syafa'at

Syarat Syafa’at

Secara umum syafa’at menurut al-Qur’an terbagi dua, yakni syafa’at mutsbatah dan syafa’at manfiyyah. Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an atau diterima oleh Allah. Sedangkan syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang dinafikan ditolak. Syafa’at yang ditolak adalah syafa’at yang datang dari orang musyrik dan atau syafa’at untuk orang musyrik. Sedangkan syafa’at yang diterima adalah syafa’at dari dan atau untuk orang beriman dan bertauhid yang memenuhi syarat serta mendapat idzin ridha dari Allah.

Syafa’at yang ditetapkan oleh Al Qur’an dan diterima oleh Allah hanya bagi orang bertauhid dan beriman, yang memenuhi dua syarat yaitu;
1. Idzin Allah kepada syafi’i (pemberi syafa’at) untuk memberikan syafa’at, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam beberapa ayat, diantaranya Surah Al-Baqarah ayat 255 dan Saba ayat 23;
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).
وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
Tiada bermafaat syafa’at di sisi-Nya kecuali bagi orang yang telah diidzinkan-Nya”. (terj. Qs. Saba:23).
Kedua ayat tersebut menafikan syafa’at yang tidak mendapat idzin dari Allah.
Yang berlaku dan berguna hanya syafa’tnya yang telah mendapat idzin dari Allah.

  1. Ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan penerima untuk menerima syafa’at, sebagaiamana firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 28;
    وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ ﴿٢٨﴾
    Dan mereka (Malaikat) tidak dapat memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai (Allah)”, (terj. Qs. Al-Anbiya:28).
    Kedua syarat di atas juga terrangkum secara bersamaan dalam satu ayat pada firman Allah, Surah an-Najm ayat 26 dan Thaha ayat 109;
    وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦﴾
Baca Juga  Anjuran Melihat Kepada yang Lebih Rendah dalam Masalah Nikmat

Dan berapa banyak Malaikat di langit, syafa’at mereka tidak tidak berguna sedikitpun, kecuali seudah Allah mengidzinkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan diridhai-Nya”. (terj. Qs. An-Najm:26).
يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا ﴿١٠٩﴾
Pada hari itu tidak bermanfa’at syafa’at kecuali dari orang yang diidzinkan oleh Ar Rahman dan Dia ridhai perkataanya”. (terj. Qs. Thaha: 109).

Kedua ayat di atas mengabarkan bahwa syafa’at hanya berlaku bila ada idzin dan ridha dari Allah. Yakni idzin kepada pemilik syafa’at dan ridha kepada pemberi dan penerima syafa’at. Maksudnya idzin dan ridha kepada pemberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha-Nya kepada penerima syafa’at untuk menerima syafa’at. Ahli tauhid sekalipun tidak memiliki syafa’at , kecuali setelah mendapat idzin dan ridha dari Allah. Bahkan Malaikat sekalipun, sebagaimana dalam ayat di atas, syafa’at mereka tidak berlaku sama sekali kecuali dengan idzin dan ridha Allah. Jika Malaikat saja yang disifati oleh Allah sebagai hamba-hamba yang mulia (‘Abadun Mukramun) , tidak berguna syafa’at merea tanpa idzin dan ridha Allah, bagaimana dengan selain mereka. Oleh karena itu ahli Tauhid pun tidak memiliki syafa’at, kecuali setelah ada idzin dan ridha Allah, berdasarkan firman Allah dalam surah Al-baqarah ayat 255, “Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seidzin-Nya”. (terj. Qs. Al-Baqarah:255).

syafa'at

syafa’at

Posted in Aqidah, Artikel and tagged , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.