Wahdah Jakarta Shafwan bin Umayyah

SHAFWAN BIN UMAYYAH, BENCI BERBUAH CINTA

Shafwan bin Umayyah adalah putra dari Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh Quraisy. Umayyah bin Khalaf sendiri adalah pembesar Quraisy yang luar biasa bencinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana tokoh-tokoh yang lain seperti Abu Jahal, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, dua bersaudara ‘Uthbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bin Mughirah, dll.

Umayyah, ayah dari Shafwan radhiyallahu ‘anhu dicatat dalam sejarah sebagai penyiksa Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Kekejamannya pada hari itu akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Kebenciannya terhadap Islam dan kebengisannya berakhir di Perang Badar bersama kawan-kawan seangkatannya.

 

Dendam Kesumat

Sejak peristiwa terbunuhnya Umayyah di Perang Badar, tertanam dendam kesumat di hati sang anak, Shafwan. Setahun berselang, para putra mahkota tokoh-tokoh Quraisy ini ingin melampiaskan pembalasannya di Perang Uhud. Putra-putra Quraisy ini seperti Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal, Abu Sufyan, dan lain-lain yang semuanya ingin membalaskan dendam orang tua atau saudaranya yang terbunuh. Tak luput pula Shafwan turut serta.

Dendam kesumat ini terus tumbuh dan mengakar di hatinya hingga Makkah ditaklukkan. Artinya, kebenciannya kepada Islam telah terhitung kurang lebih 21 tahun sejak Rasulullah mendeklarasikan kenabian. Dalam peristiwa Fathu Makkah ini sebetulnya Shafwan bin Umayyah masuk dalam daftar 10 nama yang diburu, dinyatakan halal darahnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beruntung Shafwan dimintakan amnesti oleh Umair bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, kawan lamanya.

Namun menurut pengakuannya sendiri, kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak serta merta merekah setelah masuk Islam. Kecintaannya kepada Rasulullah baru mulai tumbuh dan menguat setelah Perang Hunain.

 

Benci Berbuah Cinta

Barang kali Shafwan termasuk dalam kategori yang disebutkan oleh Anas bin Malik:

إنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إلا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإسْلامُ أحبَّ إلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَ
Artinya: “Sungguh dulu ada seseorang yang masuk Islam dan tujuannya hanyalah untuk mendapat harta duniawi, maka tidaklah ia masuk Islam hingga akhirnya Islam lebih ia cintai daripada dunia dan seisinya” (HR Muslim no 2312)
Pasca Perang Hunain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada Shafwan bin Umayyah bagian ghanimah sebanyak 100 ekor unta, lalu 100 ekor unta lagi, kemudian ditambah 100 ekor unta lagi.
Hingga akhirnya Shafwan bin Umayyah mengakui sendiri,

Baca Juga  Pertemuan dengan Pendeta Buhaira (Serial Sirah Nabawiyah Part: 08)

وَاللهِ لَقَدْ أعْطَانِى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أعْطَانِى، وَإِنَّهُ لأبْغَضُ النَّاسِ إلَىَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إنَّهُ لأحَبُّ النَّاسِ إلَىَّ

“Demi Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepadaku apa yang ia berikan, padahal ia adalah orang yang dulunya paling aku benci. Namun beliau terus-menerus memberikan pemberiannya kepadaku hingga akhirnya beliau menjadi orang yang paling aku cintai”. (HR Muslim no 2313)

Setelah masuk Islam, Shafwan bin Umayyah termasuk shahabat yang sangat baik keislamannya. Beliau turut berjuang di medan-medan jihad dalam rangka membela dan meninggikan kalimatullah.

 

Shafwan Adalah Buah Kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dari kisah ini kita belajar bagaimana seorang Shafwan bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu yang dulunya tak terkira dendamnya, bisa masuk Islam. Bara kebencian yang telah terpendam lebih dari dua dekade itu pun tak disangka, akhirnya padam. Dengan siraman hidayah Rabbul ‘alamin.

Dari kisah ini pula kita belajar, betapa dermawannya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa dunia sungguh tidak bernilai di mata beliau. Bagi beliau, keislaman seorang Shafwan bin Umayyah jauh lebih berharga dari sekedar ratusan unta dan kambing.

Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, wa radhiyallahu ‘an Shafwaana wa ‘anish shahaabati ajma’iin.

 

Sumber:

  1. Min Akhlaqir Rasulil Karim shalallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah
  2. Situs Islam Story asuhan Dr. Raghib As Sirjani

 

Murtadha Ibawi

Departemen Dakwah Wahdah Islamiyah Jakarta

Posted in Akhlaq, Tazkiyah and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan