Syekh Abu Zeid: Tauhid Poros dan Pokok Dakwah Seluruh Nabi dan Rasul

“Kalimat pertama kali yang didengar oleh kaum (masyarakat) yang didakwahi oleh para Nabi dan Rasul adalah kalimat ajakan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena tauhid adalah asas (pokok) bangunan agama”.

Tabligh Akbar "Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman" yang digelar DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat bekerjasama dengan Pesantren Darut Tauhid  Bandung, Selasa (08/01/2019).
Tabligh Akbar “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman” yang digelar DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat bekerjasama dengan Pesantren Darut Tauhid Bandung, Selasa (08/01/2019).

(Bandung) wahdahjakarta.com -, Tauhid merupakan poros dan pokok dakwah para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demikian dikatakan pakar Aqidah dari Universitas Ummul Qura Makkah Al-Mukarramah, Syekh. DR. Abu Zeid Bin Muhammad Makki Asy Syarif Al Hasaniy Al Quraisyi.

“Sesungguhnya tauhid adalah poros atau pokok dakwah seluruh Nabi dan Rasul. Artinya, materi pokok dan inti dakwah para Nabi dan Rasul seluruhnya adalah tauhid”, ujar Syekh Abu Zeid dalam ceramah Tabligh Akbar “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir zaman” yang digelar di Masjid Darut Tauhid, Bandung, Selasa (08/01/2019) malam.

Menurut Ulama keturunan Nabi Muhammad ini, dalil tentang masalah ini sangat banyak sekali, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An-Nahl : 36)

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul kami yang telah kami utus sebelum kamu, “Adakah kami menjadikan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?”.” (QS. Az-Zukhruf : 45)

 “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar“.” (QS. Al-Ahqaf : 21)

Dalam ayat di atas lanjut Syekh Abu Zerid, Allah Ta’ala menegaskan bahwa Rasul sebelum dan sesudah Nabi Hud ‘alaihis salaam semuanya sama dan bersepakat dalam materi dakwah, yaitu :

“Janganlah kamu menyembah selain Allah.”

“Oleh karena itu, kalimat pertama kali yang didengar oleh kaum (masyarakat) yang didakwahi oleh para Nabi dan Rasul adalah kalimat ajakan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena tauhid adalah asas (pokok) bangunan agama”, jelasnya.

Ulama yang juga pengajar pada Ma’had Al-Haram Makkah Academy ini menyampaikan satu perumpamaan yang indah tentag kedudukan dan keutamaan tauhid.

Permisalan agama ini, kata Syekh adalah sebagaimana sebuah pohon. Kita ketahui bahwa pohon memiliki akar, batang dan cabang (ranting). Pohon itu tidaklah berdiri tegak kecuali dengan disokong oleh akar yang kokoh. Sama halnya dengan pohon, agama ini tidaklah berdiri tegak kecuali dengan ditopang dan disokong oleh asasnya, yaitu tauhid.

Allah Ta’ala berfirman :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (yaitu kalimat tauhid, pent.) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim : 24)

Sebagaimana pohon akan mati jika akarnya dicabut, maka demikianlah agama ini. Jika tauhid itu telah hilang, maka tidak ada manfaat dari amal kebaikan yang kita lakukan. Oleh karena itu, kedudukan tauhid dalam agama ini sebagaimana fungsi akar dalam menopang kehidupan sebuah pohon.

Di antara dalil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan inti dakwah mereka adalah :

“Para Nabi berasal dari satu ayah (Adam), ibu mereka berbeda-beda, namun agama mereka satu.“ (HR. Muslim no. 2365)

Maksud dari “agama mereka satu” adalah semua mereka mendakwahkan tauhid. Sedangkan yang dimaksud:

“Ibu mereka berbeda-beda” adalah syariat setiap Rasul itu berbeda-beda, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah : 48) []

Posted in Artikel.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.