Segerakan Buka Puasa, Akhirkan Makan Sahur

 

Segerakan Buka Puasa, Akhirkan Makan Sahur

 

Salah satu adab dan sunnah dalam berpuasa adalah menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur. Kedua hal ini merupakan tuntunan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dalam berpuasa. Beliau biasa berbuka dengan menyantap beberapa butir kurma sebelum shalat maghrib. Adapun makan sahur beliau mengakhirkannya, dimana beliau makan sahur beberapa saat sebelum adzan subuh berkumandang.

Hal itu ditunjukan oleh beberapa hadits, diantaranya;

Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ رواه أحمد.

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbukla dengan beberapa butir ruthab (kurma basah/segar) sebelum shalat (maghrub), jika tidak ada ruthab beliau berbuka dengan beberapa butir tamr (kurma kering), jika tidak ada beliau meminum beberapa teguk air”. (HR. Ahmad, dan Abu Daud).

Kebiasaan Nabi menyegerakan berbuka juga dikabarkan oleh istri beliau, Ummul Mukminin ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha. Sebagaiamana sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata;

“Aku bersama Masruq menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Masruq berkata kepadanya; Ada dua sahanat Nabi, keduanya tidak berpaling dari kebaikan. Salah satunya menyegerakan shalat maghrib dan berbuka, dan yang lain mengakhirkan shalat maghrib dan berbuka. Aisyah bertamnya, :”Siapa yang mengakhirkan berbuka”? “Abdullah”, jawab Masruq. Beliau berkata, “Seperti itulah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan menyegerakan berbuka merupakan pangkal kebaikan. Beliau bersabda;

 “لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما عجّلوا الْفِطْر” مُتّفَقٌ عَلَيْهِ

“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Tirmidzi terdapat sebuah hadits qudsi yan menunjukan, menyegerakan berbukan merupakan sebab meraih cinta Allah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  berkata, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“قالَ الله عَزَّ وجلَّ: أَحبُّ عِبادي إليَّ أَعْجَلُهُمْ فطْراً

Allah Ta’ala berfirman: HambaKu yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan berbuka“. (HR. Tirmidzi)

Menyegerakan berbuka juga dianjurkan sebagai sikap menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi. Karena mengakhirkan berbuka merupakan kebiasaan ahli kitab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini;

لا يزال الدين ظاهرا ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون

Agama ini akan senantiasa eksis selama manusia mennyegerakan berbuka,karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkan (berbuka)”. (HR. Abu Daud).

Jika berbuka (ifthar) dianjurkan untuk disegerakan, maka sahur sebaliknya. Sahur dianjurkan untuk diakhirkan. Hal ini juga merupakan sunnah dan kebiasaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seperti halnya menyegerakan berbuka merupakan pangkal kebaikan. Demikian pula mengakhirkan sahur. Mengakhirkan sahur juga merupakan pangkal kebaikan.

لا يزال الناس بخير ما عجَّلوا الفطر، وأخروا السحور

“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegarakan berbuka dan mengakhirkan sahur”. (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka juga merupakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

عَجَّلُوا الإِفْطَارَ، وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

“Segerakan berbukan dan akhirkan makan sahur”. (HR. Thabrani dalam Mu’jam Kabir)

Dalam hadits lain yang diriwayakan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil, Rasul bersabda;

بكّروا بالإفطار، وأخّروا السُّحور

Bersegeralah melakukan ifthar (buka puasa) dan akhirkanlah makan sahur”. (HR. Ibu Adi dalamal-Kamil dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah dan Shahih Al-Jami’).

Dalam hadits lain Nabi juga mengabarkan, mengakhirkan makan sahur merupakan akhlaq kenabian. Beliau bersabda;

 ثلاث من أخلاق النبوة: تعجيل الإفطار، وتأخير السحور، ووضع اليمين على الشمال في الصلاة

“Ada tiga hal yang termasuk akhlaq kenabian; menyegerakan berbuka, mengakhirkan makan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri saat shalat”. (HR. Thabrani dan Al-Haitsami).

Dalam riwayat lain berbunyi;

 إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُعَجِّلَ إِفْطَارَنَا وَنُؤَخِّرَ سَحُورَنَا ، وَنَضَعَ أيمَانِنَا عَلَى شمائِلِنا فِي الصَّلاةِ

Sesungguhnya kami para Nabi diperintahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur kami serta meletakkan tangan kanan kami di atas tangan kiri kami saat Shalat”. (HR. Ath-Thayalisi, Thabrani dalam Mu’jam Kabir, dan Ibnu Hibban).

Batasan Mengakhirkan Sahur

Batasan mengakhirkan sahur adalah berhenti atau selesai makan sahur menjelang adzan subuh. Zaid bin Tsabit mengabarkan, jarak antara makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan adzan subuh sekira bacaan 50 ayat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata:

Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melaksanakan shalat’’. Anas bertanya kepada Zaid: “Berapa jarak antara adzan dan sahur ?” Dia menjawab : ‘seperti lama membaca 50 ayat’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jarak makan sahur Nabi dengan adzan subuh seperti waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat. 50 ayat yang sedang, tidak panjang dan tidak pendek, dengan ritme bacaan yang juga pertengahan, tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat.

Catatan Penting: Yang dimaksud dalam hadits di atas adalah berhenti makan sahur sekitar bacaan 50 ayat sebelum adzan subuh. Bukan waktu menahan yang wajib. Karena patokan waktu menahan adalah adzan subuh atau terbitnya fajar.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ) البقرة/187

Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian (perbedaan antara) benang putih dari benang hitam, yakni terbitnya fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam”. (Qs. Al-Baqarah: 187).

Abu Bakar Al-Jashash berkata tentang makna ayat ini, “Allah membolehkan makan, minum, dan jima’ pada malam-malam puasa semenjak awal malam sampai terbiit fajar, kemudian Dia perintahkan menyempurnakan puasa sampai malam”. (Ahkamul Qur’an, 1/265).

Nabi juga mengizinkan untuk makan dan minum sampai adzan subuh berkumandang. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Bilal mengumandangkan adzan (pertama) pada malam hari (sebelum terbit fajar), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

  كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan, karena beliau tidak adzan melainkan setelah terbit fajar”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi berkata, “Para sahabat kami  dan ulama lainnya sepakat, sahur termasuk sunnah, dan mengakhirkannya lebih afdhal. Dalil tentang hal itu adalah hadits-hadits shahih, karena makan sahur dan mengakhirkannya dapat membantu orang yang berpuasa dan menyelisihi orang-orang kuffar”. (Al-Majmu’, 6/406).

Kesimpulan:

  1. Dianjurkan menyegerakan berbuka jika telah terbenam mata hari atau masuk waktu magrib.
  2. Dianjurkan mengakhirkan sahur hingga menjelang adzan subuh (sekitar bacaan 50 ayat)
  3. Waktu wajib menahan (imsak) dari makan, minum, dan jima’ adalah saat terbit fajar atau adzan subuh.
  4. Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur merupakan tuntunan dan sunnah Nabi yang mengandung banyak faidah dan keutamaan.
Posted in Artikel, Fiqih and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.