Ringkasan Khutbah Jum’at dari Masjidil Haram, “Masjidil Aqsha dan al-Quds”

Ringkasan Khutbah Jum’at dari Masjidil Haram, “Masjidil Aqsha dan al-Quds

  1. “Duhai Palestina, di setiap hati seorang muslim ada luka berdarah dari problematikamu. Dan di setiap pelupuk mata muslim ada deraian tangis karenamu. Dan bagi setiap muslim dengan keislamannya ada janji untuk Palestina, sejak saat Allah memilih Palestina menjadi tempat Mi’raj menuju langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang.”

  2. “Wahai Palestina, simbol ketegaran, jika cinta tanah air dikarenakan udara, tanah dan jalan yang dilalui oleh seseorang, maka cinta seorang Muslim terhadapmu adalah karena dalam naunganmu terdapat kiblat pertama, Masjidil Aqsha, yang diberkahi tanah sekitarnya.”

  3. Masjidil Aqsha, Tanah Suci Palestina dan Baitul Maqdis adalah bumi kenabian, tempat Isra’ Mi’raj Nabi saw dan warisan umat penutup yang menghuni hati setiap muslim.

  4. Daerah yang diberkahi Allah, juga wilayah sekitarnya. Bagian bumi yang paling banyak ditinggali oleh para Nabi. Udaranya bercampur dengan nafas para Nabi. Halaman-halamannya mendengar tilawah dan munajat mereka. Tanahnya dibasahi dengan air mata dan darah mereka. Lembah-lembah dan lereng-lerengnya adalah tempat tumbuh sebagian besar para Nabi. Jalanannya pernah menerima wahyu Allah dari langit.

  5. Jika kesesatan di berbagai belahan bumi dapat berupa paganisme atau atheisme, maka kesesatan di negeri Syam, atau Baitul Maqdis khususnya, adalah berupa kelengahan menuaikan kewajiban risalah, atau penyelewengan terhadap prinsip-prinsip yang dibawa para Nabi, dengan tetap adanya sisa-sisa kebenaran di tengah mereka, berupa lembaran-lembaran atau kitab-kitab.

  6. Rasulullah saw ketika di Makkah, shalat menghadap Baitul Maqdis selama 13 tahun. Dan setelah hijrah ke Madinah, beliau shalat menghadapnya selama 17 bulan, Sampai al-Qur’an turun memerintahkan shalat menghadap Masjidil Haram. Masjid yang terkait secara azali dengan Masjdil Aqsha. Perjalanan Isra adalah menuju Masjdil Aqsha, dan mi’raj adalah dari Masjdil Aqsha. “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” [QS al-Isra’: 1]

  7. Dari Abu Dzarr ra. beliau berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid mana yang diletakkan lebih dahulu?” Rasulullah berkata, “Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid apa?” Rasulullah SAW menjawab, “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya lagi, “Berapa lama jarak antara keduanya?” Rasulullah SAW menjawab, “Empat puluh tahun.” [Muttafaqun ‘alaih]

  8. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak (diperintahkan) menyiapkan perjalanan kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan masjidku ini.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

  9. Peristiwa Nabi Muhammad saw mengimami para Nabi di Baitul Maqdis saat Isra’ Mi’raj adalah deklarasi bahwa Islam adalah kalimat Allah yang terakhir kepada manusia, yang menjadi sempurna di tangan Nabi Muhammad saw. Celupan terakhir untuk Masjidil Al-Aqsha adalah celupan Islam. Maka melekatlah nasab Masjidil Aqsha dengan Umat yang mewarisinya ini.

  10. Di tahun ke 15 H nubuwat itu terwujud. Ketika para pendeta berkata, “Kami tidak akan menyerahkan kunci Baitul Maqdis kecuali kepada Khalifah yang sifat-sifatnya tersebut di dalam kitab suci” dan ternyata Khalifah Umar bin Khattab lah orang tersebut.

  11. Umar memandang al-Quds dari bukit al-Mukabbir. Di sana beliau bertakbir, lalu gema takbir kaum muslimin pun mengikutinya. Ketika itulah beliau berkata, “Kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Bagaimanapun kalian mencari kemuliaan dengan selainnya, Allah pasti akan menghinakan kalian.”

