau’idzah yang diperankan oleh al-Qur’an, yakni menasehati dan memperingatkan dari berbagai amal perbuatan yang mengundang murka Allah dan berkonsekuensi pada turunnya adzab-Nya dengan disertai penejelasan akan dampak buruk dan mafsadat dari perbuatan tersebut”. (Lih, Tafsir As Sa’di, hlm. 213-214).

Sebagai kalamullah atau kitab suci yang bersumber dari Allah Rabbul ‘alamin, metode yAl-Qur’an dalam menasehati dan mengajari manusia untuk melakukan kebaikan, mengikuti kebenaran, serta meninggalkan perbuatan buruk dan keji yang mengundang murka, siksa dan adzab Allah adalah metode yang sesai dengat tabiat dan kecenderungan jiwa manusia. Yakni melalui tadzkir (peringatan), targhib (motifasi), dan tarhib (ancaman), sebagaimana dikatakan oleh para Ahli Tafsir diantaranya Imam Ath-Thabari, Asy-Syaukani, Az Zuhali, dan yang lainnya.

Selain dalam ayat ini, fungsi dan peran al-Qur’an sebagai mau’idzah diterangkan pula dalam ayat lain diantaranya surat Ali Imran ayat 138 dan An-Nur ayat 34;

هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٨﴾

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran[3]: 138).

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُّبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِّنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٣٤﴾

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs. An-Nur[24]:34).

Unik dan menariknya dalam dua ayat ini (3:138, dan 24:34) fungsi dan peran Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran dikaitkan dengan takwa. Allah berfirman, “dan mau’idzah bagi orang-orang yang bertakwa”. Hal ini menujukan secara tegas bahwa hanya orang-orang bertakwa yang dapat menerima nasehat dan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Sebagaimana petunjuk al-Qur’an juga hanya dapat diraih oleh orang-orang bertakwa. Karena Allah telah tetapkan bahwa al-Qur’an merupakan, “huda[n] Lil Muttaqin; petunjuk bagi orang-orang bertakwa”.

Syifa’ ; Penawar dan Penyembuh
Sifat al-Qur;an yang disebut kedua dalam ayat di atas adalah asy-Syifa. Penawar atau penyembuh bagi (penyakit) yang ada di dalam dada. Menurut para Mufassir bahwa makna dada dalam ayat ini adalah hati. Sehingga mereka menafsirkan bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai syifa’ (penawar dan penyembuh) adalah, “obat penyembuh dari penyakit syubhat dan keragu-raguan”. (Tafsir Ibn Katsir,3/1380). Artinya, “Al-Qur’an menghilangkan berbagai kotoran (rijs) dan daki yang ada di dalamnya”.

Senada dengan Ibnu Katsir, Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa, “Al-Qur’an ini merupakan penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada (hati) berupa penyakit-penyakit syahwat yang menghalangi ketundukan pada Syariat dan (penyembuh) dari penyakit syubhat yang menggerogoti ilmu dan keyakinan. Karena di dalam al-Qur’an ini terdapat mau’idzah (nasehat dan pelajaran), targhib wat tarhib(motifasi dan gertakan), wa’d wal wa’id (janji dan ancaman) yang (kesemua itu) membuat seorang hamba memiliki sikap raghbah dan rahbah. (Tafsir As Sa’diy, hlm. 367).

Baca Juga  MERAIH DERAJAT TAKWA DENGAN QURBAN

Jadi syifa yang dikandung oleh Al-Qur’an meliputi kesembuhan bagi (penyakit) hati berupa syubhat, jahalah (kebodohan), pendapat atau pandangan yang keliru (al-ara al-fasidah), penyimpangan yang buruk, serta maksud dan tujuan yang jelek. (hlm.465). Al-Qur’an adalah obat semua penyakit hati tersebut. “Karena Al-Qur’an mengandung ilmu yang meyakinkan yang menghapuskan setiap kerancuan (syubhat) dan kebodohan (jahalah). Selain itu al-Qur’an juga mengandung nasehat dan peringatan yang menghapuskan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah”. (hlm.465).

Dari penjelasan Ibn Katsir dan Syekh As Sa’di di atas disimpulkan, kata ‘’syifa lima fis Shudur” mencakup makna bahwa al-Qur’an adalah penyembuh bagi apa yang ada di dalam hati dan jiwa manusia berupa penyakit syahwat dan syubhat yang merupakan bibit utama penyakit hati. Buya Hamka mengistilahkannya dengan, “Sesuatu kumpulan dari resep-resep rohani”, (Tafsir Al-Azhar, 11/237).

Meskipun demikian tak dapat dinafikan pula bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai penyembuh juga mencakup penyakit fisik atau badan, sebagaimana dikandung oleh keumuman kata syifa dalam ayat lain yang juga menyebukan fungsi al-Qur’an sebagai syifa. Selain ayat ini ada beberapa ayat lain yang menyebut al-Qur’an sebagai syifa’ yaitu; surah Al-Isra ayat 82 dan Fushilat ayat 44. Dalam al Isra disandingkan rahmat, dan dalam surat Fushilat disandingkan dengan petunjuk (hudan).

Syekh As-Sa’di ketika menafsirkan kata Syifa pada kalimat, “katakan, bagi orang beriman al-Qur’an itu adalah huda (petunjuk) dan syifa (penyembuh)” mengisyaratkan bahwa kesembuhan melalui al-Qur’an mencakup penyakit badan (amradh badaniyah) dan penyakit hati (amradh qalbiyah). Proses dan cara penyembuhan penyakit badan dengan al-Qur’an disebat dengan ruqyah. Mengobati suatu penyakit dengan bacaan al-Qur’an bukan sesuatu yang baru. Sebab para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah seorang yang keracunan hewan berbisa dengan bacaan surat Al-Fatihah.

Penunjuk dan Pemandu Jalan
Dalam ayat ini al-Qur’an disebut juga sebagai hudan yang berarti petunjuk. Al-Qur’an adalah pemandu atau pelopor, untuk menempuh semak belukar kehidupan ini , supaya kita jangan tersesat. Sebab baru sekali ini kita datang ke dunia ini . Jangan sesat dalam i’tikad dan kepercayaan , jangan salah dalam amal dan ibadat. (Tafsir Al-Azhar, 11/239).
Menurut Ibnu Syekh As Sa’di makna hudan adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Artinya al-Qur’an (sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka) adalah panduan, pedoman, petunjuk untuk mengenali kebenaran sekaligus panduan dan tuntunan dalam mengamalkan kebenaran tersebut. Sebab Al-Qur’an menuntun ke jalan yang lurus dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat sehingga mereka yang berpedoman dengan al-Qur’an memperoleh hidayah sempurna dari Allah Ta’ala.

Bila kita amati ayat-ayat yang menyebutkan al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) kita temukan bahwa bahwa al-Qur’an kadang disebut sebagai hudan Lin Nas (petunjuk bagi manusia), atau petunjuk bagi orang-orang beriman, atau hudan Lil Muttaqin (petunjuk bagi orang bertakwa). Pada asalnya al-Qur;an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, akan tetapi orang-orang kafir tidak mengindahkan petunjuk al-Qur’an sehingga mereka tidak memperoleh sama sekali manfaat al-Qur’an. Bahkan bagi orang kafir al-Qur’an justru menambah kerugian mereka karena sikap durhaka mereka terhadap al-Qur’an.

Rahmat
Fungsi keempat bagi al-Qur’an adalah sebagai rahmat, yaitu karunia berupa kasih sayang, kebaikan, dan pahala di dunia dan akhirat. Menurut Buaya Hamka ini hasil dari urutan tiga pertama (mau’idzah, syifa’, dan huda[n]). Menurutnya bila ajaran Allah dipegang teguh, al-Qur’an dijadikan sebagai obat hati penawar dada, dan dijadikan petunjuk dalam perjalanan hidup, pasti akan merasakan rahmat Ilahi bagi diri, rumah tangga, dan masyarakat.
Semakna dengan pendapat Buya Hamka di atas Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa bila seseorang memperoleh hidayah, maka ia berhak mendapat rahmat yang berasal dari hidayah tersebut. Sehingga ia meraih kebahagiaan (sa’dah) kesuksesan (falah), keberuntungan (ribh), keselamatan (najah), kesenangan (farh), dan kegembiraan (surur). (hlm.367).

Akan tetapi karunia Allah berupa hidayah dan rahmat kasih sayang Allah sebagai bagian dari fungsi al-Qur’an hanya diperuntukan bagi orang-orang beriman. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Hal itu (hidayah dan rahmat) hanya berlaku bagi orang-orang beriman yang mengimani, mempercayai, dan meyakini al-Qur’an beserta isi kandungan yang terdapat di dalamnya” (Tafsir Ibn Katsir, 3/1380).
Artinya orang yang tidak beriman tidak akan pernah merasakan al-Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat. Justru sebalikan bagi orang yang dzalim al-Qur’an hanya akan menambah kerugian mereka. Merugi karena tidak mendapatkan manfaat apapun dari al-Qur’an.

Berbahagialah
Allah menyertai ayat tentang empat unsur yang dimiliki oleh Al-Qur’an berupa nasehat dan pelajaran, penawar atau penyembuh, petunjuk, dan rahmat dengan perintah untuk bergembira. Allah mengatakan, “Katakan wahai Muhammad, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itulah bersukacita, itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Maksudnya nikmat dan karunia al-Qur’an lebih pantas untuk disyukuri dan disikapi dengan bahagia karena ia lebih baik dari perbendaharaan dunia yang dikumpulakn oleh manusia”.

Oleh karena itu untuk memperoleh pelajaran, kesembuhan, petunjuk, dan rahmat dari al-Qur’an hendaknya kita mengimani, mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan al-Qur’an. Semoga Allah merahmati kita dengan al-Qur’an, menjadikannya sebagai imam, cahaya, dan rahmat bagi kita. Allahumma bil qur’an, waj’alhu lana imama[an], wa nura[n], wa huda[n], wa rahmah. [Cikempong, 22/11/2016, 02.26).
Artikel:http://wahdah.or.id

Posted in Al-Qur'an, Artikel, Tajuk and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.