  12. Sesungguhnya Palestina itu, sejarahnya, tanahnya, tempat-tempat sucinya, dan tempat-tempat bersejarahnya, adalah warisan yang wajib diterima, harus dipelihara, dan mesti dijaga. Al-Quds adalah ayat dalam al-Qur’an. ia akan abadi sepanjang zaman.

  13. Tak seorangpun yang dapat mengubah hakikat ini. umat ini memiliki akar yang terlalu kuat untuk dapat dicabut.

  14. Palestina dan Baitul Maqdis beralih ke tangan kaum muslimin dengan beralihnya berbagai syariat terdahulu kepada syariat Islam. “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” [QS al-Ma’idah: 48]

  15. Tempat-tempat suci tersebut kembali ke pemiliknya yang masih bersungguh-sungguh membelanya meskipun dengan menanggung segenap pahit dan duka. Ia kembali dengan janji-janji al-Qur’an dan pengaturan Tuhan.

  16. Hal yang tidak berubah sejak penaklukan pertama hingga hari Mahsyar nanti, bahwa negeri Palestina dan kota al-Quds adalah negeri Islam dan Arab. Hal yang insidentil atau pengecualian adalah ketika Palestina ada di tangan orang lain.

  17. Kita percaya dan yakin bahwa janji ini akan terwujud hingga tuntas. Karena itu, setiap keinginan dan kekuatan yang memaksakan selain itu, hanyalah membuang nyawa, menyulut kekerasan dan kebencian, menimbulkan keretakan dalam tubuh umat manusia, dan cacat dalam peradaban, kemudian akhirnya akan merupakan kerugian.

  18. Masalah Palestina bukanlah masalah sebuah bangsa atau etnik atau partai atau organisasi. Ia adalah masalah seluruh kaum muslimin. Ia menggugah loyalitas segenap kaum muslimin, menyatukan sikap mereka dan menguatkan barisan mereka. Ia adalah simbol kekompakan, kesatuan dan kesepakatan mereka.

  19. Bangsa Palestina secara umum dan penduduk Baitul Maqdis secara khusus telah berkorban dengan pengorbanan yang tidak ada bandingannya. Mereka sudah mengalami penjajahan terpanjang di masa ini. Dan mereka masih mempertahankan tanah mereka, bertahan dengan tangan kosong tanpa senjata, kecuali bebatuan dan yel-yel mereka.

  20. Sejak 70 tahun desa-desa mereka terancam pembantaian dengan tujuan menteror mereka dan mengusir mereka. Segala peristiwa tersebut hanyalah menambah kuat tekad mereka. Mereka sudah merasakan penindasan orang-orang dengan dirampasnya tanah mereka dan pahitnya pengasingan.

  21. Wahai bangsa Palestina yang mulia, meskipun kesabaran kalian terhadap penjajahan adalah teladan, tapi kesabaran kalian terhadap saudara kalian sendiri lebih dituntut. Masalah kalian adalah masalah bangsa Arab dan kaum muslimin. Dan mereka sudah memberikan yang mereka mampu dan masih terus memberi. Baik dalam kondisi perang ataupun damai, bantuan materi atau sikap politik.

  22. Dan musuh kalian punya kepentingan untuk memisahkan kalian dari posisi strategis bangsa Arab dan Islam, menjauhkan antara bagian-bagian Islam agar tidak bersatu, memotong sendi-sendi Arab hingga tidak tergabung.

  23. Al-Quds akan tetap dalam hati kita dan ada dalam kesadaran umat. Kerajaan Saudi Arabia berkali-kali menegaskan dukungannya yang terus menerus terhadap Palestina. Dan bahwa sikapnya tidak berubah sepanjang masa. Dan Kerajaan Saudi Arabia terus berusaha secara maksimal agar bangsa Palestina mendapatkan haknya secara sempurna.

Baca Juga  Puasalah Agar Kamu Bertakwa

#salamuntukalaqshatercinta

Posted in Artikel, Berita, Khutbah and tagged , , , , , , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan